cover
Contact Name
asyim As'ari
Contact Email
hasyim.asari22@gmail.com
Phone
+6285655904034
Journal Mail Official
j.biosense@gmail.com
Editorial Address
PROGRAM STUDI BIOLOGI, FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM, UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI Jn. Ikan Tongkol No. 22 Kertosari Banyuwangi
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Biosense
ISSN : -     EISSN : 26226286     DOI : https://doi.org/10.36526/biosense.v6i01.2010
Jurnal Biosense menitikberatkan pada publikasi hasil penelitian biologi dan ilmu terapan bidang biologi. Artikel ilmiah dalam lingkup biologi yang meliputi: botani, zoologi, mikrobiologi, genetika, fisiologi, dan konservasi, sedangkan lingkup ilmu terapan biologi meliputi: Kesehatan/kedokteran, Pertanian, dan perikanan. Artikel yang dipublikasikan adalah artikel hasil penelitian, kajian ilmiah kritis dan komprehensif tentang isu-isu penting dan uraian tugas.
Articles 197 Documents
IDENTIFIKASI MIKROPLASTIK YANG TERDAPAT PADA BEBERAPA JENIS IKAN DI PERAIRAN SUNGAI SANGSANGA KELURAHAN SARIJAYA Nurkhasanah, Benti; Nasution, Ruqoyyah; Jailani; Masitah
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 02 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i02.4300

Abstract

Identifikasi Mikroplastik yang terdapat pada Beberapa Jenis Ikan di Perairan Sungai Sangasanga Kelurahan Sarijaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kandungan mikroplastik yang terdapat pada Ikan Toman (Channa micropeltes), Ikan Seluang (Rasbora argyrotaenia), dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di perairan Sungai Sangasanga Kelurahan Sarijaya. Hasil penelitian menunjukkan jenis partikel mikroplastik yang ditemukan meliputi fiber, fragmen, film dan monofilamen. Pada Ikan Toman (Channa micropeltes) mikroplastik jenis fiber memiliki ukuran berkisar antara 127,52 µm – 673,89 µm, mikroplastik jenis fragmen memiliki ukuran berkisar antara 25,11 µm – 75,46 µm, mikroplastik jenis film memiliki ukuran berkisar antara 23,84 µm – 203,77 µm, dan mikroplastik jenis monofilamen memiliki ukuran berkisar 672,29 µm. Pada Ikan Seluang (Rasbora argyrotaenia) Mikroplastik jenis fiber memiliki ukuran berkisar antara 217,30 µm – 1036,05 µm, mikroplastik jenis fragmen memiliki ukuran berkisar antara 32,80 µm – 80,90 µm, mikroplastik jenis film memiliki ukuran berkisar antara 22,86 µm – 195,28 µm, dan mikroplastik jenis monofilamen memiliki ukuran berkisar 1249,07 µm. Sedangkan pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) mikroplastik jenis fiber memiliki ukuran berkisar antara 70,51 µm – 830,24 µm, mikroplastik jenis fragmen memiliki ukuran berkisar antara 26,55 µm – 83,99 µm, mikroplastik jenis film memiliki ukuran berkisar antara 23,95 µm – 281,89 µm, dan mikroplastik jenis monofilamen memiliki ukuran berkisar 249,72 µm – 932,07 µm.
IDENTIFIKASI MIKROPLASTIK PADA IKAN KIPER (Scatophagus argus) DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PERAIRAN SUNGAI SOMBER KOTA BALIKPAPAN Putri Nulissa; Masitah; Jailani; Nasution, Ruqoyyah
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 02 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i02.4436

Abstract

Identifikasi Kandungan Mikroplastik Pada Ikan Kiper (Scatophagus argus) dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Perairan Sungai Somber, Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Bertujuan untuk mengetahui jenis kandungan mikroplastik pada ikan kiper dan juga ikan nila yang berada di sungai somber. Ketergantungan manusia dengan pemakaian plastik menghasilkan sampah plastik dalam jumlah yang banyak karena sering dimanfaatkan dalam berbagai hal salah satunya bahan kemasan. Polimer plastik tidak dapat mengalami degradasi secara biologi, namun dapat dipecah oleh radiasi ultra violet dan energi mekanis menjadi fragmen polimer menjadi lebih kecil. Mikroplastik dapat tertelan oleh organisme laut karena partikel tersebut menyerupai makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ikan kiper (Scatophagus argus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) mengandung partikel mikroplastik diantaranya berjenis fiber, fragmen, dan film, dengan partikel mikroplastik jenis fiber dan fragmen yang mendominasi. Pada ikan kiper (scatophagus argus) ditemukan mikroplastik berjenis fiber, fragmen, dan film dengan ukuran partikel berkisar antara 453,03 µm – 2329,13 µm, 12,04 µm – 242,71 µm, dan 19,06 µm – 83,83 µm. Pada ikan nila (Oreochromis niloticus) ditemukan mikroplastik berjenis fiber, fragmen, dan film dengan ukuran partikel berkisar antara 286, 61µm – 2148,68 µm, 7,95 µm – 12,70 µm, dan 8.16 µm – 31,22 µm. Mikroplastik yang ditemukan berwarna kehitaman, cokelat kehitaman, dan ada juga yang berwarna oren kecoklatan.
PERBANDINGAN SUHU PENYIMPANAN SUSU SAPI SEGAR TERHADAP TOTAL PLATE COUNT (TPC) Ajeng, Retno Ajeng Sugiyani; Wulan Fitriani Safari
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 02 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i02.4439

Abstract

Abstrak Salah satu parameter pemeriksaan untuk menentukan cemaran bakteri pada susu adalah Total Plate Count (TPC). Banyaknya jumlah sampel yang harus diperiksa, kedatangan sampel yang terlambat, kerusakan pada alat dan keterbatasan jumlah tenaga laboratorium dapat menyebabkan tejadinya penundaan pemeriksaan TPC. Penundaan pemeriksaan dapat mempengaruhi kualitas susu sapi segar, terutama jika suhu penyimpanan tidak terjaga. Suhu yang terlalu tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri sedangkan suhu terlalu rendah dapat menyebabkan pembekuan, memengaruhi hasil. Penting menjaga suhu optimal untuk meminimalkan pertumbuhan mikroorganisme hingga pemeriksaan dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan suhu penyimpanan susu sapi segar terhadap TPC pada pemeriksaan langsung, disimpan selama 24 jam pada suhu -11ºC, dan disimpan selama 24 jam pada suhu 5ºC. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Binawan menggunakan 9 sampel susu sapi segar. Hasil penelitian menunjukan hasil pemeriksaan TPC disimpan selama 24 jam pada 5ºC lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan langsung dan disimpan selama 24 jam. Nilai TPC susu sapi segar pada pemeriksaan langsung sebesar 5,63×106 CFU/mL, disimpan selama 24 jam pada suhu -11ºC sebesar 5,56×106 CFU/mL, dan disimpan selama 24 jam pada 5ºC sebesar 8,33×106 CFU/mL. Uji statistik Paired T Test diperoleh nilai signifikansi yaitu 0,970; 0,471; dan 0,218 yang berarti sig > 0,05 yang berarti tidak terdapat perbedaan nilai TPC susu sapi segar pemeriksaan langsung, disimpan selama 24 jam pada suhu -11ºC, dan disimpan selama 24 jam pada suhu 5ºC. kata kunci: susu sapi segar; suhu penyimpanan; total plate count; dan waktu penundaan. ABSTRAK Banyaknya sampel yang harus diuji, keterlambatan kedatangan sampel, malfungsi peralatan, dan keterbatasan tenaga laboratorium dapat menyebabkan keterlambatan pengujian TPC. Keterlambatan tersebut dapat mempengaruhi kualitas susu sapi segar, terutama jika suhu penyimpanan tidak dijaga dengan baik. Suhu yang tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri sedangkan suhu yang rendah dapat menyebabkan pembekuan sehingga mempengaruhi hasil. Sangat penting untuk menjaga suhu yang optimal untuk meminimalkan pertumbuhan mikroba sampai pengujian selesai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan suhu penyimpanan susu sapi segar terhadap TPC saat diuji secara langsung, disimpan selama 24 jam pada suhu -11ºC, dan disimpan selama 24 jam pada suhu 5ºC. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan cross sectional, yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Binawan dengan menggunakan 9 sampel susu sapi segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan TPC yang disimpan selama 24 jam pada suhu 5ºC lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan secara langsung dan disimpan selama 24 jam. Nilai TPC susu sapi segar pada pemeriksaan langsung adalah 5,63×106 CFU/mL, setelah 24 jam penyimpanan pada suhu -11ºC adalah 5,56×106 CFU/mL, dan setelah 24 jam penyimpanan pada suhu 5ºC adalah 8,33×106 CFU/mL. Analisis statistik Uji T Berpasangan menghasilkan nilai signifikansi 0,970; 0,471; dan 0,218 yang menunjukkan bahwa sig > 0,05, artinya tidak ada perbedaan signifikan nilai TPC antara pemeriksaan langsung, penyimpanan selama 24 jam pada suhu -11ºC, dan penyimpanan selama 24 jam pada suhu 5ºC. Kata kunci : susu sapi segar; suhu penyimpanan; Total Plate Count; dan waktu tunda.
PENGARUH EKSTRAK SIRIH HIJAU DAN DAUN KETAPANG TERHADAP INTENSITAS HAMA PADA TANAMAN BAYAM MERAH SeptiaNingrum, Tita Rizki Wijati; Herliani; Lumowa, Sonja V. T.; Kurniawati, Zenia Lutfi
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 02 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i02.4571

Abstract

Studi ini memiliki tujuan untuk memahami penggunaan pestisida nabati ekstrak daun sirih hijau (Piper betle) dan daun ketapang (Terminalia catappa) terhadap pengendalian hama pada bayam merah (Amaranthus tricolor L.) serta mengetahui konsentrasi yang berpengaruh dari ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle) dan Daun Ketapang (Terminalia catappa) yang paling efektiv terhadap intensitas serangan hama pada tanaman bayam merah. Penelitian dilakukan pada Jl. Perjuangan RT. 001 Kecamatan Samarinda Utara. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen yang memakai rancangan acak kelompok (RAK) melakui 5 perlakuan yaitu, P0 (Kontrol), P1 (20%), P2 (30%), P3 (40%), dan P4 (50%) melalui 5 pengulangan. Kemudian data dianalisis dengan metode ANOVA 1 arah. Berdasarkan hasil perhitungan 21 HST, dimana Fhitung (193,33) > (4,77), pada 28 HST Fhitung (421,05) > (4,77), pada 35 HST Fhitung (458,17) > (4,77), pada 42 HST Fhitung (441,61) > (4,77), dan pada 48 HST Fhitung (33,93) >(4,77). Sehingga konsentrasi yang paling efektif dalam menekan serangga serangga hama adalah konsentrasi P4 (50%). Berdasarkan analisis data menunjukkan adanya pengaruh signifikan pestisida nabati daun sirih hijau (Piper betle) dan daun ketapang (Terminalia catappa) terhadap intensitas serangan hama pada tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L.)
PERAN KLONING GEN DALAM PENGEMBANGAN VAKSIN REKOMBINAN UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT PADA IKAN Aisyah; Mulyani, Yuniar
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 02 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i02.4717

Abstract

Industri akuakultur menghadapi tantangan besar akibat penyakit infeksius yang dapat menurunkan produktivitas dan menyebabkan kerugian ekonomi signifikan. Salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit adalah penggunaan vaksin rekombinan, yang dikembangkan melalui teknik kloning gen. Kloning gen memungkinkan identifikasi dan ekspresi antigen spesifik dari patogen ikan untuk digunakan dalam pembuatan vaksin yang lebih efektif dan aman. Vaksin rekombinan menawarkan keunggulan dibandingkan vaksin konvensional, termasuk kemudahan produksi, stabilitas yang lebih baik, dan potensi untuk mengatasi berbagai patogen secara spesifik. Dalam review ini, dibahas berbagai teknik kloning gen yang digunakan dalam pengembangan vaksin rekombinan, seperti PCR, kloning plasmid, dan CRISPR. Selain itu, dikaji pula contoh aplikasi vaksin rekombinan untuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus pada ikan, serta tantangan dan masa depan pengembangannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa vaksin rekombinan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan ikan dalam akuakultur dan berkontribusi pada keberlanjutan industri perikanan global.
PENGARUH BIOWASH-PROMIC LIMBAH SAYUR DAN BUAH TERHADAP PROTEIN DAN BIOMASSA AZOLLA PINNATA: Pengolahan limbah sayuran dan buah-buahan menjadi biowash-promic dan dimanfaatkan sebagai pupuk terhadap Azolla pinnata Sholechah , Faila Siva; Dzakiy , Muhammad Anas; Nugroho , Ary Susatyo
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 02 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i02.4756

Abstract

Azolla pinnata dibudidayakan untuk dijadikan pakan ternak karena harga pakan saat ini yang mahal. Kandungan protein Azolla cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Pemenuhan nutrisi unruk pertumbuhan Azolla didukung dengan pemberian Biowash-promic. Biowash-promic merupakan cairan fermentasi selama 3 hari dari sampah organik dengan promic. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh biowash terhadap berat basah, berat kering dan kandungan protein Azolla pinnata. Metode yang digunakan adalah (RAL) satu faktor yang terdiri dari 4 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali. Berdasarkan hasil penelitian diketahui Biowash-promic berbahan dasar sawi, kulit buah naga, kulit buah nanas, daun trembesi, daun kelor, dan daun pepaya memberikan pengaruh nyata terhadap berat basah, berat kering dan kandungan protein Azolla pinnata. Pada penelitian ini, konsentrasi biowash terbaik untuk pertumbuhan Azolla adalah pada perlakuan B3: Biowash 45 ml/liter air. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin banyak pula kandungan unsur haranya. Unsur hara tersebut menunjang proses pertumbuhan tanaman Azolla pinnata.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA) DI TAMAN HUTAN KOTA LANGSA Arini, Dhiya; Jayanthi, Sri; Aini, Nur; Anggrela, Vira; Purba, Ruth Helena; Hasibuan, Widya Aprilia; Mawarina, Auria; Anisa, Malika Nurul
JURNAL BIOSENSE Vol 8 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v8i1.4779

Abstract

Keanekaragaman tumbuhan paku (Pteridophyta) berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sebagai vegetasi penutup tanah, melindungi tanah dari erosi dan membantu pelapukan sisa-sisa hutan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi mengenai keanekaragaman jenis paku di Taman Hutan Kota Langsa. Penelitian dilaksanakan pada bulan November–Desember 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksploratif dengan melakukan penjelajahan di kawasan taman hutan kota langsa. Hasil penelitian menemukan 14 jenis tumbuhan paku yaitu Adiantum trapeziforme, Aglaomorpha quercifolia, Asplenium nidus, Christella dentate, Christella parasitica, Davallia denticulate, Dicranopteris linearis, Nephrolepis biserrata, Nephrolepis exaltata, Lygodium flexuosum, Phymatosorus scolopendria, Pteris cretica, Pteris ensiformis, Pyrrosia piloselloides, yang termasuk dalam 11 genus dan 5 famili. Famili dengan anggota jenis terbanyak adalah Polypodiaceae dengan jumlah spesies sebanyak 6 jenis.
IDENTIFIKASI DIVERSITAS MIKROBA PADA PANGAN ROTI EXPIRED DAN NON-EXPIRED Ira Rahmawati; Labibah Fatihatu hanin; Muhimatul Ummami
JURNAL BIOSENSE Vol 8 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v8i1.4848

Abstract

This study aims to identify microbial biodiversity in bread that has not passed its expiration date (non-expired) and that has passed its expiration date (expired). The research methods include microbial isolation, colony morphology identification, Gram staining, biochemical tests (sugar, catalase, motility, and oxidative-fermentative tests), and diversity analysis using the Shannon-Wiener index. The results showed that microbes in expired bread tend to be more varied than non-expired bread, with the number of colonies increasing with the length of the expiration date. Gram staining showed the dominance of Gram-negative bacteria, although Gram-positive bacteria were also found. Biochemical test analysis revealed the dominant glucose fermentation ability in all colonies. Based on the diversity analysis, the highest level of microbial diversity was found in 8-day expired bread with an index of 0.67, while non-expired bread had an index of 0.56. These findings emphasize the importance of paying attention to the expiration date of bread to prevent microbial contamination that is potentially harmful to health.
ASESMEN PENGGAMBARAN CIRI FENOTIPE DAN LUBANG SARANG Tetragonula laeviceps OLEH KECERDASAN ARTIFISIAL STABLE DIFFUSION Priyambodo; Permatasari, Nindy
JURNAL BIOSENSE Vol 8 No 2 (2025): Edisi April 2025
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v8i2.4876

Abstract

Tetragonula laeviceps merupakan salah satu jenis lebah tanpa sengat yang sering dibudidayakan di Indonesia. Organisme T. laeviceps dapat menghasilkan madu, propolis, beebread, dan produk lainnya, di samping dapat berperan sebagai polinator bagi berbagai tumbuhan, termasuk bagi tanaman perkebunan. Pengenalan akan ciri fenotipe T. laeviceps sangat dibutuhkan masyarakat guna mengoptimalkan peran T. laeviceps di masyarakat. Penggunaan kecerdasan artifisial yang semakin meningkat menjadi tantangan tersendiri. Stable diffusion, merupakan salah satu kecerdasan artifisial yang dapat memberikan gambaran dari perintah teks yang diberikan kepadanya. Penelitian ini menguji stable diffusion dalam memberikan visualisasi atas karakter fenotipe dan lubang sarang T. laeviceps. Asesmen atas hasil visualisasi stable diffusion menunjukkan bahwa ada ketidaktepatan hasil visualisasi stable diffusion apabila dibandingkan dengan referensi ilmiah. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan performa pengembang stable diffusion, dan kebijaksanaan dalam penggunaan hasil visualisasi stable diffusion, khususnya untuk kepentingan karakterisasi ilmiah.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.) TERHADAP FERTILITAS MENCIT BETINA (Mus musculus L.) Rani Mauliza; Az Zahra, Alsya; Verina, Farhanah Shofwah; Andriani, Putri; Yusni Atifah; Rahmatika, Helsa
JURNAL BIOSENSE Vol 8 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v8i1.4884

Abstract

Abstrak Fertilitas merupakan hal yang sangat penting pada wanita untuk menghasilkan keturunan. Salah satu dari banyaknya faktor kesuburan wanita adalah nutrisi yang dikonsumsinya. Buah tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) mengandung senyawa likopen yang memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai zat antioksidan, menjaga kestabilan sel serta menurunkan resiko infertilitas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) terhadap fertilitas mencit betina (Mus musculus L.). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dengan lima ulangan. Perlakuan kontrol (P0) yang tidak diberi esktrak tomat, perlakuan 1 (P1) dan perlakuan 2 (P2) dengan dosis ekstrak tomat 0,4 ml/hari dan 0,8 ml/hari. Pemberian ekstrak tomat, dilakukan setiap hari selama 15 hari secara oral menggunakan spuid modifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh ekstrak tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) pada fertilitas mencit betina. Pada pemberian dosis 0,4 ml/hari menunjukkan terjadinya peningkatan kesuburan mencit pada fase estrus dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya. Pemberian ekstrak tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) dapat meningkatkan kualitas kesuburan mencit betina. Kata kunci: Fertilitas, Lycopersicum esculentum Mill., Mencit, Betina, Estrus