cover
Contact Name
asyim As'ari
Contact Email
hasyim.asari22@gmail.com
Phone
+6285655904034
Journal Mail Official
j.biosense@gmail.com
Editorial Address
PROGRAM STUDI BIOLOGI, FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM, UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI Jn. Ikan Tongkol No. 22 Kertosari Banyuwangi
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Biosense
ISSN : -     EISSN : 26226286     DOI : https://doi.org/10.36526/biosense.v6i01.2010
Jurnal Biosense menitikberatkan pada publikasi hasil penelitian biologi dan ilmu terapan bidang biologi. Artikel ilmiah dalam lingkup biologi yang meliputi: botani, zoologi, mikrobiologi, genetika, fisiologi, dan konservasi, sedangkan lingkup ilmu terapan biologi meliputi: Kesehatan/kedokteran, Pertanian, dan perikanan. Artikel yang dipublikasikan adalah artikel hasil penelitian, kajian ilmiah kritis dan komprehensif tentang isu-isu penting dan uraian tugas.
Articles 197 Documents
POTENSI KONTAMINASI KAPANG PADA ASINAN KUBIS (SAUERKROUT) Novitasari, Amanda; Arini, Vhita Syukrya; Maula, Inayatul; Imamah, Nur; As'ari, Hasyim; Nazilah, Lailatun; Mukarromah, Maqiyatul; Utami, Putri; Agustin, Erina
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3444

Abstract

Kubis atau sawi putih (Brassica oleracea) merupakan sayuran yang banyak mengandung vitamin, karbohidrat, protein dan mineral. Kubis memiliki masa simpan yang terbatas karena memiliki kadar air yang tinggi dan mudah membusuk. Kubis yang diawetkan menjadi sauerkraut (asian kubis Jerman) melalui proses fermentasi, menghasilkan produk dengan sifat inderawi yang khas, terutama pada aroma dan rasa. Tujuan penelitian adalah menganalisis karakteristik sauerkraut dari kubis atau sawi putih melalui proses fermentasi dengan variasi konsentrasi garam yang berbeda. Konsentrasi garam dalam asinan kubis sangat penting terhadap kandungan total padatan terlarut (TPT) seperti kadar air, tekstur, warna, serta aroma pada asinan kubis. Berdasarkan hasil uji organoleptik pada setiap asinan kubis pada 4 perlakuan dengan variasi konsentrasi garam yang berbeda diantaranya; 1.7%, 2.3%, 3%, 3,7% namun dengan bobot kubis yang sama yakni 300gr. Hasil perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan ke-1 yakni menggunakan kadar garam 1.7% dengan berat garam 5gr terdapat jumlah koloni bakteri yang paling sedikit serta aroma yang netral.
IDENTIFIKASI PTERYDOPHYTA DI KAWASAN UNIVERSITAS SAMUDRA Halimatun, Futria; Srijayanthi; Aini, Nur; Hariani, Indri; Tiara, Resa; Wandari, Welli; Hasanah, Baiti
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3541

Abstract

Tumbuhan tingkat rendah yang disebut pakis (Pteridophyta) berkembang biak menggunakan spora daripada biji. Tumbuhan paku (Pteridophyta) yang merupakan anggota famili Lygodiaceae, Lomariopsidaceae dan Dryopteridaceae yang paling banyak ditemukan di kawasan Universitas Samudra. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Pterydophyta yang ada dikawasan universitas samudra. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei eksplorasi dan deskriptif,teknik pengumpulan data Dengan cara memeriksa morfologi dan deskripsi tanaman tersebut.sampel diidentifikasi menggunakan buku Kunci identifikasi yaitu buku taksonomi tumbuhan. Dalam penelitian ini di dapatkan 14 spesies Pterydophyta yang berbeda, yang dibagi menjadi 9 famili yaitu famili Polipodiaceae, Nefrolepidaceae, Dryopteridaceae, Lygodiaceae, Stenochlaena, Gleicheniaceae, Thelypteridaceae, Lomariopsidaceae, Pteridaceae. Keywords: Identifikasi;Pteridophyta;Universitas Samudra. Abstract Lower plants called ferns (Pteridophyta) reproduce using spores rather than seeds. Ferns (Pteridophyta) which are members of the Lygodiaceae, Lomariopsidaceae and Dryopteridaceae families are most commonly found in the Samudra University area. This research aims to identify Pterydophyta species in the Ocean University area. This research uses an exploratory and descriptive survey approach, data collection techniques by examining the morphology and description of the plants. The samples were identified using the key identification book, namely the plant taxonomy book. In this study, 14 different species of Pterydophyta were obtained, which were divided into 9 families, namely the Polypodiaceae, Nephrolepidaceae, Dryopteridaceae, Lygodiaceae, Stenochlaena, Gleicheniaceae, Thelypteridaceae, Lomariopsidaceae, Pteridaceae families. Keywords: Identification; Pteridophyta; Samudra University.
KARAKTERISTIK MORFOMETRIK BIVALBIA DI KAWASAN PADAT INDUSTRI DI PESISIR LANGKAT SUMUTRA UTARA: KARAKTERISTIK MORFOMETRIK BIVALBIA DI KAWASAN PADAT INDUSTRI DI PESISIR LANGKAT SUMUTRA UTARA Hariani, Indri; Mawardi, Abdul L.; Atmaja, T. Hadi Wibowo
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3565

Abstract

The coastal area of ​​Pangkalan Susu is a place with diverse marine biota. Apart from being a spawning place and source of nutrition, coastal areas are also a source of food for various marine biota, including gastropods and bivalves Morphometry is the size or comparison of external body size between one part and another. This research was carried out in September 2023 on the coast of Pangkalan Susu, Langkat Regency. Sampling was carried out in plots. Bivalves are grouped into 3 length classes, namely small size (1.0 cm – 2.0 cm), medium size (2.1cm – 3.0 cm), large size (>3.1cm). Based on the collection of bivalve species at each location, 3 species of bivalves were obtained. The 3 species of bivalves obtained were Anadara granosa, Placuna placenta and Atrina pectinata. All bivalve species are large in size. Morphometrics of the three bivalve species showed that location 1 showed higher values ​​compared to location 1 in terms of length, width and weight. Key words: Bivalves; Morphometrics; Pangkalan Susu.
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) TERHADAP MORTALITAS Sitophilus zeamais Motsch. : - Harsanti, Restiani Sih; Yasi, Ratna Mustika
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3686

Abstract

Corn is the strategic commodity in Indonesia. The quality of many domestic corn does not meet feed factory standards. High yield losses icause of damage due to warehouse pests. Sitophilus zeamais Motsch or powder beetle is a warehouse pest that causes seeds to become hollow, break quickly and disintegrate into flour. Sitophilus zeamais Motsch pest control still relies on synthetic pesticides. The use of synthetic pesticides will cause various negative impacts such as pest resistance, residue, resurgencies, high costs and environmental pollution. One alternative for controlling Sitophilus zeamais Motsch is to use natural ingredients, namely Moringa. Moringa leaves contain phenol, hydroquinone, flavonoids, steroids, triterpenoids, tannins, alkaloids and saponins. The experiment began by drying 10 grams of Moringa leaves. then puree using a blender and continue with maceration. 200, 400, 600, 800, and 1000 mg of Moringa leaf powder were dissolved in 1 L of distilled water solution and left for 24 hours. After 24 hours, the solution was filtered 3 times so that all the substances contained in the Moringa leaves are extracted. The insecticide was tested by observing the number of S. zeamais pests that died when given Moringa leaf extract. The mortality data that was obtained was analyzed using ANOVA, if there was a real effect then continued using the 5% DMRT test. Determination of LC50 using a probit test. Moringa extract can function as a vegetable insecticide for S.zeamais. The higher concentration of Moringa leaf extract can increase the mortality of S.zeamais
KAJIAN ETNOZOOLOGI MASYARAKAT DI KECAMATAN RANTOE PEUREULAK DALAM KONSERVASI GAJAH SUMATRA (Elephas maximus sumatranus) Junaidi, Muhammad; Zuhra, Dwi Adrisa; Setyoko; Pandia, Ekariana S.
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3740

Abstract

Konservasi satwa liar adalah tindakan melindungi spesies yang terancam punah dan hampir punah dengan melestarikan habitat aslinya. Konservasi ini dapat berhubungan langsung dengan etnozoologi. Etnozoloogi merupakan bagian dari bidang etnobiologi yang mempelajari tentang pengetahuan, pemanfaatan satwa berkaitan dengan budaya masyarakat. Etnozoologi juga dapat ditemukan pada tipe masyarakat tertentu akan menggambarkan persepsi, pengetahuan, perlindungan, dan partisipasi masyarakat dalam konservasi satwa. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa yang termasu dalam spesies mamalia darat terbesar di Pulau Sumatra, yang saat ini telah berstatus terancam punah. Hal ini disebabkan oleh faktor masyarakat yang belum paham akan pentingnya menjaga lingkungan sebagai tempat tinggal dari Gajah Sumatra yang mengakibatkan gajah datang kedalam permukiman masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Etnozoologi masyarakat dan upaya masyarakat dalam pelestarian Gajah Sumatra yang berada di Desa Seumanah Jaya Kecamatan Rantoe Peureulak. Hasil penelitian didasarkan dari survei di 6 dusun di kabupaten Aceh Timur kecamatan Rantoe Peureulak tepatnya di desa Seumanah Jaya dengan sampel 90 responden yang diberikan kuesioner dan wawancara dengan teknik purposive sampling. Data etnis masyarakat terdiri dari; Aceh, Gayo, Jawa, dan Batak. Etnozoologi masyarakat diambil dari tingkat kesadaran masyarakat akan perlindungan satwa antara lain; pengetahuan, konflik, pelestarian dan partisipasi dengan persentase pengetahuan berada pada pesersentase 52,83%, Konflik 58,88%, Pelestarian 61,66%, Partisipasi 58,02%. Dari hasil tersebut diharapkan masyarakat untuk mengurangi kegiatan yang bersinggungan dengan Gajah Sumatra agar populasi Gajah terjaga dan masyarakat mendapatkan hasil yang baik pula.
IDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN INVERTEBRATA DI KAWASAN PANTAI BERAWE KABUPATEN LANGKAT parliansyah, m rizky; Indriaty; Fitria, Dini; Setyoko
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3796

Abstract

Pantai Berawe merupakan salah satu pantai yang terletak di Pulau Kampai. Kondisi pantai yang masih lumayan baik dan tergolong belum rusak menjadikan sepanjang pantai pulau kampai memiliki sumber daya alam kekayaan spesies hewan Filum invertebrata yang sangat banyak Tujuan penelitian ini untuk menjadi informasi mengenai kualitas dan kelimpahan fauna Pantai Berawe ditinjau dari keberadaan komunitas invertebrata. Peneltian ini dilaksanakan pada bulan desember 2023 di kawasan Pantai Berawe Kabupaten Langkat. Pengambilan data hewan invertebrata dilakukan dengan metode jelajah. Sampel hewan invertebrata pada setiap stasiun kemudian dihitung indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan. ditemukan 7 spesies hewan invertebrata yaitu Donax cuenatus, Anadara granosa, Coenobita perlatus, Clibanarius vittatus, Scylla serrata, Lingula unguis, dan Harpiosquilla raphidea. Keanekaragaman pada ketiga stasiun berada pada kategori sedang karena bisa dibuktikan dari nilai H' yang lebih dari 1 yaitu 1,3750916 dan indeks kemerataan di dapatkan pada kategori komunitas tidak stabil karena nilai E lebih kecil dari 0,75 yaitu 0,7066573.
RESPON MORFOLOGIS DAN FISIOLOGIS BUNGA SEDAP MALAM (Polianthes tuberosa L.) DENGAN PAPARAN RETARDANT Wijayanti, Sri; Kurnia, Tristi Indah Dwi; Ardiyansyah, Fuad; As'ari, Hasyim; Malis, Eko
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3834

Abstract

Bunga sedap malam (Polianthes tuberosa L.) merupakan tanaman hias dengan aroma yang khas dan cukup populer dikalangan masyarakat. Potensi permintaan bunga sedap malam yang tinggi, membuat tanaman bunga sedap malam banyak dibudidayakan pada area lahan terbuka yang luas. Namun pada beberapa tahun terakhir permintaan bunga sedap malam tidak hanya diminati dalam bentuk bunga potong dan tabur melainkan juga dalam bentuk bunga pot. Cara mendapatkan bentuk sebagai bunga hias pot dengan pemberian zat pengatur tumbuh retardant. Penelitian ini mengunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 3 kali ulangan 5 perlakuan 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian kosentrasi retardant pada respon morfologis hanya berpengaruh nyata pada jumlah kuntum bunga, sedangkan pada respon fisiologis hanya berpengaruh pada pigmen daun. Kosentrasi retardant diberikan hingga 400 ppm masih belum mendapatkan hasil yang optimum.
STUDI ETNOBOTANI KEANEKARAGAMAN TANAMAN PANGAN SEBAGAI REFERENSI KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT USING BANYUWANGI Susanti, Erni Duwi; Nurchayati, N.; Ardiyansyah, Fuad; Kurnia, Tristi Indah Dwi; Anam, Khoirul
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3848

Abstract

Etnobotani merupakan interaksi antara masyarakat, lingkungan, dalam pemanfaatan tumbuhan, keanekaragaman tanaman yang dimanfaatkan mampu mengatasi kondisi ketahanan pangan. Jenis penelitian deskriptif eksploratif bertujuan untuk mengetahui tanaman pangan sebagai referensi ketahanan pangan masyarakat suku Using di Banyuwangi. Adapun metode yang digunakan adalah wawancara terstruktur dan wawancara semiterstruktur dengan keterlibatan aktif peneliti dalam kegiatan masyarakat. Penelitian dilakukan di lima kecamatan yaitu kecamatan Glagah, kecamatan Giri, kecamatan Singojuruh, kecamatan Kabat, dan kecamatan Rogojampi. Hasil penelitian yaitu terdapat 40 jenis tanaman pangan yang digunakan masyarakat suku Using. Dari 40 jenis tanaman pangan terdapat 10 jenis tanaman dengan prosentase tertinggi yaitu diperoleh presentase padi 11%, bawang merah 11%, bawang putih 11%, cabai 11%, kelapa 10%, kunyit 8%, ubi jalar 10%, ubi kayu 10%, asam 10%, dan pisang 8%. Tanaman pangan terdiri dari kategori bahan pangan utama, bahan pangan tambahan, rempah-rempah, dan polong-polongan. Tanaman pangan masyarakat suku Using dapat dijadikan daya dukung ketahanan pangan karena mudah ditemukan, dan memiliki nilai gizi yang tinggi. Upaya konservasi yang dilakukan masyarakat yaitu dengan menanam tanaman pangan di lingkungan pekarangan rumah dan persawahan.
MORFOMETRI KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) DI KAWASAN MANGROVE PANTAI PULAU SANTEN BANYUWANGI Lutiya, Ida Lutiya; Sufadjari, Agus; Nurchayati, N.; Nurmasari, Fitri; Firmasyah, Moh.
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3849

Abstract

Mangrove crab (Scylla paramamosain) is one of crab species that live in mangrove area. The purpose of this research was to obtain the morphometric and alometric of mangrove crab in mangrove area in santen island Banyuwangi. The sample of this research were taken by used transek methode by divide the area in to 3 stations. The first station was located in upper course of mangrove, the second station in down stream of mangrove, and the third station in the middle of mangrove zone. This research was measure about carapac length (CL), carapac width (CW), abdoment leng (AL), abdoment width (AW), hand bite length (HBL), hand bite width (HBW), frontal length (FL), and frontal width (FW). The alometric was observed about relation of morphometric measurement and bodymass in female and male of crab. The result of this research showed 3 species from all of the stations. But the focus of measurement was in one species called Scylla paramamosain. The result of male morphometric measurement minimal CL: 6,5 cm, CW: 8,5 cm, AL: 4 cm, AW: 1,5 cm, HBL: 10 cm, HBW: 1,5 cm, FL: 1 cm, FW: 2 cm, Body mass: 200 gram. Maximum CL: 9 cm, CW: 10 cm, AL: 4 cm, AW: 2 cm, HBL: 8,25 cm, HBW: 2,75 cm, FL: 1,5 cm, FW: 3 cm, Body mass: 500 gram. Al though in female measurement minimal CL: 5 cm, CW: 7,5 cm, AL: 3 cm, AW: 2,5 cm, HBL: 2 cm, HBW: 1,5 cm, FL: 1 cm, FW: 2 cm, Body mass: 200 gram. Maximum CL: 7,5 cm, CW: 11 cm, AL: 3 cm, AW: 5 cm, HBL: 4 cm, HBW: 5 cm, FL: 2 cm, FW: 4 cm, Body mass: 300 gram. The alometric result of male crabs was 0,98, that means negative alometric because it was less than 3 point. The negative alometric also happen in female crabs. The conclusion of the measurement is produce a negative growth pattern in male and female crabs
KEANEKARAGAMAN DAN POLA DISTRIBUSI BIVALVIA DI TELUK PANGPANG BLOK JATI PAPAK TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI Zahro, Lutfiatus; As’ari, Hasyim; Ardyansyah, Fuad; Dagsy, Irqami Rachma Dwi; Firmansyah, Moh.
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3850

Abstract

Alas Purwo National Park in Banyuwangi is one of the conservation areas of mangrove forest potential big enough one of them is the Teluk Pangpang Blok Jati Papak which is the intertidal area, a lot of marine life that live in the region one of which is the bivalves. This study aims to determine diversity and the distribution pattern of bivalves in the Teluk Pangpang Blok Jati Papak. This study was conducted in 25 Mei - June 1, 2016. Determination of the sampling method used in this research is purposive sampling. Sampling sites are divided into three stations, with the distance between stations is 500 m, in each station there are four transects on each transect contained 10 plot. set the distance between transects 15 m and the distance between the plots 5 m with a plot measuring 2 × 2m. Measurement parameters abiotic do is measure temperature, salinity and pH. The research found 8 species of bivalves that Anomalodiscus squamosus, Placamen chlorotica, Pitar citrus, Chamelea gillina, Mactra grandis, Hiatula chinensis, Tellina timorensis, Anadara granosa. An index value of diversity bivalves in the Teluk Pangpang Blok Jati Papak categorized as low, with the highest index value at station 1 at 0.766 and the lowest at station 2 by 0.66. Biavalvia distribution patterns in the region are random in species Anomalodiscus squamosus, Pitar citrus, Chamelea gillina, Mactra grandis, Hiatula chinensis, Tellina timorensis, Anadara granosa and are clustered in Placamen chlorotica species.

Page 10 of 20 | Total Record : 197