cover
Contact Name
Muh Yaasiin Raya
Contact Email
yasin.raya@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6285343981818
Journal Mail Official
el-iqtishady@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No.63, Romangpolong, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92113
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
El-Iqtishady
Core Subject : Economy, Social,
EL-IQTHISADI : JURNAL HUKUM EKONOMI SYARIAH, FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM IS TO PROVIDE A VENUE FOR ACADEMICIANS, RESEARCHERS, AND PRACTITIONERS FOR PUBLISHING THE ORIGINAL RESEARCH ARTICLES OR REVIEW ARTICLES. THE SCOPE OF THE ARTICLES PUBLISHED IN THIS JOURNAL DEALS WITH A BROAD RANGE OF TOPICS IN THE FIELDS: ECONOMIC LAW SHARIA ECONOMIC LAW / ISLAMIC ECONOMIC LAW ECONOMIC CRIMINAL LAW ECONOMIC CIVIL LAW INTERNATIONAL ECONOMIC LAW
Articles 253 Documents
PENINGKATAN PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DI ERA DIGITAL: TANTANGAN DAN STRATEGI Melantik Rompegading; Saparuddin
El-Iqthisadi Volume 6 Nomor 1 Juni 2024
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.55976

Abstract

AbstrakPerkembangan teknologi digital membawa dampak signifikan terhadap perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Era digital menghadirkan peluang besar dalam distribusi karya intelektual, tetapi juga meningkatkan risiko pelanggaran HKI, seperti pembajakan dan penyebaran ilegal. Artikel ini membahas tantangan dan strategi dalam meningkatkan perlindungan HKI di era digital, dengan fokus pada regulasi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan analisis terhadap peraturan perundang-undangan terkait HKI serta studi kasus pelanggaran HKI di ruang digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi yang ada belum sepenuhnya adaptif terhadap dinamika digital. Untuk itu, diperlukan penguatan kerangka hukum, kolaborasi internasional, serta edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menghormati HKI. Kata Kunci: Hak Kekayaan Intelektual, Era Digital, Regulasi. Abstract The development of digital technology has a significant impact on the protection of Intellectual Property Rights (IPR). The digital era presents great opportunities in the distribution of intellectual works, but also increases the risk of IPR violations, such as piracy and illegal distribution. This article discusses the challenges and strategies in improving IPR protection in the digital era, with a focus on regulations in Indonesia. This study uses a normative juridical method with an analysis of laws and regulations related to IPR and case studies of IPR violations in the digital space. The results of the study indicate that existing regulations are not fully adaptive to digital dynamics. Therefore, it is necessary to strengthen the legal framework, international collaboration, and educate the public regarding the importance of respecting IPR. Keywords: Intellectual Property Rights, Digital Era, Regulation.
PERAN KOMISI YUDISIAL DALAM MENJAGA KEMANDIRIAN HAKIM Shinta Nur Hidayati S; Alda Fausty Chaerunnisa
El-Iqthisadi Volume 6 Nomor 1 Juni 2024
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.55977

Abstract

Abstrak Komisi Yudisial (KY) memiliki peran strategis dalam menjaga kemandirian hakim guna mewujudkan peradilan yang bersih, transparan, dan berintegritas. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran KY dalam menjaga kemandirian hakim melalui pengawasan etika dan peningkatan profesionalisme. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KY berperan dalam meminimalisasi intervensi eksternal terhadap hakim, memberikan sanksi etika, dan membangun sistem pendukung untuk menjaga independensi peradilan. Namun, peran KY masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kewenangan dan resistensi institusi lain. Artikel ini merekomendasikan penguatan regulasi dan sinergi antar-lembaga guna meningkatkan efektivitas peran KY. Kata Kunci: Komisi Yudisial ; Kemandirian Hakim ; Etika Kehakiman. Abstract The Judicial Commission (KY) has a strategic role in maintaining the independence of judges in order to realize a clean, transparent, and integrity-based judiciary. This article aims to analyze the role of the KY in maintaining the independence of judges through ethical supervision and increasing professionalism. The research method used is normative juridical with a conceptual approach and laws and regulations. The results of the study indicate that the KY plays a role in minimizing external intervention on judges, providing ethical sanctions, and building a support system to maintain judicial independence. However, the role of the KY still faces various challenges, such as limited authority and resistance from other institutions. This article recommends strengthening regulations and synergy between institutions to increase the effectiveness of the KY's role. Keywords: Judicial Commission; Independence of Judges; Judicial Ethics.
ETIKA PROFESI DALAM PERSPEKTIF HUKUM: TANTANGAN DAN IMPLEMENTASI Dian Eka Kusuma Wardani; Erwin Natsir
El-Iqthisadi Volume 6 Nomor 2 Desember 2024
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.55978

Abstract

Abstrak Etika profesi merupakan landasan moral yang mendasari perilaku dan tanggung jawab seorang profesional dalam menjalankan tugasnya. Dalam bidang hukum, penerapan etika profesi memiliki peran strategis untuk menjaga integritas, keadilan, dan kepercayaan masyarakat terhadap profesi hukum. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep etika profesi dalam ranah hukum serta tantangan yang dihadapi dalam implementasinya di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan analisis studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun telah ada regulasi yang jelas mengenai kode etik profesi hukum, masih terdapat pelanggaran yang disebabkan oleh kurangnya pengawasan, konflik kepentingan, dan lemahnya sanksi. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan penguatan regulasi, pengawasan yang lebih ketat, dan pendidikan etika yang berkelanjutan. Kata Kunci: Etika Profesi, Kode Etik, Profesi Hukum Abstract Professional ethics are the moral foundation that underlies the behavior and responsibilities of a professional in carrying out his/her duties. In the legal field, the application of professional ethics has a strategic role in maintaining integrity, justice, and public trust in the legal profession. This article aims to analyze the concept of professional ethics in the legal realm and the challenges faced in its implementation in Indonesia. This study uses a normative juridical method with a conceptual approach and case study analysis. The results of the study show that although there have been clear regulations regarding the code of ethics of the legal profession, there are still violations caused by lack of supervision, conflicts of interest, and weak sanctions. To overcome this problem, strengthening regulations, stricter supervision, and ongoing ethics education are needed. Keywords: Professional Ethics, Code of Ethics, Legal Profession.
PENYIMPANGAN PUPUK BERSUBSIDI PERSPEKTIF HUKUM KEJAHATAN BISNIS BERDASARKAN UU NO. 31/1999 JO. UU NO. 20/2001 (STUDI PUTUSAN NO. 28/PID.SUS-TPK/2022/PN SRG) Herlambang, Embang; Setiady, Tri
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.55710

Abstract

Abstrak Sektor pertanian memegang peranan strategis dalam pembangunan, terutama dalam menjamin ketersediaan pangan bagi Masyarakat. Dalam konteks sektor pertanian di Indonesia, PT Pupuk Indonesia berperan sebagai salah satu korporasi utama dalam penyediaan pupuk bersubsidi yang sangat penting bagi petani. Namun, keberadaan pupuk bersubsidi yang seharusnya memberikan manfaat kepada petani sering kali menjadi sasaran penyimpangan. Kasus penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi yang melibatkan PT Pupuk Indonesia dan oknum-oknum terkait mengundang perhatian besar dalam ranah hukum bisnis. Berdasarkan analisis komprehensif, dapat disimpulkan bahwa penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi merupakan tipikor yang serius, sebagaimana diatur dalam UU No 31/1999 juncto UU No 20/2001. Pelanggaran Pasal 3 UU tersebut mencakup penyalahgunaan wewenang, pengayaan diri atau pihak lain, dan merugikan keuangan negara. Analisis kasus penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi dalam Putusan No. 28/Pid.Sus-TPK/2022/PN Srg mengungkapkan dampak hukum dan sosial yang signifikan. Secara hukum, terdakwa Mahdi dijatuhi hukuman penjara 1 tahun 3 bulan dan denda Rp. 50.000.000,- atas pelanggaran Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU No. 31/1999 jo. UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor. Kata Kunci: Bersubsidi, Bisnis, Korupsi, Penyimpangan. Abstract The agricultural sector plays a strategic role in development, especially in ensuring food availability for the community. In the context of the agricultural sector in Indonesia, PT Pupuk Indonesia plays a role as one of the main corporations in providing subsidized fertilizer which is very important for farmers. However, the existence of subsidized fertilizer which is supposed to provide benefits to farmers is often the target of irregularities. The case of irregularities in the distribution of subsidized fertilizer involving PT Pupuk Indonesia and related individuals has attracted great attention in the realm of business law. Based on a comprehensive analysis, it can be concluded that irregularities in the distribution of subsidized fertilizer are a serious criminal act of corruption, as regulated in Law no. 31 of 1999 jo. UU no. 20 of 2001. Violations of Article 3 of the Law include legitimate protection, enrichment of oneself or other parties, and harm to state finances. Analysis of cases of irregularities in the distribution of subsidized fertilizer in Decision Number 28/Pid.Sus-TPK/2022/PN Srg reveals significant legal and social impacts. Legally, the defendant Mahdi was sentenced to 1 year and 3 months in prison and a fine of Rp. 50,000,000,- for violation of Article 3 Jo. Article 18 Law No.31/1999 jo. UU no. 20 of 2001 concerning Eradication of Corruption Crimes. Keywords: Subsidies, Business, Corruption, Deviations.
PERAN PERPUTARAN PIUTANG PADA PERKEMBANGAN SISA HASIL USAHA (SHU) DI KOPERASI UNIT DESA (KUD) ARGOPURO KECAMATAN KRUCIL KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN BUKU 2021-2023 Rosita Nurul Qomariah; Abu Yazid Adnan Quthny; Ahmad Fajri
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.55961

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat perputaran piutang, memantau perkembangan Sisa Hasil Usaha (SHU), serta menyelidiki peran perputaran piutang pada Sisa Hasil Usaha (SHU) di Koperasi Unit Desa (KUD) Argopuro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Dan lokasi penelitian berada di Koperasi Unit Desa (KUD) Argopuro Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk analisis data digunakan analisis rasio aktivitas yang mencangkup rata-rata piutang, perputaran piutang, serta hari pengumpulan piutang, sekaligus presentase Sisa Hasil Usaha (SHU). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Perputaran Piutang pada Koperasi Unit Desa (KUD) Argopuro mengalami peningkatan setiap tahun, pada tahun 2021 perputaran piutang tercatat sebanyak 9 kali dengan waktu pengumpulan piutang selama 40 hari. Kemudian pada tahun 2022 perputaran piutang meningkat menjadi 10 kali dengan waktu pengumpulan piutang selama 36 hari. Dan pada tahun 2023 menjadi 11 kali dengan waktu pengumpulan piutang selama 33 hari. (2) Presentase Sisa Hasil Usaha (SHU) menunjukkan kenaikan dan penurunan, pada tahun 2021 sebesar 11,65%, tahun 2022 menurun menjadi -24,80%, dan tahun 2023 naik menjadi 7,58%. Kata Kunci: Perputaran Piutang, Sisa Hasil Usaha (SHU), Koperasi Unit Desa (KUD). Abstract This research aims to analyze the level of receivables turnover, monitor the development of Remaining Business Results (SHU), and investigate the role of receivables turnover in Remaining Business Results (SHU) in the Argopuro Village Unit Cooperative (KUD). The method used in this research is qualitative. And the research location is in the Argopuro Village Unit Cooperative (KUD), Krucil District, Probolinggo Regency. Data was collected through observation, interviews and documentation. For data analysis, activity ratio analysis is used which includes average receivables, receivables turnover, days of receivables collection, as well as the percentage of Remaining Operating Results (SHU). The results of the research show that (1) Receivables turnover at the Argopuro Village Unit Cooperative (KUD) has increased every year, in 2021 receivables turnover was recorded at 9 times with a receivables collection time of 40 days. Then in 2022 receivables turnover will increase to 10 times with a receivables collection time of 36 days. And in 2023 it will be 11 times with a receivables collection time of 33 days. (2) The percentage of Remaining Operating Results (SHU) shows increases and decreases, in 2021 it is 11.65%, in 2022 it decreases to -24.80%, and in 2023 it increases to 7.58%. Keywords: receivables turnover, remaining business proceeds (SHU), village unit cooperative (KUD).
TINJAUAN EKONOMI SYARIAH TERKAIT SISTEM HUTANG PIUTANG DAN PEMBAGIAN HASIL TANGKAP IKAN ANTARA ANAK BUAH KAPAL (ABK) DAN PEMILIK KAPAL DI DESA KALIBUNTU KABUPATEN PROBOLINGGO Husnul Khotimah; Zahida I’tisoma Billah; Cici Widya Prasetyandari
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.56131

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas sistem hutang piutang dan pembagian hasil tangkapan ikan antara Anak Buah Kapal (ABK) dan pemilik kapal di Desa Kalibuntu dalam perspektif ekonomi syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hutang piutang yang diterapkan dapat membantu ABK secara finansial, namun menimbulkan keterikatan kerja yang berisiko membatasi kebebasan mereka. Pembagian hasil tangkapan ikan juga cenderung lebih menguntungkan pemilik kapal dibandingkan ABK, yang turut menanggung biaya operasional. Dalam perspektif ekonomi syariah, praktik ini masih memerlukan perbaikan agar lebih adil dan transparan. Sebagai rekomendasi, disarankan penerapan sistem pinjaman yang lebih fleksibel serta pembiayaan berbasis syariah seperti qardhul hasan atau koperasi syariah untuk mengurangi ketergantungan ABK pada pemilik kapal. Selain itu, transparansi dalam pembagian hasil perlu ditingkatkan untuk memastikan keadilan bagi semua pihak. Kata Kunci: Ekonomi Syariah, hutang piutang, Pembagian Hasil, Anak Buah Kapal, Pemilik Kapal. Abstract This study examines the debt system and the distribution of fish catches between Crew Members (ABK) and ship owners in Kalibuntu Village from an Islamic economic perspective. The findings indicate that the implemented debt system provides financial assistance to ABK but also creates a work dependency that risks limiting their freedom. The distribution of fish catches tends to favor ship owners more than ABK, who also bear operational costs. From an Islamic economic perspective, this practice still requires improvements to ensure greater fairness and transparency. As a recommendation, it is suggested to implement a more flexible loan system and adopt Islamic financing methods such as qardhul hasan or Sharia cooperatives to reduce ABK’s dependence on ship owners. Additionally, transparency in profit-sharing should be enhanced to ensure fairness for all parties. Keywords: Islamic Economics, Debt and Credit, Profit Sharing, Crew Members, Ship Owners.
ANALISIS YURIDIS TERHADAP WANPRESTASI DALAM PENGIKATAN PERJANJIAN JUAL BELI (PPJB) SERTA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PIHAK YANG DIRUGIKAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM KONTRAK DAN DITINJAU BERDASARKAN PRINSIP KEBEBASAN BERKONTRAK Latif, Abdul; Daryono, Julius Wahyu; Fitriah, Siti Nimah
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.56155

Abstract

Abstrak Pengikatan Perjanjian Jual Beli (PPJB) merupakan langkah awal dalam transaksi jual beli tanah sebelum dibuatnya Akta Jual Beli (AJB). Namun, PPJB sering menimbulkan sengketa, seperti pembatalan sepihak atau keterlambatan penyerahan unit, yang merugikan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wanprestasi dalam PPJB menurut hukum kontrak Indonesia, menentukan parameter wanprestasi, serta mengkaji perlindungan hukum bagi pihak yang dirugikan. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanprestasi sering terjadi akibat ketidakseimbangan antara pengembang dan konsumen, dengan pembatalan sepihak melanggar prinsip kebebasan berkontrak. Perlindungan hukum tersedia melalui KUHPerdata, Keputusan Menteri, Undang-Undang Perlindungan Konsumen, serta mekanisme BPSK dan jalur peradilan. Namun, pengembang sering memanfaatkan celah hukum untuk menghindari tanggung jawab, sehingga diperlukan pengawasan dan penegakan hukum yang lebih tegas. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk menciptakan transaksi jual beli properti yang lebih adil dan terlindungi hukum. Kata Kunci: Hukum Kontrak, Kebebasan Berkontrak, PPJB, Wanprestasi. Abstract PPJB is an initial step in land transactions before the Sale and AJB is made. However, PPJB often leads to disputes, such as unilateral cancellations or delays in unit delivery, which harm consumers. This study aims to analyze default (wanprestasi) in PPJB according to Indonesian contract law, determine the parameters of default, and examine legal protection for the injured party. The method used is juridical normative with a descriptive-analytical approach. The research findings show that default often occurs due to the imbalance between developers and consumers, with unilateral cancellations violating the principle of freedom of contract. Legal protection is available through the Civil Code (KUHPerdata), Ministerial Decrees, the Consumer Protection Law, as well as BPSK and judicial mechanisms. However, developers often exploit legal loopholes to avoid responsibility, necessitating stricter oversight and enforcement of the law. This study provides recommendations to create fairer and legally protected property transactions. Keywords: Contract Law, Freedom of Contract, Sale and Purchase Binding Agreement (PPJB), Default.
KONFLIK NORMA REGULASI PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE: ANALISIS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 1999 DAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 3 TAHUN 2023 Diding Jalaludin
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.56185

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensinya konflik norma antara PERMA Nomor 3 tahun 2023 dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 khususnya yang berkaitan dengan regulasi pembatalan putusan arbitrase. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan statute approach dan case approach. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari proses penanganan perkara arbitrase di Pengadilan Negeri Bandung Kelas 1A Khusus dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Kelas 1A Khusus serta data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer sebagai pisau analisis berupa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan arbitrase di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa norma Pasal 26 ayat (1) PERMA Nomor 3 Tahun 2023 yang mengatur tentang pengucapan putusan atas permohonan pembatalan putusan arbitrase atau arbitrase syariah paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan dibacakan dalam sidang pertama bertentangan dengan norma Pasal 72 ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 yang telah mengatur bahwa putusan atas permohonan pembatalan putusan arbitrase ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan diterima. Eksistensinya konflik norma tersebut berimplikasi hukum pada PERMA Nomor 3 Tahun 2023 harus segera direvisi supaya tidak menimbulkan kontradiksi dan inkonsistensi regulasi sekurang-kurangnya terhadap Pasal 26 ayat (1). Penanganan dan pengadministrasian perkara dengan klasifikasi khusus seperti arbitrase dilakukan dengan reformasi birokrasi serta optimalisasi sistem dan kinerja aparatur administrasi penanganan perkara, bukan dengan menerbitkan peraturan yang mengandung unsur ambiguitas dan disharmoni antar regulasi. Kata Kunci: Arbitrase, Konflik, Regulasi. Abstract This research aims to examine the existence of norm conflicts between PERMA Number 3 of 2023 and Law Number 30 of 1999, especially with regard to the regulation of annulment of arbitration awards. The research method used is normative juridical with a statute approach and case approach. The data used is primary data obtained from the process of handling arbitration cases at the Bandung District Court Class 1A Special and the Central Jakarta District Court Class 1A Special and secondary data consisting of primary legal materials as an analysis knife in the form of laws and regulations related to arbitration in Indonesia. The results of this study indicate that the norm of Article 26 paragraph (1) of PERMA Number 3 of 2023 which regulates the pronouncement of a decision on a petition to annul an arbitration award or sharia arbitration no later than 30 (thirty) days from the time the petition is read out in the first hearing is contrary to the norm of Article 72 paragraph (3) of Law Number 30 of 1999 which stipulates that the decision on a petition to annul an arbitration award is made by the Chairman of the District Court no later than 30 (thirty) days from the time the petition is received. The existence of the norm conflict has legal implications for PERMA Number 3 Year 2023 must be revised immediately so as not to cause contradictions and regulatory inconsistencies at least against Article 26 paragraph (1). The handling and administration of cases with special classifications such as arbitration is carried out through bureaucratic reform and optimization of the system and performance of the case handling administration apparatus, not by issuing regulations that contain elements of ambiguity and disharmony between regulations. Keywords: Arbitration, Conflict, Regulation.
AKAD MURABAHAH DAN RELEVANSINYA DENGAN TAFSIR AL-QUR’AN SURAH AL-BAQARAH AYAT 275 Akbar; Achmad Abubakar; Sohrah
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.56274

Abstract

Abstrak Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Akad murabahah dan relevensinya dengan tafsir Al-qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 275 Tentang Jual Beli, Karenanya begitu penting Allah membicarakan tentang jual beli dan kedudukannya. Analisa-analisa para mufassir sangat beragam. Kenyataan praktik di lapangan tentang jual beli dan riba tidak sepi dibicarakan sepanjang zaman dan relevansinya dengan akad murabahah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi tafsir teks-teks Al-Qur'an yang relevan, Sumber utama dalam kajian ini adalah kitab-kitab tafsir dengan tujuan hendak mengetahui jual beli menurut para mufasir. Hasil temuan ini adalah bahwa Allah menginginkan jual beli benar-benar halal, terhindar dari praktik riba, transaksi akad murabahah, dan penanggungan resiko sepihak sehingga di dalam praktik jual beli terbangun prinsip kutauhidan, kemanusiaan, keadilan dan kedamaian. Kata Kunci: Jual Beli, Murabahah, Al-Qur’an Abstract The purpose of this research is to find out the murabaha account and its relevance to the interpretation of the Qur'an Surah Al-Baqarah Verse 275 about buying and selling, therefore it is so important that Allah talks about buying and selling and its position. The analyses of the mufassirs are very diverse. The reality of the practice in the field about buying and selling and usury is not quiet discussed throughout the ages and its relevance to the murabaha contract. The method used in this research is a descriptive qualitative approach with a study of the interpretation of relevant Qur'anic texts. The main source in this study is the books of interpretation with the aim of knowing buying and selling according to the mufasirs. The result of this finding is that Allah wants buying and selling to be truly halal, avoiding usury practices, murabaha contract transactions, and unilateral risk bearing so that in the practice of buying and selling the principles of kutauhidan, humanity, justice and peace are built. Keywords: Buying and Selling, Murabahah, Al-Qur'an
KEPAILITAN BADAN USAHA MILIK NEGARA PERSERO Ansari , Teuku Syahrul; Setiady, Tri; Astawa, I Ketut; Yunus, Muhammad
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.vi.52963

Abstract

Abstrak BUMN merupakan pelaku usaha strategis yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, namun masih berpotensi mengalami kebangkrutan jika tidak dikelola secara profesional. UU No. 37 Tahun 2004 Kepalailitan dan PKPUmengatur mekanisme pengajuan pailit BUMN, khususnya dalam Pasal 2 Ayat 5. Praktek pengadilan menunjukkan kompleksitas permasalahan, di mana beberapa putusan Pengadilan Niaga menolak permohonan kepailitan dari kreditur dengan alasan hanya Menkeu yang berwenang mengajukan permohonan. Kondisi ini mengindikasikan ketidakharmonisan dalam penanganan kasus kepailitan BUMN Persero. Penyebab utama ketidakselarasan ini adalah adanya konflik antar peraturan per-UU di bidang keuangan negara, perbendaharaan, kepailitan, BUMN, dan PT. Perbedaan interpretasi hukum di antara penegak hukum menciptakan ketidakpastian hukum, yang pada gilirannya dapat menghambat iklim investasi dan kepercayaan pelaku usaha terhadap BUMN. Oleh karena itu, perlu dilakukan harmonisasi peraturan perundang-undangan untuk menciptakan kejelasan dan kepastian hukum. Kata Kunci: BUMN, Persero, Kepailitan. Abstract BUMN is a strategic business actor that contributes significantly to the national economy, but still has the potential to go bankrupt if it is not managed professionally. UU KPKPU concerning KPPU regulates the mechanism for filing bankruptcy for BUMN, especially in Article 2 Paragraph 5. Court practice shows the complexity of the problem, where several Commercial Court decisions reject bankruptcy applications from creditors on the grounds that only the Minister of Finance has the authority to submit applications. This condition indicates disharmony in the handling of the BUMN Persero bankruptcy case. The main cause of this disharmony is the conflict between laws and regulations in the fields of state finance, treasury, bankruptcy, BUMN, and PT. Differences in legal interpretation between law enforcers create legal uncertainty, which in turn can hinder the investment climate and business actors' trust in BUMN. Therefore, it is necessary to harmonize laws and regulations to create legal clarity and certainty. Keywords: State-Owned Enterprises, Persero, Bankruptcy.