cover
Contact Name
Florensius Tijan
Contact Email
admin@unka.ac.id
Phone
+6281227902049
Journal Mail Official
admin@unka.ac.id
Editorial Address
Jl.YC.Oevang Oeray Nomor 92 Baning Kota, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat 78612
Location
Kab. sintang,
Kalimantan barat
INDONESIA
PIPER
ISSN : 19070403     EISSN : 27755738     DOI : 10.51826/piper
PIPER merupakan salah satu media/wadah untuk mengembangkan kemampuan ilmiah civitas akademika Fakultas Pertanian, terutama kemampuan berkomunikasi secara tertulis sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Sebagai wadah menampung hasil-hasil penelitian ilmiah, PIPER dapat memperkaya khasanah ilmu dan pengetahuan melalui berbagai aktivitas penelitian. PIPER diharapkan berisi konsep-konsep pemikiran yang objektif, kritis, maju, konstruktif dan mengandung upaya memecahkan berbagai masalah sektor pertanian terutama di wilayah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat maupun di Indonesia bahkan dunia.
Articles 262 Documents
APLIKASI ATONIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS (Zea mays Saccharata) PADA LAHAN GAMBUT Paulinus Mikael; Nurhadiah, Nurhadiah
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.911

Abstract

Selain pemberian pupuk, pemberian hormon tumbuh  atau zat pengatur tumbuh dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian atonik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis serta untuk mengetahui dosis atonik yang optimum dalam mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis pada lahan gambut.  Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperiman lapangan, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan faktor tunggal yaitu perlakuan Atonik dan empat kelompok. Perlakuan terdiri dari 7 taraf yaitu A0 = Tanpa Atonik; A1 = 0,5 cc Atonik per liter air per bedengan; A2 = 1,0 cc Atonik per liter air per bedengan ; A3 = 1,5 cc Atonik per liter air per bedengan; A4 = 2.0 cc Atonik per liter air per bedengan; A5 = 2,5 cc Atonik per liter air per bedengan dan A6 = 3,0 cc Atonik per liter air per bedengan. Satuan percobaan berjumlah 252 tanaman sedangkan satuan pengamatan berjumlah 112 tanaman. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman dan berat tongkol jagung manis per tanaman.  Data tinggi tanaman dan berat tongkol yang sudah diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Atonik yang diberikan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis. Pemberian Atonik sebanyak 2 cc per liter air per bedengan memberikan rerata tertinggi dan merupakan perlakuan terbaik pada tinggi tanaman (168,38 cm) dan berat tongkol jagung manis (930 gr) per tanaman.
POTENSI KARBON PADA TEGAKAN POHON DI HUTAN DESA NANGA SEMANGUT KABUPATEN KAPUAS HULU Selfiany, Widiya Octa; Mulyadi; Sumarni, Sri
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.915

Abstract

Hutan Desa Nanga Semangut memiliki potensi sebagai simpanan cadangan karbon melalui tegakan vegetasi di dalamnya, namun, informasi tentang potensi simpanan karbon di Hutan Desa Nanga Semangut belum tersedia, sehingga dirasa perlu dilakukan penelitian tentang potensi karbon pada tegakan pohon di Hutan Desa Nanga Semangut. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi tentang potensi karbon pada tegakan tingkat pohon di Hutan Desa Nanga Semangut Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan jalur berpetak. Panjang jalur penelitian yang digunakan sepanjang 100 meter dimana di dalamnya dibuat petak dengan ukuran 20 x 20 m sebanyak 5 buah. Jumlah jalur yang dibuat sebanyak 5 jalur penelitian. Penentuan peletakkan jalur penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 14 jenis pohon yang ditemukan di dalam jalur penelitian dengan jumlah pohon sebanyak 368 individu/ha. Jumlah potensi karbon sebesar sebesar 109,44 ton C/ha, dimana populasi jenis Meranti (Shorea spp.) paling banyak ditemukan dengan jumlah 218 batang/ha dan memiliki simpanan karbon sebesar 61,57 ton C/ha atau setara dengan 225,97 ton CO2/ha dan jenis Tekam (Hopea spp.) dengan jumlah individu sebanyak 58 batang/ha dan memiliki simpanan karbon sebesar 21,22 ton C/ha atau setara dengan 77,87 ton CO2/ha. Jenis Ubah (Syzygium leptostemon (Korth.) Merrill & Perry) ditemukan sebanyak 23 batang/ha dan memiliki simapanan karbon sebesar 10,48 ton C/ha atau setara dengan 38,47 ton CO2/ha.
UJI PERTUMBUHAN ENAM VARIETAS TANAMAN TERUNG (Solanum melongena, L.) PADA TANAH PMK Sinaga, Markus; Mangardi, Mangardi; Husein, Nikodemus
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.916

Abstract

Produksi terung di Kabupaten Sintang masih rendah hanya 0,66 ton/Ha, penyebabnya karena beberapa faktor diantaranya adalah tanah yang kurang subur karena didominasi oleh tanah Podsolik Merah Kuning. Upaya meningkatkan produksi tanaman dapat dilakukan dengan beberapa langkah salah satunya adalah pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan tumbuh terutama tanah dan iklim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil enam varietas terung pada tanah Podsolik Merah Kuning. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan dan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan empat ulangan. Perlakuan penelitian terdiri dari Varietas Terung Mustang (V1), Milano (V2), Bungo (V3), Lezata (V4), Turangga (V5) dan Raos (V6). Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F, jika menunjukkan ada pengaruh nyata pada selang kepercayaan 0,05 kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam varietas tanaman terung dengan pertumbuhan dan hasil tertinggi adalah Lezata, rata-rata pertambahan tinggi tanaman 44,04 cm,  persentase bunga menjadi buah (5,76%), jumlah buah (2,47 buah), dan berat buah tertinggi 20,71 g.
IDENTIFIKASI PENGGUNAAN LAHAN PADA SUB DAS SEPAUK DAS KAPUAS KALIMANTAN BARAT Hutagaol, Ria Rosdiana
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.918

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu ekosistem yang kompleks, dimana komponen didalamnya tidak hanya berupa komponen fisik biotik namun juga mencakup komponen sosial (masyarakat). DAS Kapuas merupakan DAS penting dan unik yang secara admisitratif terletak di Kalimantan Barat, dan salah satu Sub DAS yang terdapat didalamnya adalah Sub DAS Sepauk yang secara administratif sebagian besar wilayahnya terdapat di Kabupaten Sintang. Sub DAS Sepauk merupakan salah satu Sub DAS bagian hulu, dengan luas yaitu 123.238,33 hektar, berbentuk memanjang dengan pola aliran dendritik. Sub DAS Sepauk tidak terlepas dari berbagai aktivitas penggunaan lahan oleh masyarakat, yang cenderung merubah tutupan lahan yang berbentuk vegetasi hutan menjadi non-hutan. Penelitian ini dilaksanakan pada Sub DAS Sepauk Kalimantan Barat pada bulan Januari sampai dengan Maret 2023. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe atau bentuk penggunaan lahan (land use) pada Sub DAS Sepauk, DAS Kapuas, Kalimantan Barat. Dari penelitian ini diharapkan memberikan manfaat berupa informasi aktual terkait penggunaan lahan khususnya pada Sub DAS Sepauk yang menjadi bagian dari DAS Kapuas, sehingga secara praktis dapat bermanfaat dalam rangka pengelolaan DAS Kapuas Kalimantan Barat. Analisis dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis spasial dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), untuk mendapatkan Peta Sub DAS Sepauk dan Peta Penggunaan Lahan pada Sub DAS Sepauk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan pada Sub DAS Sepauk didominasi oleh Pertanian Lahan Kering Campuran dengan luas 9.4231,41 ha (76,46 %), diikuti oleh Hutan Lahan Kering Primer dengan luas 10,350,90 ha ( 8,40 %) dan Hutan Lahan Kering Sekunder dengan luas 9.490,06 (7,70 %).
PERANAN MIKRO ORGANISME LOKAL (MOL) TAPAI UBI DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L) Kartana, Syarif Nizar; Maysra, Marselinus; Fitriani, Budi
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.920

Abstract

Mentimun termasuk salah satu sayuran buah yang memiliki banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, akan tetapi produksinya di Kabupaten Sintang masih rendah karena sebagian besar lahan untuk budidayanya adalah jenis tanah PMK yang kurang subur. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesuburan tanah PMK tersebut adalah dengan pemberian MOL tapai ubi sehingga diharapkan mampu meningkatkan produksi mentimun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu pengaruh dan dosis terbaik MOL tapai ubi dalam meningkatkan pertumbuhan serta hasil tanaman mentimun. Penelitian ini disusun menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 taraf perlakuan dan 5 ulangan. Taraf perlakuan dalam penelitian ini adalah : M0 : tanpa pemberian MOL tapai, M1 : pemberian 50 ml MOL tapai ubi/l air, M2 : pemberian 100 ml MOL tapai ubi/l air, M3 : pemberian 150 ml MOL tapai ubi/l air, M3 : pemberian 200 ml MOL tapai ubi/l air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MOL tapai ubi dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun dimana dosis terbaik adalah dengan pemberian  MOL tapai ubi 200ml/l air yang menghasilkan rerata berat basah berangkasan 213,33 gram, rerata jumlah buah per tanaman 0,933 buah, dan rerata berat buah per tanaman 160,00 gram. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi para petani di daerah pedalaman Kabupaten Sintang dalam mengatasi kelangkaan pupuk.
INVENTARISASI ANGGREK (Orchidaceae) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG BUKIT BETUNG KENEPAI SINTANG KALIMANTAN BARAT Antonius, Antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.922

Abstract

Kawasan Hutan Lindung Bukit Betung Kenepai merupakan kawasan hutan dengan tutupan hutan masih asli, sehingga masih kaya akan flora dan fauna endemik kawasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis anggrek (Orchidaceae) epifit dan teresterial. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2023, menggunakan metode eksplorasi sepanjang jalur pendakian. Hasil penelitian ditemukan 16 jenis anggrek, yang terdiri dari 10 jenis anggrek epifit (Apendicula sp, Bulbophyllum auratum, Coelogyne sp, Cymbidium  finlaysonianum, Cymbidium sp, Dendrobium crumenatum, Dendrobium secundum, Dendrobium Smithianum, Dendrobium sp dan Grammotophylum speciosum) dan 6 jenis anggrek teresterial (Arundina graminifolia Ascocentrum miniatum, Bromheadia finlaysoniana, Vanda sp, Vanda tricolor dan sp.).
PENGARUH JENIS DAN DOSIS BIOCHAR TERHADAP PENCUCIAN DAN SERAPAN NITROGEN PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.) Mangardi, Mangardi; Sinaga, Markus
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.925

Abstract

Nitrogen merupakan unsur hara essensial yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen bersifat mobile di dalam tanah, mudah bergerak mengikuti aliran air dan keluar dari zona perakaran. Kondisi demikian mengakibatkan pemupukan nitrogen menjadi tidak efisien karena banyak tidak diserap oleh akar tanaman. Salah satu penyebap kehilangan hara nitrogen adalah pencucian akibat curah hujan maupun pengairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis biochar terhadap pencucian dan serapan nitrogen pada tanaman cabai. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Universitas Kapuas, Sintang, Indonesia, dilaksanakan dari April-Juli 2023. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu jenis biochar dan dosis biochar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA, apabila ada pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa biochar tempurung kelapa mampu mengurangi volume air tercuci dibandingkan biochar sekam padi. Pemberian biochar dengan berbagai dosis secara nyata mampu meningkatkan jumlah daun, meningkatkan berat kering tanaman, mengurangi volume air tercuci, mengurangi kadar nitrat tercuci, meningkatkan kadar nitrat dalam daun serta meningkatkan serapan nitrogen. Secara keseluruhan terlihat bahwa biochar tempurung kelapa memiliki daya untuk mengurangi pencucian nitrat dan meningkatkan daya serap nitrogen yang relatif lebih tinggi dari biochar sekam padi.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR D.I GROW TERHADAP HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogea, L.) Kurniawati, Herlina; Melki, Natalia Feronika
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.927

Abstract

Produksi kacang tanah di Kabupaten Melawi masih rendah yaitu 12,24 kuintal per ha per tahun, dengan luas 136 hektar. Rendahnya produksi ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produksi adalah kurang tepatnya pengolahan tanah dan nutrisi tanaman, diantaranya pemupukan  yang harus diberikan seperti pupuk organik cair D.I Grow. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair D.I Grow terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah; dan mengetahui dosis pupuk organik cair DI Grow yang memberikan pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima ulangan, perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian pupuk DI Grow yang terdiri dari enam taraf perlakuan. D0 = tidak diberi D.I Grow; D1 = 2,5 ml D.I Grow per liter air; D2= 5 ml DI Grow per liter air; D3 = 7,5 ml D.I Grow per liter air; D4 = 10 ml D.I Grow per liter air; dan D5 = 12,5 ml D.I Grow per liter air. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan uji BNJ pada taraf 95% dan 99%.Hasil pengamatan dan analisis data diketahui bahwa pupuk organik cair D.I Grow berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah, dan pemberian pupuk organik cair D.I Grow 7,5 ml per liter air memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat polong isi dan berat biji per tanaman dengan rata-rata 73,00 gram dan 26,25 gram.
JENIS DAN MORFOLOGI KURA-KURA AIR TAWAR DI SUNGAI METIAN DESA KORONG DASO KABUPATEN SINTANG Syukur, Muhammad
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.929

Abstract

Sungai Metian desa Korong Daso Kabupaten Sintang merupakan salah satu habitat Kura-kura air tawar. Sungai Metian memiliki kondisi yang cukup baik, airnya jernih, substrat tanah berpasir, pepohonan rindang dan terdapat bebatuan, yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya Kura-Kura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan morfologi Kura-Kura air tawar pada Sungai Metian. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode Visual Encounter Survei (VES) dan  dikombinasikan dengan sistem jalur. Pengumpulan data dilakukan pada malam hari pukul 19:00-22:00 WIB dan pagi hari 08:00-12:00 WIB melalui pengamatan langsung, pemasangan pancing, bubu dan penyelaman. Hasil penelitian ditemukan 3 jenis Kura-Kura air tawar yaitu Kahpos (Dogania subplana ) sebanyak 3 individu, Jolabik Hinut (Amyda cartilaginea) sebanyak 2 invidu dan  Kolop Pohkang (Notochelys platynota) sebanyak 5 individu. Secara morfologis jenis Dogania subplana memiliki karapas atau cangkang lunak, berbentuk jorong atau memanjang, pipih datar, plastron tidak menutupi semua areal bagian perut serta dapat digerakan. Lehernya panjang sehingga kepalanya dapat menjangkau sekurangnya setengah dari karapas atau cangkangnya, tungkai depan dan belakang dengan selaput penuh, berkuku runcing. Jenis Amyda cartilaginea memiliki tonjolan menyerupai spiral berjumlah satu baris, pada perisai punggung terdapat bintil-bintil kecil membentuk garis-garis yang terputus-putus dari depan ke belakang. Kepala bewarana hitam memiliki bintik-bintik bewarna kuning. Tungkai depan dan belakang mempunyai selaput penuh dan jari-jari kaki mempunyai cakar yang relatif kuat dan berujung lancip. Kura-kura jenis Notochelys platynota memiliki karapas datar memanjang, punggung bewarna coklat, vetral scute berjumlah enam dan costal berjumlah empat keeping. Plastron tidak dapat digerakan. Pada masing-masing scute. gular, humeral, pectoral, abdominal, femoral, dan anal masing- masing berjumlah 2 keping. Tungkai depan dan belakang berselaput penuh.
STUDI POTENSI TUMBUHAN OBAT DI TEMBAWANG DUSUN BINGKULUI DESA TAUK KECAMATAN DEDAI KABUPATEN SINTANG Aspita, Surya; Apriani, Neni; Candra, Muhammad Kurniawan
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.930

Abstract

Tembawang adalah suatu hamparan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi yang ditumbuhi oleh bermacam-macam jenis tumbuhan obat yang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat suku Dayak Lebang bertempat di Dusun Bingkului Desa Tauk Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang. Potensi tumbuhan obat yang ada di hutan Tembawang Patah Tanggok dengan luasan 5 Ha, dimanfaatkannya sebagai penyedia bahan baku obat. Tujuan penelitian ini untuk mendiskripsikan potensi tumbuhan obat di hutan tembawang. Metode eksplorasi yaitu metode jelajah menentukan letak jalur pengamatan disekitar tempat penelitian sedangkan wawancara untuk mengumpulkan informasi mengenai jenis tumbuhan obat. Informasi didapatkan dari masyarakat yang menggunakan tumbuhan obat mencakup nama lokal, nama indonesia, nama ilmiah, nama famili, bagian serta kegunaan dan habitus tumbuhan obat. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat di Hutan Tembawang Dusun Bingkului ada 19 (sembilan belas) jenis tumbuhan obat. Jenis tumbuhan obat yang teridentifikasi 3 (tiga) jenis termasuk kedalam tumbuhan herba, 2 (dua) jenis termasuk kedalam tumbuhan liana, 4 (empat) jenis termasuk kedalam tumbuhan perdu, 3 (tiga) jenis termasuk kedalam tumbuhan pohon dan 7 (tujuh) jenis termasuk kedalam tumbuhan semak.