cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 53 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 53 Documents clear
DELIRIUM PADA ENSEFALOPATI HEPATIK STADIUM LANJUT DENGAN RIWAYAT PENGGUNAAN METAMFETAMIN: TANTANGAN DIAGNOSTIK DAN TERAPI Nahusona, Gladya Florenscia Anggelly; Aryani, Luh Nyoman Alit
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6612

Abstract

Delirium is an acute neuropsychiatric condition characterized by disturbances in consciousness, attention, and cognition, which often develops over a short period due to serious medical conditions, including hepatic encephalopathy. Advanced-stage hepatic encephalopathy (stage III–IV) is typically associated with liver cirrhosis and elevated ammonia levels, and may be precipitated by factors such as infection, gastrointestinal bleeding, or psychoactive substance use. We report a case of delirium in a patient with stage III hepatic encephalopathy and a history of methamphetamine use under a harmful use pattern, currently in early remission. The coexistence of systemic metabolic dysfunction due to liver failure and the neurotoxic effects of stimulant abuse complicates the clinical presentation and management. Comprehensive clinical, psychiatric, and toxicological assessment is essential for accurate diagnosis. Management includes supportive therapy for hepatic encephalopathy, addiction-focused psychiatric care, and family education. This case underscores the importance of interdisciplinary collaboration in managing delirium in patients with comorbid substance use disorders, and emphasizes the need for a biopsychosocial approach to long-term recovery planning. ABSTRAKDelirium merupakan gangguan neuropsikiatri akut yang ditandai oleh gangguan kesadaran, perhatian, dan kognisi, yang dapat berkembang dalam waktu singkat akibat berbagai kondisi medis serius, termasuk ensefalopati hepatik. Ensefalopati hepatik stadium lanjut (stadium III–IV) sering kali berkaitan dengan sirosis hati dan peningkatan kadar amonia, serta dapat diperberat oleh faktor presipitasi seperti infeksi, perdarahan saluran cerna, dan penggunaan zat adiktif. Kami melaporkan kasus seorang pasien dengan delirium et causa ensefalopati hepatik stadium III yang juga memiliki riwayat penggunaan metamfetamin dengan pola penggunaan yang merugikan (harmful use) dan berada dalam masa remisi awal. Kombinasi antara gangguan metabolik sistemik akibat disfungsi hepatik dan efek neurotoksik dari penggunaan stimulan memperumit perjalanan klinis pasien. Diagnosis memerlukan evaluasi menyeluruh secara klinis, psikiatrik, dan toksikologis. Penanganan melibatkan terapi suportif untuk ensefalopati, pendekatan psikiatri adiksi, serta edukasi keluarga. Laporan kasus ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi kasus delirium pada pasien dengan komorbiditas gangguan penggunaan zat, serta perlunya pendekatan biopsikososial dalam perencanaan terapi jangka panjang.
FEAR OF BREATHING, FEAR OF DEPENDENCE: LAPORAN KASUS GANGGUAN ANXIETAS ORGANIK PADA PASIEN MYASTHENIA GRAVIS PASCATIMEKTOMI DENGAN KETERGANTUNGAN VENTILATOR Karouw, Grace Venny Febe; Kurniawan, Lely Setyawati; Aryani, Luh Nyoman Alit; Mahardika, I Komang Ana
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6613

Abstract

Patients with Myasthenia Gravis (MG) undergoing thymectomy are at risk of developing postoperative respiratory complications requiring mechanical ventilation. This dependence may lead to severe paradoxical anxiety, characterized by both fear of breathing (anxiety about ventilator removal) and fear of dependence (fear of lifelong reliance on mechanical support). This narrative review analyzed recent literature from the past decade, focusing on neuropsychiatric perspectives of ventilator dependence in MG patients. Fear of breathing involves hyperactivation of brain structures such as the amygdala and insular cortex, resulting in anticipatory dyspnea. Fear of dependence stems from existential anxiety linked to loss of autonomy and identity, mediated by dysregulation in the ventromedial prefrontal cortex and default mode network. These fears contribute to a maladaptive cycle involving learned helplessness and avoidance behavior. Early psychiatric evaluation, cognitive behavioral therapy (CBT), and low-dose SSRI pharmacotherapy have shown promising outcomes. Multidisciplinary collaboration is essential to optimize psychophysical recovery and reduce ICU length of stay. Paradoxical respiratory anxiety in MG patients presents a significant barrier to ventilator weaning and recovery. Integrated psychiatric interventions are crucial to address both physiological and psychological needs, ensuring holistic care in critical settings. ABSTRAKPasien dengan Myasthenia Gravis (MG) yang menjalani tindakan timektomi sering menghadapi komplikasi pernapasan yang memerlukan dukungan ventilator. Ketergantungan ini dapat memunculkan kecemasan berat yang paradoksal, yakni rasa takut saat ventilator dilepas (fear of breathing) dan kecemasan terhadap ketergantungan jangka panjang pada alat bantu napas (fear of dependence). Studi tinjauan pustaka menggunakan literatur dari jurnal internasional yang terbit dalam 10 tahun terakhir, dengan fokus pada aspek neuropsikiatri pasien MG dengan ventilator dependence. Fear of breathing melibatkan disregulasi sistem saraf pusat (amigdala, insula, prefrontal cortex) yang memperkuat anticipatory dyspnea. Sementara itu, fear of dependence muncul dari ketakutan eksistensial akan kehilangan otonomi dan harga diri. Kedua bentuk kecemasan ini memperburuk prognosis melalui siklus learned helplessness dan anxiety-avoidance. Pendekatan psikiatri berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT), farmakoterapi selektif, dan keterlibatan tim multidisiplin telah terbukti mempercepat pemulihan. Kecemasan respiratorik paradoksal merupakan tantangan penting dalam perawatan pasien MG. Intervensi psikiatri terintegrasi diperlukan untuk mendukung keberhasilan weaning dan menjaga kesehatan mental pasien.
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP DAN TINGKAT KEBAHAGIAAN PADA KLIEN TERAPI RUMATAN METADON DI POLIKLINIK ADIKSI RS NGOERAH Ayustama, Fariza; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya; Aryani, Luh Nyoman Alit; Putra, I Wayan Gede Artawan Eka; Mahardika, I Komang Ana
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6615

Abstract

Methadone Maintenance Therapy (MMT) has been proven effective in reducing the risk of opioid relapse. However, psychosocial aspects such as happiness and quality of life are still rarely addressed as indicators of therapeutic success. To assess the relationship between quality of life (WHOQOL-BREF) and happiness level (Oxford Happiness Questionnaire/OHQ) among MMT clients in Bali Province. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 36 respondents from four MMT institutions in Bali were selected purposively. Pearson correlation, chi-square, and multiple linear regression analyses were conducted. The mean total quality of life score (WHOQOL-BREF) was 118.53 ± 12.77, and the mean happiness score (OHQ) was 101.17 ± 15.67. Significant correlations were found between the psychological domain and happiness (r = 0.521; p = 0.001), the environmental domain (r = 0.415; p = 0.012), and the social domain (r = 0.336; p = 0.045). The physical domain was not significantly associated (r = 0.239; p = 0.161). In the multivariate analysis, significant predictors of happiness were marital status (B = -4.589; p = 0.004), duration of methadone use (B = 1.791; p = 0.007), and the psychological domain (B = 0.490; p = 0.022). The model's R² was 0.635, indicating a strong predictive contribution of these variables. There is a significant relationship between quality-of-life scores in the psychological, environmental and social domains with happiness scores. The control variables in the marital status and length of methadone use were significantly related to happiness scores in the multivariate model. The PTRM program needs to integrate supportive psychological, social and environmental approaches as part of holistic recovery. ABSTRAKProgram Terapi Rumatan Metadon (PTRM) terbukti efektif dalam menurunkan risiko kekambuhan opioid. Namun, indikator keberhasilan terapi belum banyak menyoroti aspek psikososial seperti kebahagiaan dan kualitas hidup. Menilai hubungan antara kualitas hidup (WHOQOL-BREF) dan tingkat kebahagiaan (Oxford Happiness Questionnaire/OHQ) pada klien PTRM di Provinsi Bali. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 36 responden dari empat institusi PTRM di Bali dipilih secara purposif. Analisis korelasi Pearson, chi-square, dan regresi linear multivariat digunakan. Skor rata-rata kualitas hidup (WHOQOL-BREF total) adalah 118,53 ± 12,77, sedangkan skor kebahagiaan (OHQ) adalah 101,17 ± 15,67. Terdapat korelasi signifikan antara domain psikologis dengan kebahagiaan (r = 0,521; p = 0,001), domain lingkungan (r = 0,415; p = 0,012), dan domain sosial (r = 0,336; p = 0,045). Domain fisik tidak menunjukkan hubungan bermakna (r = 0,239; p = 0,161). Dalam analisis multivariat, variabel yang berhubungan signifikan terhadap kebahagiaan adalah status perkawinan (B = -4,589; p = 0,004), lama penggunaan metadon (B = 1,791; p = 0,007), dan domain psikologis (B = 0,490; p = 0,022). R² model sebesar 0,635 menunjukkan kontribusi variabel-variabel prediktor terhadap kebahagiaan cukup kuat. Terdapat hubungan yang signifikan antara skor kualitas hidup pada domain psikologis, lingkungan dan sosial dengan skor kebahagiaan. Variabel kendali berupa perkawinan dan lama penggunaan metadon berhubungan signifikan terhadap skor kebahagiaan dalam model multivariat. Program PTRM perlu mengintegrasikan pendekatan psikologis, sosial dan lingkungan yang mendukung sebagai bagian dari pemulihan holistik.
KONSERVASI AIR TERPADU: KERANGKA HOLISTIK BERBASIS EKOTEOLOGI ISLAM, KEARIFAN LOKAL, DAN SAINS UNTUK KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN Susanti, Agus
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6616

Abstract

This research is motivated by the environmental crisis that demands a holistic conservation approach, where technocratic solutions often fail due to neglecting ethical, spiritual, and local wisdom dimensions. The focus of this research is to synthesize various literatures to develop a water resource conservation framework that integrates Islamic values, local wisdom, and modern science. As a crucial step, this research employed a literature review method, qualitatively analyzing 15 selected scientific articles to identify and synthesize diverse perspectives. The key findings of this literature synthesis identify three fundamental pillars for sustainable conservation: Islamic ecotheology, which provides an ethical foundation (the mandate as a caliph), local wisdom, which offers community-based practices, and science, which provides innovative solutions. This study confirms that the most effective approach is a synergistic integration of these three pillars. In conclusion, effective environmental conservation can be achieved through an integrated approach that combines the power of religious spirituality, traditional knowledge, and scientific innovation, supported by collaborative policies and comprehensive environmental education. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh krisis lingkungan yang menuntut pendekatan konservasi holistik, di mana solusi teknokratis seringkali gagal karena mengabaikan dimensi etika, spiritual, dan kearifan lokal. Fokus penelitian ini adalah untuk mensintesiskan berbagai literatur guna membangun kerangka kerja konservasi sumber daya air yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, kearifan lokal, dan sains modern. Sebagai langkah penting, penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan, dengan menganalisis secara kualitatif 15 artikel ilmiah terpilih untuk mengidentifikasi dan menyatukan berbagai perspektif. Temuan utama dari sintesis literatur ini mengidentifikasi tiga pilar fundamental untuk konservasi berkelanjutan: ekoteologi Islam yang memberikan landasan etis (amanah sebagai khalifah), kearifan lokal yang menawarkan praktik berbasis komunitas, serta sains yang menyediakan solusi inovatif. Studi ini menegaskan bahwa pendekatan paling efektif adalah integrasi sinergis dari ketiga pilar tersebut. Kesimpulannya, konservasi lingkungan yang efektif dapat terwujud melalui pendekatan terpadu yang memadukan kekuatan spiritualitas agama, pengetahuan tradisional, dan inovasi ilmiah, yang didukung oleh kebijakan kolaboratif dan pendidikan lingkungan komprehensif.
ANALISIS MODEL MANAJEMEN KORIDOR EKOLOGI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK Situmorang, Marningot Tua Natalis; Noviana, Linda
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6824

Abstract

This research is motivated by habitat fragmentation in Mount Halimun Salak National Park (TNGHS), which threatens the biodiversity and ecological function of its connecting corridors. The gap between the theoretical focus on corridor design and the lack of practical management guidance in the field, particularly amidst high human activity pressures, drives the urgency of this study. Therefore, this research focuses on analyzing various ecological corridor management models and formulating an adaptive and relevant framework for TNGHS. This research employed library research with a qualitative descriptive-analytical approach. Secondary data from various scientific literature were systematically analyzed using qualitative synthesis and thematic analysis techniques to identify best practices. Key findings indicate that effective corridor management must go beyond physical design and integrate the mitigation of artificial barriers, riparian zone management, and integrated agricultural and settlement management. It concludes that the TNGHS corridor management model must be holistic, incorporating agroecological principles, multi-stakeholder collaboration, and an understanding of animal movement ecology to ensure long-term landscape connectivity amidst complex socio-economic dynamics. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh fragmentasi habitat di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang mengancam keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis koridor penghubungnya. Adanya kesenjangan antara fokus teori pada desain koridor dan minimnya panduan pengelolaan praktis di lapangan, terutama di tengah tekanan aktivitas manusia yang tinggi, mendorong urgensi studi ini. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk menganalisis berbagai model manajemen koridor ekologi dan merumuskan kerangka kerja yang adaptif dan relevan bagi TNGHS. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data sekunder dari berbagai literatur ilmiah dianalisis secara sistematis menggunakan teknik sintesis kualitatif dan analisis tematik untuk mengidentifikasi praktik terbaik. Temuan utama menunjukkan bahwa pengelolaan koridor yang efektif harus melampaui desain fisik dan mengintegrasikan mitigasi hambatan buatan, manajemen zona riparian, serta pengelolaan pertanian dan pemukiman secara terpadu. Disimpulkan bahwa model manajemen koridor TNGHS harus bersifat holistik, menggabungkan prinsip agroekologi, kolaborasi multi-pemangku kepentingan, dan pemahaman ekologi pergerakan hewan untuk memastikan konektivitas lanskap jangka panjang di tengah dinamika sosial-ekonomi yang kompleks.
PENGUATAN KAPASITAS RELAWAN BENCANA MELALUI POSKO PELATIHAN PENGETAHUAN KEBENCANAAN (PAS WACANA P3K) DI KABUPATEN OKU SELATAN Liska, Uliyati; Novaria, Eva; Farhat, Farhat; Suhaila, Suhaila; Yusuf, Akhmad
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6925

Abstract

This research is motivated by the high disaster risk in South OKU Regency and the significant capacity gaps in human resources for disaster management, both within official institutions (BPBD) and among unorganized community volunteers. This gap hinders the effectiveness of disaster mitigation and education. The focus of this research is to analyze the process and success of strengthening volunteer capacity through an innovative change project called the Disaster Knowledge Training Post (PASWACANA P3K). Using a qualitative approach with a descriptive case study design, data were collected through in-depth interviews, document analysis, and participant observation of the project's leadership and implementation processes. Key findings indicate that this initiative was successful thanks to strategic leadership that secured internal legitimacy and orchestrated a multi-helix collaboration model, culminating in the formation of the South OKU Siaga Volunteer Forum (ForOKUSS). This training program effectively improved the volunteers' skills, which were then directly applied in community education activities. It is concluded that the First Aid (P3K) model is an innovative solution that successfully bridges the capacity gap by empowering local potential, transforming volunteers from mere responsive forces into proactive mitigation agents, and offering a proven blueprint for building community resilience. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya risiko bencana di Kabupaten OKU Selatan serta adanya kesenjangan kapasitas yang signifikan pada sumber daya manusia penanggulangan bencana, baik di lembaga resmi (BPBD) maupun di kalangan relawan komunitas yang belum terorganisir. Kesenjangan ini menghambat efektivitas mitigasi dan edukasi kebencanaan. Fokus penelitian ini adalah menganalisis proses dan keberhasilan penguatan kapasitas relawan melalui sebuah proyek perubahan inovatif bernama Posko Pelatihan Pengetahuan Kebencanaan (PASWACANA P3K). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, analisis dokumen, dan observasi partisipatif terhadap proses kepemimpinan dan implementasi proyek. Temuan utama menunjukkan bahwa inisiatif ini berhasil berkat kepemimpinan strategis yang mampu mengamankan legitimasi internal dan mengorkestrasi kolaborasi model multi-helix, yang puncaknya adalah pembentukan Forum Relawan OKU Selatan Siaga (ForOKUSS). Program pelatihan ini secara efektif meningkatkan keterampilan relawan yang kemudian langsung diaplikasikan dalam kegiatan edukasi masyarakat. Disimpulkan bahwa model P3K merupakan solusi inovatif yang berhasil menjembatani kesenjangan kapasitas dengan memberdayakan potensi lokal, mengubah relawan dari sekadar tenaga responsif menjadi agen mitigasi proaktif, dan menawarkan cetak biru yang terbukti efektif untuk membangun ketangguhan komunitas.
EDUCATION, ETHNICITY, AND WELFARE KEY FACTORS AFFECTING FIRST AGE MARRIAGE Iqbal, Muhammad; Garnika, Eneng; Najwa, Lu'luin; Suhardi, Muhamad
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6018

Abstract

Salah satu target kinerja utama BKKBN pada tahun 2019 adalah median usia perkawinan pertama (MUKP) sebesar 21 tahun. Data Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program (SKAP) BKKBN tahun 2019 menunjukkan MUKP sebesar 19,2 tahun. Data BPS menunjukkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat usia perkawinan pertama pada tahun 2019 sebesar 20,21 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana beberapa faktor mempengaruhi usia perkawinan pertama di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Faktor-faktor yang diteliti adalah suku bangsa, status daerah, tingkat kesejahteraan, pendidikan, dan pekerjaan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder hasil SKAP tahun 2019 yang berjumlah 1292 responden sebagai sampel. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap usia perkawinan pertama adalah suku bangsa, pendidikan, dan status kesejahteraan; dan 2) Keberagaman status daerah yang terbagi menjadi perkotaan dan pedesaan, serta lapangan pekerjaan, tidak mampu menjelaskan keberagaman usia perkawinan pertama. Pencapaian target MUKP 21 tahun memerlukan koordinasi dan kerja sama yang berkelanjutan antar berbagai pihak, seperti optimalisasi peran tokoh agama dan tokoh masyarakat, komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan, dari tingkat desa hingga provinsi, yang dilakukan secara sistematis dan terencana, dan terakhir, peningkatan pemahaman dan penerapan 8 fungsi keluarga dapat ditingkatkan melalui pendidikan keluarga yang dilakukan secara terprogram. ABSTRACTOne of the main performance targets of the BKKBN in 2019 is the median age of first marriage (MUKP) of 21 years. Data from the 2019 BKKBN Program Performance and Accountability Survey (SKAP) shows the MUKP is 19.2 years. BPS data shows that West Nusa Tenggara Province recorded the age of first marriage in 2019 at 20.21 years. This study aimed at revealing how some factors effect the age of first marriage in West Nusa Tenggara Province. The factors studied are ethnicity, regional status, level of welfare, education, and employment. The research was carried out using a quantitative approach with secondary data from the 2019 SKAP results, totaling 1292 respondents as samples. The data analyzed using descriptive statistics and binary logistic regression analysis. The results shows that 1) Variables that have a significant effect on the age at first marriage are ethnicity, education, and welfare status; and 2) The diversity of regional status, which is divided into urban and rural areas, and employment are unable to explain the diversity at the age of first marriage. Achieving the 21-year MUKP target requires sustained coordination and cooperation among various parties, such as through optimizing the role of religious and community leaders, communication and coordination among stakeholders, from the village to the provincial level, which is carried out in a systematic and planned manner, and lastly, increasing understanding and application of the 8 family functions can be improved through family education which is carried out in a programmed manner.
PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENCEGAH KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT PEMBABATAN HUTAN SECARA LIAR DI KABUPATEN DOMPU (STUDI PADA BALAI KESATUAN PENGELOLAN HUTAN TOFFO PAJO SOROMANDI) Astuti, Puja; Mustamin, Mustamin; Dermawan S, M. Ariy
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6151

Abstract

This study aims to analyze the role of local governments in preventing environmental damage due to illegal logging in Dompu Regency, with a focus on policy implementation through the Toffo Pajo Soromandi Forest Management Unit (BKPH). Using a descriptive qualitative approach and the Van Meter and Van Horn policy implementation model, this study evaluates six main variables: policy standards and objectives, resources, inter-organizational communication, implementer characteristics, implementer attitudes, and social, economic, and political environmental conditions. The results show that local governments have implemented various preventive and repressive strategies, such as forest patrols, counseling, area rehabilitation, and the formation of Forest Police Partners. However, limited human resources and logistics, low public awareness, and geographical challenges are the main obstacles in policy implementation. Even so, cross-sector synergy and participatory approaches show great potential in strengthening forest protection. Therefore, strengthening the aspects of resources, institutional collaboration, and community economic empowerment is needed to realize sustainable forest management at the regional level. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pemerintah daerah dalam mencegah kerusakan lingkungan akibat pembabatan hutan secara liar di Kabupaten Dompu, dengan fokus pada implementasi kebijakan melalui Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Toffo Pajo Soromandi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn, penelitian ini mengevaluasi enam variabel utama: standar dan tujuan kebijakan, sumber daya, komunikasi antar organisasi, karakteristik pelaksana, sikap pelaksana, serta kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah menjalankan berbagai strategi preventif dan represif, seperti patroli hutan, penyuluhan, rehabilitasi kawasan, dan pembentukan Mitra Polisi Kehutanan. Namun, keterbatasan sumber daya manusia dan logistik, rendahnya kesadaran masyarakat, serta tantangan geografis menjadi kendala utama dalam pelaksanaan kebijakan. Meski begitu, sinergi lintas sektor dan pendekatan partisipatif menunjukkan potensi besar dalam memperkuat perlindungan hutan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pada aspek sumber daya, kolaborasi kelembagaan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan di tingkat daerah.
PENGARUH VARIASI ARUS LAS SMAW TERHADAP KEKUATAN TARIK & BENDING PADA MATERIAL BAJA ST 42 Romadhon, Muhammad Firly; Mufarida, Nely Ana; Kosjoko, Kosjoko
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6312

Abstract

Shielded Metal Arc Welding (SMAW) is an essential metal joining process in the manufacturing and construction industries. The background of this research is the importance of knowing the correct welding parameters to ensure joint quality. The focus of this study is to analyze the effect of variations in electrical current on the tensile and bending strength of ST 42 steel. The research phase involved welding specimens using E6013 electrodes at three different current variations: 95 A, 105 A, and 115 A. The specimens were then tested for strength through tensile testing to obtain strength, stress, and strain data. The main findings indicate that current variation significantly affects the material's mechanical properties. The highest tensile test results were achieved using a current of 105 A, with an average maximum stress of 229.083 MPa and a strain of 4.99%. On the other hand, the lowest strength was produced by a current of 95 A. Thus, it can be concluded that a current of 105 A is the most optimal parameter among the variations tested to obtain a welded joint with the highest tensile strength in ST 42 steel. ABSTRAKPengelasan dengan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW) merupakan proses penyambungan logam yang esensial dalam industri manufaktur dan konstruksi. Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya mengetahui parameter pengelasan yang tepat untuk menjamin kualitas sambungan. Fokus masalah dalam studi ini adalah untuk menganalisis pengaruh variasi arus listrik terhadap kekuatan tarik dan *bending* pada material baja ST 42. Tahapan penelitian dilakukan dengan mengelas spesimen menggunakan elektroda E6013 pada tiga variasi arus berbeda, yaitu 95 A, 105 A, dan 115 A. Selanjutnya, spesimen tersebut diuji kekuatannya melalui pengujian tarik untuk memperoleh data kekuatan, tegangan, dan regangan. Temuan utama menunjukkan bahwa variasi arus berpengaruh signifikan terhadap sifat mekanik material. Hasil uji tarik tertinggi dicapai pada penggunaan arus 105 A, dengan rata-rata tegangan maksimal sebesar 229,083 MPa dan regangan 4,99%. Sebaliknya, kekuatan terendah dihasilkan oleh arus 95 A. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa arus 105 A merupakan parameter paling optimal di antara variasi yang diuji untuk mendapatkan sambungan las dengan kekuatan tarik tertinggi pada baja ST 42.
MULTILINGUALISME PADA GENERASI Z DAN UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA Herdiani, Rizki; Amir, Johar; Satriani, Irma; Candra Dewi, Anita; Fitri, Sakinah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6331

Abstract

Multilingualism is becoming increasingly prominent among Generation Z, who are growing up amid globalization and digital technological advancement. While many studies have separately examined language shift or language maintenance, few have specifically explored the relationship between multilingual practices among Generation Z and the preservation of regional languages, particularly in linguistically diverse areas such as South Sulawesi. This study aims to describe the patterns of first, second, and third language use among Generation Z and explore their connection to language maintenance efforts. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through observation, questionnaires, and interviews with 60 respondents aged 18–20 from various regions in South Sulawesi. The findings reveal that 63.3% of respondents use Indonesian as their first language, followed by Bugis (18.3%), Makassarese (15%), and others. For the second language, respondents tend to use regional languages, while English dominates as the third language (65%). These results indicate a shift in regional languages from the position of mother tongue to second or third language. However, there is still evidence of preservation efforts through the use of regional languages within family and social settings. These findings provide a foundation for the formulation of linguistic and educational policies that promote regional language revitalization, and they enrich theoretical understanding of multilingual dynamics in the digital era. ABSTRAK Multilingualisme merupakan fenomena yang semakin menonjol di kalangan Generasi Z yang hidup di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi digital. Meskipun banyak penelitian membahas pergeseran bahasa atau pemertahanan bahasa secara terpisah, masih sedikit yang mengkaji hubungan antara praktik multilingualisme Generasi Z dan pelestarian bahasa daerah, khususnya di wilayah dengan keragaman bahasa seperti Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola penggunaan bahasa pertama, kedua, dan ketiga di kalangan Generasi Z serta mengeksplorasi keterkaitannya dengan upaya pemertahanan bahasa daerah. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data diperoleh melalui observasi, angket, dan wawancara terhadap 60 responden usia 18–20 tahun dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,3% responden menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama, disusul Bugis (18,3%), Makassar (15%), dan lainnya. Sebagai bahasa kedua, responden cenderung menggunakan bahasa daerah, sementara bahasa Inggris dominan sebagai bahasa ketiga (65%). Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran bahasa daerah dari posisi bahasa ibu menjadi bahasa kedua atau ketiga. Namun, tetap terdapat indikasi upaya pelestarian melalui penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga dan sosial. Temuan ini memberikan dasar bagi perumusan kebijakan linguistik dan pendidikan yang mendorong revitalisasi bahasa daerah, serta memperkaya pemahaman teoretis tentang dinamika multilingualisme di era digital.