cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 463 Documents
PERAN GURU PEMBIMBING DALAM MENCEGAH PELANGGARAN TATA TERTIB SISWA Febriansyah, Febriansyah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4639

Abstract

Education is a conscious effort by society and the government to prepare students for the future through guidance, teaching, and training, both in and out of school. However, at SMP N L. Sidoharjo, many students violate school rules by speaking impolitely, chatting during lessons, skipping assignments, and lacking discipline. This study examines the role of guidance teachers in preventing disciplinary violations among eighth-grade students. Using a qualitative descriptive method, data were collected from the principal, student affairs coordinator, homeroom teacher, subject teachers, guidance teachers, and students through interviews. The data were analyzed using reduction, display, and verification techniques with source triangulation.Findings indicate frequent violations such as disobedience, rude speech, truancy, untidy attire, and disrespect toward teachers. These issues stem from parental neglect, peer influence, family problems, mobile phone use, and environmental factors. Guidance teachers play a key role in prevention through informational services, group counseling, and home visits. Their efforts have positively impacted students’ physical, intellectual, emotional, social, moral, and spiritual development. This study highlights the importance of guidance teachers in fostering student discipline and improving overall behavior. ABSTRAKPendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan masyarakat dan pemerintah melalui bimbingan, pengajaran, atau latihan, baik di dalam maupun luar sekolah, untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan di masa depan. Namun, fenomena yang terjadi di SMP N L. Sidoharjo menunjukkan adanya beberapa pelanggaran tata tertib oleh siswa, seperti berbicara tidak sopan, mengobrol saat pelajaran, tidak mengerjakan tugas, dan kurang disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran guru pembimbing dalam mencegah pelanggaran tata tertib siswa kelas VIII. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan informan yang terdiri dari kepala sekolah, waka kesiswaan, wali kelas, guru mata pelajaran, guru pembimbing, dan siswa. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, serta verifikasi menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran yang sering terjadi meliputi ketidakpatuhan terhadap peraturan sekolah, berkata kasar, membolos, berpakaian tidak rapi, serta kurang menghargai guru. Faktor penyebabnya antara lain kurangnya perhatian orang tua, pergaulan bebas, masalah keluarga, penggunaan handphone, dan pengaruh lingkungan. Guru pembimbing berperan dalam pencegahan melalui layanan informasi, bimbingan kelompok, dan home visit. Dampak dari layanan tersebut cukup positif, terlihat dari perubahan perilaku siswa dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual.
PERBEDAAN JARAK KEMAMPUAN MEMORY DIGIT PADA ANAK INTELLECTUAL DISABILITY SMPLB DENGAN ANAK NORMAL SMP Romadhon, Fathurrohman Rozhi; Nugroho, Setyadi; Dwi, Windiarti
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4656

Abstract

Intellectual disability (ID) is a disturbance in thinking function due to below average intelligence. Based on matter This child intellectual disability experience disruption of level intelligence wrong the only one process Study And remember, different from child normal Which can do process Study And remember better. This study aims to determine the difference in the distance between digit memory ability scores in children with intellectual disabilities from SMPLB and normal SMP children. The sampling technique was carried out by purposive sampling with 40 child respondents with 20 Intellectual Disabilities and 20 normal children. Data The collected data will be analyzed univariately and bivariately, with the Shapiro-Wilk normality test, then the homogeneity test with the independent t-test. The results obtained in this study were that the mean score of digit memory ability in children with Intellectual Disabilities from SMPLB from 20 respondents was 12.85, while the mean score of digit memory ability in normal children from SMP from 20 respondents was 16.70. So the difference in the mean distance of the memory digit score in children with Intellectual Disabilities in SMPLB and normal children in SMP is 3.85, where the average value of children with Intellectual Disabilities in SMPLB is lower than that of normal children in SMP. There is a difference in the distance between the ability of digit memory scores in children with mild intellectual disabilities in junior high schools with special needs and normal junior high school children whose scores are below the average, with a result of 3.85. ABSTRAKIntellectual disability (ID) atau disabilitas intelektual adalah terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata. Berdasarkan hal ini anak intellectual disability mengalami terganggunya tingkat kecerdasan yang salah satunya proses belajar dan mengingat, berbeda dengan anak normal yang dapat melakukan proses belajar dan mengingat lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jarak skor kemampuan memory digit pada anak intellectual disability SMPLB dengan anak normal SMP. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan 40 responden anak dengan 20 Intellectual Disability  dan 20 anak normal. Data yang terkumpul akan dianalisis secara univariat dan bivariat, dengan uji normalitas shapiro-wilk, selanjutnya uji homogenitas dengan independent t-test. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah mean skor kemampuan memory digit pada anak Intellectual Disability SMPLB dari 20 responden adalah 12,85, sedangkan mean skor kemampuan memory digit pada anak normal SMP dari 20 responden adalah 16,70. Jadi perbedaan jarak mean skor memory digit pada anak Intellectual Disability SMPLB dengan anak normal SMP adalah 3,85 yang dimana nilai rata-rata anak Intellectual Disability SMPLB lebih rendah daripada anak normal SMP. Terdapat perbedaan jarak kemampuan skor memory digit pada anak Intellectual Disability ringan SMPLB dengan anak normal SMP yang nilainya dibawah rata-rata didapatkan hasil 3,85.
ERA DIGITAL: MAMPUKAH GURU MEMBENTUK GENERASI MASA DEPAN? Zaskia, Adisty; Rahmawati, Tri Diah; Aljanah , Okta Hanifah; Abdurrahmansyah , Abdurrahmansyah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4657

Abstract

This study aims to evaluate the role of teachers in shaping the future generation in the digital era through a qualitative literature study approach. The digital era has transformed education, providing broad access to information and giving rise to new challenges such as the digital divide and data security. Teachers, as the main agents of change, are required not only to transfer knowledge, but also to equip students with 21st-century skills, including digital literacy, technology ethics, and social-emotional skills. This article was chosen because of its relevance in discussing the crucial role of teachers in the digital era. The results of the study indicate that teachers must be able to adapt to technology, act as learning facilitators, and instill ethical values ??in the use of technology. Improving the quality of education in the digital era requires the integration of technology ethics in learning and collaboration between teachers, students, and other stakeholders. With the wise and responsible use of technology, education in the digital era has the potential to produce a competent and characterful generation, ready to face future challenges. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran guru dalam membentuk generasi masa depan di era digital melalui pendekatan studi pustaka kualitatif. Era digital telah mentransformasi pendidikan, memberikan akses informasi yang luas serta memunculkan tantangan baru seperti kesenjangan digital dan keamanan data. Guru, sebagai agen utama perubahan, dituntut tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21, termasuk literasi digital, etika teknologi, dan keterampilan sosial-emosional. Artikel ini dipilih karena relevansinya dalam membahas peran krusial guru di era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi, bertindak sebagai fasilitator pembelajaran, dan menanamkan nilai-nilai etika dalam pemanfaatan teknologi. Peningkatan kualitas pendidikan di era digital memerlukan integrasi etika teknologi dalam pembelajaran serta kolaborasi antara guru, siswa, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan pemanfaatan teknologi yang bijak dan bertanggung jawab, pendidikan di era digital berpotensi menghasilkan generasi yang kompeten dan berkarakter, siap menghadapi tantangan masa depan.
STUDI PENGARUH TETAL BENANG PAKAN DAN NOMOR BENANG PAKAN TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU KEKUATAN SELIP JAHITAN KAIN DENIM KAPAS 100% Rumiyati, Valentina Sri Pertiwi; Putranto, Adhy Prastyo Eko; Wijayono, Andrian
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4682

Abstract

The purpose of this study was to determine the type of weft yarn count and weft yarn density that can be used to make denim fabric with quality that meets SNI 0560:2008 standards in terms of its seam slip strength properties. The yarn materials used in this study were Open-end Ne 16 yarn as the warp and three types of weft yarn: Open-end Ne 9, Open-end Ne 11, and Open-end Ne 13 yarn as the weft yarn. There were three variations of weft yarn density used in this study: 46 ends per inch, 50 ends per inch, and 54 ends per inch. In this study, the Rapier Picanol machine was used at the AK-Tekstil Solo Weaving Workshop to make denim fabric with a 2/1 twill weave construction. The slip strength properties of each sample produced in this study were tested using the SNI 13936-1:2010 standard (Textiles - Test method for slip resistance of yarn in woven fabric seams - Part 1: Fixed seam opening method) at the AK-Textile Solo Fabric Evaluation Laboratory. The results of the slip strength test of each sample were evaluated and compared with the quality requirements for the slip strength of denim fabric according to SNI 0560:2008. In this study, it was found that all variations of denim fabric construction that had been made could meet the quality requirements for the slip strength of seams according to SNI 0560:2008. The results showed that the higher the weft yarn number in a denim fabric construction, the higher the slip strength of the denim fabric. The effect of weft yarn density on the slip strength of seams was also found in this study. The higher the weft yarn density in a denim fabric construction, the higher the slip strength of the seams obtained. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis nomor benang pakan dan tetal benang pakan yang dapat digunakan untuk membuat kain denim dengan mutu yang memenuhi standar SNI 0560:2008 ditinjau dari sifat kekuatan selip jahitannya. Bahan benang yang digunakan pada penelitian ini yaitu benang Open-end Ne 16 sebagai lusi, serta tiga jenis benang Open-end Ne 9, Open-end Ne 11 dan Open-end Ne 13 sebagai benang pakan. Terdapat tiga variasi tetal benang pakan yang digunakan pada penelitian ini, yaitu 46 helai per inci, 50 helai per inci dan 54 helai per inci. Pada penelitian ini telah digunakan mesin Rapier Picanol di Workshop Pertenunan AK-Tekstil Solo untuk membuat kain denim dengan anyaman twill 2/1. Sifat kekuatan selip jahitan dari setiap sampel yang dihasilkan pada penelitian ini diuji dengan menggunakan standar SNI 13936-1:2010 (Tekstil – Cara uji ketahanan selip benang pada jahitan kain tenun – Bagian 1: Metoda bukaan jahitan tetap) di Laboratorium Evaluasi Kain AK-Tekstil Solo. Hasil uji kekuatan selip jahitan dari setiap sampel dievaluasi dan dibandingkan dengan syarat mutu kekuatan selip jahitan kain denim sesuai SNI 0560:2008. Pada penelitian ini telah ditemukan bahwa seluruh variasi konstruksi kain denim yang telah dibuat dapat memenuhi syarat mutu kekuatan selip jahitan sesuai dengan SNI 0560:2008. Hasil menunjukan bahwa semakin besar nomor benang pakan pada sebuah konstruksi kain denim, maka semakin besar kekuatan selip jahitan kain denim tersebut. Pengaruh tetal benang pakan terhadap kekuatan selip jahitan juga telah ditemukan pada penelitian ini. Semakin besar tetal benang pakan pada sebuah konstruksi kain denim, maka semakin besar pula kekuatan selip jahitan yang diperoleh.
STUDI PERBANDINGAN METODE KAPASITANSI DAN METODE PENGOLAHAN CITRA DIGITAL DALAM PENGUKURAN HAIRINESS PADA BENANG SPUN Murti, Wilda; Pradifta, Reski Alya; Wijayono, Andrian; Nurazizah, Verawati; Rusman, Fahmi Fawzy; Ikhsani, Nurfadilah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4703

Abstract

The objective of this study is to determine the relationship between the capacitance method and the digital image processing method in measuring the hairiness index of yarn, as well as to evaluate the potential of digital image processing as an alternative method for testing spun yarn hairiness. This study utilizes three types of yarn with counts of Nec 12, Nec 16, and Nec 24. Hairiness measurement is conducted using two methods: the capacitance method, based on the SNI ISO 16549:2010 standard (Textiles – Yarn Evenness and Similar Properties), utilizing the Textechno Covatest instrument, and the digital image processing method, employing a CMOS Dino-Lite camera and Java-based software. The digital image processing procedure consists of several stages, including yarn image acquisition, background segmentation and free fiber feature extraction, image conversion to binary format, quantitative analysis, and Hairiness index (HI) calculation. The hairiness index results from both methods are compared using linear regression analysis to determine their correlation. The findings indicate that the capacitance method and the digital image processing method exhibit a very strong relationship, with a coefficient of determination (R²) of 90.23%. This result suggests that the digital image processing method has significant potential as an alternative for measuring spun yarn hairiness. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara metode kapasitansi dan metode pengolahan citra digital dalam pengukuran hairiness index pada benang serta mengevaluasi kemungkinan metode pengolahan citra digital sebagai alternatif pengujian hairiness benang spun. Pada penelitian ini, digunakan tiga jenis benang dengan nomor Nec 12, Nec 16, dan Nec 24. Pengukuran hairiness  dilakukan dengan dua metode: metode kapasitansi berdasarkan standar SNI ISO 16549:2010 (Tekstil – Ketidakrataan Benang dan Sejenisnya) menggunakan alat Textechno Covatest, serta metode pengolahan citra digital dengan kamera CMOS Dino-Lite dan perangkat lunak berbasis pemrograman Java. Proses pengolahan citra digital dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu akuisisi citra benang, segmentasi latar belakang dan ekstraksi fitur serat bebas, konversi citra ke dalam format biner dan analisis kuantitatif dan perhitungan Hairiness index (HI). Hasil hairiness index dari kedua metode dibandingkan dengan analisis regresi linier untuk mengetahui hubungan antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kapasitansi dan metode pengolahan citra digital memiliki hubungan yang sangat kuat dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 90,23%. Nilai ini menunjukkan bahwa metode pengolahan citra digital memiliki potensi sebagai alternatif dalam pengukuran hairiness benang spun.
PENGARUH LINGKUNGAN DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTISME SPECTRUM DISORDER (ASD) UMUR 6-12 TAHUN DI SURAKARTA Syafiq, Muh.; Setyawan, Dodiet Aditya; Tirtawati, Dewi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4706

Abstract

This study aims to analyze the influence of environment and family support on the social interaction abilities of children with ASD aged 6-12 years in Surakarta. This research employed a quantitative method with a correlational design. The study sample consisted of 30 children with ASD enrolled in Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Surakarta and the Center for Disability Services and Inclusive Education (PLDPI) Surakarta. Data collection was conducted using a validated and reliable questionnaire covering environmental factors, family support, and social interaction. Data analysis was performed using the Spearman Rank statistical test. The study results indicated that 63.3% of respondents had a good environment, 56.7% received good family support, and 66.7% had social interaction in the moderate category. Hypothesis testing showed a significant relationship between the environment and social interaction (? = 0.002, r = 0.536) as well as between family support and social interaction (? = 0.013, r = 0.446), with a moderate strength and positive correlation. The findings suggest that the better the environment and family support, the better the social interaction abilities of children with ASD. Therefore, increasing family awareness and optimizing a supportive environment are essential to fostering the social development of children with ASD. Interventions involving parents, educators, and speech therapists are necessary to help children with ASD enhance their social skills and adapt to their surroundings. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan dan dukungan keluarga terhadap kemampuan interaksi sosial anak ASD usia 6-12 tahun di Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 30 anak ASD yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Surakarta dan Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (PLDPI) Surakarta. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, mencakup variabel lingkungan, dukungan keluarga, dan interaksi sosial. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Spearman Rank’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,3% responden memiliki lingkungan yang baik, 56,7% memperoleh dukungan keluarga yang baik, dan 66,7% memiliki interaksi sosial dalam kategori cukup. Uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lingkungan dengan interaksi sosial (? = 0,002, r = 0,536) serta dukungan keluarga dengan interaksi sosial (? = 0,013, r = 0,446), dengan kekuatan hubungan sedang dan arah hubungan positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin baik lingkungan dan dukungan keluarga, semakin baik pula kemampuan interaksi sosial anak ASD. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran keluarga dan optimalisasi lingkungan yang suportif untuk mendukung perkembangan sosial anak ASD. Intervensi yang melibatkan orang tua, pendidik, dan terapis wicara sangat diperlukan untuk membantu anak ASD dalam meningkatkan keterampilan sosial dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN Fadilah, Laili Nur; Istikomah, Nur; Afriantoni, Afriantoni
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4707

Abstract

This study, using a literature study method, examines the urgency and implementation of character education in the perspective of contemporary Islamic education. Islamic education strongly emphasizes fundamental moral principles for learners, aiming to form individuals who are moral, responsible, and disciplined according to the noble values ??of Islam. Literature analysis shows a close relationship between morality and science in Islam, where ethics is a guide for the application of science for the benefit. Character education is identified as a crucial component that requires holistic integration in the entire educational process, involving synergy between family, school, and society, in line with the views of Islamic figures such as Al-Ghazali and Ibn Khaldun. This study also highlights that although character education is effective in improving the quality of individuals and education, challenges such as educator readiness, curriculum, and the impact of modernity need to be addressed through a comprehensive strategy. It is concluded that character education is a vital element in developing strong intellectual and moral-spiritual awareness, as well as a potential solution to the moral degradation of society. ABSTRAKPenelitian ini, menggunakan metode studi pustaka, mengkaji urgensi dan implementasi pendidikan karakter dalam perspektif pendidikan Islam kontemporer. Pendidikan Islam sangat menekankan prinsip moral fundamental bagi pembelajar, bertujuan membentuk individu yang bermoral, bertanggung jawab, dan disiplin sesuai nilai-nilai luhur Islam. Analisis pustaka menunjukkan adanya keterkaitan erat antara moralitas dan sains dalam Islam, di mana etika menjadi panduan aplikasi sains demi kemaslahatan. Pendidikan karakter diidentifikasi sebagai komponen krusial yang memerlukan integrasi holistik dalam seluruh proses pendidikan, melibatkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, sejalan dengan pandangan tokoh Islam seperti Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun. Studi ini juga menyoroti bahwa meskipun pendidikan karakter efektif meningkatkan kualitas individu dan pendidikan, tantangan seperti kesiapan pendidik, kurikulum, dan dampak modernitas perlu diatasi melalui strategi komprehensif. Disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah elemen vital untuk mengembangkan intelektual dan kesadaran moral-spiritual yang kuat, serta solusi potensial bagi degradasi moral masyarakat.
KEBIJAKSANAAN MAHASISWA DENGAN IMPOSTOR SYNDROME: PERAN RESILIENSI AKADEMIK DAN HARGA DIRI Sahrani, Riana; Hungsie, Olivia Grace
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4850

Abstract

Individual development from birth to adulthood involves different complexities and responsibilities at each stage. Adolescence, as a crucial transition to adulthood, emphasizes the importance of readiness to face the world of work. In this context, students, as part of the adolescent group, have the responsibility to develop academic knowledge and abilities. Optimal academic achievement is not only beneficial for students but also for society. This study focuses on the relationship between academic resilience and wisdom in high-achieving students who experience impostor syndrome, as well as the role of self-esteem in this dynamic. This quantitative study with a correlational design involved 379 high-achieving students ranging in age from 18 to 26 years. Data were collected using the Academic Resilience Scale, Rosenberg Self-esteem Scale, Clance Impostor Phenomenon Scale, and Brief Self-Assessed Wisdom Scale. The results showed that academic resilience had a significant positive contribution to wisdom in students with impostor syndrome. In contrast, self-esteem was not found to contribute significantly to wisdom in the same group of students. These findings underscore the importance of academic resilience in fostering wisdom among high-achieving students who face the challenges of impostor syndrome. ABSTRAKPerkembangan individu dari lahir hingga dewasa melibatkan kompleksitas dan tanggung jawab yang berbeda pada setiap tahapnya. Masa remaja, sebagai transisi krusial menuju kedewasaan, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi dunia kerja. Dalam konteks ini, mahasiswa, sebagai bagian dari kelompok remaja, memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan akademik. Prestasi akademik yang optimal tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa tetapi juga bagi masyarakat. Penelitian ini berfokus pada hubungan antara resiliensi akademik dan kebijaksanaan pada mahasiswa berprestasi tinggi yang mengalami impostor syndrome, serta peran harga diri dalam dinamika ini. Studi kuantitatif dengan desain korelasional ini melibatkan 379 mahasiswa berprestasi tinggi dengan rentang usia 18 hingga 26 tahun. Data dikumpulkan menggunakan Skala Resiliensi Akademik, Rosenberg Self-esteem Scale, Clance Impostor Phenomenon Scale, dan Brief Self-Assessed Wisdom Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi akademik memiliki kontribusi positif yang signifikan terhadap kebijaksanaan pada mahasiswa dengan impostor syndrome. Sebaliknya, harga diri tidak ditemukan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kebijaksanaan pada kelompok mahasiswa yang sama. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya resiliensi akademik dalam menumbuhkan kebijaksanaan di kalangan mahasiswa berprestasi yang menghadapi tantangan impostor syndrome.
INTERAKSI RESIPROKAL OTAK DAN PERILAKU PADA PERKEMBANGAN ANAK Santana, Selly Aprilia; Kusumah, Tyara Intana Putri; Purwati, Purwati
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4851

Abstract

The golden period in early childhood is a critical phase in the development of the child's brain, where the neural foundation is intensively formed through experience, social interaction, and parenting patterns. This study aims to examine the reciprocal relationship between brain development and behavior in early childhood and how parenting patterns affect these dynamics. The method used is a literature study with a descriptive qualitative approach, carried out through data collection and secondary data analysis from relevant scientific journal articles. The results of the study indicate that brain function structures such as the prefrontal cortex, amygdala, and hippocampus have an important role in the development of children's behavior and emotional regulation. The development of the prefrontal cortex contributes to the ability to manage emotions, focus attention, and demonstrate children's behavior that is in accordance with social norms. Maladaptive behavior in early childhood that arises due to negative parenting patterns can interfere with and damage the development of brain tissue, especially in the memory and self-control centers, thereby inhibiting healthy brain circuits in children. In conclusion, there is a reciprocal relationship between the brain and children's behavior, where positive, responsive, and consistent parenting plays a major role in shaping healthy neural development in early childhood. This study emphasizes the importance of parenting intervention approaches that support optimal child brain development. ABSTRAKPeriode keemasan pada anak usia dini merupakan fase kritis dalam perkembangan otak anak, di mana fondasi neural dibentuk secara intensif melalui pengalaman, interaksi sosial, dan pola pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan resiprokal antara perkembangan otak dan perilaku anak usia dini dan bagaimana pola pengasuhan memengaruhi dinamika tersebut. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dilakukan melalui pengumpulan data dan análisis data sekunder dari artikel jurnal ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa struktur fungsi otak seperti prefontal cortex, amigdala, dan hippocampus memiliki peran penting dalam perkembangan perilaku dan regulasi emosi anak. Perkembangan prefontal cortex berkontribusi terhadap kemampuan mengelola emosi, fokus perhatian, serta menunjukkan perilaku anak yang sesuai dengan norma sosial. Perilaku maladaptif anak usia dini yang muncul akibat pola asuh negatif dapat mengganggu dan merusak perkembangan jaringan otak terutama pada pusat memori dan pengendalian diri, sehingga menghambat sirkuit otak anak yang sehat. Kesimpulannya, terdapat hubungan timbal balik antara otak dan perilaku anak, di mana pengasuhan yang positif, responsif, dan konsisten sangat berperan dalam membentuk perkembangan neural yang sehat pada anak usia dini. Penelitian ini menekankan pentingnya intervensi pendekatan pengasuhan yang mendukung perkembangan otak anak secara optimal.  
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MOBILE ASSISTED LANGUAGE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KOSAKATA ANAK INTELLECTUAL DISABILITY DI SURAKARTA Taruna, Ramadhan Harja; Sudrajat, Kiyat; Sutanto, Alfiani Vivi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4852

Abstract

Intellectual disabilities are children who have a level of intelligence that is significantly below the average of children of the same age and accompanied by an inability to adapt to behavior that appears at the developmental stage. Children with intellectual disabilities or intellectual disabilities have limitations in learning, difficulty concentrating, perceptual disorders, and a tendency to forget. To determine the effectiveness of using MALL to improve vocabulary in children with Intellectual Disabilities. This research method includes quasi-experimental research with a quantitative research type. The sampling technique was carried out by purposive sampling with 20 child respondents with Intellectual Disabilities. Data The data collected will be analyzed univariately and bivariately, with the Shapiro-Wilk normality test, then the homogeneity test with the independent t-test, and the hypothesis test using the Ngain Score Test. The results of the study revealed that there was a difference in post-test values ??which before treatment had a mean (average) of 27.15 and after treatment had a mean (average) of 32.70. For the minimum value before treatment is 15 and after treatment is 25, while the maximum value before treatment is 37 and after treatment is 38. Based on the results of the Paired T-Test, the p value (Sig.) Is 0.000 where this value is smaller than the p value <0.05 so it can be concluded that there is an effectiveness of Using Mobile Assisted Language Learning to Improve the Vocabulary of Children with Intellectual Disabilities. There is an effectiveness of Using Mobile Assisted Language Learning to Improve the Vocabulary of Children with Intellectual Disabilities. ABSTRAKDisabilitas intelektual adalah anak-anak yang memiliki tingkat intelegensi yang signifikan di bawah rata-rata anak seusianya dan disertai dengan ketidakmampuan beradaptasi terhadap perilaku yang muncul pada tahap perkembangan. Anak tunagrahita atau disabilitas intelektual memiliki keterbatasan dalam belajar, kesulitan untuk memusatkan perhatian, kelainan persepsi, dan kecenderungan untuk lupa. Untuk mengetahui efektifitas penggunaan MALL untuk meningkatkan kosakata pada anak Intellectual Disability. Metode penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu dengan jenis penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan 20 responden anak dengan Intellectual Disability. Data Data yang terkumpul akan dianalisis secara univariat dan bivariat, dengan uji normalitas shapiro-wilk, selanjutnya uji homogenitas dengan independent t-test, serta uji hipotesis menggunakan Uji Ngain Score. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan nilai post-test yang sebelum perlakuan memiliki mean (rata-rata) yaitu 27.15 dan setelah perlakuan memiliki mean (rata-rata) yaitu 32.70. Untuk nilai minimum sebelum perlakuan adalah 15 dan sesudah perlakuan yaitu 25, sedangkan nilai maksimum sebelum perlakuan adalah 37 dan sesudah perlakuan adalah 38. Berdasarkan hasil Uji Paired T-Test , maka didapatkan nilai p (Sig.) sebesar 0,000 dimana nilai ini lebih kecil dari nilai p<0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat efetivitas Penggunaan Mobile Assisted Language Learning untuk Meningkatkan Kosakata Anak Intellectual Disability. Terdapat efetivitas Penggunaan Mobile Assisted Language Learning untuk Meningkatkan Kosakata Anak Intellectual Disability.