cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 420 Documents
MODERASI KEBIJAKSANAAN DALAM HUBUNGAN IDENTITAS DIGITAL DAN PERBANDINGAN SOSIAL PADA GENERASI Z PENGGUNA LINKEDIN Sahrani, Riana; Setiawan, Cherry Delfina; Chandra, Callista; Harto, Ivania Rachel; Putri, Raisya Anaya
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8256

Abstract

ABSTRACT Digital identity is a self-representation built through online activities and has become a crucial aspect for Generation Z, who grew up amidst technological advancements. One widely used platform is LinkedIn, which functions not only to expand professional networks but also as a means of building self-image. However, exposure to other people's profiles on LinkedIn, which tend to be perceived as better and more attractive than one's own self-image, can trigger social comparison, potentially reducing an individual's psychological well-being. This study aims to examine the relationship between digital identity and social comparison among Generation Z LinkedIn users, as well as the moderating role of wisdom in this relationship. This study used a quantitative method, with 404 Generation Z LinkedIn employee participants aged 18–25 years old. The instruments used included the Digital Identity Scale to measure digital identity, the IOWA Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to measure social comparison, and the Brief Self-Assessed Wisdom Scale (BSAWS) to measure wisdom. Data analysis was conducted using correlation tests and multiple linear regression. The results showed that digital identity had a positive and significant effect on social comparison (? = 0.711, p < 0.001). Meanwhile, wisdom did not significantly moderate the relationship (p = 0.608). Additional findings showed significant differences in wisdom based on age and employment status, but not by gender. ABSTRAK Digital identity (identitas digital) merupakan representasi diri yang dibangun melalui aktivitas daring dan menjadi aspek penting bagi Generasi Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi. Salah satu platform yang banyak digunakan adalah LinkedIn, yang difungsikan bukan hanya untuk memperluas jaringan kerja profesional tetapi juga sebagai sarana pembentukan citra diri. Namun, paparan terhadap profil orang lain di media sosial LinkedIn, yang cenderung dianggap lebih baik dan menarik dibandingkan dengan citra diri sendiri, dapat memicu social comparison (perbandingan sosial) yang berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara identitas digital dan perbandingan sosial pada Generasi Z pengguna LinkedIn, serta menguji peran moderasi wisdom (kebijaksanaan) dalam hubungan tersebut. Metode penelitian ini adalah kuantitatif, dengan responden 404 partisipan karyawan Generasi Z pengguna LinkedIn, berusia 18–25 tahun. Instrumen yang digunakan meliputi Digital Identity Scale untuk mengukur identitas digital, IOWA Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur perbandingan sosial, serta Brief Self-Assessed Wisdom Scale (BSAWS) untuk mengukur kebijaksanaan. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap perbandingan sosial (? = 0.711, p < 0.001). Sementara itu, kebijaksanaan tidak memoderasi hubungan tersebut secara signifikan (p = 0.608). Temuan tambahan menunjukkan perbedaan kebijaksanaan yang signifikan berdasarkan usia dan status pekerjaan, namun tidak berdasarkan jenis kelamin.
TRANSFORMASI DIGITAL DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN: PENERAPAN SISTEM AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI PADA UMKM Ariningrum, Hardini; Lisa, Repa Anty Dwi; Kurniawati, Septi; Nadia, Silva
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8260

Abstract

ABSTRACT Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a strategic role in supporting the national economy; however, many still encounter challenges related to inefficient and insufficiently transparent financial management practices. The acceleration of digital transformation has encouraged MSMEs to adopt information technology–based accounting systems as a means of improving the quality of financial reporting and ensuring business sustainability. Nevertheless, limitations in digital literacy, human resources, and access to technology have resulted in suboptimal utilization of digital accounting systems among MSMEs. This study aims to analyze the implementation of digital accounting information systems in MSMEs by examining the benefits gained as well as the challenges encountered during the adoption process. The research employs a systematic literature review of relevant scholarly journal articles, using a narrative synthesis approach to identify key patterns related to digital-based financial management in MSMEs. The findings indicate that the adoption of digital accounting systems contributes to greater efficiency in transaction recording, improved accuracy of financial statements, and enhanced financial transparency, which collectively support more effective business decision-making. However, implementation remains constrained by limited technological understanding, initial investment costs, and insufficient training. This study concludes that digital accounting systems hold significant potential for improving the quality of financial management in MSMEs, yet successful implementation requires continuous training, structured assistance, and more equitable access to technology. ABSTRAK Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian nasional, namun masih dihadapkan pada permasalahan pengelolaan keuangan yang belum efisien dan kurang transparan. Perkembangan transformasi digital mendorong UMKM untuk mengadopsi sistem akuntansi berbasis teknologi informasi sebagai upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan dan keberlanjutan usaha. Kendati demikian, keterbatasan literasi digital, sumber daya manusia, serta akses teknologi menyebabkan pemanfaatan sistem akuntansi digital belum optimal di kalangan UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan sistem informasi akuntansi digital pada UMKM dengan menelaah manfaat yang dihasilkan serta hambatan yang dihadapi dalam proses implementasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap artikel jurnal ilmiah yang relevan, dengan pendekatan sintesis naratif untuk mengidentifikasi pola temuan utama terkait pengelolaan keuangan UMKM berbasis digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan sistem akuntansi digital berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi pencatatan transaksi, akurasi laporan keuangan, serta transparansi informasi keuangan yang mendukung pengambilan keputusan usaha secara lebih tepat. Namun demikian, implementasi sistem tersebut masih menghadapi kendala berupa rendahnya pemahaman teknologi, biaya investasi awal, dan keterbatasan pelatihan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem akuntansi digital memiliki potensi signifikan dalam memperbaiki kualitas pengelolaan keuangan UMKM, tetapi keberhasilan penerapannya memerlukan dukungan pelatihan berkelanjutan, pendampingan, serta pemerataan akses teknologi.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS AISYIYAH YOGYAKARTA Bukhori, Sabrina; Ariyanto, Mustaqim Setyo
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8272

Abstract

Students often face various academic and non-academic demands that have the potential to trigger stress and reduce their subjective well-being or life satisfaction. Although emotional intelligence theoretically plays an important role in managing psychological stress, specific research on its dynamics in Psychology students at Aisyiyah University Yogyakarta still needs to be explored further. This study aims to empirically examine the relationship between emotional intelligence and subjective well-being in active students in their third, fifth, and seventh semesters. Using a quantitative approach with a correlational design, the study involved 112 respondents selected through cluster random sampling. Data were collected using an online questionnaire based on Goleman's emotional intelligence dimensions and Diener's well-being aspects, then analyzed using the Pearson Product Moment correlation test. The analysis showed a correlation coefficient (r) of 0.964 with a significance level of 0.000, indicating a very strong and significant positive relationship between the two variables. These findings conclude that the greater a student's ability to recognize and manage their emotions, the higher their perceived level of subjective well-being. Therefore, integrating emotional intelligence development into the academic environment is highly recommended to support student mental health. ABSTRAK Mahasiswa kerap menghadapi berbagai tuntutan akademik dan nonakademik yang berpotensi memicu stres serta menurunkan subjective well-being atau kepuasan hidup mereka. Meskipun kecerdasan emosi secara teoritis berperan penting dalam mengelola tekanan psikologis, penelitian spesifik mengenai dinamikanya pada mahasiswa Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta masih perlu digali lebih dalam. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara kecerdasan emosi dengan subjective well-being pada mahasiswa aktif semester 3, 5, dan 7. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, penelitian melibatkan 112 responden yang dipilih melalui teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring berbasis dimensi kecerdasan emosi Goleman dan aspek kesejahteraan Diener, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,964 dengan signifikansi 0,000, yang mengindikasikan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara kedua variabel. Temuan ini menyimpulkan bahwa semakin tinggi kemampuan mahasiswa dalam mengenali dan mengelola emosinya, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan subjektif yang dirasakan. Oleh karena itu, integrasi pengembangan kecerdasan emosi dalam lingkungan akademik sangat direkomendasikan untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa.  
IDEOLOGI DALAM MAJALAH ANAK DIGITAL Shohiburrida, Muhammad
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8306

Abstract

Digital children's magazines have now transformed into strategic socialization agents that not only entertain but also instill certain values ??and ideologies to shape children's social cognition and character. This study aims to deconstruct the ideological content of Bobo Digital magazine, focusing on identifying the ideas constructed, the mechanisms of representation, and the discursive strategies used to influence readers. Using a critical qualitative paradigm through Teun A. Van Dijk's Critical Discourse Analysis model, this study examines textual and visual data from the fiction and nonfiction sections throughout the 2020 edition. The findings indicate that the magazine consistently champions the ideology of multiculturalism, environmental conservation, health awareness (COVID-19), and social ethics. Operationally, this ideology is manifested through techniques of representation of reality and misrepresentation (such as marginalizing negative behavior) to assert moral boundaries. Discursive strategies are systematically implemented through macrostructure (thematic), superstructure (schematic), and microstructure (semantic, syntactic, stylistic, and rhetorical). It is concluded that Bobo Digital acts as a subtle instrument of hegemony that directs children's thinking patterns to align with the norms and expectations of the adult world. ABSTRAK Majalah anak digital kini bertransformasi menjadi agen sosialisasi strategis yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga menanamkan nilai dan ideologi tertentu guna membentuk kognisi sosial serta karakter anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi muatan ideologis dalam majalah Bobo Digital, dengan fokus pada identifikasi gagasan yang dibangun, mekanisme representasi, serta strategi diskursif yang digunakan untuk memengaruhi pembaca. Menggunakan paradigma kualitatif kritis melalui pisau bedah Analisis Wacana Kritis model Teun A. Van Dijk , penelitian ini mengkaji data tekstual dan visual dari rubrik fiksi serta nonfiksi sepanjang edisi tahun 2020. Temuan menunjukkan bahwa majalah ini secara konsisten memperjuangkan ideologi multikulturalisme, pelestarian lingkungan, kesadaran kesehatan (Covid-19), serta etika sosial. Secara operasional, ideologi tersebut dimanifestasikan melalui teknik representasi realitas dan misrepresentasi (seperti marginalisasi perilaku negatif) untuk menegaskan batasan moral. Strategi pewacanaan diterapkan secara sistematis melalui elemen makrostruktur (tematik), superstruktur (skematik), dan mikrostruktur (semantik, sintaksis, stilistik, retoris). Disimpulkan bahwa Bobo Digital berperan sebagai instrumen hegemoni halus yang mengarahkan pola pikir anak agar selaras dengan norma dan ekspektasi dunia orang dewasa.  
TREN DAN PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN SEKTOR TEKSTIL DAN GARMEN BEI SEBELUM, KETIKA, DAN SESUDAH COVID-19 Pegu, Suwirto K.; Selvi, Selvi; Amali, Lanto Miriatin
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8364

Abstract

ABSTRACT The textile and garment industry is one of the manufacturing sectors most severely affected by the global economic crisis caused by the Covid 19 pandemic, as reflected in a significant decline in financial performance. This study aims to analyze the comparative financial performance of textile and garment subsector companies listed on the Indonesia Stock Exchange before, during, and after the Covid 19 pandemic. Financial performance is measured using Working Capital to Total Assets (WCTA), Debt to Equity Ratio (DER), Total Asset Turnover (TATO), and Operating Profit Margin (OPM). This study employs a quantitative descriptive comparative approach using secondary data in the form of companies annual financial statements for the 2018 to 2023 period. The results indicate that the Covid 19 pandemic had a significant impact on the decline in liquidity, asset efficiency, and profitability, as evidenced by decreases in WCTA and TATO and an increase in DER during the pandemic period, while OPM showed fluctuations reflecting instability in operating profit. In the post pandemic period, several companies began to show signs of performance improvement, although the recovery was not evenly distributed across the subsector. Overall, this study confirms that the impact of the pandemic on the financial performance of textile and garment companies is heterogeneous and strongly influenced by firms ability to manage capital structure and adapt to changing market conditions. ABSTRAK Industri tekstil dan garmen merupakan salah satu sektor manufaktur yang paling terdampak oleh krisis ekonomi global akibat pandemi Covid 19, yang tercermin dari penurunan kinerja keuangan secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kinerja keuangan perusahaan subsektor tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebelum, selama, dan setelah pandemi Covid 19. Kinerja keuangan diukur menggunakan rasio Working Capital to Total Assets (WCTA), Debt to Equity Ratio (DER), Total Asset Turnover (TATO), dan Operating Profit Margin (OPM). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif komparatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan periode 2018 hingga 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandemi Covid 19 berdampak signifikan terhadap penurunan likuiditas, efisiensi aset, dan profitabilitas perusahaan, yang ditandai oleh penurunan WCTA dan TATO serta peningkatan DER selama periode pandemi, sementara OPM menunjukkan fluktuasi yang mencerminkan ketidakstabilan laba operasional. Pasca pandemi, sebagian perusahaan mulai menunjukkan perbaikan kinerja, namun pemulihan belum merata di seluruh subsektor. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa dampak pandemi terhadap kinerja keuangan perusahaan tekstil dan garmen bersifat heterogen dan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modal serta beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar.
PERAN WEARABLE DEVICES DALAM PEMANTAUAN TANDA VITAL IBU HAMIL UNTUK DETEKSI DINI KOMPLIKASI KEHAMILAN : SYSTEMATIC REVIEW Windarena, Diyas; Rochmaniah, Dwi Ardani; Anggraini, Anita Dewi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8419

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the Integrated Recording and Reporting System of Community Health Centers (SP2TP) at the Batanghari District Health Office, with particular emphasis on data management and system integration. The availability of accurate, timely, and integrated data is a fundamental requirement for supporting evidence-based decision-making in the health sector. However, preliminary findings indicate that SP2TP reporting at the district level remains largely manual, despite the adoption of digital applications such as E-Puskesmas at the primary healthcare level. This research employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and document review. Data analysis followed an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that manual reporting mechanisms lead to delays, data inconsistencies, duplicated workloads, and limited utilization of health data for timely program evaluation. The absence of a centralized database and limited system interoperability between Community Health Centers and the District Health Office further exacerbate data fragmentation. To address these challenges, this study proposes an integrated SP2TP reporting model supported by a centralized database, real-time dashboards, automated data validation, and integration with E-Puskesmas. The implementation of this model is expected to significantly improve reporting efficiency and data quality. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) di Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, khususnya terkait pengelolaan data dan tingkat integrasi sistem informasi kesehatan. Ketersediaan data yang akurat, tepat waktu, dan terintegrasi merupakan prasyarat utama dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti di sektor kesehatan. Namun, temuan awal menunjukkan bahwa pelaporan SP2TP di tingkat Dinas Kesehatan masih dilakukan secara manual, meskipun Puskesmas telah menggunakan aplikasi digital seperti E-Puskesmas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pelaporan manual menyebabkan keterlambatan pelaporan, inkonsistensi data, duplikasi pekerjaan, serta keterbatasan pemanfaatan data untuk evaluasi program secara tepat waktu. Ketiadaan basis data terpusat dan rendahnya interoperabilitas sistem antara Puskesmas dan Dinas Kesehatan memperparah fragmentasi data. Sebagai solusi, penelitian ini mengusulkan model pelaporan SP2TP terintegrasi berbasis basis data terpusat, dashboard real time, validasi data otomatis, serta integrasi dengan E-Puskesmas. Implementasi model ini berpotensi meningkatkan efisiensi waktu pelaporan dan kualitas data secara signifikan.
SKRINING KESEHATAN MENTAL PADA IBU RUMAH TANGGA DI DESA UBU RAYA KABUPATEN SUMBA BARAT Kadiwano, Dwi Wahyuni Ina; Anakaka, Dian Lestari; Syamruth, Theodora Takalapeta Yendris Krisno
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8862

Abstract

Housewives are a group vulnerable to mental health disorders due to the dual burden of domestic work and economic pressures. However, empirical data on this condition in rural areas is limited. This study aimed to conduct mental health screening among housewives in Ubu Raya Village, West Sumba Regency. Using a quantitative approach with a descriptive survey design, the study involved 384 respondents, who were assessed using the WHO Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20). Key findings indicated a high prevalence rate, with 77.9% of respondents indicating mental health problems, with depressive symptoms being the most predominant clinical manifestation (96.9%). Factor analysis indicated that financial stress due to low income (below Rp1,000,000) was the primary determinant of these disorders. Furthermore, the highest psychological vulnerability was found among middle-aged (41-60 years old), mothers with dual roles (farmers/employees), and those who were single or divorced. This study concluded that economic instability and the complexity of domestic roles were strongly correlated with high rates of mental disorders in this population, necessitating integrated psychosocial interventions. ABSTRAK Ibu rumah tangga merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental akibat beban ganda domestik dan himpitan ekonomi, namun data empiris mengenai kondisi ini di wilayah pedesaan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining kesehatan mental pada ibu rumah tangga di Desa Ubu Raya, Kabupaten Sumba Barat. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif, penelitian melibatkan 384 responden yang diukur menggunakan instrumen Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20) dari WHO. Temuan utama menunjukkan angka prevalensi yang tinggi, di mana 77,9% responden terindikasi memiliki masalah kesehatan mental, dengan gejala depresi sebagai manifestasi klinis yang paling dominan (96,9%). Analisis faktor menunjukkan bahwa stres finansial akibat pendapatan rendah (di bawah Rp1.000.000) menjadi determinan utama gangguan tersebut. Selain itu, kerentanan psikologis tertinggi ditemukan pada kelompok usia paruh baya (41-60 tahun), ibu dengan peran ganda (petani/pegawai), serta mereka yang berstatus belum menikah atau bercerai. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidakstabilan ekonomi dan kompleksitas peran domestik berkorelasi kuat dengan tingginya gangguan mental pada populasi ini, sehingga diperlukan intervensi psikososial yang terintegrasi.  
HUBUNGAN CHALLENGE STRESS DAN HINDRANCE STRESS TERHADAP PRESENTEEISM PADA KARYAWAN GENERASI Z Callista, Ignacia; Zamralita, Zamralita; Putra, Ismoro Reza Prima
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8863

Abstract

The phenomenon of presenteeism, the behavior of continuing to work despite less than optimal physical or psychological condition, poses a significant challenge to the well-being of Generation Z employees, known for their adaptability but vulnerability to stress. This study focuses on analyzing the relationship between two dimensions of work stress—challenge stress (growth-inducing stress) and hindrance stress (inhibiting stress), and levels of presenteeism using Cavanaugh's theoretical framework. Using a quantitative approach using survey methods, data were collected from 209 Generation Z employees in Indonesia using the Challenge and Hindrance-related Self-Reported Stress Scale (C-HSS) and the Job Stress-Related Presenteeism Scale (JSRPS). Statistical analysis revealed the crucial finding that challenge stress significantly negatively correlated with presenteeism, meaning constructive work challenges actually decreased the likelihood of unproductive attendance, while hindrance stress demonstrated a significant positive relationship that triggered this behavior. Additional findings highlighted variations in levels of presenteeism across departments, with divisions with high administrative burdens, such as Accounting, showing the highest levels. This study concludes that effective stress management should focus on increasing meaningful work challenges and minimizing bureaucratic barriers to optimize the productivity and mental health of young workers. ABSTRAK Fenomena presenteeism, yakni perilaku tetap bekerja meski dalam kondisi fisik atau psikologis yang kurang prima, menjadi tantangan signifikan bagi kesejahteraan karyawan Generasi Z yang dikenal adaptif namun rentan terhadap tekanan. Penelitian ini berfokus pada analisis hubungan antara dua dimensi stres kerja, yaitu challenge stress (stres pemicu pertumbuhan) dan hindrance stress (stres penghambat), terhadap tingkat presenteeism dengan menggunakan kerangka teori Cavanaugh. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode survei, data dihimpun dari 209 karyawan Generasi Z di Indonesia menggunakan instrumen Challenge and Hindrance-related Self-Reported Stress Scale (C-HSS) dan Job Stress-Related Presenteeism Scale (JSRPS). Analisis statistik mengungkapkan temuan krusial bahwa challenge stress berkorelasi negatif secara signifikan dengan presenteeism, yang berarti tantangan kerja konstruktif justru menurunkan kecenderungan hadir tanpa produktivitas, sedangkan hindrance stress menunjukkan hubungan positif signifikan yang memicu perilaku tersebut. Temuan tambahan menyoroti variasi tingkat presenteeism antar departemen, di mana divisi dengan beban administrasi tinggi seperti Akuntansi menunjukkan tingkat tertinggi. Studi ini menyimpulkan bahwa manajemen stres yang efektif harus berfokus pada peningkatan tantangan kerja yang bermakna dan meminimalkan hambatan birokrasi untuk mengoptimalkan produktivitas serta kesehatan mental tenaga kerja muda.
PERAN CYBERLOAFING TERHADAP DIGITAL WELL- BEING PADA KARYAWAN GENERASI Z Djaja, Margaretha Sabda; Zamralita, Zamralita; Putra, Ismoro Reza Prima
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8864

Abstract

The rapid development of digital technology has brought significant changes to the workplace, especially for Generation Z employees. Despite the benefits, the high intensity of digital technology use has the potential to cause psychological stress that can affect employees' digital well-being. One way employees cope with this is through cyberloafing, the use of the internet at work for personal purposes. This study aims to determine the relationship between cyberloafing and digital well-being among Generation Z employees. This study used a non-experimental quantitative method with a correlational approach. The study participants consisted of 213 active Generation Z employees with at least one year of work experience who cyberloafed for a maximum duration of 75 minutes per day. The measurement instruments used were the Cyberloafing Scale and the Digital Well-being Scale, adapted into Indonesian. The results showed a significant positive relationship between cyberloafing and digital well-being (r = 0.286; p < 0.001). Therefore, it can be said that cyberloafing, when done within reasonable limits, can serve as a coping mechanism to reduce work stress arising from the high intensity of digital technology use in the workplace. However, excessive cyberloafing can negatively impact physical health and work productivity. Therefore, it is important for organizations to create a work environment with a balanced use of digital technology. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa perubahan signifikan dalam dunia kerja, terutama bagi karyawan Generasi Z. Terlepas dari manfaat yang bisa didapatkan, tingginya intensitas penggunaan teknologi digital berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang dapat memengaruhi tingkat digital well-being karyawan. Salah satu cara yang dilakukan karyawan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cyberloafing, penggunaan internet di tempat kerja untuk kepentingan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberloafing dan digital well-being pada karyawan Generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan korelasional. Partisipan penelitian ini terdiri dari 213 karyawan Generasi Z yang aktif bekerja dengan pengalaman bekerja minimal selama 1 tahun, serta melakukan cyberloafing dengan durasi maksimal 75 menit per hari. Alat ukur yang digunakan adalah Cyberloafing Scale dan Digital Well-being Scale yang telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara cyberloafing dan digital well-being (r = 0,286; p < 0,001). Maka dapat dikatakan bahwa cyberloafing yang dilakukan dalam batas wajar dapat berfungsi sebagai mekanisme coping untuk mengurangi stres kerja yang muncul akibat tingginya intensitas penggunaan teknologi digital di lingkungan kerja. Namun, cyberloafing yang dilakukan secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menciptakan lingkungan kerja dengan penggunaan teknologi digital yang seimbang.
OPTIMASI SUHU PADA PROSES SEAM SEALING UNTUK MENINGKATKAN KINERJA TAHAN AIR PADA JAKET WATERPROOF Murti, Wilda; Hanafi, Andhi Sukma; Noviana, Kamelia Yogi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8865

Abstract

The seam sealing process is a crucial stage in the production of waterproof garments, serving to close stitch holes and prevent water penetration. However, the quality of the seam seal highly depends on process parameters such as temperature, pressure, and machine speed. This study investigates the effect of sealing temperature variation on the waterproof performance of seam seals using two different adhesive tapes. Two fabric samples were tested: Sample A (polyurethane–polyester blended tape) and Sample B (pure polyester tape). The tests were conducted following the AATCC 127:2022 standard using a Hydrostatic Pressure Tester with water at 21 ± 2°C and a pressure increase rate of 60 mbar/min; the hydrostatic head value (mmH?O) was recorded when the first three water droplets appeared on the dry side of the fabric. In addition to the supplier’s recommended temperature (480°C), sealing temperatures ranging from 230°C to 500°C were applied to determine the optimal temperature. The results showed that Sample A maintained stable waterproof performance across a wider temperature range (260–470°C), achieving the highest value of 9812.71 mmH?O at 470°C. In contrast, Sample B reached its peak value of 5710.41 mmH?O at 410°C and exhibited greater sensitivity to temperature changes. These findings indicate that the tape composition (presence of polyurethane) and the precise selection of sealing temperature are key factors in achieving optimal waterproof seam quality. Further research is recommended to optimize process parameters (temperature, pressure, and contact time) and to evaluate long-term durability for waterproof garment manufacturing applications. ABSTRAK Proses seam sealing merupakan tahap penting dalam pembuatan pakaian tahan air (waterproof jacket) yang berfungsi menutup celah jahitan agar tidak tembus air. Namun, kualitas hasil seam seal sangat bergantung pada pengaturan parameter proses seperti suhu, tekanan, dan kecepatan mesin. Penelitian ini menelaah pengaruh variasi suhu penyegelan terhadap kekedapan air sambungan jahitan (seam seal) pada dua jenis sampel kain menggunakan pita perekat tape berbeda. Dua sampel yang diuji adalah: Sampel A (tape campuran poliuretan–poliester) dan Sampel B (tape poliester murni). Pengujian dilakukan berdasarkan standar AATCC 127:2022 dengan Hydrostatic Pressure Test pada kondisi air 21 ± 2°C dan laju peningkatan tekanan 60 mbar/menit; nilai hydrostatic head (mmH?O) dicatat ketika muncul tiga tetes pertama pada sisi kering kain. Selain pengujian pada suhu rekomendasi supplier (480°C), dilakukan variasi suhu dari 230°C sampai 500°C untuk menentukan suhu optimal. Hasil menunjukkan bahwa Sampel A mempertahankan kekedapan air yang stabil pada rentang luas (260–470°C) dengan nilai tertinggi 9812,71 mmH?O pada 470°C, sedangkan Sampel B menunjukkan nilai puncak 5710,41 mmH?O pada 410°C dan performa yang lebih sensitif terhadap perubahan suhu. Temuan ini mengindikasikan bahwa komposisi tape (keberadaan poliuretan) dan penentuan suhu penyegelan yang tepat merupakan faktor kunci dalam menghasilkan seam seal yang kedap air. Rekomendasi pengembangan meliputi optimasi parameter proses (suhu, tekanan, waktu kontak) dan uji ketahanan jangka panjang untuk aplikasi manufaktur pakaian tahan air.