cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 463 Documents
PENGARUH BELANJA DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA PARIAMAN Habibani, Rhaysya Admmi; Asnil, Asnil; Frinaldi, Aldri; Putri, Nora Eka
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.7823

Abstract

Regional expenditure is one of the main fiscal instruments of local governments that plays a crucial role in driving economic development and improving public welfare. Through effective and efficient allocation of public budgets, local governments are expected to strengthen local economic capacity and enhance the performance of productive sectors. This study aims to analyze the effect of regional expenditure on economic growth in Pariaman City during the period 2015–2023. The study employs a quantitative approach using a simple linear regression method, in which the independent variable is total regional expenditure, and the dependent variable is economic growth measured by the growth rate of Gross Regional Domestic Product (GRDP) at constant prices. Data were obtained from the official publications of the Regional Financial Agency (BKD) and the Central Bureau of Statistics (BPS) of Pariaman City. The analysis results show that regional expenditure has a positive and significant influence on economic growth, with a regression coefficient value of 0.312 and a coefficient of determination (R²) of 0.61. This indicates that approximately 61% of the variation in economic growth can be explained by changes in regional expenditure. These findings support Keynesian economic theory, which posits that an increase in government spending can stimulate the expansion of economic activity through the multiplier effect mechanism. Nevertheless, the effectiveness of regional expenditure in Pariaman City remains influenced by the structure of budget allocation, which tends to be dominated by operational spending and delays in the realization of capital expenditures. Therefore, improving the quality of public spending is essential to ensure that every rupiah of the budget spent generates tangible impacts on economic growth and public welfare. This study recommends increasing the proportion of productive capital expenditures, implementing result-based budgeting, and strengthening fiscal accountability as key strategies to reinforce the linkage between local fiscal policy and economic performance in the future. ABSTRAKBelanja daerah merupakan salah satu instrumen fiskal utama pemerintah daerah yang berperan dalam mendorong pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui alokasi anggaran publik yang efektif dan efisien, pemerintah daerah diharapkan mampu memperkuat kapasitas ekonomi lokal dan meningkatkan kinerja sektor-sektor produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh belanja daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pariaman selama periode 2015–2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linier sederhana, di mana variabel independen yang digunakan adalah total belanja daerah dan variabel dependen adalah pertumbuhan ekonomi yang diukur berdasarkan laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. Data diperoleh dari publikasi resmi Badan Keuangan Daerah (BKD) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pariaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa belanja daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,312 dan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,61. Hal ini berarti bahwa sekitar 61% variasi pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan oleh perubahan belanja daerah. Temuan ini mendukung teori ekonomi Keynesian yang menyatakan bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah dapat mendorong ekspansi aktivitas ekonomi melalui mekanisme multiplier effect. Meskipun demikian, efektivitas belanja daerah di Kota Pariaman masih dipengaruhi oleh struktur alokasi anggaran yang cenderung didominasi oleh belanja operasional dan keterlambatan realisasi belanja modal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas belanja publik menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan benar-benar memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan proporsi belanja modal produktif, perencanaan berbasis hasil (result-based budgeting), serta penguatan akuntabilitas fiskal sebagai strategi untuk memperkuat hubungan antara kebijakan fiskal daerah dan kinerja ekonomi lokal di masa mendatang.
DETEKSI DINI GANGGUAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 0–72 BULAN: EKSPLORASI PERAN ORANG TUA DAN KADER POSYANDU Khadijah, Khadijah; Nasution, Homsani; Salna, Ijar; Fitriani Munthe, Aulia; Sabrina Ramdhani Hasibuan, Alya
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.8084

Abstract

This study aims to explore the extent of parents' and Posyandu cadres' understanding of the importance of early detection of growth and development in children aged 0 - 72 months as a preventive measure against developmental disorders. The research employed a qualitative approach through in-depth interviews and direct observation at the Silindit Posyandu. Participants included 15 parents of young children, two professional healthcare workers, and several active Posyandu cadres. The findings indicate that while the educational sessions provided at the Posyandu have increased parental awareness, their understanding of developmental disorder indicators remains limited. Several factors influence the effectiveness of early detection programs, including parental knowledge, the accessibility of Posyandu services, and the family's socioeconomic conditions. On the other hand, although Posyandu plays a crucial role, its implementation still faces challenges such as limited human resources, low parental engagement, and the lack of ongoing training for cadres. Therefore, the study recommends enhancing parental education on normal child development stages, providing intensive training for cadres, and improving access to Posyandu services. These findings offer valuable insights for policy formulation and the development of more effective early intervention strategies to support optimal child development. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggali sejauh mana pemahaman orang tua dan kader Posyandu mengenai pentingnya deteksi dini terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak usia 0–72 bulan sebagai langkah preventif terhadap gangguan perkembangan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi langsung di Posyandu Silindit. Partisipan meliputi 15 orang tua yang memiliki anak usia dini, dua tenaga medis profesional, serta sejumlah kader posyandu yang aktif. Hasil studi menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan di Posyandu telah meningkatkan kesadaran orang tua, namun pemahaman mereka terkait tanda-tanda gangguan perkembangan masih terbatas. Beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan deteksi dini meliputi pengetahuan orang tua, ketersediaan dan kemudahan akses ke layanan Posyandu, serta kondisi sosial ekonomi keluarga. Di sisi lain, meskipun Posyandu memainkan peran penting, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan tenaga kader, rendahnya keterlibatan orang tua, dan kurangnya pelatihan berkala bagi kader. Oleh karena itu, studi ini merekomendasikan peningkatan edukasi bagi orang tua mengenai tahapan perkembangan anak, penyelenggaraan pelatihan intensif untuk kader, serta perbaikan akses terhadap layanan Posyandu. Temuan ini memberikan kontribusi berarti dalam perumusan kebijakan serta pengembangan strategi intervensi dini yang lebih efektif untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
STUDI INTERPRETATIF FENOMENOLOGI: PENERAPAN POLA ASUH ORANG TUA DI DAERAH RURAL PADA ERA DIGITAL Huttu, Lionesius Piter Tay; Takalapeta, Theodora; Wijaya, R. Pasifikus Ch.
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.7697

Abstract

The massive development of digital technology has disrupted parenting patterns in rural areas that traditionally uphold family values, triggering a gap in interactions between parents and children. This study aims to explore in-depth the phenomenological experiences of parents in Ndetundora I Village, Ende Regency, as they navigate the dynamics of parenting in the digital era. Adopting a qualitative method with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) approach, the study involved in-depth interviews with four parents of adolescent children to understand their subjective interpretations. The study findings revealed an ambivalent perception of devices; although recognized as vital instruments for distance education and communication, devices are also perceived as triggers for the degradation of family interactions and the weakening of parental authority due to children's broader access to information. Parents respond to these challenges through strategies that oscillate between firm discipline and persuasive approaches. It is concluded that rural parenting practices in the digital era are a complex manifestation of parental affection and protective expectations, demanding an adaptive balance between strict control and emotional support to safeguard children's futures. ABSTRAK Perkembangan masif teknologi digital telah menciptakan disrupsi pada pola pengasuhan di wilayah rural yang secara tradisional memegang teguh nilai kekeluargaan, memicu kesenjangan interaksi antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman fenomenologis orang tua di Desa Ndetundora I, Kabupaten Ende, dalam menghadapi dinamika pengasuhan di era digital. Mengadopsi metode kualitatif dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini melibatkan wawancara mendalam terhadap empat orang tua yang memiliki anak usia remaja untuk memahami pemaknaan subjektif mereka. Temuan studi menyingkap adanya ambivalensi persepsi terhadap gawai; meskipun diakui sebagai instrumen vital untuk pendidikan dan komunikasi jarak jauh, gawai sekaligus dianggap sebagai pemicu degradasi interaksi keluarga dan pelemahan otoritas orang tua akibat akses informasi anak yang lebih luas. Orang tua merespons tantangan ini melalui strategi yang berosilasi antara penegakan disiplin tegas dan pendekatan persuasif. Disimpulkan bahwa praktik pengasuhan di daerah rural pada era digital merupakan manifestasi kompleks dari kasih sayang dan harapan protektif orang tua, yang menuntut keseimbangan adaptif antara kontrol ketat dan pendampingan emosional demi menjaga masa depan anak.  
PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN DAN PEMETAAN KESESUAIAN LAHAN KOMODITAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN KWANDANG R Hatu, Ratih Ikawaty; Rahman, Muhammad Anugrah; Thalib, Mohamad Ridho Ferdiyanto
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.7920

Abstract

Kwandang District in North Gorontalo Regency is projected as a strategic agricultural area, but optimizing food crop productivity remains hampered by challenges in determining commodity priorities and land suitability. This study aims to identify superior commodities and evaluate the level of agricultural land suitability through an integration of regional economic analysis and spatial evaluation. The research method applies Location Quotient (LQ) analysis to determine the comparative advantages of rice and corn, as well as Geographic Information System (GIS) analysis using an overlay technique between actual land use and the Spatial Pattern Plan of North Gorontalo Regency for 2011–2031. The analysis results indicate that lowland rice is a basic commodity with an LQ value > 1, supported by a land suitability level of 59% for spatial patterns, thus contributing significantly to the local economic structure. Conversely, corn is identified as a non-basic commodity with an LQ value < 1 and a land suitability level of only 54%, indicating limited biophysical and spatial support. It is concluded that lowland rice deserves to be designated as a top priority for regional agribusiness development due to its economic advantages and stronger ecological support compared to corn. Therefore, these findings can serve as a scientific basis for the formulation of adaptive and sustainable agricultural policies. ABSTRAK Kecamatan Kwandang di Kabupaten Gorontalo Utara diproyeksikan sebagai kawasan strategis pertanian, namun optimalisasi produktivitas tanaman pangan masih terkendala oleh tantangan dalam penentuan prioritas komoditas dan kesesuaian lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan serta mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan pertanian melalui integrasi analisis ekonomi wilayah dan evaluasi spasial. Metode penelitian menerapkan analisis Location Quotient (LQ) untuk menentukan keunggulan komparatif komoditas padi dan jagung, serta analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui teknik tumpang susun (overlay) antara penggunaan lahan aktual dengan rencana Pola Ruang RTRW Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2011–2031. Hasil analisis menunjukkan bahwa padi sawah merupakan komoditas basis dengan nilai LQ > 1 yang didukung oleh tingkat kesesuaian lahan terhadap pola ruang sebesar 59%, sehingga memiliki kontribusi signifikan terhadap struktur ekonomi lokal. Sebaliknya, jagung teridentifikasi sebagai komoditas non-basis dengan nilai LQ < 1 dan tingkat kesesuaian lahan hanya mencapai 54%, yang mengindikasikan adanya keterbatasan dukungan biofisik dan spasial. Disimpulkan bahwa padi sawah layak ditetapkan sebagai prioritas utama pengembangan agribisnis daerah karena memiliki keunggulan ekonomi dan dukungan ekologis yang lebih kuat dibandingkan jagung, sehingga temuan ini dapat menjadi landasan ilmiah bagi perumusan kebijakan pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.  
KULINER SEBAGAI WARISAN BUDAYA: STUDI KASUS PELESTARIAN MAKANAN TRADISIONAL WINGKO BABAT DI ERA GENERASI MILENIAL Nagari, Madani Waskita Putra
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8019

Abstract

This study examines the preservation of Wingko Babat, a traditional Indonesian culinary product, as a form of local cultural heritage amid social changes and shifting consumption patterns among the millennial generation. Wingko Babat functions not only as a food product but also as a representation of cultural identity, collective memory, and local values within the Babat community of Lamongan Regency. This research employs a qualitative approach with a case study design to explore cultural meanings, millennial perceptions, and preservation strategies implemented by local producers, community groups, and local government. Data were collected through field observations, in-depth interviews with Wingko Babat producers, millennial consumers, and sub-district officials, as well as documentation of production and promotional activities. The findings indicate that the millennial generation plays a strategic role in preserving Wingko Babat through packaging innovation, product diversification, the use of social media, and digital marketing strategies based on cultural storytelling. However, preservation efforts continue to face challenges, including weak producer regeneration, limited digital literacy, and competition from modern culinary products. This study highlights the importance of adaptive and collaborative approaches in sustaining traditional culinary heritage as part of Indonesia’s intangible cultural heritage in the digital era. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji upaya pelestarian makanan tradisional Wingko Babat sebagai warisan budaya lokal di tengah dinamika sosial dan perubahan pola konsumsi generasi milenial. Wingko Babat tidak hanya berfungsi sebagai produk pangan, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya, memori kolektif, dan nilai-nilai lokal masyarakat Babat, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk menggali makna kultural, persepsi generasi milenial, serta strategi pelestarian yang dilakukan oleh pelaku usaha, komunitas lokal, dan pemerintah setempat. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan produsen Wingko Babat, generasi milenial, dan aparatur kecamatan, serta dokumentasi aktivitas produksi dan promosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi milenial memiliki peran strategis dalam pelestarian Wingko Babat melalui inovasi kemasan, pengembangan varian rasa, pemanfaatan media sosial, dan strategi pemasaran digital berbasis storytelling budaya. Meskipun demikian, pelestarian masih menghadapi tantangan berupa lemahnya regenerasi produsen, keterbatasan literasi digital, dan persaingan dengan produk kuliner modern. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan adaptif dan kolaboratif dalam menjaga keberlanjutan kuliner tradisional sebagai bagian dari warisan budaya takbenda di era digital.
HUBUNGAN SOCIAL COMPARISON DENGAN KEBAHAGIAAN PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Mauliana, Mauliana; Subardjo, Ratna Yunita Setiyani
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8090

Abstract

This research is motivated by the increasing use of social media among adolescents, which triggers a tendency to compare themselves with others (social comparison) and potentially impacts their mental health. This study focuses on analyzing how the intensity of social comparison affects adolescents' levels of happiness. This study aims to investigate the relationship between social comparison and levels of happiness among adolescents who actively use social media in the Special Region of Yogyakarta. This study used a quantitative approach with a correlational design, involving 231 participants aged 12–22 years selected through purposive sampling. Data were collected using two instruments: the Social Comparison Scale and the Happiness Scale, which were then analyzed through assumption tests (normality and linearity) and correlation tests. The results showed a significant negative correlation between social comparison and happiness (r = -0.542; p < 0.05). This indicates that the higher the level of social comparison, the lower the level of happiness among adolescents. Overall, social comparison negatively contributes to the happiness of adolescent social media users, so preventive measures such as digital literacy education and the development of coping strategies are needed to improve their psychological well-being. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peningkatan penggunaan media sosial di kalangan remaja yang memicu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain (social comparison) dan berpotensi berdampak pada kesehatan mental mereka. Penelitian ini berfokus pada analisis bagaimana intensitas social comparison memengaruhi derajat kebahagiaan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara social comparison dan tingkat kebahagiaan pada remaja yang aktif menggunakan media sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 231 partisipan berusia 12–22 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan dua instrumen, yakni Skala Social Comparison dan Skala Kebahagiaan, yang kemudian dianalisis melalui uji asumsi (normalitas dan linearitas) serta uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara social comparison dan kebahagiaan (r = -0,542; p < 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat social comparison, semakin rendah tingkat kebahagiaan remaja. Secara keseluruhan, social comparison berkontribusi negatif terhadap kebahagiaan remaja pengguna media sosial, sehingga diperlukan langkah preventif seperti pendidikan literasi digital dan pengembangan strategi koping (coping strategy) untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka.  
PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMPROMOSIKAN KULINER NUSANTARA Vebiyan, Amanda Diva; Andriona, Joan; Johan, Hani Rahmawati; Edo, Gavriella Ceacilia Christie Ratu; Bellany, Miranda; Tiatri, Sri
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8192

Abstract

ABSTRACT Indonesian cuisine not only reflects the diversity of flavors but is also an integral part of Indonesia's cultural identity, which continues to face challenges in the era of globalization. This article aims to examine the role of social media in promoting Indonesian cuisine through a literature review approach, analyzing various scientific publications from the past ten years. The research began with keyword identification, followed by literature search and selection, and finally, analysis of findings from relevant sources. The study results show that digital platforms such as Instagram, TikTok, and YouTube play a strategic role in increasing the visibility and attractiveness of local cuisine, especially among young people. Social media has been proven to contribute to the empowerment of MSMEs, enhance cultural literacy, and strengthen local identity. Besides being a promotional medium, social media also serves as a cultural advocacy tool that actively encourages community participation, especially among young people, in the preservation of traditional cuisine. Nevertheless, challenges such as content polarization, disinformation, and consistency of cultural narratives are issue that need to be anticipated. This study emphasizes the importance of authentic, visually-oriented content marketing strategies aligned with digital trends to sustainably strengthenthe presence of Indonesian cuisine. ABSTRAK Kuliner Nusantara tidak hanya mencerminkan keberagaman rasa, tetapi juga merupakan bagian integral dari identitas budaya Indonesia yang terus menghadapi tantangan di era globalisasi. Artikel ini bertujuan untuk menelaah peran media sosial dalam mempromosikan kuliner Nusantara melalui pendekatan tinjauan pustaka terhadap berbagai literatur ilmiah selama sepuluh tahun terakhir. Penelitian ini diawali dengan identifikasi kata kunci, dilanjutkan dengan pencarian dan seleksi literatur, hingga analisis temuan dari berbagai sumber yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa platform digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube memainkan peran strategis dalam meningkatkan visibilitas dan daya tarik kuliner lokal, terutama di kalangan generasi muda. Media sosial terbukti berkontribusi terhadap pemberdayaan UMKM, peningkatan literasi budaya, serta penguatan identitas lokal. Selain sebagai media promosi, media sosial juga berfungsi sebagai alat advokasi budaya yang mendorong partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda, dalam pelestarian kuliner tradisional. Meskipun demikian, tantangan seperti polarisasi konten, disinformasi, dan konsistensi narasi budaya menjadi isu yang perlu diantisipasi. Kajian ini menegaskan pentingnya strategi pemasaran berbasis konten autentik dan visual yang selaras dengan tren digital untuk memperkuat eksistensi kuliner Nusantara secara berkelanjutan.
SENSITIVITY OF CRU AND ERA5 PRECIPITATION DATASETS TO ENSO FORCINGS FOR INDONESIAN CLIMATE DURING 1970-2024 Prastowo, Tjipto
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8193

Abstract

Observational precipitation datasets for countries around the globe as part of climate parameters are available in time-series acquired from ground-based and satellite-based monitoring stations. This study reports two datasets for rainfall variability in Indonesia during 1970–2024 provided by Climatic Research Unit (CRU) University of East Anglia, UK for the ground-based data and ERA5, the fifth version of European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) for the satellite-based measurements. The main aim of the study was to examine sensitivity of both datasets to climatic ENSO forcings, determining how strong El Niño and La Niña events influenced Indonesian rainfall variability. The methods in this study included accessing reliable sites for collecting and processing Indonesian precipitation datasets of different techniques and sea surface temperature data during observations. The results and corresponding discussions are summarised as follows. While El Niño and La Niña events indicate asymmetric behaviours, the ENSO forcings affect the precipitation datasets derived from two measurement techniques. Firstly, the datasets from CRU and ERA5 are coincident with years of extreme ENSO events. Secondly, despite the apparent difference in magnitude between observed rainfall intensities, the CRU and ERA5 datasets are found to be self-consistent in describing natural phenomena. Thirdly, with a higher resolution ERA5 datasets are more sensitive to the ENSO forcings than CRU datasets when applied to climatic conditions in Indonesia. ABSTRAK Data observasi presipitasi sebagai bagian dari parameter iklim untuk wilayah teritorial se dunia dapat diperoleh dari stasiun monitor di darat dan di udara. Studi ini melaporkan dua jenis data presipitasi di Indonesia antara 1970–2024 yang disediakan oleh Climatic Research Unit (CRU), University of East Anglia, UK untuk stasiun monitor di darat dan ERA5, generasi kelima dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) untuk pengukuran satelit. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan sensitivitas kedua jenis data presipitasi terhadap pengaruh ENSO dengan cara menentukan seberapa kuat El Niño dan La Niña memengaruhi variabilitas intensitas curah hujan di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengakses laman yang kredibel untuk pengumpulan dan pemrosesan data presipitasi di Indonesia dan temperatur muka laut selama observasi berlangsung. Hasil-hasil penelitian dan pembahasan terkait adalah sebagai berikut. El Niño and La Niña menunjukkan sifat asimetrik, dimana kedua fenomena alam tersebut berpengaruh terhadap data presipitasi di Indonesia yang diperoleh dari dua teknik pengukuran. Pertama, data presipitasi CRU dan ERA5 sesuai dengan tahun-tahun kejadian ENSO ekstrem. Kedua, meskipun terdapat perbedaan signifikan antara intensitas curah hujan yang dilaporkan oleh CRU dan ERA5, data presipitasi CRU dan ERA5 bersifat self-consistent dalam mendeskripsikan fenomena alam. Ketiga, dengan tingkat resolusi yang lebih tinggi data presipitasi ERA5 terbukti lebih sensitif terhadap pengaruh ENSO ekstrem daripada data presipitasi CRU untuk kondisi iklim di Indonesia.
PERAN MAKANAN TRADISIONAL DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS BUDAYA: SUATU TINJAUAN SISTEMATIS Lie, Audrey Felicia; Susanto, Jessica Elena; Sutarman, Merryn Oktavia; Simon, Sevilla; Tiatri, Sri
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8195

Abstract

ABSTRACT Traditional food is an important part of Indonesian society and culture, reflecting social and cultural values as well as cultural identity. However, modernization and lifestyle changes, including the increasing consumption of fast food, have led to a decline in societal interest in traditional food, despite its symbolic significance for national cultural identity. This study aims to examine the role of traditional food in the formation of cultural identity. The study employed a systematic review method following the PRISMA 2020 model. Data were collected through the Google Scholar database using the keywords “traditional food” and “cultural identity.” Of the 30 articles identified, only six met the inclusion criteria for analysis. The data were analyzed using thematic analysis. The findings indicate that traditional food plays an important role as a symbol of cultural identity and as a means of preserving national values in the era of globalization. The findings of this study are expected to contribute information, references, and evaluative insights regarding the role of traditional food in the development of local cultural studies. ABSTRAK Makanan tradisional merupakan bagian penting dari kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia yang mencerminkan nilai serta identitas sosial-budaya. Namun, modernisasi dan perubahan gaya hidup, termasuk meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, menyebabkan menurunnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional, meskipun makanan tersebut memiliki makna simbolis bagi jati diri budaya bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran makanan tradisional dalam pembentukan identitas budaya. Metode yang digunakan yaitu metode systematic review dengan model PRISMA 2020. Data dikumpulkan melalui database Google Scholar. Pencarian data menggunakan kata kunci “makanan tradisional” dan “identitas budaya”. Dari 30 artikel yang ditemukan hanya 6 artikel yang memenuhi kriteria ke tahap analisis. Kemudian, data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional memiliki peranan penting sebagai simbol identitas budaya serta sarana dalam melestarikan nilai-nilai bangsa di tengah era globalisasi saat ini. Temuan hasil ini diharapkan dapat memberikan informasi, referensi, dan evaluasi mengenai peran makanan tradisional bagi pengembangan kajian budaya lokal.
INTEGRASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN BATANGHARI PROVINSI JAMBI TAHUN 2025 Marlindawati, Marlindawati; Pramudho, P.A. Kodrat; Andarini, Sari Yuli
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8222

Abstract

The utilization of electronic-based technology (e-government) is a key strategy for promoting effective, transparent, and accountable governance, including in the health sector. The implementation of the Electronic-Based Government System (SPBE) and health information systems plays a crucial role in producing accurate and timely data to support decision-making. This study aims to analyze challenges in the collection and management of the Integrated Recording and Reporting System of Primary Health Centers (SP2TP) at the Batanghari District Health Office, which is still conducted manually, and to formulate a more effective reporting model. A qualitative approach was employed through in-depth interviews, observations, and document reviews involving 14 informants. The findings identified five main themes: health information systems, SP2TP utilization, data integration, challenges, and solutions. Key problems included the absence of a centralized database, limited infrastructure, and insufficient human resources with information technology competencies. SWOT analysis revealed strengths in the utilization of the E-Puskesmas application and national policy support, while major constraints involved fragmented applications and budget limitations. Improvement strategies include short-term solutions using basic cloud platforms and long-term development of an integrated web- and cloud-based reporting system to enhance data integration and governance performance. ABSTRAKPemanfaatan teknologi berbasis elektronik (e-government) menjadi strategi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel, termasuk di sektor kesehatan. Penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan sistem informasi kesehatan berperan krusial dalam menyediakan data yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan menganalisis permasalahan pengumpulan dan pengelolaan data Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) di Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari yang masih dilakukan secara manual, serta merumuskan model pelaporan yang lebih efektif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap 14 informan. Hasil penelitian mengidentifikasi lima tema utama, yaitu sistem informasi kesehatan, pemanfaatan SP2TP, integrasi data, tantangan, dan solusi. Permasalahan utama meliputi ketiadaan basis data terpusat, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya sumber daya manusia berkompetensi teknologi informasi. Analisis SWOT menunjukkan adanya potensi dari pemanfaatan E-Puskesmas dan dukungan kebijakan nasional, namun masih terkendala fragmentasi aplikasi dan keterbatasan anggaran. Strategi perbaikan mencakup solusi jangka pendek berbasis cloud sederhana serta pengembangan sistem pelaporan terintegrasi berbasis web dan cloud dalam jangka panjang.