cover
Contact Name
Yadi
Contact Email
yadi@fk.unmul.ac.id
Phone
+6285255690730
Journal Mail Official
jkm@fk.unmul.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Jalan Kerayan, Kampus Gn. Kelua, Samarinda, Kalimantan Timur
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Mulawarman
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 24430439     EISSN : 27229521     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran Mulawarman (JKM) is the official journal publication that is published triennially (June, Sept, and Dec) by Faculty of Medicine Mulawarman University. JKM is a peer-reviewed and open access journal that points out encouraging biomedical sciences, clinical, public health and community medicine to conducting and improving behavior of human health. This journal publishes original research and case report. Subjects suitable for publication include, but are not limited to the following fields of : Anesthesiology and Intensive Care Anatomy Biochemistry Child Health Dermatology and Venerology Internal Medicine Histology Neurology Medical Education Microbiology Obstetrics and Gynecology Opthalmology Otorhynolaryngology Pharmacology Parasitology Physiology Physical medicine and rehabilitation Public Health and Community Medicine Pulmonology Radiology Surgery
Articles 92 Documents
UJI SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS CT-SCAN SEBAGAI ALAT DIAGNOSTIK MENINGIOMA DI RSUD ABDOEL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA Angelina, Grace; Mu'ti, Abdul; Munir, Sirajul
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v10i2.10456

Abstract

Meningioma adalah tumor jinak primer di sistem saraf pusat yang berasal dari sel araknoid meningoepitelial. Meningioma merupakan salah satu dari banyak lesi di intrakranial, yang memiliki gejala klinis yang mirip. Sehingga dalam proses diagnosisnya, terdapat pemeriksaan radiologi sebagai diagnosis tentatif dan pemeriksaan patologi anatomi sebagai diagnosis definitif. Diagnosis tentatif memiliki peran penting untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab dan menemukan informasi yang tepat dengan waktu yang cepat sehingga dokter spesialis dapat segera menentukan tindak lanjut untuk pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengukur nilai sensitivitas dan spesifisitas CT-Scan sebagai alat diagnosis meningioma terhadap pemeriksaan patologi anatomi sebagai gold standard. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif uji diagnostik dengan pendekatan cross-sectional. Data penelitian ini diperoleh dari data sekunder yaitu data rekam medik. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling pada pasien dengan tumor otak yang telah mengikuti prosedur pemeriksaan CT-Scan dan histopatologi pada periode 2020-2022 dengan minimal sampel sebanyak 74 sampel. Hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas pasien datang dengan keluhan nyeri kepala yang kronis. Untuk parameter uji diagnostik, nilai sensitivitas dan spesifisitas berturut-turut sebesar 83% dan 94%. Nilai prediksi positif sebesar 94% dan nilai prediksi negatif sebesar 82%. Didapatkan nilai akurasi dari pemeriksaan CT-Scan dengan kontras terhadap diagnosis meningioma, yaitu sebesar 88%.  Selain itu, penelitian ini juga mendapatkan bahwa gambaran CT-Scan dengan kontras memiliki ciri khas meningioma adalah kesan ekstraaksial, menyangat kontras kuat, dan massa yang homogen.  Kesimpulan dari penelitian ini  adalah CT-Scan belum mampu menjadi alat diagnosis tentatif meningioma yang utama karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang lebih rendah dari MRI.
HUBUNGAN STRES DENGAN BURNOUT PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN Syafira, Mediva; Khotimah, Siti; Nugrahayu, Eka Yuni
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v10i1.9086

Abstract

Selama menjalankan pendidikan kedokteran, mahasiswa kedokteran mendapatkan berbagai tuntutan akademik dan psikososial yang terus meningkat sehingga dapat mengakibatkan stres dan burnout. Dalam proses belajar, stres yang diakibatkan oleh pelajaran, atau faktor-faktor tekanan psikologis lainnya dapat mengakibatkan kelelahan emosi, sinisme dan penurunan prestasi pribadi yang merupakan dimensi dari burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres dengan burnout pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Penelitian ini menggunakan data primer yang didapatkan dari hasil kuisioner Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) untuk mengetahui burnout dan kuisioner Perceived Stress Scale (PSS) untuk mengetahui stres. Sebanyak 315 mahasiswa berpartisipasi menjadi responden penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres ringan (19,0%), stres sedang (69,2%), dan stres berat (11,7%). Sedangkan pada burnout yang paling banyak dialami pada setiap dimensi adalah tingkat tinggi yaitu emotional exhaustion (44,8%), depersonalization (52,7%), dan personal accomplishment (43,5%). Pada uji Spearman didapatkan nilai kemaknaan (p-value)  sebesar 0,000. Dapat disimpulkan, terdapat hubungan stres dengan ketiga dimensi burnout pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.
Hubungan Jarak Persalinan dengan Perdarahan Postpartum di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Bahar, Gita Wahyuni; Ngo, Novia Fransiska; Sulistiawati, Sulistiawati
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 3 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i3.9631

Abstract

Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai derajat kesehatan masyarakat di suatu negara. Penyebab paling umum kematian ibu adalah perdarahan obstetri, termasuk perdarahan postpartum. Terdapat banyak faktor risiko yang bisa menyebabkan perdarahan postpartum, salah satunya adalah jarak persalian. Perdarahan postpartum dideifinisikan sebagai adanya kehilangan darah ≥500 ml pada persalinan pervaginam atau ≥1000 ml pada persalinan sectio caesare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jarak persalinan dengan perdarahan postpartum di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Desain peneitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah case-control studyatau studi kasus kontrol. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang menjalani rawat inap di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode 2019-2021. Data dikumpulkan melalui rekam medik ibu bersalin yang menjalani rawat inap di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode 2019-2021. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Terdapat 66 responden yang termasuk dalam penelitian ini. Ibu bersalin dengan perdarahan postpartum sebanyak 33 ibu (kasus) dan ibu bersalin yang tidak mengaami perdarahan postpartum sebanyak 33 ibu (kontrol). Hasil penelitian ini ditemukan nilai p-value yang didapatkan adalah 0,319 yang artinya tidak terdapat hubungan antara jarak persalinan dengan perdarahan postpartum. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan jarak persalinan dengan perdarahan postpartum di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda.
Stevens Johnson Syndrome - Toxic Epidermal Necrolysis Overlap Sebuah Laporan Kasus di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Umami, Helmina Robiyatul
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i1.10921

Abstract

Stevens johnson syndrome - toxic epidermal necrolysis (SJS-TEN) overlap adalah penyakit akibat reaksi mukokutan akut yang ditandai dengan nekrosis yang luas mengenai permukaan epidermis dan epitel mukosa kulit. Reaksi akut pada SJS-TEN terjadi karena sensitisasi dari sel T dan merupakan reaksi hipersensitif tipe IV yang mulai muncul dalam 48 – 72 jam setelah paparan dan merupakan salah satu kegawatdaruratan yang berpotensi mengancam jiwa. Pasien dengan SJS-TEN dapat datang ke fasilitas kesehatan tingkat mana saja, termasuk fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dalam kondisi gejala awal maupun lanjut serta keparahan yang berbeda-beda sehingga memerlukan tindakan yang tepat dan cepat.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Bengkuring Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda Tahun 2023 Fahmi, Muhammad Maulana; Pakki, Irfansyah Baharuddin
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i2.18491

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah Kesehatan pada masyarakt Indonesia. Di Kalimantan Timur kasus DBD masih merupakan masalah Kesehatan, pada tahun 2023 kasus DBD di wilayah ker Puskesmas Bengkuring sebesar 97 kasus dan menjadi yang tertinggi di Samarinda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Bengkuring Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda Tahun 2023. Jenis penelitian adalah obervasional analitik dengan pendekatan case control. Data sampel penelitian diperoleh dari kuesioner dan data Puskesmas Bengkuring atahun 2023. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 19 sampel, yaitu 97 sampel kasus DBD dan 97 sampel kontrol. Analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara densitas jentik (p=0,001) dan perilaku PSN 3M (p=0,001) serta tidak ada hubungan antara kepadatan hunian (p=1,000), penggunaan kasa pada ventilasi rumah (p=0,608) dan kebiasaan menggantung pakaian (p=0,106) dengan kejadian DBD. Berdasarkan analisis bivariat bahwa ada hubungan densitas jentik dengan kejadian DBD, serta adanya hubungan antara perilaku PSN 3M dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Bengkuring Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda tahun 2023. Kata kunci: faktor risiko, demam berdarah dengue
MANAGEMENT OF SEPTIC SHOCK PATIENTS WITH INTRABDOMINAL TRAUMATICS IN THE INTENSIVE CARE UNIT Putra, Indra Sukmana; Palinrungi, Ari Santri
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i1.16602

Abstract

Management of patients with septic shock with intrabdominal trauma is a complex medical treatment in the intensive care unit because the patient must be closely monitored and given adequate therapy. This case report is a case from the intensive care unit at Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar. The patient was treated for 30 days starting on 10/24/23. The patient is a 15 year old male with the main complaint of a stab wound from a wooden beam that was stuck in his buttocks after falling from an 8 meter high building. The patient suffered stab wounds from the rectal, intrabdominal, diaphragm, left hemithorax to the pericard. The patient was referred from Pelamonia Hospital, Makassar, which had undergone airway treatment, then referred to Wahidin Hospital, Makassar. This patient underwent resuscitation and surgery, then was transferred to the intensive care unit. During the operation, serous laceration of the transverse colon, rectal laceration, urethral rupture, diaphragm and pericardial laceration were found. Patients had an APACHE II score of 17, SOFA score of 6 predicted mortality of 33.3%. Management during in the intensive care unit is treating the source of infection, fluid resuscitation, administering vasopressors. Norepinephrine as a first-line vasopressor agent with an initial target mean arterial pressure (MAP) is > 65mm Hg. Vasopressin is the second choice for treating septic shock, targeting MAP ≥ 65mmHg. Complicated intrabdominal infections are often caused by polymicrobial infections and require a combination of parenteral antibiotics during treatment. Therefore, it is necessary to select an antimicrobial agent appropriate to the patient's individual dosage. In cases of suspected intrabdominal infection, an aminoglycoside in combination with a beta lactam is recommended once daily, as gram-negative multidrug resistance often occurs. The empirical antibiotic given was a combination of meropenem 1gr/8 hours/IV + Amikacin 1gr/24 hours/IV for 6 days, continuous renal replacement therapy on treatment days 2 to 3 for 24 hours with CVVDHF modality. The results of the procalcitonin examination showed a downward trend followed by improvement in hemodynamics, decreased need for vasopressors, improved consciousness, gradual removal of the ventilator and transition to usual care on day 20. Comprehensive sepsis management resulted in better patient outcomes.Key words: Septic shock, Intrabdominal infection, Resuscitation, Continuous renal replacement therapy.
Optimalisasi Kadar Gula Darah Melalui Senam Kaki untuk Mendukung Keselamatan Pasien Hilda, Hilda; Arsyawina, Arsyawina; Aniah, Suci Nur
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 3 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i3.18130

Abstract

Ulkus kaki dan amputasi adalah aspek penting dalam keselamatan pasien. Manajemen yang efektif dan strategi pencegahan sangat penting untuk mengurangi insiden tersebut. Perawatan kaki diabetik adalah bagian integral dari manajemen diabetes. Penelitian ini mengkaji pengaruh latihan kaki terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Penelitian ini menggunakan desain Pre-Experimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest, melibatkan 20 responden dari populasi pasien diabetes melitus tipe II di RS. Teknik Purposive Sampling digunakan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Sebelum intervensi, kadar glukosa darah diukur dengan glucometer. Responden mengikuti program senam kaki diabetes selama 30-60 menit per sesi, 3 kali seminggu selama 4 minggu. Setelahnya, kadar glukosa darah diukur kembali untuk menilai perubahan. Data dibandingkan dengan nilai pretest untuk menentukan efektivitas intervensi dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Rata-rata kadar GDP turun signifikan dari 201.95 mg/dL menjadi 177.70 mg/dL setelah senam kaki. Uji statistik Bivariat menunjukkan perbedaan signifikan kadar GDP sebelum dan sesudah senam kaki (Z = -3.921, P = 0.000). Intervensi ini menunjukkan dampak positif senam kaki diabetes dalam mengendalikan glukosa darah dan mencegah ulkus diabetik serta amputasi, yang berkontribusi signifikan pada keselamatan pasien.
Gambaran Faktor Risiko Pasien Epilepsi Anak Zakiyati, Nainingsih Indar; Yuniati, Yuniati; Muhyi, Annisa
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i2.10342

Abstract

Epilepsi adalah penyakit otak kronik karena aktivitas abnormal otak danmengakibatkan kejang berulang. Terdapat faktor risiko yang berkaitan dengan epilepsi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko epilepsi anak meliputi usia awitan epilepsi, jenis kelamin, berat bayi lahir, usia gestasi, riwayat kejang demam, riwayat epilepsi pada keluarga, riwayat infeksi sistem saraf pusat, dan riwayat tumor otak. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif di Komunitas Epilepsi Indonesia. Data primer diperoleh melalui wawancara pendamping pasien anak dengan metode consecutive sampling  dan didapatkan 77 sampel. Hasil penelitian menunjukkan usia awitan epilepsi <1 tahun (42.9%), 1-5 tahun (39.0%), jenis kelamin laki-laki (54.5%) dan perempuan (45.5%). Faktor lain didapatkan riwayat berat bayi lahir rendah (13.0%), berat bayi lahir normal (84.4%), sedangkan riwayat usia gestasi preterm (18.2%), usia gestasi aterm (79.2%), riwayat kejang demam sederhana (7.8%), riwayat kejang demam kompleks (19.5%), dan tanpa riwayat kejang demam (72.7%), riwayat infeksi sistem saraf pusat (5.2%) dan tanpa riwayat infeksi sistem saraf pusat (94.8%), riwayat tumor otak  (3.9%) dan tanpa riwayat tumor otak (96.1%). Riwayat epilepsi pada keluarga didapatkan first degree relatives (2.6%), second degree relatives (6.5%), dan tanpa riwayat epilepsi pada keluarga (90.9%). Kesimpulan penelitian ini adalah didapatkan pasien epilepsi anak paling banyak usia awitan epilepsi <1 tahun, berjenis kelamin laki-laki, riwayat berat bayi lahir normal, riwayat usia gestasi aterm, tanpa riwayat kejang demam, tanpa riwayat epilepsi pada keluarga, tanpa riwayat infeksi sistem saraf pusat, dan tanpa riwayat tumor otak.Kata Kunci : epilepsi, anak, faktor risikoEpilepsi adalah penyakit otak kronik karena aktivitas abnormal otak danmengakibatkan kejang berulang. Terdapat faktor risiko yang berkaitan dengan epilepsi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko epilepsi anak meliputi usia awitan epilepsi, jenis kelamin, berat bayi lahir, usia gestasi, riwayat kejang demam, riwayat epilepsi pada keluarga, riwayat infeksi sistem saraf pusat, dan riwayat tumor otak. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif di Komunitas Epilepsi Indonesia. Data primer diperoleh melalui wawancara pendamping pasien anak dengan metode consecutive sampling  dan didapatkan 77 sampel. Hasil penelitian menunjukkan usia awitan epilepsi <1 tahun (42.9%), 1-5 tahun (39.0%), jenis kelamin laki-laki (54.5%) dan perempuan (45.5%). Faktor lain didapatkan riwayat berat bayi lahir rendah (13.0%), berat bayi lahir normal (84.4%), sedangkan riwayat usia gestasi preterm (18.2%), usia gestasi aterm (79.2%), riwayat kejang demam sederhana (7.8%), riwayat kejang demam kompleks (19.5%), dan tanpa riwayat kejang demam (72.7%), riwayat infeksi sistem saraf pusat (5.2%) dan tanpa riwayat infeksi sistem saraf pusat (94.8%), riwayat tumor otak  (3.9%) dan tanpa riwayat tumor otak (96.1%). Riwayat epilepsi pada keluarga didapatkan first degree relatives (2.6%), second degree relatives (6.5%), dan tanpa riwayat epilepsi pada keluarga (90.9%). Kesimpulan penelitian ini adalah didapatkan pasien epilepsi anak paling banyak usia awitan epilepsi <1 tahun, berjenis kelamin laki-laki, riwayat berat bayi lahir normal, riwayat usia gestasi aterm, tanpa riwayat kejang demam, tanpa riwayat epilepsi pada keluarga, tanpa riwayat infeksi sistem saraf pusat, dan tanpa riwayat tumor otak.Kata Kunci : epilepsi, anak, faktor risiko
HUBUNGAN STATUS IMUNISASI BALITA, ASI EKSKLUSIF, DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN KEJADIAN STUNTING DI PUSKESMAS BUKUAN SAMARINDA Rifanti, Siti Nur Irliana; Khotimah, Siti -; Wardhana, Ahmad Wisnu
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 3 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i3.8124

Abstract

Stunting adalah kondisi di mana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur akibat dari kekurangan gizi kronis. Prevalensi stunting di Puskesmas Bukuan sebesar 25,9% yang mana berada pada tingkat tertinggi di Samarinda pada tahun 2020. Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan stunting yaitu, keluarga dan rumah tangga, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), pemberian ASI eksklusif, dan infeksi serta imunisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi, pemberian ASI eksklusif, dan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting di Puskesmas Bukuan Samarinda. Desain penelitian ini observasional analitik dengan metode case control. Data diperoleh dari hasil kuesioner dan data balita di wilayah kerja Puskesmas Bukuan. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling pada sampel kasus dan kontrol lalu diperoleh 21 kasus dan 21 kontrol. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil Penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara status imunisasi (p=0,697), ASI eksklusif (p=0,726), dan tingkat pendidikan ibu (p=0,663) dengan kejadian stunting. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan tidak terdapat hubungan antara status imunisasi, ASI eksklusif, dan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting di Puskesmas Bukuan Samarinda.
HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI WILAYAH PUSKESMAS LEMPAKE SAMARINDA Chatamy, Fauziah Putri; Hafifah, Fadillah Hana; Hidayah, Elsa Syafira; Mulyani, Laily; Wahyuni, Winda; Yuliana, Rita; Nuryanto, Muhammad Khairul
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v11i1.12859

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering diderita oleh lansia dan dapat mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kualitas hidup pada lansia di wilayah Puskesmas Lempake Samarinda. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Agustus 2023. Data diperoleh dari 56 lansia berusia antara 60-84 tahun yang diambil dengan teknik consecutive sampling di Posyandu Lempake Samarinda. Penelitian ini menggunakan tensimeter dan kuesioner EuroQol 5-Dimension. Hasil penelitian ini didapatkan hipertensi dan kualitas hidup tidak memiliki hubungan yang bermakna (p= 0,108) dengan uji Chi-square. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara hipertensi dengan kualitas hidup lansia di wilayah Puskesmas Lempake Samarinda.

Page 7 of 10 | Total Record : 92