cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,609 Documents
Kandungan Senyawa Aktif Jahe Merah Menggunakan Metode Kromatografi Gas–Spektrometri Massa (GC-MS) Isnaini, Yuni Subhi; Bahra, Bahra; Simanjuntak, Melicha K
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i9.15936

Abstract

ABSTRACT One of the physiological changes that occur in pregnancy and make pregnant women uncomfortable is nausea and vomiting or known as emesis gravidarum. Several pharmacological therapies are considered to treat nausea and vomiting, namely Vitamin B6 (Pyridoxine Hydrochloride), but the administration of vitamin B6 is less effective because many pregnant women are afraid to take medication, so non-pharmacological therapy is recommended, namely the administration of ginger candy. The purpose of this study is to examine the content of active compounds of red ginger from Sorong City, Manokwar Regency and Nabire Regency. This type of research is an experimental research with a cross sectional study research design. The samples in this study were Red Ginger from Sorong City, Manokwar Regency and Nabire Regency with a sampling technique using purposive sampling. This study analyzed the content of active compounds of red ginger. The results of the study showed that the content of ginger active compounds using the GC-MS method, the content of ginger active compounds from Sorong City had a higher content of gingerol active compounds with a retention area value of 1.44% compared to red ginger from Manokwari Regency and Nabire Regency. The conclusion is that the high content of gingerol compounds will be able to improve nausea and vomiting in pregnant women because Gingerol is considered the main cause of anti-emetic effects, while shogaol and galanolactone yes act on serotonin receptors, especially in the ileum. Keywords: Red Ginger, Active Compounds, GC-MS  ABSTRAK Salah satu perubahan fisiologis yang terjadi pada kehamilan dan membuat ketidaknyamanan pada ibu hamil yaitu mual dan muntah atau yang dikenal dengan emesis gravidarum. Beberapa terapi farmakologi dipertimbangkan untuk mengatasi mual muntah yaitu Vitamin B6 (Pyridoxine Hidroklorida) namun pemberian vitamin B6 kurang efektif karena banyak ibu hamil yang takut untuk minum obat sehingga direkomendasikan terapi non farmakologis yaitu pemberian permen jahe. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti kandungan senyawa aktif jahe merah yang berasal Kota Sorong, Kabupaten manokwar dan Kabupaten Nabire. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini Jahe Merah yang berasal dari Kota Sorong, Kabupaten manokwar dan Kabupaten Nabire dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian ini melakukan analisis kandungan senyawa aktif jahe merah menggunakan metode GC-MS yang dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada. Data yang diambil merupakan data primer. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan senyawa aktif jahe menggunakan metode GC-MS, kandungan senyawa aktif jahe yang berasal dari Kota Sorong memiliki kandungan senyawa aktif gingerol lebih tinggi dengan nilai retention area adalah 1,44% dibandingkan jahe merah yang berasal dari Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Nabire. Kesimpulan tingginya kandungan senyawa gingerol akan dapat mempenegaruhi mual muntah ibu hamil karena Gingerol dianggap sebagai penyebab utama efek anti muntah, sementara shogaol dan galanolactone ya bekerja pada reseptor serotonin, terutama di ileum. Kata kunci: Jahe Merah, Senyawa Aktif, GC-MS
Hubungan Pengetahuan dengan Stigma Masyarakat Terhadap Penderita Penyakit Kusta di Desa Karyamukti Wilayah Kerja Puskesmas Sekampung Kabupaten Lampung Timur Trismiyana, Eka; Triyoso, Triyoso; Hidayat, Taufiq
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i8.15142

Abstract

ABSTRACT Leprosy is an infectious disease caused by a bacterium. It affects the peripheral nerves, skin, mucous membranes (mouth), upper respiratory tract, reticuloendothelial system, eyes, muscles, bones, and testes. There are two types of leprosy, namely wet type MB (Multi Bacillary) and dry type PB (Pasui Bacillary). This disease remains problematic in Indonesia with 403 new cases reported in 2021. While in Lampung Province, there were 122 patients with a prevalence rate of 0.20 per 10,000 population in 2021. Especially in East Lampung Regency, there were 14 new cases reported in 2021, with a prevalence rate of 0.2 per 10,000 population. This study was to determine the relationship between knowledge and community stigma towards leprosy patients in Karya Mukti Village, working area of Sekampung Primary Health Center, East Lampung Regency in 2023. This study used a quantitative approach with an analytical survey design using a cross-sectional approach. The population of this study included all residents in Karya Mukti Village, totaling 1,200 families. The sample size of 300 families determined using random sampling technique. The data were analysed using the Chi-Square statistical test. Based on the frequency data, 40 (13.3%) respondents had good knowledge about leprosy, while 260 (86.7%) respondents had poor knowledge. Regarding the frequency of community stigma towards leprosy patients, 138 (46.0%) showed positive stigma, and 162 (54.0%) showed negative stigma. The Chi-Square test resulted in a p-value of 0.001 (<0.05) with an Odd Ratio of 3.182. There is a relationship between knowledge and community stigma towards leprosy patients (p-value 0.001, OR 3.182) in Karya Mukti Village, working area of Sekampung Primary Health Center of East Lampung Regency in 2023. It is recommended for the primary health center to enhance community activities by providing health education to improve awareness among the community about leprosy, particularly regarding the transmission process. By understanding how leprosy is transmitted, the community can overcome negative perceptions and fear associated with the disease, which has long been considered dangerous. Keywords: Knowledge, Stigmatization, and Leprosy ABSTRAK Kusta merupakan jenis penyakit menular melalui kuman, Penyakit ini menyerang syaraf tepi, kulit, mukosa (mulut), saluran pernapasan bagian atas, sistem retikulo endotelia, mata, otot, tulang, dan testis. dan ada 2 jenis penyakit kusta yaitu kusta basah tipe MB (Multi Bacillary), kusta kering tipe PB (Pasui Bacillary) yang masih menjadi permasalahan di Indonesia sebanyak 4,03 kasus baru pada th 2021 dan diprovinsi lampung sebanyak 122 penderita dengan angka prevelensi 0,20 per 10.000 penduduk tahun 2021 khususnya di Kabupaten Lampung Timur Pada tahun 2021 terdapat penemuan kasus baru yang menderita penyakit kusta sebanyak 14 penderita dengan angka prevelensi 0,2 per 10.000 penduduk. Diketahui Hubungan Pengetahuan Dengan Stigma Masyarakat Terhadap Penderita Kusta Di Desa Karya Mukti Wilayah Kerja Puskesmas Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun 2023. Jenis penelitian kuantitatif. Rancangan survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat yang ada di Desa Karyamukti sebanyak 1200 Kepala Keluarga (KK) deangan jumlah sempel 300 Kepala Keluarga (KK). Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Analysis data menggunakan uji statistik Chi Square. Berdasarkan data frekuensi pengetahuan tentang penyakit kusta berpengetahuan baik 40 (13.3%), berpengetahuan kurang 260 (86.7%) dan data frekuensi stigma masyarakat terhadap penderita penyakit kusta stigma positif 138 (46.0%), stigma negatif 162 (54.0%). Hasil uji Chi-square didapatkan nilai p value 0.001 (<0.05) dengan Odd Ratio 3.182. Adanya hubungan pengetahuan dengan stigma masyarakat terhadap penderita penyakit kusta (p value 0.001. OR 3.182) di Desa Karyamukti Wilayah Kerja Puskesmas Sekampung Lampung Timur tahun 2023. Bagi pihak Puskesmas disarankan meningkatkan kegiatan bagi masyarakat dengan cara memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit kusta khususnya proses penularan penyakit kusta. Sehingga dengan mengetahui penularan penyakit kusta, masyarakat tidak lagi memiliki anggapan negatif dan takut dengan penyakit kusta yang selama ini dianggap sebagai penyakit yang berbahaya. Kata Kunci: Pengetahuan, Stigmatisasi, dan Kusta
Efektifitas Edukasi Terhadap Pengetahuan dan Efikasi Diri Pasien Dalam Pencegahan Kaki Diabetik Maslikan, Sunarti; Wijayanti, Dewi; Lesmana, Hendy; Najihah, Najihah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14653

Abstract

ABSTRACT Diabetes  mellitus  can  cause  acute  and  chronic  complications,   one  of which  is diabetic foot ulcers. This can be prevented with a comprehensive  foot management including risk assessment,  foot care, education and support  of a multidisciplinary team.  The purpose of the research  was to determine  the effect  of heaJth  education on patient knowledge and self-efficacy in preventing diabetic foot ulcers. This was quantitative  research using a quasi-experiment design pretest-posttest  control group design. The research  sample was diabetic patients  who did not have diabetic foot ulcers and they were treated at RSU Kota Tarakan. The sampling used systematic sampling with a total sample of 18 people in the treatment group and 18 people in the control  group.  The data collection was done through a questionnaire. The data were analyzed using the Wilcoxon Sign Rank Test and the Mann Whitney U Test. The results showed  that there  was a significant  difference in  the value of knowledge   (p=0.001)   and   self-efficacy   (p=0.001)   after   being   given   health education between the treatment and control groups. Health education has increased their  knowledge  and self-efficacy;  it  influences  their knowledge  and self-efficacy in  preventing diabetic foot ulcuses. Keywords: Education, Knowledge, Efficacy, Diabetic Foot  ABSTRAK Penyakit diabetes melitus jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan komplikasi akut dan kronis, salah satunya adalah ulkus kaki diabetik. Ulkus kaki diabetik dapat dicegah dengan pengelolaan kaki secara komprehensif meliputi penilaian resiko, perawatan kaki, pendidikan dan dukungan tim multidisiplin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan efikasi diri pasien dalam pencegahan ulkus kaki diabetik. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan desain quasy experiment pre test-post test control group desain. Sampel penelitian adalah penderita DM yang belum mempunyai ulkus kaki diabetik yang dirawat di RSU Kota Tarakan. Tehnik pengambilan sampel menggunakan sampling sistematis dengan jumlah sampel 18 orang pada kelompok perlakuan dan 18 orang kelompok kontrol. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dan Mann Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan nilai pengetahuan (p=0,001) dan efikasi diri (p=0,001) setelah diberikan pendidikan kesehatan antara kelompok perlakuan dan kontrol. Pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri pasien. Pendidikan kesehatan berpengaruh terhadap pengetahuan dan efikasi diri pasien dalam pencegahan ulkus kaki diabetik. Kata Kunci: Edukasi, Pengetahuan, Efikasi, Kaki Diabetik 
Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Toilet Training pada Anak Toddler Berdasarkan the American Academy of Pediatrics Guide Terhadap Self-Efficacy pada Caregiver di Puspa Daycare Dewi, Kurnia Meishinta; Rakhmawati, Windy; Mardhiyah, Ai
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i10.15693

Abstract

ABSTRACT Diaper dermatitis is a condition that children are prone to. The prevalence of diaper dermatitis tends to decrease when children stop using diapers and receive toilet training. Toilet training is a developmental task that must be achieved by toddlers, if it is not achieved, it will have an impact on the child’s physiology and psychology, such as urinary track infection, feelings of inferiority, and maladaptive socialization. The inisiation of toilet training in children is carried out by the caregiver, especially mother at home, but the current phenomenon is that many parents work so children are left in daycare. So, in the condition of children in daycare, the inisiation of toilet training in children is carried out either by the mother who entrusts her child to daycare or by the caregiver at the daycare. The success of toilet training is influenced by caregiver self-efficacy which can be improved through health education about toilet training for children based on effective guidelines. This study aims to analyze the effect of health education about toilet training for toddlers based on The American Academy of Pediatrics Guide on caregiver self-efficacy in Puspa Daycare. This research used a quasi experimental design with one group pre-test and post-test. Sampling used total sampling, obtained 33 participants. The self-efficacy instrument was adapted from the General Self-Efficacy Scale (GSES). Data analysis used the Wilcoxon test. The results of the analysis showed that there is a significant difference between self-efficacy before and after providing health education (p =0,000). The conclusion of this research is that health education about toilet training for toddlers based on The American Academy of Pediatrcs Guide had an effect on increased the self-efficacy of caregivers at Puspa Daycare. This health education can be an intervention for pediatric nurses in provided nursing services to caregivers regarding toilet training for toddler in daycare. Keywords: Caregiver, Daycare, Health Education, Self-Efficacy, The American Academy of Pediatrics Guide  ABSTRAK Diaper dermatitis merupakan kondisi yang rentan terjadi pada anak. Prevalensi diaper dermatitis cenderung berkurang saat anak berhenti menggunakan diapers dan mendapatkan toilet training. Toilet training merupakan tugas perkembangan yang harus dicapai oleh anak toddler, jika tidak dicapai maka akan berdampak pada fisiologis hingga psikologis anak, seperti infeksi saluran kemih, perasaan rendah diri, dan sosialisasi tidak adaptif. Inisiasi toilet training pada anak dilakukan oleh caregiver terutama orang tua di rumah, namun fenomena saat ini banyak orang tua bekerja sehingga anak dititipkan di daycare. Maka, pada kondisi anak di daycare, inisiasi toilet training pada anak toddler dilakukan baik oleh ibu yang menitipkan anaknya di daycare maupun oleh pengasuh di daycare. Keberhasilan toilet training dipengaruhi oleh self-efficacy pada caregiver yang dapat ditingkatkan melalui pendidikan kesehatan tentang toilet training pada anak toddler berdasarkan panduan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan tentang toilet training pada anak toddler berdasarkan The American Academy of Pediatrics Guide terhadap self-efficacy pada caregiver di Puspa Daycare. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan one group pre-test and post-test. Pengambilan sampel menggunakan total sampling, didapatkan 33 partisipan. Instrumen self-efficacy diadaptasi dari General Self-Efficacy Scale (GSES). Analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara self-efficacy sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan (p = 0,000). Simpulan pada penelitian ini adalah pendidikan kesehatan tentang toilet training pada anak toddler berdasarkan The American Academy of Pediatrics Guide berpengaruh terhadap peningkatan self-efficacy pada caregiver di Puspa Daycare. Pendidikan kesehatan tentang toilet training ini dapat menjadi intervensi bagi perawat anak dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada caregiver tentang toilet training pada anak toddler di daycare. Kata Kunci: Caregiver, Daycare, Pendidikan Kesehatan, Self-Efficacy, The American Academy of Pediatrics Guide
Pengaruh Relaksasi Nafas dalam Terhadap Kecemasan Pasien Pre Operasi Fraktur Banjarnahor, Purnama; Sulidah, Sulidah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i8.14780

Abstract

ABSTRACT Fracture surgery is an invasive procedure that induces anxiety in patients. Preoperative anxiety has a negative impact on the success of the procedure and treatment; it can even lead to the postponement or cancellation of the surgery. Concrete efforts are needed to manage preoperative anxiety in patients to prevent further harm. This study aims to identify the level of preoperative anxiety in fracture patients, before and after practicing deep breathing relaxation; and to analyze the effect of deep breathing relaxation on preoperative anxiety in fracture patients. This research is a quantitative study with a pre-experimental design of the One Group Pre Test-Post Test Design. The population of this study is all preoperative fracture patients, with a known population size from medical record data in the last 3 months of 79 people. The sample was calculated using the Slovin formula, resulting in 45 respondents selected using accidental sampling technique. Respondents' anxiety was measured using the Hamilton Rating Scale for Anxiety instrument developed by the Jakarta Biological Psychiatry group in the form of an Anxiety Analog Scale with a Cronbach's Alpha value of 0.794. This study was able to identify preoperative fracture patients experiencing anxiety; anxiety decreased after practicing deep breathing relaxation. Statistical analysis using Pearson product-moment correlation showed that deep breathing relaxation had a positive effect in reducing preoperative anxiety in fracture patients. Keywords: Anxiety, Fracture, Deep Breathing Relaxation, Preoperative  ABSTRAK Operasi fraktur merupakan prosedur invasif yang menimbulkan perasaan cemas pada pasien. Kecemasan pre operasi mempunyai pengaruh negative terhadap keberhasilan prosedur dan perawatan; bahkan dapat menyebabkan ditunda atau dibatalkannya prosedur operasi. Perlu upaya konkrit mengelola kecemasan pasien pre operasi agar tidak menimbulkan kerugian lebih jauh bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien pre operasi fraktur, sebelum dan sesudah melakukan relaksasi nafas dalam; serta menganalisis pengaruh relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pasien pre operasi fraktur. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain pre eksperimental rancangan One Group Pre Test-Post Test Desaign. Populasi penelitian ini ialah seluruh pasien pre operasi fraktur dengan besar populasi diketahui dari data rekam medis 3 bulan terakhir sebesar 79 orang. Sampel dihitung dengan rumus Slovin diperoleh 45 responden yang diambil dengan teknik accidental sampling. Kecemasan responden di ukur dengan instrumen Hamilton Rating Scale for Anxiety yang sudah dikembangkan oleh kelompok Psikiatri Biologi Jakarta dalam bentuk Anxiety Analog Scale dengan nilai Cronbach’s Alpha 0,794. Penelitian ini mampu mengidentifikasi pasien pre operasi fraktur mengalami kecemasan; kecemasan menurun setelah melakukan relaksasi nafas dalam. Analisis statistic dengan person product moment terbukti relaksasi nafas dalam berpengaruh positif  dalam menurunkan kecemasan pasien pre operasi fraktur. Kata Kunci: Fraktur, Kecemasan, Pre operasi, Relaksasi Nafas Dalam.
Efektivitas Pemberian Aromaterapi Lavender, Relaksasi Benson dan Mendengarkan Murottal Al-Qur’an Terhadap Tingkat Kecemasan Pre Anestesi dengan Tindakan Spinal Anestesi di RS Pelabuhan Jakarta Erpina, Diah; Mochartini, Tri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i8.14228

Abstract

ABSTRACT Surgery is a worrying situation for patients who will undergo it. Surgery and anesthesia can cause anxiety in patients which is characterized by mental tension as a response to the body. Anxiety and fatigue are indicators of physical and psychological stress in patients before surgery. Management of anxiety can be done in two ways, namely pharmacological and non-pharmacological. The role of nurses is very important in reducing anxiety with non-pharmacological methods such as using lavender aromatherapy, Benson relaxation and murrotal Al-Qur'an. To determine the effectiveness of giving lavender aromatherapy, Benson relaxation and listening to Al-Qur'an murottals on pre-anesthesia anxiety levels with spinal anesthesia. Quasi experimental with a three group pretest-posttest design. The samples in this study were 45 pre-spinal anesthesia patients at Jakarta Harbor Hospital in December 2023. The sampling technique uses purposive sampling. The majority of respondents before being given the intervention had moderate or mild levels of anxiety, after the intervention the majority of respondents were not anxious. Listening to murrotal Al-Qur'an is more effective in reducing anxiety in pre-anesthesia patients with spinal anesthesia compared to giving lavender aromatherapy and Benson relaxation (p=0.004). Listening to murrotal Al-Qur'an is more effective in reducing anxiety in pre-anesthesia patients with spinal anesthesia compared to giving lavender aromatherapy and Benson relaxation. It is hoped that this Al-Qur'an murrotal can be used as a non-pharmacological therapy option in reducing anxiety levels in pre-anesthesia patients. Keywords: Lavender Aromatherapy, Benson Relaxation, Murrotal Al-Qur'an, Worry ABSTRAK Tindakan pembedahan merupakan situasi yang mengkhawartirkan bagi pasien yang akan menjalaninya. Pembedahan dan anestesi dapat mengakibatkan kecemasan pada pasien yang ditandai dengan ketegangan mental sebagai respon tubuh. Kecemasan dan kelelahan merupakan indikator stres fisik dan psikologis pasien sebelum pembedahan kurang diperhatikan. Penatalaksanaan mengatasi kecemasan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu farmakologi dan non farmakologi. Peran perawat sangat penting dalam menurunkan kecemasan dengan non farmakologi seperti dengan menggunakan aromaterapi lavender, relaksasi benson dan murrotal Al-Qur’an. Mengetahui efektivitas pemberian aromaterapi lavender, relaksasi benson dan mendengarkan murottal Al-Qur’an terhadap tingkat kecemasan pre anestesi dengan tindakan spinal anestesi. Quasi eksperimental dengan rancangan three group pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien pre anestesi spinal di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta pada bulan Desember 2023 sebanyak 45 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Mayoritas responden sebelum diberikan intervensi tingkat kecemasannya sedang dan ringan, sesudah intervensi mayoritas  responden tidak cemas. Mendengarkan murrotal Al-Qur’an lebih efektif untuk menurunkan kecemasan pada pasien pre anestesi dengan tindakan spinal anestesi dibandingkan dengan pemberian aromaterapi lavender dan relaksasi benson (p=0,004). Mendengarkan murrotal Al-Qur’an lebih efektif untuk menurunkan kecemasan pada pasien pre anestesi dengan tindakan spinal anestesi dibandingkan dengan pemberian aromaterapi lavender dan relaksasi benson. Diharapkan murrotal Al-Qur’an ini dapat digunakan sebagai pilihan terapi nonfarmakologi dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi. Kata Kunci: Aromaterapi Lavender, Relaksasi Benson, Murrotal Al-Qur’an, Kecemasan
Penerapan Buku Saku “Peduli Stunting” Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu di Wilayah Pinggiran Sungai Kapuas Kota Pontianak Masmuri, Masmuri; Seprian, Dwin; Limansyah, Dodik; Rusnaini, Rusnaini
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14609

Abstract

ABSTRACT Stunting is one of the problems that exists in communities along the Kapuas River in West Kalimantan. Low levels of knowledge and inadequate attitudes or practices regarding the care of children with stunting are some of the causes of stunting. The characteristics of the people on the banks of the Kapuas River are generally people who are still very closely related to the culture they adhere to. This research aims to examine the effectiveness of implementing the "Peduli Stunting" pocketbook on the level of knowledge and attitudes of mothers with stunted children in the Kapuas River area, Pontianak City. Research method is a quantitative quasi-experiment with a pre-test and post-test with a control group approach with 100 respondents using Total Sampling which is divided into 2 groups (50 respondents in the intervention group and 50 respondents in the control group). The results of the analysis found differences in the level of knowledge and attitudes of mothers before and after intervention with the pocketbook media "Peduli Stunting" with a significant value of 0.000 (p < 0.05). In this study, mothers' knowledge and attitudes cannot be separated from the influence of culture held by marginalized communities Sungai Kapuas which believes that breastfeeding mothers should not give their babies first breast milk because it is thought to contain bacteria and spoiled milk and before they are six months old, babies are given additional food, such as banana "lothe" so that they do not fuss. This research concludes that the pocketbook "Peduli Stunting" increases the knowledge and attitudes of mothers on the Kapuas River in fulfilling and managing the nutrition of children with stunting. In areas where people live on the banks of rivers, there are still many myths and beliefs according to the culture held by the community about what foods can and cannot be given to toddlers. Most of these prohibited foods meet the nutritional needs of toddlers as they grow and develop. The mother's unfavorable attitude is influenced by the culture adopted based on the community's ethnicity. Education with the pocketbook "Peduli Stunting" can be applied Keywords: Stunting, Pocketbook, Knowledge, Attitude  ABSTRAK Stunting merupakan salah satu permasalahan yang ada pada masyarakat pinggiran sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Tingkat pengetahuan yang rendah dan sikap atau praktik yang kurang memadai tentang perawatan anak dengan stunting adalah beberapa penyebab terjadinya stunting. Karakteristik masyarakat pinggiran sungai Kapuas juga pada umumnya ialah masyarakat yang masih sangat erat kaitannya dengan budaya yang dianutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji efektivitas penerapan buku saku “Peduli Stunting” Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap pada Ibu dengan Anak Stunting Di Wilayah Pinggiran Sungai Kapuas Kota Pontianak. Metode Penelitian ini adalah kuantitatif quasy experiment dengan pendekatan pre-test post-test with control group dengan responden berjumlah 100 responden menggunakan Total Sampling yang dibagi menjadi 2 kelompok (50 responden kelompok intervensi dan 50 responden kelompok kontrol). Hasil analisis ditemukan perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap ibu sebelum dan sesudah intervensi dengan media buku saku “Peduli Stunting” dengan nilai signifikan yaitu 0,000 (p < 0,05), pada penelitian ini pengetahuan dan sikap ibu tidak lepas dari pengaruh budaya yang dianut masyarakat pinggiran sungai Kapuas yang beranggapan bahwa ibu menyusui tidak boleh memberikan ASI pertama pada bayinya karena dianggap mengandung bakteri dan susu yang basi dan sebelum berusia enam bulan, bayi diberikan makanan tambahan, seperti "lothe" pisang, agar mereka tidak rewel. Kesimpulan dari penelitian ini adalah buku saku “Peduli Stunting” meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu pinggiran sungai kapuas dalam pemenuhan dan pengelolaan gizi anak dengan stunting. Pada wilayah lingkungan tempat tinggal yang berada di tepian sungai masih memiliki banyak mitos dan kepercayaan sesuai dengan kebudayaan yang dianut masyarakat tentang makanan apa yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada balita. Sebagian besar makanan yang dilarang tersebut memenuhi kebutuhan nutrisi balita saat tumbuh kembangnya. Sikap ibu yang kurang baik dipengaruhi oleh budaya yang dianut berdasarkan suku masyarakat. Edukasi dengan buku saku “Peduli Stunting” dapat diterapkan Kata Kunci: Stunting, Buku Saku, Pengetahuan, Sikap
Pengaruh Supervisi Infection Prevention Control Nurse (IPCN) terhadap Kepatuhan dalam Pencegahan Healthcare Associated Infections (HAIS) di Rumah Sakit Kota Jayapura Mendrofa, Hendry Kiswanto; Astuti, Dwi; Rahayu, Agnes Supraptiwi; Paliling, Irwin
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i10.15313

Abstract

ABSTRACT The high prevalence of HAIs in developing countries like Indonesia indicates the need to strengthen infection prevention and control programs in healthcare facilities. A crucial factor in preventing HAIs is effective supervision by Infection Prevention Control Nurses (IPCNs). Good supervision can increase nurses' adherence to infection prevention protocols, thereby reducing the incidence of HAIs.This study aims to analyze the effect of supervision by IPCNs on nurses' compliance in preventing HAIs. This research is an explanatory type. The sampling technique used was purposive sampling. The sample size of this study consisted of 100 nurses at a hospital in Jayapura City. The results showed that the majority of the supervision implementation was in the poor category with a percentage of 53%, while the majority of nurse compliance was in the compliant category with a percentage of 98%. There is an effect of IPCN supervision on nurse compliance in preventing HAIs with a p-value < 0.05. The coefficient of determination of the two variables is 0.5, which means that IPCN supervision contributes 0.5% to nurse compliance in preventing HAIs. Enhancing IPCN supervision performance in hospitals is very important by providing training, offering rewards, and creating a supportive work environment to motivate IPCNs in implementing infection control programs. Keywords: IPCN, HAIs, Nurses, Compliance, Patient Safety  ABSTRAK Tingginya prevalensi HAIs di negara berkembang seperti Indonesia menunjukkan perlunya penguatan program pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan. Faktor krusial dalam pencegahan HAIs adalah supervisi yang efektif dari IPCN. Pengawasan yang baik dapat meningkatkan kepatuhan perawat terhadap protokol pencegahan infeksi, sehingga dapat mengurangi insiden HAIs. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh supervisi oleh infection prevention control nurse (IPCN) terhadap kepatuhan perawat dalam pencegahan HAIs. Penelitian ini merupakan jenis explanatory research. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Jumlah sampel yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 100 perawat di Rumah Sakit Wilayah Kota Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pelaksanaan supervisi berada dalam kategori kurang dengan persentase 53%, sementara kepatuhan perawat mayoritas berada dalam kategori patuh dengan persentase 98%. Terdapat pengaruh supervisi oleh IPCN terhadap kepatuhan perawat dalam pencegahan HAIs dengan nilai p < 0,05. Nilai koefisien determinasi kedua variabel adalah 0,5, yang berarti bahwa supervisi IPCN memberikan kontribusi sebesar 0,5% terhadap kepatuhan perawat dalam pencegahan HAIs. Meningkatkan kinerja supervisi IPCN di rumah sakit sangat penting dengan menyediakan pelatihan, pemberian penghargaan, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung agar IPCN termotivasi dalam menjalankan program pengendalian infeksi.   Kata Kunci: IPCN, HAIs, Perawat, Kepatuhan, Keselamatan Pasien
Pengalaman Ibu Dalam Upaya Pengentasan Stunting Novryanthi, Dhinny; Suryadin, Asep; Hamidah, Ernawati; Lutiyah, Lutiyah; Ayu, Shinta Arini; Aziz, Shovi Nur; Shyfa, Putri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i9.16350

Abstract

ABSTRACT Nutritional problems occur in every life cycle, starting in the womb, infancy, childhood, adulthood and old age. The first two years of life are a critical period, because there is rapid growth and development. The condition of failure to grow in children under five results in children being too short and not appropriate for their age due to chronic malnutrition, this term we know as stunting. Stunting makes children more susceptible to disease and as adults they are at risk of developing degenerative diseases. The problem of stunting which is an obstacle to children's growth and development will have an impact on intelligence. Stunting also raises concerns for a country because it affects the quality of human resources which are valuable assets. To explore mothers' adaptation experiences in efforts to reduce stunting. This research is qualitative research with a phenomenological design. Where this research begins by paying attention to the phenomenon being studied, various aspects of the subject and the behavior of the object being seen. Participants are people who provide main information and are key information for 5 participants. Participants in this study were aged between 25 years and 34 years who had children under five years old. From the results of this research, three themes were obtained, namely theme 1: Food based on the age of the toddler that the mother gives. This theme describes the type of food that the mother gives to her child as time goes by and as the child's age increases, the texture and type begin to change according to the child's ability to digest. that food. Theme 2: Mother's parenting style is seen from the needs of the toddler. Participants described providing parenting patterns for toddlers based on the needs that participants saw in their own toddlers when the toddlers did not finish their portions of food, when the toddlers were lazy about eating, as well as the mother's parenting patterns to obtain information on maintaining balanced nutrition in toddlers. Theme 3: mothers maintain the health of their toddlers. This third theme explains how mothers maintain the health of their toddlers in an effort to eradicate stunting with the criteria of maintaining cleanliness in toddlers, caring for sick toddlers. Mothers' experiences in efforts to eradicate stunting have a role and influence on the growth and development of toddlers. Keywords: Stunting, Mother's Experience, Efforts To Eradicate Stunting ABSTRAK Masalah gizi terjadi pada setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan, bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis, karena terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Kondisi gagal tumbuh dari anak balita mengakibatkan anak terlalu pendek dan tidak sesuai dengan usianya diakibatkan dari kekurangan gizi kronis, istilah ini kita kenal sebagai stunting. Stunting menyebabkan anak lebih rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit degeneratif . Masalah      stunting yang menjadi penghambat tumbuh kembang pada anak akan berdampak pada kecerdasan. Stunting juga menimbulkan kekhawatiran bagi sebuah negara karena berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia yang menjadi aset berharga. Untuk mengeksplorasi pengalaman adaptasi ibu dalam upaya mengentaskan stunting. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Dimana penelitian ini diawali dnegan memperhatikan fenomena yang diteliti, berbagai aspek subjek dan perilaku objek yang dilihat. Partisipan adalah orang yang memberikan informasi utama dan merupakan infromasi kunci sebanyak 5 partisipan. Partisipan dalam penelitian ini berusia antara 25 tahun sampai dengan 34 tahun yang memiliki anak dengan usia balita. Dari hasil penelitian ini didapatkan tiga tema yaitu tema 1 : Makanan berdasarkan usia balita yang ibu berikan Tema ini mendeskripsikan tentang jenis makanan yang ibu berikan untuk anaknya seiring berjalannya waktu dan peningkatan usia anak mengalami perubahan dan mulai tekstur dan jenis nya sesuai dengan kemampuan anak dalam mencerna makanan tersebut. Tema 2 : Pola Asuh ibu dilihat dari kebutuhan balita. Partisipan mendeskripsikan pemberian pola asuh pada balita dilihat dari kebutuhan yang partisipan lihat pada balita nya sendiri disaat balita tidak menghabiskan porsi makan, disaat anak balita malas makan, serta pola asuh ibu untuk mendapatkan informasi dalam menjaga gizi seimbang pada balita. Tema 3: ibu mempertahankan Kesehatan balita, tema ketiga ini menjelaskan bagaimana ibu mempertahankan Kesehatan balitanya dalam upaya pengentasan stunting dengan kriteria menjaga kebersihan pada diri balita, merawat anak balita sakit.  pengalaman ibu dalam upaya pengentasan stunting memiliki peran dan pengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan balita. Kata Kunci: Stunting, Pengalaman Ibu, Upaya Pengentasan Stunting
Pengaruh Puasa 12 Jam Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa dan Berat Badan Pada Mencit (Mus Musculus) Hiperglikemia Induksi Aloksan Junaid, Nurul Maghfirah; Makmun, H. Armanto; Ningsi, Iin Widya; Julyani, Sri; Rasfayanah, Rasfayanah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14787

Abstract

ABSTRACT The term "hyperglycemia" comes from the Greek words hyper (high), glykys (sweet/sugar) and haima (blood). Insulin deficiency, or the inability of cells to respond to insulin, causes high blood sugar levels (hyperglycemia), which is a clinical sign of diabetes. Diabetes, is a serious, long-term (or "chronic") condition that occurs when blood sugar levels rise because the body is unable to produce the hormone insulin or cannot use the insulin it produces effectively. Diabetes mellitus is currently a global health treath. Alloxan is one of the common diabetogenic agents that is often used to assess the antidiabetic potential of purified compounds and plant extracts in studies involving diabetes. Intermittent fasting is time-restricted feeding, where food can only be eaten at certain times of the day, usually in conjunction with a 16 - 20 hour fast. Several studies have proven that intermittent fasting is effective in reducing weight and stabilizing blood glucose levels. Circadian rhythms are also called biological clocks which refer to behavioral, physiological and molecular changes with a cycle length of about 24 hours. Intermittent fasting can maintain circadian rhythm and regulate the metabolic system. Intermittent fasting results in reductions in energy intake, body weight, body fat, blood pressure, blood glucose, glucose tolerance, and inflammatory markers. This research was conducted to find out whether there is a difference in blood glucose levels when doing intermittent fasting for 12 hours during the day and at night. This research is true experimental research with a Pre-Test and Post-Test Control Group Design research design. Measurement of blood sugar levels in mice (Mus musculus) was carried out before and after treatment. Take samples of mice that weigh 20-40 grams and are 2-3 months old. All of these mice were male and had fasting blood glucose levels >108 mg/dL after alloxan induction. This research has two variables, namely independent and dependent. The independent variable here is the effect of fasting 12 hours during the day and 12 hours at night for 14 days. Meanwhile, the dependent variables in this study were blood glucose levels and body weight of hyperglycemic mice (Mus musculus) before and after fasting 12 hours during the day and 12 hours at night for 14 days. The equipment used in this research included mouse cages, AD 1 mouse feed, electric scales, glucometer, glucose strips, blood lancet, pen lancet, 1 ml syringe, handscone, and mask. From the results of this study, data was obtained that mice that fasted for 12 hours for 14 days, both day and night, experienced a decrease in blood glucose levels and body weight. Interestingly, mice that fasted at night lost more weight and glucose than those that fasted during the day. Intermittent Fasting is able to reduce blood glucose levels and body weight effectively. Keywords: Mice, Fasting, Glucose, Body Weight  ABSTRAK Istilah "hiperglikemia" berasal dari kata Yunani hyper (tinggi), glykys (manis/gula) dan haima (darah). Kekurangan insulin, atau ketidakmampuan sel merespons insulin, menyebabkan kadar gula darah tinggi (hiperglikemia), yang merupakan tanda klinis diabetes. Diabetes, adalah kondisi serius jangka panjang (atau "kronis") yang terjadi ketika kadar gula darah meningkat karena tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif. Diabetes melitus saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global2,4,5. Aloksan adalah salah satu agen diabetogenik umum yang sering digunakan untuk menilai potensi antidiabetes dari senyawa murni dan ekstrak tumbuhan dalam studi yang melibatkan diabetes. Intermittent fasting adalah pemberian makan dengan batasan waktu, di mana makanan hanya boleh dimakan pada waktu tertentu dalam sehari, biasanya bersamaan dengan puasa 16 - 20 jam.  Beberapa penelitian telah membuktikan intermittent fasting efektif dalam menurunkan berat badan dan menstabilkan kadar glukosa darah8,9. Ritme sirkadian juga disebut jam biologis yang mengacu pada perubahan perilaku, fisiologis, dan molekuler dengan panjang siklus sekitar 24 jam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan pada kadar glukosa darah ketika melakukan intermittent fasting 12 jam pada siang hari dan malam hari. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan desain penelitian Pre-Test and Post-Test Control Group Design. Pengukuran kadar gula darah pada mencit (Mus musculus) dilakukan sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Mengambil sampel mencit yang memiliki berat 20-40 gram dan berusia 2-3 bulan. Semua mencit ini berjenis kelamin laki-laki dan mempunyai kadar glukosa darah puasa >108 mg/dL setelah diinduksi aloksan. Penelitian ini memiliki dua variabel, yakni independen dan dependen. Variabel independen di sini adalah pengaruh puasa 12 jam siang hari dan 12 jam malam hari selama 14 hari. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kadar glukosa darah puasa dan berat badan mencit (Mus musculus) hiperglikemia sebelum dan setelah puasa 12 jam siang hari dan 12 jam malam hari selama 14 hari. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kandang mencit, pakan mencit AD 1, timbangan elektrik, glukometer, strip glucosa, blood lancet, pen lancet, spuit 1 ml, handscone, serta masker. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan data bahwa mencit yang berpuasa 12 jam selama 14 hari baik di waktu siang maupun malam mengalami penurunan kadar glukosa darah serta berat badan. Menariknya, mencit yang berpuasa di malam hari, penurunan glukosanya lebih banyak ketimbang yang berpuasa di siang hari dan yang tidak berpuasa sedangkan penurunan berat badan lebih banyak pada kelompok yang tidak berpuasa. Intermittent Fasting ternyata mampu menurunkan kadar glukosa darah puasa dan menjaga agar berat badan tidak terlalu menurun pada pasien hiperglikemia. Kata Kunci: Mencit, Puasa, Glukosa, Berat Badan

Page 73 of 161 | Total Record : 1609


Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026) Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue