cover
Contact Name
Johanes Hasugian
Contact Email
johaneswhasugian@gmail.com
Phone
+6285265222617
Journal Mail Official
johaneswhasugian@gmail.com
Editorial Address
johaneswhasugian@gmail.com
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27216020     EISSN : 2721432X     DOI : 10.46305
Core Subject : Religion, Education,
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan agama Kristen, dengan nomor ISSN: 2721-432X (online), ISSN: 2721-6020 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara, Medan. Focus dan Scope penelitian IMMANUEL adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Agama Kristen IMMANUEL menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. IMMANUEL terbit dua kali dalam satu tahun, April dan Oktober
Articles 127 Documents
Dekonstruksi YOLO: Carpe Diem Pengkhotbah 11:9 atas Kecemasan Eksistensial Generasi Muda Lidiah Lidiah; Kornelius Rulli Jonathans; Philip Suciadi Chia
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.555

Abstract

The cultural phenomenon of YOLO (You Only Live Once) reflects the mindset of the younger generation, which emphasises freedom and prioritises temporary pleasures. This gives rise to anxiety due to a loss of direction in life, which is exacerbated by the dominance of internet technology, social media and digital culture. The church and Christian education face a major challenge in reinterpreting the value of life among a generation that is thirsty for meaning but trapped in a cycle of instant gratification. The phenomenon among young people highlights the need for theological reflection on the value of Carpe Diem in the light of the Christian faith. This study aims to deconstruct the understanding of YOLO through a hermeneutic reading of Ecclesiastes 11:9 in order to rediscover the spiritual meaning in freedom of life. It uses a descriptive qualitative method with a hermeneutic approach and literature study. It can be concluded that the YOLO spirit in the culture of the digital generation reflects an existential crisis that arises from a loss of meaning in life and spiritual orientation amid the tide of hedonism and technology. Through theological deconstruction of Ecclesiastes 11:9, it is found that true Carpe Diem is not unlimited freedom, but joy lived in awareness of God and moral responsibility. The implications of this study emphasise the importance of church education oriented towards the formation of reflective spirituality, spiritual resilience, and digital wisdom for today's young generation.AbstrakFenomena budaya YOLO (You Only Live Once) mencerminkan cara berpikir generasi muda yang menekankan kebebasan dan memprioritaskan kenikmatan sementara. Sehingga memunculkan kecemasan akibat kehilangan arah hidup yang diperkuat oleh dominasi teknologi internet, media sosial dan budaya digital. Gereja dan pendidikan Kristen menghadapi tantangan besar untuk menafsirkan ulang nilai hidup di tengah generasi yang haus makna, namun terjebak dalam siklus kepuasan sesaat. Fenomena di kalangan muda menunjukkan perlunya refleksi teologis terhadap nilai Carpe Diem dalam terang iman Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemahaman YOLO melalui pembacaan hermeneutik terhadap Pengkhotbah 11:9 agar ditemukan kembali makna spiritual dalam kebebasan hidup. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutik dan studi pustaka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa  semangat YOLO dalam budaya generasi digital mencerminkan krisis eksistensial yang muncul akibat kehilangan makna hidup dan orientasi spiritual di tengah arus hedonisme dan teknologi. Melalui dekonstruksi teologis terhadap Pengkhotbah 11:9, ditemukan bahwa Carpe Diem sejati bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan sukacita yang dijalani dalam kesadaran akan Allah dan tanggung jawab moral. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pendidikan gereja yang berorientasi pada pembentukan spiritualitas reflektif, ketahanan rohani, dan kebijaksanaan digital bagi generasi muda masa kini. 
Penggunaan Kritik Historis Dalam Teologi PB : Kajian Historis dan Pandangan Teolog di Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega Semarang Jon Jon
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.601

Abstract

Artikel ini mengkaji penggunaan kritik historis dalam teologi Perjanjian Baru oleh para teolog yang ada di Indonesia khususnya dosen-dosen prodi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega Semarang. Dengan pendekatan deskriptif historis dan kritik komparatif, peneliti dapat memperoleh titik temu dari pandangan teologi para teolog tersebut mengenai penggunaan kritik historis dalam teologi Perjanjian Baru. Setelah data terkumpul melalui wawancara maka peneliti mengelompokkan data-data tersebut ke dalam sejumlah unit analisis yang satu dengan lainnya tersusun secara sistematis. Temuan pertama dari studi ini adalah dosen prodi teologi STT KAO memiliki pandangan bahwa pendekatan kritik historis bisa digunakan sebagai alat bantu untuk memahami teks Alkitab dan bukan untuk mengkritisinya sehingga menimbulkan keraguan sebagai wahyu Allah. Kedua, dosen STT KAO juga memakai pendekatan kritik historis untuk mengafirmasi apa yang sudah disampaikan oleh teks Alkitab. Ketiga, dosen STT KAO memberikan masukan untuk berhati-hati dalam menggunakan pendekatan ini karena kalau tidak bijaksana dalam menggunakannya maka bisa terseret dalam semangat awal pendekatan ini yaitu untuk menjatuhkan otoritas Alkitab sebagai wahyu Allah sehingga Alkitab disamakan dengan dokumen atau buku pada umumnya. 
Membangun Kehidupan Komunitas Umat melalui Etika Dekalog: Kajian Teologi Konstruktif Keluaran 20:1–17 Maria Evvy Yanti; Periadi Ezekiel Soala Ritonga
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.611

Abstract

Recent archaeological findings about the relationship between Israel and its exclusivism among other nations need to be examined with the history of the nation's pluralism. The origins of the nation of Israel seem to have influenced the various contexts of life (religious, social, economic, political and legal) that occurred in the midst of pluralism. The context of Israel's life recorded in the Decalogue (Exodus 20:1-17) was formed by the process of assimilation and adaptation of various elements of the surrounding Canaanite culture and religion. It needs to be examined to look at the universal theological values of Decalogues from different eras and contexts. The relevance of these theological values for contextual missions as an effort to build a plural common life. Decalogue can be used as a reference text and theological construction of harmony in the midst of the plurality. Qualitative type research is carried out in this paper through the redaction of social history of the text of the formation of Decalogue values. While this type of descriptive research is used to analyze the implementation of contextual missions based on Decalogue values. This paper shows that the theological values of Decalogue contribute to the contextual religious communities 
Kajian Teologis Kedokteran Kejadian Manusia dalam Perspektif Mazmur 139:13 Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura; Yonatan Alex Arifianto; Reni Triposa
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.552

Abstract

The debate regarding the origin of humankind between the theological perspective of the Bible and Darwin's theory of evolution remains a compelling issue to this day, particularly with the advancement of modern medicine and genetics, which demonstrate the biological proximity between humans and primates. However, theological studies linking the biblical perspective, particularly Psalm 139:13, with the findings of modern medicine and genetics are still very limited, requiring in-depth study to bridge the two perspectives. This study aims to analyse the process of human creation based on the biblical hermeneutics of Psalm 139:13 from the perspective of modern medical theology and genetic science. The research method used is biblical hermeneutics with a modern medical theological approach and genetic analysis to understand the meaning of human creation holistically. The results show that the process of human creation in Psalm 139:13 is in line with modern medical science, particularly in embryogenesis, which describes God ‘weaving’ humans through highly complex and orderly genetic mechanisms. Analysis of the words qanah, cakak, and kilyah reveals the relationship between the creation of the human body, soul, and spirit, which reflects God's work holistically. These findings confirm that humans were created uniquely in the image and likeness of God, not as the result of evolution from other creatures, and enrich the theological understanding of medicine regarding the origin and nature of humans. AbstrakPerdebatan mengenai asal-usul manusia antara pandangan teologis Alkitab dan teori evolusi Darwin masih menjadi isu menarik hingga saat ini, terutama dengan adanya perkembangan ilmu kedokteran modern dan genetika yang menunjukkan kedekatan biologis antara manusia dan primata. Namun, kajian teologis yang menghubungkan perspektif Alkitab, khususnya Mazmur 139:13, dengan temuan ilmu kedokteran modern dan genetika masih sangat terbatas, sehingga diperlukan telaah mendalam untuk menjembatani kedua perspektif tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses kejadian manusia berdasarkan hermeneutik biblika Mazmur 139:13 dalam perspektif teologis kedokteran modern dan ilmu genetika. Metode penelitian yang digunakan adalah studi hermeneutik biblika dengan pendekatan teologis kedokteran modern dan analisis genetika untuk memahami makna penciptaan manusia secara holistik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kejadian manusia dalam Mazmur 139:13 sejalan dengan ilmu kedokteran modern, khususnya dalam embriogenesis yang menggambarkan Allah “menenun” manusia melalui mekanisme genetik yang sangat kompleks dan teratur. Analisis terhadap kata qanah, cakak, dan kilyah memperlihatkan hubungan antara penciptaan jasmani, jiwa, dan roh manusia yang mencerminkan karya Allah secara holistik. Temuan ini menegaskan bahwa manusia diciptakan unik menurut gambar dan rupa Allah, bukan hasil evolusi dari makhluk lain, serta memperkaya pemahaman teologis kedokteran tentang asal-usul dan hakikat manusia.
Kutukilah Allahmu dan Matilah: Mendekonstruksi Narasi Istri Ayub sebagai Subjek Penderitaan dalam Perspektif Pastoral Parlaungan Christoffel Simanjuntak; Perlindungan Lugu
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.532

Abstract

The Book of Job presents the story of a righteous man who remains faithful to God amid intense suffering. However, the figure of Job’s wife is often marginalized in biblical interpretation and frequently portrayed negatively. Her statement, “Curse God and die” (Job 2:9), is commonly understood as an expression of unfaithfulness. Yet, the text implicitly reflects her own profound suffering, including the loss of her children, wealth, and future, within the patriarchal context of the Ancient Near East. Existing studies on Job’s wife remain largely dominated by reductive interpretations and rarely consider her as a subject of suffering within a pastoral framework. This gap indicates the need for a more integrative and empathetic approach. This study aims to reinterpret the statement of Job’s wife as part of the broader narrative of suffering. It employs a qualitative library research method using narrative criticism of Job 2:9, combined with Hebrew lexical analysis and feminist and pastoral perspectives. The findings suggest that her statement carries semantic ambiguity, allowing for alternative interpretations beyond a literal curse, including as an expression of existential anguish. Thus, Job’s wife can be understood as a subject who experiences trauma rather than merely a negative figure. This study contributes by integrating biblical, feminist, and pastoral approaches, offering a more empathetic and contextual reading of human suffering. AbstrakKitab Ayub menghadirkan kisah penderitaan seorang tokoh saleh yang tetap setia kepada Allah, namun sosok istri Ayub kerap ditempatkan di pinggiran narasi dan ditafsirkan secara negatif dalam berbagai studi biblika. Ucapannya, “Kutukilah Allahmu dan matilah” (Ayub 2:9), umumnya dipahami sebagai bentuk ketidaksetiaan iman. Sementara itu, teks juga secara implisit merekam penderitaannya yang mendalam, termasuk kehilangan anak, harta, dan masa depan dalam konteks budaya patriarki Timur Dekat Kuno. Hingga kini, kajian terhadap istri Ayub masih didominasi oleh tafsir yang bersifat reduktif dan belum banyak mengembangkan pembacaan yang menempatkannya sebagai subjek penderitaan dalam kerangka pastoral. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih integratif dan empatik. Penelitian ini bertujuan mereinterpretasi ucapan istri Ayub sebagai bagian dari narasi dan seruan penderitaan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan analisis naratif terhadap Ayub 2:9, dipadukan dengan kajian bahasa Ibrani serta perspektif feminis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujaran tersebut memiliki ambiguitas makna yang memungkinkan pembacaan alternatif sebagai ekspresi penderitaan eksistensial. Dengan demikian, istri Ayub dapat dipahami sebagai subjek yang turut mengalami trauma. Penelitian ini berkontribusi dalam mengintegrasikan pendekatan biblika, feminis, dan pastoral, serta mendorong pembacaan yang lebih empatik dan kontekstual terhadap pengalaman penderitaan manusia.
Lead Like Jesus: Penerapan Model Kepemimpinan Yesus dalam Pelayanan di ONKP Yerusalem Kota Agustinus Gulo
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.598

Abstract

Paper ini menyoroti permasalahan yang terjadi pada perkembangan belajar siswa, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni ketidakmampuan guru agama Kristen dalam mendesain pembelajaran pendidikan agama Kristen yang diajarkan kepada siswa, metode dan materi pembelajaran yang kaku serta lingkungan dan keterbatasan siswa dalam berbagai hal seperti intelektual, genetik, sosial, budaya dan fisik. Paper ini menggunakan metode penelitian pustaka dengan rujukan utama buku John Dewey yang berjudul ”Experience and Education” dan rujukan literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian. Teknik pengumpulan data terdiri atas mengumpulkan data, melakukan penelaan terhadap buku dan literatur, analisis data dan menyajikan data. Tujuan paper ini adalah untuk melakukan kajian teori belajar John Dewey, menguraikan cara penerapan teori belajar John Dewey dalam pendidikan agama Kristen terhadap perkembangan belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori belajar John Dewey dapat memengaruhi perkembangan belajar siswa melalui pengalaman belajar, sosial, lingkungan dan keaktifan individu yang dapat diterapkan melalui pembelajaran pendidikan agama Kristen.
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa Melalui Problem Based Learning dalam Bingkai Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Asni Darmayanti Duha; Fernistriadi Daeli; Linia Gulo; Meiman Fajar Syahputra Hulu
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.620

Abstract

Christian religious education learning is not merely taught to students, but also has an impact in improving students' thinking skills. Within the framework of Christian religious education, learning design is often neglected by Christian religious teachers so that the learning process is only academic achievement without any practical achievement. To implement problem-based learning in Christian religious education learning, good methods and designs are needed, so that the learning concept can improve students' thinking skills. Therefore, the objectives of this study consist of: first, to explain and describe the steps to improve students' thinking skills. Second, to explain and describe how to apply problem-based learning (PBL) within the framework of the Christian religious education curriculum so that learning objectives can be achieved well. This study uses a library research method (literature study). Based on the results of the research study, the application of problem-based learning (PBL) through Christian religious education within the curriculum framework is able to improve students' thinking skills with indicators: student orientation to problems, organizing students to learn, directing individuals or groups to new experiences, presenting work or findings, and conducting analysis and evaluation in the problem-solving process, as well as active student involvement in the learning process.

Page 13 of 13 | Total Record : 127