cover
Contact Name
Johanes Hasugian
Contact Email
johaneswhasugian@gmail.com
Phone
+6285265222617
Journal Mail Official
johaneswhasugian@gmail.com
Editorial Address
johaneswhasugian@gmail.com
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27216020     EISSN : 2721432X     DOI : 10.46305
Core Subject : Religion, Education,
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan agama Kristen, dengan nomor ISSN: 2721-432X (online), ISSN: 2721-6020 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara, Medan. Focus dan Scope penelitian IMMANUEL adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Agama Kristen IMMANUEL menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. IMMANUEL terbit dua kali dalam satu tahun, April dan Oktober
Articles 127 Documents
Proses Manajemen, Tantangan dan Peluang Sekolah Kristen: Sebuah Penelitian Kualitatif Deskriptif Nasib Tua Lumban Gaol; Marina Letara Nababan; May Rauli Simamora; Risden Anakampun
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.556

Abstract

Abstract: This research aims to investigate how management activities in a Christian school were conducted based on a management process approach and Christian perspectives, as well as to identify the challenges and opportunities faced by the school. A descriptive qualitative study was conducted to achieve this purpose. The authors carried out a focus group discussion with six informants, including the principal, subject teachers, and an administrative staff at a Christian school in the Province of North Sumatra, Indonesia. Data were analyzed using deductive thematic analysis. The results revealed that Christian school management is a process that includes planning, organizing, leading, and controlling by integrating Christian values, principles, and perspectives. Furthermore, the study found that the Christian school faced various challenges arising from government policies, financial difficulties, technological advancements, and globalization. Finally, despite these challenges, the research also identifies opportunities for improving Christian schools, for example, doing collaboration with other relevant organizations. This study contributes to both practice and theory.Keywords: Christian school management, Christian education, principal leadership, Christian schoolAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana kegiatan manajemen di satu sekolah Kristen berdasarkan pendekatan proses manajemen dan perspektif Kristen, dan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang bagi sekolah tersebut. Sebuah studi kualitatif deskriptif dilakukan untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Penulis melakukan wawancara kelompok terfokus dengan enam informan, termasuk kepala sekolah, guru mata pelajaran dan seorang tenaga administrasi di sebuah sekolah Kristen di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Untuk menganalisis data, analisis tematik deduktif digunakan, dan hasilnya mengungkapkan bahwa manajemen sekolah Kristen adalah suatu proses yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dengan mengintegrasikan nilai-nilai, prinsip dan perspektif Kristen. Lebih lanjut, studi ini menemukan bahwa sekolah Kristen menghadapi berbagai tantangan yang timbul dari kebijakan pemerintah, keterbatasan keuangan, kemajuan teknologi dan globalisasi. Akhirnya, terlepas dari berbagai tantangan sekolah Kristen tersebut, penelitian ini juga menawarkan peluang untuk perbaikan sekolah Kristen, misalnya, melalui kerja sama dengan lembaga dan organisasi yang relevan. Kontribusi dari studi ini, baik untuk praktik maupun teori, disediakan.Kata Kunci: manajemen sekolah Kristen, pendidikan Kristen, kepemimpinan kepala sekolah, sekolah Kristen
Manusia dan Moralitas dalam Era Disrupsi Digital: Tinjauan Teologi Sistematik dan Implikasi Eklesiologis Yohanes Twintarto Agus Indratno; Yenny Heraawati Yohana Heylen Erlin
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.605

Abstract

Perkembangan kemjuan teknologi dan era disrupsi digital telah menggeser cara manusia memahami  tanggung jawab moral dalam ruang publik maupun privat. Transformasi ini memengaruhi konstruksi natur manusia yang selama ini dipahami dalam kerangka antropologi teologis klasik, khususnya terkait imago Dei dan kehendak bebas. Persoalan antara kebenaran objektif dan relativisme digital menantang gereja untuk merumuskan kembali fondasi moralitas Kristen secara sistematik dan relevan. Apalagi fenomena post-truth, dan Intenet Of Thinks, dan polarisasi sosial memperlihatkan terjadinya krisis integritas moral. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi antara konsep manusia dan moralitas dalam teologi sistematik serta merumuskan implikasi eklesiologisnya di era disrupsi digital. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan teologi sistematik-kritis melalui analisis literature. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi antropologi teologis yang berakar pada konsep imago Dei memperlihatkan bahwa martabat dan tanggung jawab moral manusia tetap normatif di tengah disrupsi digital. Krisis post-truth dan relativisme digital menuntut pembaruan etika Kristen yang berlandaskan kebenaran Injil sebagai fondasi pembentukan kekristenan yang sehat.  
Suksesi Kepemimpinan Gereja dalam Penggembalaan Monarkhi: Kritik Teologi atas Dimensi Etis-Teologis Michael Sofian Tanuhendrata; Andreas Eko Nugroho; Kornelius Rulli Jonathans
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.544

Abstract

Church leadership succession is a crucial issue in ensuring continuity of service, stability of pastoral care, and the sustainability of the church's mission amid the dynamics of modern society. Monarchical leadership practices that place a single figure in power often pose ethical and theological challenges, especially when leadership transitions are not carried out transparently. Unclear succession procedures have the potential to cause internal conflict and weaken the integrity of church ministry. This phenomenon can be seen in various cases of churches facing succession turmoil due to a lack of ethical-theological principles to guide them. This study aims to analyse the ethical and theological dimensions of church leadership succession practices based on monarchical pastoral care. The research method used is qualitative with a literature study approach. This study concludes that church leadership succession from a biblical theological perspective emphasises the importance of leadership based on moral and spiritual principles. The monarchical pastoral model offers advantages in terms of continuity of service, but also presents problems if the succession practice is not transparent and fair. Therefore, theological criticism of monarchical practices emphasises the need for a structured ethical-theological approach to ensure the continuity of the church's mission and the integrity of pastoral care.  AbstrakSuksesi kepemimpinan gereja menjadi isu krusial dalam memastikan kesinambungan pelayanan, stabilitas penggembalaan, dan keberlangsungan misi gereja di tengah dinamika masyarakat modern. Praktik kepemimpinan monarkhi yang menempatkan figur tunggal seringkali menimbulkan tantangan etis dan teologis, terutama ketika transisi kepemimpinan tidak dijalankan secara transparan. Ketidakjelasan prosedur suksesi berpotensi menimbulkan konflik internal dan melemahkan integritas pelayanan gereja. Fenomena ini terlihat pada berbagai kasus gereja yang menghadapi gejolak suksesi akibat minimnya prinsip etis-teologis yang dijadikan pedoman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi etis dan teologis dalam praktik suksesi kepemimpinan gereja berlandaskan penggembalaan monarkhi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dan wawancara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa suksesi kepemimpinan gereja dalam perspektif teologi Alkitabiah menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan prinsip moral dan spiritual. Model penggembalaan monarkhi menawarkan keunggulan dalam kontinuitas pelayanan, namun juga menghadirkan problematika jika praktik suksesi tidak transparan dan adil. kritik teologis terhadap praktik monarkhi menegaskan perlunya pendekatan etis-teologis yang terstruktur untuk memastikan keberlangsungan misi gereja dan integritas penggembalaan.
Patung Anak Lembu Emas: Penyembahan Berhala dalam Perjanjian Lama dan Relevansinya terhadap Fenomena Berhala Modern Junita Br Karo; Franti Novita Dewi Sembiring
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.618

Abstract

This study analyzes the relationship between the worship of the golden calf in Exodus 32 and the manifestation of idolatry in modern society. In contrast to previous research that generally focused on the prohibition of idolatry or the evaluation of biblical figures, this study offers a comparative analysis of the transformation of the forms and mechanisms of idolatry from the context of ancient Israel to the contemporary era. The study uses a qualitative method with a literature study approach to the biblical text, Old Testament theological sources, and studies of modern idolatry. The results show that the golden calf does not merely represent the worship of a physical object, but rather reflects human efforts to control and visualize the divine presence according to their existential needs. The same pattern is found in modern idolatry through the materialism of technology, power, social status, and narcissism that serve as the main objects of human reliance. These findings indicate a shift in the form of idols from physical religious artifacts to functional social and psychological constructs, while the basic mechanism remains the same: the transfer of dependence from God to creation. This research contributes to the development of biblical theology by broadening the understanding of the concept of idolatry as a religious phenomenon that is adaptive to changing cultural and social contexts. AbstrakPenelitian ini menganalisis keterkaitan antara penyembahan anak lembu emas dalam Keluaran 32 dan manifestasi pemberhalaan pada masyarakat modern. Berhala dengan penelitian sebelumnya yang umumnya berfokus pada larangan penyembahan bergala atau evaluasi pada tokoh-tokoh biblis, studi ini menawarkan analisis komparatif mengenai tranformasi bentuk dan mekanisme pemberhalaan dari konteks Israel kuno ke era kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur terhadap teks Alkitab, sumber-sumber teologi Perjanjian Lama, dan kajian mengenai pemberhalaan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak lembu emas tidak semata-mata merepresentsikan penyembahan terhadap objek fisik, melainkan mencerminkan upaya manusia mengendalikan dan memvisualisasikan kehadiran ilahi sesuai kebutuhan eksistensialnya. Pola yang sama ditemukan dalam pemberhalaan modern melalui materalisme teknologi, kekuasaan, status sosial, dan narsisme yang berfungsi sebagai objek pengandalan utama manusia. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran bentuk berhal dari artefak religius yang bersifat fisik menuju konstruksi sosial dan psikologis yang bersifat fungsional, sementera mekanisme dasarnya tetap sama, yaitu pengalihan kebergantungan dari Allah kepada ciptaan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi biblika dengan memperluas pemahaman tentang konsep berhala sebagai denomena religius yang adaptif terhadap perubahan konteks budaya dan sosial.  
Sacramentum vs Simulacrum: Kajian Dogmatis Perkawinan Kristen dan Realitas Sosial Lavender Marriage Yustinus Y; Hikman Sirait; Tju Lie Lie
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.585

Abstract

The phenomenon of Lavender marriage has generally been examined within social and cultural frameworks, while its evaluation from the perspective of Christian dogmatic theology of marriage remains limited. This study aims to analyze Lavender marriage through the conceptual framework of sacramentum–simulacrum in order to assess the theological authenticity of marital relationships, employing a descriptive qualitative method based on literature review and theological-exegetical analysis of Genesis 1–2, Hosea 1–3, and Ezekiel 16. The findings indicate that marriage as sacramentum constitutes a covenantal unity encompassing essential, teleological, ethical, and sacramental dimensions, whereas Lavender marriage operates as a simulacrum that preserves the external form of marriage without embodying its theological meaning, particularly in terms of covenantal fidelity and relational openness. This distinction highlights the tension between social legitimacy and theological integrity in contemporary marital practices. This study contributes by formulating a systematic model of theological evaluation through the sacramentum–simulacrum dichotomy, while also providing a foundation for theological reflection and pastoral response within the church toward non-conventional forms of marriage.
Pendekatan Kontekstual Terhadap Tradisi Peringatan Kematian Dalam Pelayanan Pastoral Di Gereja Gladagsari, Boyolali. Yulianto Nugroho; Teguh Pramono
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.608

Abstract

The death commemoration ritual is an integral component of the symbolic system within Javanese society, reflecting a collective understanding of death as both a spiritual and social transition. In Gladagsari Village, Boyolali, this practice is not merely a religious rite but also a sociocultural mechanism that reinforces communal solidarity and cohesion. For Christians embedded within such a cultural framework, a hermeneutical tension arises between doctrinal fidelity to the authority of Scripture and the pastoral necessity of harmonious coexistence with local traditions. This study employs a qualitative case study approach, utilizing in-depth interviews, participant observation, and literature review, analyzed through an interpretive framework grounded in contextual pastoral theology. The findings reveal that although intercessory prayers for the dead lack soteriological legitimacy within Christian doctrine, the ritual carries profound symbolic and social significance that strengthens community networks. Accordingly, the church is called to develop a contextual and reflective pastoral approach, one that remains rooted in the truth of the Gospel while engaging local cultural realities as a space for witness and transformation. 
Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi: Upaya Memperkuat Relevansi dan Aplikasi Iman di Era Modern John Mussa Renhoard
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.604

Abstract

This study aims to analyze the integration of Contextual Teaching and Learning (CTL) in theological education and its implications for the application of faith. This study employed a qualitative approach with a conceptual library research approach. Data were obtained from relevant books and scientific journal articles and analyzed using content analysis techniques and a thematic approach. The results indicate that CTL has significant relevance in bridging the gap between theological understanding and the practice of faith, and is structurally aligned with the principles of contextual theology. The findings also revealed that the integration of CTL and contextual theology produces a learning model that connects theological texts and reflections on faith with the context of life. Therefore, CTL functions not only as a learning strategy but also as a pedagogical framework for developing contextual, reflective, and applicable theological education. In addition, the implementation of CTL encourages students to actively engage in critical reflection on social and spiritual realities within their communities. Furthermore, this approach contributes to the formation of holistic theological learning that is transformative, participatory, and relevant to contemporary challenges faced by faith communities. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pembelajaran kontekstual dalam pendidikan teologi serta implikasinya terhadap aplikasi iman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan yang bersifat analisis konseptual. Data diperoleh dari buku dan artikel jurnal ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi dan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual memiliki relevansi yang signifikan dalam menjembatani kesenjangan antara pemahaman teologis dan praktik iman, serta memiliki kesesuaian struktural dengan prinsip teologi kontekstual. Temuan dari penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi pembelajaran kontekstual dan teologi kontekstual menghasilkan model pembelajaran yang dapat menghubungkan teks teologi, refleksi iman dengan konteks kehidupan. Oleh karena itu, pembelajaran kontekstual tidak hanya berfungsi sebagai strategi pembelajaran, tetapi juga sebagai kerangka pedagogis dalam pengembangan pendidikan teologi yang kontekstual, reflektif serta aplikatif. Selain itu, penerapan pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik untuk secara aktif terlibat dalam refleksi kritis terhadap realitas sosial dan spiritual di dalam komunitas mereka. Lebih lanjut, pendekatan ini berkontribusi terhadap terbentuknya pembelajaran teologi yang holistik, transformatif, partisipatif, serta relevan dengan tantangan kontemporer yang dihadapi oleh komunitas iman.
Kajian Moderasi Beragama dalam Perspektif Teologi Kristen dan Sosial Kontemporer Samuel Purdaryanto
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.580

Abstract

Indonesia is a country known for its religious, ethnic, and cultural diversity, requiring serious efforts to maintain harmony and peaceful coexistence. The challenges faced in religious life are becoming increasingly complex in the midst of globalisation and the rise of radical ideologies that threaten tolerance and peace. The phenomenon of increasing polarisation and conflict between religious groups highlights the importance of religion in building social cohesion. This study aims to examine religious moderation from the perspective of Christian theology and contemporary social dynamics. The method used is a qualitative-descriptive study through theological and social literature review. The findings reveal that the theological foundation of religious moderation in Christianity, rooted in biblical values and the theology of Christ's incarnation, serves as the moral and spiritual basis for believers to live harmoniously in a diverse society. When these values are implemented in contemporary social contexts through education, interfaith dialogue, and interreligious cooperation, religious moderation becomes a bridge connecting faith and social responsibility to create a moderate society. AbstrakIndonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagaman agama, suku, dan budaya, sehingga memerlukan upaya serius untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup bersama. Tantangan yang dihadapi dalam kehidupan beragama semakin kompleks di tengah era globalisasi dan meningkatnya paham radikal yang mengancam toleransi dan perdamaian. Fenomena meningkatnya polarisasi dan konflik antar kelompok keagamaan menunjukkan pentingnya peran agama dalam membangun kohesi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji moderasi beragama dari sudut pandang teologi Kristen dan dinamika sosial kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologis dan sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa fondasi teologis moderasi beragama dalam Kekristenan, yang berakar pada nilai alkitabiah dan teologi inkarnasi Kristus, menjadi dasar moral dan spiritual bagi umat untuk hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk. Ketika nilai-nilai ini dijalankan dalam konteks sosial kontemporer melalui pendidikan, dialog lintas iman, dan kerja sama lintas agama, moderasi beragama menjadi jembatan yang menghubungkan iman dan tanggung jawab sosial demi terciptanya masyarakat yang yang moderat.
Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi Komunio John D. Zizioulas bagi Gereja di Indonesia Thalia Srihati Br Tarigan
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.602

Abstract

This paper analyzes servant leadership in the perspective of John D. Zizioulas’ ecclesiology of communion as a theological proposal for churches in Indonesia. This study is a qualitative library-based research employing normative and correlative theological approaches. The analysis engages Zizioulas’ thought on communion and perichoresis and places it in dialogue with Christ’s hospitality and servant leadership within the contemporary challenges faced by Indonesian churches. The discussion shows that the ecclesiology of communion understands the church as a fellowship rooted in the relational life of the Triune God, while perichoresis provides a dialogical, participatory, and non-dominative relational paradigm for ecclesial life. Within this framework, Christ’s hospitality functions as a bridge between the church’s liturgical identity and its social praxis, whereas servant leadership becomes the practical embodiment of communion. In the Indonesian context, marked by religious and cultural plurality, social fragmentation, and pastoral challenges, this model offers a constructive direction for the church to become a community that welcomes, restores, and empowers. Therefore, this paper argues that servant leadership grounded in the ecclesiology of communion and enriched by Christ’s hospitality offers a relevant theological contribution to the renewal of the church in Indonesia.AbstrakTulisan ini menganalisis kepemimpinan melayani dalam perspektif eklesiologi komunio John D. Zizioulas sebagai tawaran teologis bagi gereja di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan teologis normatif dan korelatif. Analisis dilakukan terhadap pemikiran Zizioulas mengenai komunio dan perikoresis, serta dialognya dengan konsep hospitalitas Kristus dan kepemimpinan melayani dalam konteks tantangan gereja di Indonesia. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa eklesiologi komunio menempatkan gereja sebagai persekutuan yang berakar pada relasi Allah Tritunggal, sedangkan perikoresis memperlihatkan pola relasional yang dialogis, partisipatif, dan non-dominatif bagi kehidupan bergereja. Dalam kerangka tersebut, hospitalitas Kristus menjadi jembatan antara identitas liturgis gereja dan praksis sosialnya, sementara kepemimpinan melayani menjadi wujud praksis dari kehidupan komunio. Dalam konteks Indonesia yang ditandai oleh pluralitas agama dan budaya, fragmentasi sosial, serta berbagai tantangan pastoral, model kepemimpinan ini menawarkan arah bagi gereja untuk hadir sebagai komunitas yang menyambut, memulihkan, dan memberdayakan. Dengan demikian, tulisan ini menegaskan bahwa kepemimpinan melayani yang berakar pada eklesiologi komunio dan diperkaya oleh hospitalitas Kristus dapat menjadi kontribusi teologis yang relevan bagi pembaruan gereja di Indonesia.
Integrasi Pendidikan Agama Kristen dan Literasi Digital: Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Remaja di Era Transformasi Digital Riky Handoko Sitindaon
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.409

Abstract

Digital transformation has brought significant changes to various aspects of life, including adolescents’ mindset, behavior, and character formation. The development of technology and digital media has both positive and negative impacts on family life and education. In this context, the family plays an important role as the primary educational environment in instilling Christian values while developing wise and responsible digital literacy skills. This study aims to analyze the integration of Christian Religious Education and digital literacy within the family as an effort to shape adolescents’ character in the era of digital transformation. The research employs a descriptive qualitative approach through literature review by analyzing various journals, books, and relevant academic sources. The findings indicate that the integration of Christian Religious Education and digital literacy helps adolescents develop character based on Christian values such as honesty, responsibility, discipline, love, and self-control in the use of digital technology. Families serve as educators, facilitators, and role models in guiding adolescents to face the influence of digital media through open communication, supervision of technology use, and the habituation of spiritual values in daily life. Therefore, the integration of Christian Religious Education and digital literacy becomes an important foundation in preparing adolescents to become critical, wise, and responsible individuals in facing technological developments in the era of digital transformation. AbstrakTransformasi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pola pikir, perilaku, dan pembentukan karakter remaja. Perkembangan teknologi dan media digital memberikan dampak positif maupun negatif yang memengaruhi kehidupan keluarga dan pendidikan. Dalam konteks tersebut, keluarga memiliki peran penting sebagai lingkungan pendidikan pertama dalam menanamkan nilai-nilai iman Kristen sekaligus membangun kemampuan literasi digital yang bijaksana dan bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi Pendidikan Agama Kristen dan literasi digital dalam keluarga sebagai upaya membentuk karakter remaja di era transformasi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai jurnal, buku, dan sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi Pendidikan Agama Kristen dan literasi digital mampu membantu remaja mengembangkan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kasih, dan pengendalian diri dalam penggunaan teknologi digital. Keluarga berperan sebagai pendidik, fasilitator, dan teladan dalam mendampingi remaja menghadapi pengaruh media digital melalui komunikasi yang terbuka, pengawasan penggunaan teknologi, serta pembiasaan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, integrasi Pendidikan Agama Kristen dan literasi digital menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan remaja yang berkarakter, kritis, dan bijaksana dalam menghadapi perkembangan teknologi di era transformasi digital.

Page 12 of 13 | Total Record : 127