cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 612 Documents
DEVELOPMENT OF MICROSITE-BASED LEARNING MEDIA (HUMA ITAH) FOR ENGLISH SUBJECT AT SMPN Aditiya Dwi Nurrachmat; Chandra Anugrah Putra; Endang Sri Suyati
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11682

Abstract

This research was motivated by the low engagement and learning outcomes of students in English learning due to the dominance of conventional teaching media and limited use of digital technology in the classroom. The study aimed to develop and evaluate a web-based microsite learning media called “Huma Itah” to improve students’ learning effectiveness, practicality, and engagement in English subjects at SMP Negeri 5 Muara Teweh. This research employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, consisting of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. Data were collected through observation, interviews, expert validation, questionnaires, and pre-test and post-test instruments. The data were analyzed using qualitative and quantitative descriptive analysis. The results showed that the developed microsite achieved a very high level of practicality (96.08%) and was categorized as highly valid based on expert validation. In terms of effectiveness, the learning outcomes improved significantly, with the average score increasing from 9.14 to 15.61 and an N-Gain score of 0.60 (moderate to high category). The microsite also enhanced student motivation and engagement through interactive multimedia, visual content, instant feedback quizzes, and integration of local cultural context. The discussion indicates that the effectiveness of the media is supported by multimedia learning theory, cognitive load theory, and culturally responsive teaching principles. In conclusion, the “Huma Itah” microsite is an effective, practical, and innovative learning media that significantly improves students’ English learning outcomes and engagement in junior high school settings.. ABSTRAK Penelitian ini dimotivasi oleh rendahnya keterlibatan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris karena dominasi media pengajaran konvensional dan terbatasnya penggunaan teknologi digital di kelas. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi media pembelajaran berbasis web microsite bernama “Huma Itah” untuk meningkatkan efektivitas, kepraktisan, dan keterlibatan belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 5 Muara Teweh. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan model ADDIE, yang terdiri dari tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, validasi ahli, kuesioner, dan instrumen pre-test dan post-test. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa microsite yang dikembangkan mencapai tingkat kepraktisan yang sangat tinggi (96,08%) dan dikategorikan sebagai sangat valid berdasarkan validasi ahli. Dari segi efektivitas, hasil belajar meningkat secara signifikan, dengan nilai rata-rata meningkat dari 9,14 menjadi 15,61 dan skor N-Gain sebesar 0,60 (kategori sedang hingga tinggi). Mikrositus ini juga meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa melalui multimedia interaktif, konten visual, kuis umpan balik instan, dan integrasi konteks budaya lokal. Diskusi menunjukkan bahwa efektivitas media ini didukung oleh teori pembelajaran multimedia, teori beban kognitif, dan prinsip pengajaran yang responsif secara budaya. Kesimpulannya, mikrositus “Huma Itah” adalah media pembelajaran yang efektif, praktis, dan inovatif yang secara signifikan meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris dan keterlibatan siswa di lingkungan sekolah menengah pertama.    
KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA: SEBUAH SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Qolbi Alif Ridlollah; Syeh Al Ngarifin; Muhtarom Muhtarom; Abdul Hamid
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11684

Abstract

Religious moderation is one of the national priority agendas proclaimed by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia, particularly in the context of Islamic education. Madrasa principals, as leaders of Islamic educational institutions, play a key role in creating a moderate, tolerant, and inclusive learning environment. However, studies that systematically map the role of madrasa principal leadership in the context of strengthening religious moderation remain very limited. This article aims to fill this gap through a Systematic Literature Review (SLR) approach following the PRISMA 2020 guidelines. From 187 articles found through searches in various scientific databases, 25 articles were selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Thematic analysis results indicate three main findings: first, effective madrasa principals implementing religious moderation generally apply a value-oriented transformational leadership approach; second, there are a number of supporting and inhibiting factors that consistently appear in various madrasa contexts in Indonesia; and third, strong madrasa principal leadership is proven to positively correlate with the formation of a moderate and inclusive madrasa culture. These findings are expected to serve as a reference for madrasa principals, policymakers, and future researchers in strengthening religious moderation in Islamic educational institutions. ABSTRAK Moderasi beragama merupakan salah satu agenda prioritas nasional yang dicanangkan Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya dalam konteks pendidikan Islam. Kepala madrasah, sebagai pemimpin lembaga pendidikan Islam, memegang peranan kunci dalam mewujudkan lingkungan belajar yang moderat, toleran, dan inklusif. Namun demikian, kajian yang secara sistematis memetakan peran kepemimpinan kepala madrasah dalam konteks penguatan moderasi beragama masih sangat terbatas. Artikel ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti panduan PRISMA 2020. Dari 187 artikel yang ditemukan melalui penelusuran di berbagai database ilmiah, sebanyak 25 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil analisis tematik menunjukkan tiga temuan utama: pertama, kepala madrasah yang efektif mengimplementasikan moderasi beragama umumnya menerapkan pendekatan kepemimpinan transformasional yang berorientasi nilai; kedua, terdapat sejumlah faktor pendukung dan penghambat yang secara konsisten muncul dalam berbagai konteks madrasah di Indonesia; dan ketiga, kepemimpinan kepala madrasah yang kuat terbukti berkorelasi positif dengan terbentuknya budaya madrasah yang moderat dan inklusif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi kepala madrasah, pengambil kebijakan, dan peneliti selanjutnya dalam upaya memperkuat moderasi beragama di lembaga pendidikan Islam.    
NILAI-NILAI ISLAM WASATHIYAH DALAM MEWUJUDKAN MODERASI BERAGAMA PADA MASYARAKAT SEKOLAH MULTIKULTURAL Iffah Rosyidah; Friendis Syani Amrulloh
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11685

Abstract

The recent rise in cases of intolerance and discrimination regarding religious dress regulations in secular and multicultural educational environments is the background to this research. These socio-religious issues demand the reconstruction of a friendly religious paradigm to reduce extreme fanaticism. The focus of this research is to explore the strengthening of Islamic wasathiyyah values ​​in realizing religious moderation in multicultural school ecosystems. The research steps were carried out using a qualitative approach with a library research method published in the last five years. Secondary data collection was systematically collected through a search of regulatory documents, empirical cases, and theological literature, which were then analyzed using descriptive-analytical techniques with an interactive model through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research findings indicate that the internalization of Islamic wasathiyyah values ​​into teaching materials and classroom discussions has proven effective in breaking down the walls of sectarian prejudice within the school community. This principle of moderation has a positive impact in the form of an inclusive space for ethnic diversity without harming students' personal religious beliefs. The main conclusion confirms that the implementation of the three main pillars of wasathiyyah (modesty), namely tawasuth (consideration), tawazun (respect), and tasamuh (compassion), has successfully served as the foundation for character education in realizing substantive multicultural harmony. This synergy positions schools as social wombs, producing learning agents who are steadfast in their faith and adaptive in respecting the religious rights of others. ABSTRAK Maraknya kasus intoleransi dan diskriminasi regulasi busana keagamaan di lingkungan pendidikan sekuler dan multikultural belakangan ini melatarbelakangi penelitian ini. Masalah sosioreligius tersebut menuntut adanya rekonstruksi paradigma beragama yang ramah guna mereduksi fanatisme ekstrem. Fokus penelitian ini adalah mengeksplorasi penguatan nilai-nilai Islam wasathiyyah dalam mewujudkan moderasi beragama di ekosistem sekolah multikultural. Langkah-langkah penelitian dijalankan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) terbitan lima tahun terakhir. Pengumpulan data sekunder dihimpun secara sistematis melalui penelusuran dokumen regulasi, kasus empiris, dan literatur teologis, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif-analitis model interaktif melalui tahapan reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai Islam wasathiyyah ke dalam materi ajar dan diskusi kelas terbukti efektif meruntuhkan tembok prasangka sektarian warga sekolah. Prinsip moderasi ini memberikan dampak positif berupa ruang inklusif bagi keberagaman etnis tanpa mencederai keyakinan akidah pribadi siswa. Simpulan utama menegaskan bahwa implementasi tiga pilar utama wasathiyyah, yaitu tawasuth, tawazun, dan tasamuh, sukses menjadi fondasi pendidikan karakter dalam merealisasikan kerukunan multikultural yang substantif. Sinergi ini memosisikan sekolah sebagai rahim sosial untuk melahirkan agen pembelajar yang teguh beriman sekaligus adaptif menghargai hak beragama orang lain.    
HUBUNGAN ANTARA SELF REGULATED LEARNING DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA SISWA YANG AKTIF DALAM ORGANISASI OSIS Radhia Tsabitha; Heru Astikasari Setya Murti
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11687

Abstract

This study was motivated by the importance of critical thinking skills among students who are active in the student council organization (OSIS) and the role of self regulated learning in supporting students’ learning processes and decision making. This study aimed to determine the relationship between self regulated learning and critical thinking ability among students who are active in OSIS. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 70 high school students who were actively involved in OSIS in Salatiga and were selected using a purposive sampling technique. Data were collected through online questionnaires using the Self Regulated Learning Scale and the Critical Thinking Scale. Data analysis was conducted using Spearman correlation analysis with the assistance of SPSS version 23. The results showed a significant positive relationship between self regulated learning and critical thinking ability among students active in OSIS, with a correlation coefficient of r = 0.656 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). This indicates that the higher the self regulated learning, the higher the students’ critical thinking ability. The findings imply that self regulated learning is an important factor in supporting the development of critical thinking skills among students involved in school organizations. ABSTRAK Penelitian ini di latarbelakangi oleh pentingnya kemampuan berpikir kritis pada siswa yang aktif dalam organisasi OSIS serta peran self regulated learning dalam mendukung proses belajar dan pengambilan keputusan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self regulated learning dengan kemampuan berpikir kritis pada siswa yang aktif dalam organisasi OSIS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 70 siswa SMA yang aktif dalam organisasi OSIS di Salatiga dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner online menggunakan skala Self Regulated Learning dan skala Berpikir Kritis. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Spearman dengan bantuan program SPSS versi 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self regulated learning dengan kemampuan berpikir kritis pada siswa yang aktif dalam organisasi OSIS dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,656 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self regulated learning maka semakin tinggi pula kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa self regulated learning merupakan salah satu faktor penting yang dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis pada siswa yang aktif dalam organisasi sekolah.  
PROBLEMATIKA KESULITAN BELAJAR PADA PESERTA DIDIK Arlinda Arlinda; Husnul Qatimah; Nur Meilana Pane; Sz Aisyah; Delfina Delfina; Julfita Gaho; Armalena Armalena
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11689

Abstract

Learning difficulties are one of the problems that frequently arise in the field of education and have become an important concern for various parties. This phenomenon not only affects students’ academic achievement but can also influence their psychological condition, such as self-confidence, learning motivation, and their social relationships with peers. Therefore, a deep understanding of learning difficulties is essential so that they can be addressed appropriately and effectively. Learning difficulties take various forms, such as difficulties in reading, writing, counting, or understanding certain subject matter. Each student may experience different types of difficulties depending on their individual conditions and backgrounds. The causes also vary and can generally be classified into internal and external factors. Internal factors include low learning motivation, lack of interest, and limited cognitive abilities. Meanwhile, external factors include an unsupportive family environment, less varied teaching methods, and non-conducive school conditions. To overcome learning difficulties, good cooperation is needed between teachers, parents, and the surrounding environment. Teachers play an important role in creating engaging learning experiences that meet students’ needs. Parents are also expected to provide both moral support and learning facilities at home. In addition, a positive social environment can help increase students’ enthusiasm for learning. With coordinated efforts from various parties, learning difficulties can be minimized, allowing students to develop optimally, both academically and socially. ABSTRAK Kesulitan belajar merupakan salah satu permasalahan yang cukup sering muncul dalam dunia pendidikan dan menjadi perhatian penting bagi berbagai pihak. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada rendahnya pencapaian akademik peserta didik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, seperti rasa percaya diri, motivasi belajar, hingga hubungan sosial mereka dengan teman sebaya. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai kesulitan belajar sangat diperlukan agar dapat ditangani secara tepat dan efektif. Kesulitan belajar memiliki berbagai bentuk, seperti kesulitan dalam membaca, menulis, berhitung, maupun memahami materi pelajaran tertentu. Setiap peserta didik dapat mengalami jenis kesulitan yang berbeda, tergantung pada kondisi dan latar belakang masing-masing. Faktor penyebabnya pun beragam, yang secara umum dapat dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi rendahnya motivasi belajar, kurangnya minat, serta keterbatasan kemampuan kognitif. Sementara itu, faktor eksternal mencakup lingkungan keluarga yang kurang mendukung, metode pembelajaran yang kurang variatif, serta kondisi sekolah yang tidak kondusif. Dalam mengatasi kesulitan belajar, diperlukan kerja sama yang baik antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Orang tua juga diharapkan mampu memberikan dukungan moral maupun fasilitas belajar di rumah. Selain itu, lingkungan sosial yang positif dapat membantu meningkatkan semangat belajar peserta didik. Dengan adanya upaya yang terkoordinasi dari berbagai pihak, kesulitan belajar dapat diminimalkan sehingga peserta didik mampu berkembang secara optimal, baik dalam aspek akademik maupun sosial.Top of Form    
ANALISIS PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN DI ERA DIGITAL: STUDI LITERATUR REVIEW Firdaus Trisno Gersul Limba; Zila Razilu; Alfiah Fajriani
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11690

Abstract

This study systematically examines the use of technology in learning in the digital era through a Systematic Literature Review approach. Based on a review of indexed articles published between 2006 and 2025, approximately thirty studies were identified that discuss technology integration in education, the use of digital learning platforms, and factors influencing the effectiveness of technology-based learning across various educational levels. The search was conducted using international and national databases with keyword combinations such as digital learning, educational technology, e-learning, blended learning, and technology integration, followed by identification, screening, and eligibility stages. The synthesis results indicate that the use of technology generally has a positive impact on improving interactivity, motivation, and student learning outcomes, although its implementation is not yet optimal in supporting higher-order thinking skills. Factors such as teachers’ digital competence, students’ readiness, and instructional design play a crucial role in determining the effectiveness of technology use, while limitations in digital literacy and infrastructure remain significant challenges. Various technology-based learning models, such as e-learning and blended learning, have been shown to enhance learning quality when designed interactively and student-centered. This study highlights the importance of integrating technology with pedagogical strategies to create adaptive and innovative learning in higher education. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji secara sistematis pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran di era digital melalui pendekatan Systematic Literature Review. Berdasarkan penelusuran artikel terindeks pada rentang tahun 2006–2025, teridentifikasi sekitar tiga puluh studi yang membahas integrasi teknologi dalam pembelajaran, penggunaan platform digital, serta faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pembelajaran berbasis teknologi pada berbagai jenjang pendidikan. Pencarian dilakukan pada basis data internasional dan nasional dengan menggunakan kombinasi kata kunci seperti digital learning, educational technology, e-learning, blended learning, dan technology integration, kemudian diseleksi melalui tahapan identifikasi, penyaringan, dan penentuan kelayakan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi secara umum memberikan dampak positif terhadap peningkatan interaktivitas, motivasi, dan hasil belajar peserta didik, meskipun implementasinya masih belum optimal dalam mendukung pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Faktor seperti kompetensi digital pendidik, kesiapan peserta didik, serta desain pembelajaran yang digunakan berperan penting dalam menentukan efektivitas penggunaan teknologi, sementara keterbatasan literasi digital dan infrastruktur menjadi hambatan utama. Berbagai model pembelajaran berbasis teknologi, seperti e-learning dan blended learning, terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran ketika dirancang secara interaktif dan berpusat pada peserta didik. Kajian ini menegaskan pentingnya integrasi antara teknologi dan strategi pedagogik untuk menciptakan pembelajaran yang adaptif dan inovatif di perguruan tinggi.    
A BIBLIOMETRIC ANALYSIS OF AWE IN ACADEMIC WRITING: INSIGHT FROM THE SCOPUS DATABASE Hana Nur Hanifah; Muhamad Taufik Hidayat; Wahid Hasim
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11692

Abstract

This study investigates the development and research trends of Automated Writing Evaluation (AWE) in academic writing through a bibliometric approach. A total of 75 documents were retrieved from the Scopus database, covering publications between 2015 and 2025, and were analyzed using VOSviewer. The analysis focused on three dimensions: (1) publication trend analysis to chart the growth of AWE scholarship over time; (2) keyword co-occurrence analysis to identify dominant concepts and thematic clusters; and (3) thematic mapping to reveal emerging research directions and future opportunities. The findings reveal a marked upward trend in AWE research output, with publication volume remaining modest between 2015 and 2021 before rising sharply from 2022 onward, culminating in 22 documents in 2025 alone. Keyword analysis identified "automated writing evaluation" as the central concept (occurrences = 34; Total Link Strength = 96), closely networked with "feedback" (TLS = 38), "artificial intelligence" (TLS = 36), "ChatGPT" (TLS = 35), and "natural language processing" (TLS = 30). Three major thematic clusters were identified: a technology-oriented cluster encompassing AI and NLP tools; a feedback and assessment cluster centered on the pedagogical functions of AWE; and a language learning cluster foregrounding applications in second language (L2) and EFL academic writing contexts. The results further reveal a fundamental transition shifting from conventional automated scoring systems toward more sophisticated, AI-powered formative feedback mechanisms. These findings advance a more structured understanding of the intellectual landscape of AWE research in academic writing and identify concrete directions for future inquiry. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji perkembangan dan tren penelitian Evaluasi Tulisan Otomatis (Automated Writing Evaluation/AWE) dalam penulisan akademik melalui pendekatan bibliometrik. Sebanyak 75 dokumen diperoleh dari basis data Scopus, mencakup publikasi antara tahun 2015 dan 2025, dan dianalisis menggunakan VOSviewer. Analisis difokuskan pada tiga dimensi: (1) analisis tren publikasi untuk memetakan pertumbuhan penelitian AWE dari waktu ke waktu; (2) analisis ko-kemunculan kata kunci untuk mengidentifikasi konsep dominan dan kluster tematik; dan (3) pemetaan tematik untuk mengungkap arah penelitian yang sedang berkembang dan peluang di masa mendatang. Temuan menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam output penelitian AWE, dengan volume publikasi yang tetap moderat antara 2015 dan 2021 sebelum meningkat tajam sejak 2022, dengan puncaknya 22 dokumen pada tahun 2025. Analisis kata kunci mengidentifikasi "automated writing evaluation" sebagai konsep sentral (kemunculan = 34; Total Link Strength = 96), yang terhubung erat dengan "feedback" (TLS = 38), "artificial intelligence" (TLS = 36), "ChatGPT" (TLS = 35), dan "natural language processing" (TLS = 30). Tiga kluster tematik utama teridentifikasi: kluster berorientasi teknologi mencakup alat AI dan NLP; kluster umpan balik dan penilaian berpusat pada fungsi pedagogis AWE; dan kluster pembelajaran bahasa menonjolkan penerapan dalam konteks penulisan akademik bahasa kedua (L2) dan EFL. Hasil penelitian mengungkap transisi mendasar dalam bidang ini, dari sistem penilaian otomatis konvensional menuju mekanisme umpan balik formatif berbasis AI yang lebih canggih. Temuan ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih terstruktur tentang lanskap intelektual penelitian AWE dalam penulisan akademik.  
INTERNALISASI NILAI PELA GANDONG DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SOSIAL SANTRI Nurul Resti Saiba Dg Siala; Friendis Syani Amrulloh
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11693

Abstract

This study aims to analyze the internalization process of Pela Gandong values and their contribution to shaping the social character of students at Pondok Pesantren Mambaus Sholihin 4 Hollo. Pela Gandong is a local wisdom of the Maluku community that emphasizes brotherhood, solidarity, mutual cooperation, tolerance, and social responsibility. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving caregivers, teachers, and students of the Islamic boarding school. The data were analyzed using the interactive analysis model of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the internalization of Pela Gandong values is carried out through habituation, exemplary behavior, social interaction, and daily boarding school activities. These values are not formally taught as a specific subject, but are integrated into the daily life of students through communal living patterns. The internalization process contributes significantly to the development of students’ social character, particularly in terms of social awareness, togetherness, tolerance, mutual assistance, and responsibility. This study concludes that the integration of local wisdom values with Islamic boarding school education can become an effective strategy for strengthening students’ social character in multicultural societies. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai-nilai Pela Gandong serta kontribusinya dalam membentuk karakter sosial santri di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin 4 Hollo, Maluku Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap ustadz, ustadzah, dan santri. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai Pela Gandong berlangsung secara berkelanjutan melalui pembiasaan hidup bersama, kegiatan keagamaan, interaksi sosial, serta keteladanan para pendidik di lingkungan pesantren. Nilai-nilai yang terinternalisasi meliputi persaudaraan, kebersamaan, toleransi, gotong royong, solidaritas sosial, dan tanggung jawab sosial. Internalisasi nilai tersebut berkontribusi dalam membentuk karakter sosial santri, seperti sikap peduli terhadap sesama, kemampuan bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menjaga hubungan sosial yang harmonis. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal Pela Gandong dengan pendidikan pesantren dapat menjadi strategi efektif dalam penguatan pendidikan karakter sosial santri berbasis budaya lokal dan nilai-nilai keislaman.    
PENGEMBANGAN MEDIA INTERAKTIF BERBASIS GOOGLE SITES PADA MATERI TANDA BACA DAN HURUF KAPITAL SISWA KELAS III SD Idawati Idawati; Hendra Nelva Saputra; Zila Razilu
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11733

Abstract

This study was motivated by the limited use of digital interactive learning media in Indonesian language learning at the elementary school level, which has resulted in students experiencing difficulties in understanding the proper use of punctuation marks and capital letters in accordance with Indonesian language conventions. This study aimed to develop an interactive learning media based on Google Sites for the topic of punctuation marks and capital letters for third-grade elementary school students and to determine the validity and practicality of the developed media. This study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, which consists of the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The product developed was an interactive learning media based on Google Sites that integrates learning materials, images, instructional videos, and Google Forms-based evaluations into a single online-accessible platform. The research subjects consisted of 29 third-grade students of SDN 98 Kendari as the target class, three material experts, and three media experts, while user testing was conducted with 10 students. Data were collected through observation, interviews, documentation, and questionnaires using a Likert scale. The results showed that the developed media obtained a material expert validation score of 94.2% and a media expert validation score of 95%, both categorized as highly valid. In addition, the student response results achieved an average percentage of 82.5%, categorized as highly practical. These findings indicate that the developed media meets the criteria of validity and practicality and can therefore be used as an alternative learning medium for Indonesian language instruction on punctuation marks and capital letters for elementary school students. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami penggunaan tanda baca dan huruf kapital sesuai kaidah bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media interaktif berbasis Google Sites pada materi tanda baca dan huruf kapital untuk siswa kelas III sekolah dasar serta mengetahui tingkat kelayakan dan kepraktisan media yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Produk yang dihasilkan berupa media pembelajaran interaktif berbasis Google Sites yang mengintegrasikan materi pembelajaran, gambar, video pembelajaran, dan evaluasi berbasis Google Forms dalam satu media yang dapat diakses secara daring. Subjek penelitian terdiri atas 29 siswa kelas III SDN 98 Kendari sebagai kelas sasaran, 3 ahli materi, dan 3 ahli media, sedangkan uji coba pengguna dilakukan kepada 10 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memperoleh persentase validasi ahli materi sebesar 94,2% dan validasi ahli media sebesar 95% dengan kategori sangat valid, sedangkan hasil respon siswa memperoleh rata-rata persentase sebesar 82,5% dengan kategori sangat praktis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa media yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan dan kepraktisan sehingga dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi tanda baca dan huruf kapital untuk siswa sekolah dasar.  
PEMBENTUKAN SIKAP NASIONALISME PADA SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN I Made Semara Yasa; I Nengah Lestawi; Ni Nyoman Suastini
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11777

Abstract

The development of nationalism is one of the essential goals of character education that can be fostered through Civic Education (PKn) learning in elementary schools. This study aims to analyze the implementation of nationalism, identify the values of nationalism developed, and examine the obstacles and efforts involved in fostering nationalism among third-grade students at SD Negeri 1 Bunutin Bangli. This research employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, literature review, and document analysis. The research informants consisted of the principal, third-grade teacher, and students. Data were analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that nationalism is implemented through Civic Education learning integrated with school habituation activities, such as flag ceremonies, singing national songs, enforcing school rules, and teacher role modeling. The values of nationalism developed include religiosity and religious morality, discipline and legal obedience, as well as social integration and mutual cooperation. The obstacles encountered originate from family, school, and community environments, including the influence of digital technology on students’ behavior. Efforts to overcome these obstacles include character habituation, enforcement of school regulations, student guidance, and improvement of teacher professionalism. The study concludes that fostering nationalism requires synergy between classroom learning, school culture, and social environmental support to ensure that national values are effectively internalized by students. ABSTRAK Pembentukan sikap nasionalisme merupakan salah satu tujuan penting pendidikan karakter yang dapat diwujudkan melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi sikap nasionalisme, mengidentifikasi nilai-nilai nasionalisme yang dikembangkan, serta mengetahui hambatan dan upaya yang dilakukan dalam pembentukan sikap nasionalisme pada siswa kelas III SD Negeri 1 Bunutin Bangli. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumen. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru kelas III, dan siswa. Analisis data dilakukan melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan sikap nasionalisme diimplementasikan melalui pembelajaran PKn yang terintegrasi dengan kegiatan pembiasaan sekolah, seperti upacara bendera, menyanyikan lagu wajib nasional, penerapan tata tertib, dan keteladanan guru. Nilai nasionalisme yang dikembangkan meliputi nilai religiusitas dan moralitas keagamaan, disiplin dan ketaatan hukum, serta integrasi sosial dan gotong royong. Hambatan yang ditemukan berasal dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, termasuk pengaruh perkembangan teknologi digital terhadap perilaku peserta didik. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut meliputi pembiasaan karakter, penegakan tata tertib sekolah, pembinaan peserta didik, serta peningkatan profesionalisme guru. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembentukan sikap nasionalisme memerlukan sinergi antara pembelajaran, budaya sekolah, dan dukungan lingkungan sosial agar nilai-nilai kebangsaan dapat terinternalisasi secara optimal dalam diri peserta didik.