cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 612 Documents
MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI-NILAI MORAL DALAM RITUAL KILALA PADA KEHIDUPAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT CIA-CIA BUTON Lisna Lisna; Daroe Iswatiningsih; Harun Harun; Nuryeni Nuryeni
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11794

Abstract

The kilala ritual is a spiritual activity (divination) used to obtain insights into events related to the past and the future, whether they are considered positive or negative. This study aims to examine the symbolic meanings and moral values contained in the kilala ritual within the household life of the Cia-Cia community in Buton. This research employed a descriptive qualitative method with Clifford Geertz’s symbolic interpretivism approach as the theoretical framework to analyze the research problem. Data analysis was conducted using the Miles, Huberman, and Saldana model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the kilala ritual is carried out through several stages, namely tracing the root of the problem by the pande kilala, the disclosure of emotional wounds by husband and wife, and the presentation of offerings as a medium of prayer and respect for aka. The symbolic meanings of this ritual are reflected in various offering elements such as incense, rice, coins, betel leaves, lime, tobacco, eggs, and fish, which symbolize purity, openness, responsibility, balance, prosperity, and spiritual interconnectedness. The moral values contained in the kilala ritual include self-awareness, openness, responsibility, forgiveness, trustworthiness, and household harmony. Therefore, the kilala ritual is not only interpreted as a spiritual tradition but also functions as a medium of moral learning and family relationship restoration in the life of the Cia-Cia community in Buton. ABSTRAK Ritual kilala merupakan aktivitas spiritual (meramal) yang digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai peristiwa yang berkaitan dengan masa lalu maupun masa depan, baik yang bersifat baik maupun buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala pada kehidupan rumah tangga masyarakat Cia-Cia di Buton. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori Clifford Geertz mengenai symbol, yaitu interpretisme simbolik untuk membedah masalah penelitian. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual kilala dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penelusuran akar persoalan oleh pande kilala, pengungkapan luka batin oleh pasangan suami istri, serta penyajian sesajen sebagai sarana doa dan penghormatan kepada aka. Makna simbolik dalam ritual ini tercermin pada berbagai unsur sesajen seperti kemenyan, beras, uang logam, daun sirih, kapur, tembakau, telur, dan ikan yang melambangkan kesucian, keterbukaan, tanggung jawab, keseimbangan, kesejahteraan, dan keterhubungan spiritual. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala meliputi kesadaran diri, keterbukaan, tanggung jawab, sikap saling memaafkan, amanah, dan keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, ritual kilala tidak hanya dimaknai sebagai tradisi spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran moral dan pemulihan hubungan keluarga dalam kehidupan masyarakat Cia-Cia di Buton.    
PENGARUH WARNA DAN DEKORASI KELAS TERHADAP MINAT BELAJAR ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SENDANG REJO Salsabilla Humaira Nst; Nabilah Salsabila; Ampun Bantali
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11874

Abstract

The physical classroom environment plays a significant role in early childhood learning, yet the use of color and classroom decoration in early childhood education institutions remains suboptimal. This study aimed to determine the effect of classroom colors and decorations on the learning interest of children aged 5–6 years at TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sendang Rejo. A quantitative approach with a correlational method was employed. The research subjects consisted of 20 children from group B, selected through total sampling. Data were collected via structured observation, class teacher questionnaires, and documentation, then analyzed using descriptive statistics and simple correlation tests. Validity testing confirmed that all instrument items were valid (rcomputed = 0.45–0.78 > rtable = 0.361) and reliable (α = 0.82 and 0.85). The mean percentage for the classroom color and decoration variable reached 85%, classified as very good, while children's learning interest averaged 85.8% in the same category. The correlation test yielded r = 0.91, indicating a very strong relationship. This study concludes that classroom colors and decorations have a positive effect on early childhood learning interest. Early childhood education institutions are encouraged to optimize the physical classroom environment as a means of stimulating child development and enhancing learning interest. ABSTRAK Lingkungan fisik kelas berpengaruh terhadap proses belajar anak usia dini, namun pemanfaatan warna dan dekorasi kelas secara optimal di lembaga PAUD masih belum merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna dan dekorasi kelas terhadap minat belajar anak usia 5–6 tahun di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sendang Rejo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian adalah 20 anak kelompok B yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur, angket guru kelas, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi sederhana. Hasil uji validitas menunjukkan seluruh butir instrumen valid (rhitung = 0,45–0,78 > rtabel = 0,361) dan reliabel (α = 0,82 dan 0,85). Rata-rata persentase variabel warna dan dekorasi kelas mencapai 85% dengan kategori sangat baik, sedangkan rata-rata minat belajar anak mencapai 85,8% pada kategori yang sama. Hasil uji korelasi memperoleh nilai r = 0,91 yang termasuk kategori sangat kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa warna dan dekorasi kelas berpengaruh positif terhadap minat belajar anak usia dini. Lembaga PAUD diharapkan dapat mengoptimalkan penataan lingkungan fisik kelas sebagai sarana stimulasi perkembangan dan peningkatan minat belajar anak secara optimal.
MAKNA SIMBOLIK TARI MANDAU KALIMANTAN TENGAH: KAJIAN ETNOKOREOLOGI DAN INTERNALISASI NILAI KARAKTER PADA SISWA Nuryeni Nuryeni; Daroe Iswatiningsih; Lisna Lisna
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11890

Abstract

ABSTRACT Mandau Dance is one of the traditional arts of the Dayak community in Central Kalimantan that embodies symbolic meanings and local wisdom, making it a potential medium for strengthening character education amid the modernization that influences younger generations. This study aims to describe the symbolic meanings of the movements and properties used in Mandau Dance and to explain the process of internalizing character values among students through cultural arts learning in schools. The study employed an ethnokoreological approach with a descriptive qualitative method to understand the relationship between dance art and the cultural life of the supporting community. The research stages included data collection through observation of Mandau Dance performances, interviews with students, and documentation, followed by data analysis through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the movements of Mandau Dance symbolize courage, heroism, respect for ancestors, unity, and the spirituality of the Dayak people. The dance properties, including the mandau (traditional sword), shield, and traditional costume, carry symbolic meanings related to cultural identity, protection, and the characteristics of the Dayak community. The internalization of character values was carried out through cultural arts learning by instilling discipline, responsibility, cooperation, courage, and appreciation for local culture through dance practice and understanding the meanings of movements and cultural symbols. Therefore, Mandau Dance functions not only as a cultural heritage but also as an effective medium for character education that helps students develop positive attitudes and behaviors, appreciate regional culture, and apply these values in their daily lives. ABSTRAK Tari Mandau merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah yang mengandung nilai simbolik dan kearifan lokal yang berpotensi menjadi sarana penguatan pendidikan karakter di tengah arus modernisasi yang memengaruhi generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik gerakan dan properti dalam Tari Mandau serta menjelaskan proses internalisasi nilai karakter siswa melalui pembelajaran seni budaya di sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan etnokoreologi dengan metode deskriptif kualitatif untuk memahami keterkaitan antara seni tari dan kehidupan budaya masyarakat pendukungnya. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data melalui observasi pertunjukan Tari Mandau, wawancara dengan siswa, dan dokumentasi, yang selanjutnya dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan Tari Mandau merepresentasikan nilai keberanian, semangat kepahlawanan, penghormatan terhadap leluhur, persatuan, dan spiritualitas masyarakat Dayak. Properti tari berupa mandau, tameng, dan kostum adat memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan identitas budaya, perlindungan, dan karakter masyarakat Dayak. Internalisasi nilai karakter dilakukan melalui pembelajaran seni budaya dengan menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, dan kecintaan terhadap budaya lokal melalui praktik tari serta pemahaman makna gerak dan simbol budaya. Dengan demikian, Tari Mandau tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter yang efektif dalam membentuk sikap dan perilaku siswa agar lebih menghargai budaya daerah serta mampu menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
PENGUATAN CHARACTER RESILIENCE SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN: PELUANG DAN TANTANGAN DALAM KAJIAN SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Rahmat Riski; Saifullah Idris
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11939

Abstract

ABSTRACT The development of digital technology has brought significant changes to patterns of interaction, learning, and character formation among students. This condition necessitates the strengthening of spiritual character resilience as a foundation for building moral resilience, adaptive abilities, and psychological well-being amid the various challenges of the digital era. This study aims to analyze the development of research related to spiritual character resilience in education and identify the opportunities and challenges of its implementation in the digital era. The study employed a Systematic Literature Review (SLR) approach using data sourced from the Scopus database with the keywords “Character Resilience” AND “Learning Education”. The initial search yielded 87 documents, which were subsequently screened based on publication years (2019–2026), subject areas (Social Sciences, Arts and Humanities, and Multidisciplinary), and open-access article document types. The selection process resulted in 23 articles, but only 16 articles were further analyzed due to their strong relevance to the research focus. The findings indicate that research on spiritual character resilience is dominated by themes such as religious character strengthening, digital resilience, social emotional learning (SEL), integration of local wisdom, and reinforcement of students’ moral identity. The studies also reveal that integrating religious values, local culture, and digital technology provides significant opportunities to enhance moral resilience, emotional regulation, and students’ adaptive abilities. However, challenges such as moral degradation, negative impacts of digital media, low spiritual literacy, and the limited integration of character education into educational curricula remain major obstacles. Therefore, a holistic educational approach involving collaboration among schools, families, communities, and technology based on spiritual values is needed to strengthen students’ spiritual character resilience. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi, pembelajaran, dan pembentukan karakter peserta didik. Kondisi tersebut menuntut penguatan character resilience spiritual sebagai fondasi untuk membangun ketahanan moral, kemampuan adaptasi, dan kesejahteraan psikologis di tengah berbagai tantangan era digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan penelitian terkait character resilience spiritual dalam pendidikan serta mengidentifikasi peluang dan tantangan implementasinya pada era digital. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan sumber data berasal dari database Scopus menggunakan kata kunci “Character Resilience” AND “Learning Education”. Hasil pencarian awal memperoleh 87 dokumen, kemudian dilakukan proses penyaringan berdasarkan tahun publikasi 2019–2026, bidang kajian Social Sciences, Arts and Humanities, dan Multidisciplinary, serta jenis dokumen artikel open access. Berdasarkan proses seleksi diperoleh 23 artikel, namun hanya 16 artikel yang dianalisis lebih mendalam karena memiliki keterkaitan paling relevan dengan fokus penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa penelitian character resilience spiritual didominasi oleh tema penguatan karakter religius, resiliensi digital, social emotional learning (SEL), integrasi budaya lokal, serta penguatan moral dan identitas peserta didik. Penelitian juga menunjukkan bahwa integrasi nilai religius, budaya lokal, dan teknologi digital memiliki peluang besar dalam membangun ketahanan moral, regulasi emosi, dan kemampuan adaptasi peserta didik. Namun demikian, tantangan seperti degradasi moral, dampak negatif media digital, rendahnya literasi spiritual, dan belum optimalnya integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum masih menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang holistik melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan teknologi berbasis nilai spiritual.
PERAN ORANG TUA DALAM MENDUKUNG PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI DI TKN NEGRI BAJAWA Yulita Klaudia Kue; Elisabeth Tantiana Ngura; Gde Putu Arya Oka; Efrida Ita
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11940

Abstract

ABSTRACT The family serves as the first environment in which children encounter learning experiences that lay the foundation for cognitive development. During early childhood, the abilities to think, remember, understand information, and solve problems are shaped through continuous interactions with significant individuals, particularly parents. Consequently, parental involvement becomes a crucial factor in determining the quality of stimulation children receive in their daily lives. This study explores how parents support the cognitive development of young children at TKN Negeri Bajawa. The study employed a qualitative approach using a case study design. Research data were collected from parents and teachers through observations, interviews, and documentation. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that parental support for children's cognitive development extends beyond formal learning activities at home and is reflected in various everyday experiences that stimulate thinking skills. Such involvement includes assisting children during learning activities, providing learning resources, maintaining interactive communication, and creating meaningful learning experiences through routine family activities. In addition, the dominant parenting style identified in this study was democratic parenting, which allows children to explore ideas, make simple decisions, and solve problems independently while still receiving guidance from their parents. These findings suggest that consistent stimulation and responsive parenting play a significant role in fostering cognitive development in early childhood. ABSTRAK Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memperkenalkan anak pada berbagai pengalaman belajar yang menjadi dasar perkembangan kognitif. Pada masa usia dini, kemampuan berpikir, mengingat, memahami informasi, dan memecahkan masalah berkembang melalui interaksi yang berlangsung secara terus-menerus dengan orang-orang terdekat, terutama orang tua. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua menjadi salah satu faktor yang menentukan kualitas stimulasi yang diterima anak dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menelaah bagaimana peran tersebut diwujudkan dalam konteks pendidikan anak usia dini di TKN Negeri Bajawa. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui desain studi kasus. Informasi penelitian diperoleh dari orang tua dan guru melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Seluruh data kemudian ditelaah menggunakan tahapan analisis Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan makna dari temuan yang diperoleh. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dukungan orang tua terhadap perkembangan kognitif anak tidak hanya tampak dalam kegiatan belajar formal di rumah, tetapi juga melalui berbagai aktivitas sehari-hari yang memberikan stimulasi berpikir. Bentuk keterlibatan tersebut meliputi pendampingan saat belajar, penyediaan sarana belajar, komunikasi yang interaktif, serta pemberian pengalaman belajar melalui kegiatan rutin keluarga. Selain itu, pola asuh yang paling menonjol adalah pola asuh demokratis yang memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi ide, mengambil keputusan sederhana, dan menyelesaikan masalah dengan bimbingan orang tua. Temuan ini menunjukkan bahwa stimulasi yang konsisten dan pengasuhan yang responsif memiliki kontribusi penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak usia dini.
IMPLEMENTASI METODE LEARNING BY DOING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL LAMBANG BILANGAN PADA ANAK USIA 5- 6 TAHUN Titik Kurniati; Wafa Aerin
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11955

Abstract

This research was motivated by the low ability of children aged 5–6 years to recognize number symbols at TK Pertiwi 14.06.14 Ampih, Buluspesantren District, Kebumen Regency. The study aimed to improve children’s ability to recognize number symbols through the learning by doing method. This research used Classroom Action Research (CAR) based on the Kemmis and Taggart model, consisting of planning, action, observation, and reflection stages. The study was conducted in two cycles involving 16 children in group B. Data were collected through observation and documentation, while data analysis used descriptive quantitative and qualitative techniques. The results showed that the learning by doing method was able to improve children’s ability to recognize number symbols. The percentage of success increased from 35% in the pre-cycle to 62% in cycle I and reached 87% in cycle II. Children became more active, confident, and capable of mentioning, matching, and arranging number symbols correctly. Therefore, the learning by doing method is effective in improving number symbol recognition skills in early childhood. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan mengenal lambang bilangan pada anak usia 5–6 tahun di TK Pertiwi 14.06.14 Ampih Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen. Penelitian bertujuan meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan melalui metode learning by doing. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart yang terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek 16 anak kelompok B. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode learning by doing mampu meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan anak. Persentase keberhasilan pada pra siklus sebesar 35%, meningkat menjadi 62% pada siklus I, dan mencapai 87% pada siklus II. Anak menjadi lebih aktif, percaya diri, serta mampu menyebutkan, mencocokkan, dan mengurutkan lambang bilangan dengan lebih baik. Dengan demikian, metode learning by doing efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan pada anak usia dini.
IMPLEMENTASI PERMAINAN PAPER FOLDING DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 4–5 TAHUN DI TK AL HIDAYAH SUNAN BONANG BALUNG JEMBER Arin Pratiwi; Indah Kharismawati; Mahendra Aswit Sandra Barata
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11981

Abstract

Optimal stimulation of fine motor skills is a crucial part of early childhood development, so the learning activities applied need to be adapted to the developmental characteristics of the students. However, preliminary observations conducted at TK Al Hidayah Sunan Bonang Balung Jember indicate that a number of children aged 4–5 years still face obstacles in carrying out activities that require coordinated movement between the hands and fingers. This condition highlights the need to implement learning activities that are enjoyable and able to attract children's interest, one of which is paper folding activities. This study aims to describe the implementation of paper folding activities as an effort to support fine motor development in children aged 4–5 years at TK Al Hidayah Sunan Bonang Balung Jember. A descriptive qualitative approach was applied in this research, with the research subjects being children from Group A. Data collection was carried out through observation of the learning process, interviews with the teacher and school principal, and documentation gathered throughout the implementation of the research. The data analysis process was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research findings reveal that paper folding activities provided a learning experience that contributed to improving children's hand-eye coordination, finger movement precision, and the ability to follow instructions step by step. In addition to fine motor aspects, this activity also fostered children's concentration, accuracy, and courage to complete tasks independently. Although some children still required guidance while folding, overall the paper folding activity proved to be a relevant alternative for stimulating fine motor skills in line with the learning characteristics of early childhood. ABSTRAK Stimulasi optimal terhadap kemampuan motorik halus menjadi bagian krusial dalam tumbuh kembang anak usia dini, sehingga aktivitas pembelajaran yang diterapkan perlu disesuaikan dengan karakteristik perkembangan peserta didik. Akan tetapi, observasi awal yang dilakukan di TK Al Hidayah Sunan Bonang Balung Jember mengindikasikan bahwa sejumlah anak pada rentang usia 4–5 tahun masih menghadapi hambatan dalam melaksanakan aktivitas yang menuntut keselarasan gerak antara tangan dan jari. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mampu menarik minat anak, salah satunya melalui aktivitas paper folding. Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk memaparkan implementasi kegiatan paper folding sebagai upaya mendukung perkembangan motorik halus pada anak usia 4–5 tahun di TK Al Hidayah Sunan Bonang Balung Jember. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan dalam penelitian ini, dengan subjek penelitian berasal dari anak-anak kelompok A. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap proses pembelajaran, wawancara bersama guru dan kepala sekolah, serta dokumentasi yang dihimpun sepanjang pelaksanaan penelitian. Proses analisis data ditempuh melalui tahap reduksi data, penyajian data, hingga penarikan kesimpulan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa aktivitas paper folding memberikan pengalaman belajar yang berkontribusi pada peningkatan koordinasi mata dan tangan anak, ketepatan gerakan jari, serta kemampuan mengikuti instruksi secara bertahap. Di samping aspek motorik halus, kegiatan ini turut menumbuhkan konsentrasi, ketelitian, dan keberanian anak untuk menuntaskan tugas secara mandiri. Meskipun sebagian anak masih membutuhkan bimbingan saat melipat, secara keseluruhan kegiatan paper folding terbukti dapat dijadikan alternatif stimulasi motorik halus yang relevan dengan karakteristik belajar anak usia dini.
PEMETAAN KESENJANGAN KOMPETENSI SISWA SMK BERDASARKAN HASIL PRAKTIK KERJA LAPANGAN 2022–2025 Budiyanto Budiyanto; Tri Wrahatnolo; Heru Arizal; Yessy Yessy
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.12025

Abstract

The Open Unemployment Rate among Vocational High School (SMK) graduates remains the highest among all educational levels, indicating a persistent gap between graduates’ competencies and labor market demands. Industrial Work Practice (Praktik Kerja Lapangan/PKL) serves as a key vocational education strategy to strengthen the linkage between schools and industry; however, PKL outcomes have rarely been utilized as a basis for mapping students’ competencies. This study aimed to map students’ competency achievement and competency gaps based on PKL outcomes at SMKN 1 Tambelangan during the 2022–2025 period. A descriptive quantitative approach with a comparative design was employed. The study involved 315 students selected using a total sampling technique. Data were collected from students’ PKL scores and the Minimum Mastery Criteria (MMC) and analyzed using descriptive statistics and analysis of variance (ANOVA). The findings revealed that all students achieved scores above the MMC, indicating generally good competency attainment. Significant differences in competency achievement were identified across specialization areas and PKL implementation years. The Accounting specialization demonstrated the highest competency achievement, while Motorcycle Engineering showed the lowest. These findings suggest that both specialization characteristics and PKL implementation contribute to variations in students’ competencies. The results provide empirical evidence for schools to evaluate and strengthen PKL programs in order to enhance students’ work readiness more equitably. ABSTRAK Tingkat Pengangguran Terbuka lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang masih tinggi menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi salah satu strategi pendidikan vokasi untuk memperkuat keterkaitan antara sekolah dan industri, namun hasil PKL masih jarang dimanfaatkan sebagai dasar pemetaan kompetensi siswa. Penelitian ini bertujuan memetakan capaian dan kesenjangan kompetensi siswa SMKN 1 Tambelangan berdasarkan hasil PKL periode 2022–2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain komparatif. Sampel penelitian terdiri atas 315 siswa yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari nilai PKL dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh siswa mencapai nilai di atas KKM dengan rata-rata nilai PKL yang berada pada kategori baik. Terdapat perbedaan signifikan capaian kompetensi berdasarkan konsentrasi keahlian maupun tahun pelaksanaan PKL. Konsentrasi Akuntansi menunjukkan capaian kompetensi tertinggi, sedangkan Teknik Sepeda Motor memiliki capaian terendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa karakteristik konsentrasi keahlian dan pelaksanaan PKL berkontribusi terhadap variasi kompetensi siswa. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi sekolah dalam melakukan evaluasi dan penguatan program PKL untuk meningkatkan kesiapan kerja siswa secara lebih merata.
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN MEDIA AUDIOVISUAL CERITA BONEKA TANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DAN MEMIRSA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS IV SDN BANYUAJUH 4 Devi Adji Setyorini; Andika Adinanda Siswoyo; Vita Nurul Fauziyah; Nurjihan Seftinengseh; Muhammad Ainur Rasikin
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.12215

Abstract

This study aimed to improve the reading and viewing skills of fourth-grade students at SDN Banyuajuh 4 through the implementation of the Discovery Learning model assisted by audiovisual hand-puppet storytelling media. The method used was Classroom Action Research (CAR) with a qualitative-quantitative descriptive approach, referring to the Kemmis and McTaggart design implemented in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection stages. The research subjects involved 9 fourth-grade students at SDN Banyuajuh 4, with data collected through observation, learning outcome tests, and documentation, using a Minimum Mastery Criterion (KKM) set at 70. The results showed an increase in students' learning activity, from an average of 42.5% in the pre-cycle to 66.25% in cycle I, then reaching 92.5% in cycle II. Correspondingly, learning outcome mastery also increased from 44.44% in the pre-cycle to 66.67% in cycle I, ultimately reaching 100% in cycle II. Based on these findings, the implementation of the Discovery Learning model assisted by audiovisual hand-puppet storytelling media proved effective in improving the reading and viewing skills of elementary school students, while also serving as an active, engaging, and meaningful learning alternative. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan membaca dan memirsa peserta didik kelas IV SDN Banyuajuh 4 melalui penerapan model Discovery Learning berbantuan media audiovisual cerita boneka tangan. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif-kuantitatif, mengacu pada desain Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian melibatkan 9 peserta didik kelas IV SDN Banyuajuh 4, dengan data dihimpun melalui observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi, serta Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sebesar 70. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan aktivitas belajar peserta didik, dari rata-rata 42,5% pada pra siklus menjadi 66,25% pada siklus I, kemudian mencapai 92,5% pada siklus II. Sejalan dengan itu, ketuntasan hasil belajar turut meningkat dari 44,44% pada pra siklus menjadi 66,67% pada siklus I, hingga akhirnya mencapai 100% pada siklus II. Berdasarkan temuan tersebut, penerapan model Discovery Learning berbantuan media audiovisual cerita boneka tangan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca dan memirsa peserta didik sekolah dasar, sekaligus dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang aktif, menarik, dan bermakna.
PENGARUH EFIKASI DIRI DAN PENGALAMAN PEMBELAJARAN MICROTEACHING TERHADAP KESIAPAN MENGAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI DI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN Nia Syahfitri; Ramdhansyah Ramdhansyah; Jufri Darma; Pasca Dwi Putra; Haryani Pratiwi Sitompul
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.12216

Abstract

Teaching readiness is a fundamental competency that education students must possess before entering the school environment. Field conditions indicate that some Accounting Education students at Universitas Negeri Medan still face challenges in conducting optimal instruction, reflected in unstable self-confidence and classroom management skills that still require improvement. This study aimed to examine the effect of self-efficacy and microteaching learning experience on students' teaching readiness. A quantitative approach with an ex post facto design was employed. The population and sample comprised all 2022-cohort Accounting Education students who had completed the microteaching course, totaling 60 individuals, determined through total sampling technique. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results showed that self-efficacy and microteaching learning experience simultaneously had a significant effect on teaching readiness, with an F value of 31.579 (sig. < 0.001) and a model contribution of 50.9%. Partially, self-efficacy had a positive and significant effect with a regression coefficient of 0.527, while microteaching experience also had a positive and significant effect with a coefficient of 0.258. These findings indicate the need to strengthen microteaching programs and develop strategies to enhance students' self-efficacy as prospective professional educators. ABSTRAK Kesiapan mengajar merupakan kompetensi mendasar yang wajib dimiliki mahasiswa kependidikan sebelum terjun ke lingkungan sekolah. Kondisi di lapangan menunjukkan sebagian mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Medan masih mengalami kendala dalam melaksanakan pembelajaran secara optimal, tampak dari rasa percaya diri yang belum stabil serta kemampuan pengelolaan kelas yang masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh efikasi diri dan pengalaman pembelajaran microteaching terhadap kesiapan mengajar mahasiswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain ex post facto. Populasi sekaligus sampel penelitian mencakup seluruh mahasiswa Pendidikan Akuntansi angkatan 2022 yang telah menyelesaikan mata kuliah microteaching, berjumlah 60 orang, ditetapkan melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket berskala Likert, kemudian dianalisis dengan teknik regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri bersama pengalaman pembelajaran microteaching secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kesiapan mengajar, dengan nilai F sebesar 31,579 (sig. < 0,001) dan kontribusi model sebesar 50,9%. Secara parsial, efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien regresi sebesar 0,527, sementara pengalaman microteaching juga berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien sebesar 0,258. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan program microteaching serta strategi peningkatan efikasi diri mahasiswa sebagai calon pendidik profesional.