cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA
ISSN : 27970744     EISSN : 27971031     DOI : https://doi.org/10.51878/science.v1i2.389
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan matematika dan IPA.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 378 Documents
INTERVENSI NILAI BERKEADILAN SOSIAL PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH DASAR HARTOYO, AGUNG; PRASODJO, BAYU; IZUDIN, MUHAMMAD IRFAN; SAFIRANTY, NANY; MUSKANIA, RICKA TESI
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4343

Abstract

Ideally, mathematics education is expected to equip students with creative thinking skills, which involve innovative problem-solving, and the ability to see a problem from various perspectives and provide multiple alternative solutions. One effort that can be made is to provide social justice value interventions in mathematics learning in elementary schools. The application of social justice values ??in learning can have a positive impact on the development of student's creativity in solving problems. Therefore, this study aims to determine the contribution of social justice value interventions in mathematics learning to improving students' creative thinking skills. This study is a quantitative descriptive study. Participants were students at Pontianak Elementary School in grade V with 45 participants. This study selected participants using a purposive sample with the consideration that participants were selected based on availability and representation in heterogeneous groups that reflect socio-economic diversity. Students' creative thinking skills were measured twice, namely before and after the social justice value intervention by focusing on four indicators: fluency, flexibility, originality, and elaboration. The results showed that the intervention of social justice values ??in mathematics learning improved students' creative thinking skills. In the fluency indicator, the average score increased from 76.00 to 89.33. Then flexibility indicator, the average score increased from 61.33 to 83.11. In the originality indicator, the average score increased from 65.78 to 85.78. The last indicator, elaboration, the average score increased from 67.56 to 85.78 ABSTRAKIdealnya, pendidikan matematika diharapkan dapat membekali siswa dengan kemampuan berpikir kreatif, yang melibatkan pemecahan masalah secara inovatif, serta kemampuan agar dapat melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang dan memberikan berbagai alternatif solusi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan intervensi nilai berkeadilan sosial pada pembelajaran matematika di sekolah dasar. penerapan nilai berkeadilan sosial dalam pembelajaran dapat memberikan dampak positif pada perkembangan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  kontribusi intervensi nilai berkeadilan sosial dalam pembelajaran matematika terhadap peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Partisipan merupakan siswa di Sekolah Dasar Pontianak di kelas V dengan 45 partisipan. Penelitian ini memilih partisipan menggunakan purposive sample dengan pertimbangan bahwa partisipan dipilih berdasarkan ketersediaan dan representasi dalam kelompok heterogen yang mencerminkan keberagaman sosial-ekonomi. Kemampuan berpikir kreatif peserta didik diukur sebanyak dua kali yaitu pada sebelum intervensi dan sesudah intervensi nilai berkeadilan sosial dengan berfokus pada empat indikator yakni kelancaran, keluwesan, keaslian, dan pendetailan. Hasilnya didapatkan bahwa intervensi nilai berkeadilan sosial pada pembelajaran matematika mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Pada indikator kelancaran, skor rata-ratanya meningkat dari 76,00 menjadi 89,33. Kemudian pada indikator keluwesan, skor rata-ratanya meningkat dari 61,33 menjadi 83,11. Pada indikator keaslian, skor rata-ratanya meningkat dari 65,78 menjadi 85,78. Dan indikator yang terakhir yaitu kerincian, skor rata-ratanya meningkat dari 67,56 menjadi 85,78
ENHANCING PROBLEM-SOLVING SKILLS IN ELEMENTARY STUDENTS THROUGH REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION SUSANTI, ERMA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4344

Abstract

Realistic Mathematics Education (RME) is an innovative approach aimed at enhancing students' problem-solving skills by connecting mathematical concepts to real-world contexts. Traditional mathematics education often focuses on rote memorization and abstract procedures, leaving students disengaged and unable to apply their knowledge effectively. RME addresses this gap by emphasizing context-based learning, student-centered exploration, and progressive mathematization, fostering critical thinking and conceptual understanding. This study examines the implementation of RME through literature reviews and case studies from schools worldwide. Methods include analyzing research findings on the impact of RME on student outcomes, including test scores, engagement, and confidence.  Results indicate that RME significantly improves problem-solving skills, with students in RME classrooms outperforming peers in traditional settings. Enhanced engagement and confidence in mathematics were also observed, particularly in scenarios where students collaboratively tackled realistic problems. However, challenges such as resource constraints, teacher preparation, and curriculum adaptation remain. The findings underscore RME’s transformative potential in mathematics education. Schools and policymakers are encouraged to adopt RME, supported by targeted professional development and further research to refine and innovate its practices. ABSTRAKRealistic Mathematics Education (RME) adalah pendekatan inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa dengan menghubungkan konsep matematika ke konteks dunia nyata. Pendidikan matematika tradisional sering kali berfokus pada hafalan dan prosedur abstrak, yang menyebabkan siswa kurang terlibat dan tidak mampu menerapkan pengetahuan mereka secara efektif. RME mengatasi kesenjangan ini dengan menekankan pembelajaran berbasis konteks, eksplorasi yang berpusat pada siswa, dan matematisasi progresif, sehingga mendorong pemikiran kritis dan pemahaman konseptual. Penelitian ini mengkaji penerapan RME melalui tinjauan literatur dan studi kasus dari sekolah-sekolah di seluruh dunia. Metode yang digunakan termasuk menganalisis temuan penelitian tentang dampak RME terhadap hasil belajar siswa, termasuk skor tes, keterlibatan, dan kepercayaan diri. Hasil menunjukkan bahwa RME secara signifikan meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, di mana siswa di kelas RME menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan teman-teman mereka dalam pengaturan tradisional. Peningkatan keterlibatan dan kepercayaan diri dalam matematika juga diamati, terutama dalam skenario di mana siswa secara kolaboratif menyelesaikan masalah realistis. Namun, terdapat tantangan seperti keterbatasan sumber daya, persiapan guru, dan adaptasi kurikulum. Temuan ini menegaskan potensi transformasi RME dalam pendidikan matematika. Sekolah dan pembuat kebijakan didorong untuk mengadopsi RME, didukung oleh pengembangan profesional yang terarah dan penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan dan menginovasikan praktiknya.
PROFIL KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA DALAM MATA PELAJARAN PROJEK IPAS DI SMKN BANTARKALONG KABUPATEN TASIKMALAYA MARWAN, ASEP; WAHIDIN, WAHIDIN; MUSTOFA, ROMY FAISAL; BADRIAH, LIAH; HERNAWATI, DIANA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4403

Abstract

This study aims to describe the profile of vocational high school (SMK) students' science process skills (SPS) in the Project-Based Natural and Social Sciences (IPAS) subject. The research employs a mixed-method approach using questionnaires and interviews as instruments. Quantitative data were collected from 60 tenth-grade students at SMKN Bantarkalong using a Likert-scale-based questionnaire, analyzed with the Rasch Model to assess reliability and validity. Qualitative data were obtained through in-depth interviews with three purposively selected students. SPS encompasses basic skills, such as observation, measurement, and classification, as well as integrated skills, such as variable control and hypothesis formulation. The findings indicate that students' SPS fall within the moderate category across all indicators, with the highest average percentage in experimental design (51.46%) and the lowest in prediction (42.50%). Further analysis revealed that a lack of hands-on laboratory experience contributes to the low mastery of SPS. Interviews also indicated that students face difficulties in understanding variables and relating them in experimental contexts. This study highlights the importance of implementing more practical and integrated project-based learning to enhance students' SPS. Key recommendations include strengthening laboratory practice at earlier education levels and innovating instructional approaches based on engineering design, STEM integration, or a combination of both to improve students' SPS. These findings are expected to serve as preliminary information for enhancing the quality of IPAS project-based learning in vocational schools and supporting the development of relevant and effective curricula to produce adaptive graduates for the modern technological era. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil keterampilan proses sains (KPS) siswa SMK pada mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan instrumen kuesioner dan wawancara. Data kuantitatif dikumpulkan dari 60 siswa kelas X SMKN Bantarkalong dengan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert yang dianalisis melalui Model Rasch untuk mengukur reliabilitas dan validitas. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tiga siswa yang dipilih secara purposive sampling. KPS terdiri atas keterampilan dasar, seperti observasi, pengukuran, dan klasifikasi, serta keterampilan terpadu, seperti pengendalian variabel dan perumusan hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa berada pada kategori sedang di semua indikator, dengan persentase rata-rata tertinggi pada desain eksperimen (51,46%) dan terendah pada prediksi (42,50%). Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa minimnya pengalaman praktik di laboratorium menjadi salah satu penyebab rendahnya penguasaan KPS. Wawancara juga mengindikasikan bahwa siswa menghadapi kesulitan dalam memahami konsep variabel dan menghubungkannya dalam konteks eksperimen. Penelitian ini menekankan pentingnya penerapan pembelajaran berbasis projek yang lebih praktis dan terintegrasi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam aspek KPS. Rekomendasi utama meliputi penguatan praktik laboratorium di jenjang pendidikan sebelumnya serta inovasi pendekatan pembelajaran berbasis desain rekayasa, integrasi STEM, atau kombinasi keduanya untuk meningkatkan KPS siswa. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi awal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran projek IPAS di SMK serta mendukung pengembangan kurikulum yang relevan, efektif, dan mampu mencetak lulusan adaptif di era teknologi modern.
POTRET AWAL KETERAMPILAN BERPIKIR ANALITIS DAN KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH PESERTA DIDIK DI SMP AL-MADINAH LISTIANI, FITRI; HERNAWATI, DIANA; MUSTOFA, ROMY FAISAL; BADRIAH, LIAH
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4429

Abstract

Analytical thinking skills and problem-solving skills are important competencies that learners need to have in facing challenges in the 21st century. Analytical thinking skills enable learners to analyze information systematically and solve problems in a logical way. Similarly, problem-solving skills support learners in finding solutions to problems faced. This study aims to determine the initial portrait of analytical thinking skills and problem solving skills of students at Al-Madinah Junior High School in Tasikmalaya Regency. The method used in this research is descriptive with 99 respondents of class VIII students selected by purposive sampling. Data were collected through a questionnaire with a Likert scale and analyzed using percentages. The results showed that the students' analytical thinking skills were in the insufficient criteria with an average percentage of 59.60%, while problem solving skills were also in the insufficient criteria with an average percentage of 59.94%. These findings indicate the need for further efforts to improve learners' analytical thinking and problem solving skills, such as the application of varied learning models that are in accordance with the needs of the 21st century. This research is expected to contribute to the development of more effective learning strategies to improve learners' analytical thinking and problem solving skills. ABSTRAKKeterampilan berpikir analitis dan keterampilan pemecahan masalah merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh peserta didik dalam menghadapi tantangan di abad 21. Keterampilan berpikir analitis memungkinkan peserta didik untuk menganalisis informasi dengan sistematis dan memecahkan masalah dengan cara yang logis. Begitu pula, keterampilan pemecahan masalah mendukung peserta didik dalam menemukan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potret awal keterampilan berpikir analitis dan keterampilan pemecahan masalah peserta didik di SMP Al-Madinah Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan responden penelitian sebanyak 99 peserta didik kelas VIII yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir analitis peserta didik berada pada kriteria kurang dengan rata-rata persentase 59,60%, sementara keterampilan pemecahan masalah juga berada pada kriteria kurang dengan rata-rata persentase 59,94%. Temuan ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan keterampilan berpikir analitis dan pemecahan masalah peserta didik, seperti penerapan model pembelajaran yang bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan abad 21. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir analitis dan pemecahan masalah peserta didik.
STUDI PENDAHULUAN: PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN FISIKA SMA WIDIARINI, PUTU; RAPI, NI KETUT; SUASTRA, I WAYAN; SUMA, KETUT
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4430

Abstract

Education is expected to be able to form a whole person who is aware of the importance of comprehensive learning in facing global challenges so that education must provide opportunities for students to learn in a learning process that is optimally designed. Science learning, especially physics, cannot be separated from identifying natural phenomena through observation activities and deeper exploration through experimental activities. However, there are still many challenges in implementing science learning, especially physics in the field. To identify the problems of science learning, especially high school physics, this study was conducted with the hope of obtaining accurate data related to the problems faced by educators and students. This research is classified as qualitative research with a case study type. The research data will be analyzed through three stages, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions and verification. The subjects in this study were school principals, physics teachers, and high school students in Singaraja city. The focus of the research is focused on six aspects related to problems or challenges in physics learning, namely: aspects of student readiness, teacher readiness, IT-based learning innovation, learning process, learning facilities, and high school student learning outcomes. ABSTRAKPendidikan diharapkan mampu membentuk manusia seutuhnya yang menyadari pentingnya pembelajaran yang komprehensif dalam menghadapi tantangan global sehingga pendidikan harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dalam suatu proses pembelajaran yang dirancang secara optimal. Pembelajaran IPA khususnya fisika tidak dapat dipisahkan dari mengidentifikasi fenomena alam melalui kegiatan observasi dan eksplorasi yang lebih dalam melalui kegiatan eksperimen. Akan tetapi, masih banyak tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran IPA khususnya fisika di lapangan. Untuk mengidentifikasi permasalahan pembelajaran IPA khususnya fisika SMA, penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memperoleh data yang akurat terkait permasalahan yang dihadapi oleh pendidik dan peserta didik. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Data penelitian akan dianalisis melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan dan verifikasi. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru fisika, dan peserta didik SMA di kota Singaraja. Fokus penelitian difokuskan pada enam aspek terkait permasalahan atau tantangan dalam pembelajaran fisika yaitu: aspek kesiapan peserta didik, kesiapan guru, inovasi pembelajaran berbasis IT, proses pembelajaran, sarana prasarana pembelajaran, dan hasil belajar peserta didik SMA.
ANALISIS KEBUTUHAN BAHAN AJAR STEAM PADA MATERI KLASIFIKASI TUMBUHAN ASTUTI, YANI; ARIPIN, A.; ABDURRAHMAT, A. S.; BADRIAH, L.; HERNAWATI, D.
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4434

Abstract

This study aims to analyze the needs of STEAM-based teaching materials (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) on plant classification material at MTs Negeri 11 Tasikmalaya. This approach is relevant to the demands of 21st century learning which emphasizes the development of critical thinking skills, creativity, collaboration, and problem solving. The research method used is descriptive, with data collection through online questionnaires and interviews. The research sample consisted of 32 VIII grade students and 14 Tasikmalaya IPA MGMP teachers. The results showed that 78.6% of teachers used textbooks as the main learning media, while 8.4% utilized the internet, and 13% used additional teaching materials. As many as 92.3% of teachers stated that the currently available teaching materials were not effective in improving mastery of the material and were less interesting to support students' independent learning. In addition, 95.7% of teachers are interested in using STEAM-based teaching materials because they are considered capable of increasing student learning motivation, creativity, and holistic understanding of concepts. The conclusion of this study is that there is an urgent need to develop STEAM-based teaching materials that can replace or complement conventional learning media. These teaching materials must be designed to support interactive, interesting, and contextual learning, so that they can meet the needs of teachers and students in learning plant classification material. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan bahan ajar berbasis STEAM (Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika) pada materi klasifikasi tumbuhan di MTs Negeri 11 Tasikmalaya. Pendekatan ini relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan pengumpulan data melalui angket online dan wawancara. Sampel penelitian terdiri dari 32 siswa kelas VIII dan 14 guru MGMP IPA Tasikmalaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 78,6% guru menggunakan buku paket sebagai media pembelajaran utama, sementara 8,4% memanfaatkan internet, dan 13% menggunakan bahan ajar tambahan. Sebanyak 92,3% guru menyatakan bahan ajar yang tersedia saat ini belum efektif dalam meningkatkan penguasaan materi dan kurang menarik untuk mendukung pembelajaran mandiri siswa. Selain itu, 95,7% guru tertarik untuk menggunakan bahan ajar berbasis STEAM karena dianggap mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, kreativitas, serta pemahaman konsep secara holistik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya kebutuhan mendesak untuk mengembangkan bahan ajar berbasis STEAM yang dapat menggantikan atau melengkapi media pembelajaran konvensional. Bahan ajar tersebut harus dirancang untuk mendukung pembelajaran yang interaktif, menarik, dan kontekstual, sehingga mampu memenuhi kebutuhan guru dan siswa dalam pembelajaran materi klasifikasi tumbuhan.
PEMBELAJARAN AKTIF DAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA KEMAMPUAN PESERA DIDIK SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIS NASUTION, HARYATI AHDA; WAHYUNI, RATNA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4438

Abstract

The effectiveness of active learning is supported by the use of learning media that deepens student competence so that there is an increase in solving mathematical problems. The research method uses an experimental design with a quantitative approach. The learning media used is the GeoGebra application, which is integrated into the active learning process. The research sample consisted of junior high school students who were given a pre-test and post-test to measure students' skills in solving mathematical problems. The statistical test results show that there is a significant difference between students' skills in solving mathematical problems before and after using the GeoGebra application, with the average value increasing significantly (t = -15.780; p = 0.000 < 0.05). These findings indicate that the integration of active learning and technology-based learning media can effectively develop students' abilities in solving mathematical problems. ABSTRAKEfektivitas pembelajaran aktif yang didukung oleh penggunaan media pembelajaran yang diperdalam untuk kompetensi peserta didik agar adanya peningkatan dalam memecahkan masalah matematis. Metode penelitian menggunakan desain eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Media pembelajaran yang digunakan berupa aplikasi GeoGebra, yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran aktif. Sampel penelitian terdiri dari peserta didik tingkat SMP yang diberikan pre-test dan post-test dalam mengukur keterampilan peserta didik dalam memecahkan masalah matematis. Dari hasil uji statistik menjelaskan bahwa perbedaan yang signifikan di antara keterampilan peserta didik dalam memecahkan masalah matematis sebelum dan setelah penggunaan aplikasi GeoGebra, dengan nilai rata-rata yang meningkat secara signifikan (t = -15,780; p = 0,000 < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran aktif dan media pembelajaran berbasis teknologi dapat secara efektif mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah matematis.
VALIDITAS DAN PRAKTIKALITAS LKPD HIDROLISIS GARAM BERBASIS GUIDED DISCOVERY LEARNING TERINTEGRASI ETNOSAINS UNTUK FASE F SMA JELITA, FARAH; ANDROMEDA, ANDROMEDA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4478

Abstract

The independent curriculum demands discovery-based learning, so the use of teaching materials must be adjusted based on the curriculum and the needs of students. In chemistry learning, the integration of ethnoscience can improve conceptual understanding and problem-solving skills by connecting knowledge theory with real-life phenomena, such as culture in society. This study aims to determine the level of validity and practicality of the salt hydrolysis LKPD based on guided discovery learning integrated with ethnoscience that was developed. The research was conducted using the 4D research model (define, design, develop, and disseminate), the limitations in this study were carried out until the development stage of the validity test and practicality test. The validity test was carried out on experts and then tested on 32 students in phase F of SMA N 1 Batang Anai. The results of the study obtained an Aiken's V value of 0.85 (valid) and the level of practicality of teacher and student responses was 93% and 86% (very practical), respectively. These results indicate that the salt hydrolysis LKPD based on guided discovery learning integrated with ethnoscience for phase F of SMA is valid and very practical to use in learning after being tested for its effectiveness. ABSTRAKKurikulum merdeka menuntut pembelajaran berbasis penemuan, maka penggunaan bahan ajar harus disesuaikan berdasarkan kurikulum serta kebutuhan peserta didik. Dalam pembelajaran kimia, pengintegrasian etnosains dapat meningkatkan pemahan konsep serta keterampilan pemecahan masalah dengan menghubungkan teori pengetahuan dengan  fenomena kehidupan nyata, seperti kebudayaan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui tingkat validitas dan praktikalitas LKPD hidrolisis garam berbasis guided discovery learning terintegrasi etnosains yang dikembangkan. Penelitian diakukan menggunakan model penelitian 4D (define, design, develop, dan disseminate), pembatasan pada penelitian ini dilakukan hingga tahap develop uji validitas dan uji praktikalitas. Uji validitas dilakukan kepada para ahli kemudian diuji cobakan kepada 32 peserta didik fase F SMA N 1 Batang Anai. Hasil penelitian diperoleh nilai Aiken’s V sebesar 0,85 (valid) serta tingkat praktikalitas respon guru dan peserta didik masing-masing sebesar 93% dan 86% (sangat praktis). Hasil ini mengindikasikan bahwa LKPD hidrolisis garam berbasis guided discovery learning terintegrasi etnosains untuk fase F SMA valid dan sangat praktis untuk digunakan dalam pembelajaran setelah diuji efektivitasnya.
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA PADA MATERI BENTUK ALJABAR MENGGUNAKAN APLIKASI LIVEWORKSHEET Amelia, Nurul; Rusliah, Nur; Noperta, Noperta
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4491

Abstract

Technological advancements in the Industry 4.0 era can be utilized as an innovative tool in the learning process, particularly in mathematics education. One platform that can be integrated into mathematics instruction is Liveworksheet. On this basis, this research was conducted to analyze the increase in students abilities in solving mathematical problems in algebraic material using the Liveworksheet application. Employing an experimental design through a pretest-posttest control group framework, the research involves randomly selected seventh-grade students from MTsN 2 Kerinci. Class VII E (18 students) served as the experimental group, while Class VII D (19 students) functioned as the control group. Given the non-normal data distribution, the Mann-Whitney test was chosen for statistical analysis, with a mathematical problem-solving test as the research instrument. N-Gain outcmes show that the experimental group achieved a higher average improvement (0.43, moderate category) compared to the control group (0.11, low category). The Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.001 < 0.05 confirms a significant disparity between the two groups. These findings prove that there is an increase in mathematical problem solving abilities in algebraic material using the Liveworksheet application. ABSTRAKKemajuan teknologi dalam era industri 4.0 dapat dimanfaatkan sebagai sarana inovatif dalam proses pembelajaran, khususnya dalam bidang matematika. Salah satu platform yang mampu diintegrasikan pada pembelajaran matematika yakni Liveworksheet. Atas dasar tersebut, penelitian ini dilakukan guna menganalisis peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika materi Bentuk Aljabar menggunakan aplikasi Liveworksheet. Metode yang dipilih yakni eksperimen melalui desain pretest-posttest control group, melibatkan siswa kelas VII MTsN 2 Kerinci yang dipilih secara acak. Kelas VII E (18 siswa) selaku kelompok eksperimen dan VII D (19 siswa) selaku kelompok kontrol. Instrumen penelitian berupa tes pemecahan masalah matematika, dengan analisis data menerapkan uji Mann-Whitney, hal ini dikarenakan distribusi data tidak normal. Hasil N-Gain memperlihatkan rata-rata peningkatan di kelas eksperimen (0,43, kategori sedang) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (0,11, kategori rendah). Nilai Asymp. Sig. (2-tailed) senilai 0,001 < 0,05 mengindikasikan perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Temuan ini membuktikan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika pada materi bentuk aljabar menggunakan aplikasi Liveworksheet.
PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK : SOLUSI INOVATIF UNTUK PEMBELAJARAN EFEKTIF MATA KULIAH FARMASETIKA Kasmadi, Fathnur Sani; Lestari, Uce
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4502

Abstract

Pharmacy is a compulsory course for pharmacy students that teaches about the art of compounding drugs. This study aimed to determine the effect of implementing a project-based learning model on the Pharmacy course at Jambi University. The research method used is to use learning media by implementing the results of the preparation formulation project and then analyzing the learning outcomes using questionnaire data. Data analysis is presented descriptively. The results show that project-based learning has a positive impact on students. Most students (47.44% agree and 23.07% strongly agree) stated that project-based learning creates a new and innovative atmosphere in the pharmacy course. In addition, students are also satisfied with the application of this method (43.07% are very satisfied and 38.72% are satisfied). ABSTRAKFarmasetika merupakan mata kuliah wajib bagi mahsiswa farmasi yang mengajarkan tentang seni meracik obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran berbasis proyek pada mata kuliah Farmasetika di Universitas Jambi. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan media pembelajaran dengan menerapkan hasil proyek formulasi sediaan kemudian di analisis hasil pembelajaran menggunakan data hasil kuesioner. Analisis data di tampilkan secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek memberikan dampak positif bagi mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa (47,44% setuju dan 23,07% sangat setuju) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek menciptakan suasana yang baru dan inovatif pada mata kuliah farmasetika. Selain itu, mahasiswa juga merasa puas dengan penerapan metode ini (43,07% sangat puas dan 38,72% puas).