cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS
ISSN : 27979431     EISSN : 27978842     DOI : https://doi.org/10.51878/social.v1i2.447
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 42 Documents clear
EFEKTIVITAS PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK OLEH KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU Haratua, Chandra Sagul; Aslamiyah, Sayidatul; Munawati, Siti; Nugraha, Yudistira Adi
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.7995

Abstract

Academic supervision plays a vital role as a quality assurance strategy in education amidst increasing demands for educator professionalism. This study aims to analyze the effectiveness of systematic academic supervision implementation on improving teacher performance at SMK Islam PB. Soedirman 1 Jakarta. Using a qualitative descriptive approach over two semesters, data collection was conducted through triangulation, including in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The supervision process was implemented cyclically and collaboratively, encompassing stages of needs-based planning, classroom observation, reflection, and follow-up training. The research findings show a significant increase in pedagogical competence, with the quality of standardized lesson plans (RPP) jumping from 20% to 75%, and the application of innovative methods increasing from 28% to 68%. Improvements in the evaluation culture were also recorded, with 80% of classes implementing formative evaluation, resulting in an average increase in student learning outcomes of 11 points. Furthermore, 93% of teachers responded positively, viewing supervision as professional guidance rather than inspection. It was concluded that planned and reflective supervision effectively builds a culture of continuous learning, thus recommending technology integration and principal training to broaden the impact of this policy. ABSTRAKSupervisi akademik memegang peranan vital sebagai strategi penjaminan mutu pendidikan di tengah meningkatnya tuntutan profesionalisme pendidik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan supervisi akademik yang sistematis terhadap peningkatan kinerja guru di SMK Islam PB. Soedirman 1 Jakarta. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif selama dua semester, pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi yang mencakup wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Proses supervisi dilaksanakan secara siklis dan kolaboratif, meliputi tahapan perencanaan berbasis kebutuhan, observasi kelas, hingga refleksi dan pelatihan tindak lanjut. Temuan penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi pedagogik, di mana kualitas perencanaan pembelajaran (RPP) berstandar melonjak dari 20% menjadi 75%, serta penerapan metode inovatif meningkat dari 28% menjadi 68%. Perbaikan budaya evaluasi juga tercatat dengan 80% kelas menerapkan evaluasi formatif, yang berimplikasi pada kenaikan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 11 poin. Selain itu, 93% guru merespons positif dengan memandang supervisi sebagai bimbingan profesional alih-alih inspeksi. Disimpulkan bahwa supervisi yang terencana dan reflektif efektif membangun budaya pembelajaran berkelanjutan, sehingga direkomendasikan adanya integrasi teknologi dan pelatihan kepala sekolah untuk memperluas dampak kebijakan ini.
NILAI MUSYAWARAH DALAM PKN SEBAGAI BASIS PEMBENTUKAN MODAL KULTURAL KOLEKTIF: SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA TENTANG DEMOKRASI DELIBERATIF DI SEKOLAH Setiawan, Yogi; Rohmah, Zulfiani Ainur
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.7996

Abstract

Civics Education plays a vital role in shaping the democratic character of citizens, yet reality shows low political participation among the younger generation and the dominance of authority in democratic practices in schools. This study aims to explore the value of deliberation in Civics Education as a basis for building collective cultural capital to realize deliberative democracy in educational settings. Using a descriptive qualitative method with a library research approach, this study analyzes various literature related to the challenges of school democracy, the internalization of the fourth principle of Pancasila, and its relationship to modern sociological theory. The results indicate that deliberation functions as a strategic bridge between noble traditional values ??and modern citizenship competencies, capable of fostering critical thinking, empathy, and social responsibility in students. Despite facing technical challenges such as the dominance of vocal students and limited learning time, inclusive teacher facilitation has proven effective in transforming classroom dynamics into a more equal space for dialogue. The main conclusion of this study confirms that substantively integrating the value of deliberation into the curriculum is not only effective in addressing the dialogic deficit but also strengthens the foundation of collective cultural capital, which is essential for the sustainability of a healthy and participatory deliberative democracy in Indonesia's national education system. ABSTRAKPendidikan Kewarganegaraan memegang peran vital dalam membentuk karakter demokratis warga negara, namun realitas menunjukkan masih rendahnya partisipasi politik generasi muda dan adanya dominasi otoritas dalam praktik demokrasi di sekolah. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi nilai musyawarah dalam Pendidikan Kewarganegaraan sebagai basis pembentukan modal kultural kolektif guna mewujudkan demokrasi deliberatif di lingkungan pendidikan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, penelitian ini menganalisis berbagai literatur terkait tantangan demokrasi sekolah, internalisasi sila keempat Pancasila, serta hubungannya dengan teori sosiologi modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa musyawarah berfungsi sebagai jembatan strategis antara nilai tradisi luhur dan kompetensi kewarganegaraan modern yang mampu menumbuhkan sikap kritis, empati, serta tanggung jawab sosial siswa. Kendati menghadapi tantangan teknis seperti dominasi siswa vokal dan keterbatasan waktu pembelajaran, fasilitasi guru yang inklusif terbukti mampu mengubah dinamika kelas menjadi ruang dialog yang lebih setara. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa pengintegrasian nilai musyawarah secara substantif dalam kurikulum tidak hanya efektif mengatasi defisit dialogis, tetapi juga memperkuat fondasi modal kultural kolektif yang esensial bagi keberlangsungan demokrasi deliberatif yang sehat dan partisipatif dalam sistem pendidikan nasional Indonesia.
DESENTRALISASI SEBAGAI ILUSI POLITIK: KRITIK TERHADAP IMPLEMENTASI TEORI OTONOMI DI ERA PARLEMENTER (1950–1959) Habibani, Rhaysya Admmi; Frinaldi, Aldri; Hendranaldi, Hendranaldi; Magriasti, Lince
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.7998

Abstract

The Parliamentary Democracy era (1950–1959) is often viewed as an experimental phase in the implementation of regional autonomy in Indonesia. However, historical reality reveals a stark gap between legal formalities and political practices on the ground. This study aims to critique the implementation of decentralization policies during this period to uncover the extent to which the concept of regional autonomy was truly realized or merely served as an instrument to legitimize central government power. Using qualitative research methods with a historical approach and public policy analysis, this study examines various legal documents, government archives, and relevant literature to examine the dynamics of central-regional relations. The research findings indicate that decentralization during that period was largely symbolic, or pseudo-decentralization. The implementation of autonomy was hampered by structural factors such as the legacy of a centralized colonial bureaucracy, high regional fiscal dependence, and national political instability, which encouraged the central government to use the rhetoric of autonomy as a strategy to mitigate potential disintegration. The main conclusion confirms that decentralization during the parliamentary era was merely a political illusion that served to maintain central hegemony rather than to substantively empower regions. This historical reflection serves as a crucial warning for contemporary governance, preventing decentralization policies from becoming trapped in administrative formalities without a fair and real division of power. ABSTRAKEra Demokrasi Parlementer (1950–1959) sering dipandang sebagai fase eksperimental dalam penerapan otonomi daerah di Indonesia, namun realitas sejarah menunjukkan adanya kesenjangan tajam antara formalitas hukum dan praktik politik di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkritisi implementasi kebijakan desentralisasi pada periode tersebut guna mengungkap sejauh mana konsep otonomi daerah benar-benar direalisasikan atau sekadar menjadi instrumen legitimasi kekuasaan pemerintah pusat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis dan analisis kebijakan publik, studi ini menelaah berbagai dokumen hukum, arsip pemerintah, dan literatur relevan untuk membedah dinamika hubungan pusat dan daerah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa desentralisasi pada masa itu lebih bersifat simbolik atau pseudo-decentralization. Implementasi otonomi terhambat oleh faktor struktural seperti warisan birokrasi kolonial yang sentralistik, ketergantungan fiskal daerah yang tinggi, serta instabilitas politik nasional yang mendorong pusat menggunakan retorika otonomi sebagai strategi meredam potensi disintegrasi. Simpulan utama menegaskan bahwa desentralisasi di era parlementer hanyalah ilusi politik yang berfungsi menjaga hegemoni pusat alih-alih memberdayakan daerah secara substantif. Refleksi historis ini menjadi peringatan krusial bagi tata kelola pemerintahan kontemporer agar kebijakan desentralisasi tidak kembali terjebak pada formalitas administratif tanpa pembagian kekuasaan yang adil dan nyata.
AUDITOR KOMPETENSI DI INSPEKTORAT DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN KOMPETENSI AUDITOR DI INSPEKTORAT DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN Mansyur, Shinta Rahmi; Imbaruddin, Amir; Rasdiyanti, Andi
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.8000

Abstract

Auditor competencies in regional inspectorates encompass the ability to conduct audits, evaluations, and controls on financial management and public policies, ensuring accountability and transparency. The purpose of this article is to analyze auditor competencies in improving the effectiveness of supervision in the Regional Inspectorate of South Sulawesi Province. The research method employed in this study is a qualitative approach, utilizing a case study design. The qualitative method was chosen because this study aims to explore the meaning, experiences, and perceptions of officials in the Regional Inspectorate of South Sulawesi Province. The results of the study indicate that. Developing auditors' technical skills is key to improving the effectiveness of regional financial and budget oversight. Technical skills encompassing internal audit, government accounting, data analysis, information technology, and regulatory knowledge have proven crucial and can be developed through formal training and continuing education. The Regional Inspectorate's commitment to developing its auditors' competencies through various internal training programs, seminars, workshops, and mentoring demonstrates a positive step toward improving the quality of oversight. Officials and expert auditors emphasized the importance of integrating technical and non-technical skills in addressing the challenges of digitalization and the complexity of regional government financial management. By continuing to strengthen auditor capacity through a comprehensive and sustainable development approach, the South Sulawesi Provincial Inspectorate is optimistic about improving accountability, transparency, and efficiency in regional financial management, thereby contributing positively to better governance in the future. ABSTRAKKompetensi auditor di inspektorat daerah mencakup kemampuan untuk melakukan pemeriksaan, evaluasi, dan pengendalian terhadap pengelolaan keuangan serta kebijakan publik guna memastikan akuntabilitas dan transparansi. tujuan dari artikel ini adalah, untuk menganalisis kompetensi auditor terhadap peningkatan efektivitas pengawasan di Inspektorat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan studi kasus. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menggali makna, pengalaman, dan persepsi aparatur di Inspektorat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; pengembangan keterampilan teknis auditor merupakan kunci utama dalam meningkatkan efektivitas pengawasan keuangan dan anggaran daerah. Keterampilan teknis yang mencakup audit internal, akuntansi pemerintahan, analisis data, teknologi informasi, dan pengetahuan regulasi terbukti sangat penting dan dapat dikembangkan melalui pelatihan formal serta pendidikan berkelanjutan. Komitmen Inspektorat Daerah dalam mengembangkan kompetensi auditornya melalui berbagai program pelatihan internal, seminar, lokakarya, dan pembimbingan menunjukkan langkah positif menuju peningkatan kualitas pengawasan. Para pejabat dan auditor ahli menekankan pentingnya integrasi antara keterampilan teknis dan non-teknis dalam menghadapi tantangan digitalisasi dan kompleksitas pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Dengan terus memperkuat kapasitas auditor melalui pendekatan pengembangan yang komprehensif dan berkelanjutan, Inspektorat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan optimis dapat meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan efisiensi pengelolaan keuangan daerah, sehingga berkontribusi positif terhadap tata kelola pemerintahan yang lebih baik di masa mendatang.
KOMPETENSI PEGAWAI BIRO HUKUM SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN DALAM MEMFASILITASI PRODUK HUKUM DAERAH Pratama, Aditya Leonardo; Chairunnisa, Frida; Rasdiyanti, Andi
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.8001

Abstract

The competence of the Legal Bureau staff of the South Sulawesi Provincial Secretariat plays a vital role in ensuring the harmonization and legality of regional legal products and their alignment with national regulations. This study aims to analyze in-depth employee competency in the process of facilitating regional legal products using a qualitative case study approach. Data collection was conducted comprehensively through in-depth interviews, participant observation, and document review to explore aspects of employee knowledge, skills, and work attitudes. The research findings indicate that employees generally have a good understanding of technical regulations, particularly regarding Minister of Home Affairs Regulations No. 80 of 2015 and No. 120 of 2018, and demonstrate high work integrity. However, the effectiveness of facilitation is still hampered by structural constraints, including an imbalance in the ratio of workload to number of employees, the complexity of scheduling coordination, and the lack of an integrated data management system. The study's conclusions confirm that although individual employee competency is adequate, optimizing regional legal product facilitation services absolutely requires a strategy to strengthen human resource management and modernize work support systems to achieve sustainable efficiency. ABSTRAKKompetensi aparatur Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan memegang peranan vital dalam menjamin harmonisasi dan legalitas produk hukum daerah agar selaras dengan peraturan perundang-undangan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam kompetensi pegawai dalam proses fasilitasi produk hukum daerah dengan menggunakan pendekatan kualitatif metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan secara komprehensif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumen untuk menggali aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap kerja pegawai. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara umum pegawai memiliki pemahaman regulasi teknis yang baik, khususnya terkait Permendagri Nomor 80 Tahun 2015 dan Nomor 120 Tahun 2018, serta menunjukkan integritas kerja yang tinggi. Namun, efektivitas fasilitasi masih terhambat oleh kendala struktural, meliputi ketidakseimbangan rasio beban kerja dengan jumlah pegawai, kompleksitas koordinasi jadwal, serta belum terintegrasinya sistem manajemen data. Simpulan penelitian menegaskan bahwa meskipun kompetensi individual pegawai sudah memadai, optimalisasi layanan fasilitasi produk hukum daerah mutlak memerlukan strategi penguatan manajemen sumber daya manusia dan modernisasi sistem pendukung kerja guna mencapai efisiensi yang berkelanjutan.
EFEKTIVITAS KINERJA TIM KOORDINASI PERCEPATAN PENANGANAN ANAK TIDAK SEKOLAH (PPATS) PROVINSI SULAWESI SELATAN Aldin, Mutmainnah Nur; Chairunisa, Frida; N, Wahyu Nurdiansyah
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.8002

Abstract

The problem of out-of-school children (OTS) in South Sulawesi remains a crucial issue, driven by economic, socio-cultural factors, and limited access to education, resulting in high unemployment and poverty rates. This study aims to evaluate the effectiveness of the Coordination Team for the Acceleration of Handling Out-of-School Children (PPATS) in its efforts to reduce the number of out-of-school children through educational reintegration strategies. Using qualitative methods with a case study approach in districts/cities with the highest prevalence of out-of-school children, data collection was conducted through in-depth interviews, participant observation, and strategic document analysis. The research findings indicate that although the PPATS team has successfully developed an innovative data collection system through the PASTI BERAKSI application, its effectiveness remains suboptimal. The main obstacle lies in the data verification and validation process, which is hampered by the lack of honorarium funds for field officers and the lack of full program integration within the regional Budget Planning Document (DPA). The study's conclusions emphasize that successful TOS management requires strengthened cross-sectoral coordination, adequate budget support, and more robust policy integration to ensure the sustainability of the program for returning children to school. ABSTRAKPermasalahan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Sulawesi Selatan masih menjadi isu krusial yang dipicu oleh faktor ekonomi, sosial-budaya, dan terbatasnya akses pendidikan, sehingga berdampak pada tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kinerja Tim Koordinasi Percepatan Penanganan Anak Tidak Sekolah (PPATS) dalam upaya menurunkan angka ATS melalui strategi reintegrasi pendidikan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di kabupaten/kota dengan prevalensi ATS tertinggi, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen strategis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun tim PPATS telah berhasil mengembangkan inovasi sistem pendataan melalui aplikasi PASTI BERAKSI, efektivitas kinerjanya masih belum optimal. Kendala utama terletak pada proses verifikasi dan validasi data yang terhambat akibat tidak tersedianya anggaran honorarium bagi petugas lapangan serta belum terintegrasinya program secara penuh dalam Dokumen Perencanaan Anggaran (DPA) daerah. Simpulan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan penanganan ATS memerlukan penguatan koordinasi lintas sektor, dukungan anggaran yang memadai, serta integrasi kebijakan yang lebih solid untuk menjamin keberlanjutan program pengembalian anak ke bangku sekolah.
PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU TERHADAP MUTU PEMBELAJARAN SD NEGERI DI GUGUS 1 KECAMATAN TUNGKAL JAYA Umar, Muhammad Yunus; Ahyani, Nur; Nugroho, Hery Setiyo
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.8003

Abstract

Improving the quality of learning at the elementary school level, particularly in rural areas such as Cluster 1 in Tungkal Jaya District, still faces significant obstacles, as indicated by suboptimal literacy and numeracy outcomes. This study aims to empirically examine the influence of principal leadership and teacher performance on learning quality, both partially and simultaneously, to fill a research gap that rarely examines the context of rural elementary schools holistically. Using a quantitative approach with an ex post facto design, this study employed a saturated sampling technique involving the entire population of 80 teachers as respondents. Data collection was conducted comprehensively through observation, questionnaires, and documentation, which were then analyzed using linear regression techniques. The research findings revealed that principal leadership contributed 22% of the influence, while teacher performance had a more dominant impact at 45.4%. Simultaneously, these two variables contributed significantly to learning quality, amounting to 51%. In-depth analysis revealed that despite regular evaluations, there were crucial weaknesses in principals' managerial problem-solving skills and a lack of enrichment services for high-achieving students. The main conclusion confirms that the synergy between solution-oriented instructional leadership and adaptive teacher pedagogical performance is a vital determinant in boosting the quality of basic education. ABSTRAKPeningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah dasar, khususnya pada wilayah pedesaan seperti Gugus 1 Kecamatan Tungkal Jaya, masih menghadapi kendala signifikan yang terindikasi dari capaian literasi dan numerasi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru terhadap mutu pembelajaran, baik secara parsial maupun simultan, guna mengisi celah riset yang jarang mengkaji konteks sekolah dasar pedesaan secara holistik. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto, studi ini menerapkan teknik sampling jenuh yang melibatkan seluruh populasi sebanyak 80 orang guru sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan komprehensif melalui observasi, penyebaran angket, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik regresi linier. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memberikan kontribusi pengaruh sebesar 22%, sementara kinerja guru memiliki dampak yang lebih dominan sebesar 45,4%. Secara simultan, kedua variabel tersebut berkontribusi signifikan sebesar 51% terhadap mutu pembelajaran. Analisis mendalam menunjukkan bahwa meskipun evaluasi rutin telah berjalan, terdapat kelemahan krusial pada kemampuan manajerial kepala sekolah dalam memecahkan masalah serta minimnya layanan pengayaan bagi siswa berprestasi. Simpulan utama menegaskan bahwa sinergi antara kepemimpinan instruksional yang solutif dan kinerja pedagogik guru yang adaptif merupakan determinan vital dalam mendongkrak kualitas pendidikan dasar.
PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN KOMPETENSI PROFESIONAL TERHADAP MUTU PEMBELAJARAN SD NEGERI DI GUGUS 1 KECAMATAN TUNGKAL JAYA Kusmini, Kusmini; Ahyani, Nur; Fahmi, Muhammad
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.8033

Abstract

Improving the quality of basic education is often hampered by the gap between teacher competency standards and learning practices in the field, as indicated in Cluster 1, Tungkal Jaya District, which is still dominated by conventional methods. This study aims to empirically examine the influence of teacher pedagogical and professional competencies on learning quality in order to formulate targeted strategies for improving education quality. Using a quantitative approach with an ex post facto design, this study employed a total sampling technique involving the entire population of 80 public elementary school teachers as respondents. Data collection was conducted comprehensively through a validated questionnaire, then analyzed using multiple linear regression. The research findings revealed that pedagogical competency contributed 28.8%, while professional competency had a more dominant impact on learning quality, at 48.4%. Simultaneously, these two variables contributed significantly, at 57.5%. The main conclusion confirms that optimizing learning quality is highly dependent on the synergy between classroom management skills and in-depth mastery of the material. Therefore, a continuous professional development program is needed to holistically improve teacher capabilities. ABSTRAKPeningkatan mutu pendidikan dasar sering kali terhambat oleh kesenjangan antara standar kompetensi guru dan praktik pembelajaran di lapangan, sebagaimana terindikasi di Gugus 1 Kecamatan Tungkal Jaya yang masih didominasi metode konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh kompetensi pedagogik dan profesional guru terhadap mutu pembelajaran guna merumuskan strategi peningkatan kualitas pendidikan yang tepat sasaran. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto, studi ini menerapkan teknik total sampling yang melibatkan seluruh populasi sebanyak 80 guru sekolah dasar negeri sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan secara komprehensif melalui kuesioner yang telah tervalidasi, kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linier berganda. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kompetensi pedagogik memberikan kontribusi pengaruh sebesar 28,8%, sementara kompetensi profesional memiliki dampak yang lebih dominan sebesar 48,4% terhadap mutu pembelajaran. Secara simultan, kedua variabel tersebut berkontribusi signifikan sebesar 57,5%. Simpulan utama menegaskan bahwa optimalisasi mutu pembelajaran sangat bergantung pada sinergi antara kemampuan manajerial kelas dan penguasaan materi yang mendalam, sehingga diperlukan program pengembangan profesional berkelanjutan untuk meningkatkan kapabilitas guru secara holistik.
PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA, GAYA HIDUP, DAN MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU SOSIAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA Tumarjio, Astin Eka; Sukadari, Sukadari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.8034

Abstract

This study aims to: (1) determine the influence of the socio-cultural environment on the social behavior of students at PGRI University Yogyakarta; (2) the influence of lifestyle on the social behavior of students at PGRI University Yogyakarta; (3) the influence of social media on the social behavior of students at PGRI University Yogyakarta; (4) the influence of the socio cultural environment, lifestyle, and social media on the social behavior of students at PGRI University Yogyakarta. This study uses a quantitative approach with a survey method. The research sample consists of active students at PGRI University Yogyakarta, with a total of 370 respondents selected using purposive sampling. The data collection instrument is a Likert scale questionnaire, which has been tested for validity and reliability. Data analysis is performed using multiple linear regression with the help of SPSS version 26. The results of the study indicate that: (1) the socio-cultural environment does not have a significant effect on students' social behavior, with a significance value of 0.063 > 0.05; (2) lifestyle also has no significant effect on social behavior with a significance value of 0.016 > 0.05; and (3) social media has a positive and significant effect on students' social behavior with a significance value of 0.000 < 0.05. Simultaneously, the socio-cultural environment, lifestyle, and social media have a significant effect on students' social behavior with a calculated F value of 43.466 > F table 2.63 and a significance of 0.000 < 0.05. The coefficient of determination (Adjusted R²) value is 0.504, which means that the three independent variables influence 50.4% of the variation in students' social behavior, while the remaining 49.6% is influenced by factors outside this study. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh lingkungan sosial budaya terhadap perilaku sosial pada mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta; (2) mengetahui pengaruh gaya hidup terhadap perilaku sosial terhadap mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta; (3) mengetahui pengaruh media sosial terhadap perilaku sosial pada mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta; (4) mengetahui pengaruh lingkungan sosial budaya, gaya hidup, dan media sosial terhadap perilaku sosial pada mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian adalah mahasiswa aktif Universitas PGRI Yogyakarta dengan jumlah sampel sebanyak 370 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner berskala Likert, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) lingkungan sosial budaya tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku sosial mahasiswa dengan nilai signifikansi 0,063 > 0,05; (2) gaya hidup juga tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku sosial dengan nilai signifikansi 0,016 > 0,05; dan (3) media sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku sosial mahasiswa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Secara simultan, lingkungan sosial budaya, gaya hidup, dan media sosial berpengaruh signifikan terhadap perilaku sosial mahasiswa dengan nilai F hitung 43,466 > F tabel 2,63 dan signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R²) sebesar 0,504 yang berarti bahwa ketiga variabel bebas berpengaruh 50,4% variasi perilaku sosial mahasiswa, sedangkan sisanya 49,6% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini.
PENGARUH EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN DAN INNOVATIVE BEHAVIOUR TERHADAP KINERJA GURU DI SMA NEGERI SE-KECAMATAN SUNGAI LILIN Rusmawati, Hoky; Ahyani, Nur; Rahman, Andi
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.8035

Abstract

Improving the quality of secondary education is largely determined by teacher professionalism. However, the phenomenon in public high schools in Sungai Lilin District indicates that teacher performance is suboptimal due to a lack of effective leadership and a lack of innovative behavior in learning. This study aims to examine the influence of leadership effectiveness and innovative behavior on teacher performance, both partially and simultaneously. This study used a quantitative approach with an ex post facto design and a total sampling technique involving 95 teachers as respondents. Data analysis was conducted through multiple linear regression tests on validated questionnaire data. The research findings indicate that leadership effectiveness contributes 15.1% positively to teacher performance, while innovative behavior has a more dominant impact, contributing 38.5%. Simultaneously, these two variables have a significant influence of 41.8% on teacher performance. The main conclusion confirms that improving teacher performance is highly dependent on the synergy between the principal's managerial skills in creating a conducive climate and teachers' internal initiatives to innovate. Therefore, it is recommended to strengthen leadership capacity and continuously encourage teachers to develop creativity to achieve quality education standards. ABSTRAKPeningkatan mutu pendidikan menengah sangat ditentukan oleh profesionalisme guru, namun fenomena di SMA Negeri se-Kecamatan Sungai Lilin menunjukkan bahwa kinerja guru belum optimal akibat kurangnya efektivitas kepemimpinan dan minimnya perilaku inovatif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh efektivitas kepemimpinan dan innovative behaviour terhadap kinerja guru, baik secara parsial maupun simultan. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto dan teknik total sampling yang melibatkan 95 guru sebagai responden. Analisis data dilakukan melalui uji regresi linear berganda terhadap data kuesioner yang telah tervalidasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan berkontribusi positif sebesar 15,1% terhadap kinerja guru, sementara innovative behaviour memiliki dampak yang lebih dominan dengan kontribusi sebesar 38,5%. Secara simultan, kedua variabel tersebut memberikan pengaruh signifikan sebesar 41,8% terhadap kinerja guru. Simpulan utama menegaskan bahwa peningkatan kinerja guru sangat bergantung pada sinergi antara kemampuan manajerial kepala sekolah dalam menciptakan iklim kondusif dan inisiatif internal guru untuk berinovasi. Oleh karena itu, direkomendasikan adanya penguatan kapasitas kepemimpinan serta dorongan berkelanjutan bagi guru untuk mengembangkan kreativitas guna mencapai standar pendidikan yang berkualitas.