cover
Contact Name
Yulie Neila Chandra
Contact Email
jurnalbambuti@gmail.com
Phone
+6221-8649059
Journal Mail Official
jurnalbambuti@gmail.com
Editorial Address
Jl. Taman Malaka Selatan, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jakarta 13450
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Bambuti: Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
ISSN : -     EISSN : 27972232     DOI : https://doi.org/10.53744/bambuti
Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok is an national journal published by Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Fakultas Bahasa dan Budaya, Universitas Darma Persada, Indonesia. It covers all areas of Theoretical Linguistics, Applied Linguistics, Culture, History and Literature. Bambuti aims to serve the interests of a wide range of thoughtful readers and academic scholars of China Studies, as well as politics, social, economic and others interested in the multidisciplinary study of China Studies
Articles 81 Documents
ANALISIS PRINSIP KESANTUNAN ANTAR BUDAYA PENUTUR BAHASA MANDARIN PADA TIKTOK : KAJIAN PRAGMATIK Azzahra, Fayza; Delijar, Ressi Maulidina
Bambuti Vol 6 No 2 (2024): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v6i2.144

Abstract

Kesopanan merupakan sistem hubungan antar manusia untuk mempermudah interaksi dan hubungan dengan meminimalisir terjadinya konflik pada suatu percakapan, terlebih jika percakapan tersebut dilakukan oleh penutur dengan dua kebudayaan berbeda (komunikasi antar budaya). Setiap budaya memiliki prinsip-prinsip kesopanan yang berbeda, tidak terkecuali dalam budaya Cina. Berdasarkan hal itu, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan prinsip-prinsip kesopanan yang biasa digunakan oleh penutur jati Bahasa Mandarin dalam berkomunikasi antar budaya dalam media sosial. Dalam konteks ini, penelitian ini dibatasi pada percakapan penutur jati dengan penutur Bahasa Mandarin keturunan Tionghoa di Indonesia dalam aplikasi Tiktok. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah prinsip-prinsip kesopanan teori Gu Yueguo (1990). Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data primer yang digunakan yaitu sampel video TikTok @tanisaxpena dan @teresa.jiaa yang merupakan penutur Bahasa Mandarin keturunan Tionghoa di Indonesia. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik observasi dan teknik dokumentasi. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah saat berkomunikasi, baik penutur jati maupun penutur Bahasa Mandarin keturunan Tionghoa di Indonesia, kedua penutur saling menerapkan prinsip kesopanan yaitu Self-denigration Maxim, Address Maxim, Refinement Maxim, Agreement Maxim, dan Virtue-word-behavior Maxim. Hal ini ditemukan untuk memperlancar komunikasi dalam bersosial media dengan mengurangi perbedaan gesekan kebudayaan.
PEMAHAMAN PEMBELAJAR BAHASA MANDARIN TINGKAT MENENGAH DALAM MEMBEDAKAN MAKNA POLISEMI VERBA 打 DĂ Pebriani, Wastri; Ayesa, Ayesa
Bambuti Vol 7 No 1 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i1.110

Abstract

Abstract. The verb 打 dă is one of the verbs that is often used in Mandarin, however, this word has several polysemy meanings. This research aims to see the understanding of Gunadarma University Class of 2021 Chinese Literature students as intermediate level Mandarin language learners in distinguishing the meaning of the polysemous verb 打 dă. The research method used is descriptive qualitative. The data collection technique was carried out by distributing questionnaires online to respondents. Based on research that has been conducted, the majority of students have a good understanding of the meaning of the polysemous verb 打 dă. This is proven by the high percentage of understanding for each individual, the highest score was 92.3% and the lowest score was 76.9%. Keywords: Chinese language learners' understanding, polysemy, verb 打 dă Abstract. Verba 打 dă merupakan salah satu verba yang sering digunakan dalam bahasa Mandarin, namun demikian, kata ini memiliki beberapa makna yang berpolisemi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pemahaman mahasiswa Sastra Tiongkok Angkatan 2021 Universitas Gunadarma sebagai pembelajar bahasa Mandarin tingkat menengah dalam membedakan makna polisemi verba 打dă. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner secara daring kepada responden. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sebagian besar mahasiswa memiliki pemahaman yang baik terhadap makna polisemi verba 打 dă. Hal ini dibuktikan dengan nilai persentase pemahaman masing-masing individu yang sudah tinggi, nilai tertinggi 92.3% dan nilai terendah 76.9%. Kata Kunci: pemahaman pembelajar bahasa Mandarin, polisemi, verba 打 dă
Students Ability to Analyze Homophones in the Animation Video 端午节 Duānwǔ jié (Dragon Boat Festival) on the YouTube Channel 三淼儿童官方频道 Sān miǎo értóng guānfāng píndào Andini, Batari; Rahmawati, Vina Dwi; Ningsih, Tri Wahyu Retno
Bambuti Vol 7 No 1 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i1.130

Abstract

Abstract. Homophones are the similarities in sound that occur in a word regardless of its spelling. In Mandarin, homophones are the similarity of sounds and tones in different Han characters and have different meanings. The purpose of this study was to determine the ability of Grade 2 students on homophonic words in the 端午节Duānwǔ jié (Dragon Boat Festival) Animation Video on the 三淼儿童官方频道Sān miǎo értóng guānfāng píndào Youtube Channel. The research method used is qualitative which is described descriptively. There are 10 test questions that are used to determine the ability of grade 2 students to homophonic words. The result of this study is that the majority of students have understood homophonic vocabulary. Keywords: Homophones, 端午节Duānwǔ jié (Dragon Boat Festival) Animation Video on the 三淼儿童官方频道Sān miǎo értóng guānfāng píndào Youtube Channel. Abstract (in Bahasa). Homofon adalah kesamaan bunyi yang terjadi pada sebuah kata tanpa memperhatikan ejaannya. Dalam bahasa Mandarin, homofon merupakan kesamaan bunyi dan ton pada suatu karakter Han yang berbeda dan makna yang berbeda pula. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan Mahasiswa Tingkat 2 dalam menganalisis Homofon Pada Video Animasi 端午节Duānwǔ jié (Festival Perahu Naga) Di Kanal Youtube 三淼儿童官方频道Sān miǎo értóng guānfāng píndào. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang diuraikan secara deskriptif. Terdapat 10 soal tes yang digunakan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa tingkat 2 dalam menganalisis kata berhomofoni. Hasil dari penelitian ini adalah mayoritas mahasiswa telah memahami kosa kata yang berhomofoni. Kata kunci: homofon, Video Animasi 端午节Duānwǔ jié (Festival Perahu Naga) Di Kanal Youtube 三淼儿童官方频道Sān miǎo értóng guānfāng píndào.
ANALISIS DISFEMIA DALAM PERCAKAPAN GRUP ZHENG RUNZE 365 TIAN QIANSHUI PADA APLIKASI WECHAT Ramadarti, Nur; Nasution, Vivi Adryani; ., Jessy
Bambuti Vol 7 No 1 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i1.154

Abstract

Abstract. This research aims to describe the forms and types of dysphemism in the conversations of the Zhèng Rùnzé 365 Tiān Qiánshuǐ group on WeChat, during 20 weeks from August to December 2023. This research uses a qualitative descriptive method and discourse analysis technique. The theories used dysphemism theory by Allan & Burridge (1991), with pragmatic approaches. The results of this study analyzed 28 data sets and classified them based on the type of dysphemism. The classification of types of dysphemia is 12 harsh insulting terms, negative epithets, and slurs that show disrespect, 4 comparisons of humans with animals, 4 terms of insults and slurs that use terms of mental abnormalities, 3 dirty cursing, and obscene swearing, 2 dysphemism -IST, 1 taboo terms, 1 in nicknames or hurtful greetings based on physical form, and 1 term from another language or foreign language. From the analysis of 28 data, it was found that the most frequently used form of dysphemia was sentence form dysphemia and the most frequently used type of dysphemia were harsh, insulting terms, nicknames, and negative taunts that showed disrespect. The dysphemisms found in this study show the use of dysphemisms as a form of conveying emotions, social criticism, showing social identity, and strengthening statements to be more prominent. Describing the use of dysphemism language illustrates social identity, levels of power and social status, and views on certain groups of people in social life. Keywords: Dysphemism; WeChat; Chinese Language; Group Chat; Zheng Runze Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan jenis disfemia dalam percakapan grup Zhèng Rùnzé 365 tiān qiánshuǐ pada aplikasi WeChat, periode percakapan 20 minggu tepatnya dari bulan Agustus sampai bulan Desember tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teknik analisis wacana. Teori yang digunakan adalah analisis wacana dan teori disfemia oleh Allan & Burridge (1991), dengan pendekatan sosiopragmatik. Hasil penelitian ini menganalisis 28 data dan mengklasifikasinya berdasarkan jenis disfemia. Klasifikasi jenis disfemia yaitu 12 istilah kasar yang menghina, julukan dan ejekan negatif yang menunjukkan ketidakhormatan, 4 perbandingan manusia dengan hewan, 4 istilah hinaan dan makian yang menggunakan istilah kelainan mental, 3 makian kotor dan serapah cabul yang tidak senonoh, 2 disfemia –IST, 1 istilah-istilah tabu, 1 dalam julukan atau sapaan menyakitkan berdasarkan bentuk fisik, dan 1 istilah dari bahasa lain atau bahasa asing. Dari analisis 28 data, ditemukan bahwa bentuk disfemia yang paling banyak digunakan adalah disfemia bentuk kalimat dan jenis disfemia paling banyak digunakan adalah istilah kasar yang menghina, julukan dan ejekan negatif yang menunjukkan ketidakhormatan. Disfemia yang ditemukan pada penelitian ini menunjukkan penggunaan disfemia sebagai bentuk penyampaian emosi, kritik sosial, menunjukkan identitas sosial, dan memperkuat pernyataan agar lebih menonjol. Penggunaan bahasa disfemia menggambarkan identitas sosial, tingkatan kekuasan dan status sosial, serta pandangan terhadap kelompok masyarakat tertentu dalam kehidupan sosial. Kata Kunci: Disfemia; WeChat; Bahasa Mandarin; Percakapan Grup; Zheng Runze
CROSS-CULTURAL COMMUNICATION ISSUES BETWEEN INDONESIA AND CHINA FROM THE PERSPECTIVE OF THE CHINESE DIASPORA Waru, Dian Sari Unga; Dan Dan, Liu; Sukma, Sukma; Cahyati, Leni; Faisal, Andi
Bambuti Vol 7 No 1 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i1.155

Abstract

Cross-cultural communication is a process of interaction or communication carried out by two or more cultures which is the transfer of ideas or concepts from one culture to another culture with the intention of bringing the influence of one culture to another culture and vice versa so that they can influence each other, as well as reduce the level of misunderstanding and minimize the occurrence of conflict. This research aims to reveal the forms of issues that occur in everyday life in society related to the issue of cultural differences between Indonesia and China through the perspective of Chinese people living in Indonesia. This research is a qualitative descriptive study using a cross-cultural communication approach with data collected through structured interviews with the Chinese diaspora living in Makassar City. The results of the research are that there are eight (8) differences that are issues of cross-cultural communication between Indonesia and China, namely language barriers, different eating habits, different meal treat habits, different concepts of time, different pace of life, different tipping habits, different toilet habits, and different religious beliefs.
Transformasi Legenda Klasik Tiongkok dalam Film Animasi Modern White Snake: The Origin Báishé: Yuánqǐ (2019) Larasati, Tarisha Tendri; Wuryandari, Nurni Wahyu; Wulandari, Adi Kristina
Bambuti Vol 7 No 1 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i1.168

Abstract

Film White Snake: The Origin (2019) merupakan film animasi yang diadaptasi dari legenda klasik Tiongkok karya Feng Menglong. Dalam proses adaptasinya, sutradara menyajikan berbagai transformasi pada aspek tokoh, pengubahan cerita, dan latar. Transformasi tersebut berhasil memperkenalkan kebudayaan Tiongkok serta meraih keuntungan komersial. Signifikansi penelitian ini dalam ranah studi sastra dan film memperlihatkan bahwa kekayaan sastra klasik merupakan sumber yang dapat terus dieksplorasi untuk mendukung kesuksesan industri animasi di Tiongkok.
A 数字时代汉语国际传播在Instagram上教学的视觉修辞研究——以《丝合汉语》为列 Yu, Zhang; Tela, Irvan Aditya
Bambuti Vol 7 No 2 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i2.131

Abstract

日益发展的数字时代改变了人类的生活方式,其中尤为明显的一个变化在于交流的形式。语言作为交流媒介是人类在各个领域进行互动的主要工具。在过去,研究者们对汉语国际发展和传播策略的研究都颇具丰富,然而对国际社交媒体的关注却仍显不足。《丝合汉语》作为一所汉语教学机构,充分证明了国际社会对汉语的高度关注。《丝合汉语》拥有192千粉丝,通过基于Instagram社交媒体的图片和短视频来推广和传播国际汉语教学。因此,要通过Instagram上的图片和教学视频来了解汉语国际传播的过程,有必要将视觉修辞分析作为桥梁。通过视觉修辞的分析,可以更深入地了解基于数字化理念的汉语国际传播的发展流程,以及观察汉语国际传播的过程中所采用的国际汉语教学和营销策略的背后结构。 The growing digital age has transformed the way humans live, with one of the most significant changes being in the realm of communication. Language, as a medium of communication, serves as the primary tool for human interaction across all fields. Historically, researchers have conducted extensive studies on the international development of the Chinese language and communication strategies. However, there remains a notable lack of focus on international social media platforms. SilkChinese, a Chinese language teaching organization, exemplifies the global interest in the Chinese language. With 192,000 followers, SilkChinese leverages Instagram to promote and disseminate Chinese language education through pictures and short videos. To comprehend the process of international Chinese language dissemination via Instagram, it is essential to employ visual rhetoric analysis. This approach enables a deeper understanding of the development of international Chinese language communication in the digital age and provides insights into the structure and strategies behind international Chinese language teaching and marketing.
印尼零基础学习者汉语声调教学:五度与三度教学法效果对比及策略探究 王神黎, Julianti; Hao, Zhang
Bambuti Vol 7 No 2 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i2.165

Abstract

Abstract With the rise of the global “Chinese fever”, tone instruction has become increasingly important in International Chinese Language Education but remains a major challenge due to its complexity. Learners from different regions and linguistic backgrounds exhibit systematic errors in tone acquisition, particularly beginner Indonesian learners. This study, based on Interlanguage Theory, Contrastive Analysis Theory and Experimental Phonetics, focuses on the acquisition of monosyllabic Chinese tones by Indonesian beginners. A total of 84 learners were divided into two groups (A and B), receiving instruction through the Five-Degree and Three-Degree Teaching Methods. Using perceptual discrimination and acoustic analysis, data were analyzed with Praat software to compare the effectiveness of both methods. Results show that while the Three-Degree Teaching Method is more effective, overall mastery remains suboptimal. T4 (falling tone, 去声调) is the easiest, while T2 (rising tone, 阳平调) is the most challenging. Based on these findings, the study analyzes error sources and proposes strategies: optimizing the teaching sequence (T4 → T3 → half-T3 → T1 → T2), strengthening tone awareness, emphasizing systematic mastery, and integrating AI-assisted instruction. These findings provide practical insights for improving Chinese tone instruction for Indonesian learners. 摘要 随着全球“汉语热”升温,汉语声调教学在国际中文教育教学中的重要性日益凸显,但因其复杂性成为教学难题。不同地区和语言背景的学习者在声调习得上存在规律性错误,尤其是印尼零基础学习者。本研究以中介语理论、对比分析理论和实验语音学为支撑,聚焦印尼零基础学习者的汉语单字调学习。通过选取84名学习者并分为A、B两组,分别采用五度教学法和三度教学法开展教学。研究运用听辨实验法和声学实验法,借助语音软件Praat分析数据,对比两种教学法的效果。研究发现,三度教学法在提升学习者声调掌握程度上效果更佳,但整体效果仍未达理想状态。去声调最易被学习者辨认和产出,阳平调则最难。基于此,文章深入剖析了偏误产生的原因,涵盖汉语声调特征、学习者自身因素以及教师教学因素。同时,针对性地提出教学建议,如结合两种教学法并优化教学顺序、强化声调特征学习、注重声调系统整体把握以及利用人工智能辅助教学,以此提高教学有效性,为印尼汉语声调教学提供有益参考。
"雷( léi)" 汉语与印尼语含“雷”词成语对比分析 LINNARDI, CINDY CLAUDIA
Bambuti Vol 7 No 2 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i2.166

Abstract

本研究运用归纳分析法和对比分析等方法,聚焦汉语和印尼语中含 “雷” 词的成语。经对相关词典及语料整理,归纳出汉语中 “雷” 在成语里有 8 种含义,所分析的 8 个成语含 3 个褒义、5 个中性义;印尼语含 “雷” 词成语中也有 8 种含义,包括3 个褒义、1 个贬义、4 个中性等的涵盖多种语义。对比表明,两种语言的此类成语在行动迅速、情况突变等 4 个维度含义一致,但在体现人的能力、事情状态等方面的含义存在明显的差异。该研究不仅充实了汉语与印尼语对比研究的内容,对促进跨文化交流、辅助语言学习也大有助益。
汉语、印尼语颜色词“红”隐喻对比分析 yanti, yanti
Bambuti Vol 7 No 2 (2025): Bambuti : Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Darma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53744/bambuti.v7i2.167

Abstract

“红”是一种常见的颜色。除了表示事物的颜色外,还具有多种象征意义。由于“红”在不同语言中存在不同隐喻义,因此本文对汉语、印尼语颜色词“红”的隐喻进行对比分析,以了解不同文化对“红”这一颜色的认知方式。基于概念隐喻理论分析汉语、印尼语“红”的隐喻,发现两种语言的“红”在四个领域具有相似的隐喻表达,即状态、情感、警示和政治;在情感和警示领域,两者的“红”都表示相同的意义。然而,两种语言在隐喻表达上也存在明显差异。汉语的“红”更多与积极状态、革命政治和社会身份相关,而印尼语的“红”则更倾向于消极状态、政府机构和宗教标识。这种差异与两种文化的历史背景、社会价值观和认知方式相关。