cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 50 Documents clear
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA TINGKAT 3 STRATA-1 KEPERAWATAN Ismaini, Amellia; Carolina, Meilitha; Pristina, Nia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7468

Abstract

ABSTRACT Mental health is a condition in which individuals can function normally while facing various life challenges. College students are vulnerable to academic pressure, social changes, and environmental demands. In this context, peer social support plays an important role by providing emotional, informational, and practical assistance that enhances resilience, reduces isolation, and promotes mental well-being. This study aims to identify the relationship between peer social support and mental health among students at the University of Palangka Raya. The type of research used is correlational with a cross-sectional approach. The study involved a total of 69 student respondents. The sampling technique used was total sampling. Data were collected using a questionnaire distributed to students via Google Form. The statistical test used in this study was the Spearman Rank test. The results showed that the relationship between peer social support and mental health, based on the Spearman Rank analysis, obtained a p-value = 0.000 ? 0.05, indicating a significant relationship between social support and mental health with a correlation coefficient of 0.415 at Eka Harap University, Palangka Raya. This means that the strength of the relationship is categorized as high. It shows that there is a significant relationship between peer social support and mental health among third-year undergraduate nursing students at Eka Harap University, Palangka Raya, indicating a high level of correlation. ABSTRAK Kesehatan mental adalah kondisi individu yang mampu berfungsi secara normal dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Mahasiswa rentan mengalami tekanan akademik, perubahan sosial, serta tuntutan lingkungan. Dalam hal ini, dukungan sosial teman sebaya berperan penting melalui bantuan emosional, informasi, dan dukungan praktis yang meningkatkan resiliensi, mengurangi isolasi, serta mendorong kesejahteraan mental. Penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan kesehatan mental pada mahasiswa di Universitas Palanka Raya. Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini berjumlah sebanyak 69 responden mahasiswa. Tehnik sampling yang digunakan adalah Total sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui google form yang dibagikan kepada mahasiswa. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian adalah Uji Spearman Rank. Penelitian ini diketahui bahwa hubungan dukungan sosial teman sebaya dari hasil analisis Spearman Rank diperoleh p (value) = 0,000 ? 0,05 artinya terdapat hubungan dukungan sosial dengan kesehatan mental correlation coefficient 0,415 di Universitas Eka Harap Palangka Raya, artinya terdapat keeratan hubungan dikategorikan tinggi. Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kesehatan mental pada mahasiswa tingkat 3 strata-1 keperawatan di Universitas Eka Harap Palangka Raya yang artinya memiliki tingkat hubungan yang tinggi.
GAMBARAN WANITA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI FATHERLESS Turyati, Tri Vaiqotusa'adah; Setyo Ariyanto, Mustaqim
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7583

Abstract

Indonesia ranks third in the world for cases of fatherlessness. Fatherlessness refers to a condition in which a person's development lacks the psychological and physiological role of a father. This condition is important to study because it can affect an individual's psychological well-being, especially in early adulthood. This study aims to describe the aspects of fatherlessness and identify the factors that influence it. The research method used is a qualitative phenomenological approach, with two early adult women as subjects, one due to a broken home and the other due to the death of their father. Data were collected through in-depth interviews, unstructured observations, and documentation, which were then analyzed descriptively. The results of the study show that both subjects did not receive optimal father roles in various aspects, leading to negative impacts such as feelings of sadness, anger, envy, low self-esteem, and emotional trauma. In conclusion, fatherlessness has a significant impact on the psychological well-being of early adult women, particularly in emotional and social aspects. The implications of this study emphasize the importance of the father's role in the family as a psychological foundation for children. ABSTRAK Indonesia menempati urutan ketiga di dunia untuk kasus "fatherless". Fatherless mengacu pada kondisi di mana seseorang dalam proses tumbuh kembangnya kekurangan peran psikologis maupun fisiologis dari ayah. Kondisi ini penting untuk diteliti karena dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu, terutama pada masa dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek fatherless serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif fenomenologi, dengan subjek dua wanita dewasa awal yang mengalami fatherless, satu karena broken home dan satu lagi karena kematian ayah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi tak berstruktur, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek tidak memperoleh peran ayah secara optimal dalam berbagai aspek, yang mengakibatkan dampak negatif seperti perasaan sedih, marah, iri, rendah diri, dan trauma emosional. Kesimpulannya, fenomena fatherless memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis perempuan dewasa awal, terutama dalam aspek emosional dan sosial. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya peran ayah dalam keluarga sebagai dasar psikologis anak.
BAHASA TRAUMA: PADA KEHIDUPAN MIRIS FAREL PRAYOGA DALAM PODCAST DENNY SUMARGO UNGGAHAN YOUTUBE JULI 2025 Haryanto, Fahrani Almira Rizkya; Suroso, Eko
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7585

Abstract

The phenomenon of psychological trauma revealed through language is an important issue in modern psycholinguistic studies. Language not only serves as a means of communication, but also as a container of inner expression that reflects emotional wounds and the process of self-healing. This research is motivated by the phenomenon of Farel Prayoga's speech in the podcast Curhat Bang Denny Sumargo, which shows typical linguistic symptoms of trauma such as interrupted speech, euphemisms, and changes in intonation and facial expressions. This case shows how traumatic experiences can affect language systems and become a form of unconventional emotional communication. This study aims to describe the forms of trauma language that appear in Farel Prayoga's speech, analyze its relationship with the speaker's psychological condition, and interpret the role of language as a means of self-reconstruction and trauma recovery. The method used is qualitative descriptive with a narrative psycholinguistic approach, using Cathy Caruth's narrative trauma theory as an analytical framework. Data were collected through Miles and Huberman's observation, transcription, and interactive analysis, taking into account verbal (sentence structure, word choice, prosody) and nonverbal (facial expressions, gestures, intonation) aspects. The results of the study showed that trauma is manifested through fragmentary linguistic patterns, word repetition, and procedural irregularities that indicate emotional burden. The choice of euphemisms and long pauses becomes a self-defense mechanism, while body gestures and facial expressions reinforce indications of trauma that have not been fully integrated in consciousness. Language in this context not only represents wounds, but also becomes a therapeutic space (healing discourse) in which individuals try to rearrange the meaning of their lives. Theoretically, this research expands the study of psycholinguistics by integrating the concept of narrative trauma in the context of digital communication. Practically, these findings have implications for the development of narrative therapy, language education, and emotional literacy in society. In conclusion, language is not just a cognitive action, but a therapeutic process that allows humans to face, process, and heal trauma through the power of speech. ABSTRAK Fenomena trauma psikologis yang diungkap melalui bahasa menjadi isu penting dalam kajian psikolinguistik modern. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah ekspresi batin yang mencerminkan luka emosional dan proses penyembuhan diri. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena tuturan Farel Prayoga dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo, yang memperlihatkan gejala linguistik khas trauma seperti tuturan terputus, eufemisme, serta perubahan intonasi dan ekspresi wajah. Kasus ini menunjukkan bagaimana pengalaman traumatik dapat memengaruhi sistem bahasa dan menjadi bentuk komunikasi emosional nonkonvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa trauma yang muncul dalam tuturan Farel Prayoga, menganalisis kaitannya dengan kondisi psikologis penutur, serta menafsirkan peran bahasa sebagai sarana rekonstruksi diri dan pemulihan trauma. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan psikolinguistik naratif, menggunakan teori trauma naratif Cathy Caruth sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui observasi, transkripsi, dan analisis interaktif Miles dan Huberman, dengan mempertimbangkan aspek verbal (struktur kalimat, pilihan kata, prosodi) dan nonverbal (mimik wajah, gestur, intonasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma terwujud melalui pola linguistik yang fragmentaris, pengulangan kata, serta ketidakteraturan prosodi yang menandakan beban emosional. Pilihan eufemisme dan jeda panjang menjadi mekanisme pertahanan diri, sementara gestur tubuh dan ekspresi wajah memperkuat indikasi trauma yang belum terintegrasi secara utuh dalam kesadaran. Bahasa dalam konteks ini tidak hanya merepresentasikan luka, tetapi juga menjadi ruang terapeutik (healing discourse) di mana individu berusaha menata kembali makna hidupnya. Secara teori, penelitian ini memperluas kajian psikolinguistik dengan mengintegrasikan konsep trauma naratif dalam konteks komunikasi digital. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi pengembangan terapi naratif, pendidikan bahasa, dan literasi emosional di masyarakat. Kesimpulannya, berbahasa bukan sekadar tindakan kognitif, melainkan proses terapeutik yang memungkinkan manusia menghadapi, mengolah, dan menyembuhkan trauma melalui kekuatan tutur.
DINAMIKA PSIKOLOGIS MAHASISWA SANTRI: KONEKSI SPIRITUALITAS, PERSONAL GROWTH INITIATIVE, DAN PERFORMA AKADEMIK Royanulloh, Royanulloh; Ramadhani, Wirahadi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7596

Abstract

In the past five years, the number of santri continuing their studies at universities has increased, both in terms of quantity and quality. As university students, santri exhibit distinct psychological characteristics, particularly in terms of spirituality and Personal Growth Initiative (PGI), which are believed to influence their academic performance. However, there is limited research that simultaneously examines the role of spirituality and PGI on the academic performance of santri students. This study aims to investigate the impact of spirituality and PGI on the academic performance of santri students using a quantitative approach and multiple linear regression analysis. The sample consisted of 173 active students who were either current santri or alumni of Islamic boarding schools, selected through purposive sampling. Data were collected using three instruments: the Personal Growth Initiative Scale-II (PGI-II), the Academic Performance Scale, and the Intrinsic Spirituality Scale. The results show that both spirituality and PGI have a positive impact on academic performance, with a contribution of 28.5%. These findings emphasize the importance of spirituality and PGI in shaping the academic dynamics of santri students in higher education. ABSTRAK Dalam lima tahun terakhir, jumlah santri yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi mengalami peningkatan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Sebagai mahasiswa, santri menunjukkan karakteristik psikologis khas, terutama dalam hal spiritualitas dan inisiatif pertumbuhan pribadi (Personal Growth Initiative/PGI), yang diduga berperan dalam performa akademik mereka. Namun, penelitian yang menguji pengaruh simultan spiritualitas dan PGI terhadap performa akademik pada mahasiswa santri masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tersebut dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan analisis regresi linier berganda. Sampel terdiri dari 173 mahasiswa aktif yang merupakan santri atau alumni pondok pesantren, yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan tiga instrumen: Personal Growth Initiative Scale-II (PGI-II), Academic Performance Scale, dan Intrinsic Spirituality Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas dan PGI berpengaruh positif terhadap performa akademik, dengan kontribusi sebesar 28,5%. Temuan ini menegaskan pentingnya spiritualitas dan PGI dalam membentuk dinamika akademik mahasiswa santri di perguruan tinggi.
HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIER PADA SISWA SMA YAYASAN SEKOLAH KRISTEN INDONESIA (YSKI) Cintya Widyastuti Jianto, Debora; Karema Sarajar, Dewita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7597

Abstract

Self-efficacy, which refers to the belief in one's ability to face challenges, plays a significant role in students' career development, particularly in making decisions related to their future. This study aims to examine the relationship between self-efficacy and career decision-making among students of Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Senior High School in Semarang. Using a quantitative approach with a correlational design, the study involved 265 students from grades 10 to 12. The analysis revealed a significant positive relationship between self-efficacy and career decision-making (r = 0.443, p = 0.000). The findings suggest that the higher the students' self-efficacy, the better their ability to make career decisions. This study contributes to filling a gap in the literature, as most previous studies have focused on public school students or final-year students, while this research focuses on private school students who are in the early stages of career exploration. The findings also emphasize the importance of efforts to enhance students' self-efficacy, enabling them to make more focused career decisions that align with their potential and future goals. ABSTRAK Self-efficacy, yaitu keyakinan diri terhadap kemampuan untuk menghadapi tantangan, memiliki peran yang signifikan dalam perkembangan karier siswa, khususnya dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan masa depan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-efficacy dan pengambilan keputusan karier pada siswa SMA Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Semarang. Dengan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional, penelitian ini melibatkan 265 siswa dari kelas 10 hingga 12. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-efficacy dan pengambilan keputusan karier (r = 0,443, p = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy siswa, semakin baik kemampuan mereka dalam membuat keputusan karier. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengisi kesenjangan dalam literatur, yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada siswa di sekolah negeri atau kelas akhir, sementara penelitian ini meneliti siswa di sekolah swasta yang berada dalam tahap awal eksplorasi karier. Temuan ini juga menekankan pentingnya upaya untuk meningkatkan self-efficacy siswa agar mereka dapat membuat keputusan karier yang lebih terarah dan sesuai dengan potensi serta tujuan masa depan mereka.
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DAN REGULASI EMOSI PADA REMAJA AKHIR USIA 19-21 TAHUN Ruth Wijaya, Jemima; Kartasasmita, Sandy
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7600

Abstract

Late adolescence is marked by dynamic physical, cognitive, and emotional changes. Emotional regulation is an essential skill influenced by parenting styles. This study aims to analyze the relationship between parenting styles and emotional regulation abilities in late adolescents (aged 19–21 years) in DKI Jakarta. The study used a quantitative correlational design involving 510 adolescents living with their parents. The instruments used were the Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ) and the Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). Pearson correlation analysis showed a significant positive relationship between authoritative parenting (r = 0.142; p = 0.035) and authoritarian parenting (r = 0.217; p = 0.009) with emotional regulation. In contrast, permissive parenting showed no significant relationship (r = 0.021; p = 0.801). These findings emphasize the importance of balanced, consistent, and warm parenting practices in supporting the development of adaptive emotional regulation in late adolescents. ABSTRAK Masa remaja akhir ditandai oleh perubahan fisik, kognitif, dan emosional yang dinamis. Regulasi emosi merupakan keterampilan penting yang dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh orang tua dan kemampuan regulasi emosi pada remaja akhir (usia 19–21 tahun) di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain korelasional kuantitatif dengan melibatkan 510 remaja yang tinggal bersama orang tua. Instrumen yang digunakan adalah Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ) dan Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pola asuh otoritatif (r = 0,142; p = 0,035) dan otoriter (r = 0,217; p = 0,009) dengan regulasi emosi. Sebaliknya, pola asuh permisif tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (r = 0,021; p = 0,801). Temuan ini menegaskan pentingnya pola pengasuhan yang seimbang, konsisten, dan penuh kehangatan dalam mendukung pengembangan regulasi emosi yang adaptif pada remaja akhir.
EMOSI SEHAT, HIDUP BAHAGIA: MINDFULNESS UNTUK REGULASI EMOSI PADA MAHASISWA Arief Abdillah, Anang; Syawaliah Putri, Ayu; Rizkiah, Rizkiah; Amalia, Nadiya; Fakhriya Kemal, Anurra; Virly Wirasasti, Shafina; Nurul Ramadhani, Cici
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7613

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of mindfulness based on deep breathing techniques in improving emotional regulation abilities among university students who often face academic and social pressures. A total of 12 students in Samarinda were divided into two groups: experimental and control. The experimental group underwent a mindfulness training based on deep breathing for five consecutive days, with each session lasting 30 minutes. The study employed a pretest-posttest control group design, using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) as the instrument. Statistical analysis showed a significant improvement in emotional regulation in the experimental group before and after the intervention (t = -3.824, p = 0.012). Additionally, the experimental group showed a significant difference compared to the control group (t = -2.398, p = 0.037), with a mean difference of -8.333. These findings confirm that mindfulness training based on deep breathing is effective in enhancing emotional regulation in students, and can help them manage academic and social pressures more adaptively ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas mindfulness berbasis deep breathing dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi mahasiswa yang sering menghadapi tekanan akademik dan sosial. Sebanyak 12 mahasiswa di Samarinda dibagi menjadi dua kelompok: eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen mengikuti pelatihan mindfulness berbasis deep breathing selama lima hari berturut-turut, dengan durasi setiap sesi 30 menit. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest-posttest control group design, dengan menggunakan instrumen Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Hasil analisis statistik menunjukkan peningkatan signifikan dalam regulasi emosi pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah intervensi (t = -3.824, p = 0.012). Selain itu, kelompok eksperimen menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan kelompok kontrol (t = -2.398, p = 0.037), dengan selisih rata-rata skor sebesar -8.333. Temuan ini menegaskan bahwa pelatihan mindfulness berbasis deep breathing efektif dalam meningkatkan regulasi emosi mahasiswa, serta dapat membantu mereka mengelola tekanan akademik dan sosial dengan lebih adaptif.
SELF-FULFILLING PROPHECY DALAM HUBUNGAN ASMARA: PENGARUH REJECTION SENSITIVITY TERHADAP RELATIONSHIP SATISFACTION DI KALANGAN EMERGING ADULTHOOD Jong, Devi; Valencia, Mudita; Angelika, Fransiska; Shella Riliseptin, Maria; Markus Idulfilastri, Rita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7627

Abstract

Romantic relationships during emerging adulthood often present emotional challenges due to individual character differences. One psychological factor that can reduce relationship satisfaction is rejection sensitivity, which may trigger negative reactions and lead to a self-fulfilling prophecy. This study aims to examine the influence of rejection sensitivity on relationship satisfaction among young adults in Indonesia. The research employed a quantitative correlational-predictive approach, involving 213 active university students aged 18–20 who are currently or have previously been in romantic relationships. The instruments used were the Rejection Sensitivity Questionnaire (RSQ) and the Relationship Assessment Scale (RAS), and data analysis was conducted using Pearson correlation and simple linear regression. The results revealed a significant negative relationship between rejection sensitivity and relationship satisfaction (r = -0.281, p < 0.01), with a contribution of R² = 7.9%. The higher an individual’s rejection sensitivity, the lower their perceived relationship satisfaction. These findings highlight the importance of emotional regulation and managing rejection-related anxiety in maintaining the quality of romantic relationships during early adulthood. This study contributes to the literature on interpersonal relationship psychology in Indonesia and may serve as a foundation for preventive interventions in counseling for young couples. ABSTRAK Hubungan asmara pada masa emerging adulthood kerap menghadirkan tantangan emosional akibat perbedaan karakter individu. Salah satu faktor psikologis yang dapat menurunkan kepuasan dalam hubungan (relationship satisfaction) adalah sensitivitas terhadap penolakan (rejection sensitivity), yang berpotensi menciptakan reaksi negatif dan memicu terjadinya self-fulfilling prophecy. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rejection sensitivity terhadap relationship satisfaction pada individu dewasa awal di Indonesia. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional-prediktif, dengan partisipan sebanyak 213 mahasiswa aktif berusia 18–20 tahun yang sedang atau pernah menjalin hubungan asmara. Instrumen yang digunakan adalah Rejection Sensitivity Questionnaire (RSQ) dan Relationship Assessment Scale (RAS), serta analisis data dilakukan melalui uji korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif signifikan antara rejection sensitivity dan relationship satisfaction (r = -0.281, p < 0.01), dengan kontribusi pengaruh sebesar R² = 7,9%. Semakin tinggi rejection sensitivity seseorang, semakin rendah tingkat kepuasan yang dirasakannya dalam hubungan asmara. Temuan ini menegaskan pentingnya kemampuan regulasi emosi dan penanganan kecemasan penolakan dalam menjaga kualitas hubungan romantis di masa dewasa awal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap literatur psikologi hubungan interpersonal di Indonesia dan dapat menjadi dasar intervensi preventif dalam konseling pasangan muda.
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY SERTA PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP PERILAKU ACADEMIC DISHONESTY PADA MAHASISWA DKI JAKARTA Brahmantio Saryono, Didik; Kartasasmita, Sandy
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7629

Abstract

The phenomenon of academic dishonesty remains an important issue in higher education in Indonesia, including in the DKI Jakarta region. This behavior reflects weak academic integrity and can be influenced by various factors, such as self-efficacy and decision-making abilities. This study aims to analyze the relationship between self-efficacy and decision-making in relation to academic dishonesty behavior among university students in DKI Jakarta. This research uses a correlational quantitative approach with 461 participants aged 18 to 25 years. The instruments used include the General Self-Efficacy Scale (GSES), General Decision-Making Style Scale (GDMSS), and Academic Dishonesty Scale (ADS). Data were analyzed using Spearman’s correlation test due to the non-normal distribution of the data. The results show a negative relationship between self-efficacy and academic dishonesty (r = -0.079, p = 0.09), as well as a positive relationship between decision-making and academic dishonesty (r = 0.085, p = 0.068), although both were not statistically significant. Additionally, no gender differences were found in the three variables. These findings emphasize the importance of self-efficacy and decision-making abilities in understanding the tendencies of academic dishonesty behavior, and it is hoped that they will serve as a basis for developing academic integrity improvement programs in higher education. ABSTRAK Fenomena academic dishonesty atau ketidakjujuran akademik masih menjadi isu penting di perguruan tinggi Indonesia, termasuk di wilayah DKI Jakarta. Perilaku ini mencerminkan lemahnya integritas akademik dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti self-efficacy serta kemampuan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-efficacy dan pengambilan keputusan terhadap perilaku academic dishonesty pada mahasiswa di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah partisipan sebanyak 461 mahasiswa berusia 18 hingga 25 tahun. Instrumen yang digunakan meliputi General Self-Efficacy Scale (GSES), General Decision-Making Style Scale (GDMSS), dan Academic Dishonesty Scale (ADS). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara self-efficacy dengan academic dishonesty (r = -0.079, p = 0.09), serta hubungan positif antara pengambilan keputusan dengan academic dishonesty (r = 0.085, p = 0.068), meskipun keduanya tidak signifikan secara statistik. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan jenis kelamin pada ketiga variabel. Temuan ini menegaskan pentingnya self-efficacy dan kemampuan pengambilan keputusan dalam memahami kecenderungan perilaku academic dishonesty, dan diharapkan dapat menjadi dasar untuk pengembangan program peningkatan integritas akademik di perguruan tinggi.
HUBUNGAN KETERGANTUNGAN PADA CHATGPT DAN SELF-EFFICACY PADA MAHASISWA AKTIF DI UNIVERSITAS Sanjaya, Alvin; Aurora, Amelia; Clarance Benedict, Edbert; Az Zahra Nurnajma Kalenggo, Sezilya; Winata, Tantony; Hendra Heng, Pamela; Markus Idulfilastri, Rita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7659

Abstract

This study examines the relationship between problematic ChatGPT use defined as excessive or unhealthy dependence on this technology and academic self-efficacy among active students at University X, using a quantitative correlational design. A purposive sample of 76 respondents was selected from various faculties within the university. Data were collected through an online questionnaire consisting of the Problematic ChatGPT Use Scale and the Self-Efficacy Scale. The results indicate that the majority of students experience moderate dependence on ChatGPT, but no significant relationship was found between ChatGPT dependence and academic self-efficacy (rs? = - 0.128, p = 0.271 > 0.05). This finding is important because, although problematic use of ChatGPT is relatively common among students, it does not significantly affect their academic self-confidence. This suggests that other factors, such as prior academic experience or social support, may have a greater impact on students' self-efficacy. This study provides new insights into the use of ChatGPT in higher education and recommends the wise management of its use. Proper management can enrich students' learning experiences, while excessive dependence may reduce learning independence and critical thinking skills. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji hubungan antara penggunaan ChatGPT yang bersifat problematik diartikan sebagai ketergantungan yang berlebihan atau tidak sehat terhadap teknologi ini dan self-efficacy akademik pada mahasiswa aktif Universitas X dengan desain kuantitatif korelasional. Sampel purposive sebanyak 76 responden diambil dari berbagai fakultas di universitas tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang terdiri dari Skala Penggunaan ChatGPT Problematis dan Skala Self-Efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami ketergantungan moderat terhadap ChatGPT, namun tidak ditemukan hubungan signifikan antara ketergantungan ChatGPT dan self-efficacy akademik (rs? = ?0,128, p = 0,271 > 0,05). Temuan ini penting karena meskipun penggunaan ChatGPT yang problematik cukup sering terjadi di kalangan mahasiswa, hal tersebut tidak mempengaruhi secara signifikan kepercayaan diri akademik mereka. Ini menunjukkan bahwa faktor lain, seperti pengalaman akademik sebelumnya atau dukungan sosial, mungkin memiliki dampak yang lebih besar terhadap self-efficacy mahasiswa. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang penggunaan ChatGPT dalam konteks pendidikan tinggi dan menyarankan pengelolaan yang bijak terhadap penggunaannya. Pengelolaan yang tepat dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sementara ketergantungan yang berlebihan dapat mengurangi kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis.