cover
Contact Name
Lorentius Wahana Dika
Contact Email
jmataoptik@gmail.com
Phone
+628179255773
Journal Mail Official
jmataoptik@gmail.com
Editorial Address
Jln. Pondok Aren Raya No.108A Bintaro Sektor IX, Kel. Pondok Aren, Kec. Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Mata Optik
ISSN : -     EISSN : 27468259     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Mata Optik : Jurnal Penelitian Mata Optik is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish scientific writing in the form of research, reviews, studies, and conceptual or theoretical thinking in the fields of Indonesian refractionist and optician. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Mata Optik is managed to be issued twice in every volume. The Scope of Jurnal Mata Optik is: 1. Refractive error and correction 2. Eye care 3. Optical Industry
Articles 73 Documents
HUBUNGAN PEMILIHAN BINGKAI KACAMATA YANG TIDAK TEPAT DENGAN KELUHAN ASTHENOPIA PADA PENGGUNA KACAMATA FLATTOP Nugraha, Opep; Rizki Abdilah, Bunyamin; Budiana, Wahyu
Jurnal Mata Optik Vol. 6 No. 3 (2025): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v6i3.292

Abstract

Flat-top bifocal glasses have a near segment located at the bottom of the lens. Inappropriate frame selection can cause suboptimal positioning of this segment, forcing users to adopt unnatural head postures when reading, thus potentially triggering asthenopia. This study aims to analyze the relationship between the accuracy of eyeglass frame selection and asthenopia complaints in flat-top glasses users. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted on 82 flat-top glasses users selected by consecutive sampling. Data were collected through structured interviews using an asthenopia complaint questionnaire and physical examination by an optometrist to assess frame accuracy based on parameters: near segment height, pantoscopic angle, and vertex distance. Data were analyzed using the Chi-Square test. A total of 65.9% of respondents (54 people) experienced asthenopia complaints. The proportion of inappropriate frame selection was significantly higher in the group with asthenopia (83.3%) compared to the group without asthenopia (21.4%) (p < 0.001). The most frequently inaccurate frame parameter was inappropriate near segment height (p=0.001).There is a significant relationship between inappropriate eyeglass frame selection and asthenopia complaints in flat-top glasses users. The accuracy of frame fitting, especially the near segment height, is a critical factor that must be considered.
GAMBARAN KEJADIAN MIOPIA YANG DISEBABKAN POLA PENGGUNAAN SMARTPHONE Al Rasyid , Harun; Zakiati Umami, Nisa
Jurnal Mata Optik Vol. 6 No. 3 (2025): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v6i3.294

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan hubungan antara pola penggunaan smartphone dalam hal durasi, jarak pandang, dan postur tubuh dengan kejadian miopia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian literatur menggunakan data sekunder, yang dikumpulkan dan ditelaah dari penelitian-penelitian terdahulu. Analisis dilakukan dengan mengelompokkan literatur ke dalam tiga indikator pola penggunaan smartphone meliputi durasi, jarak pandang, dan postur tubuh. Setiap indikator dianalisis kaitannya dengan terjadinya miopia, seperti spasme akomodasi, elongasi aksial, dan kelelahan mata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi penggunaan smartphone lebih dari 4 jam sehari, jarak pandang terlalu dekat, dan postur tubuh yang tidak ergonomis secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya miopia. Ketiga faktor ini memicu meningkatnya tekanan atau spasme akomodasi, kelelahan otot siliaris dan perubahan aksial bola mata yang berkontribusi pada terjadinya miopia.
PENGARUH KOMPLIKASI PEMAKAIAN LENSA KONTAK LUNAK TERHADAP KESEHATAN PENGLIHATAN Budiana, Wahyu; Nugraha, Opep Cahya; Abdillah, Bunyamin Rizki
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v7i1.301

Abstract

The purpose of this study was to identify the effects of complications of soft contact lens wear on visual health. The research method used was descriptive qualitative with semi-structured interviews conducted by telephone with three informants who were purposively selected because they had experience wearing contact lenses regularly. Data were analyzed through the preparation of interview guidelines, recording, transcription, interpretation, and drawing conclusions. The results showed that complications of contact lens wear affect vision in the form of decreased visual acuity, red eyes, and blurred vision.
ANALISIS YURIDIS NORMATIF: KEWENANGAN PENERBITAN RESEP KACAMATA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KLAIM ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA Riono, YV Agung; Ginting , James Davidta; Simarmata, Murni; Efendi , Zakaria
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v7i1.302

Abstract

Regulatory Reform in Health through Law No. 17 of 2023 on Health has introduced a paradigmatic shift in the governance of health professionals in Indonesia. One of the fundamental changes worth noting is the clear demarcation between medical practitioners (physicians and dentists) and other health professionals, alongside the strengthening of optometrists’ professional authority within the domain of medical technical expertise. This study aims to analyze the scope of optometrists’ authority in issuing eyeglass prescriptions following the enactment of the 2023 Health Law and to examine its compatibility with health insurance claim requirements, particularly under BPJS Kesehatan. Employing a normative juridical research method with statutory and conceptual approaches, this study finds a dissonance between the health law regime, which grants professional autonomy to optometrists, and the social security law regime, which continues to require prescriptions from ophthalmologists. The study recommends regulatory harmonization across sectors and the reinforcement of the role of the Indonesian Health Professionals Council in ensuring the quality of optometric services.
ANALISIS FAKTOR DEMOGRAFIS YANG MEMPENGARUHI PERAN OPTOMETRIS DALAM PELAYANAN KESEHATAN MATA DI INDONESIA. Simarmata, Murni Marlina; Silaban , Stepanus; Maryani, Febri; Nugraha, Opep Cahya
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v7i1.303

Abstract

Optometris memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan mata, terutama dalam pemeriksaan penglihatan dan deteksi gangguan refraksi pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia, lama praktik, dan tempat kerja dengan peran optometris dalam pelayanan kesehatan mata di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada optometris di Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 97 orang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji independent t-test dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia produktif, memiliki lama praktik 0–5 tahun, dan bekerja di optik sebagai tempat praktik utama. Faktor usia, lama praktik, dan tempat kerja menunjukkan keterkaitan dengan peran optometris dalam pelayanan kesehatan mata. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara peran preventif dan dampak pelayanan kesehatan mata, yang mengindikasikan bahwa peningkatan peran preventif optometris berkontribusi besar terhadap penurunan beban gangguan penglihatan dan peningkatan akses layanan kesehatan mata. Sementara itu, hasil uji independent t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam peran preventif antara optometris pria dan perempuan (p > 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peran preventif optometris merupakan faktor kunci dalam meningkatkan dampak pelayanan kesehatan mata. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kompetensi melalui pendidikan berkelanjutan serta penguatan peran optometris di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan mata di Indonesia.
KESENJANGAN PRAKTIK DALAM PELAYANAN OPTOMETRI: ANALISIS KUALITATIF TERHADAP KOMPETENSI, LINGKUNGAN PRAKTIK, DAN REGULASI Silaban , Stepanus; Simarmata, Murni; Umami, Nisa Zakiati
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v7i1.304

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kesenjangan antara standar dan praktik nyata dalam pelayanan optometri melalui pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan optometris dan dianalisis menggunakan Thematic Analysis. Hasil penelitian mengungkapkan empat tema utama, yaitu: (1) perluasan peran preventif optometris, (2) variasi dalam kompetensi profesional, (3) pengaruh lingkungan praktik terhadap pengambilan keputusan klinis, dan (4) lemahnya penegakan regulasi. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas layanan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi individu, tetapi juga dibentuk oleh interaksi antara faktor individu, lingkungan, dan sistem. Penelitian ini mengusulkan Model Interaksi Sistem–Individu dalam Praktik Optometri, yang menekankan pentingnya intervensi terintegrasi pada berbagai tingkat. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi berupa model konseptual berbasis data lapangan, dan secara praktis memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kualitas layanan optometri.
PREFERENSI MODEL FRAME KACAMATA PADA MAHASISWA DI ERA FASHION MODERN Nugraha, Opep; Abdillah, Bunyamin Rizki; Budiana, Mohamad Wahyu; Simarmata, Murni
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v7i1.305

Abstract

The development of modern fashion has transformed eyeglasses from a visual aid into a lifestyle accessory and a form of self-identity, particularly among university students. This study aims to explore students’ preferences for eyeglass frame models in the modern fashion era and to identify the factors influencing these preferences. This study employed a qualitative approach with a descriptive design. Data were collected through in-depth interviews with 12 university students who use eyeglasses, selected using purposive sampling. The data were analyzed using thematic analysis to identify key patterns and themes related to frame selection preferences. The findings revealed that eyeglasses are perceived not only as a visual aid but also as a fashion statement and identity expression. Five major themes emerged: (1) eyeglasses as a lifestyle and identity, (2) preference for trendy frame designs such as oversized and minimalist styles, (3) dominance of neutral colors due to their flexibility, (4) the importance of comfort in prolonged use, and (5) the significant influence of social media in shaping preferences. Among these factors, fashion trends and social media were found to be the most influential in determining students’ choices. In conclusion, students’ preferences for eyeglass frame models are influenced by a combination of aesthetic, functional, and social factors. Therefore, optical practitioners should consider not only visual and ergonomic aspects but also fashion trends and user preferences when recommending eyeglass frames.
DAMPAK KUALITAS PELAYANAN KOMPETENSI REFRAKSI OPTISI DAN HARGA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN DI OPTIK KENCANA TANGERANG Maylani, Dina Yarti; Simarmata, Murni; Maryani, Febri; Budiana, Mohamad Wahyu
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL MATA OPTIK
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v7i1.306

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pandangan pelanggan mengenai kemampuan refraksi yang dimiliki oleh optisi dan bagaimana hal tersebut memengaruhi tingkat kepuasan mereka terhadap layanan di Optik Kencana Tangerang. Kemampuan refraksi yang dimaksud meliputi ketepatan dalam melakukan pemeriksaan mata, ketepatan dalam merekomendasikan lensa, serta keterampilan dalam berkomunikasi secara efektif dengan pelanggan. Studi ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada enam orang responden yang merupakan pelanggan aktif Optik Kencana Tangerang. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan penilaian positif terhadap kompetensi refraksi optisi, khususnya dalam hal ketelitian, penguasaan teknis, dan sikap yang ramah selama pemeriksaan. Pandangan positif ini secara langsung memengaruhi kepuasan pelanggan, dengan kepercayaan terhadap hasil pemeriksaan dan kenyamanan dalam pelayanan sebagai aspek yang paling berpengaruh. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kompetensi refraksi optisi memainkan peran penting dalam membentuk persepsi positif yang berdampak pada tingkat kepuasan pelanggan di bidang layanan Optik.
Biomolekul Vitreous humor dan Kaitannya terhadap Transparansi Optik serta Fungsi Penglihatan Mata: Tinjauan Literatur rizoputra, ivan
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Mata Optik
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/s6jv4e95

Abstract

Vitreous humor merupakan jaringan transparan berbentuk gel yang mengisi sebagian besar rongga bola mata dan berperan penting dalam mempertahankan bentuk mata, menopang retina, serta meneruskan cahaya menuju retina. Meskipun sekitar 98–99% komposisinya terdiri atas air, vitreous humor mengandung berbagai biomolekul yang bekerja secara sinergis untuk menjaga transparansi optik, stabilitas biomekanik, dan homeostasis intraokular. Artikel review ini bertujuan mengkaji komposisi biomolekul vitreous humor, meliputi protein plasma, protein pengikat besi, protein struktural, protein antioksidan, glikosaminoglikan, proteoglikan, metabolit, dan sel vitreous, serta menjelaskan kaitannya dengan fungsi penglihatan dan perspektif fisika optik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan komposisi dan struktur biomolekul akibat penuaan, inflamasi, trauma, maupun penyakit degeneratif dapat menyebabkan disorganisasi matriks ekstraseluler, degradasi fibril kolagen, penurunan kapasitas antioksidan, serta gangguan homeostasis metabolik. Perubahan tersebut berkontribusi terhadap likuifikasi vitreous, pembentukan vitreous floaters, peningkatan hamburan cahaya (light scattering), perubahan sifat viskoelastis, dan gangguan interaksi vitreoretinal yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas penglihatan. Dari sudut pandang fisika, biomolekul vitreous berperan dalam mempertahankan homogenitas medium optik, indeks bias, dan sifat biomekanik yang diperlukan untuk transmisi cahaya yang optimal menuju retina. Pemahaman mengenai hubungan antara biomolekul vitreous, transparansi optik, dan fungsi penglihatan juga menjadi dasar penting dalam pengembangan artificial vitreous yang mampu meniru karakteristik biologis dan fisik vitreous alami. Dengan demikian, kajian biomolekul vitreous humor tidak hanya penting dalam memahami mekanisme dasar penglihatan, tetapi juga mendukung pengembangan terapi dan biomaterial oftalmologi di masa depan.
ANALISIS YURIDIS EMPIRIS OPTOMETRY DISPUTES DAN MALPRAKTIK OPTOMETRI DI INDONESIA Riono, YV Agung; Simarmata, Murni Marlina; Efendi , Zakaria; Doringin , Ferry
Jurnal Mata Optik Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Mata Optik
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/9z208w14

Abstract

This research conducts a normative and empirical legal analysis of optometry disputes and malpractice in Indonesia, framed through the IRAC method (Issue, Rule, Application, Conclusion) and contrasted with global practices. The Issue is whether optometrists, as formally recognized health professionals under Health Law No. 17 of 2023, may incur criminal liability for malpractice, and how such liability differs from civil optometry disputes. The Rule derives from Indonesian statutes, Health Law 2023, Consumer Protection Law 1999, KUHP 2025, and KUHAP 2026, which establish criminal sanctions for negligence causing serious injury or death, while consumer law governs disputes over service quality. The Application reveals that most Indonesian cases are optometry disputes, involving refractive errors that rarely result in blindness or death, and are resolved through civil remedies under consumer protection. Malpractice liability arises only when negligence leads to severe outcomes, requiring expert testimony and prior review by the Professional Discipline Council of Health (Majelis Disiplin Profesi Kesehatan). In comparative perspective, jurisdictions such as the United States and the United Kingdom emphasize civil liability and professional disciplinary mechanisms, reserving criminal sanctions for egregious negligence. Indonesia’s dualistic framework, criminal liability for malpractice and civil remedies for disputes, which reflects both global trends and local statutory innovations. The Conclusion underscores the strategic role of professional organizations (IROPIN) and business associations (GAPOPIN) in prevention through standard-setting, advocacy, and mediation. Strengthening these mechanisms is essential to harmonize Indonesian practice with international norms, ensuring accountability, consumer protection, and professional integrity.