cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 404 Documents
ISLAM DALAM MEWUJUDKAN KESEIMBANGAN EKOLOGI: MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP ISLAM TENTANG KESEIMBANGAN ALAM Fahrurrozi, Muhammad; Manshur, Hamim Sirojuddin Al; Azmi, Safira Mufida; Annur, Fauzi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10256

Abstract

ABSTRACT The global environmental crisis, characterized by ecosystem degradation, climate change, and uncontrolled resource exploitation, reflects challenges that are not merely technical in nature but also deeply rooted in value-based dimensions of the human–nature relationship. This study aims to conceptually examine the role of Islamic teachings in constructing an ecological ethical framework through the integration of the concepts of tauhid, khilafah, and mizan. The research employs a qualitative approach using a library research design, where data are collected from scholarly literature and Islamic sources selected thematically, and subsequently analyzed through content analysis to identify patterns of conceptual interconnections. The findings reveal that these three concepts form an interconnected value system that shapes awareness, responsibility, and balance in environmental management. The study also identifies a gap between normative values and social practices, which remain largely dominated by exploitative patterns. It concludes that strengthening environmental ethics based on Islamic teachings requires integration at both individual and structural levels through education, policy, and social practices. Therefore, the Islamic ecological framework is not only conceptual but also operationally relevant in promoting sustainable relationships between humans and the natural environment. ABSTRAK Krisis lingkungan global yang ditandai oleh degradasi ekosistem, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya menunjukkan adanya persoalan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan dimensi nilai dalam relasi manusia dan alam. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara konseptual peran ajaran Islam dalam membangun kerangka etika ekologis melalui integrasi konsep tauhid, khilafah, dan mizan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis library research, di mana data diperoleh dari literatur ilmiah dan sumber keislaman yang diseleksi secara tematik, kemudian dianalisis menggunakan teknik content analysis untuk mengidentifikasi pola keterkaitan antar konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga konsep tersebut membentuk sistem nilai yang saling terhubung dalam membangun kesadaran, tanggung jawab, dan prinsip keseimbangan dalam pengelolaan lingkungan. Temuan juga mengindikasikan adanya kesenjangan antara nilai normatif dan praktik sosial yang masih didominasi oleh pola eksploitatif. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan etika lingkungan berbasis ajaran Islam memerlukan integrasi pada level individu dan struktural melalui pendidikan, kebijakan, serta praktik sosial. Dengan demikian, kerangka ekologis Islam tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga memiliki relevansi operasional dalam mendorong keberlanjutan hubungan manusia dan alam.
DESENTRALISASI KEKUASAAN DAN KEBERLANJUTAN PERADABAN: STUDI HISTORIOGRAFIS ATAS DINASTI-DINASTI ISLAM TIMUR Azzahra Sindhi Latifa; Hamim Sirojuddin Al Manshur; Fina Thazha Eka Sari; Arifah Nur Imamma; Aginra Falah Istiqomah; Hakiman Hakiman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10257

Abstract

ABSTRACT The post-Abbasid period is often framed as a phase of decline due to the weakening of political authority in Baghdad. However, this perspective does not fully capture the dynamics in the eastern regions, which in fact experienced significant developments across various domains. This study aims to examine the role of political decentralization as a transformative mechanism that sustained the continuity of Islamic civilization during this period. It employs a qualitative approach based on library research, utilizing a historiographical-critical analysis of recent academic sources. The focus is placed on the dynamics of regional dynasties in the eastern Islamic world that contributed to changes in political, intellectual, and cultural structures. The findings indicate that the decline of central authority did not lead to stagnation, but instead facilitated the emergence of new centers that were active in advancing knowledge, economic activity, and religious life. Decentralization enabled a balance between political authority and religious legitimacy, while also expanding intellectual networks through local patronage and cultural adaptation. These findings suggest that the post-Abbasid period is more appropriately understood as a phase of adaptive transformation, characterized by the restructuring of power, diversification of civilizational centers, and socio-cultural integration. Accordingly, this study contributes to strengthening a resilience perspective in Islamic historiography, emphasizing continuity rather than decline. ABSTRAK Periode pasca-kejayaan Abbasiyah sering diposisikan sebagai fase kemunduran akibat meredupnya otoritas politik di Baghdad. Perspektif tersebut belum sepenuhnya menjelaskan dinamika di kawasan Timur yang justru menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai bidang. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran desentralisasi kekuasaan sebagai mekanisme transformasi yang menopang keberlanjutan peradaban Islam pada periode tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis historiographical-critical terhadap berbagai sumber akademik mutakhir. Fokus kajian diarahkan pada dinamika dinasti-dinasti regional di kawasan Timur yang berkontribusi dalam perubahan struktur politik, intelektual, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melemahnya pusat kekuasaan tidak mengakibatkan stagnasi, melainkan mendorong lahirnya pusat-pusat baru yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan praktik keagamaan. Desentralisasi memungkinkan terbentuknya keseimbangan antara otoritas politik dan legitimasi religius, sekaligus memperluas jaringan keilmuan melalui patronase lokal dan adaptasi budaya. Temuan ini menegaskan bahwa periode pasca-Abbasiyah lebih tepat dipahami sebagai fase adaptive transformation yang ditandai oleh restrukturisasi kekuasaan, diversifikasi pusat peradaban, dan integrasi sosial-budaya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat perspektif resilience dalam historiografi Islam yang menekankan kesinambungan, bukan kemunduran.
DESENTRALISASI KEKUASAAN DAN KEBERLANJUTAN PERADABAN: STUDI HISTORIOGRAFIS ATAS DINASTI-DINASTI ISLAM TIMUR Latifa, Azzahra Sindhi; Manshur, Hamim Sirojuddin Al; Sari, Fina Thazha Eka; Imamma, Arifah Nur; Istiqomah, Aginra Falah; Hakiman, Hakiman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.10257

Abstract

ABSTRACT The post-Abbasid period is often framed as a phase of decline due to the weakening of political authority in Baghdad. However, this perspective does not fully capture the dynamics in the eastern regions, which in fact experienced significant developments across various domains. This study aims to examine the role of political decentralization as a transformative mechanism that sustained the continuity of Islamic civilization during this period. It employs a qualitative approach based on library research, utilizing a historiographical-critical analysis of recent academic sources. The focus is placed on the dynamics of regional dynasties in the eastern Islamic world that contributed to changes in political, intellectual, and cultural structures. The findings indicate that the decline of central authority did not lead to stagnation, but instead facilitated the emergence of new centers that were active in advancing knowledge, economic activity, and religious life. Decentralization enabled a balance between political authority and religious legitimacy, while also expanding intellectual networks through local patronage and cultural adaptation. These findings suggest that the post-Abbasid period is more appropriately understood as a phase of adaptive transformation, characterized by the restructuring of power, diversification of civilizational centers, and socio-cultural integration. Accordingly, this study contributes to strengthening a resilience perspective in Islamic historiography, emphasizing continuity rather than decline. ABSTRAK Periode pasca-kejayaan Abbasiyah sering diposisikan sebagai fase kemunduran akibat meredupnya otoritas politik di Baghdad. Perspektif tersebut belum sepenuhnya menjelaskan dinamika di kawasan Timur yang justru menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai bidang. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran desentralisasi kekuasaan sebagai mekanisme transformasi yang menopang keberlanjutan peradaban Islam pada periode tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis historiographical-critical terhadap berbagai sumber akademik mutakhir. Fokus kajian diarahkan pada dinamika dinasti-dinasti regional di kawasan Timur yang berkontribusi dalam perubahan struktur politik, intelektual, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melemahnya pusat kekuasaan tidak mengakibatkan stagnasi, melainkan mendorong lahirnya pusat-pusat baru yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan praktik keagamaan. Desentralisasi memungkinkan terbentuknya keseimbangan antara otoritas politik dan legitimasi religius, sekaligus memperluas jaringan keilmuan melalui patronase lokal dan adaptasi budaya. Temuan ini menegaskan bahwa periode pasca-Abbasiyah lebih tepat dipahami sebagai fase adaptive transformation yang ditandai oleh restrukturisasi kekuasaan, diversifikasi pusat peradaban, dan integrasi sosial-budaya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat perspektif resilience dalam historiografi Islam yang menekankan kesinambungan, bukan kemunduran.
ARTIFICIAL INTELLIGENCE AND DIGITAL INNOVATION IN MATHEMATICS EDUCATION FOR CRITICAL THINKING: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Prismadian Amalia Putri; Naning Sutriningsih; Suminto Suminto
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10656

Abstract

This study presents a systematic literature review on artificial intelligence and digital innovation in mathematics education for critical thinking. The review aimed to identify research trends, forms of implementation, major findings, and research gaps in the literature. The study employed a Systematic Literature Review design guided by the PRISMA framework. Data were collected from the Scopus database. The initial search yielded several hundred records, which were filtered based on publication years 2020–2025, English language, open access status, subject area Mathematics, and source type Journal. After the filtering and screening process, 25 articles were selected for the final synthesis. The findings show that the literature on critical thinking in mathematics education is broader than the literature directly addressing artificial intelligence. Most studies focused on pedagogical approaches such as inquiry-based learning, realistic mathematics education, proof, problem solving, and computational thinking, while only a limited number of studies explicitly examined AI or generative AI in mathematics education. The review indicates that artificial intelligence and digital innovation have strong potential to support critical thinking through interactive learning environments, AI-assisted problem solving, and digitally mediated instruction. However, their contribution depends heavily on pedagogical design, teacher mediation, and the extent to which technology supports genuine mathematical reasoning. The review concludes that the integration of artificial intelligence in mathematics education remains an emerging field and requires stronger empirical evidence, clearer conceptualization, and more context-sensitive implementation to enhance critical thinking effectively.
ANALISIS BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR DALAM OPERASI HITUNG TIGA DIGIT: STUDI FENOMENOLOGI DESKRIPTIF Bambang Cahyono; Jarnawi Afgani Dahlan; Bambang Avip Priatna Martadiputra
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10664

Abstract

Critical thinking is an essential skill that needs to be developed from the elementary school level, particularly in mathematics learning. This study aims to describe the critical thinking experiences of elementary school students in solving three-digit arithmetic operations through a descriptive phenomenological approach. The phenomenological approach was employed to understand the meaning of students' lived experiences in thinking and solving mathematical problems. Data were collected through a mathematical critical thinking test and analyzed using phenomenological reduction, description of experiential essence, and interpretation of meaning. The results indicate that students demonstrated various forms of critical thinking, including understanding arithmetic operations, performing logical reasoning, and evaluating correctness through mathematical justification. However, some students still exhibited intuitive reasoning or reasoning based on non-mathematical contexts. This study concludes that reflective awareness and the ability to articulate mathematical reasoning are central to critical thinking among elementary school students. These findings suggest that mathematics learning in elementary schools should be redirected from procedural approaches toward reflective practices that provide students with opportunities to express, question, and evaluate their reasoning meaningfully. ABSTRAK Berpikir kritis merupakan kemampuan esensial yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar, khususnya dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman berpikir kritis siswa sekolah dasar dalam menyelesaikan operasi aritmetika tiga digit melalui pendekatan fenomenologi deskriptif. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk memahami makna pengalaman hidup siswa dalam berpikir dan memecahkan masalah matematika. Data dikumpulkan melalui tes berpikir kritis matematis dan dianalisis menggunakan reduksi fenomenologis, deskripsi esensi pengalaman, serta interpretasi makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami berbagai bentuk berpikir kritis, meliputi pemahaman operasi aritmetika, penalaran logis, serta evaluasi kebenaran dengan justifikasi matematis. Namun, sebagian siswa masih menunjukkan penalaran yang bersifat intuitif atau berbasis konteks non-matematis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesadaran reflektif dan kemampuan mengartikulasikan penalaran matematis merupakan inti dari berpikir kritis siswa sekolah dasar. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar perlu diarahkan dari pendekatan prosedural menuju praktik reflektif yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengungkapkan, mempertanyakan, dan mengevaluasi penalarannya secara bermakna.
The HUBUNGAN INTERPERSONAL MINDFULNESS DAN KOMUNIKASI EFEKTIF PADA PENGURUS ORGANISASI KEMAHASISWAAN Linda Widyastuti; Dedeh Dahlia; Ira Hasianna Rambe; Rena Nurafrizki Sonia; Ginu Nugina
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10686

Abstract

Individuals within the 18–22 age group are generally undergoing the late adolescent developmental stage, a period characterized by various demands for social adjustment, including within student organizational settings. In this context, effective communication skills constitute one of the essential competencies that support successful collaboration among members and the overall achievement of organizational goals. Among the factors presumed to influence such skills, interpersonal mindfulness defined as a state of full awareness and presence during interactions with others is considered to play a significant role. This study was designed to examine the extent of the relationship between interpersonal mindfulness and effective communication skills among individuals occupying core positions in student organizations. Methodologically, the study employed a quantitative approach with a correlational design. Data were collected through the distribution of online questionnaires to 37 respondents using the Interpersonal Mindfulness Scale (IMS) and an effective communication measurement instrument. Given that the data distribution did not meet the assumption of normality, statistical analysis was conducted using Spearman’s rho test. The findings revealed a positive and significant relationship between the two variables (r = 0.553; p < 0.001). This indicates that higher levels of interpersonal mindfulness are associated with better effective communication skills. These findings carry practical implications by emphasizing the importance of developing interpersonal mindfulness through structured training programs as a concrete effort to enhance the quality of communication within student organizations. ABSTRAK Individu yang berada pada kelompok usia 18–22 tahun tengah menjalani fase akhir masa remaja, suatu periode yang diwarnai oleh berbagai tuntutan dalam menyesuaikan diri secara sosial, tak terkecuali di lingkungan organisasi kemahasiswaan. Dalam konteks tersebut, kemampuan berkomunikasi secara efektif menjadi salah satu kompetensi krusial yang menopang keberhasilan kolaborasi antar anggota maupun ketercapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. Di antara sejumlah faktor yang diperkirakan turut memengaruhi kemampuan tersebut, interpersonal mindfulness yakni kondisi kesadaran yang hadir secara penuh saat berinteraksi dengan orang lain dianggap memiliki peranan yang cukup signifikan. Studi ini dirancang untuk menelaah sejauh mana keterkaitan antara interpersonal mindfulness dan keterampilan komunikasi efektif pada individu yang menduduki posisi inti dalam organisasi kemahasiswaan. Secara metodologis, penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, di mana pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner daring kepada 37 responden dengan memanfaatkan Interpersonal Mindfulness Scale (IMS) serta instrumen pengukur komunikasi efektif. Mengingat distribusi data yang tidak memenuhi asumsi normalitas, analisis statistik dilakukan menggunakan uji Spearman's rho. Hasil yang diperoleh mengindikasikan adanya hubungan yang positif sekaligus signifikan antara kedua variabel tersebut (r = 0,553; p < 0,001). Artinya, peningkatan pada tingkat interpersonal mindfulness seseorang sejalan dengan semakin baiknya kualitas komunikasi efektif yang dimilikinya. Temuan ini membawa implikasi praktis yang menegaskan urgensi pengembangan interpersonal mindfulness melalui program pelatihan yang terstruktur, sebagai upaya nyata dalam meningkatkan mutu komunikasi di lingkup organisasi kemahasiswaan.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBING PROMPTING TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Muh Haikal Nur Fikri; Dwi Wahyudiati; Nurul Lailatul Khusniah; Abdul Manap
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10706

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the low learning outcomes in Islamic Religious Education caused by limited student engagement in the learning process. The purpose of this study was to determine the effect of the probing prompting learning model on students’ learning outcomes in Islamic Religious Education on the topic of good deeds (amal saleh) and positive thinking (husnuzan) among eighth-grade students of SMP Negeri 2 Kopang in the 2023/2024 academic year. This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design. The sample consisted of 86 students divided into an experimental class and a control class selected through simple random sampling. Data were collected using a multiple-choice test instrument that had met validity and reliability criteria. Data analysis was conducted using parametric statistical tests to examine differences in learning outcomes between the two groups. The results indicated that the probing prompting learning model had a significant effect on students’ learning outcomes. The implementation of this model enhanced student engagement, understanding, and participation during the learning process. Therefore, the probing prompting model can be considered an effective alternative instructional strategy to improve students’ learning outcomes in Islamic Religious Education.ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang disebabkan oleh kurangnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran probing prompting terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada materi amal saleh dan husnuzan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kopang tahun pelajaran 2023/2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experiment). Sampel penelitian berjumlah 86 siswa yang terdiri atas kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dipilih secara simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes pilihan ganda yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Data dianalisis menggunakan uji statistik parametrik untuk menguji perbedaan hasil belajar antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan penggunaan model pembelajaran probing prompting terhadap hasil belajar siswa. Penerapan model ini mampu meningkatkan keaktifan, pemahaman, dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, model probing prompting dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa.
PERAN TOKOH AGAMA DALAM PENDIDIKAN ISLAM NON-FORMAL UNTUK MENGATASI KENAKALAN REMAJA DI LINGKUNGAN INDUSTRI Samsul Hadi; Dwi Wahyudiati; Nurul Lailatul Khusniyah
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10707

Abstract

ABSTRACT Juvenile delinquency in industrial environments has become a serious issue influenced by limited parental supervision and weak internalization of religious values due to socio-economic dynamics. This study aims to analyze the role of religious leaders in non-formal Islamic education and its effectiveness in addressing juvenile delinquency in industrial areas. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving three religious leaders and fifteen adolescents. Data were analyzed qualitatively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that religious leaders play significant roles as educators, mentors, and role models through activities such as religious gatherings, youth study groups, and short-term Islamic boarding programs using personal and contextual approaches. These roles have proven effective in reducing deviant behaviors such as fighting, alcohol consumption, and truancy, while also enhancing religious awareness and self-control among adolescents. This study highlights that community-based non-formal Islamic education serves as an effective preventive strategy in addressing juvenile delinquency in industrial environments. The findings imply the need for strengthening the capacity of religious leaders and providing community-based policy support to ensure the sustainability of youth development programs. ABSTRAK Kenakalan remaja di lingkungan industri telah menjadi masalah serius yang dipengaruhi oleh terbatasnya pengawasan orang tua dan lemahnya internalisasi nilai-nilai agama akibat dinamika sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tokoh agama dalam pendidikan Islam nonformal serta efektivitasnya dalam menangani kenakalan remaja di kawasan industri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi yang melibatkan tiga tokoh agama dan lima belas remaja. Data dianalisis secara kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh agama memiliki peran penting sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan melalui kegiatan seperti pengajian, kelompok kajian remaja, dan program pesantren kilat dengan menggunakan pendekatan personal dan kontekstual. Peran tersebut terbukti efektif dalam mengurangi perilaku menyimpang seperti perkelahian, konsumsi minuman keras, dan bolos sekolah, sekaligus meningkatkan kesadaran beragama dan pengendalian diri pada remaja. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Islam nonformal berbasis masyarakat merupakan strategi preventif yang efektif dalam mengatasi kenakalan remaja di lingkungan industri. Temuan ini mengimplikasikan perlunya penguatan kapasitas tokoh agama serta dukungan kebijakan berbasis masyarakat guna menjamin keberlanjutan program pembinaan remaja.
MANAJEMEN PESERTA DIDIK DALAM MEMBENTUK RESILIENSI DAN KEBERHASILAN AKADEMIK SISWA Rindiyani Alfina Putri; Dahlia Dahlia; Muhamad Sholikhun
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10760

Abstract

This study aims to analyze the role of student management in shaping student resilience and academic success at MTs-MA Syubbanul Wathon Tegalrejo. This study is motivated by the need for a student management system that functions as a dormitory-based structural development system that directly produces resilience, but is able to respond to academic and psychological pressures in high-intensity Islamic boarding school-based education. This study uses a qualitative approach with an intrinsic case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The results show that student management is implemented through six integrated stages, namely planning, recruitment and admission, orientation and adjustment, placement and grouping, coaching and supervision, and evaluation and alumni services. These six stages do not operate solely as administrative procedures, but as an integrated dormitory-based development system that directly shapes student resilience. Resilience develops through structured adaptive pressures, control of daily activities, and support from the Islamic boarding school environment, which impact the stability of student learning motivation and academic achievement. These findings confirm that student management operates as a structural mechanism in producing resilience and academic success simultaneously. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis peran manajemen peserta didik dalam membentuk resiliensi dan keberhasilan akademik siswa di MTs–MA Syubbanul Wathon Tegalrejo. Studi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan sistem pengelolaan peserta didik yang berfungsi sebagai sistem pembinaan struktural berbasis asrama yang secara langsung berperan dalam membentuk resiliensi, tetapi mampu merespons tekanan akademik dan psikologis dalam pendidikan berbasis pesantren berintensitas tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen peserta didik diimplementasikan melalui enam tahapan terintegrasi, yaitu perencanaan, rekrutmen dan penerimaan, orientasi dan penyesuaian, penempatan dan pengelompokan, pembinaan dan pengawasan, serta evaluasi dan layanan alumni. Keenam tahapan tersebut tidak beroperasi sebagai prosedur administratif semata, tetapi sebagai sistem pembinaan terpadu berbasis asrama yang secara langsung membentuk resiliensi peserta didik. Resiliensi berkembang melalui tekanan adaptif yang terstruktur, kontrol aktivitas harian, dan dukungan lingkungan pesantren, yang berdampak pada stabilitas motivasi belajar dan capaian akademik siswa. Temuan ini menegaskan bahwa manajemen peserta didik beroperasi sebagai mekanisme struktural dalam menghasilkan resiliensi dan keberhasilan akademik secara simultan.
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA MADRASAH DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA ERA DIGITAL DI MTSN 1 MERANGIN Uci Armaini; Febriona Maharani Ariqah; Wisnarni Wisnarni
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10762

Abstract

This study aims to examine in-depth the transformational leadership practices of madrasah principals in strengthening character education amidst the dynamics of the digital era, focusing on MTsN 1 Merangin. The urgency of this research is based on the acceleration of educational digitalization, which has not only transformed learning systems and methods but also created new challenges related to the moral and ethical development of students. This research employed a qualitative approach through a case study design. The research informants consisted of the madrasah principal, several teachers, and student representatives. Data were obtained through field observations, in-depth interviews, and document reviews. They were then analyzed through data organization, reduction, interpretation, and verification using triangulation techniques to ensure validity. The research findings indicate that the madrasah principal applies a visionary, inspirational, and collaborative leadership style in integrating character building with the use of learning technology. These practices are realized through the instilling of religious values, modeling digital ethics, and providing coaching-based academic supervision. The use of technology has been proven to support the effectiveness of the learning process, but also presents new issues such as challenges in controlling students' digital behavior and a decrease in sensitivity to media ethics. This study confirms that the synergy between transformational leadership, participatory supervision, and the internalization of Islamic values ​​is a crucial foundation for building a technology-based educational management system that remains oriented toward character formation. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji secara mendalam praktik kepemimpinan transformasional kepala madrasah dalam memperkuat pendidikan karakter di tengah dinamika era digital, dengan mengambil studi di MTsN 1 Merangin. Urgensi penelitian ini dilandasi oleh percepatan digitalisasi pendidikan yang tidak hanya mengubah sistem dan metode pembelajaran, tetapi juga memunculkan tantangan baru terkait pembinaan moral dan etika peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui desain studi kasus. Informan penelitian terdiri atas kepala madrasah, sejumlah guru, serta perwakilan siswa. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis melalui proses pengorganisasian data, reduksi, interpretasi, dan verifikasi temuan dengan teknik triangulasi guna memastikan validitasnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kepala madrasah menerapkan pola kepemimpinan yang visioner, inspiratif, dan kolaboratif dalam mengintegrasikan penguatan karakter dengan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Praktik tersebut diwujudkan melalui pembiasaan nilai religius, pemberian teladan dalam etika digital, serta supervisi akademik yang bersifat pembinaan. Pemanfaatan teknologi terbukti mendukung efektivitas proses belajar, namun sekaligus menghadirkan persoalan baru seperti tantangan kontrol perilaku digital siswa dan penurunan sensitivitas etika bermedia. Studi ini menegaskan bahwa sinergi antara kepemimpinan transformasional, supervisi partisipatif, dan internalisasi nilai-nilai Islam menjadi fondasi penting dalam membangun sistem manajemen pendidikan berbasis teknologi yang tetap berorientasi pada pembentukan karakter.