cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 518 Documents
SOSIOLOGI LEMBAGA PENDIDIKAN: TRANSFORMASI KOMUNIKASI STRATEGIS DAN KETERLIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DI SMP AL-IRSYAD AL ISLAMIYAH PURWOKERTO Muryanti Muryanti; Muh. Hanif
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12868

Abstract

Islamic educational institutions are experiencing social change marked by increasing demands for transparency, reputation, and public participation in school governance. This study aims to analyze the transformation of communication strategies, patterns of stakeholder engagement, challenges encountered, and their sociological implications for institutional legitimacy at SMP Al-Irsyad Al Islamiyah Purwokerto. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were gathered through observation, in-depth interviews with 30 informants, and documentation of the school's communication media. The data were thematically analyzed through data condensation, categorization, interpretation, and verification using source and technique triangulation. The findings indicate that the school has developed a communication transformation through a hybrid model integrating digital media (WhatsApp, Instagram, Facebook, and website) with direct interpersonal communication. Stakeholder engagement is established through physical attendance at school events, academic program support, philanthropic activities, and limited decision-making forums. Challenges encountered include variations in parents' digital literacy, delayed responses, potential miscommunication, and the absence of a standardized crisis communication procedure. This study concludes that strategic communication transformation has sociological implications for fostering social trust, generating social capital, and strengthening institutional legitimacy amid educational modernization. ABSTRAK Lembaga pendidikan Islam menghadapi perubahan sosial yang ditandai oleh meningkatnya tuntutan transparansi, reputasi, dan partisipasi publik dalam tata kelola sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi strategi komunikasi, pola keterlibatan pemangku kepentingan, tantangan yang dihadapi, serta implikasi sosiologisnya terhadap pembentukan legitimasi lembaga di SMP Al-Irsyad Al Islamiyah Purwokerto. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam terhadap 30 informan, dan dokumentasi media komunikasi sekolah. Data dianalisis secara tematik melalui kondensasi data, kategorisasi, interpretasi, dan verifikasi dengan triangulasi sumber serta teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah mengembangkan transformasi komunikasi melalui model hibrida yang memadukan media digital (WhatsApp, Instagram, Facebook, dan website) serta komunikasi interpersonal langsung. Keterlibatan pemangku kepentingan terbangun melalui kehadiran fisik dalam agenda sekolah, dukungan program akademik, kegiatan filantropi, dan forum pengambilan keputusan terbatas. Kendala yang dihadapi mencakup keragaman literasi digital orang tua, keterlambatan respons pesan, potensi miskomunikasi, dan ketiadaan prosedur komunikasi krisis yang baku. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi komunikasi strategis berimplikasi sosiologis pada terciptanya kepercayaan sosial, modal sosial, dan penguatan legitimasi institusi di tengah modernisasi pendidikan.    
SOSIOLOGI LEMBAGA PENDIDIKAN: KOMUNIKASI SEBAGAI KONSTITUEN ORGANISASI (CCO) DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS KOLEKTIF PADA MADRASAH TSANAWIYAH SWASTA BERBASIS PESANTREN Ety Prasetyani; Muh. Hanif
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12869

Abstract

Pesantren-based Islamic junior high schools face major challenges in balancing traditional religious values and modern institutional demands. This study aims to examine organizational communication in shaping collective identity through the Communicative Constitution of Organization (CCO) framework. A qualitative instrumental case study design was employed across three institutions in Banyumas Raya involving thirty-six purposively selected informants. Data were collected via participant observation, semi-structured in-depth interviews, focus group discussions, and organizational documentation, followed by interactive thematic analysis using qualitative software. The findings reveal that ritualistic communication during daily communal practices serves as the primary medium for value internalization and cultural negotiation among members. Collective narratives regarding institutional independence and spiritual authority establish a shared interpretive framework across generations. Furthermore, integrating face-to-face interactions with digital media platforms produces a hybrid communication ecosystem that strengthens institutional cohesion against modernization pressures. In conclusion, collective identity is dynamically constituted through recurrent communicative practices rather than rigid structural mechanisms. Practical implications highlight the necessity of cultivating adaptive, participatory communication models rooted in religious norms. ABSTRAK Madrasah Tsanawiyah berbasis pesantren menghadapi tantangan integrasi nilai tradisi dan modernitas yang mempengaruhi kohesi institusional. Kajian ini bertujuan menganalisis komunikasi sebagai pembentuk identitas kolektif menggunakan perspektif Communicative Constitution of Organization (CCO). Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus instrumental ini dilaksanakan pada tiga madrasah di Banyumas Raya melibatkan tiga puluh enam informan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, diskusi kelompok terpumpun, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model tematik interaktif berbantuan perangkat lunak analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi ritualistik dalam peribadatan harian menjadi media utama internalisasi nilai tradisi sekaligus sarana negosiasi kultural antaranggota. Narasi kolektif mengenai kemandirian institusi dan figur otoritas spiritual memandu kerangka interpretasi bersama secara lintas generasi. Integrasi saluran tatap muka dan media digital menghasilkan ekosistem komunikasi hibrida yang memperkuat kohesi identitas di tengah modernisasi. Simpulan membuktikan bahwa identitas kolektif madrasah pesantren terbentuk secara dinamis melalui jejaring komunikasi yang berulang, bukan sekadar ketetapan struktural statis. Implikasi praktis menekankan pentingnya pengembangan model komunikasi partisipatif adaptif berbasis nilai lokal keagamaan.    
THE SIGNIFICANCE OF ENGLISH LANGUAGE PROFICIENCY IN THE AI ERA Agus Trioni Nawa; Ahmad Madkur
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12880

Abstract

The integration of artificial intelligence technologies has sparked scholarly debate regarding the necessity of human linguistic competence across globalized labor sectors. This study aims to examine employers’ institutional perceptions of the importance of English language proficiency in enhancing employment opportunities amid the rapid expansion of artificial intelligence. Employing a qualitative case study design, empirical data were gathered through semi-structured interviews with organizational leaders across four sectors: education, healthcare, public service, and banking. The thematic findings demonstrate that English remains an indispensable core competency across all examined industries, functioning alongside digital infrastructures. The education and banking sectors position English as a fundamental recruitment criterion, whereas healthcare and public service view it as a contextually valuable skill. Rather than rendering linguistic expertise obsolete, artificial intelligence tools serve as assistive mechanisms that demand active human proficiency for optimal operational prompt engineering. This study establishes that English language mastery remains a strategic socio-economic asset, reinforcing workforce competitiveness and expanding institutional career mobility in an increasingly automated global knowledge economy. ABSTRAK Integrasi teknologi kecerdasan buatan telah memicu perdebatan akademis mengenai pentingnya kompetensi linguistik manusia di berbagai sektor ketenagakerjaan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi institusional pemberi kerja mengenai pentingnya kemahiran berbahasa Inggris dalam meningkatkan peluang kerja di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Dengan menggunakan desain studi kasus kualitatif, data empiris dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pemimpin organisasi di empat sektor: pendidikan, layanan kesehatan, layanan publik, dan perbankan. Temuan tematis menunjukkan bahwa bahasa Inggris tetap menjadi kompetensi inti yang tak tergantikan di seluruh industri yang diteliti, serta berperan berdampingan dengan infrastruktur digital. Sektor pendidikan dan perbankan menempatkan bahasa Inggris sebagai kriteria perekrutan yang mendasar, sementara sektor layanan kesehatan dan layanan publik memandangnya sebagai keterampilan yang bernilai secara kontekstual. Alih-alih membuat keahlian linguistik menjadi usang, perangkat kecerdasan buatan justru berfungsi sebagai mekanisme pendukung yang menuntut kemahiran aktif manusia demi optimalisasi prompt engineering dalam operasional. Penelitian ini menegaskan bahwa penguasaan bahasa Inggris tetap menjadi aset sosial-ekonomi yang strategis, yang memperkuat daya saing tenaga kerja serta memperluas mobilitas karier institusional dalam ekonomi pengetahuan global yang semakin terotomatisasi.  
FREE CASH FLOW, KINERJA KEUANGAN, DAN NILAI PERUSAHAAN: PERAN MEDIASI KEPUTUSAN INVESTASI DAN KEBIJAKAN DIVIDEN Hazza Rafi Zulkarnain; Diana Hasyim
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12949

Abstract

Firm value in the energy sector has experienced substantial fluctuations and disparities amid varying levels of corporate cash flow and profitability. This condition is reflected in the predominance of negative free cash flow (FCF), accounting for 65.63% of observations, while 17.71% of observations still recorded dividend payments exceeding net income. This phenomenon indicates a complex mechanism linking internal financial conditions, investment decisions, dividend policy, and firm value. This study aims to examine the effects of FCF and financial performance on firm value, both directly and indirectly through investment decisions and dividend policy. A quantitative causal research design based on panel data was employed using 12 energy sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2018–2024, comprising 84 firm-year observations. The data were analyzed using panel data regression and Hayes' PROCESS Macro with 5,000 bootstrap samples. The results show that FCF has a significant negative effect on investment decisions and a negative effect on firm value at the 10% significance level. Financial performance has significant positive effects on investment decisions and dividend policy but does not directly affect firm value. Investment decisions do not mediate the effects of FCF or financial performance on firm value. In contrast, dividend policy partially mediates the effect of financial performance on firm value through a negative indirect effect. These findings highlight the importance of balancing dividend distribution with the reinvestment needs of energy companies. ABSTRAK Nilai perusahaan sektor energi mengalami fluktuasi dan disparitas yang tinggi di tengah kondisi arus kas dan profitabilitas perusahaan yang beragam. Kondisi tersebut terlihat dari dominannya free cash flow (FCF) negatif sebesar 65,63% observasi, sementara 17,71% observasi tetap membayarkan dividen melebihi laba bersih. Fenomena ini menunjukkan adanya mekanisme yang kompleks antara kondisi keuangan internal, keputusan investasi, kebijakan dividen, dan nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh FCF dan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui keputusan investasi dan kebijakan dividen. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal berbasis data panel pada 12 perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018–2024, dengan 84 observasi firm-year. Analisis dilakukan menggunakan regresi data panel dan PROCESS Macro Hayes dengan 5.000 bootstrap. Hasil menunjukkan bahwa FCF berpengaruh negatif signifikan terhadap keputusan investasi dan negatif terhadap nilai perusahaan pada tingkat signifikansi 10%. Kinerja keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan investasi dan kebijakan dividen, tetapi tidak berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan. Keputusan investasi tidak memediasi hubungan FCF maupun kinerja keuangan dengan nilai perusahaan. Sebaliknya, kebijakan dividen memediasi secara parsial pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan dengan efek tidak langsung negatif. Temuan ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara distribusi dividen dan kebutuhan reinvestasi perusahaan energi.
IMPLEMENTASI PROGRAM GEMPITA SEBAGAI UPAYA PENGUATAN KARAKTER RELIGIUS SISWA SMP NEGERI 6 SALATIGA Ahmad Khoirus Sya'bani; Wildan Fikri Ansyah; Purnomo Purnomo
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12987

Abstract

The strengthening of religious character has become an important focus in education because it plays a significant role in shaping students’ behavior, attitudes, and values within a socially and culturally diverse environment. One of the efforts undertaken by SMP Negeri 6 Salatiga is the implementation of the GEMPITA Program (Gerakan Mengkaji dan Pendalaman Kitab Suci Kita/ Movement to Study and Deepen Our Holy Scriptures), which serves as a religious habituation program for all students according to their respective faiths. This study aims to analyze the implementation of the GEMPITA Program, the forms of activities conducted, its contribution to strengthening students’ religious character, and the supporting and inhibiting factors affecting its implementation. This study employed a qualitative approach using a descriptive method. Data were collected through interviews and observations involving the principal, program coordinator, and students. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the GEMPITA Program is implemented systematically through the grouping of students based on their religion and level of ability, teacher mentoring, and monitoring through activity journals. The program contributes to strengthening religious character by enhancing religious understanding and practices, fostering worship habits, strengthening spiritual awareness, and promoting attitudes of tolerance among students from different religious backgrounds. The findings affirm that religious habituation integrated into school culture and implemented inclusively can strengthen students’ religious character while fostering mutual respect within a multireligious school environment. ABSTRAK Penguatan karakter religius menjadi salah satu fokus penting dalam pendidikan karena berperan dalam membentuk perilaku, sikap, dan nilai siswa di tengah keberagaman sosial dan budaya. Salah satu upaya yang dilakukan SMP Negeri 6 Salatiga adalah melalui Program GEMPITA (Gerakan Mengkaji dan Pendalaman Kitab Suci Kita) yang dilaksanakan sebagai program pembiasaan keagamaan bagi seluruh siswa sesuai agama yang dianut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan Program GEMPITA, bentuk kegiatan yang dilaksanakan, kontribusinya terhadap penguatan karakter religius siswa, serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi yang melibatkan kepala sekolah, koordinator program, dan siswa. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program GEMPITA dilaksanakan secara terstruktur melalui pengelompokan siswa berdasarkan agama dan tingkat kemampuan, pendampingan oleh guru, serta monitoring melalui jurnal kegiatan. Program ini berkontribusi terhadap penguatan karakter religius melalui peningkatan pemahaman dan praktik keagamaan, pembentukan kebiasaan beribadah, penguatan kesadaran spiritual, serta berkembangnya sikap toleransi antarumat beragama. Temuan penelitian menegaskan bahwa pembiasaan keagamaan yang terintegrasi dalam budaya sekolah dan dilaksanakan secara inklusif mampu memperkuat karakter religius sekaligus menumbuhkan sikap saling menghormati dalam lingkungan sekolah yang multireligius.    
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI, LINGKUNGAN KERJA, DAN INSENTIF TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN PADA KOPERASI SIMPAN PINJAM Kadek Eva Fitriani; Ni Nyoman Juli Nuryani; I Ketut Sudarnaya
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12998

Abstract

Employee job satisfaction is crucial for the sustainability of microfinance institutions in facing competition, which is highly dependent on the effectiveness of human resource management. Based on this consideration, this study was conducted to analyze the influence of organizational culture, work environment, and incentives on employee job satisfaction levels at the Manik Sedana Artha Savings and Loan Cooperative (KSP), Singaraja. This study was designed using a quantitative approach involving all 65 active cooperative staff as the population. Given the limited number, a census technique or saturated sampling was applied to ensure that all members of the population could be respondents. Primary data were collected through the distribution of structured questionnaires, then tested using multiple linear regression analysis with the help of SPSS software. Based on the partial test results, it was found that organizational culture had a positive and significant contribution of 7.91% to job satisfaction. The work environment was also proven to have a positive and significant impact with a contribution of 12.63%. Among all variables, financial incentives were the most dominant factor with a significant positive influence reaching 18.99%. When viewed together (simultaneously), these three independent variables have a significant influence with a coefficient of determination (R2) of 39.5%, while the remaining 60.5% is influenced by other factors outside this research model. This study concludes that strategic efforts to improve cooperative employee job satisfaction are highly dependent on fair incentive policies and the creation of a supportive work environment. ABSTRAK Kepuasan kerja karyawan menjadi kunci krusial bagi keberlangsungan institusi keuangan mikro dalam menghadapi persaingan, yang mana hal ini sangat bergantung pada efektivitas pengelolaan sumber daya manusianya. Berangkat dari pemikiran tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis bagaimana pengaruh budaya organisasi, lingkungan kerja, dan pemberian insentif terhadap tingkat kepuasan kerja karyawan di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Manik Sedana Artha, Singaraja. Studi ini dirancang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh staf aktif koperasi yang berjumlah 65 orang sebagai populasi. Mengingat jumlahnya yang terbatas, teknik sensus atau sampel jenuh diterapkan agar seluruh anggota populasi dapat dijadikan responden. Data primer dihimpun melalui penyebaran kuesioner terstruktur, kemudian diuji menggunakan metode analisis regresi linear berganda dengan bantuan software SPSS. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial, ditemukan bahwa budaya organisasi memberikan kontribusi positif dan signifikan sebesar 7,91% terhadap kepuasan kerja. Kondisi lingkungan kerja juga terbukti membawa dampak positif dan signifikan dengan sumbangsih pengaruh sebesar 12,63%. Di antara semua variabel, insentif finansial menjadi faktor yang paling dominan dengan pengaruh positif signifikan mencapai 18,99%. Jika dilihat secara bersama-sama (simultan), ketiga variabel independen ini memiliki pengaruh yang signifikan dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 39,5%, sementara 60,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya strategis untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawan koperasi sangat bergantung pada kebijakan insentif yang adil serta penciptaan suasana kerja yang mendukung.
KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK STRESS INOCULATION TRAINING UNTUK MENGURANGI ACADEMIC BURNOUT MAHASISWA Silvia Lagebada; Ikhlas Rasido; Hasan Hasan; Dian Fitriani
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.13223

Abstract

Academic burnout is a significant problem that can interfere with students’ academic engagement and functioning in responding to academic demands. This condition requires an intervention that not only reduces academic pressure but also equips students with adaptive stress-management skills. This study aimed to examine the effectiveness of group counseling based on Cognitive Behavioral Therapy (CBT) combined with Stress Inoculation Training (SIT) in reducing academic burnout among university students. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental Non-Equivalent Control Group Design. The participants were 12 students from the Guidance and Counseling Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, Tadulako University, selected through purposive sampling based on an initial screening of 62 students and divided into an experimental group and a control group, with six students in each group. The experimental group received five sessions of CBT-based group counseling incorporating SIT, while the control group received conventional group counseling. Data were collected using the Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) and analyzed using the Mann-Whitney U test. The results showed that the mean academic burnout score in the experimental group decreased from 76.00 to 49.17, while the control group decreased from 66.50 to 55.33. The Mann-Whitney U test yielded an Asymp. Sig. value of 0.031 (< 0.05), indicating a significant difference between the two groups following the intervention. Therefore, CBT-based group counseling incorporating SIT was more effective in reducing academic burnout than conventional group counseling. ABSTRAK Academic burnout merupakan permasalahan yang dapat mengganggu keterlibatan dan keberfungsian mahasiswa dalam memenuhi tuntutan akademik. Kondisi tersebut memerlukan intervensi yang tidak hanya mengurangi tekanan akademik, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan mengelola stres secara adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan konseling kelompok berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan teknik Stress Inoculation Training (SIT) dalam mengurangi academic burnout mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental Non-Equivalent Control Group Design. Subjek penelitian berjumlah 12 mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Tadulako yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan hasil skrining terhadap 62 mahasiswa, kemudian dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, masing-masing enam mahasiswa. Kelompok eksperimen memperoleh konseling kelompok berbasis CBT dengan teknik SIT dalam lima sesi, sedangkan kelompok kontrol memperoleh konseling kelompok konvensional. Data dikumpulkan menggunakan skala Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) dan dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor academic burnout kelompok eksperimen menurun dari 76,00 menjadi 49,17, sedangkan kelompok kontrol menurun dari 66,50 menjadi 55,33. Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan nilai Asymp. Sig. sebesar 0,031 (< 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok setelah intervensi. Dengan demikian, konseling kelompok berbasis CBT dengan teknik SIT lebih efektif dalam mengurangi academic burnout dibandingkan konseling kelompok konvensional.
EFEKTIVITAS ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM SISWA Adisty Sefanny; Ridwan Syahran; Munifah Munifah; Micha Felayati Silalahi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.13224

Abstract

Suboptimal self-esteem among students may be reflected in feelings of inferiority, reluctance to express opinions, social withdrawal, and a tendency to compare themselves with peers. These conditions were identified among several students at SMK Negeri 8 Palu, indicating the need for an appropriate intervention through guidance and counseling services. This study aimed to determine students' levels of self-esteem before and after receiving group guidance using the role-playing technique and to examine the effectiveness of the technique in improving students' self-esteem. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The participants were 10 students selected through purposive sampling based on identification by the school's Guidance and Counseling teacher. Data were collected using a Likert-scale self-esteem questionnaire with a Cronbach's Alpha reliability coefficient of 0.946. Data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro-Wilk test, and a paired sample t-test. The results showed that at the pretest stage, all students (100%) were in the moderate category. After three sessions of group guidance using the role-playing technique, 8 students (80%) reached the high category, while 2 students (20%) remained in the moderate category. The paired sample t-test yielded a t-value of 14.029 with a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference in students' self-esteem scores before and after the intervention. Therefore, group guidance using the role-playing technique was effective in improving students' self-esteem at SMK Negeri 8 Palu and can serve as an alternative intervention in school guidance and counseling services. ABSTRAK Self-esteem yang belum optimal dapat ditunjukkan melalui sikap minder, kurang berani mengemukakan pendapat, menutup diri, dan mudah membandingkan diri dengan teman sebaya. Kondisi tersebut ditemukan pada sebagian siswa SMK Negeri 8 Palu sehingga diperlukan intervensi melalui layanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat self-esteem siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing serta menguji efektivitas teknik tersebut dalam meningkatkan self-esteem siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one-group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 10 siswa yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan hasil identifikasi guru Bimbingan dan Konseling. Data dikumpulkan menggunakan angket self-esteem skala Likert dengan reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,946. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, dan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pretest seluruh siswa (100%) berada pada kategori sedang. Setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing selama tiga pertemuan, sebanyak 8 siswa (80%) berada pada kategori tinggi dan 2 siswa (20%) tetap berada pada kategori sedang. Hasil paired sample t-test menunjukkan nilai t = 14,029 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor self-esteem sebelum dan sesudah intervensi. Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan self-esteem siswa SMK Negeri 8 Palu dan dapat menjadi salah satu alternatif intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling.
INOVASI MEDIA ICT DETEKSI WAJAH UNTUK PRESENSI DIGITAL MAHASISWA: ANALISIS AKURASI DAN PERFORMA Wawan Sismadi; Abdul Manan; Estuti Fitri Hartini
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.13792

Abstract

ABSTRACT The digital transformation of higher education demands ICT-based learning media innovations that support accurate, efficient, and contactless classroom governance, particularly in student attendance validation. This study analyzes the accuracy and performance of two web-based face detection libraries, OpenCV.js and face-api.js, as ICT media for student digital attendance processed entirely on the client side without biometric data transmission, in line with the privacy-by-design principle. The method employed is a controlled laboratory experiment with a 36-scenario factorial design: three lighting levels (100, 300, 500 lux) × four pose angles (0°, 15°, 30°, 45°) × three device tiers (low-end, mid-range, high-end), involving 50 student participants aged 18–19 years. Results across 180 observations per library show that face-api.js excels in detection accuracy (recall 97.8%; F1-Score 98.9%) compared to OpenCV.js (recall 81.7%; F1-Score 89.9%), while OpenCV.js excels in speed (latency 163.5 ms; FPS-eq 6.1) compared to face-api.js (269.5 ms; FPS-eq 3.7). Both libraries achieved 100% precision in a closed-set scenario with latency well below 500 ms, validating technical feasibility as a Proof of Concept at Technology Readiness Level 3. Both client-side pathways were 1.65–2.51 times faster than the server-side baseline (410.1 ms). These findings contribute to lightweight, cost-effective, and privacy-oriented ICT learning media for digital attendance in higher education. ABSTRAK Transformasi digital pendidikan tinggi menuntut inovasi media ICT yang mendukung tata kelola pembelajaran secara lebih akurat, efisien, dan nirkontak, khususnya dalam validasi kehadiran mahasiswa. Penelitian ini menganalisis akurasi dan performa dua pustaka deteksi wajah berbasis web, yaitu OpenCV.js dan face-api.js, sebagai media ICT presensi digital mahasiswa yang diproses sepenuhnya di sisi klien (client-side) tanpa transmisi data biometrik, sejalan dengan prinsip privacy-by-design. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium terkendali dengan desain faktorial 36 skenario: tiga tingkat pencahayaan (100, 300, 500 lux) × empat sudut pose (0°, 15°, 30°, 45°) × tiga kelas perangkat (low-end, mid-range, high-end), dengan 50 mahasiswa berusia 18–19 tahun sebagai partisipan. Hasil pengujian pada 180 observasi per pustaka menunjukkan bahwa face-api.js unggul dalam akurasi deteksi (recall 97,8%; F1-Score 98,9%) dibandingkan OpenCV.js (recall 81,7%; F1-Score 89,9%), sementara OpenCV.js unggul dalam kecepatan (latensi 163,5 ms; FPS-eq 6,1) dibandingkan face-api.js (269,5 ms; FPS-eq 3,7). Kedua pustaka mencatat precision 100% dalam skenario closed-set dan latensi jauh di bawah 500 ms, memvalidasi kelayakan teknis sebagai Proof of Concept TKT Level 3. Kedua jalur client-side juga 1,65–2,51 kali lebih cepat daripada baseline server-side (410,1 ms). Temuan ini berkontribusi pada pengembangan media ICT pembelajaran yang ringan, hemat biaya, dan berorientasi privasi bagi presensi digital di perguruan tinggi.
EVALUASI KEAMANAN PROMPT DALAM INTERAKSI MANUSIA DAN AI: STUDI KASUS PADA MODEL GPT-4 Herman Santoni
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.13904

Abstract

ABSTRACT The rapid development of generative artificial intelligence, particularly language models such as GPT-4, has transformed human–machine interaction through the use of prompts across various contexts. However, the adaptive capabilities of these models introduce security challenges, particularly those involving prompt injection, output manipulation, behavioral constraint bypassing, and potential data breaches. This study aims to analyze the security dimensions of prompt-based interaction with GPT-4 and to identify its vulnerabilities and the effectiveness of the implemented mitigation mechanisms. A case study method was employed through several stages, including the design and testing of various types of manipulative prompts, observation of model responses, identification of deviations from security constraints, and evaluation of the available security filters and behavioral restrictions. The findings indicate that security filters and behavioral constraints implemented in GPT-4 can reduce certain risks associated with harmful interactions, but they do not completely prevent more sophisticated prompt-engineering strategies. These vulnerabilities demonstrate that the security of language-model-based systems cannot rely solely on built-in protection mechanisms but requires layered risk mitigation strategies, continuous security evaluation, and improved user awareness. The study concludes that strengthening security frameworks, conducting systematic testing against manipulative scenarios, and promoting safe and ethical AI usage practices are necessary to improve the resilience of prompt-based AI systems. ABSTRAK Perkembangan kecerdasan buatan generatif, khususnya model bahasa seperti GPT-4, telah mengubah pola interaksi manusia dan mesin melalui penggunaan perintah (prompt) dalam berbagai konteks. Namun, kemampuan model dalam memahami dan menghasilkan respons secara adaptif menimbulkan tantangan keamanan, terutama terkait injeksi perintah, manipulasi keluaran, pengabaian batasan perilaku, dan potensi pelanggaran data. Penelitian ini bertujuan menganalisis dimensi keamanan interaksi berbasis perintah pada GPT-4 serta mengidentifikasi kerentanan dan efektivitas mekanisme mitigasi yang diterapkan. Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan tahapan berupa perancangan dan pengujian berbagai jenis perintah manipulatif, pengamatan terhadap respons model, identifikasi bentuk penyimpangan dari batasan keamanan, serta evaluasi terhadap filter dan mekanisme pembatasan perilaku yang tersedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan filter keamanan dan pembatasan perilaku pada GPT-4 mampu mengurangi sebagian risiko interaksi berbahaya, tetapi belum sepenuhnya mencegah strategi rekayasa perintah yang lebih kompleks. Kerentanan tersebut menunjukkan bahwa keamanan sistem berbasis model bahasa tidak hanya bergantung pada mekanisme perlindungan bawaan, tetapi juga memerlukan strategi mitigasi berlapis, evaluasi keamanan secara berkelanjutan, dan peningkatan kesadaran pengguna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan kerangka kerja keamanan, pengujian terhadap skenario manipulatif, dan penerapan praktik penggunaan AI yang aman dan etis diperlukan untuk meningkatkan ketahanan sistem AI berbasis perintah.