cover
Contact Name
debie anggraini
Contact Email
scientificj.id@gmail.com
Phone
+6281277167619
Journal Mail Official
scientific.journal@scientic.id
Editorial Address
Jalan Khatib Sulaiman, Kel. Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Scientific Journal
ISSN : 28100204     EISSN : 28100204     DOI : https://doi.org/10.56260/sciena
Core Subject : Health, Science,
Scientific Journal(SCIENA) published by an official of Scientific.id_considers the following types of original contribution for peer review and publication: Research Articles, Review Articles, Letters to Editor, Brief Communications, Case Reports, Book Reviews, Technological Reports, and Opinion Articles. It Is published six times a year and serves the need of scientific and non-scientific personals involved/interested in Natural Science (Physics, Chemistry, Electronics, Mathematics, Astronomy, Oceanography, Engineering), Social Science, Economics, Biology and Medicine. Each issue covers topics, which are of broad readership interest to personals from General Public, Industry, Clinicians, Academia, and Government. Scientic Journal is a must read journal for every one with curiosity in science.
Articles 234 Documents
Hemoroid : Tinjauan Komprehensif Mengenai Epidemiologi, Patogenesis, Diagnosis, dan Tatalaksana Rika Amran; Naufal Hanip Hidayatullah; Zukhri Zainun; Fidiariani Sjaaf; Sri Wahyuni
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.353

Abstract

Hemoroid merupakan salah satu penyakit anorektal yang paling sering ditemukan pada praktik klinis dan menjadi penyebab utama keluhan perdarahan rektal pada populasi dewasa. Kondisi ini ditandai oleh pembesaran dan prolaps bantalan vaskular anorektal yang dapat menyebabkan perdarahan, nyeri, gatal, serta ketidaknyamanan saat defekasi. Berbagai faktor risiko seperti konstipasi kronis, kebiasaan mengejan, obesitas, kehamilan, kurang aktivitas fisik, dan usia lanjut berperan dalam perkembangan hemoroid. Artikel ini bertujuan meninjau secara komprehensif aspek anatomi dan fisiologi anorektal, epidemiologi, klasifikasi, faktor risiko, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, serta tatalaksana hemoroid berdasarkan literatur ilmiah terkini. Metode yang digunakan berupa narrative review melalui telaah berbagai artikel ilmiah, buku referensi, dan pedoman klinis yang relevan. Hasil telaah menunjukkan bahwa hemoroid merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan kelemahan jaringan penyangga bantalan anus dan gangguan hemodinamik pada pleksus hemoroidalis. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang pada kondisi tertentu. Penatalaksanaan hemoroid meliputi modifikasi gaya hidup, terapi farmakologis, tindakan minimal invasif, hingga pembedahan sesuai derajat penyakit. Pencegahan melalui perbaikan pola hidup memiliki peran penting dalam mengurangi kejadian maupun kekambuhan hemoroid.
Hubungan Fungsi Keluarga dengan Perilaku Self-Harm pada Remaja di Salah Satu SMA Kota Padang Meisya Jovanka Syahara; Rini Gusya Liza; Noverika Windasari; Eldi Sauma; Siti Nurhajjah; Rahmat Syawqi
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.355

Abstract

Latar belakang: Self-harm pada remaja merupakan masalah kesehatan mental yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan tekanan emosional, kesulitan regulasi emosi, dan faktor lingkungan keluarga. Keluarga berperan dalam menyediakan komunikasi, dukungan emosional, keterlibatan, dan pengaturan perilaku yang dapat membantu remaja menghadapi stres. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi keluarga dengan perilaku self-harm pada remaja di salah satu SMA Kota Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 269 siswa kelas X dan XI yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Fungsi keluarga diukur menggunakan Family Assessment Device, sedangkan perilaku self-harm diukur menggunakan Self-Harm Inventory. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Fisher Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Perilaku self-harm ditemukan pada 68 responden (25,3%), terdiri atas self-harm ringan 61 responden (22,7%) dan self-harm berat 7 responden (2,6%). Dimensi fungsi keluarga yang mayoritas berada pada kategori baik adalah pemecahan masalah (63,2%), komunikasi (59,5%), peran (57,6%), keterlibatan afektif (55,8%), dan fungsi umum (54,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan bermakna antara perilaku self-harm dengan pemecahan masalah (p=0,029), komunikasi (p=0,028), dan keterlibatan afektif (p=0,049). Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara beberapa dimensi fungsi keluarga dengan perilaku self-harm pada remaja di salah satu SMA Kota Padang.
Pola Kuman dan Sensitivitas Antimikroba Infeksi CDL pada Pasien Hemodialisis di RSUP Dr. M. Djamil Jen Hendriman; Vendry Rivaldy; Harnavi Harun; Drajad Priyono; Deka Viotra
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.356

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan catheter double lumen (CDL) sebagai akses vaskular pada pasien hemodialisis masih sering diperlukan, terutama pada kondisi yang membutuhkan akses segera. Namun, penggunaan CDL berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi terkait kateter yang dapat menyebabkan bakteremia, sepsis, peningkatan biaya perawatan, serta mortalitas pasien. Pola kuman dan sensitivitas antimikroba antar layanan kesehatan menyebabkan data lokal sangat diperlukan untuk menentukan terapi empiris yang tepat. Hingga saat ini, data pola kuman dan sensitivitas antimikroba pada infeksi terkait CDL di RSUP Dr. M. Djamil Padang masih terbatas. Tujuan: Mengetahui pola kuman dan sensitivitas antimikroba pada kasus infeksi terkait CDL pada pasien yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian deskriptif dengan desain retrospektif dilakukan menggunakan data rekam medis dan hasil pemeriksaan mikrobiologi pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dengan CDL selama periode Januari–Juni 2023. Sampel dipilih menggunakan metode total sampling dan diperoleh 70 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Data kultur darah perifer, kultur ujung kateter, dan kultur sekret purulen dianalisis untuk mengidentifikasi pola kuman serta sensitivitas antimikroba. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (62,9%). Kuman yang paling sering ditemukan adalah Staphylococcus aureus (18,6%), diikuti Pseudomonas aeruginosa (17,1%), Staphylococcus epidermidis (15,7%), Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) (14,3%), dan Enterobacter cloacae complex (12,9%). Secara keseluruhan, bakteri Gram positif mendominasi pola kuman. Staphylococcus aureus menunjukkan sensitivitas terhadap gentamisin, siprofloksasin, levofloksasin, moksifloksasin, eritromisin, klindamisin, vankomisin, tetrasiklin, dan trimetoprim/sulfametoksazol. Kesimpulan: Staphylococcus aureus merupakan kuman tersering pada infeksi terkait CDL pada pasien hemodialisis di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Dominasi bakteri Gram positif serta pola sensitivitas yang masih baik terhadap beberapa antibiotik utama dapat menjadi dasar dalam pemilihan terapi empiris dan penyusunan strategi pengendalian infeksi di unit hemodialisis.
Opioid-Free Anesthesia: Current Evidence, Clinical Applications, and Future Perspectives Rialta Hamda; Rahma Yulia Putri; Annisa Lidra Maribeth
Scientific Journal Vol. 5 No. 4 (2026): SCIENA Volume V No 4, July 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i4.357

Abstract

Background: Opioid-Free Anesthesia (OFA) has emerged as a revolutionary paradigm utilizing non-opioid multimodal analgesia to achieve stable nociceptive control without intraoperative opioids. This review evaluates the clinical evidence, practical applications, and implementation challenges of OFA. Methods: A comprehensive literature review was conducted across PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar, selecting randomized controlled trials (RCTs) from the last five years. Data extracted included study designs, surgical typologies, pharmacological regimens, and clinical outcomes. Results: OFA provides non-inferior intraoperative stability and analgesia while significantly enhancing recovery scores, sleep quality, and PONV reduction. However, its efficacy is surgical-specific: it markedly reduces morphine needs in visceral procedures (bariatric/colorectal) but offers no advantage over optimized opioid-sparing anesthesia in musculoskeletal surgeries like total hip arthroplasty. Furthermore, high-dose non-opioid adjuncts introduce challenges like prolonged extubation, increased PACU stay, and sympathetic fluctuations. Conclusion: OFA is a safe and effective technique that minimizes opioid-related complications and improves recovery, particularly for high-risk patients and oncological surgeries. However, its benefits are surgical-specific and not universally superior to optimized Opioid-Sparing Anesthesia (OSA). Future universal adoption requires standardized dosing and objective monitoring (pEEG and Surgical Pleth Index) to ensure predictable recovery.
Penerapan Sigma Metrics untuk Peningkatan Kontrol Kualitas Laboratorium Yessi Ekawati; Donaliazarti
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.360

Abstract

Sigma metrics merupakan bagian dari Pemantauan Mutu Internal laboratorium, yang dapat mengukur tampilan proses dan outcome yang dihasilkan laboratorium secara kuantitatif. Sigma metrics dapat mengukur error yang terjadi persatu juta peluang. Sigma metrics dapat mengukur proses analitik, dengan mengukur koefisien variasi, bias, dan Total allowable error (TAE). Sigma yang diharapkan adalah six sigma atau lebih, yang menjamin hanya 3,4 error persatu juta peluang dan merupakan world class quality.. . Proses pemberian masukan dilakukan untuk perbaikan kualitas jika sigma kurang dari enam..Laboratorium dengan six sigma dapat membuat perencanaan kontrol kualitas yang baru dengan aturan Westgard yang lebih longgar sehingga dapat mengurangi pemakaian bahan kontrol dan kalibrator. Hal ini sangat bermanfaat untuk efisiensi biaya laboratorium. Hasil six sigma dapat memberikan kepercayaan bagi klinisi dan pasien, meningkatkan efektivitas penggunaan kontrol dan kalibrator laboratorium, serta peningkatan kontrol kualitas laboratorium
Hubungan Aktivitas Fisik dan Profil Lipid dengan Kategori Risiko Penyakit Kardiovaskular Aterosklerotik Berdasarkan ASCVD Risk Score Bun Yurizali; Nurmaines Adhyka; Muhammad Reyhan Febrian; Nana Liana
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.362

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular aterosklerotik (Atherosclerotic Cardiovascular Disease/ASCVD) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Aktivitas fisik dan profil lipid merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, namun bukti mengenai hubungannya dengan kategori risiko ASCVD pada pasien rawat jalan di Indonesia masih terbatas.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan aktivitas fisik dan profil lipid (HDL dan LDL) dengan kategori risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik berdasarkan ASCVD Risk Score pada pasien rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 70 pasien rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi. Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), sedangkan kadar HDL dan LDL diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium. Risiko penyakit kardiovaskular dinilai menggunakan ASCVD Risk Score dan dikategorikan menjadi risiko rendah, borderline, sedang, dan tinggi. Analisis bivariat menggunakan uji Spearman Rank, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ordinal dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Analisis bivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik berhubungan negatif secara bermakna dengan kategori risiko ASCVD (r = –0,465; p < 0,001), demikian pula kadar HDL (r = –0,317; p = 0,007). Sebaliknya, kadar LDL tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kategori risiko ASCVD (r = 0,143; p = 0,236). Hasil analisis regresi logistik ordinal menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan kadar HDL tetap berhubungan secara signifikan terhadap kategori risiko ASCVD, sedangkan kadar LDL tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan: Aktivitas fisik dan kadar HDL merupakan faktor yang berhubungan dengan kategori risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik berdasarkan ASCVD Risk Score pada pasien rawat jalan. Peningkatan aktivitas fisik dan optimalisasi kadar HDL perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan primer penyakit kardiovaskular di fasilitas pelayanan kesehatan.
Hubungan Jenis Arthritis dengan Intensitas Nyeri Putri Sinthya Nirwana; Yuliza Birman; Yuri Haiga
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.364

Abstract

Latar Belakang: Arthritis merupakan penyakit muskuloskeletal dengan prevalensi tinggi yang mencakup osteoarthritis, gout arthritis, dan rheumatoid arthritis, serta sering menimbulkan keluhan utama berupa nyeri. Perbedaan patofisiologi pada masing-masing jenis arthritis diduga menyebabkan variasi intensitas nyeri yang dirasakan pasien dan berdampak pada aktivitas serta kualitas hidup.  Tujuan: Untuk mengetahui hubungan jenis arthritis dengan intensitas nyeri. Metode: Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit Saraf dan Ilmu Anatomi Kedokteran. Penelitian ini menggunakan metode observasi analitik dengan desain cross-sectional. Penelitian ini dimulai dari bulan April sampai November 2025. Populasi terjangkau pada penelitian adalah semua pasien arthritis yang melakukan kunjungan atau menerima pelayanan pengobatan di Puskesmas Lubuk Buaya Padang selama periode 2023-2024. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, besar sampel menggunakan rumus analisis kategorik tidak berpasangan dengan jumlah sampel sebanyak 369 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diambil dari rekam medik pasien Puskesmas Lubuk Buaya Padang. Pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi terbaru. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji likehood ratio. Hasil: Berdasarkan penelitian, pasien arthritis paling banyak dengan rentang umur 60-74 tahun (49,3%), berejenis kelamin perempuan (64,5%), dan tidak bekerja (64,8%). Lokasi nyeri sendi terbanyak di lutut (30,4%), dengan jenis obat NSAID terbanyak yaitu asam dikofenak (80,2%), sedangkan jenis arthritis terbanyak  gout arthritis (72,9%), lalu Intensitas nyeri terbanyak nyeri ringan (71.5%). Hasil uji statistik likelihood ratio menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis arthritis dengan intensitas nyeri (p = 0,144).  Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara jenis arthritis dengan intensitas nyeri pada pasien arthritis di Puskesmas Lubuk Buaya tahun 2023-2024
A Triangular Cut for Premaxillary Setback on Severe Crooked Protusio Maxilla Congenital with Cleft Lip Bilateral : A Case Report Fory Fortuna; Intan Rahmi Nasya
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.367

Abstract

Latar Belakang: Celah bibir dan lelangit bilateral seringkali disertai komplikasi berupa protrusi rahang atas bawaan yang signifikan, yang disebabkan oleh perkembangan yang tidak terkendali pada sutura vomeromaksilaris dan septum hidung anterior. Deformitas kerangka yang berat ini menjadi tantangan rekonstruksi yang cukup besar dalam membangun kontinuitas otot, mencapai fusi bibir yang stabil, dan mengoptimalkan estetika nasolabial. Meskipun intervensi ortopedi praoperasi seperti pembentukan nasoalveolar sering digunakan, teknik bedah seperti osteotomi premaksilaris atau setback primer tetap menjadi alternatif klinis yang penting. Namun, waktu yang optimal untuk intervensi ini dan efek jangka panjangnya terhadap pertumbuhan maksilofasial masih menjadi topik perdebatan yang berkelanjutan. Kasus: Bayi perempuan berusia 9 bulan datang dengan deformitas nasolabial kompleks, protrusi premaksila yang persisten, dan bibir sumbing bilateral. Pasien memiliki riwayat bedah labiaplasti bilateral sebelumnya. Karena inkompetensi bibir yang berat dan premaksila yang menonjol, intervensi bedah lanjutan diindikasikan. Di bawah anestesi umum, pasien berhasil menjalani prosedur setback premaksila satu tahap dengan design segitiga untuk menyesuaikan kondisi bengkok, yang dikombinasikan dengan prosedur flap lanjutan untuk mengembalikan segmen yang menonjol ke posisi semula. Diskusi: Pendekatan bedah ini sejalan dengan paradigma bedah kontemporer yang mengintegrasikan setback premaksila dan osteotomi vomer posterior ke dalam satu prosedur tahap tunggal. Mempertahankan suplai vaskular selama mobilisasi segmen sangat penting untuk memastikan keamanan dan keefektifan teknik ini. Keputusan untuk melakukan intervensi bedah dini memerlukan keseimbangan klinis yang cermat, dengan mempertimbangkan manfaat estetika dan fungsional jangka pendek terhadap potensi implikasi skeletal jangka panjang. Oleh karena itu, pengelolaan multidisiplin yang komprehensif, dengan penekanan pada pemantauan sefalometri longitudinal dan perawatan ortodontik dini, sangatlah penting untuk hasil optimal bagi pasien. Kesimpulan: Setback premaksila dengan dengan design segitiga merupakan modalitas bedah yang terbukti aman dan sangat efektif untuk mengoreksi protrusi maksila kongenital berat pada kelainan bibir sumbing bilateral, terutama ketika terapi ortopedi pra-bedah tidak dapat dilakukan secara klinis.
Kontraktur Sendi pada Pasien Riwayat Luka Bakar Deddy Saputra
Scientific Journal Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i3.368

Abstract

Kontraktur sendi pasca luka bakar terjadi akibat pemendekan dan pengerasan jaringan parut selama proses penyembuhan, yang sering melibatkan fase inflamasi, proliferasi, kontraksi, dan remodeling. Di negara berkembang seperti Indonesia, keterbatasan akses rehabilitasi dan tindak lanjut yang kurang optimal meningkatkan risiko kontraktur permanen. Tulisan ini bertujuan mengkaji definisi, patofisiologi, klasifikasi, pencegahan, dan terapi kontraktur sendi pada pasien riwayat luka bakar untuk memperkuat dasar ilmiah dalam peningkatan pelayanan dan pencegahan kecacatan jangka panjang. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka dari sumber primer dan sekunder terkini, termasuk pedoman WHO, jurnal bedah plastik rekonstruksi, serta studi lokal dan internasional tentang evaluasi dan manajemen kontraktur. Kontraktur dapat diklasifikasi menjadi ekstrinsik dan intrinsik, serta menurut jaringan penyebab (dermogen, tendogen, arthrogen). Penatalaksanaan meliputi pencegahan primer hingga tersier: pembidaian, posisi preventif, latihan rentang gerak, terapi tekanan, pijat, dan pelembap. Bila kontraktur sudah terbentuk, intervensi operatif seperti Z-plasty, skin graft, flap lokal atau free flap, serta ekspansi jaringan menjadi pilihan, didukung rehabilitasi multidisiplin. Pendekatan multidisiplin yang dimulai sejak fase akut luka bakar krusial untuk mencegah kontraktur. Intervensi pencegahan dan kuratif yang tepat waktu dapat meminimalkan disabilitas jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Hubungan Risiko Kerentaan Oral dengan Status Nutrisi pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Fredia Heppy; Efriza; Natasya Syifa Anugrah
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.373

Abstract

Latar Belakang: Proses penuaan pada lansia sering disertai dengan penurunan fungsi rongga mulut yang dikenal sebagai kerentaan oral. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan mengunyah dan menelan sehingga berpotensi menurunkan asupan makanan dan berdampak pada status nutrisi lansia. Lansia yang tinggal di panti sosial memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan oral dan gangguan nutrisi, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara kedua kondisi tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan risiko kerentaan oral dengan status nutrisi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 54 lansia yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Risiko kerentaan oral dinilai menggunakan Oral Frailty Index-8 (OFI-8), sedangkan status nutrisi dinilai menggunakan Mini Nutritional Assessment (MNA). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden berisiko mengalami kerentaan oral (83,3%) dan mengalami gangguan nutrisi (72,2%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara risiko kerentaan oral dengan status nutrisi pada lansia (p-value = 0,000). Lansia yang berisiko mengalami kerentaan oral sebagian besar memiliki gangguan nutrisi (70,4%), sedangkan lansia yang tidak berisiko sebagian besar memiliki status nutrisi normal. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara risiko kerentaan oral dengan status nutrisi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin. Oleh karena itu, diperlukan upaya penapisan dan intervensi dini terhadap kesehatan rongga mulut dan status nutrisi guna meningkatkan kualitas hidup lansia.

Filter by Year

2022 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 4 (2026): SCIENA Volume V No 4, July 2026 Vol. 5 No. 3 (2026): SCIENA Volume V No 3, May 2026 Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026 Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026 Vol. 4 No. 6 (2025): SCIENA Volume IV No 6, November 2025 Vol. 4 No. 5 (2025): SCIENA Volume IV No 5, September 2025 Vol. 4 No. 4 (2025): SCIENA Volume IV No 4, July 2025 Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025 Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025 Vol. 4 No. 1 (2025): SCIENA Volume IV No 1, January 2025 Vol. 3 No. 6 (2024): SCIENA Volume III No 6, November 2024 Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024 Vol. 3 No. 4 (2024): SCIENA Volume III No 4, July 2024 Vol. 3 No. 3 (2024): SCIENA Volume III No 3, May 2024 Vol. 3 No. 2 (2024): SCIENA Volume III No 2, March 2024 Vol. 3 No. 1 (2024): SCIENA Volume III No 1, January 2024 Vol. 2 No. 6 (2023): SCIENA Volume II No 6, November 2023 Vol. 2 No. 5 (2023): SCIENA Volume II No 5, September 2023 Vol. 2 No. 4 (2023): SCIENA Volume II No 4, July 2023 Vol. 2 No. 3 (2023): SCIENA Volume II No 3, May 2023 Vol. 2 No. 2 (2023): SCIENA Volume II No 2, Maret 2023 Vol. 2 No. 1 (2023): SCIENA Volume II No 1, January 2023 Vol. 1 No. 6 (2022): SCIENA Volume I No 6, November 2022 Vol. 1 No. 5 (2022): SCIENA Volume I No 5, September 2022 Vol. 1 No. 4 (2022): SCIENA Volume I No 4, July 2022 Vol. 1 No. 3 (2022): SCIENA Volume I No 3, May 2022 Vol. 1 No. 2 (2022): SCIENA Volume I No 2, March 2022 Vol. 1 No. 1 (2022): SCIENA Volume I No 1, January 2022 More Issue