cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 124 Documents
GANGGUAN MOOD PADA ANAK DENGAN IBU KEPRIBADIAN AMBANG: LAPORAN KASUS NEGARA, NI WAYAN WIRAYANTI PUTRI; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH; WINDIANI, I GUSTI AYU TRISNA; ADNYANA, I GUSTI AGUNG NGURAH SUGITHA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4355

Abstract

ABSTRACT Childhood is an important phase in personality formation, but it is often accompanied by psychological problems that affect child development. Child development is greatly influenced by various factors, including parenting patterns. Data in this case study were obtained through in-depth interviews, medical records and psychometric examinations and projection tests aimed at seeing how mood disorders in children who have mothers with borderline personality. The patient is a 9-year-old boy who shows symptoms of aggression, hallucinations, unstable moods, and feelings of emptiness and loneliness. The child in this case shows problems with emotional dysregulation due to inconsistent parenting and environmental stress. The patient's mother has a borderline personality characterized by difficulty controlling emotions, extreme mood swings, and unstable behavior, which negatively affects parenting patterns. Studies show that mothers with borderline personality tend to create unstable environments, increase the risk of insecure attachment in children, and affect their emotional regulation. This case study highlights the importance of understanding the relationship between parental personality disorders and parenting, and their impact on child development. Interventions in parenting and support for families at risk of psychopathology can be preventive steps to reduce the incidence of mood disorders in children. ABSTRAKMasa kanak-kanak adalah fase penting dalam pembentukan kepribadian, namun sering disertai masalah psikologis yang memengaruhi perkembangan anak. Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya pola asuh orangtua. Data dalam studi kasus ini diperoleh melalui wawancara mendalam, catatan rekam medis dan pemeriksaan psikometri dan tes proyeksi yang bertujuan untuk melihat bagaimana gangguan mood pada anak yang memiliki ibu dengan kepribadian ambang. Pasien adalah anak laki-laki 9 tahun yang menunjukkan gejala agresivitas, halusinasi, mood yang tidak stabil, serta rasa hampa dan kesepian. Anak dalam kasus ini menunjukkan masalah disregulasi emosi akibat pola asuh yang tidak konsisten dan tekanan lingkungan. Ibu pasien memiliki kepribadian ambang yang ditandai dengan kesulitan mengendalikan emosi, perubahan suasana hati yang ekstrem, dan perilaku tidak stabil, yang memengaruhi pola pengasuhan secara negatif. Studi menunjukkan bahwa ibu dengan kepribadian ambang cenderung menciptakan lingkungan yang tidak stabil, meningkatkan risiko kelekatan yang tidak aman pada anak, dan memengaruhi regulasi emosinya. Studi kasus ini menyoroti pentingnya memahami hubungan antara gangguan kepribadian orang tua dan pengasuhan, serta dampaknya pada perkembangan anak. Intervensi pada pola asuh dan dukungan bagi keluarga dengan risiko psikopatologi dapat menjadi langkah preventif untuk menurunkan kejadian gangguan mood pada anak.
LAPORAN KASUS: PERAN KOLABORATIF PSIKIATRI DALAM TATALAKSANA GANGGUAN PSIKIATRIK PADA PENDERITA MIASTENIA GRAVIS KAPITA, RAMBU K. B. F.; WAHYUNI, A A SRI; DINIARI, N K SRI; ARYANI, L N ALIT; ARIMBAWA, I KOMANG
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4356

Abstract

Myasthenia Gravis (MG) is an autoimmune disorder affecting the neuromuscular junction, leading to impaired muscle contraction that worsens with activity and improves with rest. It commonly affects bulbar and skeletal muscles, severely impairing the patient's ability to perform daily activities and requiring long-term therapy. The chronic nature of the disease can lead to psychiatric disorders, which may exacerbate MG symptoms, and vice versa. Psychiatric disorders in this context are not merely psychological responses to the disease but can also be biologically explained. This case report discusses the role of psychiatry in managing psychiatric disorders in MG patients, focusing on measurable therapy outcomes using the quality of life instrument MG-ADL (Myasthenia Gravis Activities of Daily Living), compared with psychiatric disorders such as depression and anxiety using the Beck Depression Inventory (BDI) and Beck Anxiety Inventory (BAI). The case involves a 31-year-old female patient with a severe MG crisis, presenting with psychiatric disorders such as depression and anxiety, which were managed through an integrated approach between psychiatry and medical MG management. The use of MG-ADL as a clinical measure showed significant improvement in the patient’s daily functioning following neurological interventions, including definitive MG therapy and psychiatric adjunctive care. Furthermore, BDI and BAI results indicated a significant reduction in scores, correlating with the improvement in MG condition, as monitored through MG-ADL. This case study highlights the importance of collaborative roles between psychiatry and other specialists in managing MG. This collaboration leads to better physical and psychological functioning. The implications of this case report strengthen the argument for a holistic approach to MG management, where psychiatric aspects should not be neglected in efforts to achieve optimal therapeutic outcomes. ABSTRAKMiastenia gravis merupakan gangguan autoimun pada neuromuscular junction menyebabkan gangguan kontraksi otot yang semakin parah dengan aktivitas dan membaik dengan istirahat, sering terjadi pada otot bulbar dan gerak, serta menyulitkan penderita dalam berbagai aspek aktivitas keseharian dan membutuhkan terapi jangka waktu lama. Kondisi penyakit kronis dapat menimbulkan suatu gangguan psikiatri dimana kehadirannya dapat memperparah kondisi MG demikian sebaliknya. Kehadiran Gangguan psikiatrik bukan sebagai suatu respon psikologik semata dalam menghadapi penyakit, melainkan dapat dijelaskan secara biologik. Laporan kasus ini mengulas peran psikiatri dalam manajemen gangguan psikiatri pada pasien MG, dengan fokus pada peningkatan hasil terapi yang terukur menggunakan kualitas hidup dengan instrument MG-ADL (Myasthenia Gravis Activities of Daily Living) dibandingkan dengan gangguan psikiatrik berupa depresi dan kecemasan menggunakan instrument BDI (Beck Depression Inventory) dan BAI (Beck Anxiety Inventory). Kasus melibatkan seorang pasien wanita 31 tahun, dengan krisis MG (gejala berat) yang mengalami gangguan psikiatri seperti depresi dan kecemasan, yang diatasi dengan pendekatan terintegrasi antara psikiatri dan manajemen medis MG. Penggunaan MG-ADL sebagai pengukur klinis menunjukkan perbaikan signifikan dalam fungsi harian pasien setelah intervensi neurologis yaitu terapi definitif MG dan adjuvan psikiatri dilakukan. Selain itu, hasil BDI dan BAI menunjukkan penurunan skor yang signifikan sejalan dengan perbaikan kondisi MG yang terpantau dengan MG-ADL. Studi kasus ini menyoroti pentingnya peran kolaboratif antara psikiatri dan spesialisi lainnya dalam menangani MG. Hal ini mengarah pada perbaikan fungsi fisik dan psikologis yang lebih baik. Implikasi dari laporan kasus ini memperkuat argumen untuk pendekatan holistik dalam manajemen pasien MG, di mana aspek psikiatri tidak boleh diabaikan dalam upaya mencapai hasil terapi yang optimal.
ASPEK SPIRITUAL DAN PENGGUNAAN ‘SPIRITUAL HEALTH ASSESSMENT SCALE’ DALAM RAWATAN HOSPICE: ARTICLE REVIEW JIMMY, JIMMY; ARIANI, NI KETUT PUTRI; SUTRISNA, I PUTU BELLY; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA; KURNIAWAN, LELY SETYAWATI; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4357

Abstract

The goal of hospice care is to relieve patient’s physical, psychological, social, and spiritual stress who are nearing the end of life, thereby ultimately improving the quality of life because hospice care views humans from a holistic perspective. Spirituality is a dynamic and essential aspect of humanity that includes the search for highest meaning, purpose in life, transcendence and connection with oneself, family and others which is manifested in beliefs, values, traditions and practices. This has had a positive impact that includes spiritual well-being, quality of life, adaptation, physical and psychological health which ultimately meets the needs of patients and families in finding meaning and purpose in life, restoring relationships and love and being able to accept death and maintain hope and support a dignified death. Mean center and Dignitiy psychotherapy has been tested as a psychotherapy that focuses on the patient's meaning and dignity. Spirituality is a concept that is not limited to religion and is a key concept in the care of terminal illness. Therefore, spiritual care is an important element of hospice care that significantly influences the quality of all care provided. The spiritual care guidance and assessment model was developed as a care guide in the fundamental and spiritual aspects of human beings in hospice care. Spiritual Health Assessment Scale (SHAS) is a scale developed to assess spiritual health that is used for the entire community and is not based only on religion which contains 3 domains in the form of self-development, self-actualization and self-realization. ABSTRAKTujuan dari perawatan hospice adalah untuk meringankan tekanan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien yang mendekati akhir hidup sehingga pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup karena rawatan hospice memandang manusia dari sudut pandang holistik. Spiritual adalah aspek dinamis dan essensial dari kemanusiaan yang mencakup pencarian makna tertinggi, tujuan hidup, transendensi dan hubungan dengan diri sendiri, keluarga dan orang lain yang terwujud dalam keyakinan, nilai, tradisi dan praktik. Hal ini telah memiliki dampak positif yang mencakup kesejahteraan spiritual, kualitas hidup, adaptasi, kesehatan fisik dan psikologis yang akhirnya memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga dalam menemukan makna dan tujuan hidup, memulihkan hubungan dan cinta serta bisa menerima kematian dan mempertahankan harapan serta mendukung kematian yang bermartabat. Mean center and Dignitiy psychotherapy telah diuji sebagai psikoterapi yang berfokus pada makna dan martabat pasien. Spritual adalah konsep yang tidak terbatas pada agama dan konsep kunci dalam tanda penting dalam perawatan penyakit terminal. Oleh karena itu , perawatan spiritual merupakan elemen penting dari perawatan hospice yang secara signifikan mempengaruhi kualitas seluruh perawatan yang diberikan.Model panduan perawatan spiritual dan penilaian dikembangkan sebagai panduan perawatan dalam aspek fundamental dan spiritual manusia dalam perawatan hospice. Spiritual Health Assessment Scale (SHAS) merupakan skala yang dikembangkan untuk mengkaji kesehatan spiritual yang digunakan untuk seluruh masyarakat dan tidak berdasarkan hanya pada agama yang berisi 3 dormain berupa pengembangan diri, aktualisasi diri dan realisasi diri
HUBUNGAN SPIRITUAL WELL-BEING DENGAN GEJALA MENOPAUSE TULUS, ANGELINA; DARMAYASA, I MADE; ARIANI, NI KETUT PUTRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4358

Abstract

Spirituality has become an essential part of human life, yet it still raises various questions regarding its relationship with health. Spiritual well-being indicates a person’s quality of life in terms of spiritual dimensions or serves as an indicator of an individual’s spiritual health. In 2016, 7.4% of women in Indonesia were menopausal, and by 2020, this was projected to reach 11.54%, with an average menopause age of 49 years. The Study of Women's Health Across the Nation in the United States found that menopause is associated with psychological stress. Approximately 28.9% experienced stress in early perimenopause, 20.9% during perimenopause, and 22% post-menopause. Menopause triggers physical and psychological symptoms, causing women to experience various complaints. Good spiritual well-being is associated with lower anxiety and depression and a higher quality of life. Spiritual Well-Being (SWB) arises from a state of spiritual health and manifests as overall well-being. SWB is an indication of a person’s quality of life in terms of spiritual dimensions or an indicator of their spiritual health. The spiritual element has a positive relationship with emotional responses. Spirituality affects the limbic and autonomic nervous systems, creating pleasant feelings and stimulating GABA and endorphins. Spiritual experiences can influence neurotransmitters in the brain, such as serotonin, dopamine, and oxytocin. Serotonin and dopamine are linked to feelings of happiness and satisfaction, while oxytocin is associated with empathy and social interaction. Menopause is defined as one year without menstruation due to a decrease in estrogen production. Although some women are asymptomatic, estrogen deficiency can cause hot flushes, sweating, insomnia, and vaginal dryness and discomfort in nearly 85% of menopausal women. This state is often referred to as the “change of life.” Spirituality has a significant relationship with the severity of menopause symptoms, including mood, cognition, vasomotor, and sexual symptoms. Spiritual well-being is related to menopausal symptoms. ABSTRAKSpiritualitas telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, namun masih menimbulkan berbagai pertanyaan terkait hubungannya dengan kesehatan. Spiritual well-being atau kesejahteraan spiritual menjadi indikasi kualitas hidup seseorang dari segi dimensi spiritual atau indikasi dari kesehatan spiritual seseorang. Pada tahun 2016, di Indonesia terdapat 7,4% wanita menopause dari total populasi dan tahun 2020 diperkirakan mencapai 11,54% dengan usia rata-rata menopause 49 tahun. Hasil Study of Women’s Health Across the Nation di Amerika Serikat menunjukkan bahwa masa menopause berhubungan dengan tekanan psikologi. Sebanyak 28,9% mengalami stres diawal premenopause, 20,9% pada premenopause, dan sebanyak 22% pada post menopause. Menopause memunculkan gejala fisik maupun psikis yang membuat wanita mengalami berbagai macam keluhan. Kesejahteraan spiritual yang baik dikaitkan dengan kecemasan dan depresi yang lebih rendah, dan kualitas hidup yang lebih baik. Spiritual Well Being (SWB) adalah situasi yang muncul dari keadaan kesehatan spiritual dan tampak melalui kesehatan yang baik. SWB menjadi indikasi kualitas hidup seseorang dari dimensi spiritual atau indikasi dari kesehatan spiritual seseorang. Unsur spiritual memiliki hubungan positif terkait dengan respons emosional. Spiritualitas memengaruhi sistem limbik dan saraf otonom, sehingga menghasilkan suasana perasasan yang menyenangkan dan merangsang GABA dan endorfin. Pengalaman spiritual dapat memengaruhi neurotransmitter dalam otak seperti serotonin, dopamin, dan oksitosin. Serotonin dan dopamin terkait dengan perasaan bahagia dan kepuasan, sementara oksitosin terkait dengan empati dan interaksi sosial. Menopause didefinisikan sebagai satu tahun tanpa menstruasi dikarenakan semakin berkurangnya produksi estrogen. Meskipun beberapa perempuan asimtomatik, defisiensi estrogen dapat menyebabkan gejolak hot flushes, berkeringat, insomnia, kekeringan dan ketidaknyamanan pada vagina pada hampir 85% perempuan menopause. Keadaan ini sering disebut “change of life”. Spiritual memiliki hubungan signifikan pada keparahan menopause, yaitu dari gejala mood, kognisi, vasomotor dan seksual. Spiritual well-being memiliki hubungan dengan gejala menopause.
GAMBARAN JAJANAN SEHAT DAN PERILAKU MEMILIH PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH (PJAS) DI SD Indah, Mawar Yanti; Bahar, Hartati; Hikmawati , Zainab
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.4577

Abstract

This study aims to describe the behavior of choosing snacks, as well as knowledge, attitudes, perceptions, facilities, and peer support towards healthy snacks at SD Negeri 93 Kendari. This study uses quantitative methods and descriptive surveys, this study involved 54 out of 62 students selected through Stratified Random Sampling. The results showed that the majority of respondents had sufficient knowledge (81.48%), while a small portion was still lacking (18.52%). Most respondents showed a positive attitude (88.89%) compared to those who had a negative attitude (11.11%). A good perception of healthy snacks was found in (62.96%) respondents, while (37.04%) had a poor perception. As many as (85.19%) respondents considered the facilities and infrastructure adequate, while (14.81%) considered it inadequate. In addition, the majority of respondents (68.52%) received good peer support, while (31.48%) experienced inadequate support. This study shows that knowledge, attitudes, perceptions, facilities, and peer support. students about healthy snacks at SD Negeri 93 Kendari is quite good, but further efforts are needed to improve understanding of the importance of choosing safe and nutritious snacks for health. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku pemilihan jajanan, serta pengetahuan, sikap, persepsi, sarana, dan dukungan teman sebaya terhadap jajanan sehat di SD Negeri 93 Kendari. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan survei deskriptif, penelitian ini melibatkan 54 dari 62 siswa yang dipilih melalui Stratified Random Sampling. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan cukup (81,48%), sementara sebagian kecil masih kurang (18,52%). Sebagian besar responden menunjukkan sikap positif (88,89%) dibandingkan dengan yang bersikap negatif (11,11%). Persepsi baik mengenai jajanan sehat ditemukan pada (62,96%) responden, sementara (37,04%) memiliki persepsi kurang. Sebanyak (85,19%) responden menilai sarana dan prasarana memadai, sedangkan (14,81%) menilai kurang memadai. Selain itu, mayoritas responden (68,52%) mendapatkan dukungan teman sebaya yang baik, sementara (31,48%) mengalami dukungan yang kurang. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap,  persepsi, sarana, dan dukungan teman sebaya. siswa mengenai jajanan sehat di SD Negeri 93 Kendari sudah cukup baik, namun diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya memilih jajanan yang aman dan bergizi untuk kesehatan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN & SIKAP DENGAN KEPATUHAN IBU HAMIL MENGONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH DI TIYUH PANARAGAN LAMPUNG Muliani, Usdeka; Bertalina, Bertalina
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i2.4692

Abstract

The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and attitudes with the compliance of pregnant women in consuming iron tablets. This type of research is a descriptive method with a cross-sectional approach. The data collection location was in Tiyuh Panaragan, Tulang Bawang Tengah District, West Tulang Bawang Regency. The sample was the population of pregnant women in the Tiyuh Panaragan area who underwent examinations and were recorded by the village midwife and received iron tablets, namely 35 pregnant women. Measurement of knowledge and attitudes used a knowledge and attitude questionnaire, and measurement of compliance with iron tablet consumption used the MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) questionnaire. From the results of the study, it was obtained that most of the respondents were around 20-35 years old, namely 71.4%, the highest level of education was junior high school, namely 37.1%, and the highest occupation was unemployed, 77.1%. More than half of the respondents had anemia (54.3%), while the level of knowledge and attitudes of the respondents were mostly in the good category, namely good knowledge 74.3%, and good attitude (positive) 85.7%, while the level of compliance of respondents in consuming TTD was mostly in the less category, namely 54.3%. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between respondent knowledge and the level of compliance of respondents in consuming TTD with a value of p = 0.005 and there was no significant relationship between respondent attitudes and the level of compliance of respondents in consuming TTD with a value of p = 0.347. From the results of the study, it is recommended that pregnant women's awareness be increased to consume good TTD in order to achieve optimal nutritional status for the mother and her fetus. ABSTRAKTujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan, dan sikap dengan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Jenis penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Tempat pengambilan data di Tiyuh Panaragan Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sampel adalah populasi ibu hamil yang berada di wilayah Tiyuh Panaragan  yang melakukan pemeriksaan dan tercatat oleh bidan desa dan mendapat tablet tambah darah yaitu sebanyak 35 ibu hamil. Pengukuran pengetahuan dan sikap menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap, serta pengukuran kepatuhan konsumsi tablet besi menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale). Dari hasil penelitian diperoleh sebagian besar usia responden sekitar 20-35 tahun yaitu 71,4%, tingkat pendidikan terbanyak SMP yaitu 37,1%, dan pekerjaan terbanyak tidak bekerja 77,1%. Lebih dari setengah responden mengalami anemia (54,3%), adapun tingkat pengetahuan, dan sikap responden  terbanyak dalam katagori baik yaitu pengetahuan baik 74,3%, dan sikap baik (positip) 85,7%, adapun  tingkat kepatuhan responden  dalam mengkonsumsi TTD terbanyak dalam katagori kurang yaitu 54,3%. Hasil analisis bivariate diketahui ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan responden dengan tingkat kepatuhan responden  dalam mengkonsumsi TTD nilai p= 0,005 dan tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap responden dengan tingkat kepatuhan responden  dalam mengkonsumsi TTD nilai p= 0,347. Dari hasil penelitian disarankan agar lebih ditingkatkan kesadaran ibu hamil untuk mengkonsumsi TTD yang baik agar dicapai status gizi yang optimal bagi ibu dan janinnya.
KORELASI LEUKOSIT DAN IGM ANTI-SALMONELLA SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS PASIEN SUSPEK DEMAM TIFOID Ariyani, Ahna Fitri; Krihariyani, Dwi; Istanto, Wisnu; Suhariyadi, Suhariyadi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i2.5826

Abstract

ABSTRACT Typhoid fever is an infectious disease that remains prevalent in Indonesia and often presents with non-specific clinical symptoms, necessitating supportive diagnostic examinations. Two commonly used parameters are leukocyte count and anti-Salmonella typhi IgM serological testing using the rapid test method. This study aims to determine the correlation between leukocyte count and the results of the anti-Salmonella IgM rapid test in patients suspected of having typhoid fever as a diagnostic aid. This research employed an analytical observational method with a cross-sectional approach. A total of 32 out of 45 suspected typhoid fever patients were selected through purposive sampling at RSUD Dr. Sayidiman Magetan. Leukocyte counts were measured using an automated hematology analyzer, and IgM testing was performed using the immunochromatographic rapid test method. The results showed that 59.4% of patients had leukopenia, and only 21.9% tested positive for IgM. Spearman’s rank correlation test yielded a significance value (p) = 0.027 and a correlation coefficient (r) = 0.391, indicating a moderate and statistically significant correlation between the two variables. In conclusion, there is a significant positive correlation between leukocyte count and anti-Salmonella IgM results, suggesting that both tests can serve as complementary diagnostic tools for the early diagnosis of typhoid fever. ABSTRAK Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang masih sering dijumpai di Indonesia dan menimbulkan gejala klinis yang tidak spesifik, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang untuk membantu diagnosis. Dua parameter yang umum digunakan adalah jumlah leukosit dan uji serologis IgM anti-Salmonella typhi dengan metode rapid test. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara jumlah leukosit dan hasil rapid test IgM anti-Salmonella pada pasien suspek demam tifoid sebagai penunjang diagnosis. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 32 pasien dari 45 pasien suspek demam tifoid yang diambil di RSUD Dr. Sayidiman Magetan secara purposive sampling. Pemeriksaan jumlah leukosit dilakukan dengan alat hematologi otomatis dan uji IgM dilakukan menggunakan metode rapid test imunokromatografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 59,4% pasien mengalami leukopenia dan hanya 21,9% pasien yang menunjukkan hasil IgM positif. Uji korelasi Rank Spearman menunjukkan nilai signifikansi (p) = 0,027 dan koefisien korelasi (r) = 0,391, yang menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat dan signifikan secara statistik antara kedua variabel. Kesimpulannya, terdapat hubungan positif yang signifikan antara jumlah leukosit dan hasil IgM anti-Salmonella, sehingga keduanya dapat digunakan sebagai pemeriksaan penunjang yang saling melengkapi dalam diagnosis awal demam tifoid.
PENGARUH LATIHAN KEKUATAN OTOT TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN FISIK PADA ATLET SEPAK BOLA Adam, Muh. Wahyudin S.; Tukloy, Anita Wati; Lasantu, Rahmi; Kabuse, Trivena; Rahman, Agil
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i2.5988

Abstract

Football is one of the most popular sports in the world. A football match is played by two teams, each consisting of 11 players. A player is allowed to move anywhere on the field, so a player needs to be in prime physical condition. Strength is a component of physical condition, which concerns the problem of an athlete's ability to use his muscles to receive a load within a certain work time. The purpose of this study is to analyze the extent to which muscle strength training can improve physical performance related to the ability to play football. This study used a literature review method. Where the data obtained were sourced from several journals and other scientific works. The results of this study are muscle strength is a physical condition required for a football athlete. The game of football is a form of game that is very dominated by open skills. Factors that influence the game of football include: technique, tactics, physical condition, psychology, environment, infrastructure, and so on. The goal of the game of football is to get the ball into the opponent's goal as many times as possible and to defend your own goal from the possibility of conceding. Muscle strength can be increased through training. Continuous training without adequate recovery can cause muscle damage. Without optimal muscle strength, an athlete's ability to endure matches and perform at their best will decrease drastically. Increasing physical strength is also crucial for soccer athletes, as it serves as a benchmark for delivering their best performance. One type of training that can be done is circuit training, which involves various movements performed simultaneously, continuously, and limited by rest periods between each exercise. Circuit training will result in many positive transitions in basic skills while simultaneously restoring physical fitness. Muscle capacity, endurance, agility, and flexibility are all important. ABSTRAK Sepakbola adalah salah satu cabang olahraga yang sangat populer di dunia. Pertandingan sepakbola dimainkan oleh dua tim yang masing-masing tim beranggotakan 11 orang. Seorang pemain diperbolehkan bergerak kemana pun juga di dalam lapangan, sehingga seorang pemain membutuhkan kondisi fisik yang prima. Kekuatan atau strength adalah komponen kondisi fisik, yang menyangkut masalah kemampuan seseorang atlet pada saat mempergunakan otot-ototnya menerima beban dalam waktu kerja tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana latihan kekuatan otot dapat meningkatkan performa fisik yang berkaitan dengan kemampuan bermain sepak bola. Penelitian ini menggunakan  metode literature review. Yang di mana data yang diperoleh bersumber dari beberapa jurnal maupun karya ilmiah lainnya. Adapun hasil penelitian ini adalah kekuatan otot merupakan kondisi fisik yang dibutuhkan bagi seorang atlet sepak bola. Permainan sepak bola adalah  bentuk permainan yang sangat di dominasi oleh keterampilan terbuka (open skill). Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam permainan sepak bola antara lain: teknik, taktik, kondisi fisik, psikologis, lingkungan, sarana prasarana, dan lain sebagainya. tujuan dari permainan sepak bola adalah memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dan mempertahankan gawang sendiri dari kemungkinan kebobolan. Kekuatan otot dapat di tingkatkan melalui latihan. Latihan secara terus menerus tanpa pemulihan yang cukup dapat menyebabkan kerusakan pada otot. Tanpa kekuatan otot yang optimal, kemampuan atlet untuk bertahan selama pertandingan dan tampil maksimal akan menurun drastis. Peningkatan  kekuatan fisik juga menjadi hal yang sangat penting bagi atlet sepak bola, karena menjadi acuan untuk bisa memberikan permainan yang terbaik. Latihan yang dapat yang di lakukan salah satunya yaitu circuit training yang di dalamnya terdapat berbagai gerakan yang di lakukan secara bersama – sama dengan berkesinambungan dan di batasi oleh istirahat pada setiap pertukaran bentuk latihan. Dengan adanya latihan circuit akan banyak peralihan yang positif pada keahlian dasar dan juga memulihkan secara sekaligus kesegaran fisik. Kemampuan otot, ketahanan,  ketangkasan, dan keluwesan tubuh.
PEMBELAJARAN KOMUNIKASI DAN PROMOSI KESEHATAN BIDANG TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS MELALUI PRAKTIK PENYULUHAN Jumadewi, Asri; Ichwansyah, Fahmi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i2.6155

Abstract

The subject of communication and health promotion is important in the field of medical laboratory technology, theoretical and practical learning is studied in the even semester curriculum. Complementing theoretical learning, health promotion practices are practiced by creating media that are related to health problems, especially in the field of medical laboratory technology. This learning is expected to increase students' knowledge of the importance of health promotion. The practice of learning the subject of communication and health promotion includes creating and designing health promotion media and counseling practices. These media include flyers, posters, leaflets, or booklets using certain applications that are easy, cheap and effective to access. This study aims to determine feedback and evaluation of learning in order to improve students' knowledge of this course. This type of research includes classroom action research, which took place in the classroom of the Poltekkes Kemenkes Aceh, as many as 112 respondents were taken by total sampling in three classrooms. The results obtained from the practice of health promotion counseling showed good, moderate and less categories in sequence, namely, 76.8%, 23.2% and 0%. It is necessary to continue the counseling practice by involving students directly in the counseling and education activities of the tridharma of higher education. ABSTRAK Mata kuliah komunikasi dan promosi kesehatan penting di bidang teknologi laboratorium medis, pembelajaran secara teori dan praktik ini dipelajari pada kurikulum semester genap. Melengkapi pembelajaran secara teori, maka praktik promosi kesehatan dipraktikkan dengan pembuatan suatu media yang dikaitkan dengan permasalahan kesehatan terutama di bidang teknologi laboratorium medis. Pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa akan pentingnya promosi kesehatan. Praktik pembelajaran mata kuliah komunikasi dan promosi kesehatan diantaranya membuat dan desain media promosi kehatan dan praktik penyuluhan. Media tersebut diantaranya berupa flyer, poster, leaflet, maupun booklet dengan menggunakan aplikasi tertentu yang mudah, murah dan efektif untuk diakses. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui feedback dan evaluasi pembelajaran dalam rangka meningkatkan pengetahuan mahasiswa akan mata kuliah ini. Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas classroom action research, yang berlangsung dalam ruang kelas pembelajaran Poltekkes Kemenkes Aceh, sebanyak 112 responden yang diambil secara total sampling dalam tiga ruang kelas. Hasil yang diperoleh dari praktik penyuluhan promosi kesehatan menunjukkan kategori baik, sedang dan kurang secara berurutan yaitu, 76.8%, 23.2% dan 0%. Perlu dilakukan kelanjutan praktik penyuluhan dengan melibatkan mahasiswa secara langsung pada kegiatan penyuluhan dan edukasi tridharma perguruan tinggi.
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAMA PERSALINAN KALA II DI TPMB Hj. MARDIAWATI, S.ST., M.Kes. Tahir, Suriani; Dahniar, Dahniar; Irfana, Irfana
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6733

Abstract

Childbirth is a critical period for women who contribute to maternal morbidity and mortality in developing countries, one of which is Indonesia. One of the complications in childbirth is prolonged labor, which is the direct cause of childbirth complications with an incidence of 69,000 or 2.8% of deaths from all maternal deaths worldwide. The purpose of analyzing the factors associated with the length of Labor kala II. Analytical survey method with cross sectional study approach chi Square data analysis technique with dichotomic nominal scale. a total of 128 respondents using the Isaac and Michael formula, the results of X2 count 0.021 is smaller than x2 table 3.841 and the value of 0.884 is greater than the value of 0.05 show that there is no significant relationship between the age of the mother with the length of Labor kala II, the results of X2 count 24.522 is, the results of X2 count 0.992 is smaller than x2 table 3.841 and the value of 0.319 is greater than the value of ? 0.05 indicate that there is no significant relationship between maternal education with the length of Labor Time II, the result of x2 count 1.911 is smaller than x2 table 3.841 and the value of ? 0.167 is larger than ? 0.05 indicates that there is no significant relationship between the mother's work with the length of labor in Stage II,the result of x2 count 0.009 is smaller than x2 table 3.841 and the value of ? 0.925 is larger than ? 0.05 indicates that there is no significant relationship between fetal weight with the length of labor in Stage II. The conclusion that the parietas of maternity mothers can be an indicator for the occurrence of long Labor Phase II that can be anticipated earlier by minimizing complications during childbirth. ABSTRAKMasa persalinan merupakan masa kritis bagi perempuan yang berkotribusi terhadap angka kesakitan dan kematian ibu di negara berkembang salah satunya Indonesia. Salah satu komplikasi pada persalinan adalah persalinan lama,yang merupakan penyebab langsung komplikasi persalinan dengan jumlah kejadian sebesar 69.000 atau 2,8% kematian dari semua kematian ibu di seluruh dunia. Tujuan untuk menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan lama persalinan kala II. Metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional study teknik analisa data Chi Square dengan skala nominal dikotomik. sebanyak 128 responden dengan menggunakan rumus Isaac and Michael, Hasil x2 hitung 0,021 lebih kecil daripada x2 tabel 3,841 dan nilai ? 0,884 lebih besar daripada ? 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur ibu dengan lama persalinan kala II, hasil x2 hitung 24,522 lebih besar daripada x2 tabel 3,841 dan nilai ? 0,000 lebih kecil daripada ? 0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara paritas ibu dengan lama persalinan kala II, hasil x2 hitung 0,992 lebih kecil daripada x2 tabel 3,841 dan nilai ? 0,319 lebih besar daripada ? 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan lama persalinan kala II, hasil x2 hitung 1,911 lebih kecil daripada x2 tabel 3,841 dan nilai ? 0,167 lebih besar daripada ? 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan lama persalinan kala II,hasil x2 hitung 0,009 lebih kecil daripada x2 tabel 3,841 dan nilai ? 0,925 lebih besar daripada ? 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara berat badan janin dengan lama persalinan kala II. Kesimpulan bahwa parietas ibu bersalin dapat menjadi indikator untuk terjadinya lama persalinan kala II yang dapat diantasipasi lebih dini dengan meminimalkan komplikasi pada saat bersalin.

Page 8 of 13 | Total Record : 124