cover
Contact Name
Hisan Mursalin
Contact Email
hisanmursalin@gmail.com
Phone
+6285884149993
Journal Mail Official
mauriduna@gmail.com
Editorial Address
Jl. Printis Kemerdekaan km.6, 01/05 Sukamulya, Cimenteng, Cikembar 43157 Sukabumi, Indonesia
Location
Kab. sukabumi,
Jawa barat
INDONESIA
Mauriduna : Journal of Islamic studies
ISSN : -     EISSN : 27970876     DOI : 10.37274
Core Subject : Religion, Education,
Mauriduna merupakan Jurnal Kajian Islam yang terbit dua kali dalam setahun, publikasi ilmiah ini dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Perguruan Tinggi Bahasa Arab Ar-Raayah (STIBA) Sukabumi. Jurnal ini berfokus pada kajian Islam, berupa Hasil Penelitian, Ide, Teori, Metode dan Masalah Aktual lainnya yang Berkaitan dengan kajian Islam. Jurnal ini secara terbuka menerima kontribusi para ahli untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Mauriduna Jurnal Ilmu Islam mempunyai fokus dalam kajian ilmu Islam, dengan scope sebagai berikut : Teologi Islam, Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Filsafat dan pemikiran Islam, Hadis, Fiqh, Ilmu Dakwah, Bahasa dan sastra sangat disambut baik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 220 Documents
Ambiguitas dan Distorsi Makna dalam Al-Qur’an Salamah, Ummu; Latifah, Ira Ainul; Nisa, Mauidlotun; Susiawati, Wati
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 6 No 1 (2025): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, January 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1340

Abstract

Penilitian ini membahas tentang ambiguitas dan distorsi makna yang terdapat dalam surat di dalam Al-Qur'an. Dalam kajian semantik, ambiguitas atau ketidak jelasan makna dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah kata yang memiliki sifat umum atau kalimat yang tidak pernah seratus persen homogen. Sedangkan distorsi terjadi akibat kurangnya pengetahuan atau tindakan dari setiap individu yang ingin memahami ayat tersebut sesuai keinginannya dan ingin merangsang orang lain agar menyimpang dari pemahaman makna ayat Al-Qur'an. Dengan menggunakan metode metode kajian pustaka (literature review), peneliti mencoba mengumpulkan bahan materi secara sistematis tentang ambiguitas dan distorsi makna yang terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an dari penelitian-penelitian yang terdahulu. Dalam penelitian ini, penulis memaparkan contoh-contoh ambiguitas dan distorsi makna dalam al-Qur’an. Terdapat ambiguitas makna pada surah al-Baqarah ayat 228 dan an-Nisa ayat 43 dari penelitian Kamaluddin Abunawas, surah al-Baqarah ayat 223 dan an-Nisa ayat 34 pada penelitian Iswah Adriana, surah al-Baqarah ayat 220 pada penelitian Salman dkk.. Dan terdapat distorsi makna pada surah al-Baqarah ayat 191 dan 255 dari penelitian Septiani dkk., surah Thaha ayat 121, an-Nisa ayat 164, al-A’raf ayat 179 dari penelitian Nirwana AN. Serta dalam penelitian ini penulis juga berusaha memberikan sikap menghadapi ambiguitas dan distorsi makna dalam ayat al-Qur’an. This research discusses the ambiguity and distortion of meaning contained in letters in the Al-Qur'an. In semantic studies, ambiguity or unclear meaning can be caused by several things, including words that have general characteristics or sentences that are never one hundred percent homogeneous. Meanwhile, distortion occurs due to a lack of knowledge or action on the part of each individual who wants to understand the verse according to his wishes and wants to stimulate other people to deviate from understanding the meaning of the verse of the Qur'an. By using the literature review method, the researchers tried to collect material systematically about the ambiguity and distortion of meaning contained in several verses of the Qur'an from previous studies. In this research, the researchers describe examples of ambiguity and distortion of meaning in the Qur'an. There is ambiguity in the meaning of surah al-Baqarah verse 228 and an-Nisa verse 43 from Kamaluddin Abunawas' research, surah al-Baqarah verse 223 and an-Nisa verse 34 in Iswah Adriana's research, surah al-Baqarah verse 220 in Salman et al.'s research. And there is a distortion of meaning in surah al-Baqarah verses 191 and 255 from Septiani et al.'s research, surah Thaha verse 121, an-Nisa verse 164, al-A'raf verse 179 from AN's Nirvana research. And in this research the researchers also try to provide an attitude towards facing ambiguity and distortion of meaning in the verses of the Qur'an.
Pengulangan Kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Repetisi Pembelajaran S, Nurhalimah.; Wahdi, Shadiqul; Jayadi, M. Irwan; Nisa, Mauidlotun; Susiawati, Wati
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 6 No 1 (2025): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, January 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1351

Abstract

Penilitian ini membahas tentang tujuan pengulangan kisah nabi Nuh dalam Alquran dan relevansinya dengan repetisi pembelajaran. Dalam penulisan ini menjelaskan tujuan-tujuan pengulangan kisah nabi Nuh dalam Alquran, diantara tujuan-tujuan tersebut yaitu Pembelajaran nilai-nilai kehidupan dari kisah nabi Nuh, Peringatan untuk umat manusia agar bertaqwa dan tidak mengingkari wahyu, penguatan pesan moral dalam menghadapi tantangan hidup. Dari tiga hal diatas dijabarkan kembali pada pembahasan. Dalam kisah nabi Nuh yang sering kali diulang yang tedapat dibebeapa ayat menjelaskan bagaimana sabarnya nabi nuh menghadapi kaumnya yang sangat membangkang, memiliki relevansi dengan repetisi pembelajaran, Adapun relevansi kisah nabi nuh dengan repetisi pembelajaran yaitu menyangkut: Efek positif dari repetisi terhadap pemahaman dan daya ingat siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kisah nabi nuh bukan hanya memperkuat daya ingat siswa melainkan untuk menciptakan pemahaman yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif Deskriptif (Library Research) dengan pendekatan tafsir dan pendidikan. Dalam penelitian ini penulis menuliskan Beberapa surah-suah dalam Alquran yang membahas tentang kisah nabi Nuh seperti dalam surah Nuh ayat 1-3 dari penelitian yang dilakukan oleh Nadila, Hasah, Siti Fauziah, Nuh 26-27 penelitian yang dilakukan oleh Alizaki, dan suah Ala’raf pada ayat 60-61 dari penelitian Muhammad Thaib. Dan dalam penelitian ini penulis berusaha menjelaskan tujuan pengulangan kisah nabi Nuh dalam alquran beserta elevansinya dengan repetisi pembelajaran. This research discusses the repetition of the story of Prophet Noah (Nabi Nuh) in the Qur'an and its relevance to repetition in learning. The study elaborates on the objectives behind the repeated narration of Prophet Noah's story in the Qur'an. Among these objectives are: teaching life values derived from Prophet Noah's story, providing a warning to humanity to be pious and not reject divine revelations, and reinforcing moral messages for overcoming life's challenges. These three aspects are further detailed in the discussion. The repeated mention of Prophet Noah’s story across various verses demonstrates his patience in dealing with a highly defiant community. This repetition has relevance to learning repetition, particularly regarding the positive effects of repetition on students' comprehension and memory retention. The findings of this research indicate that the repetition of Prophet Noah's story in the Qur'an not only strengthens students' memory but also fosters deeper understanding. This study employs a qualitative descriptive method (library research) with an interpretative approach that combines Quranic exegesis and education. The research refers to several surahs in the Qur'an discussing Prophet Noah’s story, such as Surah Nuh (verses 1–3), based on the research by Nadila, Hasah, and Siti Fauziah; Surah Nuh (verses 26–27), as explored by Alizaki; and Surah Al-A’raf (verses 60–61), as examined by Muhammad Thaib. This study aims to explain the objectives of the repetition of Prophet Noah's story in the Qur'an and its relevance to repetition in learning
Faktor Sosial dan Psikologis Terhadap Kemampuan Berbicara Bahasa Arab : Studi Kasus pada Santri Kelas 4 Intensif Pondok Modern Daarul Hikmah Tangerang Tahun Ajaran 2023/2024 Salamah, Ummu; Sholihah, Imroatus; Royani, Ahmad
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 6 No 1 (2025): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, January 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1359

Abstract

Penilitian ini mengkaji faktor sosial dan faktor psikologis terhadap kemampuan berbicara bahasa Arab. Objek penelitian ini adalah santri kelas 4 Intensif Pondok Modern Daarul Hikmah Tangerang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh faktor sosial dan psikologis terhadap kemampuan berbicara bahasa Arab. Metode pada penelitian menggunakan Studi Kasus dengan penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data; observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari analiss data menyatakan terdapat adanya hubungan antara faktor sosial dan psikologis terhadap kemampuan berbicara Bahasa Arab. This research examines social and psychological factors on the ability to speak Arabic. The object of this research is the 4th grade students of the Intensive Pondok Modern Daarul Hikmah Tangerang. The aim of this research is to find out how social and psychological factors influence the ability to speak Arabic. The research method uses case studies with qualitative descriptive research, with data collection techniques; observation, interviews, and documentation. The results of data analysis state that there is a relationship between social and psychological factors on the ability to speak Arabic.
Amṡāl Dalam Al-Qur'an: Analisis Makna, Unsur, dan Ragam Perumpamaan Alyaditha, Nachda; Basri, Halimah; Khalid, Rusydi
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 5 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1360

Abstract

Amṡāl dalam Al-Qur'an sering kali ditafsirkan oleh para ulama yang menguasai ilmu bahasa (lughah) dan kaidah-kaidahnya. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna, unsur-unsur sertaragam perumpamaan dari Amṡāl. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif-deskriptif berbasis library research dengan pendekatan ilmu tafsir. Hasil penelitian menemukan bahwa Amṡāl dalam Al-Qur'an, memberikan penjelasan bahwa Amṡāl adalah cara untuk menyerupakan satu hal dengan hal lainnya berdasarkan kesamaan hukum, dengan tujuan mendekatkan konsep yang bersifat rasional kepada sesuatu yang dapat ditangkap oleh indera, atau menjelaskan hubungan antara dua hal yang berhubungan dengan indera melalui kemiripan yang dimilikinya. Selain itu Amṡāl terdiri dari beberapa bagian serta unsur-unsut yang saling melengkapi untuk menghasilkan perumpamaan yang efektif dan penuh makna. Proverbs in the Qur'an are often interpreted by scholars who master the science of language (lughah) and its rules. This research aims to analyze the meaning, elements and various parables of Proverbs. This research uses field methods and literature studies with a descriptive qualitative approach. The approach used is tafsir to analyze proverbs in the Qur'an. The results of the study found that proverbs in the Qur'an, provide an explanation that proverbs are a way to resemble one thing with another based on legal similarities, with the aim of bringing a rational concept closer to something that can be captured by the senses, or explaining the relationship between two things related to the senses through their similarity. In addition, Proverbs consists of several parts and elements that complement each other to produce an effective and meaningful parable.
Kontekstualisasi Al-Qur'an dalam Pendidikan Global Latifah, Milahtul; Fatchiatuzahro
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 5 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1362

Abstract

Globalisasi adalah sebuah fenomena yang telah mendominasi perubahan dunia dalam beberapa dekade terakhir. Teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet, telah memainkan peran besar dalam mempercepat globalisasi. Ini memungkinkan individu dan organisasi untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan berbagi informasi dengan cepat di seluruh dunia. Pendekatan ini mengunakan tafsir maudhu’i memahami bahwa teks Al-Qur'an tidak hanya bisa dilihat secara individual, tetapi juga dalam hubungannya dengan konteks budaya, sejarah, dan bahasa di mana teks tersebut muncul. Ini memungkinkan pemahaman yang lebih dalam tentang makna yang dapat berubah seiring waktu dan transformasi dalam konteks budaya. Berbeda secara signifikan dengan ajaran Al-Qur’an. Beberapa siswa mungkin sulit memahami atau menerima konsep-konsep Al-Qur’an karena adanya persepsi atau stereotip tertentu tentang Islam. Ini bisa membuat penyampaian nilai-nilai Al-Qur’an lebih rumit karena memerlukan pendekatan yang menghormati dan memahami keberagaman pemahaman siswa. Globalization is a phenomenon that has dominated world change in recent decades. Information and communication technology, especially the internet, has played a big role in accelerating globalization. It enables individuals and organizations to communicate, collaborate, and share information quickly around the world. This approach uses Maudhu'i interpretation to understand that the text of the Qur'an can not only be seen individually but also in relation to the cultural, historical and linguistic context in which the text appears. This allows a deeper understanding of meanings that can change over time and transformations in cultural contexts. It differs significantly from the teachings of the Koran. Some students may find it difficult to understand or accept the concepts of the Koran because of certain perceptions or stereotypes about Islam. This can make conveying the values ​​of the Qur'an more complicated because it requires an approach that respects and understands the diversity of students' understandings
Pendekatan Teks dan Konteks dalam Perspektif Semantik al-Jurjani, Firth dan A. Teun van Dijk Nurfauzan, Muhammad Fakhri; Fajarudin, Abdul Malik; Nisa, Mauidlotun; Susiawati, Wati
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 5 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1363

Abstract

Salah satu hal utama yang perlu diperhatikan untuk memahami makna suatu kalimat adalah konteks. Mengesampingkan konteks sama saja dengan memperlakukan sebuah kalimat atau ujaran secara tidak adil, karena keduanya saling terkait dalam proses pembentukan makna. Artikel ini mengeksplorasi pemikiran tiga tokoh utama dalam kajian teks dan konteks, yaitu Abdul Qahir al-Jurjani, J.R. Firth, dan Teun A. van Dijk, serta relevansinya dalam analisis modern. Studi ini juga membahas aplikasi teori mereka dalam berbagai kajian modern, termasuk analisis sastra, linguistik fungsional, analisis wacana kritis, dan studi media. Pendekatan al-Jurjani membantu memahami pengaruh konteks historis dan budaya terhadap interpretasi karya sastra, sementara konsep Firth memperdalam analisis interaksi antara struktur teks dan konteks sosial. Model kognisi sosial van Dijk membuka peluang untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman individu dan konteks sosial membentuk pemahaman teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna bahasa merupakan hasil interaksi kompleks antara teks dan konteks. Integrasi teori-teori ini dalam kajian modern memberikan wawasan mendalam tentang komunikasi manusia serta pembentukan makna dalam berbagai situasi sosial dan budaya. Dengan demikian, pemikiran al-Jurjani, Firth, dan van Dijk tetap relevan dalam menjelaskan dinamika komunikasi di era modern. One of the key aspects to consider in understanding the meaning of a sentence is context. Ignoring context is equivalent to treating a sentence or utterance unfairly, as both are inherently interconnected in the process of meaning formation. This article explores the ideas of three prominent figures in the study of text and context: Abdul Qahir al-Jurjani, J.R. Firth, and Teun A. van Dijk, as well as their relevance in modern analysis. The study also examines the application of their theories in various contemporary fields, including literary analysis, functional linguistics, critical discourse analysis, and media studies. Al-Jurjani’s approach aids in understanding the influence of historical and cultural contexts on the interpretation of literary works, while Firth’s concept enhances the analysis of interactions between text structures and social contexts. Van Dijk’s model of social cognition provides opportunities to explore how individual experiences and social contexts shape text comprehension. The findings indicate that the meaning of language results from the complex interaction between text and context. Integrating these theories into modern studies offers profound insights into human communication and the formation of meaning in diverse social and cultural situations. Thus, the thoughts of al-Jurjani, Firth, and van Dijk remain highly relevant in explaining the dynamics of communication in the modern era
Karakteristik Ragam Bahasa Tutur dan Tulis: Implementasi Pada Bahasa Arab Fusha dan Ammiyyah Ibnu Hamid, Mohammad Mahdi; Nurzahira, Fadhilah; Muhammad Makhluf, Husnaini; Susiawati, Wati; Nisa, Mauidlatun
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 5 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1364

Abstract

Kajian ini menyoroti peran bahasa Arab Fusha sebagai media komunikasi formal yang konsisten dengan kaidah tata bahasa, serta penggunaan Ammiyah yang fleksibel dan mencerminkan budaya lokal. Analisis ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang variasi bahasa dalam konteks sosial dan fungsional, terutama pada bahasa Arab Fusha dan Ammiyyah. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dengan mengkaji literatur yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, dan dokumen resmi yang berkaitan dengan bahasa Arab Fusha dan Ammiyah dalam konteks formal dan informal. Hasil kajian yang didapatkan yaitu Bahasa tutur cenderung digunakan dalam situasi informal, dengan karakteristik spontanitas, penggunaan idiom, dan isyarat nonverbal. Sebaliknya, bahasa tulis lebih sering digunakan dalam konteks formal yang menuntut struktur kalimat kompleks, kosakata baku, dan objektivitas. Contoh ragam bahasa tutur dan tulis pada bahasa Arab fusha yaitu ragam tutur pada pidato kenegaraan Raja Faisal dari Saudi Arabia terkait sosial-politik dan ragam tulis bahasa Arab Fusha pada surat tertulis tentang pertemuan antara pejabat tinggi negara, yaitu Perdana Menteri Luar Negeri Qatar dengan Menteri Luar Negeri Singapura. Kemudian contoh ragam tutur dan tulis pada bahasa Arab Ammiyyah yaitu ragam tutur pada pada salah satu potongan video di sosial media tentang cuplikan cerita kegiatan sehari-hari seorang laki-laki pada sosial media Youtube, dan ragam bahasa tulis bahasa Arab Ammiyah dapat ditemukan pada salah satu potongan percakapan dengan tema “ di apotek” pada buku yang khusus menggunakan bahasa Arab Ammiyyah. This study also highlights the role of Arabic Fusha as a medium of formal communication adhering to grammatical rules, and Ammiyah as a flexible form reflecting local cultures. The analysis aims to enhance understanding of language variation in social and functional contexts, specially for Arabic Fusha and Ammiyah. Which is using a qualitative descriptive approach. Data were collected through literature studies by reviewing relevant literature, such as books, journal articles, and official documents related to Fusha and Ammiyah Arabic in formal and informal contexts.The results of the study obtained are that spoken language tends to be used in informal situations, with the characteristics of spontaneity, the use of idioms, and nonverbal signs. In contrast, written language is more often used in formal contexts that demand complex sentence structure, standard vocabulary, and objectivity. Examples of various spoken and written languages in Arabic fusha are the variety of speech in the state speech of King Faisal of Saudi Arabia related to socio-politics and the variety of written Arabic Fusha in a written letter about the meeting between high-ranking state officials, namely the Prime Minister of Qatar and the Minister of Foreign Affairs of Singapore. Then examples of the variety of speech and writing in Ammiyyah Arabic, namely the variety of speech in one of the video clips on social media about snippets of stories of a man's daily activities on social media Youtube, and the variety of written languages in Ammiyah Arabic can be found in one of the conversation clips with the theme "in the pharmacy" in a book that specifically uses Ammiyyah Arabic.
Penerapan Sadd Adz-Dzari’ah Pada Lembaga Keuangan Syariah Abna, Muhammad Luthfi; Muhammad Ikram, Andi
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 5 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1367

Abstract

Melihat perkembangan serta potensi pertumbuhan ekonomi syariah yang disebabkan oleh tren global yang menjadikan ekonomi syariah sebagai alternatif dalam perkembangan perekonomian membuat ekonomi syariah semakin banyak dikenal oleh masyarakat. Sebagaimana Sadd adz-dzari’ah memiliki beberapa keterkaitan pada proses perkembangan ekonomi Islam, yang mana hal tersebut dapat dengan mudah ditemukan pada lembaga keuangan. Penerapan sadd adz-dzariah dapat ditemukan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonnesia (MUI), salah satunya terkait haramnya bunga bank. Pada lembaga keuangan syariah penerapan sadd adz-dzari’ah ditemukan pada tawarruq yang dipergunakan untuk memperoleh dana cash. Dalam hal ini dapat dilihat Fatwa DSN MUI No. 82 Tahun 2011 tentang Perdagangan Komoditi Berdasarkan Prinsip Syariah di Bursa Komoditi.
Nasikh Mansukh : Dinamika Perubahan Hukum dalam Al-Qur’an Sebagai Sumber Ajaran Islam yang Pertama Sholihah, Astri Khodimatus; Sanah, Siti
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 5 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1368

Abstract

An-nasikh wal mansukh adalah konsep penting dalam studi hukum Al-Qur’an yang menggambarkan perubahan atau penggantian hukum sebagai respons atas perkembangan sosial dan kebutuhan umat Islam agar tetap relevan sesuai dengan zaman. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini untuk mengidentifikasi serta mengklasifikasi berbagai ayat al-quran yang terkena nasikh mansuk serta untuk menggali secara mendalam konsep tersebut, khususnya dalam konteks dinamika perubahan hukum Islam. Penelitain ini berupa studi pustaka atau library research dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan dilakukan mencari dari berbagai sumber data berupa buku dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian ini adalah klasifikasi an-nasikh wal mansukh tidak hanya terkait dengan perubahan hukum, tetapi juga mencerminkan Islam sebagai agama yang merespons perubahan kebutuhan sosial. Dengan demikian, , kajian ini mempertegas kedudukan Al-Qur'an sebagai kitab pedoman umat yang dinamis, relevan, serta mendukung kemaslahatan manusia sepanjang masa. Kesimpulannya Kajian tentang nasikh dan mansukh dalam Al-Qur’an menggambarkan dinamika perubahan hukum dalam Islam sebagai respons terhadap kebutuhan Masyarakat. Proses ini mencerminkan fleksibilitas dan hikmah dalam ajaran Islam, sekaligus menunjukkan bahwa Al-Qur’an sebagai panduan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. An-nasikh wal mansukh is an important concept in the study of Al-Qur'an law which describes changes or replacements in law in response to social developments and the needs of Muslims to remain relevant according to the times. The aim of this research is to identify and classify various verses of the Koran that are affected by nasikh mansuk and to explore in depth this concept, especially in the context of the dynamics of changes in Islamic law. This research takes the form of a library research with a qualitative approach. Data was collected by searching from various data sources in the form of books and scientific journals. The results of this research are that the an-nasikh wal mansukh classification is not only related to legal changes, but also reflects Islam as a religion that responds to changing social needs. Thus, this study emphasizes the position of the Al-Qur'an as a book of guidance for the people that is dynamic, relevant, and supports human benefit throughout time. In conclusion, the study of nasikh and mansukh in the Al-Qur'an illustrates the dynamics of legal change in Islam as a response to the needs of society. This process reflects the flexibility and wisdom in Islamic teachings, while also showing that the Al-Qur'an is a guide that is adaptive to current developments.
Sufism Values in Fast Prayer Sambayang Marapas Study in West Sulawesi Nurfadil
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 5 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v6i1.1370

Abstract

This research uncovers the impropriety of fast prayer Sambayang Marapas and reveals the Sufism values of the practitioners of Sambayang Marapas or fast parayer in Sulawesi. Based on the situation in the field, the worship has triggered the emergence of pro and contra debates. Because many parties have begun to view the practice of Samabayang Marapas as a deviation and classified as a cult and far from the values and practices of diversity in Islam, while for some people including worshipers see that Sambayang Marapas is a not deviant teaching because the originator of the fast prayer is a person known as an awali Allah, and the worshipers also hold that the only one has the right to judge the validity or invalidity of prayer is Allah SWT.