cover
Contact Name
Dhini Dewiyanti
Contact Email
jlbi@iplbijournals.id
Phone
+628122184048
Journal Mail Official
dhinijlbi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Antropologi 20. Komp. UNPAD. Cigadung. Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia
ISSN : 23019247     EISSN : 26220954     DOI : https://doi.org/10.32315/jlbi
Jurnal ini menerima tulisan ilmiah dalam bentuk artikel hasil penelitian, artikel diskursus, dan artikel metode penelitian. Ruang lingkup keilmuan yang diwadahi oleh jurnal ini meliputi bidang arsitektur lanskap, arsitektur perilaku dan lingkungan, pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebijakan, perancangan arsitektur, perencanaan dan perancangan kota, perencanaan wilayah dan perdesaan, perumahan dan permukiman, sains dan teknologi bangunan, sejarah dan teori arsitektur dan kota, sistem infrastruktur wilayah dan kota, serta bidang keilmuan lingkungan binaan lainnya.
Articles 237 Documents
Distribusi Pencahayaan Alami di Arya Duta Hotel Makassar Ramli Rahim; Nurul Jamala; Syavir Latief; Rahma Hiromi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 1 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.42

Abstract

Pemanasan global mempengaruhi kondisi langit dan juga mempengaruhi suhu di permukaan bumi. Perubahan kondisi langit mempengaruhi distribusi cahaya ke dalam gedung. Sinar matahari adalah sumber cahaya alami di pagi, siang dan malam hari. Pemanfaatan pencahayaan alami menjadi bangunan, dapat mengurangi penggunaan energi sebagai sumber pencahayaan buatan. Hotel Arya Duta memiliki bentuk unik dari orientasi terhadap sunrise dan sunset, sehingga perlu dianalisis, bagaimana distribusi cahaya ke dalam gedung, sehingga bisa menjadi panduan dalam mendesain bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana pengaruh posisi, tinggi lantai dan bukaan jendela pada selubung bangunan terhadap distribusi cahaya alami. Metode penelitian kuantitatif adalah menganalisa tingkat iluminasi di dalam dan di luar gedung dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian adalah tingkat pencahayaan siang hari tergantung pada kondisi langit dan telah mempengaruhi distribusi cahaya ke dalam gedung. Distribusi cahaya meningkat pada ketinggian lantai. Serta membuka jendela pada amplop bangunan (pencahayaan atas dan pencahayaan samping) memiliki efek pada tingkat pencahayaan di gedung. Distribusi cahaya alami akan meningkat pada siang hari, jika kondisi langit tidak berubah dalam satu hari.
Preferensi Masyarakat Sarbagita dalam Membangun Rumah Ni Made Dwi Sulistia Budhiari; I Putu Agus Wira Kasuma
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 1 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.36

Abstract

Pemenuhan kebutuhan perumahan merupakan salah satu indikator capaian keberhasilan Kementerian PUPR dalam bidang perumahan untuk menurunkan angka backlog. Salah satu upaya penyedian perumahan adalah melalui rumah swadaya. Penyedian rumah secara swadaya pada wilayah tertentu umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor budaya dan arsitektur didaerah kelahiran pemilik serta beberapa faktor lainnya. Metodelogi kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis crostab atau tabulasi silang untuk mengetahui preferensi yang mempengaruhi masyarakat di wilayah kajian dalam proses membangun rumah. Secara keseluruhan yang memiliki pengaruh terhadap pembangunan rumah berdasarkan preferensi masyarakat adalah jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, tingkat penghasilan. Berdasarkan faktor-faktor atau parameter tersebut akan menghasilkan jawaban masyarakat terkait dengan preferensi membangun rumah dan keterkaitan antar faktor-faktor yang berpengaruh akan menjadi dasar pertimbangan untuk membantu mengeluarkan kebijakan terkait penyediaan rumah.
Transformasi Bentuk dan Material Rumah di Permukiman Pesisir Suku Bajoe di Bone Nurul Nadjmi; Inya Masita Talaohu
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 1 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.29

Abstract

Kebudayaan bermukim dengan lingkungan masyarakat yang berbudayamemberikan nuansa masa lampau yang terbentuk dalam sebuah wujud budaya dan telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam perjalanannya budaya tersebut mengalami perubahan dalam proses akulturasi dalam bermukim dari satu individu ke individu yang lain dan juga dari satu generasi ke generasi yang lain. Hal ini di alami oleh Suku Bajoe di Bone. Kebudayaan menjadi bagian yang sangat berpengaruh terhadap bentuk dan material rumah yang ada. Yang mana terdapat nilai-nilai filosofi tersendiri terhadap bentuk dan material rumah serta merupakan faktor yang mentransformasi bentuk rumah pada permukiman Suku Bajoe di Bone. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana transfomasi terhadap bentuk dan material pada rumah dipermukiman pesisir Suku Bajoe yang berada di tiga tempat yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sehingga didapatkan bentuk transformasi yang terjadi pada bentuk dan material rumah pada permukiman Suku Bajoe.
Nilai-nilai Signifikan Pusaka dalam Persepsi Publik di Kawasan Pasca Bencana Zya Dyena Meutia; Roos Akbar; Denny Zulkaidi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v8i2.119

Abstract

Pusaka merupakan salah satu unsur penting dalam perencanaan kota. Pusaka dapat terbentuk karena nilai-nilai signifikan yang melekat padanya, namun selama ini acapkali pusaka dianggap penting jika memiliki nilai-nilai berkarakteristik baik dan positif pada sebuah kawasan berupa bangunan, kelompok bangunan dan monumen. Padahal tidak hanya itu, pusaka terbentuk dari nilai-nilai signifikan yang komprehensif baik akibat peristiwa baik maupun buruk dan nilai usia tidak menjadi pertimbangan utama lagi. Tujuan penelitian ini adalah pemikiran komponen nilai-nilai dalam perencanaan pusaka yaitu nilai tangible dan nilai intangible yang membangkitkan nilai-nilai dalam masyarakat untuk melestarikan pusaka. Penelitian ini memakai metode gabungan dengan pendekatan interpretatif dari hasil survei online dan wawancara mendalam karena berupaya mengkonstruksikan keberadaan nilai-nilai signifikan kultural dalam persepsi publik yang memandang sebuah kawasan sebagai pusaka dengan mengambil kasus di beberapa kawasan yang terkena dampak bencana tsunami 2004 di Banda Aceh seperti kawasan kapal PLTD Apung dan sekitarnya. Hasil pembahasan yang didapatkan adalah persepsi publik akan nilai-nilai pembentuk pusaka lebih menekankan pada nilai-nilai intangible seperti, nilai memori, nilai sense of place, nilai spiritual dan nilai tradisi sebagai bentuk pembelajaran dengan mengenang peristiwa besar yang dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk fisik di kawasan pasca bencana.
Kajian Ragam Hias Lamin Pampang Samarinda Anna Rulia
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.2.124

Abstract

Lamin merupakan rumah khas suku Dayak yang memuat beberapa keluarga sekaligus. Keunikan Lamin tidak hanya dari bentuknya yang memanjang dan berpanggung namun juga kekayaan ragam hiasnya, termasuk ragam hias yang terdapat pada Lamin Pampang di Samarinda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ragam hias pada rumah Lamin ditinjau dari asal-usul bentuk, fungsi serta modelnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Data-data penelitian dikumpulkan melalui survey, observasi serta dokumentasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan akan kekayaan arsitektur Indonesia khususnya ragam hias rumah Lamin.
Dokumentasi Rumah Aceh sebagai Upaya Pelestarian Arsitektur Tradisional Aceh (Studi Kasus : Rumah T. Tjhik Muhammad Said) Muhammad Iqbal; Effan Fahrizal; Heggy Selmi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.2.116

Abstract

Upaya pelestarian arsitektur tradisional Aceh, khususnya bangunan “Rumoh Aceh” dirasakan sangat kurang. Saat ini, “Rumoh Aceh” milik T. Tjhik Muhammad Said yang berlokasi di Cunda Kota Lhokseumawe masih berdiri tegap dan memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat aceh pada zaman dulu, dimana nilai sosial, budaya, ekonomi, religi dan estetika tercermin dari bentuk denah, tampilan bangunan serta detail ornamen arsitektur. Rumah tersebut merupakan saksi sejarah perkembangan arsitektur pada masa itu, dimana tanpa disadari, masyarakat aceh telah mengimplementasikan nilai-nilai arsitektur, seperti fungsi, bentuk dan estetika dalam membangun rumah. Atas dasar hal tersebut, maka diperlukan penelusuran keberadaan rumah aceh milik T. Tjhik Muhammad Said, sebagai upaya untuk pelestarian Arsitektur Rumoh Aceh. Adapun metode penelitian mengikuti prinsip dokumentasi dari ICOMOS dan bersifat kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan rumah aceh Tjhik Muhammad Said merupakan bukti otentik yang menunjukkan nilai Arsitektur telah berkembang dan tumbuh sejak lima abad yang lalu.
Fleksibilitas Hunian Nelayan Berpanggung Terapung di Danau Tempe Kabupaten Soppeng Syarif Beddu; Ananto Yudono; Afifah Harisah; Mochsen Sir
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.23

Abstract

Danau Tempe merupakan danau tertua dan terluas di jazirah Provinsi Sulawesi Selatan, menggenangi tiga kabupaten kota yaitu, Kabupaten Wajo, Soppeng, dan Sidrap. Keberadaan Danau Tempe memberi pengaruh terhadap pola mata pencaharian dan pola bermukim bagi masyarakat sekitarnya. Mereka hidup bertani (pallaon ruma) dan nelayan (pakkaja), menempati kawasan permukiman di Kampung Salo Mate, Kelurahan Limpomajang Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng. Sebagian masyarakat nelayan ini hidup bermukim di atas permukaan air Danau Tempe, dan menempati “rumah berpanggung terapung” (RBT). Rumahnya bentuk panggung dan berdiri di atas rakit (rai), dihuni sekitar tahun 2000-an. Bermukim secara terapung di Danau Tempe menimbulkan fleksibilitas ruang gerak secara makro dan mikro yang mengisyaratkan suasana kemaritiman. Persoalan rumah terapung adalah, bergerak kesana-kemari, bebas orientasi, berubah-ubah kapling, berpindah dengan bantuan tenaga perahu bermotor, rakit berfungsi pelampung berbahan bambu sewaktu-waktu akan diganti. Tujuan keberadaan hunian RBT bagi masyarakat nelayan adalah untuk memudahkan, mencari ikan sampai ke tengah Danau Tempe.
Karakter Arsitektural Bangunan Kolonial sebagai Warisan Budaya Kota Singaraja Ni Ketut Agusintadewi; Tri Anggraini Prajnawrdhi; Made Wina Satria
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.16

Abstract

Menelusuri sejarah Kota Singaraja sebagai ibukota Kabupaten Buleleng di Bali Utara selalu bertalian erat dengan peninggalan arsitektur kolonial Belanda. Peninggalan arsitektur kolonial masih dapat ditemui dibeberapa sisi kota, tetapi tidak sedikit yang sudah mengalami perubahan bentuk, bahkan tampak berbeda dengan keadaan semula. Adanya akulturasi dalam arsitektur antara penjajah dan kultur Bali dan juga penyesuaian pada iklim tropis menyebabkan arsitektur kolonial di kota ini memiliki tampilan yang unik. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri pembentuk elemen fasade bangunan dan pembentuk elemen ruang dalam sebagai karakter arsitektural bangunan kolonial di Kota Singaraja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengambilan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Bangunan kolonial yang dipilih sebagai kasus studi dilakukan dengan teknik purposive sampling melalui beberapa kriteria. Analisis data dilakukan secara induktif dengan lebih menekankan kepada makna dan nilai sejarah. Hasil pengamatan peneliti menjadi salah satu cara untuk memaparkan dan menyimpulkan kedua elemen pembentuk karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan kolonial di Kota Singaraja memiliki karakter arsitektural yang dapat ditentukan dari jendela, pintu masuk, atap, dan dinding. Sementara karakter yang lain dapat ditentukan dari denah dasar dan bentuk bangunan. Indikator dari variabel-variabel tersebut semakin memperkuat karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut secara fisik dan visual sebagai warisan budaya kota dalam memperkuat identitas Kota Singaraja sebagai kota pusaka.
Otentisitas Kawasan dan Nilai Ekonomi sebagai Penjaga Identitas Kawasan Pelestarian Kebayoran Baru Jakarta A. Hadi Prabowo; Nurhikmah B. Hartanti
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.10

Abstract

Keaslian atau otentisitas kawasan merupakan prinsip pelestarian dengan pendekatan berbasis nilai (value-based approach). Otentisitas kawasan pada kawasan pelestarian akan memperkuat nilai arti penting (significance). Dengan dapat memperhatikan otentisitas pada kawasan yang mempunyai keunikan sehingga dapat menjadi identitas kawasan. Kawasan yang mempunyai otentisitas tinggi cenderung akan memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Nilai ekonomi terdiri dari use value dan non use value. Use value berdasarkan harga tanah sedangkan non use value dipengaruhi oleh rasa gengsi, meningkatkan status sosial dan kebanggaan. Kawasan yang mempunyai otentisitas tinggi akan mempunyai identitas yang lebih kuat dan berpengaruh terhadap use value atau harga tanah. Kebayoran Baru merupakan kawasan pelestarian yang telah mengalami perubahan dan masih terdapat elemen kawasan yang memiliki otentisitas. Makalah ini membahas keterkaitan antara otentisitas dengan nilai ekonomi. Metode yang digunakan adalah superimpose peta otentisitas struktur jalan, bentuk ruang terbuka hijau, bentuk bangunan dengan peta harga tanah. Terdapat kecenderungan keterkaitan antara otentisitas dengan nilai ekonomi.
Perubahan Orientasi Permukiman Tepi Sungai sebagai Pengaruh Eksistensi Sungai Musi Palembang Bambang Wicaksono; Ari Siswanto; Susilo Kusdiwanggo; Widya Fransiska Febriati Anwar
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 3 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.126

Abstract

Eksistensi Sungai Musi pada awalnya menjadi orientasi bangunan rumah yang menghadap ke sungai. Ruang air mulai di persempit dengan kehadiran bangunan baru yang menempati area diatas lahan yang tertutup air. Perubahan budaya sungai ke darat berpengaruh kepada kehadiran bangunan baik yang lama maupun yang baru. Hal ini menyebabkan hilangnya potensi lokal dan identitas arsitektur lokal dan berakibat hilangnya eksistensi sungai tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh eksistensi sungai Musi dalam perubahan orientasi permukiam tepi sungai dari ruang air ke ruang darat. Untuk mencapai tujuan tersebut, studi mengidentifikasi jejak arsitektur permukiman, mengekplorasi aktivitas dan gagasan masyarakat tepian sungai. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Analisis dilakukan secara kualitattif terhadap variabel, orientasi, posisi, bentuk, dan tata letak hunian tepi sungai. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tepian sungai yang dibangun pada area aliran anak sungai masih memiliki orientasi ke sungai. Sedangkan rumah yang dibangun pada area yang dekat dengan jalan bergeser lebih orientasi ke darat. Studi menyimpulkan bahwa Perubahan orientasi permukiman tepian sungai disebabkan oleh perubahan eksistensi Sungai Musi Palembang.

Page 9 of 24 | Total Record : 237