cover
Contact Name
Riki Ranova
Contact Email
riki.farm@gmail.com
Phone
+6281277752221
Journal Mail Official
ejurnal.akfarib@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kesehatan No. 20 Belakang RSAM Kel, Bukit Apit Puhun, Guguk Panjang, Bukittinggi , Sumatera Barat 26114
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
ISSN : -     EISSN : 28304802     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional secara resmi yang dikelola oleh Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi yang artikelnya dapat diakses dan unduh secara online oleh publik. Jurnal ini adalah jurnal review nasional, yang terbit 2 (dua) kali dalam setahun pada bulan Januari dan Juli dengan topik-topik keunggulan hasil penelitian di bidang obat tradisional, teknologi kefarmasian, pelayanan dan praktek kefarmasian, pengobatan masyarakat, serta disiplin ilmu kesehatan yang terkait erat. Jurnal ini memfokuskan pada tema meliputi Farmakognosi, Fitokimia, Farmasetika, Kimia Farmasi, Farmasi Klinis dan Farmasi Komunitas.
Articles 99 Documents
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kulit Jeruk Manis (Citrus sinensis L.) Dalam Mouthwash Terhadap Aktifitas Bakteri Streptococcus mutans Ningsih, Wida; Elisa, Ayudia; Afdhil, Arel; Eka, Desnita; Tiara, Salsabila
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.194

Abstract

Halitosis atau dikenal juga dengan bau mulut yang disebabkan oleh salah satunya bakteri Streptococcus mutans. Upaya untuk mengatasi halitosis yaitu menjaga kebersihan mulut dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut. Kulit jeruk manis (Citrus sinensis L. mengandung senyawa flavonoid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak dalam bentuk mouthwash yang dapat menghambat bakteri penyebab bau mulut. Pada penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Kulit jeruk manis diformulasi bentuk sediaan obat kumur dengan variasi konsentrasi 10%; 14% dan 18% serta dilakukan pengujian aktifitas antibakteri dengan metode difusi agar menggunakan cakram. Obat kumur yang sudah diformulasi disimpan pada suhu kamar selama 21 hari dan mengamati sifat fisik obat kumur meliputi organoleptis, pengujian kejernihan, pH, bobot jenis dan viskositas. Sifat fisik sediaan obat kumur yang diformulasi menunjukkan hasil yang hampir sama dengan sifat fisik pada sediaan obat kumur yang sudah beredar dipasaran. Untuk sediaan mouthwash pada formula F0 daya hambat sebesar 8 mm dan F1(10%) 10 mm yang termasuk kategori daya hambat sedang sedangkan pada F2 (14%) 12 mm dan F3 (18%)14 mm yang termasuk kategori daya hambat yang kuat. Analisis data menggunakan uji One Way Anova dengan hasil p>0,005 yang menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara konsentrasi ekstrak dan sediaan mouthwash.
Optimization Of Bilberry Extract (Vaccinium myrtillus L.) Micellar Water Formulation With Humectant Variation Using The Simplex Lattice Design (Sld) Method Susanto, Sharon
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.196

Abstract

Micellar water is a water-based cosmetic formulation designed to cleanse the face effectively without the need for rinsing. This study aimed to develop and optimize a micellar water formulation containing bilberry (Vaccinium myrtillus L.) extract—known for its antioxidant properties—combined with humectants glycerin and propylene glycol. The optimization process was carried out using the Simplex Lattice Design (SLD) method. Phytochemical screening of the bilberry extract confirmed the presence of active secondary metabolites including flavonoids, polyphenols, tannins, triterpenoids, and saponins. Five formulations were evaluated based on organoleptic properties, pH, viscosity, foam height, and foam stability. All formulations met standard cosmetic specifications. SLD analysis indicated that variations in humectant concentration only statistically significant effect (p < 0.05) on the foam height parameter. The optimal formula was identified with a combination of 9.75% propylene glycol and 5.25% glycerin, achieving a desirability value of 1.000. In conclusion, this formulation shows great potential as a natural, effective, and skin-friendly micellar water product.
Formulasi Dan Uji Efektivitas Analgetik Balsem Minyak Atsiri Biji Pala (Myristica fragrans) Pada Mencit Putih Jantan Elmitra, Elmitra; Meta Emilia Surya, Dharma; Sri Bella, Oktavia
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.206

Abstract

Minyak atsiri biji pala mengandung eugenol, linalool dan miristisin yang memiliki aktivitas sebagai analgetik. Penelitan ini bertujuan untuk memformulasi minyak atsiri biji pala (Myristica fragrans) menjadi balsem dengan berbagai konsentrasi, mengetahui efektivitas analgetik sediaan balsem minyak atsiri biji pala dan melihat konsentrasi sedian yang memiliki efektivitas analgetik paling baik. Balsem dibuat menjadi empat formula F0, F1, F2, dan F3. Evaluasi sediaan balsem meliputi uji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, stabilitas, daya lekat dan uji iritasi. Hasil uji pH selama 6 minggu didapatkan rentang pH sediaan berkisar 5,35-6,24. Uji homogenitas didapatkan bahwa sedian balsem homogen. Uji stabilitas menunjukkan keempat sediaan stabil secra fisik. Uji daya sebar didapatkan hasil 5,19-5,41. Uji iritasi balsem tidak menimbulkan reaksi iritasi pada kulit. Uji efektivitas sediaan balsem dilakukan dengan dua metode yaitu hotplate dan jentik ekor. Uji analgetik metode hotplate dan jentik ekor didapatkan waktu puncak latency pada menit ke 90 dan dengan %MPE yaitu 93,18% pada metode hotplate dan 35,86% untuk jentik ekor. Dari data waktu respon seluruh kelompok dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA dua arah dan dilakukan uji Duncan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu minyak atsiri biji pala dapat diformulasi menjadi sediaan balsem dengan berbagai konsentrasi, balsem minyak atsiri biji pala memiliki efektivitas analgetik dengan konsentrasi efektivitas analgetik paling baik pada metode hotplate dan jentik ekor yaitu 8%.
Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus mauritiana) Yang Tumbuh Di Bukittinggi Dan Di Sijunjung Dengan Metode BSLT (Brine shrimp Lethality Test) rahmayulis; Aulia, Andini; Hilmarni; Ariya Eka, Kusuma
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.224

Abstract

Bidara leaves are a plant that can be used as a traditional medicine. Bidara leaves are believed to have properties that can treat mouth ulcers, lower cholesterol levels and even have potential in treating cancer. Bidara leaves contain secondary metabolites, include alkaloids, flavonoids, phenolics, terpenoids, and saponins. This study aims to determine the differences in cytotoxic activity of bidara leaves growing in the Bukittinggi and Sijunjung areas using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. Bidara leaves were extracted by maceration using 96% ethanol solvent, resulting in a thick extract of Bukittinggi bidara leaves of 15.3 g with a yield of 3.82% and a thick extract of Sijunjung bidara leaves of 19 g with a yield of 5.42%. In the cytotoxic test, the concentration of the test solution used was 10 ppm, 100 ppm, 1,000 ppm, and 10,000 ppm. The results of the cytotoxic activity test of Bukittinggi bidara leaves and Sijunjung bidara leaves were known to be very toxic, with different LC50 values, the ethanol extract of Bukittinggi bidara leaves had an LC50 value of 151.35 ppm and the ethanol extract of Sijunjung bidara leaves had an LC50 value 128.82 ppm. From the results of this study, it can be concluded that the ethanol extract of Sijunjung bidara leaves is more toxic than the ethanol extract of Bukittinggi bidara leaves
Perbandingan Kandungan Fenolik Total Dan Antioksidan Ekstrak Akar Tapak Liman (Elephantopus scaber Linn Dan Elephantopus mollis Kunth) Mega Yulia; Adelya, Melta; Nurdin, Hazli; Fera, Okta
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.227

Abstract

Two species of tapak liman plants commonly known in Indonesia, Elephantopus scaber Linn and Elephantopus mollis Kunth, belonging to the Asteraceae family, are known to have many health benefits. Tapak liman plants produce secondary metabolites such as phenolics. Phenolic compounds are known to act as antioxidants. This study aims to determine the comparison of total phenolic content in ethanol extracts of E. scaber and E. mollis roots, as well as the comparison of antioxidant activity between E. scaber and E. mollis roots using the DPPH method. The results of phytochemical screening of ethanol extracts from E. scaber and E. mollis roots revealed the presence of phenolic compounds, flavonoids, and terpenoids. The total phenolic compound content in E. scaber samples was determined to be 4.31% and in E. mollis samples to be 2.35%. The determination of the maximum absorption wavelength of DPPH at 35 µg/ml using a UV-Vis spectrophotometer showed a maximum absorption wavelength of 519 nm with an absorbance of 0.610. The antioxidant activity of the ethanol extract of E. scaber roots was obtained with an IC50 of 131.4431 µg/ml, while that of E. mollis roots was 106.4321 µg/ml. Based on these results, it can be concluded that the total phenolic content of the ethanol extract of E. scaber roots is higher than that of E. mollis roots. Furthermore, the antioxidant activity of the E. scaber root extract is stronger than that of the E. mollis root extract, but both still fall into the same category, namely the moderate category. Based on statistical tests using the T test, it shows that the significant differences for phenolic content and not significant for antioxidant activity (p < 0.05).
Formulasi Dan Uji Aktivitas Analgetik Gel Minyak Atsiri Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum) Sebagai Analgetik Topikal ranova, riki; Hilmarni; Hazjirah Irwandi, Mughnie; Dwi, Mulyani
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.228

Abstract

Minyak atsiri daun cengkeh (Syzygium aromaticum) mengandung senyawa eugenol yang berpotensi sebagai analgetik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas analgetik gel minyak atsiri daun cengkeh dengan konsentrasi 2%, 3%, dan 4% menggunakan mencit dengan metode formalin test. Sediaan gel dioleskan secara topikal sebelum induksi nyeri dengan formalin yang disuntikkan secara subkutan pada punggung kaki mencit. Aktivitas analgetik dievaluasi dari respon menjilat serta menggigit diamati setiap 5 menit selama 20 menit. Sebagai kontrol positif menggunakan krim metil salisilat, sedangkan kontrol negatif berupa gel tanpa minyak atsiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula gel mampu menurunkan frekuensi respon menjilat dan menggigit dibandingkan kontrol negatif, dengan efektivitas tertinggi pada formula 4%, disusul formula 3% dan 2%. Formula 4% menunjukkan aktivitas yang mendekati kontrol positif terutama pada fase nyeri awal, mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi minyak atsiri berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas analgetik. Secara keseluruhan, gel minyak atsiri daun cengkeh memiliki aktivitas analgetik topikal yang signifikan dan bersifat dose-dependent, dengan formula 4% sebagai konsentrasi paling efektif untuk dikembangkan sebagai kandidat sediaan analgetik berbasis bahan alam.
Pengaruh Ekstrak Daun Kitolod (Hippobroma longiflora L.) Terhadap Kadar Malondialdehid Dan Jaringan Histopatologi Hati Tikus Putih Jantan Yang Diinduksi Isoniazid Dan Rifampisin afrianti, Ria; Suhatri, Suhatri; Nur, Aina; Riki, Ranova
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.233

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan memerlukan pengobatan jangka panjang dengan kombinasi isoniazid dan rifampisin. Pengunaan isoniazid dan rifampisin untuk mengobati penyakit tuberkulosis dapat menyebabkan hepatotoksisitas melalui mekanisme stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid (MDA) dan kerusakan jaringan hati. Daun kitolod (Hippobroma longiflora L.) mengandung senyawa antioksidan diduga dapat menurunkan kadar MDA dan membantu memperbaiki kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kitolod terhadap kadar malondialdehid dan gambaran histopatologi hati tikus putih jantan yang diberi isoniazid dan rifampisin. Pada penelitian ini hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dosis ekstrak 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB. Pengukuran kadar MDA dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan gambaran histopatologi menggunakan metode pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Nilai rata-rata kadar MDA pada kelompok kontrol negatif adalah 2,07 nmol/mL, kontrol positif adalah 3,28 nmol/mL, kelompok dosis 100 mg/kgBB adalah 2,59 nmol/mL, kelompok dosis 200 mg/kgBB adalah 2,42 nmol/mL, dan kelompok dosis 400 mg/kgBB adalah 2,30 nmol/mL. Hasil nilai rata-rata kadar MDA kelompok dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB secara signifikan (p<0,05) mendekati nilai rata-rata kadar MDA kelompok kontrol negatif. Hasil pengamatan histopatologi hati menunjukkan perbaikan kerusakan hati yang baik dengan dosis 400 mg/kgBB mendekati kontrol negatif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun kitolod dapat menurunkan kadar MDA dan memperbaiki kerusakan jaringan hati tikus putih jantan yang diinduksi isoniazid dan rifampisin.
Aktivitas Antioksidan, Kandungan Fenolik Dan Flavonoid Total Dari Ekstrak Etanol Daun Sauropus androgynus Dari Berbagai Wilayah Provinsi Riau, Indonesia Utami, Rahayu; Rifka, Zahira; Syilfia, Hasti; Mustika, Furi; Roscha Ulfa, Farsesa; Putri, Lestari; Haiyul, Fadhli
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.237

Abstract

Sauropus androgynus (katuk) merupakan tumbuhan obat dari famili Euphorbiaceae yang kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid dengan potensi aktivitas antioksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, kandungan fenolik dan flavonoid total dari ekstrak daun Sauropus androgynus dari beberapa wilayah di Provinsi Riau, Indonesia. Daun tumbuhan tersebut dikumpulkan dari lima lokasi berbeda, yaitu Kabupaten Pelalawan (PLN), Kampar (KMP), Rokan Hulu (RHU), Kepulauan Meranti (KMI), dan Kota Pekanbaru (PKU). Simplisia daun katuk diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol . Penentuan kandungan fenolik dan flavonoid total dilakukan dengan metode kolorimetri dengan menggunakan pereaksi Folin Ciocalteu dan AlCl3, sedangkan aktivitas antioksidan ekstrak dievaluasi menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun katuk KMI memberikan total kandungan fenolik dan flavonoid tertinggi, dengan nilai masing-masing 79,536±0,349 mgGAE (Gallic Acid Equivalent)/g dan 67,780±2,295 mgQE (Quercetin Equivalent)/g ekstrak. Ekstrak ini juga memberikan aktivitas antioksidan yang paling potensial dan berbeda secara signifikan dengan ketiga ekstrak lainnya (PKU, PLN, dan KMP) dengan nilai IC50 32,7±3,43 μg/mL. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa faktor geografis berpengaruh terhadap kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan daun katuk.
Effect Of Postharvest Drying Methods On Total Flavonoid Content, Total Phenolic Content, Antioxidant Activity, And Sensory Acceptance Of Coffee Mistletoe (Scurrula ferruginea [Roxb. Ex Jack] Danser) Tea Nofrizal; Astarie, Shinta Angelia; Putri, Lusia Eka
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 1 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i1.238

Abstract

Postharvest drying is a critical step in herbal tea processing as it affects the quality of simplicia, phytochemical content, biological activity, and sensory characteristics of the product. This study aimed to evaluate the effect of postharvest drying methods on total flavonoid content, total phenolic content, antioxidant activity, and sensory acceptance of coffee mistletoe (Scurrula ferruginea [Roxb. ex Jack] Danser) leaf tea. Coffee mistletoe leaves were dried using three different methods: sun drying, oven drying at 40°C, and room-temperature air drying. The dried samples were characterized physicochemically and analyzed for total flavonoid content (AlCl₃ method), total phenolic content (Folin–Ciocalteu method), and antioxidant activity using the DPPH radical scavenging assay (IC₅₀). A sensory acceptance test involving 20 panelists was conducted to evaluate aroma, color, and taste of the tea infusion. The results showed that the drying method significantly affected all evaluated parameters (p < 0.05). Sun drying produced the highest total flavonoid content (2.15 mmol QE/100g sample) and the highest sensory acceptance. Room-temperature drying resulted in the highest total phenolic content (51.41 mmol GAE/100g sample) and the strongest antioxidant activity with the lowest IC₅₀ value (86.4 µg/mL). Oven drying was the most effective in reducing moisture content but led to the greatest losses in flavonoids, phenolics, antioxidant activity, and sensory quality. In conclusion, room-temperature drying is more suitable for maximizing antioxidant potential, whereas sun drying is preferable for producing herbal tea with better consumer acceptance.

Page 10 of 10 | Total Record : 99