cover
Contact Name
Zaky Mumtaz Ali
Contact Email
zakymumtazali@gmail.com
Phone
+6285710251369
Journal Mail Official
jurnalulumulquran@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Puspiptek-Pembangunan, Kp. Cikarang Rt.01/07 Pabuaran, Gunung Sindur - Bogor 16340
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 27755169     EISSN : 27746496     DOI : -
Jurnal ini merupakah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darul Quran, Bogor. Jurnal ini bertujuan untuk mempublikasikan hasil kajian yang berkualitas di bidang ilmu Al-Quran dan tafsir yang relevan dengan perkembangan dunia modern pada saat ini.
Articles 84 Documents
Epistemology of Interpretation of Women's Leadership Verses in the Qur'an ( Comparative Study of Tafsir Al-Ibriz and Tafsir Al-Mishbah ) Amry, Achmad Amry Zumaro A'laa
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2024): Ulumul Quran: September 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v4i2.340

Abstract

The epistemology of interpretation critically analyzes the foundation of the theory of knowledge in interpretation. This study examines the sources, methods, and validity of interpretation, focusing on two mufassirs: Bisri Mustofa in Tafsir Al-Ibriz and Quraish Shihab in Tafsir Al-Mishbah. The research method employed is library research, with the interpretation of women's leadership verses as the object, using a descriptive-analytical approach. The author analyzes these verses and epistemological theories as analytical tools. The results reveal the epistemological structure of the two mufassirs: First, the source of interpretation: Bisri Mustofa relies on intellect (ra'yu), while Quraish Shihab uses Qur'anic texts, hadith, opinions of scholars and scientists, reason (ra'yu), and historical data. Second, the methodology of interpretation: both mufassirs use the tahlili (analysis) method; however, Bisri Mustofa adopts a textual approach, whereas Quraish Shihab adopts a more contextual approach. Third, the validity of interpretation: in terms of coherence, both interpretations maintain consistency; in terms of correspondence, Bisri Mustofa's interpretation lacks relevance to the contemporary reality, while Quraish Shihab's interpretation is more aligned with societal realities. Pragmatically, Bisri Mustofa's textual interpretation contributes inadequately to societal issues, whereas Quraish Shihab's contextual approach provides more significant contributions in addressing societal problems.
Kaligrafi Sebagai Implementasi Living Qur'an di SD IT Darul Quran Mulia Bogor Nur Huda, Fauzan Ashar; Shidiq, Muhammad Iqbal; Said, Hasani Ahmad
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2025): Ulumul Qur'an: March 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v4i2.341

Abstract

Tulisan ini menjelaskan pemanfaatan kaligrafi ayat-ayat al-Qur'an sebagai elemen dekoratif pada lingkungan belajar Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Darul Quran Mulia Bogor, sebagai bentuk praktik Living Qur'an. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif fenomenologis dan kerangka teori interaksionisme simbolik serta behavioristik, studi ini mengungkap bahwa kaligrafi tidak hanya berperan sebagai ornamen estetik, melainkan juga berfungsi sebagai artefak kultural yang mengukuhkan identitas Islami sekolah. Selain itu, kaligrafi juga berperan sebagai medium pembelajaran yang memperkaya pengalaman siswa dalam seni kaligrafi serta memperkuat internalisasi nilai-nilai agama. Temuan ini mengindikasikan potensi kaligrafi sebagai perangkat pedagogis yang efektif dalam konteks pendidikan Islam dan praktik Living Qur'an.
Menelisik Living Quran pada Ormas: Tradisi Sima’an dan Tadabbur Majelis Wening Ati di Desa Kebonan Boyolali Munawar, Rosyid; Hirzumaula Muhammad, Rifki; Ahmad Said, Hasani
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2024): Ulumul Quran: September 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v4i2.342

Abstract

Al-Quran beserta interaksinya dengan khalayak masyarakat muslim secara umum di berbagai wilayah memungkinkan adanya berbagai macam respons maupun perlakuan yang beragam. Bahkan banyak fenomena di kalangan masyarakat dalam menerapkan al-Quran di konteks keseharian baik dalam bentuk tradisi maupun kebiasaan yang didasari oleh al-Quran itu sendiri. Salah satu dari beragamnya fenomena tersebut adalah majelis Wening Ati, yang merupakan forum dakwah di bawah gerakan Tarbiyah yang di dalamnya menerapkan penghidupan al-Quran pada kehidupan keseharian (Living Quran) dalam bentuk sima'an hafalan dan tadabbur ayat al-Quran yang bersifat wajib di setiap pelaksanaan majelis tersebut. Kegiatan sima'an dan tadabbur pada majelis Wening Ati, yang apabila dilihat konstruksinya menggunakan teori Konstruksi Sosial oleh Berger dan Luckman maka akan mengarah kepada tiga aspek dialektika: Objective Reality, Symbolic Reality dan Subjective Reality. Objective reality dalam konstruksi pemahaman adalah keyakinan bahwa al-Qur'an merupakan sumber berkah. Lalu ada ekspresi simbolik dari keyakinan tersebut (Symblolic reality) berupa melakukan sima'an dan tadabbur al-Quran. Sedang pada Subjective Reality, dengan dilaksanakannya sima'an dan tadabbur pada kegiatan majelis tersebut maka akan didapatkan barakah di sepanjang kegiatan tersebut berlangsung.
Tawazun Sebagai Prinsip Moderasi Beragama Perspektif Mufassir Moderat Aziz, Azalia Wardha; Ulya, Erviana Iradah
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2024): Ulumul Quran: September 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v4i2.344

Abstract

Moderasi beragama merupakan instrumen penting bagi umat beragama dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi umat Islam. Namun instrumen tersebut, saat ini seringkali dilalaikan dan tidak dianggap penting. Salah satunya keseimbangan atau tawazun sebagai prinsip moderasi beragama. Urgensi tawazun juga tersirat dalam sumber utama rujukan Islam yaitu al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna keseimbangan atau tawazun dalam al-Qur’an dari penafsiran beberapa mufassir moderat terhadapnya. Mufassir moderat yang digunakan yaitu Wahbah al-Zuhaili, Buya Hamka dan M. Quraish Shihab. Beberapa ayat al-Qur’an mengenai tawazun yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu surah al-Qas}as} (28);77 dan surah al-Rah}ma>n (55):7-9. Penelitian ini termasuk ke dalam kategori deskriptif kualitatif, dengan pendekatan tafsir maud}u>’i. Analisis tawazun terhadap penafsiran perspektif mufassir moderat menghasilkan, bahwa tawazun merupakan keseimbangan dalam urusan dunia dan akhirat. Hal tersebut berdasar pada prinsip tawazun dalam al-Qur’an, untuk mencari kebahagiaan dunia dan akhirat, berbuat baik dan jangan berbuat kerusakan di bumi serta berbuat keadilan dan seimbang. Prinsip tawazun dalam al-Qur’an juga menghadirkan beberapa unsur yang dapat diimplemantasikan dalam kehidupan beragama, yaitu menjaga keseimbangan hidup duniawi dan ukhrawi, duniawi sebagai sarana mencapai ukhrawi, pemenuhan hak kepada Allah SWT dan setiap orang, senantiasa berbuat baik dan sikap tidak berlebihan terhadap sesuatu. Kata Kunci : Tawazun, al-Qur’an, Moderasi Beragama, Moderat
Implementasi Beauty Standard Perempuan pada Siswa Sekolah Menengah Atas : Studi Living Quran SMAIT Darul Quran Bogor, MA Al-Hidayah Depok, dan SMAN 6 Depok Ghoni, Abdul; Ramadhina, Zahra Zahira
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2024): Ulumul Quran: September 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v4i2.356

Abstract

Kecantikan pada umumnya sangat identik dengan representasinya secara fisik, oleh karena itu sangat diperlukan untuk menggali nilai-nilai agar ditemukan standar kecantikan yang lebih komprehensif. Salah satunya merujuk kepada al-Qur’an sebagai sumber nilai yang mulia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed methods yang menggabungkan antara penelitian kualitatif untuk menggali nilai-nilai al-Qur’an yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif untuk melihat tingkat implementasi terhadap standar kecantikan yang ada. Penelitian kuantitatif dilakukan dalam kerangka penggunaan metode Living Quran. Objek penelitian ini adalah siswa tingkat pendidikan menengah atas yang merepresentasikan lembaga pendidikan Islam berasrama dan non asrama serta lembaga pendidikan umum. Adapun temuan dari penelitian ini adalah bahwa lembaga pendidikan berasrama memiliki tingkat implementasi tertinggi dalam hal standar kecantikan fisik dan akhlak. Adapun lembaga pendidikan Islam non asrama memiliki implementasi tertinggi dalam standar kecantikan dalam segi keimanan. Sementara lembaga pendidikan umum memiliki tingkat implementasi terendah dalam standar kecantikan secara fisik. Hal signifikan yang menjadi temuan dalam penelitian ini adalah bahwa faktor peraturan di sekolah memiliki korelasi yang sangat signifikan sebasar 0,005 terhadap implementasi standar kecantikan dalam keimanan, akhlak dan fisik. Dengan demikian lembaga pendidikan hendaknya memiliki aturan yang cukup baik dalam penerapan standar kecantikan yang komprehensif sesuai dengan ajaran Islam.
Konsep Mental Block Perspektif Al-Qur’an (Analisis Penafsiran Surah Al-Insyirah dan Teori Logoterapi Victor E. Frankl) Fitriani, Fitriani; Hakim, Lukman; Yamani, Abu Bakar
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2024): Ulumul Quran: September 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v4i2.373

Abstract

Al-Qur'an menekankan pentingnya kesehatan mental dalam kehidupan manusia serta perlunya ketenangan jiwa, keteguhan hati, dan keseimbangan emosional dalam menghadapi tantangan hidup. Hal ini mendorong pentingnya pendekatan psikologi dalam proses penafsiran Al-Qur'an. Psikologi menghindari kesalahpahaman dalam memahami perilaku manusia. Artikel ini membahas mengenai salah satu kondisi psikologis pada era kontemporer yakni mental block prespektif al-Qur’an pada surah al-Insyirah dengan menggunakan teori logoterapi. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) yang menghasilkan beberapa kesimpulan yakni, konsep mental block yang diisyaratkan pada surah al-Insyirah dapat ditangani dengan rasa optimis dan berpikir positif, sabar dan bekerja keras, serta senantiasa bertawakkal kepada Allah. Hal ini kemudian sejalan dengan teori logoterapi. Pertama, Konsep Will to Meaning (keinginan akan makna). Hal ini yang mendorong pentingnya sikap optimis yang diisyaratkan pada awal surah al-Insyirah dalam menghadapi segala tantangan dalam menjalani kehidupan. Kedua, Konsep Meaning in life (Makna Hidup), dalam surah al-Insyirah ditafsirkan bahwa dalam situasi sulit ada juga peluang untuk menemukan jalan keluar. Masalah yang dihadapi akan mendorong untuk berpikir positif mencari solusi, dan pada akhirnya akan membuat mereka menjadi lebih dinamis. Ketiga, Konsep Freedom of will (Kebebasan Berkehendak) dalam surah al-Insyirah kebebasan berkehendak tidak hanya berarti memiliki kebebasan untuk membuat pilihan, tetapi juga bertanggung jawab atas pilihan tersebut serta mengandalkan Allah dalam setiap langkahnya.
Resepsi Sosial Dan Makna Spiritualitas Dalam Tradisi Mengaji Di Kuburan: Fenomenologi Masyarakat Desa Bangai: Social Reception and the Meaning of Spirituality in the Tradition of Studying in Graves: Phenomenology of Bangai Village Society Sitepu, Rizki Ramadhan; Ilhamni, Ilhamni; Putra, Bilfahmi
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2025): Ulumul Qur'an: March 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v5i1.400

Abstract

Contemporary Muslim engagements with the Qur’an manifest in various ways. In scholarly discussions, this phenomenon is referred to as the Living Qur'an—how humans engage with and interpret the Qur'an as both a text and a source of significance. An such is the custom in Bangai Village, where individuals read the Qur’an at graves for three consecutive days and nights following a death. This practice is founded on the conviction that the recitations advantage the deceased and demonstrate profound spiritual and social consciousness. This study examines the significance and progression of this tradition. Data were gathered through observations and interviews with key informants using a qualitative descriptive method in field research. The research employs Alfred Schutz's phenomenological theory to comprehend the underlying significances of the activity. The results are categorized into three principal domains. The subjective meanings encompass spiritual and social qualities, whereas the objective meaning emphasizes its educational function. The motivations for the custom are dual: the cause motive indicates its perceived positivity and use in everyday life, while the objective motive pertains to enhancing comprehension of Islamic teachings and promoting fraternity. The reciting tradition adheres to a distinct structure of pre-procession, procession, and post-procession stages, each characterized by particular rites and significance. This study demonstrates the embodiment of the Living Qur’an within local tradition, integrating spirituality, education, and communal cohesion into a significant religious practice.
Analisis Nilai-Nilai Toleransi Beragama Yang Terkandung Dalam Surah Al Kafirun: Membangun Pondasi Pendidikan Multikultural: Analysis of the Values of Religious Tolerance Contained in Surah Al-Kafirun: Building the Foundation of Multicultural Education Nikmah, Mubarakatun; Haris, Yogi Sopian
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2025): Ulumul Qur'an: March 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v5i1.509

Abstract

Multicultural education in Indonesia requires an approach that can integrate values of tolerance and respect for religious and cultural differences.  One of the primary sources for building a strong foundation for multicultural education is the teachings in the Qur'an, especially Surah Al-Kafirun.  This research aims to analyze the values of religious tolerance contained in Surah Al-Kafirun and its relevance in building multicultural education.  The method used in this research is a library method with a content analysis approach.  This research examines the text of Surah Al-Kafirun in depth to identify values that can be applied in multicultural education, such as appreciation for differences, mutual respect, and recognition of religious freedom.  The research results show that Surah Al-Kafirun teaches the basic principles of religious tolerance, including respect for others' religious choices, acknowledging differences as part of God's will, and maintaining harmonious relationships despite differing beliefs.  In the context of multicultural education, this surah teaches values of respect for differences, an inclusive attitude, and the ability to resolve conflicts peacefully.  This surah-based learning model, such as the dialogic approach and collaborative projects, helps students understand diversity and strengthen interfaith cooperation.  In addition, this surah supports the strengthening of Indonesia's national identity by teaching the importance of unity in diversity.
Resepsi Fungsional QS Ali-Imran: 191 Tradisi Bratit Semin dalam Meminta Hujan Masyarakat Semurup, Kab. Kerinci: Functional Reception of QS Ali-Imran: 191 Bratit Semin Tradition in Asking for Rain for the Semurup Community, Kerinci Suhada, Farhan
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2025): Ulumul Qur'an: March 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v5i1.511

Abstract

This study aims to explore the functional reception of Surah Ali Imran: 191 understood by the people of Semurup, Kerinci Regency as a prayer for rain in the Bratit Semin tradition. Using the Hans Robert Jauss reception theory approach that emphasizes the response of readers or connoisseurs of literary works to a text. This form of reception is oriented towards understanding the meaning or form of religious rituals. Surah Ali Imran 191 in the early days of Islam was understood as part of the routine of a Muslim's faith, while in modern times began to understand the gift of reason given by God as a way to think. While al-Ghazali understands the meaning of this verse as a way to get closer to Allah through dhikr and prayer in being a solution to every problem faced. By using the descriptive-analytical method, which describes the phenomena that occur with existing data in the form of writing or interviews and then analyzing using Hans Robert Jauss's literary reception theory approach, this article concludes that Surah Ali Imran 191 can be understood as a means of asking for rain when there is a long drought, this is also influenced by the way Islam entered the Kerinci community when it was presented by tarekat scholars who had learned directly from Arabia when carrying out the Hajj.
Syakhsiyyatu al-Ab al-Misali fi Qissati Luqman al-Hakim ‘inda Sayyid Qutb fi Kitabihi at-Tafsir Fi Zilali al-Qur`an: Sayyid Qutb on The Character of The Ideal Father in The Story of Luqman al-Hakim in Tafsir Fi Zilal Al-Qur`an Trisnani, Asif; Ariana Sari, Uly; Islam, Muhammad Thoriqul
Ulumul Qur'an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2025): Ulumul Qur'an: March 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STIU Darul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58404/uq.v5i1.517

Abstract

The father significantly influences the quality of connections within the family unit. Despite bearing considerable duties, his presence frequently goes unrecognized, especially by children. The Qur’an delineates the attributes of an exemplary father through diverse narratives, notably the account of Luqman al-Hakim—a sagacious being endowed with insight by Allah SWT, albeit not a prophet. The narrative, located in Surah Luqman verses 12–19, imparts moral lessons and ideals relevant to modern life. This study investigates the Qur’anic depiction of parenthood through an analysis of Luqman’s counsel to his son, with the objective of elucidating the fundamental characteristics of an exemplary father. The study employs a library-based approach and descriptive analysis, concentrating on Sayyid Qutb's interpretation in Fi Zilal al-Qur'an. Research indicates that Luqman epitomizes the quintessential paternal archetype through four principal responsibilities. Initially, he assumes the role of an educator, fostering his child with affection and comprehension. Secondly, he functions as a sagacious advisor, providing counsel grounded in religious principles. Third, he serves as a role model, somebody whom youngsters might admire and ultimately imitate. Ultimately, he assumes the position of family leader, bearing the duty for the household's spiritual and moral guidance. This research underscores the necessity of acknowledging and revitalizing the father's significant role in familial dynamics, utilizing the narrative of Luqman al-Hakim as a perennial exemplar of fostering responsible and value-oriented parenting.