cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 524 Documents
Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Daun Petai Cina terhadap Embrio Ikan Zebra Nazwa Aqilah; Siti Hazar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 147 - 154
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24590

Abstract

Abstract. Leucaena (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) leaves are rich in secondary metabolites with the potential to be developed as traditional medicines. However, their safety must first be established through toxicity testing. This study was conducted to determine the median lethal concentration (LC₅₀) and evaluate the toxic effects of the ethanol extract of Leucaena leaves on zebrafish (Danio rerio) embryos. The study was carried out in accordance with the Fish Embryo Toxicity (FET) guideline, with an observation period of 96 hours. A total of 120 zebrafish embryos were randomly assigned to six experimental groups, consisting of one control group and five treatment groups exposed to extract concentrations of 0.1, 1, 10, 100, and 1000 ppm. The primary endpoints observed were embryo mortality and developmental abnormalities throughout the testing period. Mortality data were subsequently analyzed using probit analysis to determine the LC₅₀ value. The results showed that the LC₅₀ of the ethanol extract of Leucaena leaves was 184.823 ppm, indicating that the extract is practically non-toxic. The only developmental abnormality observed during the study was embryo coagulation. In conclusion, the ethanol extract of Leucaena leaves exhibited a low degree of toxicity toward zebrafish embryos. Abstrak. Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) kaya akan kandungan metabolit sekunder yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional. Meskipun demikian, jaminan keamanannya harus tetap dipastikan terlebih dahulu melalui uji toksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai LC₅₀ sekaligus mengevaluasi efek toksik ekstrak etanol daun petai cina terhadap embrio ikan zebra (Danio rerio). Penelitian ini mengacu pada pedoman Fish Embryo Toxicity (FET) dengan waktu pengamatan selama 96 jam. Sebanyak 120 embrio ikan zebra didistribusikan ke dalam enam kelompok perlakuan, yang terdiri atas satu kelompok kontrol dan lima kelompok uji dengan seri konsentrasi 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 ppm. Indikator utama yang dipantau meliputi angka kematian embrio dan abnormalitas perkembangan selama masa pengujian. Data mortalitas yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC₅₀ ekstrak etanol daun petai cina adalah 184,823 ppm, yang mengategorikan ekstrak tersebut sebagai praktis tidak toksik. Bentuk abnormalitas yang ditemukan pada embrio selama pengujian adalah koagulasi embrio. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun petai cina memiliki tingkat toksisitas yang rendah terhadap embrio ikan zebra.
Uji Cemaran Mikroba pada Sediaan Toner Tanpa Izin Edar BPOM Fatimah Ghaida Muthmainnah; Farendina Suarantika; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy 155 - 162
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24609

Abstract

Abstract. Toners are water-based cosmetic products that are highly susceptible to microbial contamination if manufacturing, storage, and distribution processes are not adequately controlled. This study aimed to analyze microbial contamination in facial toners without BPOM marketing authorization based on Total Plate Count (TPC) and Yeast and Mold Count (YMC). A descriptive experimental study was conducted using six samples consisting of five non-BPOM-registered toners and one BPOM-authorized toner as a comparator. Samples were selected purposively according to BPOM registration status, price, customer rating, packaging condition, and online marketplace availability. TPC was determined using Tryptic Soy Agar (TSA), whereas YMC was evaluated using Sabouraud Dextrose Agar (SDA) by the pour plate method. The results showed that all samples had TPC and YMC values below the BPOM maximum microbial contamination limit of <10³ CFU/mL. Therefore, all toner samples complied with the microbiological quality requirements for cosmetic products based on TPC and YMC parameters. Further studies are recommended to identify preservative or solvent components that may influence the microbial contamination test results. Abstrak. Toner merupakan kosmetik berbasis air yang memiliki risiko tinggi mengalami cemaran mikroba apabila proses produksi, penyimpanan, dan distribusinya tidak memenuhi persyaratan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cemaran mikroba pada sediaan toner tanpa izin edar BPOM berdasarkan parameter Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Kapang Khamir (AKK). Penelitian menggunakan metode deskriptif eksperimental terhadap enam sampel yang terdiri atas lima toner tanpa izin edar BPOM dan satu toner berizin edar BPOM sebagai pembanding. Sampel dipilih secara purposive berdasarkan status registrasi BPOM, harga, rating pembelian, kondisi kemasan, dan sumber pembelian melalui toko daring. Pengujian ALT dilakukan menggunakan media Tryptic Soy Agar (TSA), sedangkan AKK menggunakan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan metode pour plate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki nilai ALT dan AKK di bawah batas maksimum cemaran mikroba yang ditetapkan BPOM, yaitu <10³ CFU/mL. Dengan demikian, seluruh sampel memenuhi persyaratan mutu mikrobiologi kosmetik berdasarkan parameter ALT dan AKK. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi komponen pengawet atau pelarut yang berpotensi memengaruhi hasil pengujian cemaran mikroba.
Karakterisasi Fisik dan Analisis Senyawa dalam Minyak Rosemari (Rosmarinus officinalis) Aenun Kamalia Putri; Hanifa Rahma; Purwaeni Purwaeni
Bandung Conference Series: Pharmacy 163 - 170
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24621

Abstract

Abstract. Rosemary oil (Rosmarinus officinalis L.) is a volatile, lipophilic secondary metabolite that has been widely studied as a natural alternative for stimulating hair growth, mainly through its major constituent 1,8-cineole. Before being developed into a hair-growth preparation, the quality of the raw essential oil must first be verified to ensure compliance with pharmacopoeial standards. This study aimed to characterize rosemary oil obtained from PT. Eteris Nusantara through organoleptic testing, refractive index measurement, and chemical composition analysis using gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). The organoleptic test was carried out visually to observe color, odor, and clarity, while the refractive index was measured with a refractometer at 20°C. GC-MS analysis was performed at the Integrated Laboratory of Poltekkes Kemenkes Bandung and compared with the supplier's certificate of analysis (CoA). The results showed that the oil was a clear, colorless liquid with a characteristic camphor-like odor and a refractive index of 1.464, both complying with the European Pharmacopoeia (2019) requirements. GC-MS analysis identified 1,8-cineole (41.74%), camphor (14.28%), borneol (11.99%), α-pinene (6.59%), and camphene (0.83%) as the dominant compounds, generally consistent with the CoA, with minor deviations attributed to instrumental and storage factors. These research showed that the rosemary oil used met the required quality standards for further pharmaceutical formulation. Abstrak. Minyak rosemari (Rosmarinus officinalis L.) merupakan metabolit sekunder yang mudah menguap dan bersifat lipofilik, yang banyak dikaji sebagai alternatif alami untuk merangsang pertumbuhan rambut, terutama melalui kandungan utamanya, yaitu 1,8-sineol. Sebelum dikembangkan menjadi sediaan penumbuh rambut, mutu minyak atsiri sebagai bahan baku perlu dipastikan terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan farmakope. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi minyak rosemari yang diperoleh dari PT Eteris Nusantara melalui uji organoleptis, pengukuran indeks bias, dan analisis kandungan senyawa kimia menggunakan gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS). Uji organoleptis dilakukan secara visual untuk mengamati warna, bau, dan kejernihan, sedangkan indeks bias diukur menggunakan refraktometer pada suhu 20 °C. Analisis GC-MS dilakukan di Laboratorium Terpadu Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung dan dibandingkan dengan sertifikat analisis (Certificate of Analysis/CoA) dari pemasok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak rosemari berbentuk cairan jernih, tidak berwarna, dengan bau khas kamfer, serta memiliki indeks bias sebesar 1,464, yang keduanya telah sesuai dengan persyaratan Farmakope Eropa (Council of Europe, 2019). Analisis GC-MS mengidentifikasi 1,8-sineol (41,74%), kamfer (14,28%), borneol (11,99%), α-pinen (6,59%), dan kamfen (0,83%) sebagai senyawa dominan, yang secara umum sesuai dengan CoA, dengan sedikit perbedaan yang diduga disebabkan oleh faktor instrumen dan penyimpanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa minyak rosemari yang digunakan telah memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk formulasi sediaan farmasi lebih lanjut.
Pola Penggunaan Antitrombosis pada Pasien Kardiovaskular-GGK di RS X Bandung Tahun 2025 Dini Farizah; Umi Yuniarni; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 171 - 182
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24627

Abstract

Abstract. Cardiovascular disease is one of the main causes of morbidity and mortality in the world which is often accompanied by comorbidities of chronic kidney failure (CKD). Decreased kidney function can affect the selection of antithrombosis therapy, so an overview of its use patterns in patients with cardiovascular disease and GGK is needed. This study aims to determine the pattern of use of antithrombosis drugs in patients with cardiovascular disease with comorbid chronic kidney failure. This study is a descriptive observational study with retrospective data collection using patient medical records. Samples were taken using the total sampling method based on inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively to obtain an overview of the pattern of use of antithrombosis drugs. The results of the study in 96 patients showed that the most antithrombosis use was in the form of a combination of two aspirin + clopidogrel drugs (19%), followed by a combination of three aspirin + clopidogrel + heparin drugs (16%). The most monotherapy use was aspirin (5%), while the combination of four aspirin drugs + clopidogrel + fondaparinuks + heparin (5%), the combination of five aspirin drugs + klopidogrel + tikagrelor + heparin + warfarin (3%), and a combination of six aspirin + clopidogrel + enoksaparin + fondaparinuks + heparin + warfarin (1%). Abstrak. Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia yang sering disertai komorbid gagal ginjal kronis (GGK). Penurunan fungsi ginjal dapat memengaruhi pemilihan terapi antitrombosis sehingga diperlukan gambaran mengenai pola penggunaannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan GGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antitrombosis pada pasien penyakit kardiovaskular dengan komorbid gagal ginjal kronis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan rekam medis pasien. Sampel diambil menggunakan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh gambaran pola penggunaan obat antitrombosis. Hasil penelitian pada 96 pasien menunjukkan bahwa penggunaan antitrombosis paling banyak berupa kombinasi dua obat, yaitu aspirin + klopidogrel (19%), diikuti kombinasi tiga obat, yaitu aspirin + klopidogrel + heparin (16%). Penggunaan monoterapi paling banyak adalah aspirin (5%), sedangkan kombinasi empat obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + fondaparinuks + heparin (5%), kombinasi lima obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + tikagrelor + heparin + warfarin (3%), dan kombinasi enam obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + enoksaparin + fondaparinuks + heparin + warfarin (1%).
Potensi Antibakteri Ekstrak Umbi Bawang Tiwai terhadap Cutibacterium acnes Nazwa Nazhira Maharani; Purwaeni Purwaeni; Dadang Juanda
Bandung Conference Series: Pharmacy 183 - 190
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24635

Abstract

Abstract. Cutibacterium acnes plays a key role in the pathogenesis of acne vulgaris. The increasing prevalence of antibiotic resistance associated with acne treatment has encouraged the development of natural antibacterial agents as safer alternatives. One promising medicinal plant is the bulb of Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. which contains various secondary metabolites with antibacterial properties. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of the ethanolic extract of E. bulbosa bulbs against C. acnes. An experimental study was conducted, including sample preparation, simplicia preparation and characterization, phytochemical screening, extraction by maceration using 96% ethanol, thin-layer chromatography (TLC) analysis and antibacterial testing using the agar well diffusion method at extract concentrations of 10%, 15%, and 20%. Data were analyzed using a one-way ANOVA test. The ethanolic extract exhibited antibacterial activity against C. acnes, with mean inhibition zone diameters of 11.28 ± 0.45 mm, 12.79 ± 0.56 mm, and 13.41 ± 0.20 mm at concentrations of 10%, 15%, and 20%, respectively. Statistical analysis showed significant differences among the treatment groups (p < 0.05), with the 20% extract demonstrating the strongest antibacterial activity. These findings suggest that the ethanolic extract of E. bulbosa bulbs has potential as a natural antibacterial agent for acne therapy. Abstrak. Cutibacterium acnes merupakan bakteri yang berperan penting dalam patogenesis jerawat (acne vulgaris). Meningkatnya kejadian resistensi akibat penggunaan antibiotik dalam terapi jerawat mendorong pengembangan antibakteri alami sebagai alternatif yang lebih aman. Salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan adalah umbi bawang tiwai (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder dengan aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak etanol umbi bawang tiwai terhadap Cutibacterium acnes. Penelitian dilakukan secara eksperimental melalui tahapan penyiapan bahan, pembuatan dan karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, pemantauan ekstrak menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), serta pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran pada konsentrasi ekstrak 10%, 15%, dan 20%. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA. Ekstrak etanol umbi bawang tiwai menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% berturut-turut sebesar 11,28 ± 0,45 mm, 12,79 ± 0,56 mm, dan 13,41 ± 0,20 mm. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antarperlakuan (p < 0,05), dengan konsentrasi 20% menghasilkan aktivitas antibakteri paling optimal. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol umbi bawang tiwai berpotensi dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami untuk terapi jerawat.
Formulasi dan Evaluasi Film Forming Solution Melatonin untuk Terapi Insomnia Alya Reiva Ramadhani Saybia; Purwaeni Purwaeni; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 191 - 200
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24641

Abstract

Abstract. This study aimed to formulate and evaluate a melatonin-loaded film-forming solution (FFS) as a transdermal drug delivery system and to determine its permeation profile and sedative effect through a clinical study. The formulations were prepared using different concentrations of polyvinyl alcohol (PVA) and polyethylene glycol (PEG) as the plasticizer. The prepared formulations were evaluated for organoleptic characteristics, pH, viscosity, drying time, tackiness, and stability. Permeation studies were carried out using a Franz diffusion cell with shed snake skin as the diffusion membrane. The sedative effect was evaluated in human subjects using a pre-test–post-test design based on the Insomnia Severity Index (ISI). All formulations met the required physical quality criteria, and Formula F1 was selected as the optimal formulation because it exhibited the most suitable viscosity and drying time. The permeation study indicated that melatonin showed low permeation across the membrane, while the clinical study demonstrated no statistically significant difference between the melatonin-treated group and the placebo group. Therefore, the melatonin-loaded film-forming solution has not yet shown sufficient potential as a non-invasive transdermal therapy for improving sleep quality. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sediaan Film Forming Solution (FFS) yang mengandung melatonin sebagai sistem penghantaran transdermal serta menguji kemampuan permeasi dan aktivitas sedatifnya menggunakan uji klinis. Sediaan diformulasikan dengan variasi konsentrasi polimer PVA dan plastisizer polietilen glikol, kemudian dievaluasi meliputi uji organoleptik, pH, viskositas, waktu pengeringan, kelengketan, dan stabilitas. Uji permeasi dilakukan menggunakan sel difusi Franz dengan membran kulit ular lepas, sedangkan uji aktivitas sedatif dilakukan pada subjek dengan metode pre-test dan post-test menggunakan Insomnia Severity Index (ISI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik, dengan formula F1 sebagai formula optimal berdasarkan viskositas dan waktu pengeringan  terbaik. Uji permeasi menunjukkan bahwa melatonin memiliki kemampuan permeabilitas yang rendah, sementara uji klinis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok zat aktif dengan kelompok plasebo. Dengan demikian, sediaan FFS melatonin belum berpotensi sebagai alternatif terapi non-invasif untuk membantu meningkatkan kualitas tidur.
Formulasi Sediaan Patch Mengandung Ekstrak Etanol Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Tifana Indrafaina Al'munaf; Ratih Aryani; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 201 - 208
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24679

Abstract

Abstract. A laceration is skin damage caused by sharp-object trauma and may lead to bleeding and infection. Sembung leaves (Blumea balsamifera L.) contain flavonoids with potential wound-healing activity. This study aimed to determine the optimal formulation of a patch containing ethanol extract of Sembung leaves and to evaluate its in vivo wound-healing efficacy. Patch optimization was performed using a trial-and-error method by varying HPMC and PVP concentrations. Formula 3, containing 2.25% HPMC and 0.75% PVP, was selected as the optimal base. The patch was round, blackish-green, homogeneous, had a characteristic extract aroma, moisture content of the patch (7.26% ± 0.2), weight uniformity (0.02 g ± 0.00), thickness (0.3 mm ± 0), fold resistance >200 times, and pH (6.37 ± 0.01).  Furthermore, the results of the 5% patch formula (F3C) showed the best efficacy in wound healing on the. Abstrak. Luka sayat merupakan kondisi terjadinya kerusakan jaringan kulit yang disebabkan oleh trauma benda tajam seperti pisau atau benda tajam lainnya, sehingga berisiko mengalami perdarahan dan infeksi. Daun sembung (Blume balsamifera L.) mengandung berbagai senyawa kimia aktif, salah satunya flavonoid yang berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka sayat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi terbaik sediaan patch yang mengandung ekstrak etanol daun sembung berdasarkan hasil evaluasi sediaan dan efektivitas penutupan luka secara in vivo. Optimasi formula sediaan patch dilakukan berdasarkan variasi konsentrasi HPMC dan PVP sebagai polimer. Formula optimal sediaan patch diperoleh pada formula 3 dengan kombinasi HPMC 2,25% dan PVP 0,75%, yang menghasilkan patch yang memenuhi persyaratan evaluasi, yaitu berbentuk lembaran persegi panjang, berwarna hijau kehitaman, beraroma khas ekstrak, homogen, dengan kadar air sebesar 7,26% ± 0,2, keseragaman bobot sebesar 0,02 g ± 0,00, ketebalan sebesar 0,3 mm ± 0, ketahanan lipatan >200 kali, dan pH sebesar 6,37 ± 0,01. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa sediaan patch dengan ekstrak 5% (F3C) memberikan hasil terbaik dengan penyembuhan luka pada hari ke-12.
Kajian Strategi Formulasi SNEDDS dan SMEED Ekstrak Jahe dan Senyawa Bioaktifnya Tri Awalani sapa'ati Gusti; Ratih Aryani; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy 209 - 216
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24718

Abstract

Abstract. Ginger (Zingiber officinale) extract and its bioactive compounds, such as 6-gingerol and 6-shogaol, have various pharmacological activities. However, their oral use is still hampered by low bioavailability. This study aims to analyze the formulation strategies of self-nanoemulsifying drug delivery systems (SNEDDS) and self-microemulsifying drug delivery systems (SMEDDS) to increase the bioavailability of ginger extract and its bioactive compounds. The study was conducted using a systematic literature review (SLR) method with secondary data sources obtained from PubMed, Scopus, Taylor & Francis, and Google Scholar for articles published in 2016-2026 according to inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively through the extraction of formulation components, preparation characteristics, and pharmacokinetic profiles. The study results showed that formulations based on long- and medium-chain triglyceride oil, nonionic surfactants (Tween 80 and Cremophor), and PEG 400 or propanediol cosurfactants were able to produce droplet sizes of 13.10–73.06 nm with a polydispersity index value of less than 0.5. The SMEDDS formulation was proven to increase pharmacokinetic parameters, one of which was the area under the curve (AUC) by approximately 5.7 – 6,6  times compared to the compound without formulation, indicating increased bioavailability of the compound. Thus, the delivery of SNEDDS and SMEDDS is an effective formulation strategy to increase the bioavailability of ginger extract and its bioactive compounds. Abstrak. Ekstrak jahe (Zingiber officinale) dan senyawa bioaktifnya, seperti 6-gingerol dan 6-shogaol, memiliki berbagai aktivitas farmakologis. Namun, pemanfaatannya secara oral masih terkendala oleh bioavailabilitas yang rendah. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis strategi formulasi self-nanoemulsifying drug delivery system (SNEDDS) dan self-microemulsifying drug delivery system (SMEDDS) dalam meningkatkan bioavailabilitas ekstrak jahe dan senyawa bioaktifnya. Penelitian dilakukan menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan sumber data sekunder yang diperoleh dari PubMed, Scopus, Taylor & Francis, dan Google Scholar terhadap artikel yang dipublikasikan pada tahun 2016–2026 sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif melalui ekstraksi komponen formulasi, karakteristik sediaan, serta profil farmakokinetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa formulasi berbasis minyak trigliserida rantai panjang maupun rantai menengah, surfaktan nonionik (Tween 80 dan Cremophor), serta kosurfaktan PEG 400 atau propanadiol mampu menghasilkan ukuran droplet 13,10–73,06 nm dengan nilai indeks polidispersitas kurang dari 0,5. Formulasi SMEDDS terbukti meningkatkan parameter farmakokinetika, salah satunya area under the curve (AUC) hingga sekitar 5,7–6,6 kali dibandingkan dengan senyawa tanpa formulasi, yang menunjukkan peningkatan bioavailabilitas senyawa. Dengan demikian, penghantaran menggunakan SNEDDS dan SMEDDS merupakan strategi formulasi yang efektif untuk meningkatkan bioavailabilitas ekstrak jahe dan senyawa bioaktifnya.
Karakterisasi Kandungan Senyawa Spirulina (Arthrospira platensis) serta Asam Hialuronat Faisal Syahrul Abidin; Hanifa Rahma; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 227 - 236
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24727

Abstract

Abstract. Spirulina (Arthrospira platensis) is a microalga rich in bioactive compounds, including proteins, phycocyanin, polysaccharides, phenolic compounds, flavonoids, vitamins, and minerals that contribute to wound healing. Hyaluronic acid is a major component of the extracellular matrix that plays an essential role in maintaining wound hydration, promoting cell migration and proliferation, stimulating angiogenesis, and enhancing collagen synthesis. This review aims to summarize the characterization of Spirulina, its bioactive constituents, and the potential of combining Spirulina with hyaluronic acid to accelerate wound healing based on published studies. The characterization of Spirulina includes its morphological features and bioactive compound profile associated with its biological activities. Previous studies have demonstrated that Spirulina enhances fibroblast proliferation, collagen production, and tissue regeneration, whereas hyaluronic acid supports all phases of wound healing by maintaining a moist wound environment and promoting re-epithelialization. At appropriate concentrations, both materials have demonstrated favorable efficacy without significant toxic or genotoxic effects. Therefore, Spirulina and hyaluronic acid represent promising natural active ingredients for the development of safe and effective wound-healing formulations. Abstrak. Spirulina (Arthrospira platensis) merupakan mikroalga yang kaya akan senyawa bioaktif, seperti protein, fikosianin, polisakarida, senyawa fenolik, flavonoid, vitamin, dan mineral yang berpotensi mendukung proses penyembuhan luka. Selain itu, asam hialuronat merupakan komponen utama matriks ekstraseluler yang berperan penting dalam mempertahankan kelembapan luka, merangsang migrasi dan proliferasi sel, angiogenesis, serta pembentukan kolagen. Artikel ini bertujuan mengulas karakterisasi Spirulina, kandungan senyawa bioaktifnya, serta potensi kombinasi Spirulinadan asam hialuronat dalam mempercepat penyembuhan luka berdasarkan berbagai hasil penelitian. Karakterisasi Spirulina meliputi identifikasi morfologi, serta profil senyawa bioaktif yang berkontribusi terhadap aktivitas biologisnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Spirulina mampu meningkatkan proliferasi fibroblas, sintesis kolagen, dan regenerasi jaringan, sedangkan asam hialuronat berperan pada setiap fase penyembuhan luka melalui pemeliharaan lingkungan luka yang lembap dan stimulasi re-epitelisasi. Pada konsentrasi tertentu, kedua bahan menunjukkan efektivitas yang baik tanpa menimbulkan efek toksik maupun genotoksik. Dengan demikian, Spirulina dan asam hialuronat berpotensi menjadi kandidat bahan aktif alami yang menjanjikan untuk pengembangan sediaan penyembuhan luka yang efektif dan aman.
Efektivitas Antibiotik Pasien Rawat Inap Pneumonia Komunitas di RSUD Welas Asih Khalida Fitrah Qolbina; Umi Yuniarni; Suwendar Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy 237 - 246
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24735

Abstract

Abstract. Community-acquired pneumonia (CAP) remains a global health challenge due to its high mortality rate, making appropriate antibiotic selection essential to prevent treatment failure and the threat of resistance. This study aimed to analyze the effectiveness of various antibiotic regimens on clinical outcomes, including leukocyte count, body temperature, and respiratory rate. This analytical observational study with a cross-sectional design involved 123 inpatients at RSUD Welas Asih during the 2025 period, selected using a total sampling technique. Secondary data were obtained from medical records and analyzed both descriptively and statistically using the Wilcoxon test. The results showed that the majority of subjects were male (50.4%) and elderly (44.7%), with levofloxacin monotherapy (55%) and ceftriaxone (16%) being the predominant regimens used. Statistically, both antibiotics significantly reduced leukocyte levels (p<0.05), although temperature and respiratory rate parameters did not show similar significance, yet still achieved clinical stability by the third day. In conclusion, levofloxacin and ceftriaxone were the statistically most effective regimens, with further research using a larger sample size recommended. Abstrak. Pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia) menjadi tantangan kesehatan global karena angka mortalitas yang tinggi, sehingga pemilihan antibiotik yang tepat sangat penting untuk mencegah kegagalan terapi dan ancaman resistensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas berbagai regimen antibiotik terhadap outcome klinis yang meliputi kadar leukosit, suhu tubuh, dan laju pernapasan. Studi observasional analitik dengan desain cross-sectional ini melibatkan 123 pasien rawat inap di RSUD Welas Asih periode 2025 yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data sekunder diperoleh dari rekam medis dan diolah secara deskriptif serta statistik menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan mayoritas subjek adalah laki-laki (50,4%) dan lansia (44,7%), dengan penggunaan dominan monoterapi levofloksasin (55%) dan seftriakson (16%). Secara statistik, kedua antibiotik tersebut signifikan menurunkan kadar leukosit (p<0,05), meskipun parameter suhu dan napas tidak menunjukkan signifikansi serupa namun tetap mencapai stabilitas klinis pada hari ketiga. Kesimpulannya, levofloksasin dan seftriakson adalah regimen paling efektif secara statistik, dengan saran penelitian lanjutan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Pharmacy 975 - 984 967 - 974 959 - 966 949 - 958 941 - 948 933 - 940 923 - 932 913 - 922 905 - 912 897 - 904 887 - 896 877 - 886 869 - 876 861 - 868 853 - 860 843 - 852 835 - 842 827 - 834 817 - 826 807 - 816 799 - 806 789 - 798 779 - 788 771 - 778 763 - 770 753 - 762 745 - 752 737 - 744 727 - 736 717 - 726 709 - 716 701 - 708 693 - 700 685 - 692 675 - 684 663 - 674 655 - 662 645 - 654 637 - 644 629 - 636 621 - 628 611 - 620 603 - 610 595 - 602 587 - 594 579 - 586 571 - 578 561 - 570 553 - 560 543 - 552 535 - 542 527 - 534 517 - 526 509 - 516 501 - 508 491 - 500 483 - 490 475 - 482 467 - 474 459 - 466 449 - 458 441 - 448 433 - 440 423 - 432 415 - 422 407 - 414 399 - 406 391 - 398 383 - 390 375 - 382 365-374 355 - 364 347 - 354 339 - 346 331 - 338 321-330 311 - 320 303 - 310 295 - 302 285 - 294 275 - 284 265-274 255 - 264 247 - 254 237 - 246 227 - 236 217-226 209 - 216 201 - 208 191 - 200 183 - 190 171 - 182 163 - 170 155 - 162 147 - 154 139 - 146 129 - 138 121 - 128 113 - 120 105 - 112 95 - 104 87 - 94 79 - 86 67 - 78 59 - 66 51 - 58 43 - 50 33 - 42 More Issue