cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 524 Documents
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pneumonia Pediatri di RSUD Bandung Kiwari Metode Gyssens Anggietha Zahra Khairunnisa; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 247 - 254
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24742

Abstract

Abstract. Community-Acquired Pneumonia (CAP) is one of the main causes of hospitalization in pediatric patients. Inappropriate use of antibiotics can reduce the effectiveness of treatment, prolong hospitalization, increase health care costs, and potentially lead to antibiotic resistance. The purpose of this study was to determine antibiotic use and determine the percentage of rational and irrational antibiotic use using the Gyssens method in hospitalized pediatric patients with community acquired pneumonia at Bandung Kiwari Regional Hospital. This study was conducted as a retrospective analytical observational study using total sampling based on medical record data. Based on the research conducted, in hospitalized pediatric patients with community-acquired pneumonia at Bandung Kiwari Regional Hospital in the period 2023-2025, it showed that antibiotic use included; Cefotaxime (18,92%), ceftriaxone (18,92%), ceftriaxone + azithromycin (21,62%), cefotaxime + cloxacillin (5.41%), ampicillin (5.41%), ceftriaxone + cloxacillin (10,81%), azithromycin (2,70%), levofloxacin (2,70%), where according to the evaluation results of antibiotic use as empirical therapy according to the Gyssens method, the rational use of antibiotics (category 0) was 80.65% and the irrational use of antibiotics included in category IV C (there are cheaper antibiotic alternatives) was 19.35%. Meanwhile, the evaluation results of antibiotics as definitive therapy according to the Gyssens method obtained rational antibiotics (category 0) as much as 66.67% and irrational antibiotics included in category IV C (there are cheaper antibiotic alternatives) as much as 33.33%. Abstrak. Pneumonia komunitas (Community Acquired Pneumonia/CAP) adalah salah satu penyebab utama pasien pediatri dirawat di rumah sakit. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengurangi efektivitas pengobatan, memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan biaya perawatan kesehatan, dan berpotensi menyebabkan resistensi antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penggunaan antibiotik serta menentukan persentase penggunaan antibiotik rasional dan tidak rasional menggunakan metode Gyssens pada pasien pediatri rawat inap dengan pneumonia komunitas di RSUD Bandung Kiwari. Penelitian ini dilakukan sebagai studi observasional analitik retrospektif menggunakan total sampling berdasarkan data rekam medis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pada pasien rawat inap anak dengan pneumonia komunitas di RSUD Bandung Kiwari pada periode 2023-2025, menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik meliputi; sefotaksim (32,43%), seftriakson (18,92%), seftriakson + azitromisin (21,62%), sefotaksim + kloksasilin (10,81%), ampisilin (5,41%), seftriakson + kloksasilin (5,41%), azitromisin (2,70%), levofloksasin (2,70%), di mana menurut hasil evaluasi penggunaaan antibiotik sebagai terapi empiris menurut metode Gyssens diperoleh penggunaan antibiotik rasional (kategori 0) sebanyak 80,65% dan penggunaan antibiotik tidak rasional termasuk dalam kategori IV C (ada alternatif antibiotik yang lebih murah) sebanyak 19,35%. Sedangkan, hasil evaluasi antibiotik sebagai terapi definitif menurut metode Gyssens diperoleh antibiotik rasional (kategori 0) sebanyak 66,67% dan tidak rasional termasuk dalam kategori IV C (ada alternatif antibiotik yang lebih murah) sebanyak 33,33%
Studi Literatur Perbandingan Metode Isolasi Peroksidase Tanaman untuk Biosensor Kanker Paru Adi Ahmad Mulyana; Dina Mulyanti; Dadang Juanda
Bandung Conference Series: Pharmacy 255 - 264
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24756

Abstract

Abstract. Lung cancer is the leading cause of cancer-related mortality worldwide, emphasizing the need for sensitive and accurate early detection methods. Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) is widely used for detecting lung cancer biomarkers by employing horseradish peroxidase (HRP) as an enzyme label. However, the availability of HRP depends on Armoracia rusticana, a plant cultivated mainly in subtropical regions, encouraging the search for alternative plant-derived peroxidases. This study aimed to compare isolation and purification methods of plant peroxidases based on enzyme activity recovery, specific activity, and purification fold to evaluate their potential as alternative HRP for biosensor applications in early lung cancer detection. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA guidelines using PubMed, ScienceDirect, and Springer Nature Link databases. Ten articles met the inclusion criteria and were analyzed. The results showed that the Three-Phase Partitioning (TPP) method achieved the highest enzyme activity recovery (159%), while sequential ion-exchange and gel filtration chromatography produced the highest purification fold (230-fold). The highest specific activity (13,136 U/mg) was reported for ginger (Zingiber officinale) peroxidase. These findings indicate that TPP is the most effective method for preserving enzyme activity, whereas sequential chromatography produces highly purified peroxidase with strong potential as an alternative HRP for ELISA-based biosensors. Abstrak.. Kanker paru merupakan penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia sehingga diperlukan metode deteksi dini yang sensitif. Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) merupakan salah satu metode yang banyak digunakan dalam deteksi biomarker kanker paru dengan memanfaatkan horseradish peroxidase (HRP) sebagai enzim penanda. Namun, ketersediaan HRP masih bergantung pada tanaman horseradish (Armoracia rusticana) yang dibudidayakan di wilayah subtropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode isolasi dan pemurnian enzim peroksidase dari berbagai tanaman berdasarkan parameter rendemen, aktivitas enzim , dan faktor pemurnian sebagai kandidat alternatif HRP dalam aplikasi biosensor dan sistem ELISA. Penelitian dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) mengikuti pedoman PRISMA. Literatur diperoleh dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan Springer Nature Link, diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode Three Phase Partitioning (TPP) menghasilkan rendemen aktivitas enzim tertinggi sebesar 159%, sedangkan kombinasi kromatografi pertukaran ion dan gel filtrasi menghasilkan faktor pemurnian tertinggi sebesar 230 kali. Aktivitas spesifik tertinggi dilaporkan pada peroksidase jahe (Zingiber officinale) sebesar 13,136 U/mg. Berdasarkan hasil tersebut, metode TPP merupakan pendekatan terbaik untuk mempertahankan rendemen aktivitas enzim, sedangkan metode pemurnian bertingkat yang melibatkan DEAE-Sepharose, CM-Sepharose, dan Sephacryl S-200 pada peroksidase jahe terbukti menghasilkan aktivitas spesifik tertinggi sebagai kandidat alternatif HRP.
Evaluasi Efektivitas Eritropoietin terhadap Respons Hematologi Pasien Gagal Ginjal Kronis Agnia Aulia Syifa; Suwendar Suwendar; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 275 - 284
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24771

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease (CKD) is commonly associated with anemia due to decreased erythropoietin production by the kidneys, resulting in impaired erythropoiesis and reduced hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels. This study aimed to evaluate the effectiveness of erythropoietin-containing combination therapy based on changes in hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels in CKD patients undergoing hemodialysis at Bandung Kiwari Regional Hospital. A descriptive observational study with a retrospective approach was conducted using medical records of 53 patients who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively, while statistical analyses were performed using the Shapiro–Wilk normality test followed by the Wilcoxon test. The results showed that 62% of patients achieved the target hemoglobin response of 0.5–1.5 g/dL. The combination of epoetin alfa and folic acid, as well as epoetin alfa, folic acid, and vitamin B12, significantly increased hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels (p<0.05). In conclusion, erythropoietin-containing combination therapy was effective in improving hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels in CKD patients undergoing hemodialysis. Abstrak. Gagal ginjal kronis (GGK) sering disertai anemia akibat penurunan produksi eritropoietin oleh ginjal yang mengganggu proses eritropoiesis sehingga menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi kombinasi yang mengandung eritropoietin berdasarkan perubahan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Bandung Kiwari periode Januari–Desember 2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis 53 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif, sedangkan analisis statistik dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% pasien mencapai target respons peningkatan hemoglobin sebesar 0,5–1,5 g/dL. Terapi kombinasi epoetin alfa dan asam folat serta kombinasi epoetin alfa, asam folat, dan vitamin B12 meningkatkan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit secara signifikan (p<0,05). Disimpulkan bahwa terapi kombinasi yang mengandung eritropoietin efektif meningkatkan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis.
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Daun Leunca terhadap Embrio Ikan Zebra Hanifah Hidayah Putri; Siti Hazar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 265-274
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24775

Abstract

Abstract. Leunca leaf  is one of the medicinal plants used in traditional medicine because it contains bioactive compounds that have the potential to provide pharmacological effects, such as anti-inflammatory, antibacterial, antioxidant, and anticancer. However, data on the safety of its use for embryonic development are still limited, so it is necessary to carry out acute toxicity testing. This study aims to evaluate the effect of acute toxicity of ethanol extract of leunca leaf on zebrafish embryos and determine the LC₅₀ value produced. The research method used is true experimental design with the FET method referring to OECD guidelines No. 236 of 2013. A total of 120 zebrafish embryos were divided into negative control group and treatment groups, each group consisting of 20 embryos with an extract concentration of 0,1; 1; 10; 100; and 1000 ppm every 24 hours for 96 hours. Embryonic mortality and abnormality data were analyzed using probit regression to obtain LC₅₀ values. The results showed that exposure to ethanol extract of leunca leaves caused death and abnormalities in embryonic development, including embryonic coagulation, disturbance of somite formation, and non-formation of heart rate. The LC₅₀ value obtained for 96 hours of 0.2329 ppm is classified as Highly Toxic. Abstrak. Daun leunca merupakan salah satu tanaman obat yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan efek farmakologis, seperti antiinflamasi, antibakteri, antioksidan, dan antikanker. Namun, data mengenai keamanan penggunaannya terhadap perkembangan embrio masih terbatas sehingga perlu dilakukan pengujian toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek toksisitas akut ekstrak etanol daun leunca terhadap embrio ikan zebra serta menentukan nilai LC₅₀ yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah true experimental design dengan metode FET mengacu pada pedoman OECD No. 236 Tahun 2013. Sebanyak 120 embrio ikan zebra dibagi menjadi kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan yang masing-masing kelompok terdiri dari 20 embrio dengan konsentrasi ekstrak 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 ppm setiap 24 jam selama 96 jam. Data mortalitas dan abnormalitas embrio dianalisis menggunakan regresi probit untuk memperoleh nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan ekstrak etanol daun leunca menyebabkan kematian dan kelainan perkembangan embrio, antara lain koagulasi embrio, gangguan pembentukan somit, dan tidak terbentuknya detak jantung. Nilai LC₅₀ yang diperoleh selama 96 jam sebesar 0,2329 ppm termasuk dalam kategori Highly Toxic (sangat toksik).
Pola Penggunaan Obat pada Lansia Gagal Jantung Kongesti di RS X Bandung Zahra Aurelia Chendra; Suwendar Suwendar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 285 - 294
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24791

Abstract

Abstract. Heart failure is a cardiovascular disease commonly occurring in older adults and is often accompanied by comorbidities, making treatment more complex. This study aimed to determine the drug utilization patterns, rationality of drug use, and treatment patterns among patients with heart failure and comorbid hypertension and type 2 diabetes mellitus at hospital X Bandung from January to December 2025. This study employed a descriptive observational design with a retrospective approach. Sampling was conducted using non-probability sampling with a total sampling method, resulting in 120 patients who met the inclusion criteria. The results showed that most patients were aged 55–65 years (53%) and were male (58%). The most common comorbidities were hypertension (33%) and type 2 diabetes mellitus (8%). Bisoprolol was the most frequently used drug, followed by furosemide, aspirin, atorvastatin, spironolactone, and sacubitril/valsartan. Most patients received combination therapy, with a five-drug combination being the most frequently used regimen. Abstrak. Gagal jantung merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang banyak terjadi pada lansia dan sering disertai komorbid sehingga terapi menjadi lebih kompleks. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola penggunaan obat, rasionalitas penggunaan obat, serta pola terapi pada pasien gagal jantung dengan komorbid hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 di RS X Bandung periode Januari–Desember 2025. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling menggunakan metode total sampling, sehingga diperoleh 120 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan pasien terbanyak berusia 55–65 tahun (53%) dan berjenis kelamin laki-laki (58%). Komorbid terbanyak adalah hipertensi (33%) dan diabetes melitus tipe 2 (8%). Bisoprolol merupakan obat yang paling banyak digunakan, diikuti furosemid, aspirin, atorvastatin, spironolakton, dan sacubitril/valsartan. Sebagian besar pasien menerima terapi kombinasi, dengan kombinasi lima jenis obat sebagai regimen yang paling banyak digunakan.
Studi Literatur: Sistem In Situ Gel dalam Pengembangan Sediaan Farmasi Dewi Nanda Aulia; Sani Ega Priani; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy 295 - 302
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24792

Abstract

Abstract. In situ gel is a drug delivery system that undergoes a sol–gel transition in response to physiological stimuli, providing prolonged drug residence time and controlled drug release compared with conventional dosage forms. This study aimed to review the development of in situ gel systems in pharmaceutical formulations based on gelation mechanisms, polymers used, formulation characteristics, and their potential applications. A narrative review was conducted by analyzing selected original research articles. The review identified three major gelation mechanisms, namely thermosensitive, pH-triggered, and ion-activated systems. Thermosensitive systems generally employ a combination of Poloxamer 407 and Poloxamer 188, pH-triggered systems utilize Carbopol combined with HPMC, while ion-activated systems use deacetylated gellan gum as the primary gelling polymer. Despite differences in gelation mechanisms, all systems demonstrated favorable formulation characteristics, including rapid gel formation under physiological conditions, prolonged drug retention, and sustained drug release. Although the reviewed studies mainly focused on ophthalmic drug delivery, in situ gel systems show promising potential for broader pharmaceutical applications. Abstrak. In situ gel merupakan sistem penghantaran obat yang mengalami transisi dari bentuk cair menjadi gel sebagai respons terhadap kondisi fisiologis sehingga mampu meningkatkan waktu retensi obat dan mengontrol pelepasan obat dibandingkan sediaan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan sistem in situ gel dalam pengembangan sediaan farmasi berdasarkan mekanisme pembentukan gel, jenis polimer, karakteristik formulasi, dan potensi aplikasinya. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan narrative review terhadap artikel penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan tiga mekanisme utama pembentukan in situ gel, yaitu thermosensitive, pH-triggered, dan ion-triggered. Sistem thermosensitive menggunakan kombinasi Poloxamer 407 dan Poloxamer 188, sistem pH-triggered menggunakan Carbopol yang dikombinasikan dengan HPMC, sedangkan sistem ion-triggered menggunakan deasetilasi gellan gum sebagai polimer utama. Ketiga mekanisme tersebut menunjukkan karakteristik formulasi yang baik, meliputi pembentukan gel pada kondisi fisiologis, peningkatan retensi obat, dan pelepasan obat secara terkendali. Meskipun penelitian yang ditelaah didominasi oleh aplikasi oftalmik, sistem in situ gel berpotensi dikembangkan pada berbagai sediaan farmasi lainnya.
Formulasi Masker Hidrogel Mengandung Ekstrak Etanol Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Netha Kusuma Dewi; Ratih Aryani; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 303 - 310
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24798

Abstract

Abstract. Premature aging is a skin disorder driven by elevated oxidative stress resulting from excessive free-radical exposure, particularly ultraviolet radiation, which progressively damages collagen structures and diminishes skin elasticity. Sembung leaf (Blumea balsamifera L.) has been reported to contain flavonoid compounds with notable antioxidant activity, making it a promising candidate as an active ingredient in topical cosmetic preparations. This study aimed to determine the optimum hydrogel mask formula containing ethanol extract of sembung leaf based on physical quality evaluation, and to assess its antioxidant activity through IC50 determination. Sembung leaf crude extract was obtained through a maceration process using 70% ethanol, resulting in an extraction rate of 17.708%. The hydrogel mask base was optimized by varying the concentrations of sodium alginate and xanthan gum across nine formulations, which were then evaluated. Formula 4 (3% sodium alginate, 0.5% xanthan gum) was identified as the optimum formulation. The hydrogel mask containing 5% sembung leaf ethanol extract yielded satisfactory results across all parameters: round shape, green color, characteristic odor, uniform homogeneity, pH 6.13-6.71, and an elasticity value of 39.36%. Antioxidant activity assessed by the DPPH method revealed an IC50 value of 331.558 ± 4.178 ppm, classified as very weak antioxidant activity. Abstrak. Penuaan dini merupakan permasalahan kulit yang dipicu oleh peningkatan stres oksidatif akibat paparan radikal bebas, khususnya sinar ultraviolet, yang dapat merusak struktur kolagen dan menurunkan elastisitas kulit. Daun sembung (Blumea balsamifera L.) diketahui mengandung senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif dalam sediaan kosmetik topikal. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula optimum masker hidrogel yang mengandung ekstrak etanol daun sembung berdasarkan hasil evaluasi dan mengetahui aktivitas antioksidannya berdasarkan nilai IC50. Simplisia daun sembung diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70% dan diperoleh rendemen sebesar 17,708%. Optimasi basis masker hidrogel dilakukan melalui variasi konsentrasi natrium alginat dan xanthan gum pada sembilan formula, kemudian dievaluasi secara organoleptis, homogenitas, pH, daya elastisitas, dan penyusutan masker. Formula optimum yang terpilih adalah Formula 4 dengan komposisi natrium alginat 3% dan xanthan gum 0,5%. Evaluasi sediaan masker hidrogel yang mengandung ekstrak etanol daun sembung 5% menunjukkan hasil yang memenuhi persyaratan, yaitu berbentuk bulat, berwarna hijau, berbau khas, homogen, pH berkisar antara 6,13-6,71, dan daya elastisitas 39,36%. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan nilai IC50 sediaan masker hidrogel ekstrak etanol daun sembung sebesar 331,558 ± 4,178 ppm yang tergolong dalam kategori sangat lemah.
Pola Peresepan Obat Pasien Gagal Jantung Kongestif RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Muhammad Ilham Al Ghifari; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 311 - 320
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24807

Abstract

Abstract. Heart failure is a leading cause of global morbidity and mortality, presenting a significant burden on healthcare systems. The complexity of pharmacological therapy for chronic heart failure requires systematic evaluation to ensure clinical effectiveness and medication adherence. This study aims to evaluate the prescribing patterns of primary and adjunctive drugs based on demographic characteristics in congestive heart failure patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the 2025 period. This research is a descriptive observational study with a retrospective cross-sectional design. Samples were obtained through a total sampling technique from the medical records of outpatient cases (ICD-10: 150.0) for the January-December 2025 period. Out of 258 samples, patients were predominantly male (60.85%) and aged 45-64 years (55.04%). The primary heart failure drug prescribing pattern was dominated by diuretics (36.83%) and beta-blockers (25.93%), with the main active ingredients being spironolactone, furosemide, and bisoprolol. Meanwhile, the adjunctive drug prescribing pattern was mostly dominated by antiplatelets (30.84%), statin antidyslipidemics (27.44%), and PPI gastroprotectors (14.12%). Abstrak. Gagal jantung merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global yang memberikan beban signifikan pada sistem pelayanan kesehatan. Kompleksitas terapi farmakologis untuk gagal jantung kronis memerlukan evaluasi sistematis untuk memastikan efektivitas klinis dan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola peresepan obat utama dan obat penunjang berdasarkan karakteristik demografi pada pasien gagal jantung kongestif di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2025. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan desain cross-sectional retrospektif. Sampel diambil melalui teknik total sampling dari rekam medis pasien rawat jalan (ICD-10: 150.0) periode Januari hingga Desember 2025. Dari 258 sampel, pasien paling banyak adalah laki-laki (60,85%) dan kelompok usia 45–64 tahun (55,04%). Pola peresepan obat gagal jantung utama didominasi golongan diuretik (36,83%) dan beta bloker (25,93%), dengan zat aktif utama spironolakton, furosemide, dan bisoprolol. Sementara itu, pola peresepan obat penunjang terbanyak didominasi oleh golongan antiplatelet (30,84%), antidislipidemia statin (27,44%), dan gastroprotektor PPI (14,12%).
Sintesis Senyawa Tripeptida Valin-Asparagin-Prolin sebagai Kandidat Antioksidan dengan Menggunakan Metode SPPS Sabila Yufita Maharami; Nety Kurniaty; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy 331 - 338
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24828

Abstract

Abstract. Peptides are bioactive molecules composed of two to approximately twenty amino acid residues linked by peptide bonds. Bioactive peptides offer numerous benefits, one of which is their antioxidant activity. The combination of hydrophobic and polar amino acids, such as valine, asparagine, and proline in the Val–Asn–Pro tripeptide, is known to provide a balance between solubility and optimal free radical scavenging ability. Peptide synthesis can be performed using the SPPS (Solid-Phase Peptide Synthesis) method, which produces peptides efficiently and rapidly; therefore, the objective of this study is to compare the antioxidant activity of the SPPS-synthesized Val-Asn-Pro tripeptide with that of a natural tripeptide derived from grain fermentation. The testing method involved synthesizing the tripeptide and then characterizing the synthesis product using MS and KCKT, which yielded an m/z value of 329 and a retention time of 20.078 minutes as the highest peak. Following characterization, antioxidant testing was performed using the DPPH method, yielding an IC50 value of 338 µg/ml, indicating that the antioxidant activity of the Val–Asn–Pro tripeptide is very weak, but better than that of the Val–Asn–Pro tripeptide derived from grain fermentation. Abstrak. Peptida merupakan molekul bioaktif yang tersusun dari dua hingga sekitar dua puluh residu asam amino yang dihubungkan melalui ikatan peptida. Peptida bioaktif memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antioksidan. Kombinasi asam amino hidrofobik dan polar, seperti valin, asparagin, dan prolin dalam tripeptida Val–Asn–Pro, diketahui memberikan keseimbangan antara kelarutan dan kemampuan penangkapan radikal bebas yang optimal. Sintesis peptida dilakukan melalui metode SPPS (Solid Phase Peptide Synthesis) yang menghasilkan peptida secara efisien dan cepat sehingga tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan aktivitas antioksidan hasil sintesis tripeptida metode SPPS Val-Asn-Pro dengan tripeptida alami hasil fermentasi biji-bijian. Metode pengujian dilakukan dengan sintesis tripeptida kemudian karakterisasi hasil sintesis menggunakan MS dan KCKT yang menghasilkan nilai m/z sebesar 329 dan waktu retensi 20,078 menit sebagai puncak tertinggi. Setelah karakterisasi, dilakukan uji antioksidan dengan metode DPPH dan didapat nilai IC50 sebesar 338 µg/ml yang menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tripeptida Val–Asn–Pro sangat lemah, namun lebih baik dari pada tripeptida Val–Asn–Pro dari fermentasi biji-bijian.
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Biji Ketumbar terhadap Embrio Ikan Zebra Amalia Arofah; Siti Hazar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 339 - 346
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24829

Abstract

Abstract. Coriandrum sativum L. (coriander) seeds are widely recognized as a medicinal herb with various pharmacological activities and considerable potential for pharmaceutical development. However, information regarding their safety, particularly their effects on embryonic development, remains limited, necessitating an acute toxicity evaluation. This study aimed to assess the acute toxicity of the ethanolic extract of Coriandrum sativum L. seeds on zebrafish (Danio rerio) embryos and to determine the median lethal concentration (LC₅₀) as an indicator of toxicity. The study employed a true experimental design using the Fish Embryo Toxicity Test (FET) in accordance with the OECD Guideline 236. Zebrafish embryos were exposed to extract concentrations of 0.1, 1, 10, 100, and 1000 µg/mL for 96 hours. Embryo mortality and developmental abnormalities were analyzed using probit regression to determine the LC₅₀ value. The results demonstrated that the ethanolic extract induced embryonic abnormalities, including coagulation, delayed hatching, absence of somite formation, and lack of heartbeat. The LC₅₀ value was 18.7393 µg/mL, indicating that the extract is classified as slightly toxic. These findings suggest that the ethanolic extract of Coriandrum sativum L. seeds exhibits acute toxicity toward zebrafish embryos; therefore, its safety should be carefully considered before further development as a medicinal agent. Abstrak. Biji ketumbar (Coriandrum sativum L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat. Namun, informasi mengenai keamanan penggunaannya, khususnya terhadap perkembangan embrio, masih terbatas sehingga diperlukan uji toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas akut ekstrak etanol biji ketumbar (Coriandrum sativum L.) terhadap embrio ikan zebra (Danio rerio) serta menentukan nilai LC₅₀ sebagai indikator tingkat toksisitas. Penelitian menggunakan metode eksperimental (true experimental design) dengan pendekatan Fish Embryo Toxicity Test (FET) mengacu pada pedoman OECD 236. Embrio ikan zebra dipaparkan pada ekstrak dengan konsentrasi 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 µg/mL selama 96 jam. Data mortalitas dan abnormalitas embrio dianalisis menggunakan regresi probit untuk menentukan nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji ketumbar menyebabkan abnormalitas berupa koagulasi embrio, keterlambatan penetasan, tidak terbentuknya somit, dan tidak adanya denyut jantung. Nilai LC₅₀ yang diperoleh sebesar 18,7393 µg/mL, yang termasuk dalam kategori slightly toxic. Dengan demikian, ekstrak etanol biji ketumbar memiliki toksisitas akut terhadap embrio ikan zebra sehingga aspek keamanannya perlu diperhatikan sebelum dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan obat.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Pharmacy 975 - 984 967 - 974 959 - 966 949 - 958 941 - 948 933 - 940 923 - 932 913 - 922 905 - 912 897 - 904 887 - 896 877 - 886 869 - 876 861 - 868 853 - 860 843 - 852 835 - 842 827 - 834 817 - 826 807 - 816 799 - 806 789 - 798 779 - 788 771 - 778 763 - 770 753 - 762 745 - 752 737 - 744 727 - 736 717 - 726 709 - 716 701 - 708 693 - 700 685 - 692 675 - 684 663 - 674 655 - 662 645 - 654 637 - 644 629 - 636 621 - 628 611 - 620 603 - 610 595 - 602 587 - 594 579 - 586 571 - 578 561 - 570 553 - 560 543 - 552 535 - 542 527 - 534 517 - 526 509 - 516 501 - 508 491 - 500 483 - 490 475 - 482 467 - 474 459 - 466 449 - 458 441 - 448 433 - 440 423 - 432 415 - 422 407 - 414 399 - 406 391 - 398 383 - 390 375 - 382 365-374 355 - 364 347 - 354 339 - 346 331 - 338 321-330 311 - 320 303 - 310 295 - 302 285 - 294 275 - 284 265-274 255 - 264 247 - 254 237 - 246 227 - 236 217-226 209 - 216 201 - 208 191 - 200 183 - 190 171 - 182 163 - 170 155 - 162 147 - 154 139 - 146 129 - 138 121 - 128 113 - 120 105 - 112 95 - 104 87 - 94 79 - 86 67 - 78 59 - 66 51 - 58 43 - 50 33 - 42 More Issue