cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
therunurgiansah@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
therunurgiansah@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Puri Nirwana Bangunjiwo No.A-5 Dusun Kenalan Kelurahan Bangunjiwo Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health
Published by CV. Rayyan Dwi Bharata
ISSN : 2964819X     EISSN : 29642507     DOI : https://doi.org/10.57235
JETISH: Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health is published twice a year: March and September. E-ISSN: 2964-2507 (Elektronik) P-ISSN: 2964-819X (Cetak) Editor In Chief: T. Heru Nurgiansah, M.Pd DOI: 10.57235 Publisher: CV. Rayyan Dwi Bharata 1. Education 2. Information Technology 3. Social, Political and Cultural 4. Health, Medicine and Nursing/Obstetrics
Articles 861 Documents
Analisis Keandalan Fuel Metering Unit Engine Trent 700 Airbus A330-300 Menggunakan Weibull dan FMEA Muhamad Gilam Yudha Pratama; Lilies Esthi Riyanthi; Abdan Mughni Syafa’at
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9169

Abstract

Fuel Metering Unit (FMU) merupakan komponen utama sistem bahan bakar engine Rolls-Royce Trent 700 yang mengatur dan mengukur aliran bahan bakar menuju combustion chamber sesuai perintah Engine Electronic Controller (EEC). Selama periode 2023 sampai 2025 tercatat 55 kejadian unscheduled removal FMU P/N 702-03 pada armada Airbus A330-300 di PT XYZ yang berdampak pada keterlambatan penerbangan dan meningkatnya biaya perawatan, sementara nilai keandalan komponen tersebut belum pernah diukur secara kuantitatif sehingga strategi perawatan masih bersifat reaktif. Penelitian ini bertujuan menentukan nilai Mean Time to Failure (MTTF) FMU, mengidentifikasi modus kegagalan yang menjadi prioritas penanganan, serta menyusun usulan interval dan tindakan perawatan untuk meningkatkan keandalan komponen. Penelitian menggunakan metode mixed methods karena permasalahan menuntut pengukuran statistik sekaligus penelusuran penyebab kegagalan yang hanya dapat diperoleh dari pengalaman personel perawatan. Analisis kuantitatif dilakukan dengan distribusi Weibull dua parameter melalui median rank regression terhadap data Time to Failure yang diturunkan dari Time Since Installation, sedangkan analisis kualitatif dilakukan dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) berdasarkan kuesioner dan wawancara terhadap empat Aircraft Maintenance Engineer. Hasil penelitian menunjukkan nilai shape parameter (β) sebesar 2,0137 dan scale parameter (η) sebesar 7.400,81 FH dengan koefisien determinasi 0,9748, sehingga FMU berada pada fase wear-out. Nilai MTTF diperoleh sebesar 6.558,02 flight hours dengan reliability tersisa 45,66 persen, dan sebanyak 34 unit atau 61,8 persen mengalami kegagalan sebelum mencapai MTTF. Analisis FMEA menempatkan electrical connector protective broken sebagai prioritas utama dengan Risk Priority Number 168, diikuti Housing Adjuster crack (105), HP fuel inlet broken (64), dan Heatshield scratches (48). Berdasarkan konsep B-Life, penelitian ini mengusulkan interval preventive maintenance 5.300 FH (B40 life) dengan functional check antara pada 3.500 FH, disertai pemeriksaan spesifik sesuai modus kegagalan dominan. Penelitian lanjutan disarankan menambahkan data suspension dan analisis biaya.
Gambaran Stres Kerja pada Pekerja di PT X pada Tahun 2026 Salsabila Maharani; Eka Cempaka Putri; Fierdania Yusvita; Izzatu Millah
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9178

Abstract

Stres kerja merupakan salah satu masalah psikososial utama dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perkantoran yang dapat menurunkan produktivitas dan memicu gangguan kesehatan. Karyawan PT X dihadapkan pada tuntutan akurasi tinggi dan tenggat waktu ketat dalam industri inspeksi, yang berpotensi memicu stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stres kerja pada pekerja di PT X Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan analisis deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 54 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner untuk mengukur stres kerja dengan menggunakan Perceived Stress Scale-10. Metode deskriptif dan teknik total sampling dipilih agar dapat menyajikan gambaran tingkat stres kerja seluruh populasi karyawan secara objektif dan menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 45 pekerja (83,3%). Kemudian pekerja dengan kategori stres ringan berjumlah 7 orang (13,0%) dan pekerja dengan kategori stres tinggi berjumlah 2 orang (3,7%). Berdasarkan analisis distribusi jawaban per item pernyataan, bentuk respons stres yang paling menonjol dirasakan pekerja adalah perasaan gelisah dan tertekan (item nomor 3) dengan nilai mean tertinggi sebesar 2,35, sedangkan aspek yang paling minimal dikeluhkan adalah keyakinan diri dalam mengatasi masalah pribadi (item nomor 4) dengan nilai mean terkecil sebesar 1,57. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja di PT X mengalami tingkat stres kerja pada kategori sedang yang didominasi oleh respons psikologis berupa perasaan gelisah dan tertekan. Rekomendasi bagi manajemen PT X yaitu penyediaan program pelatihan manajemen stres kerja, penyederhanaan alur pelaporan administrasi internal, penguatan dukungan sosial, serta implementasi pemantauan tingkat stres kerja secara berkala, serta bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti faktor-faktor spesifik yang memengaruhi stres tersebut.
Perancangan Housing Antena Automatic Dependent Surveillance-Broadcast Model Mikrostrip Blade pada Pesawat Piper Warrior-III Andyo Reynaldy; Ego Widoro; Muhamad Faridh Al Farisy; Nurdin
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9179

Abstract

Pesawat latih Piper PA-28-161 Warrior III yang dioperasikan Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug telah dilengkapi sistem Automatic Dependent Surveillance–Broadcast (ADS-B) hasil modifikasi non-pabrikan yang menurut laporan teknisi dan penerbang kerap mengalami malfunction, sementara rancangan housing antena yang spesifik bagi karakteristik fuselage pesawat tersebut belum tersedia. Penelitian ini dilakukan karena penambahan komponen eksternal pada permukaan pesawat menuntut perlindungan mekanik tanpa mendegradasi pancaran sinyal pada frekuensi kerja 1090 MHz, sekaligus berpotensi menambah gaya hambat aerodinamis. Tujuan penelitian adalah menentukan lokasi pemasangan yang paling sesuai, merancang geometri housing tipe blade, dan menguji kelayakan aerodinamis rancangan tersebut. Penelitian menggunakan metode Research and Development dengan model pengembangan ADDIE. Penentuan lokasi dilakukan melalui triangulasi kualitatif atas kajian manual instalasi Avidyne AXP340, observasi struktur belly fuselage, dan wawancara tiga ahli avionik, sedangkan kelayakan aerodinamis diuji melalui simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) ANSYS Fluent dengan model turbulensi SST k-ω. Metode tersebut dipilih karena memungkinkan evaluasi kuantitatif medan aliran tanpa pengujian fisik yang mahal dan memakan waktu. Hasil triangulasi menetapkan lokasi pemasangan pada belly fuselage sedekat mungkin dengan centerline. Simulasi pada kecepatan 68,333 m/s menunjukkan varian swept angle 45° menghasilkan drag force 0,9189 N dengan drag coefficient 1,5002 atau 1,61% lebih rendah daripada varian 30° (0,9339 N; 1,5247), disertai wall shear stress dan skin friction coefficient 7,37% lebih rendah serta tekanan maksimum permukaan 1.307,83 Pa berbanding 1.584,31 Pa. Varian 45° karenanya ditetapkan sebagai rancangan akhir yang direkomendasikan. Penelitian lanjutan disarankan mencakup analisis struktural, pengujian karakteristik elektromagnetik, dan validasi terowongan angin.
Studi Pengaruh Bahan Substrat Terhadap Kinerja Antena Mikrostrip Array Satcom Pada Frekuensi Ka-Band R Nugraha; M Wildan; F L Adipradama
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9182

Abstract

Antena parabola konvensional pada pesawat menimbulkan hambatan aerodinamis. Sebagai solusi berprofil rendah, penelitian ini merancang antena mikrostrip rectangular array 4x8 (32 elemen) untuk penerima satelit Ka-Band (20 GHz) sekaligus menguji pengaruh bahan substrat terhadap kinerjanya. Simulasi dilakukan menggunakan CST Studio Suite 2022 dengan metode Rancang Bangun dan Eksperimental Kuantitatif, mencakup sintesis dimensi patch, teknik slot, dan corporate feed network. Hasilnya, substrat Rogers RT5880 terbukti optimal dengan pencapaian VSWR 1,27, Return Loss -18,56 dB, Bandwidth 258 MHz, dan Gain 16,48 dBi. Sebaliknya, kinerja FR-4 Epoxy anjlok dengan Gain hanya 4,535 dBi akibat tingginya loss tangent. Kesimpulannya, Rogers RT5880 jauh lebih layak dan unggul untuk diaplikasikan pada sistem komunikasi satelit Ka-Band dibandingkan FR-4.
Analisis Water Ingress pada Rudder Airbus A330 dengan Regresi Linier dan Root Cause Analysis Riyaldo Zorena Sebayang; Iwan Engkus Kurniawan; Fawwaz Yusa Gifari
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9183

Abstract

Struktur honeycomb composite pada komponen rudder pesawat Airbus A330 rentan mengalami water ingress yang memicu disbonding dan delaminasi akibat siklus beku-cair pada ketinggian jelajah. Data inspeksi PT GMF AeroAsia Tbk. periode 2018–2025 menunjukkan peningkatan temuan dari 21 defect pada interval enam tahun menjadi 78 defect pada interval delapan belas tahun, namun penanganannya masih bersifat reaktif dan belum didukung pemodelan kuantitatif maupun penelusuran akar masalah yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh usia operasional pesawat terhadap tingkat water ingress, mengidentifikasi akar penyebab dominan, serta merumuskan tindakan perbaikan yang optimal. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) terhadap data observasi 36 unit pesawat Airbus A330. Pendekatan ini dipilih karena pemodelan statistik saja tidak cukup menjelaskan penyebab operasional kegagalan, sedangkan penelusuran kualitatif tanpa dasar kuantitatif berisiko kehilangan prioritas. Analisis kuantitatif dilakukan melalui Regresi Linier Sederhana dengan usia pesawat sebagai variabel bebas serta jumlah temuan (Total Defect) dan luas kerusakan (Size Defect) sebagai dua variabel terikat, didahului uji asumsi klasik dan diikuti uji hipotesis. Analisis kualitatif dilakukan melalui Root Cause Analysis yang terdiri atas Diagram Pareto, Diagram Fishbone 4M1E, dan matriks 5W+1H. Hasil regresi menunjukkan usia pesawat berpengaruh positif dan signifikan terhadap kedua variabel terikat, dengan model Total Defect menghasilkan Y₂ = -0,184 + 0,341X (R² = 81,5%; F = 150,244) dan model Size Defect menghasilkan Y₁ = 1.509,67 + 417,37X (R² = 91,3%; F = 357,670), keduanya signifikan pada taraf 0,05. Diagram Pareto mengidentifikasi area hoist point sebagai penyumbang dominan sebesar 86,21% dari 145 defect, dan Diagram Fishbone menemukan lima akar penyebab utama pada aspek manusia, metode, material, mesin, dan lingkungan. Penelitian menyimpulkan bahwa perawatan rudder perlu bergeser dari reaktif menuju prediktif melalui penambahan task card Detailed Visual Inspection dan interval penggantian hoist point cover pada Maintenance Program, standardisasi prosedur teknisi, verifikasi part number sesuai katalog resmi, penyediaan tail dock yang memadai, serta perlindungan cuaca saat pesawat di apron. Penelitian lanjutan disarankan menambahkan variabel rute, frekuensi penerbangan, dan kondisi lingkungan operasional melalui regresi berganda.
Pengaruh Cold Expansion terhadap Pemulihan Kekuatan Fastener Hole pada Sheet Metal Aluminium Alloy 2024-T4 Putranandha Rama Dwi Kusuma; Andri Kurniawan; Mileniawan Januar R
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9184

Abstract

Struktur skin pesawat udara merupakan komponen kritis yang harus mampu menahan pembebanan berulang (cyclic loading) sesuai standar kelaikudaraan (airworthiness). Area fastener hole pada skin menjadi lokasi kritis karena menimbulkan konsentrasi tegangan (stress concentration) dengan faktor konsentrasi teoritis (Kt) sekitar 3,0. Data inspeksi PT GMF AeroAsia periode 2021–2025 mencatat 88 kasus burn mark dan pitting akibat lightning strike pada fastener pesawat Airbus A330 yang umumnya ditangani melalui penggantian rivet, sehingga menghasilkan fastener hole baru hasil drilling yang berpotensi memperlemah struktur apabila tidak diperkuat dengan metode yang tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh proses cold expansion terhadap kekuatan struktur pada area fastener hole hasil perbaikan (repair) menggunakan metode uji tarik (tensile test). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen pada material Aluminium Alloy 2024-T4 mengacu pada standar ASTM E8/E8M, dengan tiga kelompok spesimen, yaitu material normal (S-N), fastener hole hasil perbaikan tanpa cold expansion (S-WCE), dan fastener hole hasil perbaikan dengan cold expansion pada tingkat interferensi 3% (S-CE), masing-masing tiga spesimen. Hasil pengujian menunjukkan spesimen S-N memiliki UTS rata-rata 469,0 MPa; keberadaan fastener hole tanpa cold expansion menurunkan UTS menjadi 399,6 MPa (turun 14,80%); sedangkan cold expansion pada S-CE memulihkan UTS menjadi 458,3 MPa (naik 14,69% dibanding S-WCE), yield strength naik 15,47%, dan elongation naik 29,77%, serta telah memenuhi persyaratan minimum spesifikasi material Airbus. Dapat disimpulkan bahwa cold expansion merupakan metode perbaikan struktural yang efektif untuk memulihkan kekuatan mekanik statik Aluminium Alloy 2024-T4 pada area fastener hole hasil repair, sehingga direkomendasikan sebagai bagian dari prosedur standar Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Penelitian lanjutan disarankan melakukan pengujian fatigue aktual untuk memvalidasi estimasi ketahanan fatigue yang diperoleh secara empiris pada penelitian ini.
Analisis Kegagalan dan Prediksi Umur Pakai Flow Control Valve Airbus A320 Menggunakan Distribusi Weibull Putu Diah Ayu Yogantari Sukabumi; Wahyu Cakra Nugraha; Dody Herdianto
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9185

Abstract

PACK Flow Control Valve (FCV) merupakan komponen utama sistem Air Conditioning PACK pesawat Airbus A320 yang mengatur aliran bleed air bertekanan dan bertemperatur tinggi sebelum udara diproses dan didistribusikan ke kabin. Data internal PT GMF AeroAsia mencatat 41 kejadian unscheduled removal komponen FCV P/N 1806D0000-01 sepanjang periode 2020–2025, sehingga menimbulkan peningkatan beban perawatan, penurunan redundansi Environmental Control System, dan potensi gangguan dispatch reliability. Kondisi tersebut belum didukung oleh analisis keandalan berbasis data time to failure, sehingga penentuan waktu pemeriksaan komponen masih bersifat korektif. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik kegagalan, Mean Time to Failure (MTTF), tingkat reliability, Cumulative Distribution Function (CDF), failure rate, prediksi umur pakai, serta usulan interval preventive maintenance pada komponen tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Distribusi Weibull dua parameter, yaitu shape parameter (β) dan scale parameter (η). Metode ini dipilih karena mampu memodelkan berbagai pola kegagalan komponen sekaligus menghasilkan estimasi parameter keandalan pada data kegagalan berukuran terbatas. Nilai Time Since Installation digunakan sebagai Time to Failure dengan rentang 928 FH hingga 29.774 FH dan rata-rata 15.608,63 FH. Pengolahan data dilakukan melalui pengurutan TTF, penentuan adjusted rank, perhitungan Benard’s Median Rank, transformasi variabel X dan Y, serta regresi linier. Hasil analisis menghasilkan β sebesar 2,015375676 dan η sebesar 18.009,99 FH dengan koefisien determinasi 0,8421, sehingga komponen berada pada fase wear-out. Nilai MTTF diperoleh sebesar 15.958,83 FH dengan reliability 45,67%, CDF 54,33%, dan failure rate 0,00009897 kegagalan per FH. Analisis B-Life menghasilkan B10 sebesar 5.896,31 FH, B20 sebesar 8.556,39 FH, dan B30 sebesar 10.798,36 FH. Berdasarkan acuan reliability 70%, penelitian menyimpulkan bahwa MTTF tidak tepat digunakan langsung sebagai batas penggantian dan merekomendasikan functional atau operational check pada kisaran 10.800 FH, monitoring awal pada 5.800–6.000 FH, serta evaluasi penggantian terencana sebelum 15.500 FH. Penelitian lanjutan disarankan mengintegrasikan Failure Mode and Effect Analysis, Root Cause Analysis, dan optimasi biaya perawatan.
Pengaruh Drain Fueling After Remain Over Night Terhadap Pertumbuhan Mikroba Boeing 737-8 MAX Muhammad Rafli; Wahyu Cakra Nugraha; Dody Herdianto
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9186

Abstract

Keandalan sistem bahan bakar pada pesawat terbang modern, khususnya Boeing 737-8 MAX, sangat bergantung pada ketepatan prosedur pemeliharaan preventif yang dilakukan. Salah satu tantangan teknis yang krusial dalam operasional harian adalah potensi kontaminasi mikrobiologi yang dipicu oleh akumulasi air bebas di dalam tangki bahan bakar. Fenomena ini sering kali terjadi ketika pesawat mengalami fase Remain Over Night (RON), di mana durasi parkir yang panjang memungkinkan terjadinya proses kondensasi akibat fluktuasi suhu lingkungan, yang secara termodinamika mengubah uap air di ruang tangki menjadi tetesan air bebas (free water). Air bebas inilah yang menjadi media utama bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen, terutama jamur Hormoconis resinae, yang dikenal sebagai jamur bahan bakar jet karena kemampuannya memproduksi asam organik yang memicu korosi struktur tangki aluminium dan membentuk lapisan lendir (slime mats) yang dapat menyumbat filter bahan bakar. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi secara mendalam efektivitas prosedur drain fueling harian dalam mereduksi penumpukan air kondensasi serta menekan pertumbuhan koloni mikroba pada armada Boeing 737-8 MAX milik PT. Airfast Indonesia. Metode penelitian yang diterapkan adalah eksperimen kuantitatif dengan pendekatan komparatif, menggunakan alat uji MicrobMonitor2 untuk menghitung secara presisi jumlah Colony Forming Units (CFU) dalam sampel bahan bakar. Penelitian ini membagi subjek observasi ke dalam dua kelompok perlakuan: kelompok pertama sebagai kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan drainase rutin pasca RON, dan kelompok kedua sebagai variabel uji yang mendapatkan prosedur drainase secara terjadwal setiap hari pasca fase RON. Pengambilan sampel dilakukan pada enam titik observasi dengan masa inkubasi media gel selama empat hari untuk mendapatkan data populasi mikroba yang valid dan akurat. Hasil analisis data menunjukkan perbedaan tingkat kontaminasi yang sangat drastis dan signifikan secara statistik antara kedua kelompok perlakuan. Kelompok pertama yang tidak mendapatkan intervensi drainase menunjukkan indikasi proliferasi mikroba yang sangat berat, dengan estimasi tingkat kontaminasi mencapai nilai ≥ 10⁵ - 10⁶ CFU/L. Tingkat ini jauh melampaui ambang batas toleransi operasional, sehingga menempatkan bahan bakar pada status kontaminasi “Heavy” atau berat, yang secara teknis mewajibkan tindakan korektif segera melalui aplikasi biocide dan inspeksi visual menyeluruh ke dalam tangki bahan bakar guna mencegah kerusakan struktural lebih lanjut. Sebaliknya, hasil pengujian pada kelompok kedua yang disiplin menerapkan prosedur drain fueling harian pasca fase RON menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Observasi visual konsisten menunjukkan ketiadaan pertumbuhan koloni yang signifikan, dengan estimasi tingkat kontaminasi berhasil ditekan hingga berada di level terendah, yaitu < 2.000 CFU/L. Data ini mengonfirmasi bahwa status kontaminasi bahan bakar pada kelompok tersebut tetap terjaga pada kategori “Negligible” atau aman, sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan oleh Aircraft Maintenance Manual (AMM) serta pedoman International Air Transport Association (IATA). Kesimpulan akhir dari penelitian ini menegaskan bahwa prosedur drain fueling harian pasca fase RON bukan sekadar rutinitas pemeliharaan, melainkan mitigasi primer yang sangat efektif untuk memutus siklus pertumbuhan mikroorganisme di lingkungan tangki bahan bakar. Konsistensi dalam pelaksanaan prosedur ini terbukti secara empiris mampu menjaga integritas struktural tangki, mencegah potensi Microbiologically Influenced Corrosion (MIC), dan memastikan keandalan sistem bahan bakar yang sangat krusial bagi keselamatan penerbangan. Penelitian ini merekomendasikan pengetatan prosedur pengawasan harian dan edukasi sterilitas bagi personel teknisi untuk memastikan efektivitas pemeliharaan yang berkesinambungan.
Analisis Root Cause Kegagalan Autobrake Disarm Illuminated After Touchdown pada Boeing 737-8 MAX Evan Bramandito Prawiguna; Iwan Engkus Kurniawan; Fawwas Yuza Gifari
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9187

Abstract

Sistem pengereman otomatis (autobrake system) pada pesawat udara komersial khususnya Boeing 737-8 MAX merupakan komponen vital yang dirancang untuk memberikan deselerasi secara otomatis dan terukur segera setelah roda pesawat menyentuh landasan (touchdown), mengalihkan beban pengereman dari pilot serta meminimalkan risiko runway excursion atau overrun. Sistem ini dikendalikan oleh Antiskid/Autobrake Control Unit dan berinteraksi secara kompleks dengan wheel speed transducer, thrust lever switchpack, speedbrake/spoiler control electronics, brake pedal switches, serta katup-katup hidrolik pengereman. Namun, ditemukannya gangguan operasional berupa Autobrake System Disarm illuminated after touchdown (terpasangnya lampu kuning "Autobrake Disarm" di kokpit saat atau setelah touchdown) mengindikasikan pelepasan pengereman otomatis secara tidak sesuai aturan awal (uncommanded disarm), yang memaksa pengereman beralih ke mode manual secara mendadak. Hal ini berpotensi meningkatkan pilot workload, memperpanjang jarak deselerasi pesawat, serta mengancam keselamatan penerbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor teknis maupun operasional penyebab kegagalan tersebut, mengevaluasi efektivitas prosedur troubleshooting di lapangan, menguji kontribusi faktor manusia (human factor), serta merumuskan rekomendasi corrective action yang aplikatif untuk mencegah kejadian berulang. Penelitian kualitatif deskriptif-eksploratif dengan strategi studi kasus ini menerapkan pendekatan Root Cause Analysis yang mengombinasikan alat analisis Diagram Pareto, Diagram Fishbone (Ishikawa), serta analisis 5W+1H. Penelitian berlokasi di PT. Airfast Indonesia (Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang) dalam rentang waktu September 2025 hingga Februari 2026, menggunakan data histori operasional pendaratan pesawat Boeing 737-8 MAX registrasi PK-OFI dan PK-OFM periode 16 Juni 2024 hingga 28 Juni 2026. Data sekunder dihimpun dari Aircraft Maintenance Logbook, Deferred Defect List, Interactive Fault Isolation Manual, Aircraft Maintenance Manual, dan Minimum Equipment List, sedangkan data primer diperoleh melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan Supervisor, Engineer in Charge, dan Aircraft Maintenance Engineer berlisensi type rating Boeing 737-8 MAX. Dari total konsolidasi data 19 kasus kegagalan teragregasi (16 kasus pada PK-OFI dan 3 kasus pada PK-OFM), hasil pengolahan Diagram Pareto mengungkapkan bahwa kategori No Fault Found merupakan fenomena paling dominan dengan frekuensi mencapai 15 kasus atau sebesar 78,9%, yang mendekati pola rasio 80/20. Sementara itu, dua kategori kegagalan lain yang berhasil dikonfirmasi kerusakan fisiknya dan ditindaklanjuti dengan penggantian komponen masing-masing adalah kerusakan AB Solenoid Pressure Switch sebesar 2 kasus (10,5%) dan kerusakan Brake Pedal Switch sebesar 2 kasus (10,5%). Tingginya proporsi NFF menunjukkan bahwa mayoritas gangguan bersifat tidak permanen (transient/intermittent), sehingga tidak selalu memicu kode kesalahan (fault code) saat pengujian BITE (Built-In Test Equipment) AACU dilakukan di darat. Penelusuran akar masalah secara komprehensif menggunakan Diagram Fishbone pada kategori NFF ini menguraikan kontribusi dari lima elemen utama: pertama, faktor Man disebabkan oleh dokumentasi troubleshooting pada AML yang kurang terperinci, laporan pilot report yang kurang informatif terkait parameter pasti saat disarm, serta keterbatasan pengetahuan teknisi mengenai sifat intermittent fault pada AACU; kedua, faktor Material dipicu oleh tingginya tekanan operasi yang diterima komponen switch secara lanjutan tanpa adanya pemantauan kondisi (health trend monitoring), yang memicu indikasi fluktuatif tambahan pada brake transmitter; ketiga, faktor Method bersumber dari prosedur IFIM Task 32-42-00-810-926 yang masih bersifat teoretis umum dan belum spesifik menelusuri gangguan intermiten, filosofi perawatan komponen kelistrikan autobrake yang masih bergantung pada sistem on-condition tanpa batas usia pakai (hard time replacement), keempat, faktor Environment dipengaruhi oleh kondisi kompartemen wheel well Boeing 737-8 MAX yang tidak dilengkapi pelindung (cover), sehingga jalinan kabel (wiring harness) dan sensor terpapar langsung pada fluktuasi suhu ekstrem serta kelembapan udara; dan kelima, faktor Machine berkaitan dengan keterbatasan sistem BITE AACU dalam merekam fault message yang hilang dengan cepat serta pesan kesalahan BITE yang terlalu umum. Berdasarkan temuan tersebut, rumusan corrective action berbasis kerangka 5W+1H merekomendasikan penerbitan form troubleshooting, penyelenggaraan refresher training teknis secara berkala untuk personel pemeliharaan, pengajuan technical query kepada manufaktur Boeing guna penyempurnaan petunjuk IFIM, pelaksanaan kajian Reliability Centered Maintenance (RCM) untuk menentukan interval hard time replacement pada switch kritis, penegakan SOP troubleshooting berjenjang agar cross-swapping tidak dilakukan, serta kewajiban pencatatan variabel lingkungan pada setiap laporan investigasi guna menekan proporsi NFF dan menjamin kelaikudaraan penerbangan.
Analisis dan Strategi Pengurangan Emisi Gas Karbon di lingkungan Bandara Angkasa Pura Indonesia Sasmito Dwisatyo; Rubby Soebiantoro; Fahroji
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9188

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah tingginya konsumsi energi listrik pada operasional bandar udara yang berpotensi menghasilkan emisi karbon, sehingga diperlukan efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis konsumsi energi dan baseline emisi karbon, mengevaluasi kontribusi PLTS eksisting, menganalisis potensi pengembangan PLTS menggunakan PVsyst, serta menyusun strategi pengurangan emisi melalui efisiensi energi, penggantian lampu non-LED menjadi LED, dan pengembangan PLTS.Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif-analitis menggunakan data konsumsi energi, produksi PLTS, data teknis, potensi rooftop, faktor emisi jaringan listrik, dan data radiasi matahari. Pembahasan penelitian meliputi analisis konsumsi energi delapan bandar udara sebesar 418.446.063 kWh/tahun dengan baseline emisi 329.541,75 ton CO₂/tahun; evaluasi PLTS eksisting berkapasitas 4.294 kWp yang menghasilkan reduksi emisi 3.998,16 ton CO₂/tahun; serta simulasi pengembangan PLTS sebesar 8.064,2 kWp menggunakan PVsyst dengan potensi produksi 12.402,14 MWh/tahun dan reduksi emisi 9.997,5 ton CO₂/tahun. Kesimpulan penelitian ini adalah integrasi efisiensi energi, penggantian LED, optimalisasi PLTS eksisting, dan pengembangan PLTS berpotensi mengurangi emisi sebesar 16.379,19 ton CO₂/tahun atau 4,97% dari baseline dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.