cover
Contact Name
ABDUL KHER
Contact Email
abdulkher@radenfatah.ac.id
Phone
+6281271310210
Journal Mail Official
abdulkher@radenfatah.ac.id
Editorial Address
Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
ISSN : 28096401     EISSN : 28090500     DOI : https://doi.org/10.19109/jsq
Jurnal Semiotika Q Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir is a biannual and peer reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of Qur’an from many different perspectives.
Articles 131 Documents
Interpretasi Ayat-Ayat Ḥuzn (Depresi) Perspektif Psikologi Abu Zayd al-Balkhi (w. 934 M) Elva Wijayanti; Eka Prasetiawati; Sugiarto, Sugiarto
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.27801

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi ayat ḥuzn (depresi)  perspektif Abu Zayd al-Balkhi (w. 934 M) dengan teori psikologi modern, yaitu Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan tafsir tematik. Data diambil dari tafsir klasik dan modern, seperti tafsir at-Thabari, al-Munir, dan al-Azhar, serta ayat-ayat al-Qur’an, khususnya Surah Yusuf (ayat 13, 84, 86) dan Surah Maryam (ayat 24), untuk mendalami tema yang dibahas. Sumber data sekunder diperoleh dari kamus bahasa Arab, kitab azbabun nuzul, literatur sejarah, jurnal ilmiah dan karya ilmiah lainnya. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan pencatatan, lalu dianalisis dengan metode tafsir tematik menurut al-Farmawi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana penafsiran ayat-ayat ḥuzn (depresi) perspektif psikologi Abu Zayd al-Balkhi? dan Bagaimana relevansi penafsiran ayat ḥuzn (depresi) dengan psikologi modern?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Abu Zayd al-Balkhi mengenai kesedihan sebagai respon alami yang dapat dikelola secara kognitif dan spiritual, sejalan dengan prinsip-prinsip CBT yang menekankan kesadaran diri (awareness), penataan ulang pola pikir (cognitive reframing), dan respon perilaku adaptif (behavioral response). Kisah Nabi Ya‘qub dan Maryam menjadi gambaran Qur’ani tentang self healing yang mencerminkan keseimbangan antara ekspresi emosional, keimanan dan tindakan solutif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi antara tafsir al-Qur’an dan teori psikologi klasik Islam serta pendekatan psikologi modern mampu memberikan kontribusi terhadap pemahaman kejiwaan yang lebih holistik dan kontekstual di era kontemporer.
Kaum Cendekia dalam Perspektif QS. Ali Imran Ayat 190: Analisis Pendekatan Semiotika Roland Barthes Wulan, Mega Anjar; Shomad, Bukhori Abdul; Masruchin, Masruchin
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.27912

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna kaum cendekia dalam al-Qur’an melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, dengan fokus utama pada istilah Ulul albab yang terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 190. Dalam al-Qur’an, istilah kaum cendekia tidak hanya direpresentasikan oleh Ulul albab, tetapi juga melalui istilah lain seperti ulul ilmi, ulunnuha, dan ulul abshar. Keseluruhan istilah tersebut menggambarkan karakter manusia berakal yang tidak hanya mengandalkan kemampuan intelektual semata, melainkan juga menjadikan iman dan kesadaran spiritual sebagai aspek integral dari proses berpikir. Pemilihan QS. Ali Imran ayat 190 didasarkan pada kandungan maknanya yang kaya secara linguistik, simbolik, dan spiritual. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dan dengan pendekatan tematik (maudhu’i) untuk menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan, serta analisis semiotik dua tingkat—yakni denotatif (makna literal) dan mitologis (makna ideologis/kultural)—penelitian ini menemukan bahwa Ulul albab bukan hanya menunjuk kepada individu berakal secara umum, tetapi juga membentuk konstruksi simbolik tentang cendekiawan muslim ideal. Figur ini adalah mereka yang mampu menyatukan dzikir dan pikir, dan menjadikan perenungan terhadap alam sebagai jalan untuk memahami realitas hidup secara lebih mendalam.
Analisis Semantik Istilah Kognitif dalam Al-Qur’an: Tafakkur, Tadabbur, ‘Aql, dan Tażakkur Shofwan Sholahudin; Mohamad Zaka Al Farisi; Rinaldi Supriadi
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.28365

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis empat istilah kognitif utama dalam al-Qur’an—tafakkur, tadabbur, ʿaql, dan tażakkur—dengan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Pendekatan ini digunakan untuk mengungkap makna dasar dan relasional dari setiap istilah guna merekonstruksi Weltanschauung (pandangan dunia) Qur’ani dalam konteks epistemologi Islam. Data utama berupa ayat-ayat al-Qur’an dianalisis melalui metode analisis isi secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah tafakkur dan tadabbur berfungsi sebagai instrumen kognitif awal yang bersifat kontemplatif, namun berbeda objek; tafakkur merespons realitas empiris, sedangkan tadabbur fokus pada isi al-Qur’an. Istilah ʿaql berperan dalam menalar hubungan kausal dan abstrak yang memerlukan fondasi ʿilm. Adapun tażakkur menempati posisi tertinggi sebagai bentuk pengaktifan kesadaran spiritual, yang hanya dapat dilakukan oleh ulū al-albāb. Keempat istilah ini membentuk struktur kognitif Qur’ani yang integratif, menggabungkan pengamatan, kontemplasi, penalaran, dan internalisasi spiritual secara bertahap dan berkesinambungan. Temuan penelitian ini tidak hanya memperkaya studi semantik al-Qur’an secara teoretis, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi pengembangan pendidikan Islam, khususnya dalam penyusunan kurikulum, materi ajar, dan pelatihan guru yang menanamkan keterampilan berpikir kritis dan spiritual secara terintegrasi dalam proses pembelajaran.
Analisis Qira’at Ayat Thaharah dalam Tafsir Ath-Thabari dan Implikasinya terhadap Penafsiran Iqbal, Syerien Fauziah; Khoirun Nidhom; Ida Kurnia Shofa
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.28448

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis qira’at pada ayat-ayat thaharah dalam tafsir ath-Thabari, khususnya pada QS. al-Baqarah [2]: 222, QS. an-Nisa [4]: 43, dan QS. al-Ma’idah [5]: 6, serta implikasinya terhadap penafsiran. Perbedaan qira’at pada ayat-ayat tersebut mempengaruhi aspek fonetik dan berdampak pada pemahaman hukum terkait kebersihan, wudhu, dan hubungan suami-istri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis library research untuk mengkaji analisis ath-Thabari terhadap variasi qira’at dan penetapan tarjih berdasarkan riwayat yang dianggap sahih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan qira’at menghasilkan variasi penafsiran. Pada QS. al-Baqarah [2]: 222, perbedaan bacaan “يَطْهُرْنَ” mempengaruhi ketentuan kesucian dari haid sebelum berhubungan; pada QS. an-Nisa [4]: 43, variasi bacaan "أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ" membahas tentang status wudhu seseorang; sedangkan pada QS. al-Ma’idah [5]: 6, perbedaan pada kata "وَأَرْجُلَكُمْ" menyebabkan perbedaan fiqih mengenai kewajiban membasuh atau mengusap kaki saat wudhu. Penelitian ini menegaskan bahwa qira’at berperan penting dalam kajian tafsir dan fiqih, serta menunjukkan adanya fleksibilitas dalam hukum Islam.
Etika Bisnis dalam Al-Qur’an Menurut R. Lukman Fauroni dan Relevansinya dengan Praktik Bisnis Modern Hazballah, Hanik Faiz; Hanik Faiz Hazballah; Muhammad Mukharom Ridho; Edy Wirastho
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.29154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran R. Lukman Fauroni mengenai etika bisnis dalam al-Qur’an sebagaimana tertuang dalam karyanya Etika Bisnis Dalam Al-Qur’an, serta menelaah relevansinya terhadap praktik bisnis modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan teknik studi pustaka (library research). Data primer bersumber dari buku karya Fauroni, sedangkan data sekunder meliputi buku tafsir, jurnal, dan karya ilmiah lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fauroni menawarkan paradigma etika bisnis berbasis nilai-nilai Qur’ani seperti tauhid, keseimbangan, kehendak bebas, tanggung jawab, dan ihsan. Ia menegaskan bahwa bisnis dalam perspektif al-Qur’an tidak hanya bersifat material tetapi juga immaterial, melibatkan dimensi spiritual dan moral. Penelitian ini juga menyoroti praktik-praktik bisnis yang bertentangan dengan nilai al-Qur’an, seperti riba, penipuan, dan korupsi. Kontribusi Fauroni menunjukkan bahwa integrasi nilai spiritual dan etika dalam bisnis dapat menjadi solusi atas problematika etika dalam dunia bisnis modern, serta menjadi kerangka kerja yang mendukung keberlanjutan dan keadilan dalam aktivitas ekonomi kontemporer.
Analisis Psikoanalisis Lacan terhadap Karakter Oh Ri-Na dalam ‘Daily Dose of Sunshine’: Refleksi Nilai-nilai Al-Qur’an dan Konteks Sosial Mu'afiyah, Laelatul
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.29491

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis karakter tokoh Oh Ri-Na dalam serial drama korea "Daily Dose of Sunshine" melalui lensa psikoanalisis Jacques Lacan. Oh Ri-Na dipilih karena representasinya yang kuat terhadap konflik psikologis modern yang relevan dengan ajaran Islam tentang ujian hidup, sehingga penting direfleksikan dengan nilai-nilai al-Qur'an untuk memberikan perspektif holistik terhadap kesehatan mental. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks. Hasil analisis menunjukkan karakter ini terjebak dalam konflik antara trauma masa lalu (the Real), citra diri yang dibangun (the Imaginary), dan norma sosial yang mengikat (the Symbolic). Temuan ini berkorelasi dengan konsep sabar, tawakkal, dan ikhtiar dalam al-Qur'an sebagai mekanisme menghadapi ujian psikologis. Konteks sosial Korea yang menekankan perfeksionisme mencerminkan pentingnya keseimbangan antara tuntutan duniawi dan kesehatan spiritual sesuai ajaran Islam. Penelitian berkontribusi pada kajian lintas disiplin antara psikologi, sastra, dan spiritualitas.
Religious Moderation in the Qur'an: A Comparative Study of Tafsir Ath-Thabari and Tafsir al-Maraghi Nur Ulfatul Jannah; Kiki Muhammad Hakiki; Beko Hendro
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.29668

Abstract

This study examines the concept of religious moderation in the Qur’an by employing a comparative method between the classical commentary of Ath-Tabari and the contemporary commentary of al-Maraghi. The research data were obtained through a literature review of primary and secondary sources, while the analytical technique used was content analysis with a qualitative approach. The focus of the study is on how the two commentators interpret Qur’anic verses related to religious moderation and their relevance to the lives of Muslims. The  findings  indicate  that  Ath-Tabari  understands  moderation as a  normative and theological commitment to Islamic belief and law, emphasizing textual, historical, and asbab al-nuzul. Meanwhile, al-Maraghi emphasizes moderation in a social and practical dimension by highlighting tolerance, morality, and the relevance of Islamic teachings in a pluralistic modern society. These differences in interpretive approaches demonstrate that classical and contemporary perspectives complement one another, thereby providing a more comprehensive under-standing of the value of religious moderation in the Qur’an. This article contributes to enriching the body of thematic Qur’anic interpretation on religious moderation, particularly as an academic and normative reference in responding to the challenges of extremism, intolerance, and socio-religious diversity.
Silaturrahim as a Solution for Broken Homes: An Analysis of the Perspective of Tafsīr al-Marāghi in the Indonesian Context Syifaa’ ‘Izzatinnisaa’ Naziihah; Naziihah, Syifaa' 'Izzatinnisaa'; Iqbal, Ipmawan Muhammad; Novitasari, Fajar
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.30120

Abstract

The phenomenon of broken home families resulting from high divorce rates has become a serious social challenge in Indonesia, negatively impacting the emotional stability and development of children. This study aims to analyze the concept of silaturrahim (maintaining kinship ties) as a constructive solution for restoring fractured  family  relationships,  using  the  perspective  of  Tafsīr al-Marāghi  as  the primary lens. Employing a qualitative library research method with a descriptive-analytical and thematic analysis (maudhu'i) approach, this study examines Ahmad Musthafa al-Maraghi's interpretation of key verses such as QS. an-Nisā’ 4: 1, QS. ar-Ra’d 13: 21, 25, and QS. an-Nahl 16: 90. The findings indicate that Tafsīr al-Marāghi, with its socio-literary (adabi ijtima’i) style, positions silaturrahim not merely as a moral recommendation but as a divine command that serves as a foundation for piety, justice, and social stability. Severing kinship ties is viewed as a form of corruption on earth (fasād fī al-arḍ) that is strongly condemned. Its implementation in the Indonesian context proves relevant, where the values of silaturrahim are actualized through various psychosocial approaches such as fostering self-acceptance (ridha), guidance and counseling services, effective communication among family members, and the development of resilience through the process of forgiveness. This study concludes that silaturrahim offers an applicable theological and psychosocial framework for reconstructing relationships within fractured families, while also affirming that maintaining kinship bonds is a spiritual responsibility that is not nullified even when the family structure changes.
The Concept of Muslim Women's Clothing in Tafsir al-Munir and Its Relevance to the Protection of Women Aninda Luqyana Maghfira; Faridah; Indri Astuti
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.30132

Abstract

This study aims to analyze the concept of Muslim women's clothing in Wahbah Az-Zuhaili's Tafsir al-Munir, as well as its relevance in contemporary life. Muslim women's clothing in Islam not only serves to cover the aurat, but also reflects religious identity and piety. The method used in this study is a qualitative approach with a literature review, analyzing  Tafsir  al-Munir and  related Quranic verses on Muslim women's clothing. The results of the study show that Tafsir al-Munir emphasizes the importance of loose, non-transparent, and non-tight clothing to maintain modesty and honor for women, as well as to protect them from slander and sexual violence. This tafsir also combines the tafsir bi al-ra'yi and bi al-riwayah approaches to provide an applicable interpretation of modern challenges, including the influence of globalization and fashion trends. This study also shows that Muslim women face significant challenges in applying clothing that is in accordance with sharia, namely the influence of foreign cultures, global fashion, and social pressure. The concept of Muslim women's clothing in Tafsir al-Munir is highly relevant to the lives of modern Muslim women, emphasizing the importance of wearing clothing that complies with Islamic law to protect one's honor and maintain Islamic identity. This research contributes to offering a relevant contextual interpretive approach to address the objectification of women through the strengthening of identity and protection through Muslim women's dress ethics.
Comparative Analysis of the Concept of Women's Leadership in Tafsir Al-Misbah and Tafsir An-Nur Syahida, Zulfa Rahma; Romadlon , Arif Firdausi Nur; Edy Wirastho
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.30148

Abstract

Women's leadership is an important and controversial issue in contemporary Muslim society, where interpretations of the Qur'an regarding the position of women as leaders still vary. Meanwhile, global data shows that there is still a significant gender gap in leadership positions. This study aims to compare and analyze the views of Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab and Tafsir An-Nur by Hasbi Ash-Shiddieqy on women's leadership based on relevant verses of the Qur'an,  particularly  QS. An-Nisa' [4]: 34  and QS. At-Taubah [9]: 71.  The method used is qualitative with a comparative analysis approach, which compares the two interpretations in depth. The results of the study show that both interpretations agree on placing men as leaders in the domestic sphere due to their responsibility for maintenance and protection, but still open up space for women to lead in the public sphere as long as they meet the requirements of trustworthiness and capability. The Tafsir Al-Misbah tends to be moderate, taking into account natural aspects, while the Tafsir An-Nur is more progressive and inclusive, emphasizing the principles of justice, deliberation, and gender equality. The contribution of this research is to enrich the discourse on contemporary interpretation and offer a distinctive Indonesian perspective in the global dialogue on women's leadership and gender justice in Islam.