cover
Contact Name
ABDUL KHER
Contact Email
abdulkher@radenfatah.ac.id
Phone
+6281271310210
Journal Mail Official
abdulkher@radenfatah.ac.id
Editorial Address
Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
ISSN : 28096401     EISSN : 28090500     DOI : https://doi.org/10.19109/jsq
Jurnal Semiotika Q Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir is a biannual and peer reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of Qur’an from many different perspectives.
Articles 111 Documents
Kisah Maryam binti Imran dalam QS. Maryam: 16-30 Perspektif Hermeneutika Wilhelm Dilthey Hadani, Abdullah; Abdullah Hadani; Bakar, Abu; Elina Nurjannah
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24719

Abstract

Qaṣaṣ al-Qur’an merupakan satu kajian khusus yang dihadirkan oleh ulama ahli tafsir dalam memahami kisah yang ada dalam al-Qur’an. Qaṣaṣ al-Qur’an ini banyak mengandung keterangan tentang kejadian masa lalu, sejarah suatu bangsa dan peninggalan komoditi tertentu (umat beragama). Kemudian diungkapkan dengan gaya bahasa yang beresensi tinggi dengan metode cerita yang menarik dan tidak bisa ditandingi. Penelitian ini akan mengkaji salah satu kisah dalam al-Qur’an yakni kisah Maryam binti Imran dalam QS. Maryam ayat 16-30. Maryam merupakan sosok perempuan yang dimuliakan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Selain menjadi sosok ibu bagi nabi Isa, nama Maryam juga diabadikan sebagai nama surah dalam al-Qur’an serta namanya disebut sebanyak 34 kali dalam al-Qur’an. Kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perspektif hermeneutika Wilhelm Dilthey. Kajian ini menggunakan model kualitatif dengan jenis penelitan pustaka karena objek kajiannya bersifat holistik, sehingga sumber data diambil dari literatur baik buku, jurnal, maupun artikel lepas. Dalam penelitian ini, kisah Maryam diteliti dari aspek sosio historis dan humanistis melalui telaah pengalaman (erlebniz), ekspresi (ausdruck), dan pemahaman (verstehen). Dari aspek erlebniz ditemukan bahwa kisah tersebut dituturkan oleh Allah kepada Muhammad SAW sebagai kepentingan bermuatan dakwah. Dalam aspek ausdruck, pengungkapan kisah tersebut sebagai bentuk ekspresi kekuasaan Allah Yang Maha Tahu dan menguasai segala hal yang dipertentangkan. Kemudian aspek verstehen menjelaskan bahwa kisah Maryam binti Imran patut direnungkan dan diteladani keberadaannya.
Menggali Makna Tarbiyah dalam QS. Ali Imran Ayat 79: Pendidikan Spiritual, Moral, dan Sosial Umat Islam Salwa Rihadatul Aisy; Cucu Surahman; Elan Sumarna
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24750

Abstract

Terdapat 952 kata tarbiyah dengan segala bentuk derivasinya di dalam al-Qur’an. Pendidikan Islam, yang dikenal sebagai tarbiyah, menekankan pentingnya pengasuhan dan pembinaan peserta didik secara komprehensif. Namun, dalam pendidikan modern, aspek moral dan spiritual sering kali diabaikan, sementara fokus lebih diarahkan pada kecerdasan intelektual. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna tarbiyah dalam QS. Ali Imran ayat 79, serta relevansinya terhadap pendidikan spiritual, moral, dan sosial umat Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan tafsir tarbawi dan analisis literatur, guna memahami secara mendalam pesan-pesan al-Qur'an terkait pendidikan holistik. Penelitian ini mengkaji bagaimana konsep tarbiyah yang telah diajarkan oleh para nabi dapat diterapkan dalam dunia pendidikan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarbiyah dalam al-Qur’an menekankan pengasuhan yang mengarah pada pembentukan manusia yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan kesadaran sosial. Konsep ini sangat relevan untuk diimplementasikan dalam pendidikan kontemporer agar tercipta generasi yang mampu menjalani kehidupan dengan keseimbangan spiritual, moral, dan sosial.
Kontekstualisasi Makna Nusyuz dalam QS. An-Nisa [4]: 34 sebagai Kritik Ideologi Kekerasan dalam Rumah Tangga: Analisis Semiologi Roland Barthes M Rizko Ramadani
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24758

Abstract

Al-Qur’an merupakan kitab suci Islam yang memberi pengaruh pada tindakan manusia. Penafsiran al-Qur’an merupakan upaya para ahli al-Qur’an untuk memahami makna eksplisit dan implisit pada teks. Membahas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi penting untuk memperhatikan bagaimana istilah seperti nusyuz sering dimaknai. Reduksi makna kata ini dapat memberikan justifikasi yang salah terhadap perilaku kekerasan, yang pada akhirnya merugikan korban dan memperburuk situasi. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap dan mengkritik pemaknaan nusyuz dalam QS. an-Nisa [4]: 34 bagi orang yang mencukupkan diri pada penafsiran tekstual-linguistik, sehingga pemaknaan tersebut menjadi sempit dan membuka celah pelaku KDRT dalam membenarkan tindakannya. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dan  analisis data secara deskriptif-reskriptif dengan pendekatan analisa semiologi Roland Barthes. Secara umum, teori semiologi Roland Barthes mempunyai dua tahapan. Pertama, Sistem linguistik denotasi. Dalam konteks ini sebagai bentuk deskripsi makna nusyuz. Kedua, sistem lanjutan linguistik atau mythology konotasi sebagai bentuk upaya kontekstual pemaknaan lebih jauh serta mendalam. Hasil temuan penelitian ini antara lain: pertama, pada penafsiran ulama klasik terhadap QS. an-Nisa ayat 34, para pembaca tafsir mereduksi makna dan bentuk nusyuz sehingga penulis anggap sebagai celah argumentasi pelaku KDRT. Kedua, upaya kontekstualisasi makna nusyuz menjadi kritik dan reinterpretasi terhadap tafsir klasik. ketiga, implikasi hasil temuan ini menjadi sebuah upaya untuk pencegahan dan sosialisasi KDRT di Indonesia.
Analisis Qira’at Shahihah Perspektif Ibnu al-Jazari Moh. Fathurrozi
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i2.24817

Abstract

Artikel ini membahas tentang analisis qira’at shahihah menurut Ibnu al-Jazari, yang merupakan seorang ahli qira’at al-Qur’an pada ketujuh Hijriyah. Variasi bacaan al-Qur’an yang diidentifikasi oleh Ibnu al-Jazari memberikan kontribusi penting dalam memahami dan melestarikan bacaan yang otentik. Penelitian ini menggunakan metode analisis-deskriptif untuk mengkaji sumber-sumber primer, di antaranya yaitu kitab karya al-Jazari sendiri yang berjudul al-Nasyr fi al-Qira’at al-`Asyr dan nadzam al-Durrah al-Mudhiyyah fi al-Qira’at al-Tsalatsah al-Mutammimah li al-Asyrah. Selain itu juga mengkaji sumber sekunder berupa kitab, buku dan artikel yang berkaitan dengan qira’at shahihah. Artikel ini menjelaskan tentang pentingnya qira’at yang shahihah dalam memahami al-Qur’an dan juga membahas tentang peran Ibnu al-Jazari dalam menambahkan qira’at shahihah yang awalnya berjumlah tujuh qira’at yang dinisbatkan kepada para Imam qira’at sebagaimana yang dihimpun oleh Imam Mujahid, menjadi sepuluh qira’at yang dinisbatkan kepada tiga Imam yaitu, Imam Abu Ja’far bin Yazid al-Qa’qa’ al-Madani, Imam Ya’qub bin Ishaq al-Hadhrami al-Bashri dan Imam Khalaf bin al-Bazzar al-Asyir. Penentuan ketiga imam ini tentunya dengan menggunakan metode tersendiri dalam penyeleksiannya, ia menetapkan tiga kriteria khusus yaitu: ketersa-mbungan sanad, kesesuaian dengan kaidah bahasa Arab, dan kesesuaian dengan penulisan Mushaf/rasm ustsmani.
Hukum dan Rukhsah Puasa dalam Perspektif Fakhrudin al-Razi dan Musthafa al-Maraghi: Studi Interpretasi dengan Pendekatan Tafsir Ahkam Muqit, Abd.
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i2.24893

Abstract

تتناول هذه المقالة واجبات ومقاصد ورخص صيام رمضان كما بينها القرآن، مع منهج مقارن في التفسير بين فخر الدين الرازي ومصطفى المراغي. يستخدم هذا البحث منهج التفسير المقرن لتحليل الاختلافات في تفسيرات العلماء لسورة البقرة، الآيات 183-185. نتائج البحث هي: أولاً، نزل وجوب الصيام في القرآن على مرحلتين. المرحلة الأولى توضح وجوب صيام من سبقهم من أيام معينة (البقرة: 183-184)، بينما المرحلة الثانية تنص على وجوب صيام شهر رمضان (البقرة: 185). وفسر المراغي جملة أيام معوضات بأنها شهر رمضان، بينما فسر الرازي تفسيرين: وجوب صيام غير رمضان، وصيام رمضان بشرح الآية 185. ثانيا: في رخص صيام رمضان. ففسره المراغي بنص الآية، بينما قدم الرازي تفسيراً أوسع بقبول آراء العلماء، بما في ذلك الرخصة للحامل والمرضع. ثالثاً: غاية الرخصة هي التيسير على من يواجه صعوبة في الصيام، وتعليم الشكر على نعمة الرخصة.
Optimalisasi Pendidikan dengan Konsep Tadabur: Telaah Tafsir Tarbawi atas QS. Muhammad [47]: 24 Hizba Aulia, Muhammad; Muhammad Hizba Aulia; Cucu Surahman; Elan Sumarna
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24937

Abstract

Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama dalam Islam, menjelaskan berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk kehidupan manusia dan harus terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan pendidikan melalui penerapan konsep tadabur atas QS. Muhammad [47]: 24 dengan pendekatan tafsir tarbawi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan metode studi kepustakaan berdasarkan tafsir klasik, pertengahan, kontemporer, dan berbagai referensi lain dari buku-buku dan artikel jurnal yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep tadabur dalam QS. Muhammad [47]: 24 menekankan pentingnya perenungan dengan hati yang terbuka, sehingga memudahkan manusia dalam menerima kebenaran, meskipun harus menghadapi berbagai tekanan dan konsekuensi. Pendekatan ini membantu peserta didik memahami pelajaran secara mendalam dan mengoptimalkan proses pembelajaran melalui kesiapan hati. Hati yang bersih dan terbuka dapat menumbuhkan sikap positif terhadap proses pembelajaran, seperti semangat, rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap informasi baru. Dengan demikian, kesiapan hati menjadi fondasi penting untuk menciptakan proses pendidikan yang lebih efektif, menyeluruh, dan adaptif.
Membangun Ketahanan Keluarga dalam Al-Qur’an: Analisis Pendekatan Ecological Systems Theory Rosyad, Aftonur
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i2.24996

Abstract

Ketahanan keluarga merupakan aspek penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan harmonis. Dalam konteks ini, Al-Qur’an memberikan panduan yang mendalam mengenai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan keluarga dalam perspektif Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan ecological systems theory yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner. Teori ini mengidentifikasi berbagai lapisan lingkungan yang mempengaruhi individu diantaranya adalah teori mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem. Dalam penelitian ini didapatkan beberapa temuan bahwa ketahanan keluarga bergantung pada interaksi yang kuat antara berbagai lapisan sistem yang mempengaruhi mereka, baik dari dalam maupun luar keluarga. Al-Qur’an memberikan landasan spiritual yang kuat melalui ajaran tentang hubungan keluarga, pendidikan, interaksi sosial, dan kesabaran menghadapi perubahan. Prinsip-prinsip seperti kasih sayang, komunikasi yang baik, pendidikan yang efektif, dan keterlibatan dalam masyarakat adalah elemen kunci yang mendukung ketahanan keluarga.
Gunung sebagai Simbol Alam Tanda Kedahsyatan Hari Kiamat dalam Al-Qur’an: Analisis Semiotika Roland Barthes Azkia, Failal Azmi; Azkia , Failal Azmi
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.25008

Abstract

Al-Qur’an menggunakan simbol Gunung untuk menggambarkan kedahsyatan hari kiamat. Diksi gunung tersebar sebanyak 42 kali dalam al-Qur’an termasuk yang menjelaskan hari kiamat dan mayoritas ayat yang menggambarkan kedahsyatan hari kiamat menggunakan diksi gunung sebagai  simbol. Hal ini menunjukan pentingnya terminologi gunung dalam al-Qur’an dan realitas budaya masyarakat arab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan analisis deskriptif. Selain itu, penulis menggunakan pedekatan semiotika Roland Barthes untuk mempermudah dalam memahami wilayah kajian makna kata gunung dalam al-Qur’an. Artikel ini bertujuan untuk menggali nilai baru berupa alasan penggunaan gunung sebagai simbol tanda kedahsyatan hari kiamat dalam al-Qur’an. Dengan tinjauan semiotika Roland Barthes, gunung sebagai simbol kedahsyatan hari kiamat memiliki makna yang luas tidak hanya sebatas ciptaan Allah yang besar, kuat, dan kokoh, melainkan gunung sebagai pasak bumi, sumber kehidupan dan tempat tinggal. Terlebih lagi ketika al-Qur’an diturunkan sebagai simbol digunakan untuk menakuti masyarakat arab saat itu, sebab gunung dan bukit tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Arab.
Konsep Self-Healing dalam QS. al-Insyirah: Analisis Penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir Edi Hermanto; Mansuri Hasyim; Putri Afrilla Rafina; Mhd. Febrianda; Putri Dewi Sholihah
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.25018

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep self-healing dalam perspektif Islam berdasarkan tafsir surah al-Insyirah oleh Wahbah az-Zuhaili. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian library research (studi Pustaka). Dengan demikian, artikel ini memberikan kesimpulan bahwa QS. al-Insyirah memberikan sebuah konsep self-healing, yaitu dengan memberikan bimbingan kepada umat muslim dalam menghadapi kesulitan hidup melalui keyakinan bahwa setiap tantangan akan diikuti oleh kemudahan, serta pentingnya bersandar kepada Allah dalam proses penyem-buhan diri. Wahbah az-Zuhaili memberikan penjelasan tentang hubungan antara kesulitan dan kemudahan dalam QS. al-Insyirah, serta konsep self-healing yang dapat diterapkan dalam kehidupan modern. Konsep self-healing tersebut dapat dilakukan dengan bersandar pada kekuatan spiritual, seperti sabar, tawakal, ikhlas dan optimisme. Artikel ini mengungkapkan keselarasan konsep tersebut dengan konsep psikologi modern seperti mindfulness, gratitude, dan forgiveness yang mendukung dalam proses mental secara holistik.
Al-Qur’an, Hadis dan Hukum Internasional: Analisis Kebebasan Beragama Menurut Abdullah Saeed Misbakhuddin, Alfian Dhany
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i2.25019

Abstract

Penelitian ini bertujuan membahas kebebasan beragama dalam pandangan Abdullah Saeed dalam karyanya Human Right and Islam. Hal ini penting karena Saeed telah merelasikan al-Qur’an, hadis, hukum internasional dan negara- negara mayoritas Islam yang memberikan aturan tersendiri tentang kebebasan beragama. Penelitian ini melakukan kajian dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian kepustakaan dan teknik anlisis data berupa deskriptif-analitis. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Abdullah Saeed, terdapat banyak dukungan dalam tradisi keagamaan terhadap gagasan Hak Asasi Manusia yang berkaitan dengan kebebasan beragama. Saeed telah menekankan peneguhan dan perlindungan terhadap martabat kemanusiaan yang secara alamiah melekat dalam diri manusia, dan ini sudah mengakar dalam banyak budaya dan tradisi keagamaan. Hal ini sejalan dengan Islam yang menegaskan bahwa pemerintahan harus menjamin atas keadilan dan kejujuran, serta mencegah kekacauan, perpecahan, kebencian, permusuhan, dan ketidakadilan. Oleh karena itu, menurut Saeed, ada titik temu antara penjelasan al-Qur’an dan hadis tentang kebebasan beragama, negara-negara mayoritas Muslim, dan sistem hukum internasional. Hal ini menunjukkan bahwa hukum internasional, tradisi Islam, dan sejumlah sumber daya dalam tradisi Islam, dapat digunakan untuk mendukung standar Hak Asasi Manusia, terutama berkaitan dengan keyakinan yang dianutnya.

Page 9 of 12 | Total Record : 111