cover
Contact Name
ABDUL KHER
Contact Email
abdulkher@radenfatah.ac.id
Phone
+6281271310210
Journal Mail Official
abdulkher@radenfatah.ac.id
Editorial Address
Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
ISSN : 28096401     EISSN : 28090500     DOI : https://doi.org/10.19109/jsq
Jurnal Semiotika Q Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir is a biannual and peer reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of Qur’an from many different perspectives.
Articles 111 Documents
Citra Tubuh Perempuan dalam Tafsir Ayat Gaḍ al-Ḅasar dan Ḥifz al-Furūj: Analisis QS. al-Nūr [24]: 30-31 dengan Pendekatan Psikologi Sosial Suci Rahma Sari; Masykuroh, Siti; Hendro, Beko
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.23796

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi citra tubuh perempuan melalui tafsir ayat Gaḍ al-Ḅasar and Ḥifz al-Furūj dalam perspektif psikologi sosial, menggunakan teori “Mind, Self, and Society” dari George Herbert Mead. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana interpretasi ayat-ayat tersebut mempengaruhi persepsi diri dan citra tubuh perempuan dalam konteks sosial yang lebih luas. Melalui analisis dari kitab Tafsir al-Munir dan pendekatan psikologi sosial, penelitian ini mengungkapkan bahwa tafsir ayat-ayat tersebut seringkali mengarah pada konstruksi sosial yang membentuk norma dan perilaku yang diinternalisasi oleh norma agama. Teori Mead digunakan untuk menganalisis interaksi antara individu dan masyarakat dalam membentuk citra tubuh. Penelitian ini digolongkan kedalam kajian kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif dengan metode deskriptif maudu’i dan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kesucian tubuh perempuan menekankan pentingnya menjaga kesucian melalui perilaku dan penampilan dengan menggunakan pakaian yang tertutup (jilbab) dan selaras dengan ajaran agama. Termasuk dengan mejaga pandangan dan memelihara kehormatan. Interpretasi agama tidak hanya mempengaruhi persepsi individu tentang tubuh mereka, tetapi juga berperan dalam membentuk identitas sosial dan interaksi sosial. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana nilai-nilai agama dan norma sosial berinteraksi dalam membentuk citra tubuh perempuan dan menawarkan perspektif baru dalam memahami dinamika ini melalui lensa psikologi sosial.
Etika Komunikasi Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Komunikasi di Zaman Modern Sukmaningtyas, Anisa Nur Izzati; Ahmad Nurrohim; Asda Amatullah; Fathimah Salma Az-Zahra; Ammar Muhammad Jundy; Tiffani Lovely; Muhammad Syahidul Haqq
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.23981

Abstract

Komunikasi dalam kehidupan manusia merupakan aspek yang fundamental dalam bersosial. Konsep tentang komunikasi tidak hanya berkaitan dengan masalah cara berkomunikasi efektif saja, melainkan juga etika komunikasi. Al- Qur’an menekankan pentingnya komunikasi yang beradab, jujur, dan konstruktif dalam membangun hubungan antar manusia dan menjaga keharmonisan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis prinsip-prinsip etika komunikasi dalam perspektif al-Qur’an dan menemukan relevansinya dengan zaman modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) serta teknik analisis data berupa deskriptif-analitis. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa terdapat 18 ayat dalam al-Qur’an yang mengkaji tentang pentingnya komunikasi yang efektif, jujur, dan beretika. Konsep-konsep seperti qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan ma'rufan (perkataan yang baik), dan qaulan kariman (perkataan yang mulia) menggambarkan standar komunikasi yang dianjurkan dalam Islam. Etika dalam berkomunikasi ini mengandung relevansi di zaman modern, di mana untuk membangun komunikasi yang efektif, diperlukan sifat saling menghargai di antara komunikator dan komunikan, baik dalam dunia online maupun offline. Hal ini mengindikasikan pentingnya pengejawantahan etika berkomunikasi pada kehidupan sehari-hari seperti menjaga ucapannya, sopan santun, efektif dan efisien, serta saling menghargai satu sama lain.
Inkonsistensi Israiliyat dalam Kisah Sulaiman dan Ayyub di Surah Shad: Analisis Tafsir Qur’an Karim Karya Mahmud Yunus Basuki, Syachrayar Nikon; Abu Dzarrin al-Hamidy; Musyarrofah Musyarrofah
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24090

Abstract

Mahmud Yunus berpandangan bahwa israiliyat tidak boleh dijadikan sumber penafsiran al-Qur’an. Dalam perspektifnya, israiliyat merupakan cerita-cerita dari Yahudi yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Namun Yunus ternyata tetap mencantumkan israiliyat dalam tafsirnya, yang dapat ditemukan pada kisah Sulaiman dan Ayyub, tepatnya di surah Shad. Maka, penelitian ini mengangkat dua rumusan masalah, bagaimana konsistensi Mahmud Yunus terhadap penolakan israiliyat? dan bagaimana kualitas israiliyat kisah Sulaiman dan Ayyub dalam Tafsir Qur’an Karim?. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya israiliyat dalam Tafsir Qur’an Karim dengan mengaitkan Tafsir al-Azhar karya Hamka, serta mengukur kualitas israiliyat kisah Sulaiman dan Ayyub dengan menggunakan pendekatan teori israiliyat al-Dhahabi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dan jenis penelitian kepustakaan (library research). Akhirnya penelitian ini memberikan temuan, bahwa: Pertama, Tafsir Qur’an Karim ditemukan israiliyat pada kisah Sulaiman dan Ayyub tepatnya di surah Shad, di mana penulis mengaitkannya dengan Tafsir al-Azhar karya Hamka. Kedua, kualitas israiliyat kisah Sulaiman dan Ayyub dengan menggunakan teori al-Dhahabi dapat diketahui bahwa semua israiliyat didiamkan. Maka, dalam hal ini, Mahmud Yunus dapat dikatakan tidak konsisten mempertahankan pendapatnya diawal yang menolak adanya israiliyat, juga tidak ada alasan mengapa Yunus memasukkan israiliyat dalam kitab tafsirnya, sehingga bisa dipastikan bahwa Yunus memang benar-benar telah melakukan inkonsistensi.
Ragam Qirā’āt dalam Kitab Ilmu Tajwid: Perspektif al-Qirā’āt al-Sab’ Berdasarkan Ṭarīq al-Syāṭibiyyah Hana Maulydiah; Mutmainah
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24107

Abstract

Pengkajian dengan menggunakan kitab ilmu tajwid karya ulama Timur Tengah sebagai bahan ajar pembelajaraan masih sangat menjaga eksistensinya. Namun dalam pengkajiannya, masih banyak yang mengira bahwa semua kitab tajwid yang dijadikan kurikulum pembelajaran di Nusantara itu ditulis berdasarkan qirā’ah ‘Āṣim riwayat Ḥafṣ, sebagaimana yang digunakan di Nusantara. Kesalahpahaman tersebut menyebabkan kesalahan dalam praktik bacaan dan menyebabkan pencampuradukan riwayat dalam bacaan al-Qur’an. Di antaranya ialah kesalahpahaman dalam memahami isi yang terdapat dalam kitab ilmu tajwid, yaitu kitab Mursyid al-Wildān dan Fatḥ al-Aqfāl. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan fokus penelitian menggunakan ilmu qirā’ah imam al-Syāṭibi (w. 590 H). Metode analisis yang digunakan yaitu deskriptif analisis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kaidah-kaidah uṣūliyyah dalam kitab Mursyid al-Wildān dan Fatḥ al-Aqfāl, memiliki pembahasan kaidah yang sama, namun terdapat tambahan pada kitab Mursyid al-Wildān terkait pembahasan ḥurūf al-tafkhīm dan qalqalah. Adapun hasil analisis berdasarkan ṭarīq al-syāṭibiyyah, memiliki kesamaan kaidah dalam pembahasan al-madd al-muttaṣil dan al-madd al-munfaṣil. Sedangkan ikhtilāf yang terdapat dalam bab al-idgām al-mutamāṡilain, al-mutajānisain, al-mutaqāribain, dan al-madd al-badal hanya ditemukan dalam kitab Fatḥ al-Aqfāl.
Nilai-Nilai Adab Penuntut Ilmu dalam Al-Qur’an: Analisis Interpretasi QS. al-Kahfi dalam Tafsir fi Zhilal al-Qur’an Husna Ameilia Lilena; Septiawadi Kari Mukmin; Abuzar Al-Ghifari
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24210

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana Sayyid Quthb menginterpretasikan  nilai adab penuntut ilmu dalam kisah Nabi Musa dan Hamba Saleh yang terdapat dalam surah al-Kahfi ayat 65-82. Adab penuntut ilmu merupakan perilaku terpuji, akhlak yang baik, dan moralitas tinggi yang harus dimiliki oleh seorang murid ketika menuntut ilmu. Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini: (1) Bagaimana Sayyid Quthb menafsirkan kisah Nabi Musa dan Hamba Saleh dalam surah al-Kahfi ayat 65-82? (2) Bagaimana relevansi nilai-nilai adab penuntut ilmu tersebut terhadap pendidikan di era modern? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan metode kualitatif-deskriptif. Hasil dari analisis surah al-Kahfi ayat 65-82 adalah pemahaman tentang nilai-nilai adab seorang murid (Nabi Musa) saat menuntut ilmu kasyf atau ilmu ladunni. Beberapa nilai adab yang terdapat dalam kisah ini menurut Sayyid Quthb antara lain: nilai kesabaran dan kesungguhan, nilai kesopanan, nilai keberanian untuk meminta maaf,  memiliki komitmen yang teguh, serta tidak bertanya ketika belum diberi izin oleh guru. Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap dunia pendidikan, dengan berfokus pada akhlak seorang murid kepada guru. Menggunakan tafsiran Sayyid Quthb yang bercorak al-adabi al-ijtima’i dan bersifat aktual, menjadikan penelitian ini mudah dipahami dan diamalkan oleh para pembaca terutama pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pendidikan.
Indoktrinasi Konsep Jihad Radikal Menuju Moderat dalam Al-Qur'an: Telaah Penafsiran Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar Wahab, Abdul; Jaka Ghianovan; Mohamad Mualim
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24267

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam arti dari jihad yang sebenarnya melalui sudut pandang Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar. Dengan menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitian kepustakaan secara deskriptif-analitis, penelitian ini menunjukkan bahwa Muhammad Abduh memahami jihad secara menyeluruh dengan mengacu pada empat term dalam al-Qur’an, yaitu: term al-qital, al-harb, al-nafr dan al-irhab. Ia menyimpulkan bahwa konsepsi jihad tidak berarti sempit yang dipahami dengan perjuangan fisik melawan musuh-musuh Allah.  Jihad dapat diinterpretasikan secara lebih luas dan holistik, tidak hanya mencakup perlawanan terhadap musuh fisik, melainkan juga melibatkan konfrontasi dengan “hawa nafsu” dan musuh-musuh dalam bentuk pemikiran liberal, radikal, fundamental, westernisasi, aliran sesat, dan sebagainya. Pandangan Abduh ini meluruskan konsep indoktrinasi akan makna jihad yang radikal yang telah melekat kuat pada orang yang didoktrin, serta menganggap bahwa hal tersebut adalah merupakan ibadah yang disyariatkan oleh Allah. Ritual tersebut bukan hanya menjadikan dirinya sendiri sebagai korban melainkan terdapat orang-orang yang mereka anggap halal darahnya untuk dibunuh dijalan Allah. Oleh karena itu, artikel ini berkontribusi sebagai pengantar bagi anak muda agar cerdas dalam mencegah dan menangkal paham-paham yang radikal.
Belajar Al-Qur’an di Era Disrupsi: Peluang, Tantangan dan Solusi Hakim, Lukman Nul; Zulfikar, Eko; Abdul Kher
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24326

Abstract

Artikel ini membahas tentang bagaimana belajar al-Qur’an di era disrupsi mulai dari tantangan, peluang serta solusinya. Dengan menggunakan studi pustaka melalui metode kualitatif yang bersifat deskriptis-analitis, artikel ini menyimpulkan bahwa di era disruspsi terdapat banyak perubahan terjadi yang menimbulkan berbagai tantangan dalam belajar Al-Qur’an. Hal tersebut dapat diimbangi dengan meningkatkan peluang belajar di era disrupsi, yakni dengan jiwa inovatif yang bisa dikembangkan, jiwa kreatif yang bisa dimunculkan, serta jiwa dinamis yang bisa diwujudkan. Dari peluang tersebut dapat memunculkan solusi dalam belajar di era disrupsi dengan menanamkan teori dari Muhammad Abid al-Jabiri yakni Irfani, Bayani, dan Burhani. Teori yang ditawarkan al-Jabiri ini menyerukan untuk meningkatkan tauhid dan rasa keagamaan serta kemuanusiaan, dan tidak menutup diri dari hal-hal yang terus berkembang di luar kehendak diri manusia, terutama dari beragam pemikiran keagamaan. Di samping itu, teori ini juga memberi arahan agar terus berusaha mengkontekstualisasikan nilai-nilai yang pernah diterima oleh Nabi SAW berupa al-Qur’an serta konteks dari al-Qur’an itu sendiri pada sejarah kenabian untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan-Pesan Al-Qur’an untuk Ulul Albab: Studi Tematik dengan Pendekatan Munasabah Bastari, Ahmad
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24480

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pesan-pesan al-Qur’an untuk Ulul Albab dengan mengacu pada ayat-ayat al-Qur’an tentang Ulul Albab yang disebutkan sebanyak 16 kali. Penelitian ini melakukan kajian dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian kepustakaan dan teknik anlisis data berupa deskriptif-analitis. Dengan menelaah ayat-ayat Ulul Albab dengan metode tematik dan pendekatan munasabah, hasil penelitian menunjukkan bahwa Ulul Albab merupakan sosok yang memiliki wawasan yang luas dan tajam dalam menganalisis setiap masalah serta tidak menutup diri dari semua masukan yang datang dari orang lain. Ulul Albab mampu menggunakan akalnya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengingat (dzikr) serta memikirkan (tafakkur) semua keindahan dan rahasia-rahasia ciptaan-Nya. Secara khusus, al-Qur’an memberikan pesan kepada mereka agar senantiasa dipedomani dan diamalkan dalam kehidupannya, yakni (1) mengambil i’tibar dari kisa-kisah nabi terdahulu, yang secara implisit disebutkan kisah Nabi Yusuf, kisah Nabi Ayyub, dan kisah Nabi Musa, (2) berpedoman pada ayat-ayat al-Qur’an, (3) senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dan (4) menegakkan amr ma’ruf nahi munkar. Meskipun pesan ini ditujukan kepada Ulul Albab secara khusus, tetapi dapat juga dipedomani dan diamalkan oleh umat Muslim agar menjadi insan yang lebih baik.
Munāsabah Ayat-Ayat Tahlil dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir al-Mishbah Karya M. Quraish Shihab Fahrur Razi; Abu Bakar; ابو بكر
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.24528

Abstract

التهليل هو نشاط أصبح ثقافة وروتينًا بين النهديين. في مجالس التهليل، يقرأ الناس أو يرددون جمل التهليل وآيات قرآنية من أجل تقوية الإيمان والتوحيد وتنقيته. وتهدف هذه الدراسة إلى فهم شامل لمفهوم المناجاة بين الآيات وبين السور في آيات التهليل التي استخدمها الأستاذ محمد قريش شهاب في كتابه تفسير المصباح. ويدخل هذا النوع من البحوث في فئة بحوث المكتبات، أي تقنيات جمع البيانات عن طريق إجراء البحوث على الكتب والمؤلفات المتعلقة بالمسائل ذات الصلة. تقنيات جمع البيانات عن طريق جمع كل المصادر الأولية والثانوية ثم يقوم المؤلف بتحليل البيانات. بعد إجراء دراسة على متشابهات آيات التهليل، يمكن الاستنتاج أن آيات التهليل تنقسم إلى متشابهات السور وبين الآيات. فالمتناسبات بين بداية وصف السورة ونهاية السورة هي سورة الإخلاص والبقرة، والمنافاة بين موضوع السورة والاسم توجد في سورة الإخلاص والناس، والمنافاة بين السور توجد في سورة الفلق والناس والفتح. المناسخة بين الآيات في السورة الواحدة توجد في سورة الفلق، والفاتحة، والبقرة، والمنافاة بين الجمل في الآية الواحدة في سورة الفاتحة. وتوجد الآيات المتشابهات أحياناً في آيات متجاورة وأحياناً متباعدة، وفي كل آية منها علاقة (متشابهات).
المنهج الفكري لتفسير المعتصم في تفسير القرآن المعظم تحت يد عبد الحليم الحليمي أبي حاتم الأصم Rosyi, Musyfiqur
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i2.22224

Abstract

يهدف هذا البحث إلى دراسة الأبعاد الإبستمولوجية لتفسير عبد الحليم في تفسير المعتصم. كتفسير منتج، يمكن اعتبار تفسير المعتصم نتاجًا لعمل علمي قابل للامتحان من الناحية النقدية باعتبار ثلاثة أسس: التناسق، والمراسلة، والواقعية. بالإضافة إلى نظرية الحقيقة الغربية، يستخدم هذا البحث نظرية الأصيل والداخل في تفسير النص. هذا البحث  بحث مكتبية بنهج نوعي للحصول على البيانات حول تفسير عبد الحليم وتقديمها بشكل وصفي. تستخدم هذه التحليلات أيضًا نهجًا تاريخيًا فلسفيًا لفهم الخلفية والسياق الاجتماعي للمجتمع الذي عاش فيه عبد الحليم. تتنوع مصادر عبد الحليم المرجعية بشكل كبير، من القرآن والحديث، إلى آراء الصحابة والتابعين، وقواعد اللغة، وآراء العلماء. ونتيجة هذا البحث هي أن منهج عبد الحليم هو تحليلي بأسلوب تفسيري فقهي عقدي. يمكن استنتاج صحة تفسير عبد الحليم عندما يتم الحفاظ على التناسق في تقديم الاقتراحات بشكل منهجي ومنطقي ومتناسق. وعندما يتم اختبارها باستخدام نظرية الأصيل والداخل، يمكن اعتبارها صحيحة.

Page 8 of 12 | Total Record : 111