cover
Contact Name
Husna Nashihin
Contact Email
aufahusna.lecture2017@gmail.com
Phone
+6283817990006
Journal Mail Official
jurnaljipsi.amorfati@gmail.com
Editorial Address
Kantor Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta Alamat: Siwil RT.05/RW.20, Siwil, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55581
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
ISSN : -     EISSN : 29629187     DOI : -
Education Science. The Islamic Education Science. Educational Psychology. Learning Psychology. Educational Philosophy. Islamic Educational Philosophy. Lesson Plan. Lesson Design. Lesson Media Development of Resources and Learning Media. Learning Theory of Islamic Education. Learning Strategies of Islamic Education. Islamic Education Curriculum Development. Objectives and Evaluations of Educational Curriculum. Tafsir Tarbawi. Hadist Tarbawi.
Articles 333 Documents
Strengthening Students’ Islamic Character Through The Anak Beriman And Kepribadian Program At Sdn 2 Pangenrejo Nasril Ahmad Fatah; Prawidya Lestari
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.1080

Abstract

Strengthening Islamic character at the elementary school level is an essential effort in developing students who not only possess academic competence but also demonstrate religious attitudes, noble morals, discipline, and social responsibility. The ongoing phenomenon of a gap between students’ understanding of religious values and the implementation of Islamic behaviors in daily life encourages schools to develop religious habituation programs. This study aims to describe the implementation of the Program Anak Beriman (Faithful Children Program), analyze strategies for strengthening Islamic character in learning activities, and examine the impact of the program on the development of students’ religious character at SDN 2 Pangenrejo. This study employed a qualitative approach using a case study method. The research was conducted at SDN 2 Pangenrejo, with data sources consisting of the principal, teachers, representatives of students from grades 1–6, and parents. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña data analysis model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the (1).Program Anak Beriman was implemented through various religious habituation activities, including collective prayers, recitation of Asmaul Husna, Qur’an reading, memorization of daily prayers and short Qur’anic chapters, prayer practices, and religious social activities. (2).The strategies for strengthening Islamic character were carried out through habituation, teacher role modeling, student guidance, the use of learning media, and collaboration with parents. (3).The program has contributed positively to the development of students’ religious character, as reflected in their worship habits, discipline, politeness, responsibility, and concern for the surrounding environment. This study contributes by providing an overview of the implementation of Islamic character strengthening based on school culture, which can serve as a reference for elementary education institutions in developing sustainable character-building programs.
Internalisasi Nilai Moderasi Beragama dalam Kultur Madrasah Aliyah: Pendekatan Participatory Action Research atas Klarifikasi Kognitif, Refleksi Dialogis, dan Pembiasaan Praksis Irja Putra Pratama; Aristophan Firdaus; Ari Azhari; Davi Putra Setiawan
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.1082

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai moderasi beragama pada siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Lubuklinggau melalui pendekatan Participatory Action Research. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan siswa, guru Pendidikan Agama Islam, wali kelas, pembina kegiatan keagamaan, serta unsur pimpinan madrasah sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman awal siswa tentang moderasi beragama masih bersifat umum dan belum sepenuhnya terhubung dengan praktik kehidupan sehari-hari. Melalui tindakan edukatif-partisipatif, pemahaman siswa berkembang menjadi lebih kontekstual, terutama dalam memahami komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Internalisasi nilai moderasi berlangsung melalui tiga mekanisme pedagogis, yaitu klarifikasi kognitif, refleksi dialogis, dan pembiasaan praksis. Penelitian ini menegaskan bahwa moderasi beragama tidak cukup ditanamkan melalui penyampaian materi, tetapi juga perlu dibangun melalui dialog, refleksi pengalaman, keteladanan guru, serta budaya madrasah yang mendukung sikap keagamaan yang moderat, toleran, dan inklusif.
Pengaruh Model Pembelajaran Cotextual Teaching And Learning(CTL) Berbantuan Pop Up Book Terhadap Pemahaman Konsep Peserta Didik Pada Mata Pelajaran IPA Kelas III Sekolah Dasar Fitria Khairunnisa; Guntur Cahaya Kesuma; Hasan Sastra Negara
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.1126

Abstract

The low conceptual understanding of third-grade elementary students in science learning remains a critical issue because instruction is still often teacher-centered and lacks concrete learning media. This study aimed to examine the effect of the Contextual Teaching and Learning(CTL) model supported by Pop Up Book media on students’ conceptual understanding in science learning at MI Al-Islamiyah Kotabumi. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Non-Equivalent Control Group Design. The sample consisted of 45 students, including 23 students in the experimental class and 22 students in the control class. Data were collected through pretest and posttest and analyzed using normality test, homogeneity test, N-Gain, Independent Samples t-Test, and effect size. The results showed that the experimental class obtained a posttest mean score of 17.70, higher than the control class mean score of 11.67. The N-Gain score of the experimental class was 0.77, categorized as high, while the control class obtained 0.01, categorized as low. The t-test result showed a significance value of 0.000 < 0.05, with Cohen’s d of 4.31. Therefore, CTL supported by Pop Up Book had a significant and strong effect on students’ conceptual understanding in science learning. The implication is that teachers can use this model as an alternative strategy to create concrete, active, and contextual science learning.
Rekonstruksi Hukum Keluarga Islam dalam Menjawab Tantangan Perkawinan Digital pada Praktik Nikah Online Pasca Pandemi Wiwit Musaadah; Afrian Sukmariyadi; Ade Isnan Sulistiawan; Abdul Aziz; Seki Daryanto
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1127

Abstract

Pandemi COVID-19 mempercepat normalisasi praktik akad nikah online yang sebelumnya dianggap marjinal dalam fikih munakahat klasik. Meski situasi darurat kesehatan telah berakhir, praktik nikah daring tetap berlangsung karena faktor mobilitas, migrasi tenaga kerja, dan efisiensi biaya, sementara kerangka hukum keluarga Islam di Indonesia belum memberikan kepastian yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis keabsahan akad nikah online pasca pandemi dan merumuskan rekonstruksi hukum keluarga Islam yang responsif terhadap fenomena tersebut. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan mazhab, melalui studi kepustakaan atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdebatan keabsahan nikah online berpusat pada konsep ittihad al-majlis yang dimaknai berbeda oleh mazhab Syafi'iyah dan Hanafiyah, serta bahwa Keputusan Ijtima' Ulama Komisi Fatwa MUI VII/2021 telah membuka ruang keabsahan bersyarat. Analisis maqashid syariah menunjukkan bahwa akad nikah daring berpotensi memenuhi kelima maqashid (hifz al-din, al-nafs, al-'aql, al-nasl, al-mal) apabila disertai verifikasi identitas digital yang ketat. Namun demikian, regulasi yang ada, yakni Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2019 dan Keputusan Menteri Agama Nomor 892 Tahun 2019, belum mengatur secara eksplisit akad nikah lintas tempat berbasis audio-visual. Penelitian ini menawarkan novelty berupa model "Akad Nikah Hybrid Bersyarat" yang mengintegrasikan verifikasi biometrik berbasis NIK Dukcapil, protokol autentikasi wali dan saksi digital, serta mekanisme pencatatan elektronik terintegrasi SIMKAH, sebagai kerangka rekonstruksi hukum keluarga Islam yang menjamin kepastian hukum, kemaslahatan, dan perlindungan hak-hak pihak yang rentan, khususnya perempuan.
Dispensasi Kawin Anak Pasca Putusan MK Nomor 22/PUU-XV/2017 dalam Perspektif Maqashid Syariah terhadap Perlindungan Hak Anak di Indonesia Wiwit Musaadah; Hidayatullah; Faridawati; Eis Rahmawati
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1129

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 yang mengubah batas usia minimal perkawinan perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun, sebagaimana diadopsi dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, dimaksudkan untuk memperkuat perlindungan hak anak perempuan dari perkawinan dini. Namun, kenaikan batas usia tersebut justru diikuti oleh lonjakan permohonan dispensasi kawin ke Pengadilan Agama, sehingga dispensasi kawin berfungsi sebagai “pintu darurat” yang berpotensi menggerus tujuan protektif regulasi itu sendiri. Artikel ini menganalisis paradoks tersebut melalui pendekatan maqashid syariah, khususnya kerangka sistem lima pilar (hifz al-din, al-nafs, al-‘aql, al-nasl, al-mal) yang dikembangkan Jasser Auda, untuk menilai sejauh mana praktik dispensasi kawin pascaputusan MK sejalan dengan prinsip kepentingan terbaik anak. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, didukung data kuantitatif dari Badan Peradilan Agama, Kementerian Agama, Badan Pusat Statistik, dan UNICEF Indonesia periode 2019-2025. Hasil penelitian menunjukkan disharmoni struktural antara Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019 dan implementasinya di lapangan, karena kehamilan tidak dikehendaki tetap menjadi alasan dominan permohonan. Sebagai kontribusi orisinal, artikel ini menawarkan model Maqashid-Based Best Interest Test (MBIT), sebuah instrumen penilaian berjenjang yang mengintegrasikan uji lima pilar maqashid dan mizan maslahah-mafsadah ke dalam pertimbangan hakim, sebagai pelengkap operasional atas kekosongan metodologis dalam PERMA Nomor 5 Tahun 2019.
Reinterpretasi Fikih Munakahat tentang Kesetaraan Gender dalam Pembagian Harta Bersama di Era Modern Padiyana; Wiwit Musaadah; Irman
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1130

Abstract

Pembagian harta bersama akibat perceraian atau kematian salah satu pihak masih banyak diselesaikan secara kaku melalui Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menetapkan pembagian seragam satu berbanding satu (1:1) tanpa mempertimbangkan variasi kontribusi riil suami dan istri selama perkawinan. Ketentuan tersebut merupakan produk ijtihad ulama klasik yang dibangun di atas konstruksi fikih munakahat yang menempatkan suami sebagai pencari nafkah tunggal (breadwinner) dan istri sebagai pengelola domestik, sebuah konstruksi yang semakin tidak relevan dengan realitas keluarga modern yang ditandai oleh menguatnya peran ekonomi perempuan, kepemilikan aset digital, dan skema tabungan pensiun bersama. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara kritis konstruksi fikih munakahat klasik tentang harta bersama, mengidentifikasi bias gender di dalamnya, dan merumuskan tawaran reinterpretasi berbasis maqashid syariah dan prinsip musawah (kesetaraan). Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan konseptual dan komparatif, menelaah kitab-kitab fikih munakahat klasik, peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan agama, serta praktik reformasi hukum keluarga Islam di Maroko, Tunisia, dan Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doktrin syirkah yang menjadi basis fikih harta bersama sesungguhnya bersifat lebih cair dan berorientasi kontribusi dibandingkan pembagian rigid 50:50 yang berlaku dalam praktik. Sebagai novelty, penelitian ini menawarkan Model Kontribusi Multidimensional (MKM), yakni kerangka penilaian kontribusi suami dan istri yang mengintegrasikan empat dimensi—kontribusi finansial, domestik, reproduktif, dan emosional-manajerial keluarga—sebagai basis penentuan proporsi harta bersama yang lebih adil secara substantif, tanpa meninggalkan kepastian hukum. Model ini diajukan sebagai alternatif ijtihad kontemporer yang dapat diadopsi oleh hakim pengadilan agama dan menjadi bahan pertimbangan pembaruan Pasal 97 KHI.
Efektivitas Program Tahfizh Al-Qur'an Berbasis Cipp Di Lingkungan Pendidikan Islam Terpadu : Studi Kasus Smpit As-Sakinah Muhammad Anshori Daulay; M.Taufiq; Fadhila Yonata
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.1131

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya program tahfizh Al-Qur'an dalam pendidikan Islam terpadu, sementara capaian hafalan peserta didik di SMPIT As-Sakinah Tanjungpinang belum sepenuhnya memenuhi target lima juz sekolah. Studi ini bertujuan menganalisis efektivitas program berdasarkan dimensi context, input, process, dan product agar diperoleh gambaran mengenai kesesuaian tujuan, kesiapan sumber daya, mutu pelaksanaan, serta ketercapaian hasil hafalan peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain evaluatif model CIPP pada studi kasus, melibatkan kepala sekolah, koordinator tahfizh, guru tahfizh, dan peserta didik, sedangkan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber untuk memastikan kredibilitas temuan pada setiap komponen evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek konteks dan input tergolong memadai karena program selaras dengan visi sekolah serta didukung guru, sarana, dan bahan ajar, tetapi aspek proses belum optimal pada evaluasi pembelajaran. Pada aspek produk, capaian hafalan peserta didik masih bervariasi dan belum seluruhnya mencapai target sekolah, dengan persentase ketercapaian 31,75 persen pada 2023/2024 dan 40 persen pada 2024/2025. Penelitian menyimpulkan bahwa program telah berjalan cukup baik, namun efektivitasnya perlu ditingkatkan melalui penguatan kompetensi pedagogik guru, standardisasi evaluasi, dan tindak lanjut pembelajaran agar target hafalan tercapai lebih merata utama
Social Relations Of Religious Figures With The Village Community Of Segamit, Semande Darat Ulu, Muara Enim Regency Wildan Nur Hidayat; Nur Indah Tiara; Della Yulanda; Jendri Nopran Satria
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.1143

Abstract

This study examines the social relationships between religious leaders (kyai and santri) and the local community in Segamit Village, Semende Darat Ulu Subdistrict, Muara Enim Regency, South Sumatra. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document review at the Raudhatul Mubtadi'in Islamic Boarding School. The findings reveal that the social bonds between religious figures and the surrounding community are built upon three interrelated foundations: shared religious activities, local cultural traditions, and mutual cooperation in daily life. Kyais play a dual role as spiritual authorities and informal social leaders whose guidance extends far beyond the walls of the Islamic boarding school. This study also identifies enabling factors particularly shared worship events, strong norms of mutual aid, and open channels of communication as well as inhibiting factors such as the encroachment of digital technology on direct social interaction and the Islamic boarding school's demanding internal schedule. These findings contribute to a broader understanding of how Islamic educational institutions function as pillars of community cohesion in rural Indonesia.
The Authority of the Regional Office of the Ministry of Human Rights After Institutional Restructuring: A Fiqh al-Siyāsah Perspective Oni Lizapahlania; Nurul Hak; Ismail Jalili
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.1144

Abstract

Institutional restructuring under Presidential Regulation No. 156 of 2024 separated the Ministry of Human Rights from the Ministry of Law and Human Rights, followed by the establishment of a new organizational framework through Minister of Human Rights Regulation No. 2 of 2025. This reform redefined the authority of Regional Offices of the Ministry of Human Rights, particularly in handling alleged human rights violations at the regional level. This study examines the post-restructuring authority of Regional Offices and evaluates its implementation from the perspective of Fiqh al-Siyāsah. Using a normative-empirical legal approach based on legislation, conceptual analysis, case studies, document review, and interviews, the findings reveal that Regional Offices remain limited to administrative, coordinative, facilitative, and advisory functions without executive authority to resolve human rights violations. Consequently, effective human rights protection depends largely on inter-agency coordination. From the perspective of Fiqh al-Siyāsah, these functions reflect the principles of justice (al-'adl), public welfare (maṣlaḥah), and the protection of human dignity (karāmah al-insān). The study recommends strengthening the authority of Regional Offices through regulatory reform, institutional enhancement, and improved inter-agency coordination.
Implementation of the Village Head Performance Law from the Perspective of Siyasah Tanfidhiyyah Alfredo Jeremia; Imam Mahdi; Wery Gusmansyah
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.1145

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Law Number 3 of 2024 concerning the performance of the Village Head from the perspective of Siyasah Tanfidziyyah. This research employed a qualitative method using an empirical juridical approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that the implementation of Law Number 3 of 2024 regarding the performance of the Head of Tanjung Seru Village has been carried out in terms of disseminating information to the community, submitting accountability reports, and providing protection and public services to the community. However, several shortcomings remain, including limited transparency of information, low levels of community participation, and the suboptimal implementation of the village head's protective role toward the community. From the perspective of Siyasah Tanfidziyyah, the Village Head's performance has not fully reflected the principles of amanah (trustworthiness), al-'adl (justice), and maslahah (public welfare). This is evident in the unequal dissemination of information, limited public involvement in governance processes, and the less-than-optimal execution of governmental duties aimed at promoting the interests and welfare of the community as a whole.