cover
Contact Name
Amelia Waimuri
Contact Email
murai.sttgki@gmail.com
Phone
+6282194538356
Journal Mail Official
murai.sttgki@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Sentani 37 Abepura, Jayapura, Papua - 99351
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
MURAI: Jurnal Papua Teologi Kontekstual
ISSN : 27210200     EISSN : 27464814     DOI : -
urnal Papua Teologi Kontekstual merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI I.S.Kijne sebagai sarana publikasi hasil penelitian dan artikel ilmiah yang merupakan kajian Sosial-Budaya, Pendidikan (Pendidikan secara umum dan Pendidikan Kristen secara khusus), dan Teologi Kontekstual. Jurnal ini memuat artikel ilmiah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel ilmiah hasil penelitian ataupun penelitian terapan, dan juga artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan sosial-budaya, Pendidikan dan Teologi Kontekstual. Pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel termuat pada setiap penerbitan. Penerbitan jurnal dilakukan persemester, yaitu pada bulan Januari dan Juli tahun berjalan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 85 Documents
Metafora Allah Sebagai Perempuan: Hermeneutik Feminis Kritis Berdasarkan Injil Lukas 15:8-10: God's Metaphor as a Woman: Critical Feminist Hermeneutics Based on the Gospel of Luke 15:8-10 Notanubun, Kristensia; Erari, Fernando Christosa
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 1 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i1.219

Abstract

Di dalam kekristenan, adalah hal yang umum atau bahkan mungkin baku bahwa Allah disebut atau digambarkan sebagai seorang Bapa. Hal ini dapat dimaklumi karena Alkitab kita terdapat banyak penggambaran yang demikian, bahkan Yesus sendiri memanggil Allah juga dengan sebutan Bapa. Meskipun demikian, didalam Alkitab kita juga terdapat penggambaran-penggambaran Allah yang beraneka ragam. Namun dalam percakapan keseharian maupun dalam doktrin resmi gerejawi tidak ada percakapan yang menyediakan ruang percakapan tentang Allah sebagai figur perempuan. Padahal dalam Alkitab ada begitu banyak kisah yang menggambarkan peranan perempuan dan juga Allah yang melukiskan diri-Nya sebagai perempuan. Sehingga sering kali Alkitab dilihat dengan kacamata androsentrime sehingga kebebasan perempuan disisihkan. Apa makna Metafora Allah sebagai Perempuan dalam Injil Lukas 15:8-10? Bagaimana Metafora Allah sebagai Perempuan dapat memberi kontribusi bagi upaya mewujudkan kesetaraan Gender di dalam Gereja dan Masyarakat? Dan tujuan penelitiannya adalah: Mendeskrispsikan makna Metafora Allah sebagai Perempuan dalam Lukas 15:8-10? Mendeskrispsikan Metafora Allah sebagai Perempuan dalam Lukas 15:8-10 bagi upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender di dalam Gereja dan Masyarakat? Metode penelitian yang digunakan adalah hermeneutik feminis yang diperkenalkan oleh Elisabeth Schüssler Fiorenza.
Pembinaan Pascanikah Berbasis Pendidikan Agama Kristen: Kajian Teologi Praktika: Post-Marriage Coaching Based on Christian Religious Education: A Study of Practical Theology Fonataba, Henny Verra
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 1 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i1.237

Abstract

Pernikahan Kristen dipahami sebagai panggilan iman yang menuntut kesetiaan dan tanggung jawab seumur hidup, sehingga keutuhan rumah tangga menjadi bagian penting dari kesaksian gereja. Namun, realitas pelayanan gereja menunjukkan bahwa pembinaan pascanikah masih minim, bersifat insidental, dan cenderung reaktif, sementara pasangan suami-istri menghadapi berbagai tantangan relasional, ekonomi, spiritual, dan kultural setelah beberapa tahun pernikahan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pembinaan pascanikah berbasis Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam perspektif teologi praktika sebagai kerangka integratif bagi pelayanan keluarga gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan refleksi teologis terhadap literatur teologi praktika, PAK, pastoral keluarga, serta penelitian ilmiah. Analisis dilakukan secara deskriptif-teologis dengan menafsirkan temuan dalam kerangka integrasi antara pembinaan pascanikah, PAK, dan teologi praktika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan pascanikah di banyak gereja belum menjadi program sistematis dan berkelanjutan, sehingga diperlukan transformasi paradigma pelayanan dari pendekatan reaktif menuju pendekatan edukatif-formatif. PAK memiliki peran strategis sebagai dasar pedagogis pembinaan keluarga yang menempatkan keluarga sebagai ruang utama pendidikan iman, sedangkan teologi praktika menyediakan kerangka reflektif dan kontekstual untuk mengintegrasikan pengalaman hidup keluarga dengan refleksi teologis dan tindakan pastoral. Dalam konteks Papua, integrasi nilai-nilai Injil dengan kearifan lokal melalui pendekatan inkulturatif memperkuat relevansi pembinaan pascanikah bagi keluarga Kristen. Dengan demikian, pembinaan pascanikah berbasis PAK dan teologi praktika perlu direkonstruksi sebagai pelayanan gereja yang berkelanjutan, kontekstual, dan transformatif guna memperkuat keutuhan keluarga dan kesaksian iman gereja di tengah masyarakat.
Penerapan Contextual Teaching Learning Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Sebagai Strategi Pengembangan Spiritual Peserta Didik Di Sma Negeri 2 Jayapura: The Application of Contextual Teaching Learning in Christian Religious Education Subjects as a Spiritual Development Strategy for Students at SMA Negeri 2 Jayapura TEFBANA, APRI; Fatlolona, Jonas
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 1 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i1.250

Abstract

Dalam pembelajaran pendidikan Agama Kristen di Sekolah SMA Negeri 2 Jayapura, teori intelektual dan pengalaman spiritual adalah dua konsep yang harus dicapai dalam proses pelaksanaan pendidikan yang diselenggarakan. Dalam mencapai kedua hal ini tidaklah mudah jika dilakukan dengan strategi yang keliru. Banyak masalah yang ditemukan di SMA Negeri 2 Jayapura bahwa pembelajaran PAK sangat membosankan, terkesan teoritis, dan tidak membantu peserta didik dalam mengembangkan spiritual mereka. Penulis meneliti bahwa Contextual Teaching Learning ( selanjutnya ditulis CTL) merupakan strategi yang tepat dalam menjawab kedua permasalahan ini. CTL adalah strategi pembelajaran yang menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata, dengan penekanannya pada perkembangan kognitif dan pengalaman belajar peserta didik SMA Negeri 2 Jayapura dalam mengembangkan kemampuan untuk menerapkannya pengetahuan yang didapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan metode studi literatur, dengan melakukan kajian Pustaka terkait konsep CTL, maka ditemukan hasil bahwa penerapan CTL dalam pembelajaran PAK di SMA Negeri 2 Jayapura yaitu: konstruktivisme, inquiry, questioning, community learning, modelling, reflection dan authentic. Penerapan CTL dalam pembelajaran PAK di SMA Negeri 2 Jayapura akan melatih peserta didik untuk mengembangkan spiritual mereka dengan Tuhan. Dengan demikian penerapan CTL pada pembelajaran PAK di SMA Negeri 2 Jayapura dapat membantu guru Agama Kristen dalam melaksanakan proses pengajaran yang bukan hanya menghafal dan memahami tetapi lebih kepada penerapan nilai-nilai kekristenan yang akan mengembangkan spiritual peserta didik SMA Negeri 2 Jayapura
Dimensi Ekologis Koinonia: Analisis Teologis-Kritis Terhadap Peran Gereja Dalam Pelestarian Lingkungan Hidup: The Ecological Dimension of Koinonia: A Theological-Critical Analysis of the Church's Role in Environmental Conservation Yoteni, Fransina; Gulo, Eirene Kardiani; Purba, Deddy Fajar
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 1 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i1.252

Abstract

Krisis sosio-ekologis yang mendesak di Indonesia, yang dicontohkan oleh proyek-proyek pembangunan ekstraktif seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, menuntut respons teologis yang relevan dari gereja. Penelitian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan antara panggilan gereja untuk bertindak dan ketidakcukupan kerangka teologis yang ada, khususnya konsep koinonia (persekutuan) yang secara tradisional bersifat antroposentris dan apolitis. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi konsep koinonia secara kritis untuk membangun sebuah paradigma teologis yang kokoh bagi respons ekologis gereja. Metode yang digunakan studi literatur kualitatif dan pendekatan teologis-kritis (dekonstruksi-rekonstruksi-sintesis), penelitian ini menganalisis sumber-sumber biblis, dokumen gerejawi mutakhir (Laudato Si'), dan literatur ekoteologi kontemporer. Kebaruan yang ditawarkan adalah perumusan konsep Koinonia Oikos sebagai sebuah persekutuan integral dalam rumah tangga ciptaan dalamnya mensintesiskan wawasan teologis dengan spiritualitas ekologis dari kearifan lokal masyarakat adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Koinonia Oikos memiliki implikasi transformatif yang signifikan, tidak hanya secara teologis, tetapi juga secara praktis. Konsep ini menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan katekis ekologis yang terstruktur, reformasi liturgi yang berperspektif ciptaan, dan reorientasi kurikulum pendidikan teologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan mengadopsi paradigma Koinonia Oikos, gereja dapat bergerak melampaui aktivisme lingkungan yang parsial menuju sebuah pertobatan ekologis yang holistik, relevan secara kontekstual, dan berdaya profetis
Hubungan Pengetahuan Alkitab Dengan Sikap Dan Perilaku Penularan HIV Di Kota Jayapura: The Relationship of Bible Knowledge with HIV Transmission Attitudes and Behaviors in Jayapura City Wospakrik, Martha; Manuhutu, Victor Paulus; Sutanto, Sandra Viviane; De Jong, Hendry John
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 1 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i1.255

Abstract

Papua merupakan 1 dari 11 provinsi penyumbang kasus HIV terbanyak di Indonesia dan Kota Jayapura adalah penyumbang 10.555 kasus pada tahun 2024 tersebut. Sebesar 111.921 (29,29%) penduduk kota Jayapura beragama Kristen. Dengan jumlah penduduk Kristen yang banyak tersebut mengapa Kota Jayapura menjadi penyumbang kasus HIV tertinggi di Provinsi Papua. Bagaimanakah tingkat pengetahuan Alkitab orang Kristen di Jayapura yang berkaitan dengan kekudusan dan penularan HIV dan bagaimana hubungan nya dengan sikap dan perilaku orang Kristen di Jayapura terhadap penularan HIV?. Penelitian kami menggunakan kuisioner untuk melihat hubungan pengetahuan Alkitab yang berhubungan dengan penularan HIV dengan sikap dan perilaku orang Kristen terhadap penularan HIV di Kota Jayapura pada 105 orang menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan Alkitab yang berhubungan dengan kekudusan dengan sikap terhadap penularan HIV dengan nilai a 0,05 dan OR 5,192 dan terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan Alkitab yang berhubungan dengan kekudusan dengan sikap terhadap penularan HIV dengan nilai a 0,05 dan OR 4,737. Papua merupakan 1 dari 11 provinsi penyumbang kasus HIV terbanyak di Indonesia dan Kota Jayapura adalah penyumbang 10.555 kasus pada tahun 2024 tersebut. Sebesar 111.921 (29,29%) penduduk kota Jayapura beragama Kristen. Dengan jumlah penduduk Kristen yang banyak tersebut mengapa Kota Jayapura menjadi penyumbang kasus HIV tertinggi di Provinsi Papua. Bagaimanakah tingkat pengetahuan Alkitab orang Kristen di Jayapura yang berkaitan dengan kekudusan dan penularan HIV dan bagaimana hubungan nya dengan sikap dan perilaku orang Kristen di Jayapura terhadap penularan HIV?. Penelitian kami menggunakan kuisioner untuk melihat hubungan pengetahuan Alkitab yang berhubungan dengan penularan HIV dengan sikap dan perilaku orang Kristen terhadap penularan HIV di Kota Jayapura pada 105 orang menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan Alkitab yang berhubungan dengan kekudusan dengan sikap terhadap penularan HIV dengan nilai a 0,05 dan OR 5,192 dan terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan Alkitab yang berhubungan dengan kekudusan dengan sikap terhadap penularan HIV dengan nilai a 0,05 dan OR 4,737.
Bahasa Batak Di Tengah Arus Globalisasi: Eksplorasi Penyebab Hilangnya Kemampuan Berbahasa Batak Pada Kalangan Pemuda Batak Perkotaan: Batak Language in the Midst of Globalization: An Exploration of the Causes of the Loss of Batak Language Skills among Urban Batak Youth Daniel Gian Axel Destrarata Pasaribu; Riris Johanna Siagian
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 2 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i2.170

Abstract

The Batak language is an essential component of the cultural identity of the Batak people, preserved for generations. However, in the face of increasing globalization, the ability to speak Batak among urban Batak youth has significantly declined. This study aims to explore the causes behind the loss of Batak language proficiency among young Batak people living in urban areas. The primary focus is to identify the factors contributing to the decline in Batak language use, particularly in relation to urbanization, cultural change, and the impact of globalization. Using a qualitative approach, the research investigates the views and experiences of Batak youth in major cities and connects them with ongoing social dynamics. The findings reveal that rapid urbanization and cultural shifts are major factors hindering the younger generation's ability to retain and practice the Batak language. The dominance of the Indonesian language as the national language, along with the widespread use of foreign languages in daily life, further weakens young people's ties to their native language and culture. While there are efforts to preserve the Batak language through cultural and family initiatives, the strong influence of globalization demands adjustments in language practices. Therefore, strategic efforts are needed to address this issue, including more intensive Batak language education and broader cultural preservation initiatives that actively involve the youth.
Ketika Liturgi Bergerak: Mengalami Transformasi Iman melalui Bahasa Tubuh: When the Liturgy Moves: Experiencing Faith Transformation Through Body Language Casandro Siregar
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 2 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i2.223

Abstract

This article examines Christian liturgy as an embodied event of faith by positioning the human body as a locus theologicus in which faith is experienced, expressed, and formed. Liturgy is not understood merely as a sequence of verbal texts and prayers, but as a symbolic action that involves gestures, postures, processions, and the active bodily participation of the worshipping community. Employing a theological-liturgical approach and engaging contemporary liturgical theology, this study analyzes the concept of participatio actuosa and the principle of lex orandi, lex credendi, lex vivendi within the liturgical practices of the Catholic Church and the Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). The findings indicate that conscious and reflective bodily participation in liturgy plays a crucial role in shaping the communal identity of believers as the Body of Christ and possesses a transformative dimension that extends beyond the liturgical space. A “moving” liturgy forms a habitus of faith manifested in ethical attitudes, social solidarity, and everyday Christian praxis. However, this article also identifies a gap between the theological ideals of liturgy and contemporary ecclesial practice, where liturgical gestures are often performed mechanically without sufficient theological awareness. Therefore, the study underscores the importance of liturgical formation that emphasizes bodily awareness as a medium of faith, so that liturgy may truly function as a space of spiritual and social transformation.
Fenomena Bunuh Diri Di Nusa Tenggara Timur: Analisis Sosial Dan Teologis Dalam Perspektif Émile Durkheim Dan John Potter: Suicide Phenomenon in East Nusa Tenggara: Social and Theological Analysis In the perspective of Émile Durkheim and John Potter Endang Damaris Koli; Amelia Waimuri
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 2 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i2.298

Abstract

Suicide remains a significant global, national, and local concern, including in East Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Timur, NTT), a region widely recognized for its strong communal and religious life. The emergence of numerous suicide cases in recent years raises important questions regarding the relationship between social conditions, religious life, and individual vulnerability to suicide. This study aims to analyze the phenomenon of suicide in NTT through a dialogue between Émile Durkheim’s theory of suicide and John Potter’s theological reflection. The study employs a qualitative approach using document analysis of eight suicide cases reported in online media between 2023 and 2026. The data were analyzed descriptively to identify recurring patterns and subsequently interpreted using Durkheim’s concepts of social integration and social regulation, as well as Potter’s reflections on stigma, grace, and pastoral care. The findings indicate that suicide cases in NTT involve various age groups and social backrounds, with male victims constituting the majority. Contributing factors include economic hardship, cultural pressures related to belis, mental health problems, interpersonal relationship issues, and other forms of social vulnerability. The dialogue between Durkheim and Potter demonstrates that suicide in NTT constitutes both a social and a theological issue. These findings highlight the importance of the church in fostering communities characterized by acceptance, accompaniment, and hope as part of pastoral responses to individuals experiencing despair.
Dekolonisasi Ideologi Pelanggan Adalah Raja Melalui Sistem Perekonomian Di Café Dan Kios Fokha STFT GKI I.S Kijne Jayapura: Decolonization of Customer Ideology Is King Through the economic system at Fokha Café and Kiosk STFT GKI I.S Kijne Jayapura Maria Komboy; Sientje Latuputty
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 2 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i2.299

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi ideologi pemasaran “Pelanggan adalah Raja” dalam aktivitas ekonomi di Cafe dan Kios Fokha STFT GKI I.S Kijne. Ideologi tersebut dinilai membentuk relasi kuasa yang timpang, di mana pelanggan memposisikan diri sebagai pihak dominan sementara pelayan yang sebagian besar adalah mahasiswa, ditempatkan sebagai pihak subordinat, sehingga berpotensi mereduksi martabat manusia dalam perspektif Imago Dei. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif, jenis Studi Kasus Intrinsik dengan perspektif dekolonisasi melalui observasi, refleksivitas peneliti, studi pustaka, serta kuesioner kepada pelayan dan pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ideologi “Pelanggan adalah Raja” termanifestasi dalam bentuk komunikasi verbal yang merendahkan, gestur dominatif, pelanggaran prosedur pelayanan, serta reproduksi hierarki sosial di ruang transaksi. Temuan ini mengindikasikan adanya micro-oppression yang memperpanjang warisan kolonialfeodal dalam praktik ekonomi sehari-hari. Sebagai alternatif, Cafe dan Kios Fokha, yang bermakna “sejahtera” dalam bahasa Sentani, ditafsirkan sebagai ruang dialektika teologi dan ekonomi yang menekankan relasi egaliter berbasis koinonia dan resiprositas. Penelitian ini menegaskan pentingnya transformasi paradigma dari orientasi keuntungan dan dominasi menuju sistem ekonomi berkeadilan yang memulihkan martabat penjual dan pembeli sebagai sesama
Perdamaian Di Tanah Papua: Merawat Perjumpaan Wajah Dan Menciptakan Narasi Bersama Dalam Perspektif Teologi Pastoral Sosial: Recociliation In Tanah Papua: Nurturing Confronting And Creating The New Narration Through A Social Pastoral Theology Lens Natanael Tarigan
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 2 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i2.301

Abstract

Tanah Papua merupakan wilayah yang secara historis dan struktural tidak terlepas dari dinamika konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran perempuan Sentani dalam proses penyelesaian konflik komunal melalui perspektif teologi pastoral sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-naratif dan etnografi pastoral, penelitian ini menganalisis praktik budaya waimam sebagai kearifan lokal yang memungkinkan perempuan berperan sebagai mediator perdamaian meskipun berada dalam struktur patriarkal yang membatasi akses mereka terhadap ruang adat. Temuan menunjukkan bahwa perempuan Sentani melalui identitas noken dan kani mampu merawat perjumpaan wajah dan membangun narasi baru yang mencegah eskalasi konflik. Teori segitiga konflik Galtung (Sikap-Perilaku-Kontradiksi) dan teori pencegahan konflik Leatherman digunakan sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian dikonstruksi ke dalam teologi pastoral sosial melalui tiga langkah praksis pastoral: konfrontasi, konfirmasi, dan konfigurasi—yang mengandaikan gereja sebagai komunitas sadar konflik yang mampu hadir secara autentik di tengah pergumulan umat. Implikasi teologis dari temuan ini menegaskan bahwa perjumpaan wajah yang merawat pathos komunitas merupakan lokus teologi praksis yang relevan bagi perdamaian di Tanah Papua.