cover
Contact Name
Yusep Supriadi
Contact Email
supriadi@iaipibandung.ac.id
Phone
+6281220880434
Journal Mail Official
jurnalalibanah@iaipibandung.ac.id
Editorial Address
Jl. Ciganitri No.2, Cipagalo, Kec. Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40287
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Al-Ibanah
ISSN : 25028502     EISSN : 28088220     DOI : https://doi.org/10.54801
Jurnal Al-Ibanah diterbitkan oleh Lembaga P3M STAI Persis Bandung. Jurnal ini adalah akses terbuka, ditinjau sejawat, jurnal ini didedikasikan untuk publikasi penelitian di semua aspek lingkup Keislaman, Kemasyarakatan dan Pendidikan. Jurnal Al-Ibanah diterbitkan dua kali setahun dan menerima artikel penelitian asli yang menampilkan studi yang dirancang dengan baik dengan hasil yang dianalisis dan ditafsirkan secara logis. The Al-Ibanah journal is published by the STAI Persis Bandung P3M Institute. This journal is open access, peer reviewed, this journal is dedicated to the publication of research in all aspects of the scope of Islam, Society and Education. The Al-Ibanah journal is published twice a year and accepts original research articles featuring well-designed studies with logically analyzed and interpreted results.
Articles 102 Documents
Strategi Pengembangan Keberagamaan Peserta Didik Masa Sekolah Menengah Pertama Di SMP Negeri 1 Cilograng Ida Ruhaeni
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah (Artikel on progres)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/xq65dh13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan strategi pengembangan keberagamaan di SMP Negeri 1 Cilograng, Banten. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka. Strategi pengembangan keberagamaan masa sekolah menengah pertama yang terdapat di SMP Negeri 1 Cilograng di antaranya dengan menerapkan religius harian seperti melaksanakan shalat zhuhur berjamaah, tadarusan dengan membaca dan menghafalkan surat-surat pendek dari Al-Quran. Dan untuk membangun jiwa sosial peserta didik, juga diadakan program sedekah setiap hari Jumat setelah selesai kegiatan tadarusan. Dari segi adab, peserta didik juga dibiasakan mengucapkan salam dan berjabat tangan saat bertemu, memulai dan mengakhiri belajar di kelas dengan berdoa. Selain itu terdapat program keagamaan insidental seperti peringatan hari besar Islam dan pesantren kilat di bulan Ramadhan. Selain itu, sekolah juga membuat program rohis sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Pengembangan keberagamaan peserta didik masa sekolah menengah pertama ini sangat penting untuk membangun religiusitas peserta didik yang berkarakter Islami, berakhlak mulia, dan memiliki landasan spiritual yang kuat sehingga mencapai tujuan pendidikan Islam yaitu menjadikan setiap peserta didik sebagai insan kamil dengan pola takwa.
MENGEVALUASI OTORITAS KUTUB AL-SITTAH DALAM POSISI KANONIK HADIS Masnun Maesaroh Masnun
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah (Artikel on progres)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/82009n56

Abstract

Kajian ini mengevaluasi otoritas Kutub al-Sittah dalam struktur kanon hadis Sunni. Enam kitab hadis utama menempati posisi otoritatif setelah Al-Qur’an dalam tradisi keilmuan Islam. Otoritas tersebut terbentuk melalui proses historis, metodologis, dan penerimaan ilmiah para ulama hadis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan historis, analitis, dan komparatif terhadap literatur hadis klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas Kutub al-Sittah dibangun di atas kritik sanad dan matan yang ketat, kredibilitas para penyusunnya, serta penerimaan luas dalam tradisi intelektual Islam. Namun, kajian hadis kontemporer tetap memerlukan pendekatan kritis dan kontekstual. Dengan demikian, Kutub al-Sittah tetap otoritatif, tetapi perlu dibaca dengan analisis akademik yang proporsional.
ETIKA PENDIDIK DALAM PERSPEKTIF AL QURAN DAN HADITS -rovi. amelia rovi ramadhani
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah (Artikel on progres)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/cqr3fh45

Abstract

This research is crucial given the strategic role of educators in shaping the character and morals of future generations, who are currently faced with increasingly complex modern challenges. This study aims to identify and analyze specific verses from the Quran and Hadith—namely Surah At-Taubah: 128, Surah Al-An'am: 162–163, Surah Ali 'Imran: 164, and the Hadith narrated by Jabir bin Abdullah—regarding the ethical foundations of educators, and to evaluate their application in the modern education system. Utilizing a qualitative library research method, this study explores primary Islamic texts alongside secondary academic references from the last ten years. The results indicate that an ideal Islamic educator must possess core ethical values: a deep sense of empathy and dedication to student welfare, a total theological commitment (ikhlas), and a pedagogical mission focused on purification (tazkiyah), intellectual development, and making learning accessible (taysir). Integrating these prophetic ethical principles serves as a crucial moral foundation for reforming modern educational practices, ensuring that students develop not only academic intelligence but also profound moral character and social responsibility.
The Poetics of Aqidah Education: Faith Purification in E. Abdullah's Tahlil Pupujian Roni Nugraha Nugraha; Imas Karyamah
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah artikel on progres
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/eyt4w135

Abstract

This article examines the poeticization of Islamic creed (aqidah) education through E. Abdullah's Tahlil poetry, which embodies the spirit of theological purification. The findings reveal that Abdullah's work represents a poetic form of creedal education employing metaphorical, satirical, and ironic language to deliver theological critiques against tahlilan rituals and the concept of merit transfer (iwadl al-thawab) - prazctices he argues lack strong foundations in the Quran and authentic hadith. From an educational perspective, Abdullah's Tahlil poetry serves as a medium for critical Islamic education. Through its aesthetic approach, the work not only conveys Islamic teachings but also provides reflective space to critically examine religious traditions often practiced without robust theological basis. The poeticization of tahlil functions as a creedal pedagogy, urging audiences to reorient toward authoritative sources: the Quran, authentic hadith, and recognized scholars. This approach transforms aqidah education beyond rote memorization and ritual practice, fostering critical consciousness among learners.
Representasi Nilai-Nilai Ekopedagogis dalam Novel Anak Petualangan Si Boleh Fayed fauzan; Siti Nurjanah; Roni Nugraha; Tresna Pamela; Abdurrauf Akhyar
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah artikel on progres
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/102vxw51

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi nilai-nilai ekopedagogis dalam novel anak Petualangan Si Boleh karya Roni Nugraha. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber data berupa narasi, dialog, tokoh, dan peristiwa dalam novel yang merepresentasikan hubungan manusia dengan lingkungan. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka ekopedagogi yang dikembangkan oleh Gruenewald, Kahn, dan Misiaszek melalui lima kategori, yaitu alam sebagai ruang belajar, kesadaran spiritual terhadap alam, pelestarian keanekaragaman hayati, kearifan ekologis dalam pemanfaatan alam, kepedulian terhadap kerusakan lingkungan, dan tindakan pelestarian lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel merepresentasikan alam sebagai ruang belajar yang membentuk pengalaman ekologis tokoh-tokohnya. Kesadaran ekologis dibangun melalui integrasi nilai-nilai spiritual seperti syukur, amanah, dan tanggung jawab sebagai khalifah, yang diperkuat dengan penghargaan terhadap keanekaragaman hayati, pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, kritik terhadap berbagai bentuk kerusakan lingkungan, serta dorongan untuk melakukan tindakan nyata berupa penyelamatan hutan, reboisasi, dan kerja sama sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai ekopedagogis dalam Petualangan Si Boleh disajikan secara kontekstual melalui pengalaman petualangan sehingga pembelajaran lingkungan berlangsung secara alami. Penelitian ini memperlihatkan bahwa sastra anak memiliki potensi sebagai media pendidikan lingkungan yang efektif sekaligus memperkaya pengembangan kajian ekopedagogi dalam pendidikan Islam.  
Implementasi Kurikulum Pesantren Muadalah dalam Bingkai Kurikulum Merdeka: Analisis Kebijakan dan Adaptasi Pedagogis Achmad Muharam Basyari; Ela Komala; Anie Rohaeni
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah artikel on progres
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/hbkxyp77

Abstract

Integrasi nilai positif Kurikulum Merdeka ke dalam ekosistem pesantren muadalah merupakan kondisi ideal pendidikan holistik, namun realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan berupa dilema pedagogis dan beban kognitif guru dalam mengadaptasi pembaruan tersebut ke dalam struktur tradisional yang kaku. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana guru memaknai dan mengadaptasi kebijakan kurikulum dalam praktik sehari-hari, serta merumuskan model implementasi kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif interpretif dengan desain multiple case study, data dikumpulkan dari Pondok Pesantren Al Basyariyah dan Darussalam melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi, dengan instrumen berbasis kerangka Policy Enactment dan Pedagogical Content Knowledge (PCK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak mengadopsi label administratif Kurikulum Merdeka, kedua pesantren secara organik menyerap esensinya—seperti pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis projek—ke dalam kurikulum terpadu 24 jam melalui praktik otentik seperti Fathul Kutub dan Amaliyah Tadris. Guru bertransformasi menjadi navigator kultural yang memanfaatkan kekuatan ekologi relasional untuk menavigasi keterbatasan regulasi makro. Temuan ini berkontribusi pada khazanah keilmuan dengan membuktikan konsep Third Space (hibriditas), di mana modernitas pedagogis dan tradisi salaf-khalaf berpadu harmonis tanpa kehilangan jati diri. Implikasi penelitian menegaskan perlunya pemberian otonomi epistemologis bagi pesantren untuk mengakui asesmen kinerja tradisional sebagai ekuivalen kompetensi nasional yang sah. Selain itu, negara perlu menyediakan dukungan sistemik guna mencegah kelelahan profesional guru, alih-alih memaksakan standarisasi administratif yang kaku yang berpotensi menggerus identitas spiritual lembaga.
Kompetensi Literasi Digital Mahasiswa PIAUD pada PTKIN dan PTKIS Tepi Mulyaniapi
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah (Artikel on progres)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/hk6z2t31

Abstract

Penelitian fenomenologi ini mengeksplorasi profil kompetensi literasi digital 13 mahasiswa PIAUD dari IAI Persis Bandung dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui wawancara mendalam. Menggunakan kerangka DigComp 3.0 (mengakses, menseleksi, memproduksi, mendistribusikan), temuan mengungkapkan kompetensi level fungsional berkembang dengan distribusi asimetris: kuat dalam mengakses dan memproduksi (literasi alat), sedang dalam menseleksi-mengevaluasi, dan lemah dalam jejaring profesional dan praktik level sistem (literasi sistem). Nilai-nilai Islam—tabayyun (verifikasi), amanah (tanggung jawab), mas'uliyyah (akuntabilitas), 'adl (keadilan), syura (musyawarah), dan qudwah hasanah (keteladanan)—berfungsi sebagai mediator etis yang khas di semua dimensi, mengubah literasi digital dari instrumental menjadi praktik etis-bermakna. Prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP) terintegrasi secara intuitif. Kesenjangan utama adalah antara literasi alat dan literasi sistem, dengan implikasi pengembangan kurikulum yang menekankan sistem-level thinking, formalisasi pemahaman DAP, dan dukungan institusional. Praktik lapangan (PPL) menjadi momen transformatif. Konvergensi kerangka nilai Islam di kedua institusi menunjukkan literasi digital dalam pendidikan tinggi Islam secara fundamental dimediasi oleh nilai-nilai etis dan keagamaan. 
Fungsi Heterotopia Masjid Al Lathiif dalam Aktivitas Dakwah di Kota Bandung Dede Irawan; Dede Lukman
AL-IBANAH Vol. 11 No. 1 (2026): Journal Al-Ibanah
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/5prn9642

Abstract

This article examines Al-Lathiif Mosque in Bandung as a heterotopic space that reflects the intersection of the sacred and the profane dimensions within urban society. Using a descriptive qualitative approach, the study explores how the mosque functions not only as a place of worship but also as a social, psychological, and cultural arena that responds to the complex needs of urban residents. The findings reveal that Al-Lathiif Mosque serves as an alternative space that offers inner tranquility, a slower rhythm of time, and an atmosphere that alleviates the pressures of urban life. At the same time, the mosque has evolved into an inclusive community space where diverse groups interact beyond rigid ideological boundaries. The mosque becomes a meeting point across identities while symbolizing reconciliation between tradition and modernity. These dynamics affirm that Foucault’s concept of heterotopia remains relevant for understanding the role of urban mosques as spaces that reconfigure the spiritual, social, and cultural experiences of urban communities.
Sekolah Rakyat Sebagai Kebijakan Pendidikan Afirmatif: Analisis Strategi Pengentasan Dan Pemutusan Rantai Kemiskinan Antargenerasi Naih Nurjanah; Ahmad Syahid; Sarbini Sarbini; Supiana Supiana
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah (Artikel on progres)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/axwcf480

Abstract

Kemiskinan dan ketimpangan kesempatan pendidikan merupakan persoalan struktural yang saling berkaitan dan berpotensi memperkuat reproduksi kemiskinan antargenerasi di Indonesia. Dalam konteks tersebut, Program Sekolah Rakyat hadir sebagai kebijakan pendidikan afirmatif yang diarahkan untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem melalui penyediaan pendidikan formal berbasis asrama dan dukungan layanan yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis Program Sekolah Rakyat sebagai kebijakan pendidikan afirmatif dalam strategi pengentasan kemiskinan dan pemutusan rantai kemiskinan antargenerasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis kebijakan pendidikan berbasis studi kepustakaan dan analisis dokumen. Analisis kebijakan menggunakan kerangka William N. Dunn, analisis implementasi menggunakan model George C. Edward III, sedangkan mekanisme pendidikan dalam peningkatan mobilitas sosial dianalisis melalui Human Capital Theory. Data penelitian bersumber dari regulasi, dokumen kebijakan pemerintah, data statistik, laporan kelembagaan, dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat memiliki potensi sebagai kebijakan afirmatif melalui perluasan akses pendidikan, penyediaan lingkungan belajar yang lebih terjamin, dan penguatan modal manusia kelompok miskin dan miskin ekstrem. Namun, efektivitas kebijakan sangat bergantung pada komunikasi kebijakan, kecukupan sumber daya, komitmen pelaksana, tata kelola birokrasi, serta integrasi lintas sektor. Penelitian menyimpulkan bahwa Sekolah Rakyat berpotensi menjadi instrumen strategis dalam mengurangi ketimpangan pendidikan dan membuka jalur mobilitas sosial-ekonomi, tetapi dampaknya terhadap pemutusan kemiskinan antargenerasi memerlukan implementasi yang berkelanjutan dan evaluasi jangka panjang berbasis bukti.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS MELALUI PENGEMBANGAN WISATA ALAM NIAGARA JONGGOL (BHUTAN VAN JAVA) Ramdan Junaeni; Herman
AL-IBANAH Vol. 11 No. 1 (2026): Journal Al-Ibanah
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/yy2wcy82

Abstract

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di kawasan perdesaan sering kali dihadapkan pada tantangan kerentanan ekonomi agraris dan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat lokal, proses pengembangan kapasitas dan kesadaran kritis warga, serta tingkat kemandirian komunitas dalam mengelola keberlanjutan ekowisata alam Niagara Jonggol ("Bhutan van Java") di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Community Based Research (CBR). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, studi dokumentasi, dan wawancara mendalam bersama pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemandu keselamatan (river rescue), pelaku usaha kuliner perempuan, serta tokoh masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Partisipasi masyarakat terbentuk secara organik (bottom-up) dan inklusif, dengan pembagian peran yang fungsional pada tahap operasional dan pemanfaatan hasil ekonomi secara berkeadilan, meskipun pada tahap perencanaan makro masih didominasi pengurus inti; (2) Aktivitas ekowisata berfungsi sebagai media experiential learning yang berhasil meningkatkan keterampilan hospitality, komunikasi publik, dan mitigasi bencana air, sekaligus menumbuhkan kesadaran kritis (critical consciousness) warga dalam merawat ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipamingkis; (3) Komunitas lokal memiliki tingkat kemandirian (community resilience) yang tinggi dalam membiayai operasional harian secara swadaya dan menyelesaikan konflik internal melalui musyawarah adat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan modal sosial dan kepemilikan penuh masyarakat menjadi fondasi utama keberlanjutan ekowisata perdesaan.

Page 10 of 11 | Total Record : 102