cover
Contact Name
Devi Armita
Contact Email
devi.armita@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6285398401602
Journal Mail Official
filogeni@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/filogeni/
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi
ISSN : -     EISSN : 27765784     DOI : https://doi.org/10.24252/filogeni
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi adalah jurnal peer-review dan akses terbuka yang mempublikasikan karya ilmiah orisinil berkaitan dengan kemajuan biologi. Jurnal ini mengundang artikel penelitian, komunikasi singkat, tinjauan ilmiah yang kritis dan komprehensif mengenai Biologi, khususnya dalam bidang-bidang berikut: Biologi yang terintegrasi dengan Islam Keanekaragaman hayati tropis dan konservasi Biosistematika spesies tropis Biokimia dan fisiologi spesies tropis Studi ekologi dan perilaku spesies tropis Genetika tropis, bioteknologi, dan bioinformatika
Articles 120 Documents
Analisis Variasi Morfologi Daun pada Capsicum annuum L. yang Diinduksi Mutagen EMS Harahap, Isnaini Hasyim; Elimasni, Elimasni; Hannum, Saleha
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.57097

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman holtikultura bernilai ekonomi tinggi karena terdapat kandungan biomolekul penting di dalamnya. Upaya peningkatan keragaman genetik dapat dilakukan melalui induksi mutasi dengan menggunakan mutagen kimia seperti etil metana sulfonat (EMS). Mutasi dapat menyebabkan perubahan pada daun tanaman cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh induksi mutagen EMS terhadap variasi morfologi daun cabai merah (C. annuum L. Cv. Tanjung 2). Morfologi daun yang diamati meliputi panjang daun dan lebar daun. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan induksi mutasi pada biji cabai merah menggunakan EMS dengan konsentrasi 0,00% (M0); 0,10% (M1); 020% (M2); 0,30% (M3); 0,40% (M4); 0,50% (M5); 0,60% (M6); dan 0,70% (M7). Selanjutnya menanam cabai, dan melakukan analisis fenotipik dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan variasi antar perlakuan secara deskriptif namun tidak signifikan secara statistik. Panjang daun berkisar antara 9,32 cm (M7) hingga 10,66 cm (M2). Lebar daun berkisar antara 3,96 cm (M7) hingga 4,58 cm (M4). Panjang daun dan lebar daun memiliki korelasi yang sangat kuat dan signifikan. Berdasarkan analisis klaster M0, M1, M2, M3, M4, dan M6 membentuk satu klaster besar sedangkan M5 dan M7 membentuk klaster terpisah. Temuan ini memberikan dasar bagi penelitian lebih lanjut dalam pemuliaan tanaman, studi genetik, dan aplikasi dalam pertanian, terutama dalam meningkatkan keragaman genetik cabai merah melalui pendekatan mutagenesis.
Profil Resistensi Antibiotik Escherichia coli dari Peternakan Ayam di Bantul, Yogyakarta Wulandari, Endah Retno; Astuti, Sutan Nur Chamida Tri; Falih, Afifah Nurul; Aji, Oktira Roka
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.57307

Abstract

Resistensi antibiotik merupakan isu kesehatan penting yang berkaitan dengan penyebaran bakteri resisten dari peternakan ayam ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Escherichia coli dari perternakan ayam serta menentukan profil kepekaan antibiotiknya. Sampel diambil dari peternakan ayam di Bantul, Yogyakarta. Penelitian diawali dengan isolasi bakteri E. coli, diikuti pewarnaan Gram serta identifikasi molekuler dengan gen uspA. Uji sensitivitas antibiotik dilakukan menggunakan metode Kirby-Bauer terhadap antibiotik ampisilin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Hasil menunjukkan bahwa 4 dari 8 isolat (A2, A4, B2, B3) merupakan positif bakteri E. coli, ditandai dengan koloni hijau metalik pada EMBA dan pita DNA sepanjang 884 bp pada hasil elektroforesis gen uspA. Uji resistensi menunjukkan seluruh isolat resisten terhadap ampisilin (100%), sedangkan terhadap tetrasiklin dan kloramfenikol menunjukkan hasil yang lebih rendah (50%). Temuan ini mengindikasikan adanya potensi penyebaran bakteri resisten dari peternakan ayam sehingga diperlukan pengawasan penggunaan antibiotik dan pemantauan resistensi secara berkala.
Analisis Indeks Kualitas Air di Analisis Indeks Kualitas Air di Sungai Bako Bandar Lampung Hutauruk, Elisa Marcelina; Tugiyono, Tugiyono; Farisi, Salman
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.56653

Abstract

Sungai merupakan jalur pengaliran air alami atau buatan dari hulu hingga hilir. Kualitas air sungai dapat mengalami perubahan dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Sungai Bako merupakan sungai yang melintasi pemukiman padat penduduk. Meningkatnya aktivitas manusia, perubahan pola pemanfaatan lahan, dan semakin beragamnya pola hidup masyarakat yang menghasilkan limbah domestik menjadikan beban pencemar di sungai semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Indeks Kualitas Air (IKA) berdasarkan parameter fisika, kimia, dan biologi. Titik pengambilan sampel berada di Sungai Bako pada hulu, tengah, dan hilir sungai. Sampel air dianalisis dengan delapan parameter, yaitu pH, DO, BOD, COD, TSS, nitrat, T-fosfat, dan Escherichia coli. Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Pencemaran (IP), Sungai Bako pada 3 stasiun penelitian termasuk dalam kategori tercemar ringan dengan nilai IP pada masing-masing stasiun yaitu 2,075 (stasiun 1), 2,075 (stasiun 2), dan 2,376 (stasiun 3). Hasil analisis nilai IKA pada Sungai Bako yaitu tercemar sedang dengan nilai sebesar 50.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Terhadap Peningkatan Nafsu Makan dan Berat Badan Mencit (Mus musculus) ICR Jantan Kahby, Icha Ayunita; Zulkarnain, Zulkarnain; Sijid, St. Aisyah; Hajrah, Hajrah
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.56859

Abstract

Nafsu makan berperan penting dalam pencapaian berat badan yang optimal, selain dipengaruhi oleh kebutuhan nutrisi. Anak-anak yang mengalami gangguan nafsu makan dapat diberikan obat penambah nafsu makan (appetite stimulant) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan asupan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum L.) dalam meningkatkan nafsu makan dan berat badan mencit (Mus musculus) ICR jantan sebagai hewan uji serta mengetahui dosis efektif. Pada penelitian ini digunakan lima kelompok perlakuan yaitu kontrol positif (sari temulawak Herbadrink), kontrol negatif (aquades), dan tiga dosis ekstrak kemangi (50, 100, dan 200 mg/kgBB). Perlakuan diamati selama 21 hari dengan pemberian pakan 15 gram/hari dan dilakukan pengukuran sisa pakan, konsumsi pakan dan pengukuran berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kemangi menunjukkan potensi dalam meningkatkan konsumsi pakan mencit terutama pada dosis 100 dan 200 mg/kgBB. Meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik, tren yang konsisten mengindikasikan bahwa ekstrak ini dapat berperan sebagai stimulan nafsu makan alami. Namun efektivitasnya dalam mendukung pertambahan berat badan masih memerlukan penelitian lanjutan.
Analisis Komparatif Penilaian Kualitas Air di Sungai Tangka menggunakan Indeks BMWP ASPT dan Indeks EPT Nurman, Nurman; Muspa, Ade; Turrahmi, Mawadda; Suhartono, Suhartono
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.56925

Abstract

Analisis kualitas air sungai dengan menggunakan bioindikator sangat penting dilakukan dengan menggunakan indeks yang tersedia guna memahami hubungannya dengan perubahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas indeks BMWP ASPT dan indeks keanekaragaman EPT dalam mengevaluasi kualitas air Sungai Tangka, menganalisis kesesuaian dan keterkaitan hasil dari kedua indeks tersebut dan menyediakan data komprehensif tentang kualitas air berdasarkan kedua indeks. Pengambilan sampel dilakukan pada 5 stasiun dengan total 45 titik sampling di Sungai Tangka. Makroinvertebrata yang teridentifikasi dianalisis dengan menggunakan indeks BMWP ASPT dan indeks keanekaragaman makroinvertebrata untuk mengevaluasi kualitas air Sungai Tangka. Hasil kategorisasi kualitas air dari kedua indeks akan dibandingkan secara deskriptif untuk menilai kesesuaiannya dengan kondisi Sungai Tangka. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Tangka masih sangat bersih dan tidak tercemar. Kedua indeks menunjukkan hasil yang konsisten dengan mayoritas stasiun diklasifikasikan dalam kategori sangat baik berdasarkan skor ASPT (>6) dan jumlah takson EPT (>7 famili). Namun, di stasiun 1 yang menujukkan nilai kelimpahan EPT terendah, skor ASPT tetap menunjukkan kualitas sangat baik yang mengindikasikan bahwa BMWP-ASPT lebih inklusif karena mempertimbangkan semua famili makroinvertebrata, sedangkan indeks EPT lebih sensitif hanya terhadap ordo tertentu.
Respons fotosintetik padi ketan hitam (Oryza sativa var. glutinosa) terhadap cekaman kekeringan yang diinduksi oleh PEG Sudiarti, Diah; Agustin, Nanda Dewi; Muslim, Imam Bukhori
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.56991

Abstract

Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor abiotik utama yang mengganggu efisiensi fotosintesis tanaman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons fotosintetik padi ketan hitam (Oryza sativa var. glutinosa) terhadap cekaman kekeringan yang diinduksi oleh PEG 6000 secara in vitro, serta menilai efektivitas hormon asam absisat (ABA), strigolaktone (SL), dan kombinasinya dalam fase recovery. Parameter yang diamati meliputi kadar klorofil a dan b, rasio klorofil a/b, total klorofil, kandungan karoten, serta kerapatan dan pembukaan stomata. Perlakuan terdiri dari kontrol (MS0), PEG 6000 (8%), dan recovery dengan hormon ABA, SL, serta kombinasi ABA+SL. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan PEG menurunkan kadar total klorofil (−37,1%) dan karoten (−46,6%) secara signifikan dibandingkan kontrol, serta menurunkan persentase stomata terbuka hingga 5,55%. Pemulihan dengan kombinasi ABA dan SL mampu meningkatkan kembali pembukaan stomata hingga 20%, serta menstabilkan rasio klorofil a/b dan kandungan karoten. Kombinasi hormon menunjukkan efek sinergis dalam mengoptimalkan adaptasi morfofisiologis tanaman terhadap cekaman osmotik. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi mitigasi kekeringan berbasis hormon dan potensi peningkatan ketahanan fisiologis padi lokal.
Identifikasi dan pola sebaran makroalga di Perairan Pantai Pasir Putih Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan Riyanti, Indra; Makmur, Kurnia; Latif, Ulfa Triyani A.; Rustam, Aswar
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.57026

Abstract

Makroalga merupakan organisme yang memiliki ukuran besar dan hidup di perairan, baik laut maupun air tawar dengan menempel pada substrat seperti batu, pasir, atau karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis serta pola persebaran makroalga yang didapatkan di Perairan Pantai Pasir Putih Kabupaten Wajo. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode purposive sampling dengan pengambilan sampel pada 3 stasiun dan sampel yang didapatkan selanjutnya diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 spesies makroalga yang ditemukan di Perairan Pantai Pasir Putih Kabupaten Wajo. Terdiri dari 8 jenis alga merah (Rhodophyceae), 2 jenis alga coklat (Phaeophyceae) dan 3 jenis alga hijau (Chlorophyceae). Pada stasiun I (substrat berbatu) terdapat 41 individu, stasiun II (substrat berpasir) sebanyak 18 individu, dan stasiun III (substrat berbatu campur berpasir) terdapat 34 individu. Makroalga yang dominan adalah alga merah jenis Eucheuma spinosum dan E. cottoni, sedangkan makroalga yang jarang ditemukan adalah Corallina sp. Pola sebaran makroalga yang didapatkan dikategorikan mengelompok dan acak. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik substrat berperan penting dalam menentukan kelimpahan dan komposisi spesies makroalga, serta memberikan dasar bagi upaya konservasi dan pemanfaatan sumber daya hayati pesisir secara berkelanjutan di wilayah Kabupaten Wajo.
Keanekaragaman Jenis Ordo Orthoptera (Belalang) di Kawasan Sumber Sira Kabupaten Malang Akhsani, Farid; Karomah, Alya; Fitria, Della; Khoirun Nisa', Dinda; Qichmatul Lailia, Elil; Arta Mevia, Nadila; Fardhani, Indra
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.57105

Abstract

Kawasan wisata Sumber Sira memiliki potensi ekosistem alami yang penting untuk dikaji keanekaragaman hayatinya guna mengetahui dampak aktivitas manusia terhadap komunitas fauna lokal. Salah satunya adalah belalang dari Ordo Orthoptera. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis keanekaragaman belalang (Ordo Orthoptera) di Kawasan Sumber Sira, Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan pada April 2025 menggunakan survei lapangan dengan teknik line transect dan jaring serangga di tiga plot. Hasil identifikasi menunjukkan lima spesies belalang dari ordo Orthoptera, yaitu Oxya japonica, Oxya chinensis, Valanga nigricornis, Phlaeoba antennata, dan Atractomorpha crenulata. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener sebesar 1,161 menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang, dengan dominasi oleh O. japonica. Keanekaragaman belalang di Sumber Sira tergolong sedang, dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Selain itu kondisi vegetasi yang kurang beragam dan aktivitas manusia menyebabkan dominasi spesies tertentu serta distribusi yang tidak merata, berisiko menurunkan populasi dan mengancam keberadaan spesies lokal.
Keanekaragaman Capung sebagai Bioindikator Air di Joyosuko, Tombro, dan Bedengan Bariroh, Afifatul; Azzahra, Andyan Fatimah; Afyna, Dewi Anggun; Ani, Fifi Nur Qur; Wardah, Naylil; Fardhani, Indra; Akhsani, Farid
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.57130

Abstract

Capung (Odonata) berperan penting dalam ekosistem sebagai predator alami dan bioindikator kualitas perairan. Penelitian ini mengkaji keanekaragaman dan persebaran capung di tiga habitat berbeda di Kota Malang yaitu Sungai Joyosuko Metro, Persawahan Tombro, dan Bumi Perkemahan Bedengan. Pengamatan dilakukan pada April–Mei 2025 melalui penangkapan langsung menggunakan insect net selama satu jam di tiap lokasi pada pagi, siang, dan sore hari. Identifikasi spesies dibantu oleh aplikasi Picture Insect dan panduan lapangan, dengan analisis menggunakan indeks Shannon-Wiener dan indeks kemerataan. Sebanyak enam spesies capung (54 individu) dari subordo Anisoptera dan Zygoptera ditemukan. Pantala flavescens mendominasi di Joyosuko, sementara empat spesies Zygoptera ditemukan di Bedengan. Indeks keanekaragaman tertinggi tercatat di Bedengan (H’ = 0,943), diikuti Joyosuko (H’ = 0,366) dan Tombro (H’ = 0,264), seluruhnya dalam kategori keanekaragaman rendah. Hasil ini menegaskan peran capung sebagai bioindikator air dan pentingnya pelestarian habitat perairan untuk keberlanjutan ekosistem.
Kajian Etnozoologi Belut Sawah (Monopterus albus) sebagai Obat Tradisional Anemia oleh Masyarakat Tomodi di Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo Harun, Hadriyan Rukmana; Zulkarnain, Zulkarnain; Rukmana, Rusmadi; Amrullah, Syarif Hidayat; Dirhamzah, Dirhamzah
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 5 No 2 (2025): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v5i2.57488

Abstract

Belut sawah (Monopterus albus) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang kerap dimanfaatkan sebagai sumber protein, serta dipercaya memiliki khasiat dalam mengobati berbagai penyakit, termasuk anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji cara masyarakat Tomodi memperoleh, mengolah, dan memahami khasiat belut sawah, serta menelusuri upaya konservasinya. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode snowball sampling, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, pengukuran morfometrik belut sawah, serta studi literatur mengenai kandungan senyawa yang terdapat dalam belut sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat (50%) memperoleh belut sawah dengan menangkap langsung di sawah, sementara 30% membelinya di pasar dan 20% memancingnya di danau. Dalam pengolahan sebagai obat tradisional anemia, responden paling banyak memasak belut (45%), diikuti dengan memanggang (20%), merebus (15%), mengukus (10%), dan mengasapi (10%). Pengetahuan tentang khasiat belut sawah umumnya diperoleh secara turun-temurun (60%), dari kerabat atau tetangga (30%), serta dari pengalaman pribadi (10%). Hingga saat ini, belum terdapat inisiatif konservasi belut sawah di wilayah tersebut. Eksploitasi yang berlebihan diduga menjadi penyebab utama menurunnya populasi belut sawah di habitat alaminya.

Page 11 of 12 | Total Record : 120