cover
Contact Name
Teguh Wiyono
Contact Email
indexsasi@apji.org
Phone
+6285885852706
Journal Mail Official
indexsasi@apji.org
Editorial Address
Jl. Waru no. 15 Rawamangun Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA
Published by CV ALIMS PUBLISHING
ISSN : 29855209     EISSN : 29855217     DOI : https://doi.org/10.59024/jipa.v1i2.87
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA (JIPA)diterbitkan untuk mengembangkan dan memperkaya diskusi ilmiah bagi para sarjana dan penulis yang menaruh minat pada isu-isu sosial-budaya di Indonesia. Redaksi menerima artikel berbasis teori dan penelitian. Cakupan keilmuan Jurnal ini meliputi Pendidikan, Antropologi Sosialbudaya, Sastra, Linguistik Terapan, Sejarah, Seni, Arsitektur dan Perencanaan Kota dan Wilayah, Agama dan Filsafat. terbit 1 tahun 4 kali (Januari, April, Juli dan Oktober)
Articles 194 Documents
Tapuk Manggis Karya I Ketut Gede Asnawa Sebagai Sebuah Karya Seni Musik Gong Kebyar Kreasi Bali : Sebuah Mode Kreativitas dalam Estetika Tabuh Lima Lelambatan I Komang Alit Nova Adi Suastawan
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.1812

Abstract

Perkembangan seni karawitan Bali menunjukkan adanya transformasi kreatif yang tetap berpijak pada tradisi musikal Bali. Salah satu bentuk perkembangan tersebut tampak pada hadirnya komposisi Tabuh Lima Lelambatan Kreasi Tapuk Manggis karya I Ketut Gede Asnawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komposisi, nilai estetika, dan bentuk kreativitas dalam karya tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis dilakukan menggunakan teori etnomusikologi, teori estetika, dan teori kreativitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tapuk Manggis merupakan pengembangan dari tradisi lelambatan pegongan yang tetap mempertahankan struktur dasar seperti gegineman, pengrangrang, pengawak, pengisep, dan pengecet, namun mengalami pengembangan pada pola ritmis, dinamika musikal, ornamentasi, serta eksplorasi teknik permainan instrumen. Nilai estetika karya tampak pada keseimbangan tempo, dinamika, dan pengolahan suasana musikal yang terinspirasi dari metafora gerak layangan janggan. Kreativitas I Ketut Gede Asnawa terlihat melalui reinterpretasi bentuk tradisi tanpa meninggalkan pakem karawitan Bali. Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi dalam karawitan Bali dapat berlangsung melalui proses kreatif yang tetap menjaga identitas musikal tradisi. Temuan penelitian diharapkan dapat memperkaya kajian seni karawitan Bali, khususnya pada pengembangan lelambatan kreasi Gong Kebyar.
Tata Kelola Sanggar Seni Dalam Ekosistem Tari Jaipong: Studi Kasus Sanggar Galura Kencana Kabupaten Garut Gan Gan Galih Gandara
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.1813

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tata kelola sanggar seni dalam mengelola Tari Jaipong sebagai bagian dari ekosistem seni daerah, dengan studi kasus di Sanggar Galura Kencana Kabupaten Garut. Sanggar seni memiliki peran penting sebagai ruang produksi, distribusi, dan keberlanjutan seni tari tradisional yang berhadapan langsung dengan dinamika sosial, budaya, dan ekonomi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui studi literatur, analisis dokumen sanggar, serta penelaahan praktik tata kelola seni yang meliputi aspek organisasi, pengelolaan sumber daya manusia, pendanaan, fasilitas, dan jejaring kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola Sanggar Galura Kencana dibangun melalui sistem manajemen berbasis komunitas yang terintegrasi antara kegiatan pelatihan tari, pengelolaan kostum dan sarana pendukung, serta keterlibatan aktif dalam jaringan seni dan budaya lokal. Meskipun menghadapi keterbatasan dukungan pendanaan dan meningkatnya persaingan antar sanggar, Sanggar Galura Kencana mampu mempertahankan eksistensi dan keberlanjutan Tari Jaipong melalui kualitas artistik, pengalaman pengelolaan, serta strategi adaptif terhadap perkembangan ekosistem seni. Penelitian ini menegaskan bahwa tata kelola sanggar seni yang berkelanjutan menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan seni tari tradisional di tengah perubahan budaya kontemporer.
Sakral Dan Sekuler Tari Gandrung Monang-Maning Denpasar Ni Made Alit Suastiani
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.1815

Abstract

Tari gandrung merupakan tarian sakral yang sering dipentaskan dipura majapahit banjar monang-maning denpasar, serangkaian upacara piodalan dipura tersebut. Tarian ini dipentaskan pada purnama keemen nutug ketelun ( tiga hari setelah piodalan) dalam kalender bali, seiring perkembangan jaman tariaan ini mengalami pergeseran dari sakral ke propan. Permasalahannya adalah tarian yang tergolong sakral ini bisa di pentaskan di tempat umum. Tulisan ini bertujuan mengupas tuntas tentang  fenomena perubahan dari sakral ke sekuler. Metode yang digunakan dalam mengkaji permasalahan tersebut adalah metode deskriptif kualitatif. Untuk membedah permasalahan yang diajukan digunakan teori perubahaan sosial, teori struktural fungsional, teori estetika. Hasil penelitian menunjukan bahwa sakral dan sekunder tari gandrung monang-maning denpasar dapat dilihat dari tempat pertunjukan tarian gandrung tersebut dan juga dari kostum atau busana yang digunakan apa bila ditarikan dipura akan menggunakan kostum yg disakralkan dan apa bila ditarikan diluar konteks pura akan menggunakan kostum yang berupa duplikatnya
Pengaruh Artificial Intelligence Berbasis Wordwall Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Terhadap Keaktifan Belajar Siswa Immanuel Damayanto Nugroho; Aprilius Nahak; Moralman Gulo; Indah Kariawati Gulo; Krisbianto Anes
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.1865

Abstract

This research is motivated by the low level of student learning engagement, which remains a challenge in education. In class, students often tend to be passive, reluctant to ask questions, and less involved in discussions, resulting in less interactive learning. This study aims to determine the effect of Wordwall-based AI on student learning engagement and to determine the extent of this influence. The method used was quantitative research with a correlational approach. Data were analyzed using the coefficient of determination test. The results showed an R-square value of 0.394, indicating that the use of Wordwall contributed 39.4% to student learning engagement. Meanwhile, 60.6% was influenced by factors outside the research variables. Therefore, the use of Wordwall-based AI can be an alternative learning medium to increase student learning engagement.
Comparing ChatGPT’s and Teacher’s Feedback in Improving EFL Students' Narrative Writing Priskila Go; Humiras Betty Sihombing
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.1921

Abstract

The rapid advancement of artificial intelligence (AI) has created new opportunities for providing feedback in writing instruction. This study examined the effect of ChatGPT-generated feedback on students’ narrative writing performance and compared its effectiveness with teacher feedback. A quasi-experimental design was conducted with two groups of Grade XI students at SMAN 65 Jakarta. The experimental group received feedback from ChatGPT, while the control group received teacher feedback. Students completed pre-tests and post-tests consisting of narrative writing tasks assessed using Jacobs’ ESL Composition Profile Rubric. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test and Mann–Whitney U Test due to non-normal distribution. The results showed that ChatGPT-generated feedback significantly improved students’ writing performance (p < 0.05). However, no significant difference was found between the improvements achieved by the ChatGPT and teacher-feedback groups (p = 0.285). These findings indicate that ChatGPT can be a useful supplementary tool in writing instruction, while teacher feedback remains essential for providing personalized guidance.
Kesiapan Guru PAI dalam Evaluasi Pembelajaran Berbasis Cinta Isnawati Nur Afifah Latif; Rifa‘Afuwah; Muslimin Muslimin; Abdulloh Safiq; Rr. Kusuma Dwi Nur Ma'rifati
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.1975

Abstract

This study describes the readiness of Islamic Education teachers to implement love-based assessment in madrasahs in East Java. The study used a descriptive quantitative survey involving 24 Islamic Education teachers from three madrasahs selected through purposive sampling based on level, location, and institutional status. Data were collected using a 40-item Likert questionnaire covering pedagogical assessment competence, conceptual understanding of love-based assessment, affective readiness, and assessment instrument availability. The instrument showed strong reliability with a Cronbach's Alpha value of 0.87, and the data were analyzed using percentages, means, and readiness categories. The findings show that teachers' overall readiness reached 68.7 percent, which falls into the moderately ready category. Urban public madrasahs obtained higher readiness scores than a rural private madrasah, while the availability of affective and spiritual assessment instruments became the weakest dimension. These results imply that love-based assessment in Islamic Education needs systematic professional development, contextual assessment instruments, and stronger institutional support so that cognitive, affective, social, and spiritual learning outcomes can be evaluated more humanely.
Sanggar Tari Sebagai Lembaga Pendidikan Nonformal Dalam Pelestarian dan Pengembangan Tari Jaipongan Shafira Rhamadhan; Jaeni Jaeni; Yahfenel Evi Fussalam
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.2035

Abstract

Sanggar tari merupakan salah satu bentuk pendidikan nonformal yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi melalui proses pembelajaran dan regenerasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Sanggar Getar Pakuan Bogor sebagai lembaga pendidikan seni nonformal dalam pelestarian dan pengembangan tari Jaipongan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sanggar Getar Pakuan tidak hanya berfungsi sebagai ruang latihan pertunjukan, tetapi berkembang menjadi lembaga pendidikan seni yang memiliki sistem pembelajaran terstruktur. Sistem pembelajaran dilakukan melalui tahapan kelas berdasarkan kemampuan peserta didik, mulai dari tingkat pemula hingga tingkat mahir. Melalui sistem tersebut, sanggar berperan dalam membangun kompetensi teknik tari, pemahaman budaya, serta proses regenerasi penari Jaipongan. Dengan demikian, Sanggar Getar Pakuan memiliki kontribusi penting sebagai ruang pendidikan nonformal dalam mempertahankan keberlanjutan seni tari Sunda.
Meningkatkan Keterlibatan Orang Muda Katolik dalam Liturgia di Stasi Santo Petrus P. Nauli Selayang Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai Natalia Suarni Sijabat; Tri Chandra Fajariyanto
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.2049

Abstract

Catholic Youth (OMK) is an integral part of the Church that has a strategic role in supporting the sustainability of Church life and ministry. OMK involvement in the liturgy is one form of real participation in realizing the calling as members of the Church. However, based on the phenomenon found at the St. Petrus Pardomuan Nauli Selayang Station, Mary Mother of Eternal Help Parish, Binjai, OMK involvement in liturgical services is still relatively low. This study aims to describe the involvement of Catholic Youth in the liturgy and identify efforts that can be made to increase this involvement. This study uses a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation techniques involving OMK mentors, station administrators, and OMK members as research informants. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions, while the validity of the data was tested using source triangulation and technical triangulation. The results of the study are expected to provide an overview of the forms of involvement of OMK in liturgical services as lectors, psalmists, and conductors, as well as reveal efforts to increase involvement through catechesis, strengthening friendships, faith accompaniment, and ongoing development.  
Upaya Meningkatkan Partisipasi Orang Muda Katolik dalam Ibadat tanpa Imam Hari Minggu di Stasi St. Stefanus Kimakamak Sisilia Ernesliana Kela Kamolen; Scolastika Lelu; Benedikta Yosefina Kebingin
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.2054

Abstract

The participation of Catholic Youth (OMK) in Church liturgy is essential for supporting the Church’s mission and strengthening the faith of the congregation. In stations where the Eucharist cannot be celebrated every Sunday due to a shortage of priests, the Priestless Service becomes an important form of worship while providing opportunities for lay people, including OMK, to take active roles. However, observations indicate that OMK participation in the Priestless Service at St. Stefanus Kimakamak Station, Sta. Maria Goreti Waiwadan Parish, remains limited. This study aims to describe OMK participation, identify factors influencing their involvement, and formulate strategies to enhance their participation. A qualitative approach with a case study design was employed. The participants consisted of ten informants, including four OMK members, the OMK Chairperson, the Station Chairperson, and four congregation members. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that OMK participate as worship leaders, lectors, psalmists, and prayer leaders, although these roles are still dominated by a limited number of active members. Internal factors affecting participation include self-confidence, motivation to serve, faith awareness, and responsibility, while external factors include limited liturgical guidance, digital media influence, and an unsupportive social environment. Participation can be strengthened through liturgical training, faith mentoring, recollections, public speaking training, equal service opportunities, and regular evaluations. Continuous guidance is essential to foster sustainable youth participation and support the regeneration of Church ministers at the station level.
Partisipasi Keluarga Katolik melalui Kolekte sebagai Bentuk Kepedulian Sosial dalam Gereja Sinodal di Stasi St. Yohanes Pembaptis Wailolong Hendrikus Boli; Petrus Tukan; Skolastika Lelu
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.2067

Abstract

This study examines Catholic family participation through offertory collections as a form of social concern within the Synodal Church at St. John the Baptist Wailolong Outstation. The study was motivated by the need to understand how participation in offertory collections reflects the values of communion, participation, and mission in the life of the Church. A descriptive qualitative approach was employed, involving the parish priest, the outstation council chairperson, the outstation treasurer, the Small Christian Community (KBG) leader, and Catholic parents as research participants. Data were collected through observations, interviews, and documentation and analyzed descriptively. The findings indicate that offertory collection is understood not only as a liturgical obligation but also as an expression of faith, gratitude, solidarity, and social responsibility. Family participation is demonstrated through active involvement in the Eucharistic celebration, voluntary contributions according to each family's capacity, and the early formation of children in the practice of giving. The study implies that transparent management of offertory collections strengthens trust, encourages active participation, reinforces solidarity, and promotes shared responsibility in building a Synodal Church.