cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Cabai Merah (Capsiccum annum L.) Pada Berbagai Dosis Pupuk NPK. Muhammad Arif Alfarizi; Jumini Jumini; Syamsuddin Syamsuddin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.905 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20899

Abstract

Abstrak.  Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh varietas dan dosis pupuk Npk pada pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 20 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan dan setiap unit percobaan terdiri atas 3 tanaman sehingga jumlah total yang digunakan yaitu 180 tanaman. Adapun parameter yang diteliti dalam penelitian diantaranya tinggi tanaman 15, 30 dan 45 HSPT, diameter batang 15, 30 dan 45 HSPT, jumlah cabang produktif, berat buah, jumlah buah pertanaman, panjang buah dan potensi hasil. Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya adanya interaksi antara pemberian dosis pupuk NPK oleh berbagai varietas cabai yang di ujikan. Hal ini terlihat dari parameter tinggi tanaman umur 45 HSPT, jumlah buah pertanaman, berat buah pertanaman, panjang buah pertanaman dan potensi hasil (ton ha-1). Interaksi terbaik secara keseluruhan terdapat pada varietas PM 999 F1 dengan pemberian dosis pupuk NPK 250 kg ha-1.Growth and Yield Of Several Varieties of Red Chili (Capsicum annuum L.) at Various Doses of NPK Fertilizer Abstrak.  The purpose of this study was to determine the effect of varieties and doses of Npk fertilizer on the growth and yield of red chili plants. The study was conducted using a factorial randomized block design (RAK) with 20 treatment combinations and 3 replications and each experimental unit consisted of 3 plants so that the total number used was 180 plants. The parameters studied in this study included plant heights of 15, 30 and 45 HSPT, stem diameters of 15, 30 and 45 HSPT, number of productive branches, fruit weight, number of fruit planted, fruit length and yield potential. The results showed that there was an interaction between the doses of NPK fertilizer by the various varieties of chili tested. This can be seen from the parameters of plant height at 45 HSPT, number of fruit planted, weight of fruit planted, length of fruit planted and potential yield (ton ha-1). The best overall interaction was found in the PM 999 F1 variety with a dose of 250 kg ha-1 of NPK fertilizer.
Perilaku Harian Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi Sumatera Barat Muhammad Atha Khalis; Ulfa Hansri Ar Rasyid; Erdiansyah Rahmi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.254 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18151

Abstract

Abstrak. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) harimau sumatera masuk kedalam kategori terancam punah (Critical endangered). Harimau sumatera termasuk salah satu hewan dengan tingkat perawatan yang sulit dan sangat rawan kematian. Kematian tersebut tak terkecuali di wilayah kawasan ex-situ. Penelitian ini menggunakan metode observsi dan Focal animal sampling yang dilakukan dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. Persentase perilaku harian harimau sumatera secara umum di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) yaitu Boncel melakukan perilaku bergerak (43%), istirahat (39%), individu (12%), sosial (3%) dan agonistik (3%). Perilaku yang dilakukan Bujang Kinantan yaitu perilaku bergerak (17%), istirahat (64%), individu (14%), sosial (1%) dan agonistik (3%). Perilaku Bancah selama pengamatan yaitu perilaku bergerak (12%), istirahat (62%), individu (17%), sosial (10%) dan agonistik (0%). Perilaku Dara Jingga yaitu perilaku bergerak (5%), istirahat (79%), individu (15%), sosial (1%) dan agonistik (0%). Berdasarkan persentase perilaku harian harimau yang diperoleh dapat dilihat bahwasanya perilaku istirahat lebih dominan tinggi pada tiap individu, tetapi pada harimau Boncel memiliki persentase perilaku bergerak yang dominan, dikarenakan umur Boncel terbilang masih muda.Journal Daily Behavior of Sumatran Tigers (Panthera tigris sumatrae) at Kinantan Cultural and Wildlife Park Bukittinggi West SumatraAbstract.  According to the IUCN (International Union for Conservation of Nature), the Sumatran tiger is in the critically endangered category. The Sumatran tiger is one of the animals with a difficult level of care and is very prone to death. These deaths are no exception in the ex-situ area. This research used observation method and Focal animal sampling which was conducted from 08.00 to 17.00 WIB. The percentage of daily behavior of Sumatran tigers in general at the Kinantan Wildlife and Culture Park (TMSBK) is that Boncel engages in moving behavior (43%), resting (39%), individual (12%), social (3%) and agonistic (3%). The behavior of Bujang Kinantan is moving behavior (17%), resting (64%), individual (14%), social (1%) and agonistic (3%). Bancah's behavior during the observation was moving behavior (12%), resting (62%), individual (17%), social (10%) and agonistic (0%). Dara Jingga's behavior is moving behavior (5%), resting (79%), individual (15%), social (1%) and agonistic (0%). Based on the percentage of daily behavior of tigers obtained, it can be seen that resting behavior is more dominant in each individual, but the Boncel tiger has a dominant percentage of moving behavior, because Boncel's age is relatively young.
Pengaruh Konsentrasi Larutan Hara AB Mix Terhadap Pertumbuhan Sawi Hijau Pada Media Cocopeat Khairul Fahmi; Yusnizar Yusnizar; Sufardi Sufardi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.118 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.19009

Abstract

Abstrak. Nutrisi AB Mix merupakan campuran pupuk majemuk larut air yang mengandung sejumlah unsur hara yang penting untuk pertumbuhan tanaman terutama pada media tanpa tanah seperti cocopeat. Aplikasi larutan nutrisi AB Mix yang tepatpada media tersebut sangat penting agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi penggunaan larutan AB Mix terbaik terhadap pertumbuhan tanaman sawi hijau pada media cocopeat yang dikelola dengan sistem hiroponik. Percobaan dilakukan didalam polybag di rumah kasa menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri atas 5 perlakuan konsentrasi larutan AB Mix yaitu: 0,25, 0,50, 0,75, 1,00, dan 1,25 g/L air dan setiap perlakuan diulang 4 kali. Penyemaianbibit sawi dilakukan pada media rockwool selama seminggu, kemudian setelah bibit berumur 20 hari dipindahkan ke dalam polybag yang telah diisi media cocopeat dan setiap polybag ditanam satu bibit tanaman sawi. Pemberian larutan AB Mix dilakukan setiap hari bersamaan dengan penyiraman sampai tanaman berumur berumur 30 hari setelah tanam (HST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian larutan AB Mix dengan konsentrasi berbeda berpengaruh nyata(P0,05) terhadap pertumbuhan sawi hijau. Pemberian larutan AB Mix dengan konsentrasi0,25 hingga 1,25 g/L dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat segar tanaman sawi hijau. Pemberian larutan AB Mix dengan konsentrasi 1,25 g/L air memberikan hasil terbaik terhadap parameterpertumbuhan tanaman sawi hijau.Effect of Nutrient AB Mix Solution Concentration on Green Mustard Growth in Cocopeat MediaAbstract. AB Mix nutrition is a Mixture of water-soluble compound fertilizers that contain a number of nutrients that are important for plant growth, especially in soilless media such as cocopeat. The application of proper ABMix nutrient solution in the medium is very important for plant grow properly. This study aims to obtain the best concentration of AB Mix solution used for the growth of green mustard plants in cocopeat media managed with the hydroponic system. The experiment was conducted in a polybag in a gauze house using a complete randomized design (RAL) of a single factor consisting of 5 treatments of AB Mix solution concentration: 0.25, 0.50, 0.75, 1.00, and 1.25 g of L-1 water and each treatment was repeated 4 times. Seedling of mustards were carried out on Rockwool media for a week, then after 20 days, the seedlings were transferred into a polybag that has been filled with cocopeat media, and each polybag is planted one seedling of a mustard plant. The application of AB Mix solution was done every day along with watering until the plant is 30 days old after planting (DAP). The results showed that the administration of AB Mix solution with different concentrations had a significant effect (P0.05) on the growth of green mustard. Giving AB Mix solution with a concentration of 0.25 to 1.25 g L-1 can increase the height of the plant, the number of leaves, and the fresh weight of the green mustard plant. The application of AB Mix solution with a concentration of 1.25 g of L-1 water would gave the best results against the growth parameters of green mustard plants.
Kajian Pembuatan Permen Susu Karamel Dengan Penambahan Peppermint Oil (Mentha Piperita) Dan Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia Mngostana L) Febi Adinda; Cut Nilda; Fahrizal Zakaria
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.948 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18334

Abstract

Abstrak. Pengolahan susu menjadi permen karamel dengan penambahan ekstrak kulit manggis dan peppermint oil sebagai antioksidan dan flavor minty sangat menarik, pembuatan permen karamel susu dengan penggabungan dua komponen bahan tersebut menjadikan produk permen tersebut bernilai gizi dan menyehatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan permen karamel dengan penambahan ekstrak kulit manggis dan peppermint oil, mengetahui pengaruh penambahan peppermint oil dan ekstrak kulit manggis terhadap mutu fisik dan kimia dari permen karamel susu. Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor, yaitu penambahan ekstrak kulit manggis dan peppermint oil. Faktor penambahan ekstrak kulit manggis  terdiri dari 3 (tiga) taraf yaitu penambahan ekstrak kulit manggis 50 g (M1), 60 g (M2), 70 g (M3), faktor kedua yaitu penambahan peppermint oil  yang terdiri 3 (tiga taraf) yaitu 1 ml (P1), 2 ml (P2) dan 3 ml (P3). Nilai rata-rata aktivitas antioksidan sebesar 80,48%. Nilai rata-rata kadar air pada penelitian ini sebesar 4,82%. Nilai rata-rata gula reduksi pada penelitian ini sebesar 2,19%. Penilaian rata-rata untuk warna permen yaitu sebesar 3,69, penilaian rata-rata untuk aroma yaitu sebesar 3,58, penilaian rata-rata untuk tekstur yaitu sebesar 3,57 dan penilaian tertinggi untuk rasa yaitu sebesar 4,34. Secara statistik, hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar faktor berpengaruh nyata (P ≤0,01) terhadap antioksidan yang dihasilkan. Faktor konsentrasi ekstrak kulit manggis dan peppermint oil  berpengaruh nyata (P ≤0,05) terhadap terhadap rasa dari permen karamel. 
Komparasi keanekaragaman serangga pada tanaman cabai merah,cabai rawit dan tomat RINA YULIA; Susanna Susanna; Hasnah Hasnah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 3 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.413 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i3.17436

Abstract

Komparasi Keanekaragaman Serangga pada Tanaman Cabai Merah, Cabai Rawit dan TomatAbstrak. Pola penanaman monokultur merupakan penanaman satu jenis tanaman pada satu satuan luas lahan tertentu. Menurunnya produktivitas dari ketiga komoditi tersebut di Provinsi Aceh disebabkan oleh pengelolaan agroekosistem yang tidak berimbang antara faktor abiotik dan biotik. Salah satu penyebab ketidakseimbangan agroekosistem tersebut akibat penggunaan pestisida yang tidak sesuai dengan prinsip PHT (Pengelolahan Hama Terpadu). Perangkap yang digunakan dalam penelitian ini adalah yellow sticky trap. Peubah yang diamati meliputi populasi serangga, indeks keanekaragaman, indeks kelimpahan. Pada pertanaman cabai merah terdapat 7 ordo serangga dengan total serangga 752 individu. Pada cabai rawit terdapat 6 ordo dengan total serangga 824 individu, sedangkan pada tanaman tomat terdapat 7 ordo serangga dengan total serangga 855 individu. Ordo diptera yang paling dominan yaitu 12 famili, sedangkan ordo yang paling sedikit ditemukan pada ordo lepidoptera 1 famili. Nilai indeks keanekaragaman antar ketiga tanaman berkisaran (2,80-2,93), indeks kelimpahan antar ketiga tanaman berkisaran (00,7-00,9). Comparative Diversity Of Insects On Red Chillies, Chillies And Tomatoes Abstract. The monoculture planting pattern is the planting of one type of plant on a certain unit of land area. The decline in productivity of these three commodities in Aceh Province was caused by the unbalanced management of the agroecosystem between abiotic and biotic factors. One of the causes of the imbalance in the agroecosystem is the use of pesticides that are not in accordance with the principles of IPM (Integrated Pest Management). The trap used in this research is yellow sticky trap. The variables observed included insect population, diversity index, abundance index. In the red chili crop there are 7 insect orders with a total of 752 insects. In cayenne pepper there are 6 orders with a total of 824 insects, while in tomato plants there are 7 insect orders with a total of 855 insects. The most dominant order of Diptera was 12 families, while the least order was found in the order of lepidoptera 1 family. The diversity index value between the three plants ranged (2.80-2.93), the abundance index between the three plants ranged (00.7-00.9). 
Estimasi Kepadatan Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) di Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil (Studi Kasus : Kecamatan Singkil) Azmi Alamsyah Harahap; Erdiansyah Rahmi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 4 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.375 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i4.15880

Abstract

Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS) yaitu hutan rawa gambut yang terletak Provinsi Aceh. Wilayahnya meliputi tiga kabupaten/kota, yaitu: Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam. Tujuan penelitian ini untuk memperkirakan berapa kepadatan populasi orangutan sumatera berdasarkan total sarang yang dijumpai di Suaka Margasatwa Rawa Singkil pada bagian Kecamatan Singkil. Metode yang dipakai pada proses penelitian ini menggunakan cara metode garis transek yang berdasarkan letak posisi sarang dengan panjang jalur 1 km dengan jumlah transek sebanyak 4 transek dan jarak lebar pada sisi kiri dan sisi kanan yaitu 25 m. Antara transek satu dengan yang lain berjarak sejauh 150 m. Kepadatan populasi orangutan sumatera di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil pada bagian Kecamatan Singkil adalah 3,4 individu/km² dengan jumlah sarang 27 sarang.
Fermentasi Kopi Arabika (Caffea arabica) Menggunakan Inokulum Feses Luwak Dewi Sundari; Darwin Darwin; Ratna Ratna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.811 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13707

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari fermentasi kopi arabika (coffea arabica) dengan menggunakan inokulum feses luwak terhadap kandungan kimia yaitu kadar air, pH, glukosa, kadar kafein dan Total Asam Terlitrasi (TAT), lalu membandingkan dengan kandungan kimia dari kopi yang difermentasi alami pada hewan luwak. Pada penelitian ini terdapat tiga sampel kopi dengan perlakuan yang berbeda yaitu: R1 (Gelondong), R2 (Kulit tanduk), dan R3 (Kulit ari), masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan sehingga diperoleh 9 (sembilan) sampel. Sebelum diberikan perlakuan, sampel terlebih dahulu disortasi dari kotoran dan benda – benda asing. Selanjutnya dilakukan fermentasi biji kopi arabika sebanyak ±1000 g menggunakan inokulum feses luwak, difermentasi selama 96 jam dalam wadah toples tertutup. Parameter yang dianalisis adalah kadar air, pH, glukosa, kadar kafein dan Total Asam Terlitrasi (TAT), setelah mendapatkan hasil data diolah dengan menggunakan ANOVA. Hasil dari penelitian ini menunjukkan fermentasi dengan menggunakan inokulum feses luwak sangat berpengaruh terhadap karakteristik kimia kopi arabika, dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa hasil yang didapat meningkatkan kualitas biji kapi arabika. Fermentasi kopi arabika dengan menggunakkan inokulum feses luwak, yang paling mendekati kualitas biji kopi luwak asli adalah: pH R1-5,81, TAT R1-1,96%, kadar air R2-9,01%, glukosa R3-4,73% dan kafein R3-0,229%. Karakteristik kimia kopi luwak asli adalah sebagai berikut : pH 5,58, TAT 2,05%, kadar air 9,45%, glukosa 9,21% dan kafein 0,69%. Hasil fermentasi menggunakan inokulum feses luwak dibandingkan dengan kopi non fermentasi menunjukkan hasil yang sama seperti hasil perbandingan dengan kopi luwak asli, hanya berbeda pada TAT R2-0,78%. Karakteristik kimia kopi non fermentasi yaitu : pH 5,08, TAT 0,25%, kadar air 8,5-9,5%, glukosa 9,72% dan kafein 0,9-1,2%.(Fermentation of Arabica Coffee (Coffea arabica) Using civet Feces inoculum)Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of  arabica coffee Fermentation (arabica coffee) by using civet Feces inoculums on chemical content, which is water content, pH, glucose, caffeine content and Total Titrated Acid (TAT), then making comparisons with the chemical content of fermented coffee natural in civet animals. In this study there were three coffee samples with different treatments, namely: R1 (spindle), R2 (horn skin), and R3 (epidermis), each treatment was carried out as many as 3 replications to obtain 9 (nine) samples. Before being given treatment, the sample is first sorted from dirt and foreign objects. Then fermented arabica coffee beans as much as ± 1000 g using civet feces inoculum, fermented for 96 hours in a closed jar container. The parameters analyzed were water content, pH, glucose, caffeine content and Total Titrated Acid (TAT), after getting the results of the data were processed using ANOVA. The results of this study indicate that the fermentation using civet feces inoculums greatly influenced the chemical characteristics of Arabica coffee, in this study it could be seen that the results obtained improved the quality of Arabica coffee seeds. Fermentation of arabica coffee using civet feses inoculums, the closest to the quality of the original civet coffee beans are: pH R1-5.81, TAT R1-1.96%, water content R2-9.01%, glucose R3-4.73% and caffeine R3-0.222%. The chemical characteristics of the original civet coffee are as follows: pH 5.58, TAT 2.05%, moisture content 9.45%, glucose 9.21% and caffeine 0.69%. The results of fermentation using civet feces inoculum compared with non-fermented coffee showed the same results as the comparison with the original civet coffee, only differing at TAT R2-0.78%. Chemical characteristics of non-fermented coffee are: pH 5.08, TAT 0.25%, moisture content 8.5-9.5%, glucose 9.72% and caffeine 0.9-1.2%. 
Respon Pertumbuhan dan Produksi Melon (Cucumis melo L.) Akibat Pemangkasan dan Pengaturan Jumlah Buah Sri Rezeki Siregar; Erita Hayati; Mardhiah Hayati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.752 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i1.6419

Abstract

Melon (Cucumis melo L.) adalah tanaman hortikultura yang termasuk buah popular dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.Pemangkasan tanaman melon diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman melon sehingga produksi maksimal.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemangkasan dan pengaturan jumlah buah serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan produksi melon.Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2017. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan yaitu dengan perlakuan pemangkasan dan pengaturan jumlah buah. Faktor pertama yaitu pemangkasan yang terdiri dari 3 taraf yaitu pemangkasan batang utama pada ruas ke 15 disisakan 1 cabang lateral, pemangkasan batang utama pada ruas ke 15 disisakan 2 cabang lateral, dan pemangkasan cabang lateral. Faktor kedua yaitu pengaturan jumlah buah terdiridari 3 taraf yaitu 1 , 2 dan 3 buah per tanaman. Peubah pertumbuhan yang diamati adalah diameter batang pada umur 15, 30, dan 45 Hari SetelahTanam (HST) dan tinggi tanaman pada umur 15 dan 30 HST. Peubah hasil tanaman yang diamati adalah umur tanaman saat berbunga, jumlah bunga umur 15 dan 30 HST, umur panen, bobot buah per tanaman, diameter buah, dan potensi produksi per tanaman melon.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan berpengaruh nyata terhadap bobot buah per tanaman dan diameter buah melon, namun berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang pada umur 15, 30, dan 45 HST, tinggi tanaman pada umur 15 dan 30 HST, jumlah bunga pada umur 15dan 30 HST, umur panen, dan potensi produksi per tanaman melon. Pertumbuhan cenderung lebih baik pada pemangkasan batang utama pada ruas ke 15 dan disisakan 2 cabang lateral.Produksi lebih tinggi yaitu pada pemangkasan batang utama pada ruaske 15 dan disisakan 2 cabang lateral.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan jumlah buah berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang pada umur 15, 30, dan 45 HST, tinggi tanaman padaumur 15 dan 30 HST, jumlah bunga pada umur 15dan 30 HST, umur panen, bobot buah per tanaman, diameter buah, dan potensi produksi per tanaman melon. Pertumbuhan dan produksi cenderung lebih tinggi yaitu pada buah yang menghasilkan1 buah per tanaman.Terdapat interaksi yang tidak nyata antara pemangkasan dengan pengaturan jumlah buah terhadap semua peubah yang diamati.Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman melon tidak dipengaruhi oleh pemangkasan dan pengaturan jumlah buah. Kata kunci: Pemangkasan, Pengaturan Jumlah Buah, Melon.Melon (Cucumis melo L.) is a horticultural crop that include popular fruit and has a high economic value. Pruning of melin plants needed to improve the quality and quantity of melon plant production so that the maximum production. The purpose of this study is to determine theeffect of pruning and arranging of the number of fruit and their interaction with melon growth and production.This research was conducted at Experimental Garden of Agriculture Faculty, Syiah Kuala University of Darussalam Banda Aceh. This experiment was conducted from June to September 2017. The experimental design used in this study was Randomized Block Design (RAK) 3 x 3 factorial pattern with 3 replicates, i.e.  by pruning and arranging the amount of fruit.The first factor is pruning which consists 3 levels of pruning. The first is pruning of the main stem in segment to 15 left 1 lateral branch. The second is pruning of main stem on segment 15 left 2 lateral branch, and the last is pruning of lateral branch. The second factor is the arrangement of the number of fruit which consists of 3 levels: 1 fruit, 2 fruits, and 3 fruits each plant. The growth parameters that observed by the writer were stem diameter at 15, 30, and 45 Days After Planting (DAP) and main stem length at age 15 and 30 DAP. The variables of plant which was observed were plant age at flowering, the number of flowers aged 15,and 30 DAP, harvest age, fruit weight, fruit diameter, and production.The results showed that pruning had significant effect on fruit weight and diameter of melon fruit, but had no significant effect on stem diameter at age 15, 30, and 45 DAP, length of main stem at age 15 and 30 DAP, number of flowers at age 15 and 30 DAP, harvest age, and melon production. The best melon pruning is found on the main stem pruning on the 15th and left 2 lateral branches.The results showed that the arrangement of fruit amount had no significant effect on stem diameter at age 15, 30, and 45 DAP, length of main stem at age 15 and 30 DAP, number of flowers at age 15 and 30 DAP, harvest age, fruit weight, fruit diameter, and melon production. The best fruit that produces fruit weight tends to be greater in the treatment of 1 fruit per plant.There is no significant interaction between pruning and the arrangement of the number of fruits against all observed variables. It shows that the growth and yield of melon plats is not affected by pruning and arrangement of fruit amount. Keywords: Pruning, Arranging the Number of Fruits and Melon.
Analisis Keberdayaan Masyarakat Pasca Dimulainya Implementasi Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Aceh Besar Muhammad Zulkarnaen; Edy Marsudi; Agussabti Agussabti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.929 KB)

Abstract

Strategi Pemerintah Indonesia menetapkan undang – undang Nomor. 6 tahun 2014 tentang desa sebagai prioritas pelaksanaan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa melalui program alokasi dana desa. Masyarakat merupakan objek yang berperan penting dalam implementasi alokasi dana desa, dan desa adalah subjeknya. Penelitian ini mengkaji tentang keberdayaan masyarakat pasca impelementasi alokasi dana desa di Kabupaten Aceh Besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat keberdayaan masyarakat pasca dimulainya implementasi alokasi dana desa, dan menganalisis faktor –faktor yang berpengaruh terhadap keberdayaan masyarakat. Pengambilan data diperoleh dari wawancara (survey) terhadap 120 responden yang menetap pada kecamatan terjauh dari pusat Ibukota Provinsi yaitu Kecamatan Kota Jantho, dan pada kecamatan terdekat dari pusat ibukota Provinsi yaitu Kecamatan Darul Imarah di Kabupaten Aceh Besar. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan model Skala Likert dan uji statistik Chi Square melalui program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat keberdayaan masyarakat pasca impelemntasi alokasi dana desa di Kabupaten Aceh Besar berada pada kategori kurang berdaya atau sedang, dan faktor – faktor ketersediaan sumber daya, kondisi sosial, kondisi ekonomi, teknologi tepat guna, dan bantuan pemerintah tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat keberdayaan masyarakat di Kabupaten Aceh Besar. Dalam hal ini hanya berlaku untuk daerah penelitian, disebabkan karena kurangnya program yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan kurangnya peningkatan pelayanan terhadap masyarakat menyebabkan keberdayaan masyarakat di Kabupaten Aceh Besar belum berada pada kategori berdaya. 
Deteksi Formalin Pada Buah Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) Dengan Teknologi Hidung Elektronik (Electronic Nose) Irfan Maibriadi; Ratna Ratna; Agus Arip Munawar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1187.002 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i2.10935

Abstract

Abstrak,  Tujuan dari penelitian ini adalah mendeteksi kandungan dan kadar formalin pada buah tomat dengan menggunakan instrument berbasis teknologi Electronic nose. Penelitian ini menggunakan buah tomat yang telah direndam dengan formalin dengan kadar 0.5%, 1%, 2%, 3%, 4%, dan buah tomat tanpa perendaman dengan formalin (0%). Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 18 sampel. Pengukuran spektrum beras menggunakan sensor Piezoelectric Tranducer. Klasifikasi data spektrum buah tomat menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) dengan pretreatment nya adalah Gap Reduction. Hasil penelitian ini diperoleh yaitu: Hidung elektronik mulai merespon aroma formalin pada buah tomat pada detik ke-8.14, dan dapat mengklasifikasikan kandungan dan kadar formalin pada buah tomat pada detik ke 25.77. Hidung elektronik yang dikombinasikan dengan metode principal component analysis (PCA) telah berhasil mendeteksikandungan dan kadar formalin pada buah tomat dengan tingkat keberhasilan sebesar 99% (PC-1 sebesar 93% dan PC-2 sebesar 6%). Perbedaan kadar formalin menjadi faktor utama yang menyebabkan Elektronik nose mampu membedakan sampel buah tomat yang diuji, karena semakin tinggi kadar formalin pada buah tomat maka aroma khas dari buah tomat pun semakin menghilang, sehingga Electronic nose yang berbasis kemampuan penciuman dapat membedakannya.Detect Formaldehyde on Tomato (Lycopersicum esculentum Mill) With Electronic Nose TechnologyAbstract, The purpose of this study is to detect the contents and levels of formalin in tomatoes by using instruments based on Electronic nose technology. This study used tomatoes that have been soaked in formalin with a concentration of 0.5%, 1%, 2%, 3%, 4%, 5% and tomatoes without soaking with formalin (0%). The samples in this study were 18 samples. The measurements of the intensity on tomatoes aroma were using Piezoelectric Transducer sensors. The classification of tomato spectrum data was using the Principal Component Analysis (PCA) method with Gap Reduction pretreatment. The results of this study were obtained: the Electronic nose began to respond the smell of formalin on tomatoes at 8.14 seconds, and it could classify the content and formalin levels in tomatoes at 25.77 seconds. Electronic nose combined with the principal component analysis (PCA) method have successfully detected the content and levels of formalin in tomatoes with a success rate at 99% (PC-1 of 93% and PC-2 of 6%). The difference of grade formalin levels is the main factor that causes Electronic nose to be able to distinguish the tomato samples tested, because the higher of formalin content in tomatoes, the distinctive of tomatoes aroma is increasingly disappearing. Thereby, the Electronic nose based on  the olfactory ability can distinguish them. 

Page 35 of 103 | Total Record : 1028