cover
Contact Name
Genoveva Mari
Contact Email
actualinsight21@gmail.com
Phone
+6281233597270
Journal Mail Official
jurnalintheos@gmail.com
Editorial Address
Jalan Abdurahman Saleeh Blok GJ2 Kedungkandang Kota Malang Jawa Timur, Malang, Provinsi Jawa Timur, 65148
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Teologi
Published by Actual Insight
ISSN : 27767450     EISSN : 27757676     DOI : https://doi.org/10.56393/intheos.v1i1.170
In Theos: Jurnal Pendidikan dan Teologi. Jurnal ini adalah jurnal penelitian yang terbit bulanan dengan berfokus pada publikasi hasil-hasil riset dalam bidang pendidikan agama secara umum dan kajian-kajian teologis. Jurnal ini ditujukan untuk teolog praktis dan guru pendidikan agama, ilmuwan yang mengkhususkan diri dalam agama, dan perwakilan dari disiplin budaya-ilmiah lainnya. Tujuan jurnal ini adalah untuk mempromosikan kajian-kajian mendalam dalam kelimuan di pendidikan agama dan teologi. Jurnal ini memuat sumbangan teori yang deskriptif empiris dan kritis tentang praktik religius dalam masyarakat, terutama berkaitan dengan deskripsi agama sebagaimana yang dipraktikkan. Agama dalam konteks ini dapat dipahami dalam arti luas kata yang dengannya semua kecenderungan apresiatif terhadap pandangan akhir tentang diri sendiri dan dunia dapat digambarkan sebagai yang religius.
Articles 270 Documents
The Fragility of Church Unity and Diversity in the Metaphor of Jigsaw Puzzle Gultom, Andri Fransiskus
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 4 (2025): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i4.2940

Abstract

Harls E.R. Siahaan and Johannis Siahaya offer a descriptive understanding in overcoming church diversity through the jigsaw puzzle metaphor. Metaphor, for them, becomes the basic element that forms a picture of church as a perfect and complete blueprint. This article focuses on substantively critiquing the articles of both authors as a form of dialectical continuity that unity and diversity have a broader horizon than just the jigsaw puzzle metaphor. This research uses a qualitative method with the following steps: verstehen (in-depth reading of the text), comparison, and interpretation. This research found that: (1) the explanation of the dialectical model is not explicitly elaborated, both semantically and in the paradigm of ontology; (2) the Jigsaw Puzzle metaphor becomes fragile because it is not based on the dialectical history of thought; (3) the neologisms such as: meroecclesia, somaecclesia, are not based on the history of thought and tend to favor Pentacostalism; (4) the discourse on hospitality is incommensurable with the jigsaw puzzle metaphor. This article reveals the differentiation between unity and diversity.
The Transformation of the Concept of the Supreme God 'Puang Matua' in Aluk Todolo Beliefs Tandi, Yohanis; Ary, Rofinus
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 4 (2025): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i4.2941

Abstract

Each belief system has its own mention of the Divine as the figure that governs this universe. In general, the mention of the highest figure, namely God, Allah, and gods. These names are given by adherents of certain beliefs to show their relationship with the Divine. This study aims to explain the divinity in Aluk Todolo's beliefs, especially the existence of Puang Matua (The Divine). This study uses qualitative methods with data collection techniques through observation, literature study, and interviews. Researchers obtained data about Aluk Todolo's beliefs through some literature and direct interviews with religious and community leaders in the Toraja area. The results of the research show that Aluk Todolo's belief has a divine figure that they worship and praise, namely Puang Matua. The adherents of Aluk Todolo always aim to unite with Puang Matua through all the rules of life that have been handed down by Puang Matua as norms that must be obeyed. Apart from that, they hope to be reunited and live with Puang Matua.
Christian Education and Social Justice: Pursuing Shalom in the Public Sphere Purwanto, Edi; Kristiawan, Sonya
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 4 (2025): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i4.2942

Abstract

Christian Education and Social Justice: Pursuing Shalom in the Public Sphere. Christian education is crucial in advancing social justice through a theological framework grounded in shalom. This article aims to critically examine how Christian education can serve as a transformative force amid global inequality and social fragmentation. A systematic literature review method was applied, analyzing peer-reviewed Scopus-indexed theology, education, and ethics publications. The findings reveal the need to integrate values such as reconciliation, compassion, inclusivity, and justice into Christian pedagogy, curriculum, and institutional culture. The approach includes relational learning, public religious pedagogy, and prioritizing marginalized communities through the principle of preferential options for the poor. The conclusion of this study is that shalom-based Christian education not only forms individuals with character, but also produces active agents of change in society. This study recommends that there needs to be an emphasis on the importance of the role of teachers, contextual curriculum, and public testimony as a real manifestation of the call of faith.
Pembinaan Iman bagi Remaja Katolik di Era Digital: Strategi, Peluang dan Tantangan Angga, Antoni; Tarihoran, Emmeria
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 5 (2025): Mei
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i5.3105

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara berpikir, berinteraksi, dan membentuk identitas remaja Katolik, sekaligus menghadirkan tantangan dan peluang dalam pembinaan iman. Penelitian ini mengkaji strategi pembinaan iman remaja di era digital dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) terhadap literatur dalam sepuluh tahun terakhir yang relevan dengan psikologi remaja, budaya digital, dan pelayanan pastoral. Hasil kajian menekankan pentingnya integrasi media sosial, teknologi imersif (seperti AR/VR), serta literasi digital spiritual. Kebaruan dalam studi ini terletak pada sintesis tematik yang menekankan kolaborasi antara keluarga dan sekolah, serta kehadiran pendamping iman di ruang digital. Sebab para remaja di era digital ini butuh pendampingan yang intensif agar mereka tidak terjerumus dalam pengaruh negatif yang membuat mereka lemah dalam iman.  Artikel ini juga menyajikan strategi, peluang, dan tantangan secara terstruktur. Penelitian menyimpulkan bahwa pembinaan iman di era digital harus bersifat kreatif, kontekstual, dan kolaboratif agar mampu menumbuhkan remaja Katolik yang tangguh dalam iman.
Peran Pembina dalam Pendidikan Iman Anak di Era digital Pratiwi, Theresia Dina; Tarihoran, Emmeria
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 5 (2025): Mei
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i5.3108

Abstract

Pendidikan iman anak di era digital menghadapi tantangan yang signifikan akibat perkembangan teknologi yang pesat dan perubahan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Artikel ini membahas peran sentral orang tua, pembina sekolah minggu, dan katekis dalam mendampingi pertumbuhan iman anak. Orang tua bertanggung jawab sebagai pendidik utama yang menanamkan nilai-nilai Kristiani dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Pembina sekolah minggu berperan sebagai fasilitator yang kreatif, mampu menyesuaikan metode pembelajaran iman dengan perkembangan zaman dan karakter anak. Sementara itu, katekis dan guru agama Katolik diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital untuk menyampaikan ajaran iman secara menarik dan relevan. Kolaborasi antara keluarga, gereja, dan institusi pendidikan menjadi kunci untuk menjawab tantangan era digital secara efektif. Pendidikan iman tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif membantu anak-anak menghayati dan menjalani ajaran Kristiani dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Transformasi Katekese dalam Era Digital: Upaya Membangun Komunitas Iman di Tengah Perubahan Zaman Niron, Antonius Inga; Tarihoran, Emmeria
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 6 (2025): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i6.3140

Abstract

Artikel ini mengkaji peran dan relevansi katekese digital dalam membangun komunitas iman di era digital. Perkembangan budaya digital menuntut pendekatan baru dalam pewartaan iman, khususnya bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui analisis terhadap berbagai literatur teologis, pastoral, dan komunikasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa katekese digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian ajaran iman, tetapi juga sebagai media transformasi pastoral yang mampu memperkuat partisipasi umat, memperdalam spiritualitas, dan memperluas jangkauan pewartaan. Pendekatan digital memungkinkan Gereja menjalin komunikasi dua arah dengan umat secara lebih interaktif dan kontekstual. Selain itu, katekese digital mendorong kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan iman melalui berbagai platform multimedia. Tantangan yang dihadapi mencakup kesenjangan digital, kesiapan pastoral, dan literasi media umat. Dengan demikian, katekese digital menjadi model inovatif dan kontekstual yang memadukan iman, teknologi, dan dinamika kehidupan sehari-hari dalam pelayanan Gereja masa kini.
Analisis Teologis terhadap Makna Simbolik Lamba-Lamba dalam Tradisi Ma’pasonglo di Toraja: Perspektif Teologi Calvin tentang Keesaan Gereja Mirrang, Enos; Herlina, Herlina; Pratiwi, Lisa; Sabo, Melan
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 6 (2025): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i6.3479

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik lamba-lamba dalam tradisi Ma’pasonglo masyarakat Toraja melalui lensa teologi Calvin mengenai keesaan gereja. Tradisi Ma’pasonglo, yang merupakan bagian dari ritual pemakaman Aluk Rambu Solo’, menyimpan simbolisme yang kaya dalam struktur sosial masyarakat Toraja, terutama melalui atribut lamba-lamba yang dikenakan sesuai dengan strata sosial. Pendekatan teologis yang digunakan berfokus pada pemikiran John Calvin mengenai keesaan gereja sebagai prinsip fundamental yang tidak hanya bersifat doktrinal, tetapi juga memiliki implikasi praktis bagi solidaritas dan pelayanan umat Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi pustaka dan wawancara mendalam dengan tokoh adat serta rohaniwan Toraja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamba-lamba memiliki tiga makna utama: (1) sebagai simbol keberanian dalam mengambil sikap menghadapi tantangan kehidupan bergereja; (2) sebagai simbol ketulusan dalam pelayanan kepada sesama; dan (3) sebagai bentuk pengorbanan yang mendukung transformasi kehidupan gereja ke arah yang lebih baik. Temuan ini menegaskan bahwa simbol-simbol budaya lokal dapat menjadi sarana reflektif untuk memperdalam pemahaman teologis dan memperkuat kesatuan gereja dalam konteks kultural yang beragam.
Dari Legalitas ke Belas Kasih: Keadilan dalam Dialog Hukum dan Teologi Kristen Purwanto, Edi; Silalahi, Frans H. M.
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 6 (2025): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i6.2919

Abstract

Keadilan merupakan nilai moral dan institusional yang sangat penting dalam membentuk struktur hukum, masyarakat, dan iman. Studi ini menyajikan tinjauan literatur sistematis (Systematic Literature Review/SLR) dengan pendekatan PRISMA untuk mensintesiskan dan menganalisis secara kritis konsep keadilan dari perspektif sistem hukum sekuler dan teologi Kristen. Keadilan dalam hukum menekankan pada keadilan prosedural, kesetaraan di hadapan hukum, dan rasionalitas formal. Sebaliknya, dalam teologi Kristen, keadilan dipahami sebagai perwujudan kasih Allah yang restoratif, penuh belas kasih, dan berpihak kepada yang tertindas. Dengan menelaah pemikiran tokoh-tokoh seperti Agustinus, Thomas Aquinas, Reinhold Niebuhr, dan Nicholas Wolterstorff, artikel ini mengungkap dimensi moral dan relasional dari keadilan Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pendekatan hukum dan teologi Kristen dapat memperkaya pemahaman keadilan secara lebih menyeluruh dan etis dalam masyarakat pluralistik. Sintesis ini penting untuk membangun kebijakan publik yang adil dan etika hukum yang manusiawi. Kajian ini juga menegaskan bahwa iman memiliki peran vital dalam memotivasi tindakan keadilan sosial. Pada akhirnya, keadilan dipahami bukan hanya sebagai norma legal, tetapi sebagai komitmen moral yang transformatif dan berakar pada kasih serta iman yang aktif.
Etika dan Spiritualitas Peserta Didik Melalui Kurikulum Pendidikan Agama Kristen di Era Modern Pangalingan, Noviyanti
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 6 (2025): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i6.3611

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran transformatif kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam membentuk etika dan spiritualitas remaja di era modern. Latar belakang masalahnya adalah disrupsi digital dan krisis moral yang dihadapi generasi muda, di mana paparan informasi tak terbatas sering mengikis nilai-nilai tradisional. Menggunakan metode penelitian kepustakaan, tulisan ini menganalisis literatur relevan untuk memahami tantangan tersebut dan mencari solusi kurikuler. Hasilnya menunjukkan bahwa etika dan spiritualitas remaja harus dibangun di atas fondasi teologis "takut akan Tuhan" pada Amsal 1:7, bukan sekadar moralitas berbasis aturan. Kurikulum PAK perlu bergeser dari model transmisi pengetahuan pasif menjadi model pemuridan yang holistik. Hal ini menuntut adanya kolaborasi erat antara guru di sekolah sebagai teladan, orang tua di rumah sebagai pendidik utama, dan gereja sebagai komunitas iman yang membina. Dengan demikian, kurikulum PAK yang adaptif, didukung oleh sinergi ketiga pilar ini, dapat membekali remaja untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan karakter yang kokoh dan iman yang otentik di tengah gejolak era digital.
Dialog Kontekstual Para Misionaris NZG di Tanah Karo: Studi Kasus Pa Mbelgah dalam Ketegangan antara Iman dan Budaya Tarigan, Mehamad Wijaya
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 6 (2025): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i6.3713

Abstract

Penelitian ini menganalisis kegagalan dialog kontekstual para misionaris Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG) di Tanah Karo pada awal abad ke-20, dengan menyoroti kasus Pa Mbelgah (Bakal Purba) sebagai figur adat yang dikucilkan gereja karena mempertahankan gendang Karo dalam ritus budaya. Menggunakan pendekatan historis-teologis dan sosiologis, penelitian ini menemukan bahwa ketegangan antara iman dan budaya tidak hanya disebabkan oleh perbedaan teologis, tetapi juga oleh dominasi paradigma misi Barat yang menolak simbol-simbol lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja masa kini perlu merekonstruksi paradigma misi yang lebih dialogis dan kontekstual. Novelty penelitian ini terletak pada reinterpretasi kasus Pa Mbelgah sebagai titik balik bagi teologi kontekstual Indonesia yang menghargai kearifan lokal dan memperjuangkan rekonsiliasi antara iman dan budaya. Penelitian ini berkontribusi pada wacana teologi kontekstual dan praktik inkulturasi dalam gereja lokal terhadap pengembangan model rekonstruktif bagi kajian misiologi dan teologi publik yang lebih inklusif terhadap keberagaman budaya. Gereja dipanggil untuk bergerak dari paradigma eksklusif menuju model misi yang dialogis, empatik, dan partisipatoris.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 6 (2025): Juni Vol. 5 No. 5 (2025): Mei Vol. 5 No. 4 (2025): April Vol. 5 No. 3 (2025): Maret Vol. 5 No. 2 (2025): Februari Vol. 5 No. 1 (2025): Januari Vol. 4 No. 12 (2024): Desember Vol. 4 No. 11 (2024): November Vol. 4 No. 10 (2024): Oktober Vol. 4 No. 9 (2024): September Vol. 4 No. 8 (2024): Agustus Vol. 4 No. 7 (2024): Juli Vol. 4 No. 6 (2024): Juni Vol. 4 No. 5 (2024): Mei Vol. 4 No. 4 (2024): April Vol. 4 No. 3 (2024): Maret Vol. 4 No. 2 (2024): Februari Vol. 4 No. 1 (2024): Januari Vol. 3 No. 12 (2023): Desember Vol. 3 No. 11 (2023): November Vol. 3 No. 10 (2023): Oktober Vol. 3 No. 9 (2023): September Vol. 3 No. 8 (2023): Agustus Vol. 3 No. 7 (2023): Juli Vol. 3 No. 6 (2023): Juni Vol. 3 No. 5 (2023): Mei Vol. 3 No. 4 (2023): April Vol. 3 No. 3 (2023): Maret Vol. 3 No. 2 (2023): Februari Vol. 3 No. 1 (2023): Januari Vol. 2 No. 12 (2022): Desember Vol. 2 No. 11 (2022): November Vol. 2 No. 10 (2022): Oktober Vol. 2 No. 9 (2022): September Vol. 2 No. 8 (2022): Agustus Vol. 2 No. 7 (2022): Juli Vol. 2 No. 6 (2022): Juni Vol. 2 No. 5 (2022): Mei Vol. 2 No. 4 (2022): April Vol. 2 No. 3 (2022): Maret Vol. 2 No. 2 (2022): Februari Vol. 2 No. 1 (2022): Januari Vol. 1 No. 12 (2021): Desember Vol. 1 No. 11 (2021): November Vol. 1 No. 10 (2021): Oktober Vol. 1 No. 9 (2021): September Vol. 1 No. 8 (2021): Agustus Vol. 1 No. 7 (2021): Juli Vol. 1 No. 6 (2021): Juni Vol. 1 No. 5 (2021): Mei Vol. 1 No. 4 (2021): April Vol. 1 No. 3 (2021): Maret Vol. 1 No. 2 (2021): Februari Vol. 1 No. 1 (2021): Januari More Issue