cover
Contact Name
Hasan Syahrizal
Contact Email
jurnalihsan@gmail.com
Phone
+6282352818690
Journal Mail Official
jurnalihsan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sederhana Lorong Lambang Sari No.959, RT 001 RW. 006, Kelurahan Tembilahan Hulu Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau, Indonesia
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 30259150     EISSN : 29871298     DOI : https://doi.org/10.61104/ihsan.v1i2
Fokus dan Ruang Lingkup Ihsan: Jurnal Pendidikan Islam menerima naskah asli yang tidak diterbitkan dalam bahasa Indonesia atau Inggris, berdasarkan penelitian dari metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, campuran, atau metodologi apa pun yang terkait dengan pendidikan
Articles 280 Documents
Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama melalui Kegiatan Keagamaan di Sekolah Dasar Negeri Tambakaji 04 Widya Auliya Oktaviana; Alimah Br Tambunan; Ely Susanti; Sri Rahayu; Nena A’laa Annasa Alif; M. Rikza Chamami
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.3499

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang proses penerimaan nilai-nilai agama, tantangan yang dihadapi, serta kemajuan dalam membentuk sikap moderat dalam beragama di SDN Tambakaji 04. Dengan demikian, diharapkan dapat membentuk karakter yang lebih ramah dan toleran. Mengamati, melakukan wawancara mendalam, dan mengumpulkan berbagai dokumen adalah metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan, seperti doa pagi, shalat berjamaah, perayaan hari besar, serta interaksi antar pemeluk agama. Proses nilai tersebut melalui tiga tahap: transformasi nilai, transaksi nilai, dan transiternilisasi nilai. Nilai yang paling umum adalah tawazun, tasamuh, dan syura. Beberapa tantangan yang dihadapi meliputi dampak dari media sosial, perbedaan tingkat pemahaman siswa tentang agama, serta perbedaan antara nilai-nilai yang diterapkan di sekolah dan di rumah. Secara umum, kegiatan keagamaan sudah membantu perkembangan siswa, terlihat dari perubahan sikap, berkurangnya tindakan perundungan, cara berpakaian, disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini di sekolah dasar harus terus dilakukan karena sangat diperlukan untuk memperkuat karakter moderat siswa.
Belajar dan Mengajar sebagai Kewajiban Qur’ani: Analisis Normatif dan Implikasi Edukatif dalam Kehidupan Masyarakat Muslim Aminatuzzahrah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.3791

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap dasar normatif dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kewajiban belajar dan mengajar bagi umat Islam serta menelaah implikasinya terhadap kehidupan individu dan sosial masyarakat. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan teknik analisis isi terhadap sejumlah ayat Al-Qur’an yang relevan dengan konsep ilmu pengetahuan dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menegaskan pentingnya proses belajar dan mengajar sebagai sarana pembentukan karakter, pengembangan intelektual, dan peningkatan spiritualitas umat. Kewajiban menuntut ilmu tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang berpengaruh terhadap kemajuan peradaban Islam. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing tinggi.
Pendidikan Akhlak Anak dalam Keluarga Menurut Perspektif Pendidikan Islam Muhammad Dzaki Miftahur Rizki; Alwi Alhadad; Muhammad Sadad Mubarok; Wafa Uswatun Hasanah; Nayla Aulia Zahra; Tarsono
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.3809

Abstract

Pendidikan akhlak anak dalam keluarga memainkan peran fundamental dalam pembentukan karakter dan kesadaran spiritual menurut perspektif pendidikan Islam. Keluarga dianggap sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama yang bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai akhlak berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pendidikan akhlak anak dalam keluarga dengan mengintegrasikan pemikiran Islam klasik dan pendekatan pendidikan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode tinjauan literatur, dengan sumber data berupa buku, artikel jurnal ilmiah, dan literatur akademik terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis untuk mengkaji prinsip, metode, dan peran keluarga dalam pendidikan akhlak anak-anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak dalam keluarga dilakukan melalui teladan orang tua, kebiasaan perilaku positif, komunikasi pendidikan yang penuh kasih sayang, dan bimbingan akhlak yang berkelanjutan. Orang tua memainkan peran strategis sebagai pendidik utama dalam membentuk karakter, keyakinan, dan tanggung jawab sosial anak-anak. Integrasi pemikiran Islam klasik dan pendekatan pendidikan modern menegaskan bahwa pendidikan akhlak berbasis keluarga tetap relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. 
Konsep Wasathiyah dalam Moderasi Beragama Islam: Studi Literatur Zunairoh Asma Nur Azizah; Abdul Ghofur
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.3945

Abstract

Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mendefinisikan dan mengelaborasi konsep wasathiyah sebagai jalan tengah dalam moderasi beragama Islam. Latar belakang penelitian ini adalah adanya polarisasi pemikiran keagamaan di kalangan umat Islam yang memicu perpecahan internal, yaitu antara kecenderungan ekstremisme yang kaku dan tekstualis serta liberalisme yang mengedepankan rasionalitas dan kebebasan tanpa batas. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi (content analysis) terhadap jurnal dan artikel ilmiah yang relevan dan diperoleh dari basis data akademik bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wasathiyah yang berlandaskan Q.S. Al-Baqarah ayat 143 (ummatan wasathan) mengandung makna kebaikan, keadilan, keseimbangan, dan moderasi. Konsep ini diimplementasikan melalui empat prinsip utama, yaitu keadilan (al-‘adl), keseimbangan (at-tawazun), toleransi (at-tasamuh), dan konsistensi (istiqamah). Keempat prinsip tersebut menjadi kerangka penting dalam penguatan moderasi beragama dan menjaga persatuan umat Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan wasathiyah merupakan kunci untuk menghindari sikap berlebihan maupun kebebasan tanpa batas dalam kehidupan beragama.
Peran dan Tantangan Guru dalam Mewujudkan Moderasi Beragama di Madrasah: Studi Kasus di MI Sirojul Banat Ciganjur Abdul Rosyid Teguhdin Hamid; Hasanah Hasanah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.4113

Abstract

Moderasi beragama dalam konteks pendidikan merupakan strategi vital untuk membentuk generasi yang toleran, inklusif, dan berkomitmen pada nilai-nilai kebangsaan dalam masyarakat pluralistik seperti Indonesia. Integrasi moderasi beragama ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki dampak signifikan dalam membangun sikap saling menghormati perbedaan, mengurangi intoleransi, dan mencegah ekstremisme di lingkungan sekolah dan masyarakat luas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran dan tantangan guru dalam mewujudkan moderasi beragama di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sirojul Banat Ciganjur. Moderasi beragama penting dalam pendidikan dasar sebagai landasan pembentukan karakter toleran, inklusif, dan saling menghormati perbedaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran utama sebagai fasilitator nilai, teladan perilaku, dan mediator pembelajaran moderat, namun menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan bahan ajar, kurangnya pelatihan khusus, dan waktu pembelajaran yang padat. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru dan penyediaan sumber belajar moderasi beragama yang kontekstual untuk meningkatkan efektivitas peran guru di tingkat MI
Prinsip Moderasi Beragama: Internalisasi Nilai Wasathiyyah dalam Praktik Sosiokultural di Era Digital Muhammad Satrio Utomo; Abdul Ghofur
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.4300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme internalisasi prinsip moderasi beragama dalam ruang sosiokultural masyarakat di tengah fenomena polarisasi agama dan disrupsi digital. Melalui tinjauan literatur, penelitian ini mengidentifikasi celah dalam studi terdahulu yang cenderung bersifat top-down dan teoritis, serta kurang mengeksplorasi praktik organik di tingkat akar rumput. Penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai adaptasi nilai-nilai moderasi—seperti tawasut, i'tidal, dan tasamuh—menjadi praktik sosial yang resilien terhadap narasi ekstremisme di media sosial. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa keberhasilan moderasi beragama sangat bergantung pada sinergi antara literasi digital keagamaan dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi prinsip moderasi dengan pemahaman budaya lokal yang inklusif dapat meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap infiltrasi paham radikal secara signifikan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model moderasi beragama yang lebih partisipatif dan berbasis komunitas.
Peran Pendidikan Agama dalam Pembentukan Karakter Anak Sekolah Dasar Perspektif Psikologi Agama Sabariah; Rahmat; Salsabilla Johan Ajijah; Surawan
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.4997

Abstract

Pendidikan agama merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembentukan karakter siswa sekolah dasar karena berperan dalam menanamkan nilai moral dan spiritual sejak usia dini. Pada masa perkembangan psikologis anak, nilai-nilai keagamaan menjadi landasan dalam membentuk sikap, pola pikir, serta perilaku sosial yang positif. Perspektif psikologi agama memandang bahwa pengalaman religius yang diterima anak melalui proses pembelajaran mampu mendorong terbentuknya kepribadian yang seimbang antara aspek kognitif, afektif, dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara deskriptif peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter anak sekolah dasar berdasarkan pendekatan psikologi agama. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan informan, serta analisis dokumentasi kegiatan pembelajaran. Data dianalisis melalui proses seleksi data, penyajian informasi, dan penarikan makna secara interaktif dan berkesinambungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan agama berkontribusi dalam menumbuhkan karakter religius, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kejujuran siswa melalui praktik keteladanan guru, kegiatan pembiasaan ibadah, dan integrasi nilai spiritual dalam aktivitas belajar. Internalisasi nilai terjadi melalui pengalaman belajar yang melibatkan aspek emosional, pemahaman kognitif, dan interaksi sosial secara berulang. Selain itu, sinergi antara lingkungan sekolah dan keluarga menjadi faktor pendukung utama dalam penguatan karakter anak. Dengan demikian, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk karakter anak secara menyeluruh melalui pendekatan psikologi agama.
Tantangan Profesionalisme Guru PAI dalam Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Lembaga Pendidikan Islam Miftha Hulladuni Riandi; Muhammad Fajar; Alfaza Rizky; Herlini Puspika Sari
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.5091

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah mempengaruhi karakteristik peserta didik, khususnya generasi Z dan generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan teknologi dan informasi. Kondisi ini menuntut guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk memiliki profesionalisme yang tinggi agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai tantangan profesionalisme guru PAI dalam menghadapi generasi Z dan Alpha di lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research, yaitu dengan mengkaji berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menghadapi beberapa tantangan utama, antara lain perubahan karakteristik belajar peserta didik yang lebih digital dan visual, kebutuhan penguasaan teknologi pembelajaran, tuntutan inovasi metode pembelajaran, serta pentingnya penguatan nilai-nilai karakter dan spiritualitas di tengah perkembangan teknologi. Selain itu, guru PAI juga dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian agar mampu melaksanakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi Z dan Alpha. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengembangan profesional berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru PAI memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter religius dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pembagian Ilmu Tauhid: Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma Wa Sifat dalam Kajian Teologis Yuli Fitriyanti; Nurul Azwa; Tri Endang Trisnawati Tri Endang Trisnawati; Defriani; Syalum Syahrani; Sri Wahyuni Sri Wahyuni
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.5169

Abstract

Ilmu tauhid merupakan landasan utama dalam teologi Islam yang membahas prinsip keesaan Allah sebagai inti ajaran akidah. Dalam perkembangan kajian modern, tauhid tidak lagi dipahami semata-mata sebagai ajaran normatif, tetapi juga sebagai kerangka konseptual yang memiliki dimensi metodologis dan epistemologis dalam pengembangan ilmu kalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pembagian tauhid ke dalam tiga aspek pokok, yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat, dalam perspektif teologis serta menjelaskan keterkaitan konseptual ketiganya dalam membangun sistem akidah yang utuh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan teknik purposive sampling terhadap 20 literatur ilmiah terbitan 2021–2024. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi melalui tahapan reduksi, pengorganisasian, dan penarikan simpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tauhid rububiyah menegaskan otoritas Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam, tauhid uluhiyah menekankan penghambaan eksklusif kepada-Nya, sedangkan tauhid asma wa sifat menguatkan pemahaman tentang kesempurnaan Allah melalui penetapan nama dan sifat-Nya secara proporsional. Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi dalam membentuk konstruksi teologis yang rasional dan kontekstual. Dengan demikian, klasifikasi tauhid ini memiliki relevansi penting dalam menjawab tantangan pemikiran Islam kontemporer.
Analisis Konsep Pernikahan Dalam Perspektif Islam Dan Implementasinya Pada Generasi Muda Di Era Modern Najwa Dwi Heryanti; Natasya Suci Ananda; Syifani Azzura; Hapni Laila Siregar
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i2.5236

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman serta pandangan generasi muda terhadap konsep pernikahan dalam perspektif Islam dan implementasinya pada era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada 30 responden yang termasuk dalam kategori generasi muda. Instrumen penelitian terdiri dari 20 pernyataan yang menggunakan skala Likert dengan empat pilihan jawaban, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics dengan teknik analisis deskriptif, uji validitas, dan uji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai konsep pernikahan dalam perspektif Islam. Hal ini ditunjukkan oleh dominasi jawaban responden pada kategori setuju dan sangat setuju pada sebagian besar indikator penelitian. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,883. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa generasi muda memandang pernikahan sebagai institusi penting yang tidak hanya memiliki dimensi sosial, tetapi juga dimensi religius sebagai bentuk ibadah yang bertujuan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.