cover
Contact Name
Velma Herwanto
Contact Email
Velmah@fk.untar.ac.id
Phone
+628161820408
Journal Mail Official
jmmpk@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
ISSN : -     EISSN : 27978320     DOI : 10.24912/jmmpk
Core Subject : Health, Science,
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara Kampus 1 Jl. Letjen S. Parman No.1 Jakarta 11440 021-5671747 Ext. 215
Articles 109 Documents
PERAN SEMANGAT DALAM MEMEDIASI HUBUNGAN ANTARA RASA SYUKUR DAN DEPRESI PADA REMAJA Hardjasasmita, Irena Monica; Roswiyani; Satyadi, Heryanti
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v3i2.28302

Abstract

Depresi adalah gangguan mental yang umum ditemukan yang mana dapat secara negatif memengaruhi perasaan, cara berpikir, dan tindakan individu. Prevalensi dari depresi mulai meningkat ketika individu memasuki usia remaja. Faktor biologis, keluarga, pertemanan, dan lingkungan memengaruhi terbentuknya depresi pada remaja. Depresi dapat dihindari jika dalam dirinya, remaja memiliki karakter seperti rasa syukur dan rasa semangat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran rasa semangat dalam memediasi hubungan antara rasa syukur dan depresi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan metode korelasional. Alat ukur yang digunakan adalah VIA Youth Survey untuk mengukur rasa syukur dan rasa semangat, sedangkan Beck Depression Inventory (BDI-II) untuk mengukur depresi. Terdapat 101 partisipan usia 15-17 tahun dalam penelitian ini. Melalui metode bootstraping dengan program LISREL, dinyatakan rasa semangat dapat memediasi hubungan antara rasa syukur dan depresi, = .297, F(2,98) = 20.735, p = < .01, 95% CI [-1,186, -0,344]. Dapat disimpulkan bahwa rasa syukur dapat menimbulkan rasa semangat yang kemudian dapat melindungi remaja dari depresi.
Gambaran Kejadian Abortus Pada Kehamilan Usia Remaja Di RS Sumber Waras Graciana, Ashira; dr. Andriana Kumala Dewi Sp.OG
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v3i2.29116

Abstract

Fenomena global yang dikenal dengan istilah kehamilan remaja didefinisikan sebagai perempuan yang hamil pada usia 10 sampai 19 tahun. Pada tahun 2020, Indeks Pembangunan Pemuda memaparkan data kehamilan remaja adalah 18,22% di Indonesia. Tahun 2015, Kemenkes RI juga memaparkan sebuah data yaitu terdapat sebanyak 3,8% insidensi kejadian abortus spontan remaja di Indonesia. Berbagai macam faktor dapat berkontribusi dalam kejadian abortus spontan pada kehamilan remaja. Mengetahui karakteristik kehamilan remaja dengan kejadian abortus spontan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan design potong lintang. Sampel terdiri dari 12 pasien yang diperoleh dari rekam medis Rumah Sakit Sumber Waras pada tahun 2020 – 2022 dan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS. Prevalensi kejadian abortus spontan pada kehamilan remaja di Rumah Sakit Sumber Waras adalah 4,61%. Karakteristik yang ditemukan meliputi 75% kehamilan remaja terjadi pada usia 18 – 19 tahun, insidensi keguguran dini adalah 66,67%, prevalensi remaja yang sudah menikah adalah 83,33% dan terdapat remaja dengan pendidikan terakhir SMA adalah 50%. Kejadian abortus pada kehamilan remaja masih cukup tinggi di Rumah Sakit Sumber Waras.
Pengaruh Tingkat Kepuasan Work-Life Integration terhadap Burnout pada Profesi Dokter: A Systematic Review Without Meta-Analysis Kharisma Putri Anugerah; Zamralita; Sari, Meylisa Permata
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v3i2.29341

Abstract

Profesi medis, terutama dokter, harus menghadapi tantangan setiap harinya seperti jam kerja yang panjang, tuntutan emosional yang tinggi, dan cenderung memprioritaskan kebutuhan pasien dibandingkan kebutuhan diri sendiri. Oleh karena hal inilah, risiko burnout pada dokter semakin meningkat dan bahkan menjadi isu global sebelum pandemi COVID-19. Studi menunjukkan bahwa dokter yang mengalami burnout dapat menghadapi masalah serius seperti peningkatan risiko kesalahan medis, penurunan kualitas pelayanan, dan bahkan memberikan ancaman terhadap produktivitas sistem kesehatan. Faktor-faktor seperti beban kerja yang tinggi, tugas administratif, dan jam kerja yang panjang juga menjadi salah satu faktor terjadinya rasa burnout pada profesi dokter. Selain itu, penelitian mencatat bahwa work-life integration (WLI) memiliki peran signifikan dalam terjadinya burnout pada dokter. Adanya tantangan dalam mencapai kepuasan dalam work-life integration dapat meningkatkan risiko konflik, yang dapat berdampak negatif pada pekerjaan dan menyebabkan terjadinya burnout. Dengan adanya urgensi ini, penelitian yang menggunakan metode Systematic Review without META Analysis dilakukan untuk menyelidiki pengaruh tingkat kepuasan work-life integration terhadap burnout pada dokter. Hasil di dalam penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam, membantu mengembangkan strategi intervensi dan kebijakan yang lebih baik di dunia kedokteran dan juga menemukan adanya pengaruh tinggi rendahnya tingkat kepuasan work-life integration yang dimiliki seorang dokter terhadap burnout yang dialaminya.
CORRELATION OF ANTHROPOMETRY AND BODY COMPOSITION IN WOMEN WITH AGE Dewi, Andriana Kumawa; Setiawan, Fiona Valencia; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.33995

Abstract

Background: Ageing has been associated with molecular and physiological changes, which lead to a change in body composition, a reduction in lean mass, an increase in fat mass, and a reduction in basal metabolic rate. These further increase vulnerability to obesity, metabolic disorders, and their complications, particularly in women. Objectives: This study investigates the relationship between anthropometric parameters and body composition with age in women to identify changes that occur as age increases. Method: A cross-sectional study by purposive sampling was carried out on 144 women aged 18 years and above. Anthropometric data such as weight, height, and circumferences were measured alongside body composition parameters like total body fat, visceral fat, and skeletal muscle mass. BMR (Basal Metabolic Rate) was determined by the Omron Karada Scan HBF 375, while its correlations were studied using Pearson's correlation. Results: There were significant correlations of age with major body composition parameters with aging. There was an increase in total body fat (r = 0.249, p = 0.003) and a decrease in skeletal muscle mass (r = -0.206, p = 0.013), contributing to a decline in BMR (r = -0.231, p = 0.005). Calf circumference was also significantly negatively correlated with age: r = -0.201, p = 0.015. Conclusion: The most significant influences of aging are on body composition and BMR due to increased fat mass and reduced skeletal muscle reduction that lower metabolic activity. This condition increases the risk of metabolic disorders, regular body composition, and health education monitoring.
CORRELATION OF SIMPLE ANTHROPOMETRY AND BODY COMPOSITION WITH HANDGRIP STRENGTH IN OLDER ADULTS: CROSS-SECTIONAL STUDY Ernawati, Ernawati; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Hartono, Vincent Aditya Budi; Syarifah, Andini Ghina; Warsito, Jonathan Hadi; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.34313

Abstract

Latar Belakang: Kekuatan genggam tangan (Handgrip Strength/HGS) merupakan indikator kesehatan fisik secara umum pada lansia. HGS mencerminkan keseimbangan antara massa otot dan lemak serta membantu dalam diagnosis sarkopenia. Memahami hubungan antara ukuran antropometri, komposisi tubuh, dan HGS penting untuk mengatasi penurunan kesehatan otot akibat penuaan. Tujuan: Studi ini mengevaluasi korelasi antara parameter antropometri sederhana, komposisi tubuh, dan HGS pada lansia, guna mendukung deteksi dan intervensi dini sarkopenia. Metode: Studi potong lintang dilakukan pada 31 lansia (≥60 tahun) di Panti Wreda Santa Anna tahun 2024. Pengukuran antropometri mencakup lingkar pinggang, pinggul, betis, leher, dan lengan atas. Komposisi tubuh seperti distribusi lemak dan otot rangka dianalisis menggunakan Omron Karada Scan HBF 375. HGS diukur dengan dinamometer terkalibrasi. Uji korelasi Spearman’s Rho digunakan dengan signifikansi p<0,05. Hasil: Terdapat korelasi signifikan antara HGS dan beberapa parameter, terutama berat badan, tinggi badan, lingkar betis, lemak viseral, dan indeks otot rangka. Otot rangka tungkai menunjukkan korelasi kuat dengan HGS (r=0,653; p<0,001). Hasil ini menegaskan keterkaitan antara kesehatan otot, komposisi tubuh, dan perubahan terkait usia. Kesimpulan: HGS, yang dipengaruhi oleh parameter antropometri dan komposisi tubuh, merupakan indikator yang andal untuk sarkopenia pada lansia. Intervensi yang menargetkan faktor-faktor ini dapat meningkatkan fungsi otot dan kualitas hidup lansia.
PERAN PROTEKTOR RASIO APOLIPOPROTEIN A DAN APOLIPOPROTEIN B PADA LANJUT USIA DENGAN INSOMNIA Hawari, Irawati; Hendrawan, Siufui; Gunaidi, Farell Christian; Setiawan, Fiona Valencia; Hariesti, Ribka Anggeline; Destra, Edwin; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.34314

Abstract

Insomnia, yang diklasifikasikan sebagai gangguan tidur-bangun dalam DSM-V, secara signifikan memengaruhi kualitas dan kuantitas tidur dan umum terjadi pada wanita serta lansia. Prevalensi insomnia berkisar antara 2,3% hingga 25% dan didominasi oleh kelompok wanita dan lansia. Studi ini meneliti korelasi antara rasio apolipoprotein A (ApoA) dan apolipoprotein B (ApoB) sebagai faktor protektif terhadap insomnia pada populasi lansia. Hasil menunjukkan bahwa kadar ApoA yang lebih tinggi berkorelasi positif dengan rasio ApoA/ApoB, sementara rasio ApoA/ApoB yang lebih tinggi berkorelasi signifikan dengan penurunan tingkat keparahan insomnia. Sebaliknya, peningkatan kadar ApoB menunjukkan korelasi positif yang mendekati signifikan dengan keparahan insomnia. Temuan ini menunjukkan bahwa ApoA dan rasio ApoA/ApoB berperan sebagai faktor protektif terhadap insomnia, serta menekankan pentingnya pemantauan profil lipid dalam penanganan insomnia pada lansia.
KORELASI KOMPOSISI LEMAK TUBUH, KOMPOSISI OTOT TUBUH, KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN, HEMOGLOBIN, HEMATOKRIT, GULA DARAH, KOLESTEROL, DAN ASAM URAT DENGAN PORFIRIN KULIT PADA KELOMPOK LANJUT USIA Julianti, Linda; Moniaga, Catharina Sagita; Gunaidi, Farell Christian; Herdiman, Alicia; Setia, Nicholas; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.34315

Abstract

Latar Belakang: Penuaan menyebabkan perubahan fisiologis yang memengaruhi komposisi tubuh, metabolisme, dan kesehatan kulit. Salah satu aspek penting dalam kesehatan kulit adalah mikrobiota, terutama Cutibacterium acnes (C. acnes), yang menghasilkan porfirin sebagai bagian dari metabolismenya. Produksi porfirin dapat dipengaruhi oleh faktor metabolik, seperti komposisi lemak dan otot tubuh, kadar hemoglobin, hematokrit, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Telah diketahui bahwa disregulasi metabolik dapat mempengaruhi kadar porfirin kulit, terutama melalui lingkungan mikrobiota kulit. Namun, penelitian mengenai hal tersebut masih belum banyak dilakukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara komposisi lemak tubuh, komposisi otot tubuh, kekuatan genggaman tangan (KGT), kadar hemoglobin, hematokrit, gula darah puasa, kolesterol, dan asam urat dengan kadar porfirin kulit pada kelompok lanjut usia. Metode: Studi ini menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional), melibatkan 22 lansia dengan pengukuran parameter metabolik melalui pemeriksaan laboratorium dan kadar porfirin kulit menggunakan analisa kulit wajah. Analisis korelasi Spearman digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara variabel independen dengan kadar porfirin kulit. Hasil dan Pembahasan: Kadar gula darah puasa dan kadar asam urat menunjukkan korelasi negatif sedang yang signifikan terhadap kadar porfirin kulit (p < 0,05). Sementara itu, variabel lain seperti komposisi tubuh, kekuatan genggaman tangan, hemoglobin, hematokrit, dan kolesterol tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Disregulasi metabolik dapat mempengaruhi lingkungan mikrobiota kulit yang mempengaruhi kadar porfirin kulit.
ASSESSING THE PREDICTIVE ROLE OF LIPID PROFILE AND DIABETES MELLITUS PANEL ON FECAL INCONTINENCE SEVERITY Limas, Peter Ian; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Putra, Muhammad Dzakwan Dwi; Jaya, I Made Satya Pramana; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.34328

Abstract

Latar Belakang: Inkontinensia fekal (FI) adalah masalah umum di kalangan lansia yang secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup mereka. Ini terkait dengan tantangan fisik dan psikologis. Disregulasi kadar glukosa dan lipid telah terlibat dalam FI, dengan obesitas dan hiperlipidemia berkontribusi pada peradangan sistemik dan kerusakan jaringan. Memahami faktor metabolik yang mempengaruhi FI dapat membantu dalam mengembangkan intervensi yang ditargetkan. Tujuan: Studi ini mengeksplorasi hubungan antara profil lipid, indikator diabetes mellitus, dan tingkat keparahan FI pada individu lanjut usia. Metode: Studi analitik cross-sectional dilakukan dengan 93 orang lanjut usia dari Panti Jompo Bina Bhakti. Indeks Keparahan Inkontinensia Fekal (FISI) digunakan untuk menilai keparahan FI. Profil lipid dan panel diabetes mellitus diperoleh melalui tes darah vena. Analisis statistik termasuk Spearman's Rho dan analisis regresi berganda. Hasil: Studi ini menemukan korelasi negatif yang signifikan antara kadar LDL dan keparahan FI, menunjukkan peran protektif LDL dalam menjaga integritas jaringan anorektal. Demikian pula, kadar HbA1c berhubungan terbalik dengan keparahan FI, menunjukkan bahwa kontrol glikemik yang lebih baik terkait dengan gejala FI yang berkurang. Parameter lipid dan indikator glikemik lainnya tidak menunjukkan dampak signifikan pada keparahan FI. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa manajemen lipid dan kontrol glikemik sangat penting dalam mengelola FI pada lansia. LDL dan HbA1c muncul sebagai penanda potensial untuk menilai risiko dan keparahan FI. Untuk meningkatkan hasil bagi pasien lanjut usia dengan FI, pendekatan multifaktorial, termasuk intervensi diet dan farmakologis, harus diprioritaskan.
GAMBARAN POLIFARMASI PADA LANSIA DI RS ROYAL TARUMA JAKARTA TAHUN 2020-2022 Polakitang, Shefania Tirza; Kosasih, Robert
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.34332

Abstract

Lansia adalah sebutan bagi mereka yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan fungsi organ yang mengakibatkan lansia rentan terhadap penyakit sehingga peresepan obat meningkat. Kasus polifarmasi sering terjadi pada populasi lansia. Polifarmasi sendiri adalah pemberian 5 atau lebih obat secara bersamaan atau pemberian obat yang tidak sesuai indikasi. Hal ini menjadi perhatian mengingat dampak dari efek samping serta interaksi obat yang dapat memperburuk kondisi lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan penyebab polifarmasi, serta jenis obat terbanyak pada lansia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kategorik dengan desain studi cross sectional pada 114 data rekam medik di RS Royal Taruma Jakarta Barat. Hasil penelitian menunjukkan data terbanyak tahun 2020 dengan populasi perempuan 62 (54,4%) pasien, dan laki-laki 52 (45,6%) pasien. Didapatkan juga kelompok usia 60-74 tahun 92 (80,7%) pasien dan kelompok usia 75-90 tahun 22 (19,3%) pasien yang sebagian besar berdomisili di Jakarta Barat. Data menunjukkan pemberian <5 obat pada 37 (32,5%) pasien, pemberian 5-9 obat pada 68 (59,6%) pasien, dan pemberian >9 obat pada 9 (7,9%) pasien. Jenis obat terbanyak yang ditemukan adalah obat lambung 94 (82,5%), Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS) 59 (51,8%), dan antibiotik 57 (50%). Kesimpulan, ditemukan polifarmasi pada perempuan kelompok usia 60-74 tahun, dengan jenis obat terbanyak obat lambung. Hal ini dikarenakan kondisi multipatologi dan keluhan yang tidak khas pada lansia. Penelitian di masa mendatang perlu mempertimbangkan jumlah dan jenis obat pada kasus polifarmasi lansia agar target terapi yang efektif dapat tercapai dan efek samping serta interaksi obat dapat dihindari.
EVALUATING THE PREDICTIVE ACCURACY OF 4-SITE FAT CALIPER MEASUREMENTS TOTAL BODY FAT AND VISCERAL FAT ESTIMATION Atzmardina, Zita; Drew, Clement; Santoso, Alexander Halim; Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.34333

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Penilaian komposisi tubuh, khususnya lemak total dan visceral, sangat penting dalam menentukan risiko kesehatan. Lemak visceral berhubungan erat dengan masalah metabolik dan penyakit kardiovaskular, tetapi pengukurannya sering memerlukan teknik pencitraan yang mahal seperti CT atau MRI. Metode kaliper lemak 4-titik merupakan alat sederhana dan hemat biaya untuk menilai lemak tubuh total, namun efektivitasnya dalam memprediksi lemak visceral masih belum diketahui. Studi ini membandingkan estimasi metode kaliper 4-titik dengan teknik pencitraan standar emas untuk menilai akurasi prediktifnya. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi reproduksibilitas pengukuran berbasis kaliper terhadap lemak total dan visceral serta memberikan wawasan tentang penggunaannya dalam konteks klinis dan sumber daya terbatas. Hasil penelitian ini akan membantu praktisi dalam menerapkan teknik yang realistis untuk evaluasi kesehatan yang efektif. Metode: Studi cross-sectional ini dilakukan di Krendang (November 2024) dengan melibatkan 155 orang dewasa (18–60 tahun), dengan pengecualian individu dengan penyakit kronis, kehamilan, atau data yang tidak lengkap. Hasil: Kaliper triseps dan suprailiaka secara signifikan memprediksi lemak total dan subkutan regional (p < 0,001), tetapi tidak lemak visceral (p = 0,777; p = 0,745). Kaliper suprailiaka menunjukkan hubungan marginal dengan lemak lengan (p = 0,050). Hasil ini mendukung penggunaan pengukuran lipatan kulit sebagai alat yang andal untuk estimasi lemak subkutan. Kesimpulan: Kaliper triseps dan suprailiaka secara akurat memprediksi lemak subkutan tetapi tidak lemak visceral. Temuan ini menyoroti manfaatnya dalam pengaturan dengan sumber daya terbatas untuk memantau distribusi lemak, sekaligus menekankan perlunya pencitraan canggih untuk penilaian lemak visceral yang lebih akurat. ABSTRACT Introduction: Assessing body composition, particularly total and visceral fat, is critical for determining health risks. Visceral fat is highly associated with metabolic problems and cardiovascular diseases, but measuring it often necessitates the use of costly imaging techniques such as CT or MRI. The 4-site fat caliper method, a simple and cost-effective tool for assessing total body fat, is extensively used, although its effectiveness in predicting visceral fat is unknown. This study compares the 4-site fat caliper method's estimates to gold-standard imaging techniques to assess their predictive accuracy. The study's goal is to assess the reproducibility of caliper-derived measurements for total and visceral fat, as well as to provide insights into their use in clinical and resource-limited contexts. These findings will assist practitioners in implementing realistic techniques for conducting effective health evaluations. Methods: This cross-sectional study, conducted in Krendang (November 2024), involved 155 adults (18–60 years), excluding those with chronic conditions, pregnancy, or incomplete data. Results: Tricep and suprailiac fat calipers significantly predicted total and regional subcutaneous fat (p < 0.001) but not visceral fat (p = 0.777; p = 0.745, respectively). Suprailiac calipers showed marginal association with arm fat (p = 0.050). These findings support skinfold measurements as reliable tools for subcutaneous fat estimation. Conclusion: Tricep and suprailiac fat calipers reliably predict subcutaneous fat but not visceral fat. These findings highlight their utility in resource-limited settings for monitoring fat distribution, while emphasizing the need for advanced imaging to assess visceral fat accurately.

Page 8 of 11 | Total Record : 109