cover
Contact Name
Muhamad Ahyar Rasidi
Contact Email
ccgedu.org@gmail.com
Phone
+6287865186492
Journal Mail Official
ccgedu.org@gmail.com
Editorial Address
Jln. By Pass BIL Batujai No. Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Location
Kab. lombok tengah,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Walada: Journal of Primary Education
ISSN : 29622662     EISSN : 29630037     DOI : https://doi.org/10.61798/wjpe.v1i1.1
Core Subject : Education, Social,
Focus and Scope Walada: Journal of Primary Education with P-ISSN: 2962-2662 dan E-ISSN: 2963-0037 mainly focuses on learning in primary schools, teacher education or primary school. Detailed scopes of articles accepted for submission to Jurnal walada are: Learning Theory Curriculum and Technology in Education School Management School Policy Teaching and learning
Articles 424 Documents
Penerapan Model BAHIMAT untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah siswa kelas IV Sekolah Dasar Muhammad Fikri; Noorhapizah
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.969

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah murid kelas IV SDN Mekar Sari Kabupaten Banjar, di mana 9 dari 12 murid belum mencapai KKM matematika akibat pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis peningkatan aktivitas guru, aktivitas murid, keterampilan berpikir kritis, keterampilan memecahkan masalah, dan hasil belajar melalui model BAHIMAT, kombinasi Problem Based Learning, Realistic Mathematics Education, dan Picture and Picture. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini melibatkan 12 murid kelas IV dalam tiga pertemuan, dengan data dikumpulkan melalui lembar observasi dan tes tertulis, dianalisis secara deskriptif-kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang konsisten: aktivitas guru meningkat dari 72% menjadi 100% (Sangat Baik), aktivitas murid dari 33% menjadi 100% (Sangat Aktif), berpikir kritis dari 8% menjadi 83%, memecahkan masalah dari 17% menjadi 83%, serta ketuntasan hasil belajar klasikal dari 17% menjadi 100%. Temuan ini mengimplikasikan bahwa keterlaksanaan sintaks pembelajaran berbasis masalah, kontekstual, dan visual secara konsisten, didukung refleksi berkelanjutan, mampu mengarahkan murid pada pembelajaran matematika yang lebih aktif dan bermakna, serta dapat dijadikan referensi alternatif bagi guru sekolah dasar.
Pengaruh Model Bralancing Berbantuan Media Audio Visual terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Kadek Winda Yunita; Komang Wahyu Wiguna; I Putu Suardipa
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.970

Abstract

Matematika merupakan mata pelajaran yang berperan penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, analitis, dan kreatif peserta didik di sekolah dasar. Namun, tingkat literasi matematika siswa di Indonesia masih tergolong rendah, salah satunya disebabkan oleh pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Bralancing berbantuan media audio visual terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment yang dilaksanakan pada siswa kelas IV SD Gugus IV Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Analisis data dilakukan melalui statistik deskriptif, uji Normalized Gain (N-Gain), uji prasyarat, dan uji Independent Samples T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami peningkatan hasil belajar setelah pembelajaran, namun peningkatan pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil uji Independent Samples T-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model Bralancing berbantuan media audio visual terhadap hasil belajar matematika siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa model Bralancing berbantuan media audio visual lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar matematika. Implikasi penelitian ini adalah bahwa model Bralancing berbantuan media audio visual dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang inovatif bagi guru sekolah dasar untuk menciptakan pembelajaran matematika yang lebih aktif, bermakna, dan menyenangkan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman Dan Komunikasi Menggunakan Model Bapikir Pada Murid Sekolah Dasar Diana Safitri; Noorhapizah
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.972

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman, keterampilan komunikasi, dan hasil belajar dengan model BAPIKIR dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas IV SDN AStambul Kota. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan selama empat pertemuan dengan subjek 12 murid. Model BAPIKIR mengintegrasikan Problem Based Learning, Think Pair Share, dan Talking Stick. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh aspek telah mencapai indikator keberhasilan pada pertemuan keempat. Aktivitas guru mencapai 97% dengan kategori “Sangat Baik”, aktivitas murid mencapai 83% dengan kategori “Hampir Seluruh Murid Sangat Aktif”, keterampilan membaca pemahaman mencapai 83% dengan kategori “Hampir Seluruh Murid Sangat Terampil”, keterampilan komunikasi mencapai 92% dengan kategori “Hampir Seluruh Murid Sangat Terampil”, serta ketuntasan hasil belajar mencapai 92%. Dengan demikian, model BAPIKIR dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis, Kerjasama, Dan Karakter Wasaka Muatan IPAS Model PBL, Make A Macth, Dan NHT Pada Murid Kelas IV Sekolah Dasar Najmi Ulya; Muhsinah Annisa
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.973

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kurangmya keterampilan berpikir kritis, keterampilan kerja sama, serta karakter WASAKA (kerja keras) dipembelajaran IPAS sekolah dasar. Upaya perbaikan dilakukan melalui kombinasi model  PBL, Make a Match, dan NHT. Penelitian ini berfokus pada analisis aktivitas guru, aktivitas siswa, keterampilan berpikir kritis, keterampilan kerjasama, karakter WASAKA (kerja keras) dalam proses pendidikan IPAS. Metode yang diterapkan adalah PTK yang dilakukan dalam empat sesi. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 13 siswa kelas IV di sekolah dasar. Hasil dari studi menunjukkan adanya kemajuan dalam setiap variabel yang diteliti. Aktivitas guru memperoleh skor 32 dengan kategori sangat baik, aktivitas murid mencapai 92% kategori sangat aktif, keterampilan berpikir kritis mencapai 100% kategori sangat kritis, keterampilan kerja sama mencapai 100% kategori sangat terampil, karakter WASAKA (kerja keras) mencapai 92% kategori sudah membudaya, sedangkan hasil belajar murid mencapai ketuntasan klasikal sebesar 100%. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kombinasi model PBL, Make a Match, dan NHT mampu meningkatkan kualitas proses maupun hasil pembelajaran IPAS.
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis, Kerjasama, Karakter Kayuh Baimbai Mata Pelajaran IPAS Menggunakan Model Project Based Learning, Numbered Heads Together, dan Talking Stick Pada Kelas V Sekolah Dasar Nurul Adha; Muhsinah Annisa
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.974

Abstract

Keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan karakter Kayuh Baimbai murid kelas V pada pembelajaran IPAS di SDN Melayu 11 Banjarmasin masih rendah karena murid belum terbiasa menganalisis permasalahan kontekstual, berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok, dan menerapkan nilai gotong royong. Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan karakter Kayuh Baimbai melalui penerapan model BINTANG yang mengintegrasikan Project Based Learning, Numbered Heads Together, dan Talking Stick. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang dilaksanakan dalam dua siklus terhadap 15 murid kelas V. Data dikumpulkan melalui observasi, angket, rubrik penilaian, tes, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada setiap siklus hingga mencapai indikator keberhasilan, yaitu keterampilan berpikir kritis sebesar 86,67%, kerja sama sebesar 93,33%, dan karakter Kayuh Baimbai sebesar 86,67%. Temuan ini menunjukkan bahwa model BINTANG dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan penguatan karakter berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar.
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis, Pemecahan Masalah dan Kerja Sama Menggunakan Model BAGAWI Pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila di Sekolah Dasar Muhammad Hidayatullah; Yogi Prihandoko
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.978

Abstract

Keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kerja sama merupakan keterampilan penting dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, tetapi siswa kelas IV masih menunjukkan keterlibatan rendah dalam memahami masalah, menganalisis informasi, dan bekerja dalam kelompok. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan aktivitas guru serta menganalisis peningkatan aktivitas siswa, keterampilan berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, keterampilan kerja sama, dan hasil belajar melalui model BAGAWI. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam empat pertemuan dengan subjek 16 siswa kelas IV SDN Kuin Utara 5 Banjarmasin. Data dikumpulkan melalui observasi, tes tertulis, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan analisis kecenderungan seluruh aspek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas guru meningkat dari 72% menjadi 97%, aktivitas siswa dari 19% menjadi 94%, berpikir kritis dari 19% menjadi 88%, pemecahan masalah dari 25% menjadi 88%, dan kerja sama dari 25% menjadi 94%. Hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik mencapai 88%, 94%, dan 88%. Model BAGAWI dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar.
Implementasi Model Team Games Tournament (TGT) Dalam Meningkatkan Keterampilan Kolaborasi Murid Sekolah Dasar Indriyati; Tika Puspita Widya Rini
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.981

Abstract

Keterampilan kolaborasi merupakan kompetensi esensial abad ke-21, namun faktanya murid kelas IV SDN Barambai Kolam Kiri 3 masih menunjukkan keterlibatan sosial yang rendah dalam kerja kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi murid. Penelitian tindakan kelas ini melibatkan 24 murid sebagai unit analisis. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif menggunakan lembar indikator kolaborasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan turnamen akademik dalam TGT mendorong murid untuk saling membantu (tutor sebaya) dan bertanggung jawab atas keberhasilan tim. Temuan utama mengindikasikan peningkatan signifikan pada kemampuan murid dalam menerima perbedaan pendapat dan mengelola konflik kelompok. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa model Team Games Tournament (TGT) dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran oleh guru IPAS sekolah dasar untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi murid, khususnya dalam kemampuan berkomunikasi, berkontribusi, bekerja sama, bertanggung jawab, dan menyelesaikan konflik melalui aktivitas belajar yang terstruktur dan berpusat pada murid.
Pengaruh Teknik Grafito dalam Kegiatan Mewarnai Terhadap Kreativitas Anak Usia Dini Putu Anggi Purnama Dewi; Ni Wayan Risna Dewi; Komang Agus Budhi Arya Pramana
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.983

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh teknik grafito dalam kegiatan mewarnai terhadap kreativitas anak usia dini di PAUD Terpadu Lila Hita. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya penerapan teknik grafito dalam pembelajaran seni pada pendidikan anak usia dini, sementara kegiatan mewarnai yang dilakukan secara konvensional belum mampu mengoptimalkan kreativitas anak. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experiment) dan desain Posttest Only Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas 32 anak usia 5–6 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, masing-masing 16 anak pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur berdasarkan indikator kreativitas, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan Independent Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memperoleh rata-rata skor kreativitas lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (85,38 dan 77,06), dengan perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa teknik grafito efektif meningkatkan kreativitas anak usia dini serta dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran seni yang inovatif untuk mendukung pengembangan kreativitas di lembaga PAUD.  
Pengembangan dan Implementasi Model Integrasi Kearifan Lokal Pada Pembelajaran IPAS Kurikulum Merdeka di SD Negeri Sori Katupa Daerah 3T Kabupaten Bima Muhammad Yamin; I Wayan Lasmawan; I Gusti Putu Suharta; I Wayan Widiana
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.984

Abstract

: Implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual yang sesuai dengan karakteristik lingkungan peserta didik. Namun, pelaksanaan pembelajaran IPAS di sekolah dasar, khususnya pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), masih didominasi oleh penggunaan bahan ajar yang bersifat umum sehingga belum mampu mengakomodasi potensi kearifan lokal sebagai sumber belajar. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan model integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran IPAS pada Kurikulum Merdeka di SD Negeri Sori Katupa, Kabupaten Bima. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Model yang dikembangkan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal Bima, pengetahuan tradisional, serta praktik kehidupan masyarakat ke dalam tujuan pembelajaran, modul ajar, kegiatan berbasis proyek, media pembelajaran, dan asesmen autentik. Model ini dirancang untuk meningkatkan literasi sains, kemampuan berpikir kritis, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan model pembelajaran yang secara khusus dirancang berdasarkan karakteristik kearifan lokal masyarakat Bima dan kebutuhan sekolah dasar di wilayah 3T. Model yang dihasilkan diharapkan menjadi alternatif inovatif dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS yang kontekstual, bermakna, dan berkelanjutan.
Efektivitas Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Pada Mata Pelajaran IPAS di Sekolah Dasar Erika Lia Pradita; Mahilda Dea Komalasari
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.986

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Project Based Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran IPAS di Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, metode quasi eksperimen dengan pendekatan nonequivalent control group design . Subjek penelitian terdiri dari 48 siswa yang terbagi ke dalam kelas eksperimen dan kelas kontrol, masing-masing berjumlah 24 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan tes kemampuan berpikir kreatif yang mencakup kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas, dan elaborasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji independen sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen meningkat dari 60,071 pada pre-test meningkat menjadi 74,321 pada post-test . Sementara itu, kelas kontrol juga mengalami peningkatan dari 63,642 menjadi 68,233. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil uji t menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,044 (<0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Project Based Learning efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.