cover
Contact Name
Putri Asilestari
Contact Email
putriasilestari89@gmail.com
Phone
+6282316807980
Journal Mail Official
joecyup@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau, Indonesia Pos Code 28411 Telp. 0762 21677
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Journal of Innovative and Creativity
ISSN : 2962570X     EISSN : 2776771X     DOI : https://doi.org/10.31004/joecy
Core Subject : Education, Social,
Journal of Innovative and Creatifity (JOECY) publishes research articles in the field of education which report empirical research on topics that are significant across educational contexts, in terms of design and findings. The topic could be in curriculum, teaching learning, evaluation, quality education, management, and education technology. Papers which contain in-depth critical literature reviews of research on specific educational topics are also welcomed.
Articles 7,356 Documents
Peran Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai pada Layanan Administrasi Kependudukan Mutmainna Rachman; Kahar Kahar; Irwan Abdullah
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12544

Abstract

Kinerja pegawai merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas pelayanan publik, terutama pada instansi administrasi kependudukan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik dalam meningkatkan kinerja pegawai pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Populasi penelitian mencakup seluruh pegawai sebanyak 43 orang, sehingga teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, regresi linear berganda, uji parsial, dan uji simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Motivasi ekstrinsik juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Secara simultan, kedua variabel tersebut terbukti berperan penting dalam menjelaskan peningkatan kinerja pegawai. Temuan ini menunjukkan bahwa kinerja pegawai sektor publik tidak hanya ditentukan oleh aturan formal dan pengawasan administratif, tetapi juga oleh dorongan internal serta dukungan eksternal organisasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur manajemen sumber daya manusia sektor publik dengan menegaskan pentingnya pengelolaan motivasi intrinsik dan ekstrinsik secara seimbang untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Efektivitas Media Edukasi Digital dan Integratif dalam Meningkatkan Self-Management Pasien Diabetes Mellitus untuk Pencegahan Kegawatdaruratan Hiperglikemia Tri Wahyuni Ismoyowati; Aryaprana Nando; Hari Iskandar Kang; Lido Sianipar
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12563

Abstract

This literature review aimed to analyze the effectiveness of educational media in improving knowledge and self-management among patients with Diabetes Mellitus to prevent hyperglycemia emergencies. A systematic search was conducted across PubMed, Scopus, ProQuest, and Google Scholar for studies published between 2019–2024 using MeSH-based keywords related to diabetes education and self-management. Studies that met inclusion criteria involved adult diabetes patients receiving educational interventions through printed, audiovisual, or digital media. Findings showed that digital media, such as smartphone applications, interactive videos, telehealth, and gamification, consistently demonstrated significant improvements in knowledge, self-care behaviors, treatment adherence, and glycemic control. Audiovisual media also enhanced understanding and self-management skills, while printed media remained beneficial for older adults and individuals with limited digital literacy. Overall, multimodal educational strategies that combined digital and traditional media were most effective, particularly when supported by healthcare providers. These results indicated that educational media played a critical role in empowering diabetes patients to manage their disease and prevent hyperglycemia emergencies, including Diabetic Ketoacidosis and Hyperosmolar Hyperglycemic State.
Efektivitas Edukasi Digital dalam Meningkatkan Kesiapan dan Keselamatan Pasien Perioperatif: Literature Review Tri Wahyuni Ismoyowati; Muhamad Arief Fadli; Sahat Tumpal Salomo; Henry Agus Agus
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12564

Abstract

The perioperative period is a critical phase that requires optimal patient preparation to improve surgical outcomes and ensure patient safety. Inadequate patient knowledge regarding surgical procedures, anesthesia, postoperative care, and safety measures may increase anxiety, reduce adherence to perioperative instructions, and contribute to postoperative complications. Digital education has emerged as an innovative strategy to provide accessible, interactive, and patient-centered health education. This literature review aimed to analyze the effectiveness of digital educational interventions in improving perioperative patient preparedness and patient safety. A literature review was conducted using articles retrieved from PubMed, Scopus, ScienceDirect, ProQuest, and Google Scholar published between 2020 and 2025. The search employed keywords including "digital education", "perioperative education", "preoperative education", "patient safety", "multimedia education", "mobile health", and "surgical patient". Articles were selected based on predefined inclusion and exclusion criteria, and the quality of eligible studies was assessed before narrative synthesis. The reviewed studies consistently demonstrated that digital education delivered through videos, mobile applications, web-based platforms, virtual education, and multimedia programs significantly improved patients’ knowledge, reduced preoperative anxiety, enhanced adherence to perioperative instructions, increased satisfaction with healthcare services, and strengthened patient safety. Several studies also reported improvements in communication between healthcare professionals and patients, resulting in better perioperative outcomes. In conclusion, digital education is an effective and evidence-based strategy to improve perioperative preparedness and patient safety. Integrating digital educational media into perioperative nursing practice and multidisciplinary surgical care is recommended to optimize the quality of perioperative services
Program Intervensi Berbasis Selfcare terhadap Orang Tua Balita Gizi Kurang dalam Pemanfaatan Pangan Lokal di Desa Karang Rejo Yani Lestari; Reny Juliana Sihombing
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Gizi kurang pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan anak. Upaya penanggulangan memerlukan pendekatan yang melibatkan peran aktif orang tua melalui program intervensi berbasis selfcare yang terintegrasi dengan pemanfaatan sumber pangan lokal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program intervensi berbasis selfcare terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua balita gizi kurang dalam memanfaatkan pangan lokal di Desa Karang Rejo. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pre-test dan post-test. Populasi adalah seluruh orang tua balita gizi kurang di Desa Karang Rejo. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan uji Mann-Whitney. Hasil: Terdapat peningkatan yang bermakna pada pengetahuan orang tua setelah diberikan intervensi selfcare (p<0,05). Sikap orang tua dalam memanfaatkan pangan lokal meningkat secara signifikan (p<0,05). Perilaku pemberian makan berbasis pangan lokal juga mengalami perbaikan bermakna pasca intervensi (p<0,05). Kesimpulan: Program intervensi berbasis selfcare terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua balita gizi kurang dalam memanfaatkan pangan lokal di Desa Karang Rejo. Implementasi program ini dapat menjadi model intervensi gizi yang berkelanjutan berbasis komunitas.
Makna Sosial Budaya Di Balik Praktik Perawatan Anak Dan Pencegahan Stunting Pada Keluarga Balita Di Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Nurliati Nurliati; Siska Mariany Ocfica Napitupulu
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi beban kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Faktor sosial budaya memainkan peran sentral dalam membentuk praktik perawatan anak yang berdampak langsung pada risiko stunting, namun mekanisme konstruksi makna di balik praktik tersebut belum banyak dieksplorasi secara mendalam. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menginterpretasi makna sosial budaya yang melatarbelakangi praktik perawatan anak dan pencegahan stunting pada keluarga balita di Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan metode purposive sampling. Informan berjumlah sepuluh orang, terdiri atas ibu balita, ayah, nenek, bidan, dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman dengan dukungan triangulasi sumber dan triangulasi metode sebagai uji keabsahan data. Hasil: Ditemukan delapan tema utama, yaitu: (1) makna sehat berbasis fungsional; (2) nilai budaya dalam pemberian makan anak; (3) pantangan makanan berdasarkan kepercayaan lokal; (4) dinamika peran ibu, ayah, dan nenek; (5) pengaruh tokoh masyarakat terhadap perilaku keluarga; (6) pola pemanfaatan Posyandu; (7) hambatan keluarga dalam pencegahan stunting; serta (8) strategi ketahanan kesehatan balita. Pantangan makanan hewani dan pemberian makanan pendamping ASI sebelum usia enam bulan menjadi praktik dominan yang dipengaruhi oleh kepercayaan antargenerasi. Kesimpulan: Konstruksi makna sosial budaya secara signifikan membentuk praktik perawatan anak yang berisiko terhadap terjadinya stunting. Intervensi berbasis budaya dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengubah perilaku pengasuhan secara berkelanjutan.
Gambaran Karakteristi dan Pengetahuan Penderita Tuberculosis dalam Upaya Pencegahan Penularan Penyakit Tuberkulosis Diwilayah Kerja Puskesmas Kalanganyar Rangkasbitung 2026 Rodi Widiantoro
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12577

Abstract

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis merupakan salah satu dari 10 penyakit yang menyebabkan kematian terbesar di dunia, menurut World Health Organization. Untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam penanganan dan pencegahan penyebaran TBC, diperlukan analisis data yang mampu mengidentifikasi pola sebaran kasus secara akurat. TB Paru menjadi salah satu masalah utama kesehatan masyarakat dan sampai saat ini belum dapat ditangani walaupun sudah dilakukan upaya penanggulangan melalui program TB oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik dan pengetahuan penderita tuberkulosis dalam upaya pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Kalanganyar Rangkasbitung. Metoda: desain deskriptif dengan jumlah 35 responden. Hasil penelitian : ditinjau dari segi umur responden tertinggi berada pada kategori 46 - 65 tahun sebanyak 14 orang (40.0%). Jenis kelamin responden penderita tuberkulosis yang tertinggi berjenis kelamin laki - laki sebanyak 24 orang (68.6%). Pendidikan responden penderita tuberkulosis yang tertinggi berada pada kategori SMP sebanyak 17 orang (48.6%). Status pekerjaan responden penderita tuberkulosis yang tertinggi berada pada kategori bekerja sebanyak 21 orang (60.0%). Lama menderita responden penderita tuberkulosis yang tertinggi berada pada kategori < 6 bulan sebanyak 28 orang (80.0%). Lama pengobatan responden penderita tuberkulosis yang tertinggi berada pada kategori 4 - 6 bulan sebanyak 13 orang (37.1%). Riwayat pengobatan responden penderita tuberkulosis yang tertinggi berada pada kategori pengobatan baru sebanyak 28 orang (80.0%) dan pengetahuan responden penderita tuberkulosis tentang upaya pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Kalanganyar yang tertinggi berada pada kategori cukup sebanyak 18 orang (51.4%).
Pengaruh Kesenjangan Komunikasi terhadap Efektivitas Organisasi pada HIMANISRA Universitas Tidar Deva Lutfi Azizah; Lintang Laila Medianti; Amanda Rizka Amelia; Firly Amelia; Adika Lestari
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesenjangan komunikasi terhadap efektivitas organisasi pada HIMANISRA Universitas Tidar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada 45 anggota aktif. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dalam organisasi tergolong baik, ditandai dengan kejelasan penyampaian informasi, kemudahan akses komunikasi, serta pemahaman pesan oleh anggota. Efektivitas organisasi juga berada pada kategori tinggi, terlihat dari tercapainya tujuan organisasi, kerja sama yang baik, hubungan yang harmonis, serta kepuasan anggota. Namun, masih terdapat indikasi kesenjangan komunikasi, seperti adanya anggota yang merasa kekurangan informasi dan perbedaan pendapat yang terkadang menghambat komunikasi. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kesenjangan komunikasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas organisasi dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,05) dan koefisien determinasi sebesar 0,272. Hal ini berarti kesenjangan komunikasi memberikan kontribusi sebesar 27,2% terhadap efektivitas organisasi. Dengan demikian, kesenjangan komunikasi terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas organisasi, meskipun terdapat faktor lain yang juga memengaruhi.
Description of Behavior and Attitudes of Postpartum Mothers in Implementing Locally Culturally-Based Self-Care in Bandar Baru Village, Sibolangit Sub-District Aspiati Aspiati; Ristika Julianty Singarimbun
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background. The postpartum period represents a critical phase of physical and psychological recovery for mothers following childbirth. In many rural communities in North Sumatra, Indonesia, local cultural practices continue to shape the manner in which postpartum care is implemented, yet the extent to which these practices are consistent with evidence-based midwifery standards remains inadequately examined. Objective. This study aimed to describe the behavior and attitudes of postpartum mothers regarding locally culturally-based self-care practices in Bandar Baru Village, Sibolangit Sub-District, Deli Serdang Regency, North Sumatra. Methods. A descriptive quantitative study with a cross-sectional approach was conducted from October 18, 2024 to January 31, 2025. The total sampling technique was used, encompassing 52 postpartum mothers who met the inclusion criteria. Data were collected using a validated structured questionnaire measuring self-care behavior and attitude. Univariate analysis was performed to generate frequency distributions and percentages. Ethical clearance was obtained from the Research Ethics Committee of STIKes Darmo, with reference number 012/KEPK-STIKESDARMO/X/2024. Results. The majority of respondents (71.2%) were aged 20–35 years, with secondary education (53.8%) being most prevalent. In terms of self-care behavior, 55.8% of postpartum mothers demonstrated adequate behavior, while 44.2% showed inadequate behavior. Regarding attitude, 61.5% of respondents held a positive attitude toward self-care, while 38.5% demonstrated a negative attitude. Locally culturally-based practices identified included consumption of traditional herbal beverages (jamu) (80.8%), application of traditional abdominal binders (gurita) (75.0%), dietary taboos (67.3%), traditional massage (57.7%), and restricted physical activity (65.4%). Conclusion. There remains a substantial proportion of postpartum mothers with inadequate self-care behavior, despite the prevalence of positive attitudes. Culturally-rooted practices continue to exert a strong influence on postpartum care. Healthcare providers, particularly midwives, should integrate cultural competence into postpartum counseling to harmonize local wisdom with clinical evidence.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Berbasis Kearifan Lokal Terhadap Pencegahan Anemia dan Peningkatan Body Image Remaja Putri di Kabupaten Langkat Srinur Nilawati; Sapnita Sapnita
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Anemia among adolescent girls remains a major public health problem in Indonesia because it adversely affects growth, learning ability, productivity, reproductive health, and increases the risk of pregnancy-related complications in later life. In addition, many adolescent girls experience negative body image due to the influence of social media and unrealistic beauty standards. Health education has predominantly relied on conventional information delivery methods and has rarely integrated local wisdom as a learning approach. However, Langkat Regency possesses rich Malay cultural values and abundant local food resources that can be utilized to enhance the effectiveness of health education. Several local food-based educational programs have demonstrated improvements in knowledge related to anemia prevention, indicating that a local wisdom-based approach deserves further development. Objective: This study aimed to analyze the effect of local wisdom-based health education on anemia prevention and the improvement of positive body image among adolescent girls in Langkat Regency. Methods: This study employed a quasi-experimental design with a pretest–posttest control group design. The intervention group received local wisdom-based health education for four weeks, while the control group received conventional health education. The measured variables included knowledge of anemia, anemia prevention behaviors, adherence to iron and folic acid supplementation, and body image. Expected Results: Local wisdom-based health education is expected to significantly improve knowledge of anemia, anemia prevention behaviors, adherence to iron and folic acid supplementation, and positive body image compared with conventional health education. Conclusion: The integration of local cultural values into health education is expected to serve as an effective health promotion model for improving the health status of adolescent girls while simultaneously preserving local cultural heritage.
Selfcare Agensi pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak Ira Maulani Lubis; Roy Wilson Sihaloho
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Anak berkebutuhan khusus (ABK) menghadapi tantangan signifikan dalam mengembangkan kemandirian perawatan diri (selfcare agency). Kemampuan selfcare yang optimal merupakan fondasi penting bagi kualitas hidup dan partisipasi sosial ABK. Sekolah Luar Biasa (SLB) memegang peran strategis dalam memfasilitasi pengembangan selfcare agency melalui program pendidikan khusus yang terstruktur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gambaran selfcare agency pada anak berkebutuhan khusus di SLB Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 68 orang tua/wali ABK yang bersekolah di SLB Hamparan Perak. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling sehingga seluruh populasi menjadi responden (N=68). Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Appraisal of Self-Care Agency (ASA-A) yang telah dimodifikasi dan divalidasi sesuai konteks ABK di Indonesia (nilai Content Validity Index/CVI=0,92; Cronbach’s Alpha=0,87). Data dikumpulkan pada 21 Januari–30 April 2025 dan dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil: Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berusia 10–15 tahun (44,1%), berjenis kelamin laki-laki (57,4%), dengan diagnosis tunagrahita (41,2%). Hasil analisis menunjukkan 36 responden (52,9%) memiliki selfcare agency dalam kategori rendah, 22 responden (32,4%) kategori sedang, dan 10 responden (14,7%) kategori tinggi. Komponen yang paling lemah adalah domain estimasi kognitif (52,9% rendah). Kesimpulan: Mayoritas ABK di SLB Hamparan Perak memiliki selfcare agency kategori rendah, terutama pada aspek kemampuan kognitif dalam merencanakan perawatan diri. Intervensi terintegrasi antara sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan selfcare agency ABK.