cover
Contact Name
Kusuma Estu Werdani
Contact Email
kusuma.werdani@ums.ac.id
Phone
+6287758333434
Journal Mail Official
jurnalkesehatan@ums.ac.id
Editorial Address
Ahmad Yani Tromol Pos I Pabelan Kartasura
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan
ISSN : 19797621     EISSN : 26207761     DOI : https://www.doi.org/10.23917/jk.v16i3.2022
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan is a peer-reviewed journal published by Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah dan Buku Ajar Universitas Muhammadiyah Surakarta and managed by the Faculty of Health Sciences of Universitas Muhammadiyah Surakarta, which emphasizes on the delivery of scientific research results and literature review in the field of health in general. Jurnal Kesehatan (p-ISSN: 1979-7621 and e-ISSN: 2620-7761) is an Acredited Journal with S4 Sinta based on Kemenristek Dikti Decree No. 148/M/KPT/2020, from Vol. 14 No. 2, 2020 to Vol. 16 No. 2, 2023.
Articles 94 Documents
Relationship Between Knowledge Level of White Tofu Traders and the Presence of Formalin in Kartasura Traditional Market, Sukoharjo Regency Nabila, Shofiyah; Asyfiradayati, Rezania
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.6383

Abstract

Pendahuluan: Tahu putih merupakan salah satu alternatif pangan di kalangan masyarakat menengah ke bawah yang memiliki manfaat berupa kandungan protein nabati yang cukup tinggi. Penggunaan Formalin pada tahu putih dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pedagang terhadap bahaya Formalin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan Pedagang Tahu Putih dengan Keberadaan Formalin di Pasar Tradisional Kartasura Kabupaten Sukoharjo. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 46 pedagang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Wawancara menggunakan kuesioner yang berisi 18 soal pilihan ganda. Uji kualitatif kandungan Formalin menggunakan Kalium permanganat (KMnO4). Analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan signifikansi 0,05. Hasil: Penelitian ini mendapatkan 46 sampel tahu negatif yang ditandai dengan tidak adanya perubahan warna dari abu keunguan menjadi kecoklatan. Hasil analisis uji Chi-square diperoleh nilai p atau sig. sebesar 0,228, dengan menggunakan alpha sebesar 0,05 diperoleh nilai p-value ≥ 0,05 atau nilai χ2 hitung sebesar 1,660 ≤ χ2 tabel sebesar 3,841. Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan keberadaan formalin di Pasar Tradisional Kartasura Kabupaten Sukoharjo.     Introduction: White tofu is an alternative food among the lower middle class that has the benefit of a fairly high vegetable protein content. The use of Formaldehyde in white tofu can be caused by the lack of knowledge of traders on the dangers of Formaldehyde. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge of White Tofu Traders and the Presence of Formalin in the Kartasura Traditional Market, Sukoharjo Regency. Methods: This type of research is observational analysis with a cross-sectional approach. The research sample of 46 traders was taken using the simple random sampling technique. The interview used a questionnaire containing 18 multiple-choice questions. Qualitative test of Formaldehyde content using Potassium permanganate (KMnO4). Statistical analysis uses the chi-square test with a significance of 0.05. Results: The study found that 46 negative tofu samples were characterized by no color change from purplish ash to brownish. The results of the Chi-square test analysis obtained a p-value or sig. of 0.228, using an alpha of 0.05, the p-value ≥ 0.05 or a calculated χ2 value of 1.660 ≤ χ2 table of 3.841 was obtained. Conclusion: It can be concluded that there is no relationship between the level of knowledge and the presence of formalin in the Kartasura traditional market, Sukoharjo Regency.
The Effect of Jasmine Flower Extract (Jasminum sambac) on the Lethal Dose Effect of LT on Aedes aegypti Mosquito Larvae Saroh, Putri Rohmah Muya; Mahtuti, Erni Yohani; Rahmawati, Previta Zeizar
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.6897

Abstract

Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue Demam berdarah (DBD) telah berkembang menjadi masalah kesehatan utama bagi masyarakat Indonesia. Pengendalian vektor untuk memutus mata rantai penularan demam berdarah merupakan salah satu cara pencegahan penyakit demam berdarah. Salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan demam berdarah adalah dengan mengendalikan jentik menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida secara terus-menerus dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan insektisida alami dengan memanfaatkan bahan-bahan di sekitar kita yang mengandung zat sebagai insektisida, salah satunya adalah bunga melati (Jasminum sambac). Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak bunga melati terhadap larva Aedes aegypti dengan konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25% dengan waktu kontak 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, 30 menit, 35 menit, 40 menit, 45 menit, 50 menit, 55 menit, 60 menit. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan acak lengkap. Cara pembuatan ekstraksi dengan cara ceration menggunakan etanol 96%. Sampel yang digunakan adalah larva Aedes aegypti instar III. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi yang menimbulkan efek knockdown 50% berdasarkan estimasi adalah pada konsentrasi 14,019%. Hasil analisis statistik dengan anova p=0,05 menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari interaksi konsentrasi dan waktu kontak (p=0,19) terhadap kematian larva Aedes aegypti. Kesimpulan: Penelitian ini telah membuktikan bahwa ekstrak bunga melati (jasminum sambac) efektif sebagai larvasida. Dari hasil analisis probit didapatkan bahwa konsentrasi yang menimbulkan efek knockdown 50% berdasarkan estimasi adalah pada konsentrasi 14,019%.     Introduction: Dengue Fever Dengue fever (DHF) has developed into a major health problem for Indonesian society. Vector control to stop the chain of transmission of dengue fever is one way to prevent dengue fever. One effective way to control dengue fever is to control larvae using insecticides. Continuous use of insecticides can cause side effects that are harmful to the environment. Therefore, natural insecticides are needed by utilizing materials around us that contain substances as insecticides, one of which is jasmine flowers (Jasminum sambac). Method: This study aims to determine the effect of jasmine flower extract on Aedes aegypti larvae with concentrations of 10%, 15%, 20%, 25% with contact times of 5 minutes, 10 minutes, 15 minutes, 20 minutes, 25 minutes, 30 minutes, 35 minutes, 40 minutes,45 minutes,50 minutes,55 minutes,60 minutes. This type of research is an experiment with a completely randomized plan. How to make extraction by ceration using 96% ethanol. The samples are third instar Aedes aegypti larvae. Results: The results of this research showed that the concentration that caused a 50% knockdown effect based on estimates was at a concentration of 14,019%. The results of statistical analysis with anova p=0.05 showed a significant effect of the interaction of concentration and contact time (p=0.19) on the death of Aedes aegypti larvae. Conclusion: This research has proven that jasmine flower extract (jasminum sambac) is effective as a larvicide. From the results of the probit analysis, it was found that the concentration that caused a 50% knockdown effect based on estimates was a concentration of 14,019%.
The Influence of Snakes and Ladders Edugames on Tuberculosis Literacy of Students at Elementary School Nurdin, Andi Asmiati; Hasin, Ardiansah; Syafruddin, Zulfidayani; Warsyidah, Andi Auliyah
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.6943

Abstract

Pendahuluan: Penelitian ini membahas tuberkulosis sebagai masalah kesehatan global yang memerlukan pendidikan dini, yang menargetkan siswa sekolah dasar selama tahap penting perkembangan perilaku. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan Ular Tangga sebagai alat pendidikan yang menarik untuk meningkatkan literasi tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menilai dampak permainan terhadap literasi tuberkulosis siswa di SDN No. 234 Inpres Takalar Kota, 2) mengevaluasi tingkat literasi sebelum penerapan permainan, dan 3) menilai tingkat literasi setelah penggunaannya. Metode: Jenis penelitian ini adalah pra-eksperimental, yaitu one-group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di SDN No. 234 Inpres Takalar Kota yang berjumlah 314 orang dari 6 kelas, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 50 siswa kelas V yang dipilih menggunakan teknik randomisasi kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes literasi tuberkulosis pilihan ganda. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Hasil: Analisis deskriptif menunjukkan peningkatan skor rata-rata literasi tuberkulosis siswa dari 54,80 (tes awal) menjadi 76,42 (tes akhir). Analisis inferensial menggunakan uji Wilcoxon signed-rank mengonfirmasi adanya pengaruh positif signifikan dari permainan edukasi ular tangga terhadap literasi tuberkulosis. Kesimpulan: permainan edukasi ular tangga berhasil meningkatkan literasi tuberkulosis siswa     Introduction: This study addresses tuberculosis as a global health issue requiring early education, targeting elementary students during a key stage of behavior development. It explores the use of Snakes and Ladders as an engaging educational tool to improve tuberculosis literacy. The research aims to: 1) assess the impact of the game on students' tuberculosis literacy at SDN No. 234 Inpres Takalar Kota, 2) evaluate literacy levels before the game's implementation, and 3) assess literacy levels after its use. Method: This type of research is pre-experimental, namely one-group pretest-posttest design. The population in this study were all students at SDN No. 234 Inpres Takalar city numbered 314 people from 6 classes, while the sample in this study was 50 class V students who were selected using class randomization techniques. The instrument used in this research was a multiple choice tuberculosis literacy test instrument. The data in the research were analyzed descriptively and inferentially.  Results: Descriptive analysis showed an increase in students' average tuberculosis literacy scores from 54.80 (pre-test) to 76.42 (post-test). Inferential analysis using the Wilcoxon signed-rank test confirmed a significant positive effect of Snakes and Ladders Edugames on tuberculosis literacy. Conclusion: the Snakes and Ladders educational game was successful in increasing students' tuberculosis literacy
Analysis of Midwives’ Perceptions of Training Needs at Puskesmas in Five Districts / Cities in Surakarta Prefecture Pratika, Salsabilla Putri; Suswardany, Dwi Linna
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.6945

Abstract

Pendahuluan: Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang dituntut memiliki keterampilan dalam pelayanan kebidanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi bidan terhadap kebutuhan pelatihan di puskesmas 5 Kabupaten/Kota di Karisidenan Surakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional deskriptif dengan menggunakan rancangan cross sectional yang dilakukan pada bidan puskesmas di 5 Kabupaten/Kota Karisidenan Surakarta. Kuesioner penelitian menggunakan The Hennessy Hicks Training Needs Analysis Questionnaire. Berdasarkan data penelitian diketahui bahwa semua responden berjenis kelamin perempuan. Mayoritas responden berusia 40-49 tahun (38,6%). Dan sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir D3 (77,3%). Hasil penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat. Uji bivariat dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif frequency secara keseluruhan dengan membandingkan hasil mean tiap jenis keterampilan. Hasil:  Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa bidan menilai keterampilan Penelitian/Audit, Komunikasi/Kerja Tim, Clinical Tasks, Administrasi, serta Manajemen/Supervisory Tasks sebagai hal penting (skor 5,1-6) dan merasa cukup kompeten dalam semua aspek tersebut (skor 5,1-5,7). Namun, mereka tetap menginginkan pelatihan tambahan (skor 4,9- 5,6) serta perubahan situasi kerja (skor 5-5,6).  Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa semua responden memiliki persepsi yang sama terhadap kebutuhan pelatihan keterampilan (rata-rata skor 5-6). Kesimpulan: Semua bidan memiliki persepsi yang sama terhadap 5 jenis keterampilan; Penelitian/Audit, Komunikasi/Kerja Tim, Clinical Tasks, Administrasi, dan Manajemen/Supervisory Tasks. Mereka menganggap semua jenis keterampilan merupakan suatu hal yang penting dan mereka merasa sudah cukup kompeten dalam melakukan jenis keterampilan tersebut. Namun meskipun demikian, mereka juga berpendapat bahwa masih membutuhkan kebutuhan pelatihan serta perubahan situasi kerja.     Introduction: Midwives are one of the health workers who are required to have skills in midwifery services.  This study aims to analyze perceptions of training needs at puskesmas 5 districs/cities in Surakarta Prefecture. Method: This research is a descriptive observational quantitative study using a cross-sectional design conducted at puskesmas 5 districs/ cities in Surakarta Prefecture. The research questionnaire uses The Hennessy Hicks Training Needs Analysis Questionnaire. Based on the research data, it is known that all respondents are female. The majority of respondents were 40-49 years old (38,6%). And most of the respondents had the last education D3 (77,3%). Result: The results of the study were analyze univariate analysis showed that midwives’ rated Research/ Audit, Communication/ Teamwork, Clinical Tasks, Administration, and Management/ Supervisory Tasks skills as important (score 5,1-6) and felt competent in all aspect (score 5,1-5,7). However, they still want additional training (score 4,9-5,6) as well as changes in their work situation (score 5-5,6). The result of the bivariate analysis show that all respondents have the same perception of the need for skills training (score 5-6). Conclusion: All midwives’ have the same perceptions of 5 types of skills: Research/Audit, Communication/Teamwork, Clinical Tasks, Administration, and Management/Supervisory Tasks. They consider all type of skills to be essential, and they feel competent enough, to perform these types of skills. However, despite this, they also before believe there is still a need for training and changes in work situations.
The Effect of Podcast and Flashcard on Knowledge of Safe Food Selection in Students of MAN 2 Bogor Qakti, Ratu Vernanda Nur Nazmah; Istianah, Isti
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.7047

Abstract

Pendahuluan: Remaja putri sering kali mengutamakan tren sosial dibandingkan gizi atau keamanan pangan, sehingga menyebabkan tingginya angka keracunan pangan—48% di rumah dan 21% di sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan media edukasi yang menarik. Penelitian ini menganalisis dampak media podcast dan flashcard terhadap pengetahuan keamanan pangan pada siswi MAN 2 Kota Bogor. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian True experimental dengan rancangan pre-test post-test control group design. Pengumpulan data dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur pengetahuan responden. Hasil: Analisis data menggunakan Paired Sample T-test menunjukkan adanya perubahan yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan siswa tentang memilih pangan aman sebelum dan sesudah edukasi menggunakan media podcast dan flashcard, yang ditunjukkan dengan nilai p pada pre-test dan post-test sebesar 0,000 yang berarti nilai tersebut < 0,05 pada kelompok podcast dan 0,001 (< 0,05) pada kelompok flashcard. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa baik media podcast maupun flashcard secara signifikan dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam memilih pangan aman (p < 0,05). Media podcast, khususnya, efektif untuk mendidik remaja. Untuk meningkatkan pemahaman, upaya di masa mendatang harus menekankan respons tubuh terhadap makanan yang tidak aman dan melibatkan lebih banyak subjek penelitian.     Introduction: Adolescent girls often prioritize social trends over nutrition or food safety, contributing to high rates of food poisoning—48% at home and 21% at school. To address this, engaging educational media is needed. This study analyzes the impact of podcast and flashcard media on food safety knowledge among female students at MAN 2 Bogor City. Method: This study is a quantitative study with a True experimental research design with a pre-test post-test control group design. Data were collected through pre-test and post-test to measure respondents' knowledge. Results: Data analysis using the Paired Sample T-test showed significant changes in increasing students' knowledge about choosing safe food before and after education using podcast and flashcard media, as indicated by the p-value in the pre-test and post-test of 0.000, which means the value is <0.05 in the podcast group and 0.001 (<0.05) in the flashcard group. Conclusion: This study concludes that both podcast and flashcard media significantly improve students' knowledge in choosing safe food (p < 0.05). Podcast media, in particular, is effective for educating adolescents. To enhance understanding, future efforts should emphasize the body's response to unsafe food and involve a broader range of research subjects.
The Effect of Educational Media on the Knowledge and Attitude of Personal Hygiene in Food Handlers Wulandari, Okta Viani Wulandari; Kurniasari, Ratih
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.7071

Abstract

Pendahuluan: Personal hygiene pada penjamah makanan adalah kegiatan menjaga kebersihan diri dan lingkungan kerja untuk mencegah kontaminasi makanan dan memastikan kesehatan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media edukasi terhadap perubahan pengetahuan dan sikap penjamah makanan tentang personal hygiene di restoran SMKN 2 Karawang. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi eksperimen dengan desain one group pre-post test menggunakan Teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Uji Wilcoxon signed rank test digunakan untuk analisis statistik. Hasil: Diperoleh hasil yang signifikan antara pengetahuan dan sikap dengan media leaflet, media music video dan media game dengan p-value <0,05. Simpulan: Terdapat pengaruh media leaflet, media music video, media game terhadap pengetahuan dan sikap penjamah makanan di restoran SMKN 2 Karawang.     Introduction: Personal hygiene of food handlers is a crucial issue in the food industry, as inadequate hygiene practices can increase the risk of food contamination, impact consumer health, and threaten food safety standards. This study aims to determine the effect of leaflet media, music video media and game media on changes in knowledge and attitudes of food handlers about personal hygiene at SMKN 2 Karawang restaurant. Method: This research uses a quasi-experimental approach with a one group pre-post test design using total sampling technique with a sample size of 30 respondents. Three educational media used as a reference for group division with 30 respondents as samples, so that 3 groups were made, namely the leaflet media group, the music video media group, and the game group, with 10 respondents belonging to each group. The Wilcoxon signed rank test was used for statistical analysis. Results: Obtained significant results between knowledge and attitudes with leaflet media, music video media and game media with a p-value <0,05. The highest average value for knowledge after being given education using the three media was the same (11.90 ± 0.316), while the highest average value for attitude after being given education was using leaflet and game media (9.80 ± 0.422). Conclusion: There is an effect of leaflet media, music video media, game media on the knowledge and attitude of food handlers in SMKN 2 Karawang restaurant.
The Relationship between Service Quality and Participant Satisfaction Level in Adolescent Reproductive Health Socialization Activities Conducted by PIK-R in Surakarta Meisya, Melly; Kusumaningrum, Tanjung Anitasari Indah
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.7154

Abstract

Pendahuluan: Upaya yang dilakukan pemerintah dalam menangani masalah kesehatan pada remaja yaitu melalui sosialisasi Program PIK-R (Pusat Informasi Konseling Remaja). Salah satu faktor yang mempengaruhi remaja untuk mengikuti kegiatan sosialisasi kesehatan adalah mutu pelayanan dan kepuasan terhadap pelayanan. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan mutu pelayanan dengan tingkat kepuasan peserta kegiatan sosialisasi PIK-R di Kota Surakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan model deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2023 di Kota Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan proporsional random sampling, dan variabel bebas dalam penelitian ini adalah mutu pelayanan dan variabel terikatnya adalah tingkat kepuasan. Hasil: Hasil penelitian tentang mutu pelayanan diperoleh melalui uji statistik dengan nilai p-value Chi-square = 0,001 atau < 0,05 yang berarti terdapat hubungan antara mutu pelayanan dengan tingkat kepuasan peserta. Separuh responden menilai kualitas pelayanan kurang baik dan kurang puas terhadap kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan oleh PIK-R. Kesimpulan: Penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa remaja kurang puas terhadap pelayanan PIK-R berdasarkan aspek prosedur sosialisasi dan aspek keandalan. Dengan demikian, Dinas Kesehatan Surakarta diharapkan dapat memperketat kegiatan monitoring dan evaluasi program PIK-R, dan disarankan kepada penyelenggara PIK-R untuk meninjau kembali jadwal sosialisasi agar lebih terstruktur.     Introduction: Efforts made by the government to deal with health problems in adolescents are through the socialization of the PIK-R Program (Youth Counseling Information Center). One factor that influences adolescents to participate in health socialization activities is the quality of service and satisfaction with the service. For this reason, this study aims to analyze the relationship between service quality and the level of satisfaction of participants in PIK-R socialization activities in Surakarta City. Method: This type of research is quantitative research with a descriptive-analytic model and cross-sectional approach. This research was conducted in September 2023 in Surakarta City. Sampling is done by using proportional random sampling, and the independent variable in this study is the quality of service and the dependent variable is the level of satisfaction. Result: The results of research on service quality were obtained through statistical tests with Chi-square p-value = 0.001 or <0.05, which means that there is a relationship between service quality and participant satisfaction level. Half of the respondents considered the quality of service to be poor and were less satisfied with the socialization activities organized by PIK-R. Conclusion: This study can conclude that adolescents are less satisfied with PIK-R services based on aspects of socialization procedures and reliability aspects. Thus, the Surakarta Health Office is expected to tighten the monitoring and evaluation activities of the PIK-R program, and PIK-R organizers are advised to review the socialization schedule to be more structured.
Analysis of The Appropriateness of Refractive Error Correction in Students of Madrasah Aliyah Negeri 1 Soppeng Harun, Andi Qonita; Amir, Suliati P; Mulyadi, Farah Ekawati; Akib, Marliyanti Nur Rahmah; Namirah, Hanna Aulia; Rahayu, Umi Budi
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.7230

Abstract

Pendahuluan: Kelainan refraksi yang menyebabkan banyaknya gangguan penglihatan dan kasus kebutaan di seluruh dunia, memberikan beban ekonomi dan akademis yang signifikan, terutama pada anak-anak. Miopia yang sering terjadi bersamaan dengan astigmatisme, menimbulkan tantangan terhadap koreksi penglihatan dan dapat menyebabkan gejala seperti astenopia. Sementara koreksi penglihatan penuh mengurangi astenopia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kesesuaian koreksi penglihatan pada siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Soppeng. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Soppeng dari Maret sampai Juli 2024, melibatkan 243 siswa yang dipilih melalui total sampling. Penglihatan diukur menggunakan bagan Snellen, dan kebutuhan penggunaan kacamata (met-need, undermet-need, dan unmet-need) dievaluasi. Data dianalisis berdasarkan dampak kelainan refraksi terhadap kebutuhan koreksi, dengan fokus pada e-REC, REC dan REC-Gap. Hasil: Penelitian ini melibatkan 243 siswa, yang 25,1% di antaranya memiliki kelainan refraksi signifikan. Hanya 12,8% yang memakai kacamata, sementara 50,8% memenuhi kebutuhan lensa korektif (REC). Angka unmet-need sebesar 49,2%, dan e-REC sebesar 42,6%, yang menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk tidak memakai kacamata atau menggunakan lensa koreksi yang tidak tepat. Kesimpulan: Penelitian ini menemukan bahwa meskipun tingkat met-need, undermet-need, dan unmet-need relatif rendah, nilai REC dan REC-gap tetap tinggi. Pemenuhan penggunaan kacamata yang efektif di kalangan siswa MAN 1 Soppeng perlu ditingkatkan.     Introduction: Refractive errors, causing many visual impairments and cases of blindness globally, impose a significant economic and academic burden, especially in children. Myopia, which often co-occurs with astigmatism, poses a challenge to vision correction and can cause symptoms such as asthenopia. While full vision correction reduces asthenopia. This study aimed to explore the appropriateness of vision correction in Madrasah Aliyah Negeri 1 Soppeng students. Method: This cross-sectional study was conducted at Madrasah Aliyah Negeri 1 Soppeng from March to July 2024, involving 243 students selected through total sampling. Vision was measured using the Snellen chart, and the need for spectacle use (met-need, undermet-need, and unmet-need) was evaluated. Data were analyzed based on the impact of refractive error on need for correction, focusing on e-REC, REC and REC-Gap. Result: The study included 243 students, of whom 25.1% had significant refractive errors. Only 12.8% wore glasses, while 50.8% met the need for corrective lenses (REC). The unmet-need rate was 49.2%, and e-REC was 42.6%, indicating that a large proportion of the population was either not wearing glasses or using inappropriate correction. Conclusion: This study found that despite relatively low levels of met-need, undermet-need and unmet-need, REC and REC-gap values remained high. Effective eyewear fulfillment among MAN 1 Soppeng students needs to be improved.
Analysis of Factors Associated with the Incidence of Skin Diseases in the Community of Indralaya District Trisnaini, Inoy; Putri, Dini Arista; Pratiningsih, Widya Ayu; Wulandari, Khairunnisa Catur; Kusuma, Liona Ayu Permata; Damayanti, Khistian; Hasanah, Nur; Fijriah, Nuril; Miagoni, Vince
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i1.7243

Abstract

Pendahuluan: Kulit manusia merupakan lapisan pertama yang rentan terhadap infeksi terutama di daerah tropis seperti Indonesia, dimana sanitasi lingkungan yang buruk menjadi faktor utama penyebab tingginya angka penyakit kulit. Di daerah lahan basah seperti Kecamatan Indralaya, kondisi lembab dan sumber udara yang tidak memadai meningkatkan risiko terjadinya gangguan kulit pada masyarakat setempat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan faktor sosial dan lingkungan yang mempengaruhi iritasi kulit di Kecamatan Indralaya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 orang. Data dianalisis menggunakan SPSS melalui analisis univariat dan bivariat untuk memunculkan hubungan variabel sosial dan lingkungan dengan kondisi kesehatan kulit. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan dengan kejadian penyakit kulit pada 100 responden. Sumber air bersih dari sungai (nilai p = 0,000), sumber air minum yang tidak diolah (nilai p = 0,001), jenis jamban (nilai p = 0,002), pembuangan sampah melalui tangki septik (nilai p = 0,001), serta jenis pembuangan air limbah ke sungai (nilai p = 0,036), kebiasaan membuang sampah juga berhubungan erat dengan kejadian penyakit kulit (nilai p = 0,000), yang semuanya berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kulit. Namun, jarak jamban ke sumber air bersih (nilai p = 0,782) dan kepadatan rumah (nilai p = 0,000) juga berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kulit. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sumber air bersih, sumber air minum, jenis jamban, pembuangan sampah, dan kebiasaan membuang sampah dengan kejadian penyakit kulit di Kabupaten Indralaya. Sanitasi yang buruk dan penggunaan udara yang tercemar meningkatkan risiko penyakit kulit. Kondisi ini diperparah oleh air sungai yang tercemar dan air sumur yang tercemar. Penggunaan jamban umum dan pembuangan limbah ke sungai menyebabkan bakteri patogen yang membahayakan lingkungan.     Introduction: Human skin, as the body’s primary protective barrier, is highly vulnerable to infections, particularly in tropical regions with poor sanitation. In Indralaya District—a humid wetland area with substandard environmental conditions—these factors elevate the risk of skin diseases. This study investigates the environmental determinants associated with skin disease incidence in the region. Methods: This cross-sectional analytical study involved 100 purposively selected residents of wetland areas in Indralaya District. Data were analyzed using SPSS with univariate and bivariate methods, applying the Chi-Square test to assess associations between social-environmental factors and skin health. Results: The statistical test results indicated a significant relationship between environmental factors and the incidence of skin diseases. Clean water sources from the river (p-value = 0.000), untreated drinking water sources (p-value = 0.001), type of latrine (p-value = 0.002), wastewater disposal through a septic tank (p-value = 0.001), and wastewater drainage into the river (p-value = 0.036), as well as waste disposal habits (p-value = 0.000), were all associated with an increased risk of skin diseases. However, the distance of latrines from clean water sources (p-value = 0.782) and housing density (p-value = 0.726) did not show significant associations. Conclusion: Poor environmental sanitation and the use of contaminated water are significantly linked to the incidence of skin diseases. Public education and improved sanitation infrastructure are essential for disease prevention.
A Literature Review of Factors Affecting Male Participation in Family Planning Methods in Indonesia Sardi, RA Annisa Allifian Tiara; Werdani, Kusuma Estu
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.2793

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan alat kontrasepsi pada pria di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh karakteristik individu yang mempengaruhi pola pikir dalam menanggapi dan menerima konsep kontrasepsi, rendahnya tingkat pengetahuan dan sikap pria mengenai kesehatan reproduksi dalam penggunaan alat kontrasepsi. Banyak faktor yang mempengaruhi pria untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB), yaitu faktor dari sisi klien atau pria itu sendiri (pengetahuan, sikap pria dan kebutuhan yang diinginkan), faktor lingkungan yaitu dukungan keluarga terutama dukungan istri, sosial budaya, keterbatasan informasi dan akses terhadap layanan KB pria, serta keterbatasan jenis alat kontrasepsi pria. Tujuan dari kajian pustaka ini adalah untuk menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi penggunaan metode KB pada pria di Indonesia. Metode: Desain kajian pustaka ini adalah kajian pustaka. Artikel yang digunakan adalah artikel penelitian potong lintang dengan responden suami/pria. Kriteria inklusi artikel terpilih adalah pria yang menggunakan program KB serta penelitian dengan data primer dan regional di Indonesia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan, usia menikah, dan nilai-nilai anak memiliki hubungan yang signifikan dengan partisipasi pria dalam program keluarga berencana. Pengetahuan tentang keluarga berencana memiliki peluang partisipasi sebesar 2,037 kali, usia menikah ≥ 25 tahun memiliki peluang partisipasi sebesar 0,535 kali, dan anak dengan nilai cukup (≤ 2) memiliki peluang partisipasi sebesar 1,821 kali. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah pengetahuan merupakan faktor dominan yang memengaruhi penggunaan metode Keluarga Berencana (KB).   Introduction: The use of contraceptives among men in Indonesia is still very low. This is because individual characteristics influence the mindset in responding to and accepting the concept of contraception, the low level of knowledge and attitudes of men regarding reproductive health in the use of contraception. There are many factors that influence men to take part in the Family Planning (Keluarga Berencana/ KB) program, namely factors from the client's side or the man himself (knowledge, men's attitudes and desired needs), environmental factors, namely family support, especially wife support, social and cultural, limited information. and access to male family planning services, and limitations in types of male contraception. The puprose of this literature review is to analyze various influencing factors on the use of Family Planning methods among men in Indonesia. Method: The design of this is a literature review. The article used is a cross-sectional research article with husband/male respondents. The inclusion criteria for selected articles were men who used family planning programs as well as research with primary and regional data in Indonesia. Results: The results showed that knowledge, age at marriage, and children's values ​​have a significant relationship with men's participation in family planning programs. Knowledge about family planning has a 2.037 times chance of participating, married age ≥ 25 years has a 0.535 times chance of participating, children with sufficient grades (≤ 2) have a 1.821 times chance of participating. Conclusion: The conclusion of this study is that knowledge is the dominant factor in the influence of the use of Family Planning (KB) methods.

Page 7 of 10 | Total Record : 94