cover
Contact Name
Kusuma Estu Werdani
Contact Email
kusuma.werdani@ums.ac.id
Phone
+6287758333434
Journal Mail Official
jurnalkesehatan@ums.ac.id
Editorial Address
Ahmad Yani Tromol Pos I Pabelan Kartasura
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan
ISSN : 19797621     EISSN : 26207761     DOI : https://www.doi.org/10.23917/jk.v16i3.2022
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan is a peer-reviewed journal published by Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah dan Buku Ajar Universitas Muhammadiyah Surakarta and managed by the Faculty of Health Sciences of Universitas Muhammadiyah Surakarta, which emphasizes on the delivery of scientific research results and literature review in the field of health in general. Jurnal Kesehatan (p-ISSN: 1979-7621 and e-ISSN: 2620-7761) is an Acredited Journal with S4 Sinta based on Kemenristek Dikti Decree No. 148/M/KPT/2020, from Vol. 14 No. 2, 2020 to Vol. 16 No. 2, 2023.
Articles 94 Documents
Systematic Review: The Role of Physical Activity on The Incidence of Dysmenorrhea in Adolescents Aged 12-18 Years Bratakusumah, Shinta Putri; Aqila, Fayyaza; Wulandari, Chairunnisa Wahid; Alvianty, Rizka Ayu; Nurcandra, Fajaria
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.5716

Abstract

Pendahuluan: Sebanyak 54,89% remaja di Indonesia mengalami kejadian dismenore jenis primer, sedangkan 45,11% remaja mengalami kejadian dismenore dengan jenis sekunder. Dismenore mempengaruhi terbatasnya aktivitas yang dapat dilakukan oleh remaja putri. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk meninjau seberapa besar pengaruh aktivitas fisik terhadap kejadian dismenore pada remaja. Metode: Dalam proses penelusuran artikel menggunakan beberapa sumber database online seperti Google Scholar, Science Direct, Pubmed, dan Garuda dengan rentang tahun 2014 – 2024. Sistematika penyusunan artikel ini menggunakkan metode tinjauan sistematis dengan pedoman PRISMA (Preferred Reporting Item for Systematic Review and Meta-Analysis), PECO (Population, Exposure, Comparison, Outcome), dan pendekatan cross-sectional untuk mengidentifikasi artikel yang akan digunakan. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa dari 7 artikel yang terinklusi terdapat 6 artikel yang mengatakan keterkaitan antara aktivitas fisik dengan dismenore. Simpulan: Dengan demikian, aktivitas fisik memiliki dampak yang signifikan terhadap remaja putri saat mengalami menstruasi. Oleh karena itu, diperlukannya bagi remaja untuk melakukan aktivitas fisik agar terhindar dari kejadian dismenore pada saat menstruasi.     Introduction: The prevalence of dysmenorrhea in Indonesia is 54.89% for primary dysmenorrhea while 45.11% for secondary dysmenorrhea. Dysmenorrhea affects the limited activities that can be done by adolescent girls. The justification for writing this article is to find out the impact of physical activity on the prevalence of dysmenorrhea in adolescents. Method: The literature search process contained several online databases such as Google Scholar, ScienceDirect, Pubmed, and Garuda, and it spanned the years 2014 - 2024. The method that was applied when arranging this article is a systematic review method with PRISMA (Preferred Reporting Item for Systematic Review and Meta-Analysis) guidelines. Also, it uses the PECO (Population, Exposure, Comparison, Outcome) method in identifying articles to be used, and the approach used is cross-sectional. Included articles will be selected based on the NOS assessment, so 9 articles have met the criteria. Results: The results stated that of the 9 included articles, 8 articles revealed there was an association between the role of physical activity and the prevalence of dysmenorrhea. Conclusion: It may inferred that physical activity has a significant influence on adolescent girls during menstruation. Therefore, adolescents need to do physical activity to avoid the prevalence of dysmenorrhea during menstruation.
Relationship between Irritative Food Consumption and Dyspepsia Syndrome Among Medical Students at The University of Muslim Indonesia Yudistira, Amanda Tasya Reghinaa Putri; Royani, Ida; Yuniati, Lisa; Safitri, Asrini; Hidayati, Prema Hapsari
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.7102

Abstract

Pendahuluan: Dispepsia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan gejala pada saluran pencernaan, termasuk nyeri pada perut bagian atas (epigastrium), mual, muntah, dan perut kembung. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsumsi makanan yang bersifat iritatif dengan sindrom dispepsia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia angkatan 2022. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional). Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa preklinik angkatan 2022 yang berjumlah 385 orang, dan sampel dipilih menggunakan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh 283 responden. Variabel independen adalah konsumsi makanan iritatif, sedangkan variabel dependen adalah sindrom dispepsia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sindrom dispepsia (berdasarkan kriteria Rome IV) dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk makanan iritatif. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-square pada tingkat signifikansi 5%. Hasil: Dari 283 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia angkatan 2022 yang menjadi responden, diketahui bahwa 34,6% mengalami dispepsia, dengan 24,7% sering mengonsumsi makanan pedas dan 13,8% mengonsumsi makanan asam. Kesimpulan: Analisis statistik menggunakan uji korelasi Chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan iritatif dengan sindrom dispepsia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia angkatan 2022. Diperlukan edukasi mengenai pola makan sehat dan faktor risiko lain yang dapat memicu dispepsia, serta penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor psikologis dan gaya hidup.   Introduction: Dyspepsia is a term used to describe a group of symptoms in the digestive tract, including pain in the upper abdomen (epigastrium), nausea, vomiting, and bloating. This study aims to determine the relationship between the consumption of irritating foods and dyspepsia syndrome among medical students at the Faculty of Medicine, University of Muslim Indonesia, Class of 2022. Method: This study is an analytical observational study with a cross-sectional design. The study population consisted of all preclinical students of the 2022 cohort, totaling 385 individuals, and the sample was selected using total sampling based on inclusion and exclusion criteria, resulting in 283 respondents. The independent variable was irritating food consumption, while the dependent variable was dyspepsia syndrome. Data were collected using a dyspepsia syndrome questionnaire (based on Rome IV criteria) and a Food Frequency Questionnaire (FFQ) for irritating foods. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with a Chi-square test at a significance level of 5%. Results: showed that out of 283 medical students at the University of Muslim Indonesia, class of 2022, who participated in the study, 34.6% experienced dyspepsia, with 24.7% frequently consuming spicy foods and 13.8% consuming acidic foods. Conclusion: Statistical analysis using the Chi-square correlation test found no significant association between irritating foods and dyspepsia syndrome among medical students at the University of Muslim Indonesia, class of 2022. Education on healthy eating patterns and other risk factors that can trigger dyspepsia is needed, along with further research considering psychological factors and lifestyle.
The Effect of Mango Leaf Extract Administration on Fasting Blood Sugar Levels in Deksametason-Induced Mice Tola, Aqilah Faizah; Wahid, Syarifuddin; Kanang, Indah Lestari Daeng; Hidayati, Prema Hapsari; Dirgahayu L, Andi Millaty
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.7244

Abstract

Latar Belakang: Daun mangga memiliki efek anti-diabetes karena kandungan mangiferin yang tinggi. Mangiferin memberikan efek anti-diabetes dengan meningkatkan ekspresi GLUT4 dan translokasinya di dalam sel otot. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun mangga (Mangifera foetida) terhadap kadar gula darah puasa pada mencit yang sebelumnya diinduksi deksametason untuk meningkatkan kadar gula darah puasa. Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan pre-test dan post-test group control design. Besar sampel ditentukan menggunakan pendekatan resource equation, dengan total 25 ekor mencit yang dibagi menjadi lima kelompok. Hiperglikemia diinduksi menggunakan deksametason dosis 1 mg/kgBB per hari selama 7 hari, kemudian dilanjutkan dengan pemberian ekstrak daun mangga per oral (dosis 150, 250, dan 350 mg/kgBB per hari) selama 10 hari. Kadar gula darah puasa diukur sebelum dan sesudah induksi, serta pada hari ke-3, ke-7, dan ke-10 setelah pemberian perlakuan. Analisis statistik dilakukan menggunakan metode multivariat. Data dianalisis dengan ANOVA, Post Hoc LSD, dan Paired Sample T-Test. Hasil: Terdapat penurunan signifikan kadar gula darah puasa pada mencit sebelum dan sesudah pemberian ekstrak daun mangga pada kelompok 2 (ekstrak daun mangga 150 mg/kgBB) dengan p = 0,002, kelompok 4 (deksametason 1 mg/kgBB + ekstrak daun mangga 250 mg/kgBB) dengan p = 0,001, dan kelompok 5 (deksametason 1 mg/kgBB + ekstrak daun mangga 350 mg/kgBB) dengan p < 0,001. Kesimpulan: Ekstrak daun mangga (Mangifera foetida) dapat menurunkan kadar gula darah puasa pada mencit yang telah diinduksi.   Background: Mango leaves have anti-diabetic effects due to their high content of mangiferin. Mangiferin exerts its anti-diabetic effects by increasing the expression of GLUT4 and its translocation within muscle cells. The aim is to determine the effect of mango leaf extract (Mangifera foetida) on fasting blood glucose levels in mice previously induced with dexamethasone to elevate fasting blood glucose levels. Method: An experimental method with a pre-test and post-test group control design. The sample size was determined using the resource equation approach, with a total of 25 mice divided into five groups. Hyperglycemia was induced with dexamethasone at 1 mg/kg body weight per day for 7 days, followed by oral administration of mango leaf extract (150, 250, 350 mg/kg body weight per day) for 10 days. Fasting blood glucose levels were measured before and after induction, as well as on days 3, 7, and 10 of treatment. Statistical analysis was performed using multivariate methods. Data were analyzed using ANOVA, Post Hoc LSD, and Paired Sample T-Test. Results: There was a significant decrease in fasting blood glucose levels in mice before and after administration of mango leaf extract in group 2 (Mango leaf extract 150 mg/kg BW) with a p-value of 0.002, group 4 (Dexamethasone 1 mg/kg BW + Mango leaf extract 250 mg/kg BW) with a p-value of 0.001, and group 5 (Dexamethasone 1 mg/kg BW + Mango leaf extract 350 mg/kg BW) with a p-value of <0.001. Conclusion: Mango leaf extract (Mangifera foetida) can reduce fasting blood sugar levels in mice that have been induced.
Level of Knowledge and Behavior of Adolescents Regarding Acne Vulgaris Among Medical Students University of Muslim Indonesia Syafira, Cendana Dwi; Yuniati, Lisa; Hamzah, Pratiwi Nasir; Amelia, Dian; Nurfachanti
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.7506

Abstract

Pendahuluan: Akne vulgaris merupakan kelainan kulit kronis yang umum dan dominan menyerang remaja dan dewasa muda, sering kali dikaitkan dengan perubahan hormonal selama masa pubertas. Pengetahuan yang kurang memadai dan perilaku pencegahan yang buruk berkontribusi terhadap tingginya prevalensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prevalensi akne vulgaris, tingkat pengetahuan, dan perilaku terkait di kalangan mahasiswa kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI), kohort tahun 2022 dan 2023, serta mengkaji hubungan antara pengetahuan, perilaku, dan kejadian akne vulgaris. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan dari mahasiswa kedokteran dan dianalisis menggunakan uji Chi-square untuk mengevaluasi hubungan antara pengetahuan, perilaku, dan akne vulgaris. Hasil: Sebagian besar responden tidak mengalami akne vulgaris (72 mahasiswa, 69,9%). Pengetahuan sebagian besar berada pada tingkat cukup (45 mahasiswa, 43,7%), sedangkan perilaku sebagian besar berkategori baik (39 mahasiswa, 37,9%). Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku dengan kejadian akne vulgaris, yang menunjukkan bahwa mahasiswa dengan pengetahuan yang lebih baik dan perilaku pencegahan yang positif memiliki prevalensi akne yang lebih rendah. Kesimpulan: Pengetahuan dan perilaku berhubungan secara signifikan dengan kejadian akne vulgaris di kalangan mahasiswa kedokteran. Penguatan edukasi dan promosi perilaku pencegahan dapat membantu mengurangi prevalensi akne pada populasi ini.   Introduction: Acne vulgaris is a common chronic skin disorder that predominantly affects adolescents and young adults, often linked to hormonal changes during puberty. Insufficient knowledge and poor preventive behaviors contribute to its high prevalence. This study aimed to assess the prevalence of acne vulgaris, the level of knowledge, and related behaviors among medical students at the University of Muslim Indonesia (UMI), cohorts of 2022 and 2023, and to examine the relationship between knowledge, behavior, and the occurrence of acne vulgaris. Method: This was a descriptive-analytical study with a cross-sectional design. Data were collected from medical students and analyzed using the Chi-square test to evaluate associations between knowledge, behavior, and acne vulgaris. Results: Most respondents did not experience acne vulgaris (72 students, 69.9%). Knowledge was predominantly at an adequate level (45 students, 43.7%), while behavior was mostly categorized as good (39 students, 37.9%). Statistical analysis revealed a significant association between knowledge and behavior with the occurrence of acne vulgaris, indicating that students with better knowledge and positive preventive behaviors had a lower prevalence of acne. Conclusion: Knowledge and behavior are significantly related to the occurrence of acne vulgaris among medical students. Strengthening education and promoting preventive behaviors may help reduce acne prevalence in this population.
Relationship Between Degree of Depression and Sperm Analysis Results in Infertile Men Nurhayati; Jaya, Muhammad Alim; Luthfiani, Evy; Assegaf, Nurul Asmaul Husnah
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.7522

Abstract

Latar   Belakang: Infertilitas masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Orang dengan infertilitas juga dilaporkan banyak yang mengalami depresi. Namun, studi mengenai hubungan depresi dan infertilitas masih inkonsisten. Tujuan: mengetahui hubungan derajat depresi dengan hasil analisis sperma pada laki-laki infertil. Metode: Penelitian ini berlangsung dari Agustus - November 2024 di Klinik Fertilitas Otentik Makassar. Desain penelitian adalah survei analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional study. Studi ini menggunakan metode kuantitatif yaitu melalui pengukuran derajat depresi menggunakan kuesioner Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), lalu dihubungkan dengan hasil analisis sperma pada laki-laki infertil. Data tersebut dikumpul dengan menggunakan metode wawancara terpimpin kepada pasangan ingin punya anak. Hasil: Depresi pada kejadian infertilitas sebagian besar memiliki depresi ringan yakni 61,54%. Analisis sperma pada kejadian infertilitas paling besar responden memiliki analisis sperma oligoteratozoospermia yakni 30,77%. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (p=0,457). Kesimpulan: Sebagian besar responden mengalami depresi. Tidak ada hubungan yang signifikan antara derajat depresi dengan analisis sperma.   Introduction: Infertility remains a significant health issue in Indonesia. Many individuals with infertility also report experiencing depression. However, studies on the relationship between depression and infertility remain inconsistent. This study aims to determine the relationship between the severity of depression and sperm analysis results in infertile men. Method: This study was conducted from August to November 2024 at the Authentic Fertility Clinic in Makassar. The study design was an analytical survey using a cross-sectional study design. This study employed a quantitative method by measuring depression levels using the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), which was then linked to sperm analysis results in infertile men. Data were collected through structured interviews with couples seeking to have children. Data analysis included univariate, bivariate, and multivariate analyses using SPSS version 16. Results: Depression in cases of infertility was predominantly mild, accounting for 61.54%. Sperm analysis in cases of infertility showed that the majority of respondents had oligoteratozoospermia, at 30.77%. Statistical analysis revealed no significant association (p=0.457). Conclusion: Most respondents experienced depression. There was no significant association between the severity of depression and sperm analysis.
The Relationship Between White Blood Cell Count and Fever Duration in Typhoid Fever Patients at Ibn Sina Hospital, Makassar City, in 2023 Zulhijjah, A. Nurul Aimmah; Hadi, Santriani; Safei, Imran; Julyani, Sri; Kanang, Indah Lestari Daeng
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.8287

Abstract

Pendahuluan: Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella Typhi, di mana endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri tersebut dapat memengaruhi jumlah leukosit dan durasi demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah leukosit dengan durasi demam pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit Umum Ibnu Sina, Makassar, tahun 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang dan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari 506 rekam medis pasien demam tifoid dengan menggunakan teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan uji Fisher Exact sebagai alternatif dan uji Spearman Rho. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas subjek berjenis kelamin perempuan (54,9%) dengan kelompok usia terbanyak adalah 11–20 tahun (32%). Sebagian besar memiliki jumlah leukosit normal (62,3%) dan mengalami demam akut (86%). Uji Spearman Rho menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara jumlah leukosit dan durasi demam (p= 0,049) dengan kekuatan korelasi negatif yang sangat lemah (r = -0,098). Kesimpulan: Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara jumlah leukosit dan durasi demam pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit Umum Ibnu Sina Kota Makassar tahun 2023, dengan korelasi terbalik yang sangat lemah.     Introduction: Typhoid fever is a systemic infectious disease caused by Salmonella Typhi, where the endotoxin produced by the bacteria can affect leukocyte counts and fever duration. This study aimed to determine the relationship between leukocyte counts and fever duration in typhoid fever patients at Ibnu Sina General Hospital, Makassar, in 2023. Method: This study is an analytical observational study with a cross-sectional design and a retrospective approach. Data were obtained from 506 medical records of typhoid fever patients using total sampling technique. Data analysis used the Chi-Square test with the Fisher Exact test as an alternative and the Spearman Rho test. Results: The results showed that the majority of subjects were female (54.9%) with the most common age group being 11–20 years (32%). Most had normal leukocyte counts (62.3%) and experienced acute fever (86%). The Spearman Rho test indicated a statistically significant relationship between leukocyte count and fever duration (p= 0.049) with a very weak negative correlation strength (r = -0.098). Conclusion: Therefore, it can be concluded that there is a statistically significant relationship between leukocyte count and fever duration in typhoid fever patients at Ibnu Sina General Hospital in Makassar City in 2023, with a very weak inverse correlation.
Development of Audiovisual Media as an Informational Tool for the Prevention of Anemia in Pregnant Women at Sangkrah and Gilingan Community Health Centers Santoso, Faturohit Rois Imron; Arifah, Izzatul
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.8701

Abstract

Pendahuluan: Anemia selama kehamilan masih menjadi masalah prioritas kesehatan masyarakat, termasuk di Kota Surakarta. Oleh karena itu, diperlukan media promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku pencegahan anemia pada ibu hamil di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji media audiovisual sebagai alat promosi kesehatan bagi ibu hamil di Puskesmas Sangkrah dan Puskesmas Gilingan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) yang meliputi tahapan Define, Design, Develop, dan Disseminate. Partisipan dalam penelitian ini terdiri atas empat ahli materi dan video, empat praktisi, serta 30 orang sasaran. Hasil: Berdasarkan analisis Content Validity Ratio (CVR), ditemukan bahwa media audiovisual yang dikembangkan oleh peneliti memiliki Content Validity Index (CVI) sebesar 1, yang menunjukkan kualitas yang sangat baik atau excellent. Kesimpulan: Media audiovisual yang dikembangkan oleh peneliti telah memenuhi kriteria kelayakan sebagai alat promosi kesehatan, khususnya bagi ibu hamil, untuk meningkatkan pengetahuan tentang anemia.     Introduction: Anemia during pregnancy remains a priority public health problem, including in Surakarta City. Therefore, health promotion media are needed to improve anemia prevention behaviors among pregnant women in these areas. This study aims to develop and test audiovisual media as a health promotion tool for pregnant women in Sangkrah Health Center and Gilingan Health Center. Method: This study applied the Research and Development (R&D) method, which includes the stages of Define, Design, Develop, and Disseminate. The participants in this study consisted of four material and video experts, four practitioners, and 30 target people. Results: Based on the analysis of the Content Validity Ratio (CVR), it was found that the audiovisual media developed by the researcher had a content validity index (CVI) of 1, which indicates very good or excellent quality. Conclusion: The audiovisual media developed by the researchers have met the eligibility criteria as a health promotion tool, especially for pregnant women, to increase knowledge about anemia.
Factors Associated with Adherence to Taking Medication in Tuberculosis Patients at Lawawoi Health Center, Sidenreng Rappang Regency Alamsyah, Putri Astika; Adri, Khaeriyah; Mardhatillah; Said, Sunandar
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.9998

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, dengan tingkat kejadian yang terus meningkat, WHO menyebutkan pada tahun 2022, secara global diperkirakan terdapat 10,9 juta kasus baru TB, di mana 3,2 juta di antaranya adalah perempuan, serta tercatat 1,4 juta kematian akibat TB, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Lawawoi Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB, seperti pendapatan, sikap, pengetahuan, kebiasaan, dan peran petugas kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional dan metode cross-sectional. Sampel terdiri dari 40 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara pendapatan (p-value = 0,093), sikap (p-value = 0,763), pengetahuan (p-value = 0,402), kebiasaan (p-value = 0,639), dan peran petugas kesehatan (p-value = 0,875) dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB (p > 0,05). Simpulan: Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa faktor sikap, pengetahuan, kebiasaan, dan peran aktif petugas kesehatan berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pasien TB terhadap pengobatan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam menyusun strategi edukatif dan intervensi yang tepat untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB.     Introduction: Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a global public health problem, including in the working area of Lawawoi Health Center, Sidenreng Rappang Regency. This study aims to determine the relationship between factors such as income, attitude, knowledge, habits, and the role of health workers with adherence to taking medication in TB patients. Method: This study used a quantitative approach with an observational analytic design and cross-sectional method. A sample of 40 respondents was selected using simple random sampling technique. Data collection was done through questionnaires, and data analysis using the Chi-square test. Results: The statistical test results showed that there was no significant relationship between income (p=0.462), attitude (p=0.065), knowledge (p=0.083), habits (p=0.347), and the role of health workers (p=0.577) with adherence to taking medication in TB patients (all p> 0.05). Conclusion: There was no significant association between income, attitude, knowledge, habits, and the role of health workers with medication adherence in TB patients. Nevertheless, this finding is expected to serve as a reference for health workers in developing more effective educational strategies and interventions to improve TB treatment success.
Analysis of Factors Associated with The Incidence of Anemia in Class X Students of SMA Negeri 6 SIDRAP Anggraeni, Putri; Adri, Khaeriyah; Mardhatillah; Ramlan, Pratiwi
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.10204

Abstract

Pendahuluan: Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang umum dan berdampak negatif pada perkembangan fisik serta prestasi akademik. Di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja putri mencapai 23% dari populasi. Rendahnya kepatuhan konsumsi TTD menjadi salah satu penyebab utama tingginya prevalensi anemia di kalangan remaja putri.  Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah meluncurkan program pemberian TTD kepada remaja putri melalui Unit Kesehatan Sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada siswi SMA NEGERI 6 SIDRAP. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 117 siswi kelas X yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dan dianalisis dengan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan (p value = 0,133), dukungan tenaga kesehatan (p = value 0,320) dan dukungan sekolah (p value = 0323) dengan kejadian anemia. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga (p value = 0,037) dengan kejadian anemia. Simpulan: simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki peran penting dalam mengurangi kejadian anemia pada remaja putri. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pihak sekolah dan tenaga kesehatan untuk memperkuat peran keluarga dalam program pencegahan anemia di kalangan remaja.     Introduction: Anemia in adolescents (rematriates) is a common health problem that negatively affects physical development and academic performance. In Indonesia, the prevalence of anemia among adolescent girls reaches 23% of the population. Low adherence to the consumption of blood supplement tablets (TTD) is one of the main causes of the high prevalence of anemia among adolescent girls. To overcome this, the government has launched a program to provide TTD to adolescent girls through the School Health Unit. This study aims to analyze the factors associated with the incidence of anemia in class X students of SMA Negeri 6 SIDRAP students. Method: This study used quantitative method with cross sectional design. The sample consisted of 117 class X students selected through total sampling technique. Data were collected using a questionnaire and examination of hemoglobin (Hb) levels and analyzed using the chi square test. Results: The results of this study showed that there was no significant relationship between the variables of knowledge (p value = 0.133), health worker support (p = value 0.320) and school support (p value = 0323) with the incidence of anemia. However, there was a significant relationship between family support (p value = 0.037) and the incidence of anemia. Conclusion: The conclusion of this study shows that family support has an important role in reducing the incidence of anemia in adolescent girls. This finding is expected to be the basis for schools and health workers to strengthen the role of families in the program.
Emotional Experiences of Mothers After Miscarriage Fatimah, Okta Zenita Siti; Hidayah, Seventina Nurul; Susanti, Rosa
Jurnal Kesehatan Vol 18, No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v18i2.10274

Abstract

Pendahuluan: Keguguran merupakan pengalaman yang menyakitkan dan dapat menimbulkan dampak emosional yang mendalam bagi ibu. Berdasarkan data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2022, tercatat sekitar 98 kasus keguguran di wilayah tersebut, dengan 210 kasus terjadi di Kota Tegal. Dari jumlah tersebut, 8 kasus tercatat di Puskesmas Tegal Barat selama periode Januari hingga Oktober 2022. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman emosional ibu pasca keguguran. Metode: Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 6 ibu yang mengalami keguguran sebagai informan utama, serta 2 informan pendukung, yaitu bidan dan tenaga kesehatan di Puskesmas Tegal Barat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu pasca keguguran mengalami beragam reaksi emosional, antara lain perasaan sedih dan kehilangan (100% informan), rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri (83%), kecemasan terhadap kehamilan di masa depan (67%), serta perasaan kesepian akibat kurangnya dukungan sosial (50%). Dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan terbukti berperan penting dalam proses pemulihan emosional ibu. Namun, kurangnya akses terhadap informasi dan layanan konseling masih menjadi kendala yang memperpanjang proses pemulihan. Kesimpulan: Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan psikososial terpadu bagi ibu pasca keguguran, melalui konseling empatik dan edukasi yang berkelanjutan untuk membantu mereka bangkit secara emosional dan mental.     Introduction: Miscarriage is a painful experience that can have a profound emotional impact on mothers. According to the 2022 Central Java Provincial Health Profile, there were approximately 98 cases of miscarriage in the region, with 210 cases occurring in Tegal City. Of these, 8 cases were recorded at Tegal Barat Public Health Center between January and October 2022. This study aims to describe the emotional experiences of mothers after miscarriage. Method: The research employed a qualitative approach with a phenomenological design. Data were collected through in-depth interviews with six mothers who had experienced miscarriage as the main informants, and two supporting informants, namely a midwife and a healthcare worker at Tegal Barat Public Health Center. Results: The results showed that mothers after miscarriage experienced a range of emotional reactions, including feelings of sadness and loss (100% of informants), guilt and self-blame (83%), anxiety about future pregnancies (67%), and loneliness due to lack of social support (50%). Support from family and healthcare workers played an important role in the mothers’ emotional recovery process. However, limited access to information and counseling services remained an obstacle that prolonged the recovery process. Conclusion: This study highlights the importance of integrated psychosocial support for mothers after miscarriage, through empathetic counseling and continuous education to help them recover emotionally and mentally

Page 8 of 10 | Total Record : 94