cover
Contact Name
Katon Abdul Fatah
Contact Email
admin@jurnalistiqomah.org
Phone
+628975841020
Journal Mail Official
admin@jurnalistiqomah.org
Editorial Address
Desa, Metuk No.008 RT.002 RW. 001, Kec, Mojosongo Kab, Boyolali, 57322
Location
Kab. boyolali,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI)
ISSN : 30264707     EISSN : 30264170     DOI : https://doi.org/10.62017/jppi.v1i3
Core Subject : Education,
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) adalah jurnal peer-review akses terbuka, yang diterbitkan oleh Publikasi Inspirasi Indonesia. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia adalah platform bagi para peneliti, akademisi, profesional, praktisi, dan mahasiswa untuk menyebarkan dan berbagi pengetahuan melalui makalah penelitian dan studi kasus di bidang pendidikan. Terbit setiap bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Jurnal ini bertujuan untuk menyebarluaskan penelitian kepada para pendidik di seluruh dunia. Penulis didorong untuk mengirimkan artikel yang lengkap, belum pernah dipublikasikan, orisinil, dan belum pernah ditinjau di jurnal lain. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) menerima makalah dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Articles 586 Documents
Tantangan dan Peluang Implementasi Pendidikan Multikultural pada Era Digital Muthi’ Fauziyah; Marfuah; Nurul Mubin
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i1.6195

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kompleksitas interaksi sosial pada era digital yang memunculkan tantangan empiris berupa bias, segregasi virtual, dan ketimpangan akses informasi dalam pelaksanaan pendidikan multikultural. Studi ini bertujuan menganalisis berbagai tantangan serta peluang pengembangan pendidikan multikultural pada konteks digital melalui penelaahan literatur ilmiah yang relevan dan mutakhir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ekosistem digital menyediakan peluang besar bagi perluasan akses pembelajaran lintas budaya, peningkatan kolaborasi, dan pengayaan perspektif peserta didik melalui teknologi interaktif; namun, tantangan seperti misinformasi, polarisasi identitas, rendahnya kompetensi digital pendidik, serta kesenjangan literasi media menjadi hambatan signifikan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa implementasi pendidikan multikultural pada era digital memerlukan strategi pembelajaran yang adaptif, literasi digital yang kuat, dan pendekatan yang inklusif untuk menjawab dinamika keragaman di ruang digital. Implikasi studi ini menekankan pentingnya penguatan kompetensi pendidik dan pengembangan kurikulum yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial-budaya.
Urgensi Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Membentuk Karakter dan Identitas Bangsa Indonesia Muchamad Aldifa Ramadhani; Sofi Junia Fahma; Nurul Mubin
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i1.6196

Abstract

Fenomena meningkatnya intoleransi, stereotip antarkelompok, serta melemahnya sensitivitas sosial di berbagai institusi pendidikan Indonesia menunjukkan adanya kesenjangan antara keragaman budaya dengan praktik pendidikan yang belum optimal dalam menanamkan nilai-nilai multikultural. Penelitian ini bertujuan menguraikan urgensi implementasi pendidikan multikultural dalam membentuk karakter dan identitas bangsa melalui analisis teori dan temuan empiris terkini yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural memiliki kontribusi kuat dalam membangun sikap toleransi, empati, penghargaan terhadap keberagaman, serta identitas nasional yang inklusif melalui internalisasi nilai, pembiasaan budaya sekolah, dan penguatan materi ajar. Penelitian juga menegaskan bahwa minimnya penerapan nilai multikultural berpotensi memunculkan konflik sosial, eksklusivisme, dan krisis identitas pada peserta didik. Kesimpulannya, pendidikan multikultural merupakan kebutuhan strategis dalam memperkuat karakter kebangsaan, dengan implikasi pada pembaruan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, dan pengembangan strategi pembelajaran yang sensitif terhadap keberagaman.
Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal sebagai Cermin Multikulturalisme Masyarakat Pegunungan Dieng Arina Salsabila; Amalia Rosyadah; Nurul Mubin
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i1.6197

Abstract

Penelitian ini menelaah tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di masyarakat Pegunungan Dieng sebagai cermin multikulturalisme yang tercermin melalui praktik keagamaan, adat, dan interaksi sosial antarkelompok masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk memahami bagaimana tradisi ini membentuk identitas budaya sekaligus menjadi medium penghormatan terhadap keberagaman nilai dan kepercayaan. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap tokoh adat, pemangku budaya, dan keluarga pemilik rambut gimbal di Desa Dieng Kulon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ruwatan Rambut Gimbal tidak hanya berfungsi sebagai ritual penyucian tetapi juga mencerminkan toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan keterpaduan sosial masyarakat. Praktik ini mempertahankan keaslian adat sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika modern, sehingga memberikan solusi autentik terhadap tantangan pelestarian budaya dalam konteks pluralisme. Temuan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana teori multikulturalisme dapat diterapkan untuk memahami integrasi nilai tradisi lokal dan modernitas. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan kontekstual dalam pendidikan multikultural serta pelestarian budaya lokal sebagai sarana memperkuat identitas dan kohesi sosial.
Evaluasi Asesmen Diagnostik Terhadap Keadilan Penilaian Belajar Di Madrasah Ibtidaiyah Nabilatul Imamah; Imron Fauzi; M. Ilmil Zawawi
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i1.6201

Abstract

This study aims to evaluate the implementation of diagnostic assessment in Madrasah Ibtidaiyah from the perspectives of technical quality and fairness principles. Using a mixed-methods approach with an explanatory sequential design, the research was conducted in three Madrasah Ibtidaiyah in Jombang Regency involving 12 classroom and Islamic Education teachers, 180 fourth- and fifth-grade students, and three principals. Quantitative data from diagnostic assessment results were analyzed using descriptive statistics and t-tests, while qualitative data were collected through interviews, observations, and document analysis. The findings show significant differences between classes (t = 3.47; p = 0.001 < 0.05), indicating variation in learning outcomes due to school context and assessment instrument quality. Although most Islamic Education teachers recognize the importance of diagnostic assessment, it is still used administratively, focused on cognitive aspects, and lacks follow-up actions such as enrichment or remedial programs. Triangulation identifies obstacles such as limited teacher competence, varied assessment designs, and insufficient systematic school policies. The study concludes that diagnostic assessment in Madrasah Ibtidaiyah has not fully reflected fairness principles and needs improvement by integrating technical accuracy, learning context, and Islamic educational values.
Peran Literasi Digital Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Di Era Digital Kamilia Ulfa; Imron Fauzi; M. Ilmil Zawawi
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i1.6203

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan teknologi digital oleh peserta didik yang belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi digital dan pembinaan karakter yang memadai, sehingga memunculkan berbagai persoalan seperti kurangnya etika digital, kedisiplinan yang melemah, serta ketidakmampuan memilah informasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran literasi digital dalam pembentukan karakter peserta didik dengan fokus studi kasus pada MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain yang memiliki karakteristik unik sebagai madrasah berbasis keterampilan dan teknologi. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dari tujuh informan utama yang terdiri dari guru, peserta didik, serta pihak madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital berperan penting dalam membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan etika digital melalui pembiasaan penggunaan teknologi yang terarah serta penguatan nilai-nilai moral dalam aktivitas pembelajaran. Temuan juga mengindikasikan bahwa kolaborasi antara guru dan peserta didik, didukung kebijakan madrasah, mampu meningkatkan kesadaran kritis dalam penggunaan media digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa literasi digital bukan hanya kompetensi teknis, melainkan instrumen pembentukan karakter yang relevan dengan tuntutan era digital. Implikasi penelitian menegaskan perlunya integrasi literasi digital dalam strategi pendidikan karakter dan pengembangan kurikulum madrasah.
Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi dalam Kurikulum Akuntansi: Kajian terhadap Efektivitas dan Tantangannya Iwan Ridwan Paturochman; Siti Alifa Nurmalia; Asti Meliani; Callista Tantia Rustandi
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami seberapa efektif pendidikan antikorupsi diterapkan dalam kurikulum akuntansi, serta mencari faktor-faktor yang mendorong atau menghalangi pelaksanaannya di lingkungan perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber akademik dan kebijakan nasional tentang pendidikan antikorupsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar universitas sudah berusaha mengintegrasikan nilai-nilai antikorupsi ke dalam kurikulum, terutama melalui mata kuliah seperti etika profesi dan pendidikan kewarganegaraan. Namun, penerapannya masih terbatas hanya pada pemahaman teoritis, belum menyentuh sikap dan perilaku mahasiswa secara mendalam. Hambatan utama yang dihadapi antara lain kurangnya kemampuan dosen dalam mengajarkan nilai integritas dengan konteks yang relevan, minimnya bahan ajar yang menampilkan kasus nyata dari dunia kerja akuntansi, serta budaya akademik yang belum sepenuhnya mendorong iklim integritas. Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini menyarankan peningkatan kompetensi dosen melalui pelatihan khusus, pengembangan modul pembelajaran yang berbasis praktik profesional, penerapan sistem penilaian moral mahasiswa yang jelas, serta kerja sama berkelanjutan antara perguruan tinggi dengan lembaga penegak hukum. Dengan langkah-langkah tersebut, pendidikan antikorupsi diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai etika, tetapi juga membentuk karakter profesional yang berintegritas dan bertanggung jawab.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH MENENGAH Muhammad Subagio; Ahmad Fawwazun Rifqi; Nurul Mubin
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6243

Abstract

Penelitian ini membahas implementasi pendidikan multikultural dalam Kurikulum Merdeka di sekolah menengah serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Melalui metode studi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi konsep dasar pendidikan multicultural, prinsip Kurikulum Merdeka, strategi implementasi, faktor pendukung dan penghambat, serta implikasi pembelajaran terhadap perkembangan karakter siswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka menyediakan ruang fleksibel bagi guru untuk mengintegrasikan nilai-nilai multikultural di dalam pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan praktik kontekstual. Penerapan yang tepat dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap keberagaman, menumbuhkan sikap toleran, memperkuat kemampuan berpikir kritis, serta menciptakan budaya sekolah yang inklusif. Namun demikian, implementasinyamasih menghadapi kendala seperti kompetensi guru yang beragam, perbedaan karakter siswa, dan kurangnya dukungan keluarga atau masyarakat. Secara keseluruhan, pendidikan multikultural dalam Kurikulum Merdeka memiliki peran strategis dalam membentuk pribadi yang berkarakter, demokratis, dan mampu hidup harmonis di tengah keberagaman sosial budaya Indonesia.
DINAMIKA KOMUNIKASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT MEDAN YANG BERBASIS PADA KEBERAGAMAN ETNIS DAN REALITAS Alvian Ramadhan; Ahlul Nazza Kaffi; Nurul Mubin
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6245

Abstract

Penelitian ini menelaah secara mendalam dinamika komunikasi sosial dalam masyarakat Kota Medan, sebuah kota yang menjadi cerminan nyata dari keberagaman etnis dan realitas multikultural yang kompleks. Tujuan utama studi ini adalah menganalisis pola interaksi, tantangan, dan strategi adaptasi yang digunakan oleh komunitas etnis utama (Jawa, Batak, Melayu, Tionghoa, India) dalam menjaga harmoni sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian literatur (library research) dengan metode kualitatif-deskriptif untuk menyintesis temuan-temuan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika komunikasi sosial di Medan didominasi oleh pola akomodatif, yang termanifestasi melalui penggunaan Bahasa Indonesia sebagai lingua franca dan adanya ruang publik inklusif seperti Kampung Madras yang menjadi arena negosiasi budaya. Meskipun pola ini efektif, tantangan komunikasi masih muncul dalam bentuk stereotip dan prasangka yang diperburuk oleh fragmentasi media digital. Temuan ini menyimpulkan bahwa keberhasilan komunikasi sosial sangat bergantung pada kompetensi komunikasi antarbudaya individu dan peran aktif pemerintah dalam mempromosikan pendidikan multikultural dan dialog terbuka. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya penguatan literasi digital dan kebijakan komunikasi publik yang berorientasi pada pengakuan dan penghargaan terhadap identitas etnis sebagai kunci untuk mencapai integrasi sosial yang berkelanjutan.  
Peningkatan Kapasitas Guru dalam Menanggapi Kebutuhan Siswa Berkebutuhan Khusus Rodiah Luthfi, Isnaini; Imron Fauzi; M. Ilmil Zawawi
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6247

Abstract

Pendidikan inklusif menekankan pentingnya memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa guru masih menghadapi tantangan dalam memahami kebutuhan belajar ABK, menyesuaikan strategi pembelajaran, serta mengelola kelas yang heterogen. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pelatihan guru dalam konteks pendidikan inklusif serta mengkaji strategi pengembangan kapasitas yang dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merespons keberagaman peserta didik secara efektif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka terhadap literatur yang diterbitkan pada tahun 2020–2025. Dari lebih dari 80 artikel yang diidentifikasi, sepuluh literatur utama dipilih berdasarkan relevansi dengan kompetensi guru, pembelajaran diferensiatif, dan penanganan ABK. Hasil analisis menunjukkan bahwa guru memiliki sikap positif terhadap inklusi, tetapi masih kurang dalam keterampilan praktis, seperti modifikasi kurikulum, asesmen kebutuhan siswa, dan penerapan strategi pembelajaran adaptif. Selain itu, keberhasilan pendidikan inklusif sangat dipengaruhi oleh kolaborasi antara guru kelas, guru BK, dan pihak sekolah serta dukungan sistem manajerial yang memadai. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kapasitas guru tidak dapat dilakukan secara umum, melainkan harus melalui model pelatihan yang terarah, aplikatif, dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Dengan demikian, pengembangan profesional guru yang komprehensif dan sistematis menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas praktik pendidikan inklusif secara berkelanjutan.
Transformasi Pembelajaran Digital terhadap Kualitas Interaksi Guru dan Siswa di Era Artificial Intelligence Muhammad Syifa’ Mashudi; Imron Fauzi; M Ilmil Zawawi
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6256

Abstract

This study aims to analyze the transformation of digital learning on the quality of interaction between teachers and students in the era of artificial intelligence (AI). The development of digital technologies and the integration of AI in education have reshaped communication patterns, increased student engagement, and simultaneously created new challenges in maintaining emotional closeness between teachers and learners. This research employed a qualitative approach with data collected through interviews, observations, and documentation over a three-month period in several elementary and secondary schools. The findings indicate a shift in teacher–student communication from one-way delivery toward more collaborative, digitally mediated interactions. Student engagement also increased significantly through the use of interactive learning platforms, gamification, and AI-based adaptive systems. However, teachers reported difficulties in sustaining emotional connection due to limited nonverbal communication in virtual environments. These findings suggest that the effectiveness of digital learning transformation is not solely determined by technological capability, but also by teachers’ socio-emotional competencies in fostering meaningful pedagogical relationships. The study recommends the need for digital literacy training and virtual empathy development for educators to ensure that AI integration enhances interaction quality without diminishing the humanistic dimension of education.