cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
ilham.ummataram@gmail.com
Phone
+6281997989594
Journal Mail Official
ilham.ummataram@gmail.com
Editorial Address
Jl. K.H Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Community Empowerment
ISSN : 29619459     EISSN : 29637090     DOI : -
Journal of Community Empowerment is multidisciplinary scientific journal in the field of empowerment and community Service, published by the English Department Universitas Muhammadiyah Mataram with a publication period of two times in one year, namely in June and December. This journal covers some general problems from the results of research implemented to the community services including (1) social humanities, science, applied science, economic, health, cultural, ICT Development, and administration services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and appropriate technology, (3) community empowerment, students community services, local food security, marketing, and less developed region. The purpose of this journal publication is to disseminate conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the field of service to the community. This journal accepts manuscript in Bahasa or English.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 318 Documents
PEMBERDAYAAN NELAYAN PESISIR MELALUI INOVASI SERBUK TULANG SOTONG SEBAGAI MATERIAL PRODUK KESEHATAN Irmatika Hendriyani; Baiq Lenysia Puspita Anjani; Safwan Safwan; Abdul Rahman Wahid; Yuli Fitriana; Ageng Ary Widodo; Suratih Syahrir; Wilma Armelda Putri; Ilmiah Ramadhani
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39882

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Limbah tulang sotong dari aktivitas kuliner dan perikanan pesisir belum dimanfaatkan secara optimal, padahal berpotensi sebagai sumber mineral dan bahan baku produk bernilai tambah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengolah tulang sotong menjadi serbuk kalsium-magnesium sederhana sekaligus memperkuat peluang usaha berbasis ekonomi biru. Mitra sasaran adalah kelompok nelayan dan masyarakat pesisir Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, dengan peserta evaluasi sebanyak 14 orang. Metode pelaksanaan meliputi koordinasi, persiapan alat dan bahan, sosialisasi, edukasi kesehatan mineral, pelatihan langsung, penyusunan SOP produksi sederhana, serta pendampingan pengemasan dan pemasaran. Evaluasi dilakukan melalui pretest, posttest, dan observasi praktik. Hasil kegiatan menunjukkan nilai rata-rata pretest sebesar 52,86 meningkat menjadi 86,79 pada posttest, sehingga terjadi peningkatan 33,93 poin atau sekitar 64,19%. Peserta juga mampu menjelaskan tahapan pencucian, pengeringan, penghalusan, pengayakan, dan pengemasan. Program ini menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir yang mengintegrasikan riset tulang sotong, edukasi kesehatan, keterampilan produksi, dan diversifikasi ekonomi lokal secara berkelanjutan.Kata kunci: Tulang Sotong; Pemberdayaan Masyarakat; Nelayan Pesisir; Ekonomi Biru; Kalsium-Magnesium. ABSTRACTCuttlebone waste generated from coastal culinary and fisheries activities remains underutilized, although it has potential as a mineral source and value-added raw material. This community service program aimed to improve partners' knowledge and practical skills in processing cuttlebone into simple calcium-magnesium powder while strengthening blue-economy-based business opportunities. The target partners were coastal fishers and community members in Bintaro Urban Village, Ampenan Subdistrict, with 14 participants completing the evaluation. The implementation method included coordination, preparation of tools and materials, socialization, mineral-health education, hands-on processing training, preparation of a simple production SOP, and assistance with packaging and marketing. Evaluation was conducted using pretest, posttest, and practice observation. The results showed that the average pretest score increased from 52.86 to 86.79 in the posttest, indicating a gain of 33.93 points or approximately 64.19%. Participants were also able to explain the stages of washing, drying, grinding, sieving, and packaging. This program offers a coastal community empowerment model that integrates cuttlebone-based research, health education, production skills, and sustainable local economic diversification.Keywords: Cuttlebone; Community Empowerment; Coastal Fishers; Blue Economy; Calcium-Magnesium.
PELATIHAN OLIMPIADE MATEMATIKA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA DI SD NEGERI 41 AMBON Reinhard Salamor; M. Samud Rumalean; Widya Putri Ramadhani; Yulian Hany Makaruku
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39802

Abstract

ABSTRAKKemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan kompetensi penting yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar. Namun, pembinaan olimpiade matematika di SD Negeri 41 Ambon masih menghadapi kendala berupa minimnya pengalaman siswa dalam menyelesaikan soal nonrutin dan belum tersedianya pendampingan khusus berbasis HOTS. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pelatihan olimpiade matematika dan menganalisis dampaknya terhadap kemampuan berpikir matematis siswa. Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu koordinasi awal dengan kepala sekolah dan guru matematika untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa, analisis pola soal olimpiade, penyusunan materi pelatihan, pelaksanaan pelatihan melalui pemberian soal diagnostik, pembimbingan strategi penyelesaian soal dengan pendekatan menemukan pola, diskusi kelompok, latihan soal nonrutin, serta evaluasi melalui perlombaan MIPA dua babak. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif dengan melibatkan siswa kelas IV–VI SD Negeri 41 Ambon sebagai mitra sasaran. Evaluasi kegiatan diikuti oleh 25 siswa pada babak penyisihan dan 13 siswa pada babak final. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 13 finalis, 2 siswa atau 15,4% berada pada kategori kemampuan sedang dan 11 siswa atau 84,6% berada pada kategori rendah. Meskipun capaian kuantitatif belum optimal, kegiatan ini memberikan dampak positif secara kualitatif, yaitu meningkatnya motivasi, kepercayaan diri, dan pemahaman awal siswa terhadap strategi penyelesaian soal olimpiade berbasis HOTS.Kata kunci: Olimpiade Matematika; Berpikir Tingkat Tinggi; Pengabdian Kepada Masyarakat; Pelatihan Partisipatif; Sekolah Dasar. ABSTRACTHigher-order thinking skills (HOTS) are essential competencies that need to be developed starting in elementary school. However, the preparation for the math Olympiad at SD Negeri 41 Ambon still faces challenges, including students’ limited experience in solving non-routine problems and the lack of specialized HOTS-based guidance. This Community Service (PkM) activity aims to describe the implementation of a math Olympiad training program and analyze its impact on students’ mathematical thinking skills. The activity was carried out in several stages, namely initial coordination with the school principal and math teachers to identify students’ needs, analysis of Olympiad question patterns, development of training materials, implementation of the training through the administration of diagnostic tests, guidance on problem-solving strategies using a pattern-recognition approach, group discussions, non-routine problem-solving exercises, and evaluation through a two-round STEM competition. The method used was participatory training involving fourth- through sixth-grade students at SD Negeri 41 Ambon as the target participants. The evaluation of the activity included 25 students in the preliminary round and 13 students in the final round. The evaluation results show that of the 13 finalists, 2 students (15.4%) were in the moderate ability category and 11 students (84.6%) were in the low ability category. Although the quantitative outcomes were not yet optimal, this activity had a positive qualitative impact, namely an increase in students’ motivation, self-confidence, and initial understanding of strategies for solving HOTS-based Olympiad problems.Keywords: Mathematics Olympiad; Higher-Order Thinking Skills; Community Service; Participatory Training; Elementary School.
PELATIHAN PENYUSUNAN MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL BERBASIS AUGMENTED REALITY BERBANTUAN ASSEMBLR EDU UNTUK GURU SD DI KAIRATU Widya Putri Ramadhani; Hanisa Tamalene; Reinhard Salamor; Wa Ode Dahiana; Muhammad Samad Rumalean; La Moma
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39648

Abstract

ABSTRAKKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan peningkatan kompetensi guru sekolah dasar dalam menyusun media pembelajaran digital berbasis Augmented Reality (AR) di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru mengenai pemanfaatan AR dalam pembelajaran, melatih keterampilan teknis penggunaan Assemblr Edu, serta menghasilkan rancangan media digital yang dapat digunakan dalam pembelajaran sekolah dasar. Pelatihan dilaksanakan di SD Negeri 1 Waimital pada 27-28 April 2026 dengan melibatkan 30 guru SD. Metode kegiatan meliputi koordinasi dan analisis kebutuhan, sosialisasi, ceramah interaktif, demonstrasi, praktik langsung, presentasi karya, evaluasi, dan refleksi tindak lanjut. Data dikumpulkan melalui pretest-posttest pemahaman media pembelajaran digital berbasis AR, rubrik unjuk kerja proyek Assemblr Edu, lembar observasi, dan kuesioner kepuasan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rerata pemahaman guru dari 55,8% menjadi 84,1% dengan N-gain 0,64. Rerata keterampilan teknis pembuatan proyek AR mencapai 80,1 dan 26 peserta atau 86,7% berhasil mempublikasikan proyek AR secara mandiri melalui tautan atau QR code. Kepuasan peserta mencapai rerata 4,42 dari skala 5,00 dengan kategori sangat puas. Produk guru meliputi media AR untuk materi pecahan, bangun ruang, operasi hitung, daur hidup hewan, dan sistem tata surya sederhana. Program ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik dan pendampingan intensif dapat memperkuat literasi digital guru serta membuka peluang pengembangan media pembelajaran yang lebih visual, interaktif, dan kontekstual di wilayah kepulauan. Kata kunci: Assemblr Edu; Augmented Reality; Guru Sekolah Dasar; Media Pembelajaran Digital; Pelatihan Guru. ABSTRACTThis community service program was conducted to address the need to strengthen elementary school teachers' competence in developing Augmented Reality (AR)-based digital learning media in Kairatu District, West Seram Regency. The program aimed to improve teachers' understanding of AR use in learning, train their technical skills in using Assemblr Edu, and produce digital media designs applicable to elementary classroom instruction. The training was held at SD Negeri 1 Waimital on 27-28 April 2026 and involved 30 elementary school teachers. The program methods included coordination and needs analysis, socialization, interactive lectures, demonstrations, hands-on practice, product presentation, evaluation, and follow-up reflection. Data were collected using a pretest-posttest on AR-based digital learning media understanding, an Assemblr Edu project performance rubric, observation sheets, and a participant satisfaction questionnaire. The results showed that teachers' average understanding increased from 55.8% to 84.1% with an N-gain score of 0.64. The average technical performance score for developing AR projects reached 80.1, and 26 participants or 86.7% successfully published their AR projects independently through links or QR codes. Participant satisfaction reached an average of 4.42 out of 5.00, indicating a very satisfied category. Teachers' products included AR media for fractions, solid geometry, arithmetic operations, animal life cycles, and a simple solar system. The program demonstrates that practice-based training supported by intensive mentoring can strengthen teachers' digital literacy and expand opportunities for developing more visual, interactive, and contextual learning media in island regions.Keywords: Assemblr Edu; Augmented Reality; Digital Learning Media; Elementary School Teachers; Teacher Training.
PENDAMPINGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM MELALUI SIMULASI ICE BREAKING BERBASIS KONTEKS UNTUK PENINGKATAN PENGAJARAN KREATIF GURU I Ketut Wardana; Anak Agung Putu Arsana; Ida Ayu Praba Iswari Dewi; Komang Wiliani; Feti Filman Laoli
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.40318

Abstract

ABSTRAKPendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) diyakini mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, namun implementasinya di kelas masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu penyebabnya adalah belum optimalnya pemanfaatan context-based ice breaking oleh guru sebagai strategi yang dapat meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan kesiapan kognitif siswa dalam pembelajaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang dan menerapkan teknik context-based ice breaking yang mendukung pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna. Mitra kegiatan adalah 30 guru SMA Negeri 11 Denpasar yang berasal dari berbagai mata pelajaran. Kegiatan didampingi oleh dua dosen dan tiga mahasiswa. Pelaksanaan diawali dengan koordinasi dan identifikasi kebutuhan bersama pihak sekolah untuk menentukan materi pendampingan yang sesuai. Selanjutnya dilakukan persiapan berupa penyusunan materi, instrumen evaluasi, dan perangkat pelatihan. Kegiatan inti dilaksanakan melalui workshop yang mengombinasikan metode ceramah dan praktik langsung. Guru diberikan pemahaman mengenai konsep context-based ice breaking serta kesempatan untuk merancang dan mempraktikkan berbagai teknik yang relevan dengan konteks pembelajaran. Setelah workshop, dilakukan pendampingan implementasi serta monitoring dan evaluasi melalui pre-test, post-test, dan refleksi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi guru setelah mengikuti pelatihan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 72,47 pada pre-test menjadi 78,63 pada post-test dengan selisih 6,17 poin. Hampir seluruh peserta mengalami peningkatan skor, dengan peningkatan tertinggi mencapai 25 poin. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan context-based ice breaking efektif dalam meningkatkan pemahaman, motivasi, dan kesiapan guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan mendukung penerapan pembelajaran mendalam di kelas.Kata kunci: Pembelajaran Mendalam; Ice Breaking; Pembelajaran Bermakna. ABSTRACTThe deep learning approach is widely recognized for its potential to enhance students’ critical thinking skills; however, its implementation in classrooms still faces several challenges. One contributing factor is the limited use of context-based ice breaking by teachers as a strategy to increase student engagement, motivation, and cognitive readiness during the learning process. This community service program aimed to enhance teachers’ competencies in designing and implementing context-based ice-breaking techniques that support more interactive and meaningful learning experiences. The program involved 30 teachers from SMA Negeri 11 Denpasar representing various subject areas. The activities were facilitated by two lecturers and three university students. The implementation began with coordination and needs assessment meetings with the school to identify challenges and determine appropriate training materials. This was followed by the preparation of training resources, evaluation instruments, and instructional materials. The main activity consisted of a workshop combining lectures and hands-on practice. Participants were introduced to the concept of context-based ice breaking and were given opportunities to design and practice various techniques relevant to their classroom contexts. Following the workshop, implementation assistance, monitoring, and evaluation were conducted through pre-tests, post-tests, and participant reflections. The results demonstrated an improvement in teachers’ competencies after participating in the program. The average score increased from 72.47 on the pre-test to 78.63 on the post-test, representing a gain of 6.17 points. Nearly all participants showed improvement, with the highest increase reaching 25 points. These findings indicate that context-based ice-breaking training is effective in enhancing teachers’ understanding, motivation, and readiness to create more active and enjoyable learning environments that support the implementation of deep learning in the classroom. Keywords: Deep Learning;  Ice Breaking; Meaningful Learning.
PENGEMBANGAN KREATIVITAS PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN LITERASI DAN NUMERASI PESERTA DIDIK MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DI SDN 4 SEKOTONG TENGAH Supratman Supratman; Sri Nurhayati; Jumadi Irfandani; Nurafiah Nurafiah; Fitri Mulyani; Nur san Salsabila; Tri Widianingsih; Nur Dila Angriani
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39880

Abstract

ABSTRAKKegiatan Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-DIK) di SDN 4 Sekotong Tengah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Latar belakang kegiatan ini adalah rendahnya tingkat literasi dan numerasi siswa yang masih terbatas pada membaca permukaan dan berhitung sederhana tanpa keterkaitan dengan konteks nyata. Mitra sasaran dalam kegiatan ini adalah guru dan peserta didik kelas IV dan V SDN 4 Sekotong Tengah yang melibatkan 30 peserta didik. Metode pelaksanaan meliputi survei kebutuhan, perancangan kegiatan kreatif berbasis CTL, pendampingan pembelajaran, serta implementasi kegiatan literasi dan numerasi yang melibatkan siswa, guru, dan mahasiswa secara partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa meningkat melalui kegiatan membaca cerita rakyat lokal dan menuliskan gagasan sederhana, sedangkan kemampuan numerasi berkembang melalui latihan soal berbasis kehidupan sehari-hari, seperti menghitung belanja dan membuat grafik sederhana. Selain itu, motivasi belajar siswa juga meningkat karena kegiatan dirancang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan pengalaman nyata mereka. Program ini memberikan dampak positif tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru yang memperoleh inspirasi dalam mengembangkan pembelajaran kontekstual. Dengan demikian, penerapan CTL dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran literasi dan numerasi di sekolah dasar.Kata kunci: Literasi, Numerasi; Contextual Teaching and Learning (CTL); KKN-DIK, SDN 4 Sekotong Tengah. ABSTRACTThe Educational Community Service Program (KKN-DIK) at SDN 4 Sekotong Tengah aimed to improve students’ literacy and numeracy skills through the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach. This program was motivated by the low level of students’ literacy and numeracy, which was reflected in their limited ability to comprehend reading materials and apply mathematical concepts in real-life situations. The target participants of this program were teachers and fourth- and fifth-grade students of SDN 4 Sekotong Tengah, involving a total of 30 students. The implementation methods included a needs assessment, the design of creative learning activities based on the CTL approach, learning assistance, and the implementation of literacy and numeracy activities involving students, teachers, and university students in a participatory manner. The results showed that students’ literacy skills improved through activities such as reading local folktales and writing simple summaries, while their numeracy skills developed through contextual exercises, including shopping simulations and simple graph construction. In addition, students demonstrated higher learning motivation because the activities were interactive, enjoyable, and closely related to their daily experiences. The program also provided positive benefits for teachers by inspiring them to develop more contextual and creative learning practices. Therefore, the implementation of the CTL approach can serve as an effective strategy for improving the quality of literacy and numeracy learning in elementary schools.Keywords: Literacy; Numeracy; Contextual Teaching and Learning (CTL); KKN-DIK, SDN 4 Sekotong Tengah.
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU MELALUI PELATIHAN METODE RISET MINI DI SMA MUHAMMADIYAH KALABAHI Rahmad Nasir; Abdulah R.S; Jusriadi Jusriadi; Munandar Maskur Abdullah; Rizal Pasoma Plaikari; Faradila Umaya Adangton
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39833

Abstract

ABSTRAKPembelajaran Mendalam melalui Project Based Learning (PjBM) menerapkan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan yang berkontribusi memberikan pengalaman belajar yang komprehensif dan mendalam yang mampu meningkatkan proses dan mutu pembelajaran. Telah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dalam bentuk Bimbingan Teknis Pembelajaran Mendalam (Pembuatan Mini Riset) bagi para guru di SMA Muhammadiyah Kalabahi pada hari Sabtu, tanggal 07 Februari 2026 bertempat di Aula SMA Muhammadiyah Kalabahi. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan wawasan dan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran mendalam dalam bentuk Project Based Learning (PjBL). Metode pelaksanaan kegiatan ini adalah Bimbingan Teknis dengan pendekatan ceramah, diskusi, tanya jawab, latihan/praktik dan rencana tindak lanjut (RTL). Kegiatan ini dibimbing oleh Dosen/akademisi STKIP Muhammadiyah Kalabahi dengan beberapa topik yakni: (1) Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Mendalam / Rencana Pembelajaran Mendalam (PjBL); (2) Macam/Ragam riset mini & Metodenya; (3) Metodelogi Riset Mini; (4) Metode Penulisan Karya Ilmiah (Riset Mini); (5) Asesmen Pembelajaran (PjBL) Riset Mini yang berlangsung sejak pukul 07.30 s/d 15.30 Wita. Mitra sasaran kegiatan ini adalah SMA Muhammadiyah Kalabahi sebagai sekolah swasta dengan akreditasi B serta sebagai sesama Amal Usaha Muhammadiyah dengan peserta kegiatan ini adalah para guru yang berjumlah 21 orang. Hasil kegiatan memberikan dampak dan manfaat bagi peningkatan wawasan/pemahaman serta kompetensi guru terhadap implementasi pembelajaran mendalam dengan Project Based Learning (PjBL) melalui mini riset bagi rombongan belajar yang diasuh para guru sesuai dengan keilmuannya masing-masing. Rekomendasi dari kegiatan ini adalah komitmen sekolah dan para guru untuk mengaplikasikan hasil bimtek ini pada awal semester berikutnya.Kata kunci: Bimtek; Pembelajaran Mendalam; PJBL; Mini Riset. ABSTRACTIn-depth Learning through Project Based Learning (PjBM) applies the principles of learning Which conscious, meaningful, And An encouraging learning experience that contributes to a comprehensive and in-depth learning experience that can improve the learning process and quality. Community service (PkM) activities have been carried out in the form of Technical Guidance for Learning. Deep (Making Mini Research) for for Teacher in Senior High School Muhammadiyah Kalabahi on day Saturday, date 07 February 2026 located in Hall Senior High School Muhammadiyah Kalabahi. The purpose of this activity is to improve teachers' insight and competence in implementing in-depth learning in the form of Project Based Learning (PjBL). The implementation method for this activity is Technical Guidance with a lecture approach. discussion, Q &A, practice And plan action carry on (RTL). This activity is guided by lecturers/academics from STKIP Muhammadiyah Kalabahi with several topics, namely: (1) Preparation Planning Learning Deep / Plan Learning Deep (PjBL); (2) Types/Varieties Mini Research & Methods; (3) Mini Research Methodology; (4) Scientific Writing Methods (Mini Research); (5) Learning Assessment (PjBL) Research Mini Which ongoing since o'clock 07.30 up to 15.30 Wita. The target partner for this activity was Muhammadiyah Kalabahi High School, a private school with B accreditation and a fellow Muhammadiyah Business Association. The participants were 21 teachers. The results of this activity had an impact. And benefit for increasing insight/understanding as well as competence Teacher to implementation learning deep with Project Based Learning (PjBL) through mini-research for study groups led by teachers based on their respective expertise. Recommendations from this activity is school commitment and the Teacher For applying the results of the technical guidance this is on beginning semester next.Keywords: Technical Guidance; In-Depth Learning; PJBL; Mini Research.
KONTRIBUSI PRAKTIK KERJA LAPANGAN DALAM MENDUKUNG OPTIMALISASI PELAYANAN DAN ADMINISTRASI PERADILAN DI PENGADILAN NEGERI BATAM Ahmad Safri; Musa Rafli Alingkai
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39373

Abstract

ABSTRAKPelayanan administrasi dan peradilan di Pengadilan Negeri Batam dituntut untuk terus meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kualitas layanan seiring dengan perkembangan sistem peradilan berbasis digital serta meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan hukum yang cepat dan akuntabel. Kondisi tersebut memerlukan dukungan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi melalui pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu bentuk implementasi tridharma perguruan tinggi yang berkontribusi dalam penguatan kompetensi mahasiswa sekaligus mendukung pelayanan pada mitra lembaga. Kegiatan ini bertujuan mendeskripsikan kontribusi mahasiswa PKL dalam mendukung optimalisasi pelayanan dan administrasi peradilan di Pengadilan Negeri Batam. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, partisipasi langsung, dokumentasi, dan pendampingan selama pelaksanaan PKL. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa memberikan kontribusi pada penguatan pelayanan administrasi perkara, dukungan pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), pemahaman implementasi digitalisasi peradilan melalui e-Court dan E-Berpadu, serta peningkatan literasi praktis mahasiswa terhadap mekanisme persidangan dan produk putusan hakim. Program PKL juga mendukung efektivitas pelayanan melalui bantuan administratif, penguatan tata kelola layanan, serta sinergi antara institusi pendidikan dan lembaga peradilan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa PKL tidak hanya menjadi sarana pembelajaran berbasis pengalaman, tetapi juga berkontribusi terhadap optimalisasi pelayanan hukum dan administrasi peradilan. Dengan demikian, PKL dapat menjadi model kolaboratif dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik di lembaga peradilan.Kata kunci: Praktik Kerja Lapangan; Pelayanan Peradilan; Administrasi Perkara; Optimalisasi Layanan; Pengadilan Negeri. ABSTRACTThe administration and judicial services at the Batam District Court are required to continuously improve effectiveness, efficiency, and service quality in line with the development of digital-based judicial systems and the increasing public demand for fast and accountable legal services. This condition requires support from various stakeholders, including higher education institutions through the implementation of Field Work Practice (Practical Work Internship Program/PKL). Field Work Practice (PKL) is one form of higher education tridharma implementation that contributes to strengthening student competencies while also supporting partner institutions’ services.This activity aims to describe the contribution of PKL students in supporting the optimization of judicial services and court administration at the Batam District Court. The method used in this activity is a descriptive qualitative approach through observation, direct participation, documentation, and assistance during the internship implementation. The results show that student involvement contributed to strengthening case administration services, supporting the Integrated One-Stop Service (PTSP), understanding the implementation of judicial digitalization through e-Court and E-Berpadu, and improving students’ practical literacy regarding court proceedings and judicial decisions. The internship program also supported service effectiveness through administrative assistance, service governance reinforcement, and synergy between educational institutions and the judiciary. This activity shows that internships are not only a means of experiential learning but also contribute to the optimization of legal services and court administration. Thus, PKL can serve as a collaborative model in improving the quality of public services in judicial institutions.Keywords: Field Work Practic; Judicial Service; Case Administration; Service Optimization; District Court.
SOSIALISASI HUKUM: PENGUATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN PESISIR BERKELANJUTAN Siti Hasanah; Yulias Erwin; Firzhal Arzhi Jiwantara; Asri Asri
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39441

Abstract

ABSTRAKPermasalahan utama dalam pengelolaan lingkungan pesisir terletak pada masih terbatasnya pemahaman hukum masyarakat serta rendahnya keterlibatan aktif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlokasi di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hukum sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan pesisir berkelanjutan. Mitra kegiatan adalah Pemerintah Kelurahan Bintaro yang melibatkan 35 peserta terdiri atas staf kelurahan, tokoh masyarakat, nelayan, dan pemuda yang merupakan representasi masyarakat pesisir setempat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu koordinasi dengan mitra untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan, persiapan materi dan teknis pelaksanaan, pelaksanaan sosialisasi hukum dengan tema Penguatan Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Pesisir Berkelanjutan, serta evaluasi yang dilakukan melalui diskusi dan tanya jawab setelah kegiatan berakhir untuk mengukur tingkat pemahaman peserta, memperoleh umpan balik, serta mengidentifikasi tindak lanjut yang diperlukan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah dan tanya jawab guna mendorong interaksi aktif antara narasumber dan peserta. Hasil diskusi dan tanya jawab pasca kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap aspek hukum lingkungan dan adanya komitmen kesiapan untuk berperan aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan pesisir. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong munculnya inisiatif masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis pesisir secara berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi hukum ini memberikan kontribusi positif dalam membangun kesadaran hukum dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir secara berkelanjutan.Kata kunci: Hukum Lingkungan; Partisipasi Masyarakat; Pesisir Berkelanjutan; Sosialisasi Hukum.ABSTRACTThe primary challenge in coastal environmental management lies in the limited legal awareness of local communities and their low level of active participation in maintaining the sustainability of coastal ecosystems. This community service program, conducted in Bintaro Village, Ampenan District, Mataram City, aimed to enhance legal awareness and strengthen community participation in sustainable coastal environmental management. The partner of this program was the Bintaro Village Administration, involving 35 participants consisting of village officials, community leaders, fishermen, and youth representatives of the local coastal community. The program was implemented through several stages, including coordination with the partner institution to identify needs and existing problems, preparation of materials and technical arrangements, the delivery of a legal awareness seminar entitled Strengthening Community Participation in Sustainable Coastal Environmental Management, and an evaluation phase. The evaluation was carried out through discussions and question-and-answer sessions following the activity to assess participants’ level of understanding, obtain feedback, and identify necessary follow-up actions.The methods employed in this program included lectures and interactive discussions to encourage active engagement between the speakers and participants. The results of the post-activity discussions and question-and-answer sessions indicated an improvement in participants’ understanding of environmental law and demonstrated their commitment and readiness to take an active role in coastal environmental conservation efforts. Furthermore, the program encouraged community initiatives to develop sustainable coastal-based economic activities. Therefore, this legal awareness program made a positive contribution to fostering legal consciousness and strengthening community participation in the sustainable preservation of the coastal environment.Keywords: Environmental Law; Public Participation; Sustainable Coastal Management; Legal Awareness Outreach.