cover
Contact Name
Elfa Ali Idrus
Contact Email
elfa@unpad.ac.id
Phone
+6281322180103
Journal Mail Official
sekre.jurnaloftalmologi@gmail.com
Editorial Address
Tim Kerja Penelitian, Gedung C Lantai 3, Jl. Cicendo No. 4, Babakan Ciamis, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40117
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
ISSN : 27236935     EISSN : 25414283     DOI : https://doi.org/10.11594/ojkmi
Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia (P-ISSN: 2723-6935, E-ISSN: 2541-4283) is a scientific journal published by Cicendo Eye Hospital and accepts articles written in both English and Indonesian expected to become a media conveying scientific inventions and innovations in medical or health allied fields toward practitioners and academicians. Normally published every four months (April, August, December) using a peer review system for article selection. Papers dealing with results of case reports, systematic reviews, and clinical research related to visual science for ophthalmologists, eye nurses, and medical support in other fields of Ophthalmology.
Articles 158 Documents
Demographic Characteristics and Ocular Biometrics of Cataract Surgery Patients at KMU Eye Clinic Lamongan in April 2024 Salsabila, Khansa Dhea; Unari, Uyik
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 1 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i1.79

Abstract

ABSTRACT Introduction: Cataract remains the leading cause of blindness in Indonesia, accounting for over 80% of severe visual impairment. Given the substantial burden in East Java, this study aimed to characterize cataract patients' demographic and ocular biometric profiles at KMU Eye Clinic Lamongan. Methods: A cross-sectional descriptive study reviewed the medical records of patients who underwent cataract surgery in April 2024. Inclusion criteria included patients scheduled for surgery via phacoemulsification or Small Incision Cataract Surgery (SICS). Data collected included demographics, systemic comorbidities, and ocular biometric parameters: intraocular pressure (IOP), anterior chamber depth (ACD), lens thickness (LT), intraocular lens (IOL) power, and surgery duration. Result: A total of 192 patients were analyzed. The mean age was 63.6±8.3 years, with 50% aged 60-69 years. Hypertension (66.7%) and diabetes (17.2%) were the most common systemic comorbidities. Severe visual impairment (≤3/60) was observed in 59.9% of cases. Phacoemulsification was performed in 97% of surgeries. Mean values for ocular biometrics were: IOP 15.1±3.6 mmHg, ACD 3.2±0.4 mm, LT 4.3±0.7 mm, IOL power 19.8±4.1 D, and surgery time 9.5±3.5 minutes. Conclusion: Most cataract patients at KMU Eye Clinic Lamongan were elderly with significant systemic comorbidities and severe visual impairment. Phacoemulsification was the preferred surgical technique. Ocular biometric analysis provided essential information for preoperative planning and optimizing cataract management.
Karakteristik dan Gambaran Hasil Tajam Penglihatan pada Operasi Pterigium di Rumah Sakit Khusus Mata Purwokerto Tahun 2023 Nafiisah, Nafiisah; Setyawan, Agus
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 1 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i1.80

Abstract

Pendahuluan: Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular pada konjungtiva bulbar yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan hasil tajam penglihatan pascaoperasi pada pasien pterigium di RS Khusus Mata Purwokerto selama tahun 2023. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif ini melibatkan 44 pasien yang telah menjalani operasi pterigium. Data yang dianalisis meliputi karakteristik jenis kelamin, usia, lokasi tempat tinggal, pekerjaan, derajat dan lateralisasi pterigium, penyakit penyerta, teknik operasi dan ketajaman penglihatan. Hasil: Hasil menunjukkan mayoritas pasien adalah perempuan berusia 60-74 tahun yang tinggal di pedesaan sebagai ibu rumah tangga. Distribusi antara pterigium unilateral dan bilateral seimbang dengan seluruhnya derajat 4. Sebagian besar pasien memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi. Sebanyak 9 pasien mengalami perbaikan tajam penglihatan yang signifikan setelah operasi dengan sebagain besar menggunakan teknik conjunctival autograft. Kesimpulan: Intervensi bedah berperan penting dalam mengatasi gangguan penglihatan yang disebabkan oleh pterigium.
Identifikasi Faktor Risiko Keratitis pada Pengguna Lensa Kontak Athavina, Ienka Alya; Art, Febrina; Mariana
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 1 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i1.81

Abstract

Pendahuluan: Lensa kontak merupakan alat artifisial yang digunakan secara langsung pada permukaan kornea untuk mengoreksi gangguan refraksi. Keratitis mikroba (microbial keratitis / MK) terkait penggunaan kontak lensa (contact lens-associated microbial keratitis / CLMK) adalah penyakit akibat penggunaan lensa kontak yang berpotensi mengancam penglihatan. Metode: Pencarian literatur menggunakan database PubMed/Medline, Google scholar dan Web of Science dengan batasan publikasi maksimal 10 tahun terakhir. Kriteria inklusi adalah jurnal kedokteran dengan pengguna lensa kontak dan jurnal yang berkaitan dengan keratitis. Kriteria eksklusi yaitu jurnal dengan bahasa selain bahasa indonesia atau bahasa inggris dan pasien yang telah melakukan prosedur invasif pada mata, pasien dengan penyakit sistemik, atau kehamilan. Hasil: Systematic review ini menganalisis data dari 5 studi case-control dan cross sectional terkait identifikasi faktor risiko keratitis mikroba pada pengguna lensa kontak. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menyertakan beberapa odds ratio (OR), confidence interval (CI), dan nilai p yang dilaporkan dalam masing-masing jurnal untuk menentukan kekuatan hubungan antar faktor risiko yang diidentifikasi pada jurnal tersebut. Kesimpulan: Didapatkan bahwa faktor risiko utama CLMK meliputi penggunaan lensa kontak melewati waktu penggantian, penggunaan berlebihan (termasuk saat tidur), aktivitas mandi atau berenang dengan lensa kontak, ketidakpatuhan terhadap prosedur perawatan lensa, serta penggunaan larutan pembersih yang tidak sesuai rekomendasi.
Pengaruh Pengetahuan Sinar Ultraviolet Terhadap Gejala Katarak Pada Pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang Wahyono, Akbar Pandu; Noor, Viva Maiga Mahliafa; Indradi, Rubayat; Sylvestris, Alfa
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 1 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i1.82

Abstract

Pendahuluan: Katarak ialah keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih menjadi keruh. Sebanyak 81,2% dari 8 juta orang Indonesia yang mengalami gangguan penglihatan pada tahun 2017 disebabkan oleh katarak. Pajanan kronis sinar (UV) adalah salah satu dari banyak faktor risiko di tempat kerja dimana Indonesia adalah salah satu negara dengan iklim tropis. Risiko penyakit akibat kerja meningkat di sub sektor perkebunan oleh karena pajanan sinar UV. Rendahnya pendidikan di masyarakat berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman dan tingkat kesadaran akan penyakit katarak yang rendah. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan pengambilan data menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis secara deskriptif dan analitik melalui software IBM SPSS versi ke-23 dengan menggunakan Uji Statistik Pearson Chi-Square dengan total responden sebanyak 46 pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang. Hasil: Tidak didapatkan pengaruh pengetahuan paparan sinar UV terhadap gejala katarak pada pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang dengan nilai p-value = 0,668 (p>0,05) Kesimpulan: Tingkat pengetahuan paparan sinar ultraviolet tidak memberikan pengaruh terhadap gejala katarak pada pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang karena pada responden dengan kategori pengetahuan rendah tidak ditemukan gejala katarak dengan frekuensi yaitu 38 orang dan 1 orang dengan gejala katarak sehingga pengetahuan tidak berpengaruh terhadap gejala katarak.
Clinical and Microbiological Profile of Bacterial Keratitis in Indonesia: A Retrospective Study at a National Eye Center Hanifa, Nadhira Nizza; Idrus, Elfa Ali; Kartika, Antonia
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 1 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i1.83

Abstract

Introduction: Bacterial keratitis, accounting for 90% of microbial keratitis cases globally, poses a serious threat to vision and is a leading cause of corneal blindness globally. This study provides novel insight and integrated analysis of bacterial keratitis at the National Eye Center, providing epidemiological insight in a tertiary eye center, which has not been previously reported in published literature to guide effective clinical decision making and public health strategies. Methods: This descriptive retrospective study was done at the National Eye Center. Data on demographics, presenting signs and symptoms, bacteriological examination results, treatment administered, and complications observed were collected from medical records between January to December 2023. Result: Among 33 patients, 51.5% were female with a mean age of 41.6 years. The majority (81.8%) had predisposing factors, with corneal trauma (48.5%) being the most common. Microbiological analysis by corneal scraping revealed gram-positive cocci in 72.7% of cases. Most patients (78.8%) were managed with topical antibiotics alone. Surgical intervention was required in 21.2% of cases due to complications. Conclusion: The findings highlight corneal trauma as the leading risk factor, predominantly gram-positive cocci involvement, and the necessity of timely intervention to prevent complications. Further large-scale studies are needed to refine management strategies.
Karakteristik Pasien Trauma Okuli di RSUD Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur Banamtuan, Ramot Arif; Kartika, Antonia
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 1 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i1.84

Abstract

Pendahuluan: Trauma mata adalah kerusakan jaringan mata akibat adanya paparan dari benda tajam, benda tumpul ataupun zat kimia pada mata. Penelitian ini merupakan penelitian pertama di bidang oftalmologi yang dilakukan di RSUD Soe. Metode: Penelitian ini adalah cross sectional retrospektif menggunakan rekam medis pasien dengan diagnosis trauma okuli di IGD RSUD Soe dalam periode Januari 2022 – Desember 2024. Hasil Penelitian: Sebanyak 23 pasien didiagnosa dengan trauma okuli, jenis kelamin laki-laki 17 pasien (73.9%) dan perempuan 6 pasien (26.1%). Mayoritas pasien berusia lebih dari 18 tahun (73.9%), trauma okuli terbanyak mengenai 1 mata/ unilateral (95.7%). Sebagian pasien merupakan pelajar atau mahasiswa (39.1%) dan mendapat surat rujukan eksternal (60.9%) untuk penanganan selanjutnya. Penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas (56.5%), diikuti oleh trauma termal (13.0%), benda asing (26.1%), dan kekerasan (4.3%). Diagnosis terbanyak adalah laserasi palpebra (43.5%), diikuti oleh benda asing pada mata (21.7%), dan trauma termal (13.0%). Kesimpulan: Trauma okuli di IGD RSUD Soe ditemukan paling banyak pada pasien laki-laki, berusia lebih dari 18 tahun, dan mengenai 1 mata / unilateral. Sebagian besar pasien merupakan pelajar/mahasiswa, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab terbanyak trauma okuli, dan sebagian besar pasien dirujuk untuk penanganan lebih lanjut. Laserasi palpebra merupakan diagnosis terbanyak dari penelitian ini.
Manual Small Incision Cataract Surgery pada Pasien Katarak dengan Pupil Kecil: Sebuah Laporan Kasus Kurniawan, Hendra; Sadri, Irsad; Asvinia, Made Astri
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 2 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i2.85

Abstract

Pendahuluan: Katarak adalah penyebab kebutaan utama di dunia yang dapat dicegah, dan operasi masih merupakan satu-satunya terapi definitif. Manual Small Incision Cataract Surgery (MSICS) merupakan teknik yang banyak digunakan di negara berkembang karena biaya rendah dan efektivitasnya. Pupil kecil adalah salah satu tantangan intraoperatif yang signifikan, terutama di fasilitas tanpa akses penggunaan alat ekspansi pupil. Laporan kasus: Laki-laki berusia 73 tahun, datang dengan penurunan penglihatan progresif pada mata kanan. Pemeriksaan menunjukkan visus 4/60, dan didiagnosis katarak senilis matur, serta dilatasi pupil maksimal ±5 mm. Operasi dilakukan dengan teknik MSICS menggunakan can-opener capsulotomy, prolaps nukleus, dan manual delivery. Pada hari pertama pascaoperasi, visus meningkat menjadi 6/15 dengan pinhole, dan setelah 1 minggu visus terbaik tercapai 6/10. Komplikasi ringan berupa edema kornea minimal, pupil ireguler, dan sisa korteks kecil yang tidak mengganggu aksis visual. Pembahasan: Kasus ini menegaskan bahwa MSICS dapat menjadi alternatif yang aman dan efektif pada katarak dengan pupil kecil di fasilitas terbatas. Hasil ini sejalan dengan literatur yang menunjukkan MSICS mampu memberikan perbaikan visus baik tanpa alat ekspansi pupil. Simpulan: MSICS tetap merupakan teknik penting yang perlu dikuasai, terutama pada kondisi penyulit seperti pupil kecil, karena mampu memberikan perbaikan visus dengan komplikasi minimal.
Does Duration of Wearing Face Masks Cause Dry Eye Disease Among Medical Students in Indonesia: A Cross Sectional Study Angelius, Chelsie; Irma, Josiah; Onasis, Serena; Rizki, Saraswati Anindita; Budimulia, Patricia; Salim, Jonathan; Lesmana, Maria Vashti Zerlinda
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 2 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i2.86

Abstract

Introduction: During the COVID-19 pandemic, infection control protocols required universal mask use. At the same time, increased reports of dry eye symptoms emerged. Prior studies showed inconsistent results. This study aims to clarify the association, hypothesizing that prolonged mask wearing is linked to a higher risk of dry eye disease. Methods: This study is an analytical comparative cross-sectional study. The purposive sampling technique was used to collect samples. To diagnose dry eye disease, the Ocular Surface Disease Index (OSDI) questionnaire was used. The cut off score we used is >12 points in OSDI. Two categories were established to assess mask usage duration: <6 hours or ≥ 6 hours per day. Data were collected in January 2023 from 278 respondent medical students in Tangerang, Indonesia. Bivariate chi-square data analysis was performed using SPSS 25.0 software. Discussion: 82 respondents (29.5%) experienced dry eye disease, and 221 respondents (79.5%) used masks for ≥ 6 hours during effective working days along the week. No significant relationship was found between both variables. (OR = 0,883; 95% CI: 0.471-1.658; p = 0.669). Results: There was no association between using masks for a longer period of time to dry eye disease.
Selective Laser Trabeculoplasty as First-Line Treatment in Primary Open Angle Glaucoma: A Meta-Analysis Rifa'i, Alfiani Zukhruful Fitri; Hartono, Faigah Diva; Fazarrahmah
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 2 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i2.87

Abstract

Introduction: For primary open-angle glaucoma (POAG), selective laser trabeculoplasty (SLT) is a non-invasive therapeutic approach that provides an alternative to conventional operations and medications. The effectiveness and safety profile of SLT as a primary treatment for newly diagnosed POAG were evaluated by a meta-analysis. Methods: A systematic review and meta-analysis were performed using databases including PubMed, ScienceDirect, ProQuest, and Scopus from inception to March 2025, adhering to Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Analyses were executed via Review Manager 5.4.1. Subgroup analyses were performed on SLT compared with medical therapy and categorized SLT as initial or adjunctive therapy. Results: Out of twelve qualifying trials, 2.248 patients were combined. In newly diagnosed POAG, the results showed no significant differences in IOP reduction between SLT and topical medications as first line modality (Mean Difference (MD): 0.21, 95% CI 0.81 to 1.83, p=0.69, I2 = 70%); however, initial SLT performed better than adjunctive SLT (MD: 0.57, p=0.05, I2: 37%). Antiglaucoma drug use, glaucoma surgery rates, and ocular side effects were all markedly lower in the SLT group. Conclusion: SLT has the potential to transform glaucoma management due to its enhanced efficacy, minimal adverse effects, reduced medication burden, and cost-effectiveness.
Proporsi dan Karakteristik Pasien Glaukoma di Klinik Mata Utama Maluku Wakanno, Jenet Welna Sabatini; Tamtelahitu, Carmila; Tamalsir, Dylan
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 2 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v7i2.88

Abstract

Pendahuluan: Glaukoma merupakan gangguan pada mata yang ditandai oleh dua aspek utama, yaitu kerusakan saraf optik disertai atrofi pada papila optik serta adanya gangguan pada lapang pandang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi dan karakteristik pasien glaukoma yang berobat di Klinik Mata Utama Maluku pada tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien, kemudian akan dilakukan analisis data secara univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 76 pasien yang terdiagnosis glaukoma pada tahun 2024, dimana 55 rekam medis pasien memenuhi kriteria inklusi. Proporsi glaukoma di Klinik Mata Utama Maluku tahun 2024 adalah sebesar 0,55%. Kelompok usia terbanyak adalah 55–64 tahun (38,2%), dengan mayoritas pasien laki-laki sebanyak 30 orang (54,5%). Keluhan yang paling umum ditemukan adalah nyeri pada mata, dialami oleh 24 pasien (43,6%). Mayoritas pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik (69,2%), meskipun hipertensi tercatat pada 29,1% pasien. Sebagian besar pasien, yaitu 92,7%, juga tidak memiliki riwayat keluarga dengan glaukoma. Sebanyak 46 pasien (83,6%) tercatat memiliki tekanan intraokular (TIO) yang tinggi (>21 mmHg), dan jenis glaukoma yang paling sering dijumpai adalah glaukoma fakomorfik, yang dialami oleh 17 pasien (30,9%). Kesimpulan: Proporsi kasus glaukoma di Klinik Mata Utama Maluku pada tahun 2024 tercatat sebesar 0,55%, dengan karakteristik pasien yang didominasi oleh kelompok usia 55–64 tahun, berjenis kelamin laki-laki, menunjukkan gejala nyeri mata, memiliki tekanan intraokular yang tinggi, serta jenis glaukoma yang paling sering dijumpai adalah glaukoma fakomorfik.