cover
Contact Name
La Ode Liaumin Azim
Contact Email
alymelhamed09@uho.ac.id
Phone
+6282394631001
Journal Mail Official
itkavicennalppm@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Published by ITK Avicenna
ISSN : -     EISSN : 28295536     DOI : https://doi.org/10.69677/avicenna.v3i1
Core Subject : Health,
Jurnal ini memuat hasil-hasil peneltian dibidang sains dan kesehatan terutama pada fokus kesehatan masyarakat, epidemiologi, kesehatan kerja, kesehatan lingkungan, gizi, administrasi kesehatan, promosi kesehatan, kesehatan reproduksi, keperawatan, farmasi
Articles 148 Documents
Hubungan Pola Makan, Sedentary Lifestyle dan Durasi Tidur Dengan Kejadian Gizi lebih Pada Remaja Di SMA Negeri 9 Kendari Tahun 2024: Hubungan Pola Makan, Sedentary Lifestyle dan Durasi Tidur Dengan Kejadian Gizi lebih Pada Remaja Di SMA Negeri 9 Kendari Tahun 2024 findriyanti, findri; Wa Ode Salma; Devi Savitri Effendy; La Ode Muhamad Sety; Hariati Lestari; Rizki Eka Sakti Octaviani Kohali
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.194

Abstract

Latar belakang: Gizi lebih terjadi karena berbagai hal, tapi yang utama adalah ketidakseimbangan energi. Di Provinsi Sulawesi Tenggara, pada tahun 2023, jumlah remaja berusia 13-15 tahun yang mengalami overweight dan obesitas masing-masing adalah 9,0% dan 2,9%. Tujuan: penelitian ini ingin mencari tahu bagaimana pola makan, gaya hidup tidak aktif, dan waktu tidur berhubungan dengan masalah gizi lebih pada remaja. Metode: penelitian ini menggunakan cara observasional analitik dengan desain cross sectional. Ada 278 responden yang menjadi sampel yang dipilih dengan teknik pemilihan acak sederhana. Untuk analisis datanya, digunakan uji Chi-square. Hasil: menunjukkan bahwa pola makan (nilai p = 0,003), gaya hidup tidak aktif (nilai p = 0,021), dan waktu tidur (nilai p = 0,026) semuanya lebih kecil dari nilai p = 0,05. Kesimpulan: ada hubungan antara pola makan, gaya hidup tidak aktif, dan waktu tidur dengan masalah gizi lebih pada remaja. Sebaiknya, remaja harus menjaga pola makan yang sehat dengan mengurangi makanan yang tinggi kalori, lebih aktif bergerak untuk mengurangi gaya hidup tidak aktif, dan memastikan waktu tidur yang cukup untuk mendukung kesehatan. Dengan menjalani kebiasaan sehat secara teratur, remaja bisa mencegah masalah gizi lebih dan mencapai pertumbuhan yang baik dan berkelanjutan.
Faktor Risiko Sosiodemografi dan Gaya Hidup terhadap Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Jakabaring Marlina, Devi; Ririn Noviyanti Putri; Nasrullah; Putri Amanda Irawan; Eka Safitri dayanti
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.249

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Faktor gaya hidup lainnya termasuk aktivitas fisik, pola makan, dan perilaku merokok Kadar glukosa darah meningkat pada orang yang menjalani gaya hidup aktif dibandingkan dengan orang yang tidak terlalu aktif, merokok, dan bekerja sedentary. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko yang memengaruhi kejadian DM Tipe 2. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel studi ini yaitu aktivitas fisik, jenis kelamin, pekerjaan, usia, status pernikahan, perilaku merokok. dan kejadian DMT2. Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Jakabaring dengan jumlah sampel sebanyak 95 responden. Besaran sampel didapat sebanyak 95 responden. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat, dan analisis bivariat. Pada analisis bivariate menggunakan uji hipotesis Chi Square IBM SPSS 26. Hasil : Responden dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami DM tipe 2 dibandingkan mereka dengan aktivitas fisik sedang/tinggi, dengan PR = 1,8; 95% CI: 1,3–2,4 p < 0,05. Tidak bekerja juga terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2, dengan PR = 2.4; 95% CI: 1,4–4.0; p < 0,05, pada responden yang merokok memiiki hubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 dengan PR = 1,5; 95% CI = 1,0-2,0; p < 0.05. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik, pekerjaan, dan perilaku merokok dengan kejadian DM Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Jakabaring Kota Palembang
Gambaran Kejadian Diare pada Anak di Puskesmas Poasia Kota Kendari Kamrin; La Ode Liaumin Azim
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.253

Abstract

Latar Belakang: Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama pada anak, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit ini berkontribusi terhadap tingginya angka kesakitan dan kematian balita. Kondisi lingkungan yang kurang sehat dan kebersihan perorangan yang rendah, menjadi faktor yang memengaruhi terjadinya diare. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus diare pada anak berdasarkan karakteristik orang, tempat, dan waktu di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari laporan kasus diare anak di Puskesmas Poasia Kota Kendari tahun 2025. Data dianalisis secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi kasus berdasarkan usia, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, dan waktu kejadian. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kasus diare terjadi pada kelompok usia balita (2 tahun) sebesar 27,4%, dengan distribusi kasus lebih banyak pada anak perempuan (57,0%) dibanding perempuan (43,0%). Berdasarkan wilayah tempat tinggal, kasus diare terbanyak ditemukan di Kelurahan Andounuhu (28,8%), sedangkan berdasarkan waktu kejadian, peningkatan kasus terlihat pada bulan Januari–Maret. Simpulan: Kejadian diare pada anak di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari masih relatif tinggi, terutama pada kelompok usia balita dan pada wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. oleh karena itu perlu peningkatan upaya promosi kesehatan, perbaikan sanitasi lingkungan, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.
Pengaruh Pola Makan, Aktivitas Fisik dan Tingkat Pendidikan terhadap Kekurangan Energi Kronik pada Remaja Putri: Analisis Data Riskesdas 2023 La Ode Liaumin Azim; Agnes Mersatika Hartoyo; Putu Eka Meiyana Erawan
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.256

Abstract

Latar belakang: Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Faktor-faktor seperti pendidikan, pola makan, aktivitas fisik, dan konsumsi buah dan sayur diketahui berperan penting dalam kejadian KEK. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan, aktivitas fisik, dan konsumsi buah dan sayur terhadap kejadian KEK pada remaja putri di Indonesia, menggunakan data sekunder dari Riskesdas 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data bersumber dari data SKI 2023, dengan jumlah sampe 55.506 remaja putri yang berusia 10-19 tahun. Analisis dilakukan menggunakan analisis Complex Samples Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dan KEK, (P-value = 0,000). Aktivitas fisik berat berhubungan dengan penurunan prevalensi KEK (P-value = 0,778, POR = 0,863). Selain itu, konsumsi buah dan sayur yang kurang baik berhubungan dengan peningkatan kejadian KEK (P-value = 0,001, POR = 1,486).. Kesimpulan: Pendidikan rendah, konsumsi buah dan sayur yang tidak memadai, merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian KEK pada remaja putri. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk meningkatkan pendidikan gizi dan memperbaiki pola makan remaja putri guna mencegah KEK
Efektivitas Pijat Effleurage terhadap Nyeri Dismenore Primer pada Remaja: Tinjauan Literatur: - Dewi, Made Amanda Cipta; Wulandari, Made Ririn Sri; Suryasmini, Komang Alit
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.258

Abstract

Latar belakang: Dismenore merupakan keluhan ginekologis yang paling sering dialami remaja dan menyebabkan nyeri siklik, ketidaknyamanan, keterbatasan aktivitas, serta penurunan kualitas hidup. Keterbatasan penggunaan obat pereda nyeri mendorong perlunya terapi nonfarmakologis yang aman dan efektif. Salah satu teknik yang digunakan adalah pijat effleurage, yang bekerja melalui relaksasi otot dan stimulasi mekanoreseptor sehingga membantu mengurangi nyeri. Tujuan: Mengidentifikasi efektivitas pijat effleurage dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore primer pada remaja melalui tinjauan literatur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain literature review dengan pendekatan pencarian sistematis pada basis data Google Scholar dan Garuda untuk publikasi tahun 2021–2025. Proses seleksi dilakukan melalui tahap identifikasi, skrining, penilaian kelayakan, dan inklusi. Artikel diikutsertakan jika memenuhi kriteria remaja dengan dismenore primer, menggunakan intervensi effleurage, memiliki desain eksperimen atau quasi-eksperimen, tersedia dalam teks lengkap, dan melaporkan luaran intensitas nyeri. Sebanyak 14 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan sintesis naratif. Hasil: Seluruh artikel menunjukkan bahwa pijat effleurage efektif menurunkan nyeri dismenore, baik sebagai intervensi tunggal maupun kombinasi. Intervensi ini juga meningkatkan relaksasi tanpa ditemukan efek samping. Simpulan: Pijat effleurage merupakan intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan efektif mengurangi nyeri dismenore pada remaja, sehingga dapat direkomendasikan sebagai bagian dari manajemen nyeri menstruasi.
Dampak Malnutrisi Terhadap Sistem Saraf Motorik Pada Anak Khairunnisa, Dzikra Bilqis; Nissa Amelia; Nurlaila Ramadhani; Deppany Seladesh; Dela Nurlita Sari; Devano Qimico Camilo; Popi Sopiah
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.263

Abstract

Latar belakang: Malnutrisi adalah kondisi dimana jumlah maupun kualitas nutrisi tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh, baik kekurangan maupun kelebihan yang berdampak pada kesehatan tubuh. Pada anak, kondisi malnutrisi tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan sistem saraf, termasuk sistem saraf motorik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak malnutrisi terhadap perkembangan sistem saraf motorik pada anak Metode: Metode yang digunakan adalah literature review. Peneliti menggunakan dua database dalam menyusun literature review diantaranya adalah Google Scholar dan Semantic Scholar. Hasil: Hasil penelitian mengindikasikan bahwa malnutrisi, memiliki dampak yang signifikan terhadap keterlambatan dalam perkembangan motorik pada anak-anak, khususnya melalui masalah dalam pengiriman sinyal saraf dan proses pembentukan mielin. Di sisi lain, di kalangan kelompok dengan status sosial-ekonomi menengah, pengaruh tersebut tidak terlihat signifikan. Kesimpulan: Malnutrisi berkontribusi pada gangguan perkembangan motorik anak, terutama pada kelompok yang rentan, sehingga pemenuhan gizi dan stimulasi motorik sejak dini sangat diperlukan.
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTI EPILEPSI PADA PASIEN DEWASA DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT “JIH” YOGYAKARTA PERIODE TAHUN 2023 Hanita Christiandari; Meylinda Putri Pamungkas; Jarot Yogi Hernawan
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.265

Abstract

Latar belakang: WHO memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 5 juta individu yang didiagnosis mengalami epilepsi. Di Indonesia, jumlah penderita epilepsi juga tergolong tinggi, yaitu sekitar 8,2 kasus per 1.000 penduduk. Selain itu, laporan WHO menunjukkan bahwa negara-negara berkembang memiliki prevalensi epilepsi tertinggi pada kelompok usia 20 hingga 50 tahun Tujuan: Mengidentifikasi pola penggunaan obat antiepilepsi pada pasien dewasa dengan mempertimbangkan jenis kelamin, klasifikasi obat, tipe kejang, serta bentuk terapi yang diberikan Metode: Penelitian bersifat deskriptif dengan pemanfaatan data historis. Sampel penelitian menggunakan seluruh populasi pasien epilepsy sejumlah 75 pasien. Data dianalisis dengan analisis kuantitatif. Hasil: Penggunaan obat anti epilepsi pada perempuan (52%) adalah Levetiracetam (33%), laki-laki (48%) adalah Fenitoin (42%). Golongan obat yang paling banyak yaitu Hidantoin (33%). Obat untuk kejang umum paling banyak yaitu Fenitoin (35%), kejang fokal dengan Levetiracetam (33%), kejang tidak diketahui dengan Fenitoin (36%). Jenis terapi obat yang adalah monoterapi (65%) dengan Fenitoin dan politerapi sebesar (35%) dengan kombinasi Fenitoin dengan Clonazepam (5%). Simpulan: Penggunaan obat antiepilepsi pada populasi penelitian menunjukkan bahwa Levetiracetam merupakan pilihan yang paling sering digunakan pada pasien perempuan, sedangkan Fenitoin lebih dominan pada pasien laki-laki. Secara keseluruhan, golongan obat yang paling umum diresepkan adalah Hidantoin. Untuk penatalaksanaan kejang, Fenitoin paling banyak digunakan pada tipe kejang umum, sementara Levetiracetam lebih sering dipilih untuk kejang fokal. Selain itu, pola terapi yang paling sering diterapkan adalah monoterapi.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingginya Kasus HIV/AIDS pada Kelompok Beresiko Lelaki Seks Lelaki di RSUD Kota Kendari Safrina; Salma, Wa Ode; Kusnan, Adius
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.269

Abstract

Latar Belakang: Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) merupakan populasi kunci yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Di Kota Kendari, khususnya di RSUD Kota Kendari, kasus HIV di kalangan LSL tinggi dan berfluktuasi. Faktor-faktor seperti perilaku seksual berisiko, rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, status gizi, dan stigma diduga berkontribusi terhadap tingginya prevalensi ini, tetapi belum diteliti secara komprehensif di wilayah tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya kasus HIV/AIDS pada kelompok berisiko LSL di RSUD Kota Kendari. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 75 kasus (LSL HIV-positif) dan 75 kontrol (LSL HIV-negatif) yang dipilih secara acak sistematis di RSUD Kota Kendari. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil: Analisis multivariat menunjukkan bahwa perilaku seksual berisiko (p=0,000), pengetahuan rendah tentang HIV/AIDS (p=0,001), akses layanan kesehatan yang terbatas (p=0,002), dan stigma (p=0,005) secara signifikan berpengaruh terhadap tingginya kasus HIV pada kelompok LSL. Namun, status gizi (p=0,250) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Di antara faktor-faktor tersebut, perilaku seksual berisiko merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi tingginya kasus HIV. Kesimpulan: Tingginya angka kasus HIV pada pria yang aktif secara seksual (LSL) di RSUD Kota Kendari sangat dipengaruhi oleh perilaku seksual berisiko, rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, dan stigma. Intervensi pencegahan dan pengobatan HIV pada LSL perlu berfokus pada edukasi tentang perilaku seksual yang aman, peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi, penyediaan layanan kesehatan yang ramah dan mudah diakses, serta pengurangan stigma dan diskriminasi di masyarakat dan fasilitas kesehatan
Efektivitas Terapi Akupresure Terhadap Kualitas Tidur Pada Wanita Menopause : Tinjauan Literatur Kadek Dwi Pitriyani; Made Ririn Sri Wulandari
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.271

Abstract

Latar Belakang: Gangguan tidur sering dialami wanita menopause akibat penurunan hormon estrogen, yang berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan secara keseluruhan. Terapi nonfarmakologis, seperti akupresur, menjadi alternatif yang aman dan praktis. Tujuan: Menganalisis efektivitas terapi akupresur terhadap kualitas tidur dan insomnia pada wanita menopause. Metode: Tinjauan literatur sistematis dengan sintesis naratif dilakukan melalui pencarian Google Scholar dan PubMed (2020–2025) menggunakan kata kunci terkait akupresur, menopause, dan kualitas tidur. Seleksi artikel mengikuti kerangka PICOT, menghasilkan 10 artikel penelitian yang dianalisis secara naratif. Hasil: Hasil akupresur pada titik HT7 (Shenmen), baik tunggal maupun dikombinasikan dengan PC6 dan GV20, selama kurang lebih 15–20 menit per sesi, 2–3 kali per minggu, terbukti menurunkan skor insomnia dan meningkatkan kualitas tidur secara signifikan. Efektivitas semakin optimal ketika dikombinasikan dengan aromaterapi atau latihan fisik ringan. Intervensi ini juga dilaporkan aman, mudah dipelajari, dan dapat dilakukan secara mandiri. Kesimpulan: Akupresur efektif sebagai terapi nonfarmakologis untuk meningkatkan kualitas tidur pada wanita menopause dan direkomendasikan sebagai intervensi komplementer berbasis bukti.
Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional Pada Mahasiswa: Scoping Review Ni Kadek Mawar Aries Sunday; Wigutomo Gozali; Putu Handi Partiwi
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.272

Abstract

pencernaan fungsional yang sering ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk mahasiswa. Kondisi ini ditandai dengan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati, cepat kenyang, serta perasaan penuh di perut tanpa adanya kelainan organik yang jelas. Pada mahasiswa, kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional kerap dikaitkan dengan perubahan gaya hidup, seperti pola makan yang tidak teratur, kualitas tidur yang buruk, serta meningkatnya tekanan akademik dan stres psikologis. Apabila tidak ditangani secara tepat, Sindrom Dispepsia Fungsional dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup, mengganggu aktivitas sehari-hari, serta menurunkan performa akademik mahasiswa. Tujuan: Untuk memetakan faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional pada mahasiswa berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode: Penelitian ini menggunakan desain scoping review dengan penelusuran literatur pada basis data PubMed, ScienceDirect, ProQuest, dan Google Scholar. Pencarian artikel dibatasi pada publikasi yang terbit dalam rentang tahun 2020–2025. Strategi pencarian menggunakan kombinasi kata kunci “functional dyspepsia, risk factors, associated factors, university students”. Artikel yang diperoleh diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi faktor risiko utama yang berhubungan dengan kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional pada mahasiswa. Hasil: Penelusuran literatur menemukan sebanyak 52.168 artikel, dan setelah melalui proses seleksi diperoleh 16 studi yang memenuhi kriteria untuk dianalisis. Sebagian besar studi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara faktor risiko tertentu dengan kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional pada mahasiswa. Kesimpulan: Berdasarkan hasil scoping review terhadap 16 artikel ilmiah, dapat disimpulkan bahwa kejadian sindrom dispepsia fungsional pada mahasiswa berkaitan erat dengan pola makan tidak teratur, tingkat stres dan kecemasan yang tinggi, serta kualitas tidur yang buruk.